Bab 1

"Beri aku uang satu miliyar sekarang, Ma!"

"Apa yang kamu katakan? Kamu benar-benar gila!"

"Aku ini darah dagingmu! Bagaimana mungkin itu gila? Dia hanyalah anak tiri, Ma! Satu Miliyar atau lebih baik aku mati!"

Kelinting!

Sebuah ponsel dengan gantungan dari kunci membentuk love jatuh di lantai.

Intan syok mendengar percakapan sang mertua dengan seorang pria asing di kamar wanita itu.

Mama? Kening Intan mengerut. Bukankah suaminya anak tunggal?

"Siapa di sana?" teriak sang mertua lantang.

Mendengar itu, Intan sontak mengambil ponselnya cepat dan bersembunyi. Dia sungguh takut jika ketahuan menguping

Beruntung, Intan bergerak cepat.

Dari jauh, mertuanya tampak membuka pintu dan menengok ke kanan dan ke kiri.

Wanita tua itu sepertinya lega saat tak menemukan siapapun.

Dengan cepat, sang mertua menyuruh lelaki dengan masker dan topi hitam itu untuk pergi dari rumah.

"Kamu harus pergi sekarang juga! Nanti, wanita sialan itu bisa tahu," ucap mertua dengan wajah cemas, "oh iya, jangan sampai ceknya hilang."

Laki-laki misterius itu mengangguk.

Namun sebelum benar-benar pergi, keduanya tampak berpelukan.

Hal ini jelas sangat di luar nalar!

Bagaimana mungkin mertuanya yang sombong dan kikir bisa memberikan uang sebanyak itu kepada pria yang sepertinya seumuran dengan Franz, suami Intan?

"Aku harus menyelidikinya," batin Intan dalam hati, lalu ia berkata lagi, " Dan aku harus memberitahukan ini pada Mas Franz."

Kebetulan, suaminya yang sedang dinas itu akan pulang malam ini. Sungguh, rasanya Intan tak bisa bertahan di negara asing ini jika bukan karena anak dan suaminya di sini.

Terlebih, ibu mertuanya memperlakukannya dengan sangat buruk!

***

"Mami. Apakah jam di rumah salah? Mengapa Papi belum pulang? Bukankah ini sudah terlalu malam?" tanya sang anak pada Intan.

Wajah gadis mungil tampak pucat. Ia beberapa kali melirik ke sebuah jam dinding yang cukup besar dan unik berada di meja makan. Tidak terasa sudah satu jam mereka berdua berada di sana.

Intan sendiri juga heran. Sekarang sudah pukul 10 malam.

Selain itu, mengapa ibu mertuanya mendadak pergi tanpa memberitahu apa pun?

"Jessy, kamu makan dulu saja. Jika menunggu papi, kamu bisa sakit,"

"Okeh, Mami," jawab Jessy patuh.

Intan pun meninggalkan anaknya yang sedang makan dengan lahab. Ia sibuk mondar-mandir menghubungi suaminya.

Anehnya, tak dijawab sama sekali.

Pesan whattshappnya juga tidak dibalas padahal sudah centang biru.

Prang!

Gelas Jessi terjatuh.

Mendengar itu, Intan sontak berlari menghampiri sang putri.

"Jessy, kamu oke, Nak?"

Gadis itu menganguk. "Mami, maafkan Jessy! Jessy tidak sengaja menjatuhkan gelas," ucap Jessy. Matanya tampak berkaca-kaca, ia merasa takut.

"Oh no sayang! Itu tidak masalah. Jessy tidak sengaja!"

Senyum lembut Intan berikan kepadanya.

Dirinya pun segera berjongkok membersihkan serpihan gelas.

Namun, tangannya mendadak mengeluarkan darah terkena serpihan gelas.

Deg!

"Mas Franz! Semoga saja ini bukan pertanda buruk!" Ibu satu anak itu seketika merasa tak nyaman.

Bab 2

Sayangnya, suami Intan tak kunjung datang....

Beberapa hari berlalu, tetapi tak ada tanda keberadaan Franz.

Mertuanya yang bernama Sarah Aswaja bahkan sudah melaporkan kepada pihak polisi, katanya. Sayangnya, tak ada hasil berarti.

"Mamah, aku mau pergi ke kantor polisi," ucap Intan pada akhirnya. Dia tidak tahu sistem di Turki bagaimana.

