Bab 1

Pembalasan Anak Laki-lakiku

Part 1

"Jangan cari aku lagi, anggap saja aku tidak pernah hadir dalam hidup kalian," usir Mas Rahman. Wanita yang ada di sampingnya tersenyum sinis dan terus menggamit erat lengan suamiku.

"Apa yang harus aku jelaskan pada anak-anak kita, Mas?" tanyaku mengiba, aku berharap Mas Rahman luluh dan mau pulang bersamaku.

"Apa peduliku, mereka hanya jadi beban dalam hidupku. Jika aku terus hidup bersamamu, aku harus kerja banting tulang untuk makan kalian. Aku capek!" teriak Mas Rahman garang, kini semua orang yang berlalu lalang di terminal melihat ke arah kami. Sebenarnya aku sangat malu jika harus memohon dan mengiba agar Mas Rahman mau pulang. Tapi aku tidak punya pilihan lain lagi, aku butuh dia untuk anak-anakku.

"Tapi siapa lagi yang akan memberikan mereka nafkah jika bukan ayahnya," lirihku pelan. Hancur perasaanku saat mengetahui suamiku menikah lagi, tapi hatiku terlebih sakit saat mengetahui jika dia mengakui pada semua orang yang ada disini jika dia duda tanpa anak. Bagaimana perasaan anak-anak di rumah jika mereka mengetahui ayahnya sendiri tidak mengakui mereka sebagai anak.

"Kan sudah kukatakan dari tadi, anggap saja aku sudah mati. Aku juga tidak butuh kalian lagi, disini aku sudah memiliki anak dan istri." Dia berkata dengan pongah, ku akui dia laki-laki yang tampan. Yang dengan mudahnya menaklukkan hati wanita mana saja yang dia inginkan. Disini dia juga sudah memiliki istri dan satu orang anak laki-laki, anak si perempuan itu.

"Kamu nggak dengar kata suamiku Aini, dia sudah mengusirmu, kamu nggak malu?" tanya perempuan itu dengan sinis, dia tersenyum melihatku mengiba seperti ini. Hilang sudah harga diriku di depan mereka, ini semua aku lakukan semata demi anak-anakku. Mereka butuh sosok ayah, sebagai pelindung, sebagai pahlawan mereka.

"Yang mana suamimu, yang ini? Suami yang hasil rampasan," tanyaku menatap tajam matanya yang penuh dengan riasan makeup.

"Mas …." Dia merengek manja pada Mas Rahman meminta untuk dibela karena aku telah menyindirnya.

"Diam kamu Aini, dia sama sekali tidak merebutku darimu, aku yang dengan suka rela menikahinya, tarik balik kata-katamu tadi," bentak Mas Rahman dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

Dia benar-benar telah dibutakan cinta wanita jalang itu, janda beranak satu, itupun anak dari hasil hubungan gelapnya dengan suami orang. Dan sekarang dia butuh sosok ayah untuk anaknya, hingga dia merebut ayah anak-anakku.

Aku tau semua cerita tentang wanita itu, karena wanita itu adalah gadis yang dulunya mengontrak di rumah mertua. Iya, Ibu dan Ayah Mas Rahman memang mempunyai rumah yang sedikit lebih luas. Jadi ada beberapa kamar kosong yang dijadikan sebagai kamar kontrakan bagi mahasiswa atau orang yang yang masih single. Wanita yang merebut suamiku bernama Maya, dia salah satu yang mengontrak di rumah mertuaku. Dia dulunya kuliah di Universitas di dekat rumah mertua, jadi untuk lebih mudah untuk berangkat ke tempat kuliah dia memilih untuk ngekost di daerah yang dekat dengan kampusnya.

Tapi sayangnya, dia tidak lulus kuliah karena telah di DO oleh pihak kampus. Itu karena dia ketahuan hamil diluar nikah, dan naasnya laki-laki itu tidak mau bertanggung jawab atas janin yang ada dikandungnya. Beberapa kali kulihat istri dari laki-laki itu kerumah Ibu mertua untuk melabrak Maya. Aku sebagai wanita saat itu juga kasihan melihat Maya di aniaya oleh istri sah pacarnya, tapi aku bisa apa. Karena saat itu aku juga sedang mengandung buah cintaku yang pertama dengan Mas Rahman.