Namun, Intan sudah tak sanggup lagi menahan kekhawatirannya.

Anehnya, sang mertua yang saat itu sedang duduk di sofa tampak terkejut.

Raut wajahnya mendadak berubah gelap.

"Kantor polisi? Untuk apa Intan? Apa kamu tidak percaya dengan saya?" bentaknya.

"Bu-kan begitu," jawab Intan gagap.

"Sebaiknya, kamu tunggu saja di rumah. Saya yang akan mengurus semuanya! Semua akan baik-baik saja!" ujarnya seraya melotot.

Intan terdiam. Ia tidak bisa berbuat apapun. Namun, ia merasa heran.

"Mengapa mamah berbicara seperti itu? Seolah tahu di mana mas Franz?" batinnya.

Pikiran Intan ke mana-mana. Memang, akhir-akhir ini tingkah mertuanya begitu mencurigakan. Lagian, apa salahnya jika Intan menanyakan kembali kepada polisi? Mengapa ia sangat ketakutan?

Intan berusaha tenang. Dipijatnya kening yang teramat sangat sakit. Bahkan, ia tidak bisa lagi untuk berfikir jernih.

Intan merebahkan tubuhnya di atas kasur, hingga tanpa sadar tertidur.

****

Tok tok tok!

Seseorang dari luar kamar menggedor-gedor pintu di saat ia sudah tertidur.

Entah berapa jam ia tertidur.

Hanya saja, pintunya terus digedor keras. Jessica yang mendengarnya ikut terbangun.

"Mami! Apa yang terjadi?" Putrinya itu bertanya dengan suara kantuknya. Ia berkata sambil menguap.

"Tunggu, Sayang. Mami akan membukakan pintu." Intan berkata dengan tenang seolah baik-baik saja.

Jessica mengangguk.

Dengan cepat, Intan pun pergi keluar diikuti sang anak.

Namun, ia sungguh terkejut menemukan seseorang yang kini berdiri di depannya.

"Mas Franz? Kamu pulang?!" ucapnya.

Intan yang sangat merindukan Franz segera memeluknya.

Anehnya, tercium menyengat bau alkohol dari tubuh Franz. Tak sampai di sana, pria itu justru mendorongnya dengan kasar.

"Papi! Mengapa mendorong Mami?" teriak Jessica dengan marah. Gadis itu melihat Franz mendorongnya dengan kasar.

Ia meletakan kedua tangannya di pinggang mungilnya. Gadis kecil ini memang jenius. Ia sangat cepat merespon dan mempelajari apa yang dilihatnya.

Di sisi lain, wajah Franz memerah. Dia menyuruh Intan untuk menjauh darinya.

"Jangan halangi jalanku! Awasss!"

Belum sempat memproses yang terjadi, mertuanya kini ikut mengomel, "Intan! Bagaimana sih kamu? Kok buka pintu lama banget! Istri macam apa kamu?"

Intan terdiam.

Dia tidak menyangka suaminya pulang mabuk setelah hilang.

"Ada masalah apa sebenarnya?" Intan bertanya-tanya di dalam hati

Meski demikian, Intan tak ingin bertengkar. Saat ini, yang penting, sang suami sudah pulang, fikirnya.

"Mi...." Jessica menghampiri Intan dan memeluknya. Anak itu tampak takut.

Segera saja, Intan menenangkannya. "Tenang saja, Jessy. Papi mungkin lelah. Jangan khawatirkan Mami, Sayang! Lihat, Mami baik-baik saja kan?"ujar Intan seraya tersenyum.

Untungnya, gadis kecil itu mau mengerti.

Lalu, Intan mengajak Jessy untuk menuju kamarnya menghampiri Franz yang sudah berada di dalam.

Pria itu sudah tertidur di atas ranjang. Tapi, anehnya sang mertua malah melarang Intan untuk menemaninya.

"Tapi, Ma--"

"Kamu mulai berani sama saya!"

"Bukan begitu!"

"Dengar Intan! Anaku sedang tidur. Saya tidak mau jika kalian akan mengganggunya!" bentak Sarah Aswaja kejam. Tak lama, dia berjalan melewati Intan dengan angkuh.

Intan terdiam. Dia berusaha untuk memahami semuanya.

Ia tidak mau masalah yang sepele menjadi besar.

Jadi, pagi ini, Intan melakukan aktivitas seperti biasa.

Biasanya, setiap shubuh suaminya bangun menunaikan sholat.

Intan pun beriniatif untuk membangunkannya.

Dicubitnya pelan hidung sang suami seperti biasa.

"Mas, apakah kamu yakin tidak akan sholat shubuh?" tanyanya.

Hidung sang suami memang mancung karena asli orang Turki. Intan sangat menyukai hidungnya.

Anehnya, Franz justru menepis tangan Intan.

Wajahnya menampakan ekspresi emosi. Dia tidak terima dengan perlakuan Intan.

"Siapa yang mengajari kamu bertindak lancang padaku?" ucap lelaki itu dingin. Lalu, dia menarik rambut istrinya itu dengan kasar!

Betapa terkejutnya Intan mendapat respon yang tak terduga.

"Mas. Ampunnn. Sakit mas!" pintanya.

Untungnya, Franz melepas tangannya.

Meski demikian, hati Intan begitu ngilu.

Dengan perasaan bingung, ia menjauh.

Entah mengapa? Intan merasa harus berhati-hati kepada suaminya.

Hanya saja, ia tak menyangka jika suaminya itu akan bersikap kasar pada Jessica, putri mereka.

Sudah hal biasa jika Jessy meminta dibuatkan roti oleh Franz. Ia biasanya meminta memanggang juga. Bahkan kadang Franz sibuk memanggang roti di sela-sela sibuknya. Dia tidak pernah lupa kepada anak gadisnya itu. Sesibuk-sibuknya Franz, dia selalu hangat kepada keluarga kecilnya.

"Papi. Maukah membuatkan roti dan menyuapi Jessy? Jessy ingin sekali di buatkan oleh Papi," tanyanya pagi ini dengan wajah polosnya.

Franz yang saat itu sedang mengunyah roti segera menghabiskannya. Lalu dia meraih susu dan meneguknya.

"Makanlah bersama ibumu! Saya sibuk!" ucap Franz. Lalu dia menyibukan diri dengan ponselnya. Franz tampak acuh tak acuh.

Intan sendiri menatap suaminya dengan bingung, ada juga perasaan kecewa.

Dibelainya rambut Jessy yang tampak muram karena mendengar jawaban papinya.

Intan berusaha menenangkan diri. Sayangnya, ia sendiri pun tak tenang, bahkan ia masih memikirkan masalah itu, di saat tengah makan siang bersama sang putri.

Tiba-tiba Sarah Aswaja datang.

"Mengapa perasaanku jadi tidak enak?" batin Intan,"

Sarah Aswaja tampak serius. Ia berbicara setelah meneguk beberapa kali air minum.

"Intan, Jessy. Saya mau kasih tau kalian tentang Franz. Beberapa hari yang lalu, Franz mengalami kecelakaan dan dia amnesia. Saya harap kalian bisa merawat dan memaklumi dia,"

"Jadi, mamah selama ini tau di mana keberadaan Franz?"

Sarah tampak diam. Intan sendiri tidak tau apa yang Sarah pikirkan.

Kemudian, ia menjawab pertanyaan Intan.

"Iya, karena kamu tidak becus menjadi seorang istri, Intan!" balas Sarah seraya mengolesi roti dengan meses.

Wanita tua itu lalu memberikan roti buatannya untuk Jessy.

Namun, anak itu justru menepisnya, hingga jatuh di lantai.

Bola mata Sarah jelas terbelalak melihat roti buatannya berada di lantai. Wajahnya bahkan memerah. "Jessy! Kamu benar-benar ya, selalu membuat oma jengkel!" murkanya.

"Maaf, Jessy tidak sengaja oma!" sahut Jessy dingin. Sebenarnya ia sengaja melakukan itu untuk membalas perlakuan buruk pada ibunya.

"Ck! Oma bilang, kamu ambil dan makan sekarang juga!" ucap Sarah dengan mata mendelik.

Franz yang baru saja datang, hanya melihat sekilas. Dia sama sekali tidak membela anaknya.

"Mah, biar Intan saja yang memakannya!" ucap Intan dengan panik.

"Mami! Itu kan kotor! Harusnya mami buang!" teriak Jessica, tak terima.

Sarah Aswaja semakin melotot. "Tidak ada makanan yang boleh dibuang!"gertaknya.