Tidak berapa lama setelah hari penganiayaan itu, akhirnya Maya dijemput oleh keluarganya. Terlihat Ayah dan Ibunya Maya berkali-kali meminta maaf kepada mertua karena kelakuan anaknya yang meresahkan. Hanya saja dulu Mas Rahman sama sekali tidak melirik ataupun tertarik pada Maya. Sudah bertahun-tahun kami tidak bertemu lagi dengannya setelah kejadian itu, entah dimana mereka bertemu kembali.

"Mas, aku mohon. Pulanglah demi anak-anak, aku tidak tau harus menjelaskan apa jika mereka bertanya tentang kamu," ujarku penuh iba, jika memang Mas Rahman tidak mau menerimaku lagi tidak mengapa, tapi jangan anak-anak. Mereka masih butuh kasih sayang seorang ayah, apalagi si bungsu, dia sangat lengket dengan Mas Rahman.

"Apa kamu bilang, pulang demi anak-anak? Kamu tau Aini, aku pergi meninggalkan kalian karena aku tidak sanggup lagi menghidupi anak-anak kamu yang seabrek," maki Mas Rahman lagi dengan tertawa simpul. Seabrek katanya, dulu ketika aku ingin menggunakan kontrasepsi Mas Rahman lah yang paling melarang, karena dia tidak puas katanya, sekarang dia malah menyalahkan aku. Wanita itu tertawa karena melihatku di hina oleh Mas Rahman, dia menang.

Lalu aku pulang dengan air mata berlinang dan tidak bisa berhenti menetes. Aku pulang menaiki bus yang menuju ke kotaku. Kota dimana aku merajut mimpi dan cinta, berjanji berdua akan setia selamanya sampai ke surgaNya. Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya aku akan di tinggalkan oleh laki-laki yang telah memberikan aku enam orang anak. Anak-anakku masih kecil, empat orang anak laki-laki dan dua orang anak perempuan.

Sebelumnya keluarga kami termasuk keluarga yang harmonis, walaupun ekonomi kami pas-pasan tapi tidak pernah sekalipun kami mengeluh. Sampai akhirnya Mas Rahman yang bekerja sebagai teknisi dipecat, karena pengurangan karyawan di perusahaan. Saat itulah sikap Mas Rahman menjadi sedikit berubah, dia sangat pusing memikirkan bagaimana caranya agar kami tetap bertahan hidup. Jadi, suatu hari datang teman kantornya Mas Rahman kerumah. Dia bernasib sama dengan suamiku, di PHK oleh perusahaan. Dia mengajak Mas Rahman untuk pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, lebih tepatnya membuka usaha sendiri.

Temannya Mas Rahman yang bernama Adi itu menjelaskan jika di kota, besar peluang untuk kita membuka usaha di bidang teknisi. Setelah berbincang-bincang lalu temannya Mas Rahman pamit pulang dan menunggu jawaban dari kami.

"Bagaimana menurutmu, Dek?" tanya Mas Rahman saat aku sedang memasak di dapur untuk makan malam kami sekeluarga.

"Bagaimana apanya, Mas?" Aku malah berbalik tanya, karena sejujurnya aku berat jika harus jauh dari Mas Rahman. Bukan hanya karena akan rindu, tapi juga tidak ada lagi yang membantuku mengurus anak-anak.

"Yang ditawarkan oleh Adi tadi."

"Menurut Mas gimana?" aku menjawab tanpa menoleh kearah Mas Rahman yang sedang menggendong si bungsu. Sedang kakak-kakaknya bermain di ruang keluarga.

"Sebenarnya Mas juga berat jika harus pisah jauh dari kalian, tapi kalau disini Mas nggak tau harus kerja apa. Kamu tau sendiri tabungan kita sudah nggak ada, belum lagi biaya sekolah anak-anak." Wajah Mas Rahman terlihat lesu, aku tahu jika dia sekarang sangat pusing memikirkan darimana harus mendapatkan uang. Sebaiknya memang aku yang harus mengalah.

"Pergilah, Mas. Tapi kamu kan tau jika pergi kesana untuk membuka usaha membutuhkan modal. Sedangkan tabungan kita sudah tidak ada, untuk makan besok saja aku bingung mau masak apa. Untung saja masih ada stok beras,"

"Bagaimana, jika aku menggadaikan sertifikat rumah ini." Usulan dari Mas Rahman mampu membuatku tercengang, bagaimana mungkin menggadaikan rumah ini. Sedangkan ini adalah rumah peninggalan orang tuaku yang sudah tiada, aku tidak rela melepaskan rumah ini jika sewaktu-waktu Mas Rahman tidak mampu membayar.

"Nggak, Mas. Aku nggak setuju, bagaimana jika kamu tidak sanggup untuk membayarnya. Bagaimana jika usaha kamu tidak maju," tanyaku bertubi-tubi.

"Dek, setiap usaha itu ya butuh modal. Dan setiap kita ingin membuka usaha, kita harus siap rugi. Tapi kamu tenang saja, aku akan berusaha semampuku untuk membuat kalian bahagia."

Lama aku terdiam dan tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Aku melanjutkan aksi memasak agar segera cepat selesai.

"Salma, tolong siapkan piring dan gelas untuk kita makan malam ya," aku sedikit berteriak pada Salma-- anak perempuan tertuaku. Dia anak yang gesit juga pintar, kulitnya juga putih bersih seperti kulitku. Umurnya sekarang sudah dua belas tahun, dia anak kami yang ke empat.

Setelah piringnya di atur oleh Salma, aku segera menaruh nasi pada piring-piring. Kami makan malam bersama, jika biasanya orang-orang makan dalam keheningan, tidak dengan keluarga kami. Anak-anakku selalu ribut dan kadang-kadang yang tua menggoda adiknya.

Aku juga ikut makan dengan kondisi menggendong si kecil Anto, bisa dibayangkan bagaimana nyamannya aku makan. Tapi aku sama sekali tidak merasa sedih, malah aku bahagia bisa mengurus mereka semua dengan kasih sayang.

Setelah siap makan malam, anak-anak langsung aku suruh untuk tidur. Dan aku akan segera membereskan dapur dan piring kotor, sedang Mas Rahman menidurkan si kecil Anto. Dia tidak mau tidur jika bukan dengan ayahnya, sungguh mereka tidak bisa dipisahkan.

"Gimana, Dek?" Tiba-tiba Mas Rahman sudah ada di dapur. Aku yang sedang mencuci piring tidak menjawab dan terus saja kulanjutkan pekerjaan mencuciku.

"Kamu nggak kasian sama anak-anak, mereka butuh biaya untuk melanjutkan cita-cita. Kita butuh biaya untuk membahagiakan mereka, aku janji jika nanti aku sudah sukses disana. Kalian akan kubawa ke kota untuk tinggal bersama." Mas Rahman terus mengiba dengan dalih untuk membahagiakan anak-anak, dia tau aku, jika sudah menyangkut tentang kebahagiaan anak-anak aku akan luluh.

Ku hembuskan nafas perlahan dan mengelap tanganku yang basah, lalu aku berbalik menatap manik matanya yang mampu membuatku jatuh cinta.

"Baiklah, Mas. Aku setuju, besok pergilah mengurus semuanya," jawabku tersenyum dan dibalas pelukan hangat dari suamiku.

"Terimakasih, sayang." Mas Rahman mengecup keningku mesra, dia memang mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali.

Setelah semuanya selesai, hari yang ditunggu pun datang. Hari ini Mas Rahman akan pergi ke kota bersama Adi temannya, aku melepaskan kepergiannya dengan air mata. Jangan tanya anak-anak, mereka histeris menangisi kepergian ayahnya. Maklum, kami tidak pernah berjauhan sebelumnya. Aku menenangkan pikiran dengan mensugesti diri sendiri jika Mas Rahman pergi menjemput kebahagiaan, ternyata benar. Dia memang pergi menjemput kebahagiaannya sendiri, tapi tidak dengan kami.

Bab 2

Pembalasan Anak Laki-lakiku

Part 2

Setelah berbulan-bulan pergi, Mas Rahman masih mengirimkan uang untuk kami juga untuk membayar tunggakan rumah yang digadaikan. Tapi di bulan kelima, Mas Rahman sudah tidak ada lagi kabar. Aku pun sangat cemas, karena nomornya sudah tidak bisa lagi dihubungi. Aku mencoba menelpon ke temannya Adi, tersambung tapi tidak diangkat.

Setelah sebulan berlalu tanpa kabar Mas Rahman, aku mulai kalut. Karena tunggakan rumah belum di bayar, dan uang simpananku sudah menipis. Berkali-kali aku menghubungi tapi tetap tidak bisa. Akhirnya aku memutuskan untuk ke rumahnya Adi, mungkin istrinya Adi tau kenapa mereka tidak bisa dihubungi.

Aku menitipkan anak-anakku pada tetangga sebelah yang sudah aku anggap saudara, tapi si kecil Anto tetap aku bawa karena masih ASI.

Aku pergi menggunakan