"Intan. Kamu kalau mengajari Jessy itu yang benar dong! Masih kecil sudah diajari buang-buang makanan! Awas saja kalau sampai kejadian ini terulang lagi. Saya tidak akan segan-segan menghukum Jessy!" tegasnya.

"Saya tidak pernah mengajari Jessy membuang makanan, Mam. Jessy tadi hanya tidak sengaja!" bela Intan.

Jessy lalu turun dari tempat duduk. Ia menghampiri Franz dan ingin meminta perlindungannya. "Papi!"

Sayangnya, Franz justru tampak dingin.

"Jangan sentuh aku!" ucapnya dengan suara yang terdengar seram.

Bab 3

Melihat hal itu, Intan merasa panik.

Dia segera menjauhkan Jessy dari Franz.

Masih teringat jelas sang suami yang menjambak rambutnya.

Di sisi lain, Jessy yang turun dari tubuh Franz menekuk wajah chubby-nya penuh kekecewaan.

"Jessy, Sayang. Papi masih sakit. Jangan marah, ya cantik!" ucap Intan berbicara dengan nada lembut.

Jessy menganggukan kepala. Tampaknya, anak itu mencoba paham meski terkejut.

Hal ini membuat Intan merasa lebih tenang.

Selesai berbicara, Intan langsung mengambilkan bekal untuk mereka. Namun tetap saja, di dalam mobil, Franz tetap dingin.

'Apakah amnesia dapat mengubah karakter seseorang?' batin Intan bingung.

Wajahnya memang milik suaminya. Namun, mengapa sikapnya sangat berbeda?

Intan berharap suaminya yang dulu kembali.

Sayangnya, meski satu minggu telah berlalu, Franz masih dingin dan kasar.

Hubungan keluarga kecil itu semakin renggang. Intan sudah berusaha keras untuk membuat suaminya ingat akan keluarga kecilnya.

Namun ketika ditanya, Franz malas menjawab,

"Alahhhh..., ngomong apa sih kamu! Bikin pusing saja!"

"Mas, sampai kapan kamu akan seperti ini? Cobalah mengingatnya demi Jessy," ucap Intan dengan penuh harap. Bola matanya berkata seraya berkaca-kaca. Sesungguhnya Ia sangat merindukan suaminya yang dulu. Tentu saja merindukan kasih sayang dan perhatian dari Franz.

Pria di hadapannya terdiam. Acuh. Seolah Intan hanya orang asing.

Melihat celah ini, Intan pun memberikan album kenangan ketika mereka pergi berwisata masa lalu.

Franz tampak membuka album itu.

Lembar demi lembar dia buka. Ada setitik harapan di mata Intan.

Belum selesai album dilihat, album foto itu sudah Franz lempar dihadapan Intan.

Bugh!

"Berani-beraninya kamu mengajari saya! Apa kamu sudah merasa pintar?" bentaknya, "jangan buang-buang waktuku!

Matanya melotot. Dia berbicara seraya Jarinya menunjuk-nunjuk Intan.

"Mas, aku hanya ingin membantumu, " belum selesai berbicara, sebuah tangan melayang di pipinya.

Plak!

"Berani kamu teriak-teriak padaku? Berhenti mengguruiku! Atau kamu akan mati!"

Franz mendadak menampar dan membentak Intan.

Wanita itu terdiam. Dia terkejut sang suami bisa sekasar itu.

Intan harap Franz menyesal. Namun setelah itu, dia justru pergi begitu saja, tanpa meminta maaf.

Intan sangat takut. Meski demikian, dia tak menyerah demi Jessica.

Hari demi hari, dia berusaha mengembalikan ingatan suaminya.

Bahkan, malam ini, Intan sampai tidak bisa tidur.

Ia berpikir kembali bagaimana cara agar Franz bisa kembali seperti dulu?

"Baklava?" Intan teringat makanan kesukaan sang suami.

Setiap Intan membuat makanan itu, suaminya selalu memuji. Ia sadar semenjak pulang belum pernah lagi memasak Baklava.

Baklava itu terbuat dari adonan tepung. Bentuknya kotak-kotak kecil dan berlapis-lapis. Teksturnya empuk, kriuk pada bagian luar serta creamy pada bagian dalam. Sehingga sekali gigitan, rasa manisnya langsung meluber ke mulut.

"Kalau di ingat, aku jadi lapar?" gumam Intan seraya memegang perutnya.

Sebenarnya Intan sangat sibuk, ia harus mengurus rumah, Jessy bahkan saat ini suaminya yang suka membantu harus sakit. Cara membuatnya mudah, hanya waktunya saja yang sedikit.

Intan melamun. Ia mengingat aktivitasnya sepanjang hari. Ia berusaha mencari celah.

"Hanya Baklava, apapun akan aku lakukan untukmu, mas Franz!"

Baklava sebenarnya sederhana, biasanya mas Franz lebih suka kacang-kacangan pistachios dan sirup manis yang khas. Kemudian sirupnya menggunakan gula, air, dan perasan lemon, sehingga kaya cita rasa. Selain itu juga sehat.

Mungkin saja dengan itu, kondisi Franz akan sedikit membaik. Intan sudah memikirkan semuanya. Ia akan bangun lebih awal esok hari.

Berbagai harapan positif berada di kepala Intan. Bahkan ia sempat membayangkan suaminya kembali seperti dulu. Hingga ia senyum-senyum sendiri membayangkannya.

***

"Pagi sayang, lihat aku bawa apa?" ucap Intan dengan sumringah.

Dia seolah melupakan kejadian kemarin begitu saja.

Sayangnya, Franz tidak merespon. Dia datar. Dia fokus mengetik di laptopnya.

Intan sudah biasa dengan hal itu selama beberapa hari ini. Jadi, ia menyiapkan makanannya di atas meja. Lalu Intan menyuruhnya segera makan karena makanan masih hangat.

"Sayang, cobain ya. Aku yakin kamu akan suka, aku jamin deh,"

Intan tersenyum saat Franz menggigit makanan itu. Ia tidak sabar pujian dari suaminya yang selalu di lontarkan padanya.

Tapi kemudian, Franz memutahkannya.

"Makanan macam apa itu? Tidak enak!" makinya.

Intan mengerutkan alisnya. Senyumnya memudar. Hatinya terasa perih kembali. Intan beranjak berdiri meraih piring di atas meja.

"Apakah benar makanan ini rasanya tidak enak?"

Intan yakin betul semua bahannya sama, bahkan dalam kondisi masih baru. Apalagi ia memilih kualitas bahan yang bagus. Setelah memikirkan hal itu, ia mencicipi masakannya.

"Rasanya masih sama," bathin Intan.

Ia mengulang kembali mencicipi rasa masakannya. Lalu Intan memberanikan diri menyahut.

"Mas, apa yang salah dengan masakanku? Sungguh, ini rasanya sama dengan yang biasa kamu makan?"

Franz diam. Intan tahu suaminya mendengarkannya.

"Ya! Tapi aku sudah bosan!" ucapnya dingin dan ketus.

Setelah mendengar penuturan suaminya. Intan sangat kesal. Sedikitpun dia tidak memujinya, namun malah sebaliknya, Franz memaki makanannya tidak enak.

"Seandainya saja dia tau, seberapa susah payahnya aku memasak makanan itu untuknya," ucap Intan di dalam hati.

Usahanya gagal lagi!

"Mau dibawa ke mana rumah tanggaku kalau seperti ini?"

Intan menahan engap di dadanya. Rasanya sangat muak. Berhari-hari ia sudah menahan sabar. Sampai kapan?

"Baiklah. Aku tidak akan memasak ini lagi!"

Intan tampak tegar. Tapi hatinya betul-betul rapuh saat ini. Di depannya, suaminya tidak sedikitpun berkata-kata lagi, akhirnya Intan pergi dengan air mata yang pada akhirnya jatuh di pipi.

Tapi, Franz tetap saja acuh tak acuh melihat istrinya yang menangis.

Bahkan, Pria itu justru langsung menelpon seseorang.

"Aku janji kepadamu. Aku akan pergi sekarang juga!" ucap suaminya lembut.

Intan sontak terkejut hingga sekujur tubuhnya gemetar!

Bila diminta untuk mengantar belanja ke pasar, selalu saja Franz menolak.

Diajak mengantar Jessy ke sekolah, pun sama.

Alasannya, sudah ada supir.

Bahkan, Franz tidak pernah mengajak Intan dan Jessy jalan-jalan lagi.

Tapi, pria itu bisa berbicara lembut dan langsung menghampiri begitu ditelpon?

"Apakah jangan-jangan, itu yang menyebabkan mas Franz berubah kepadaku? Apakah ada orang ketiga?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED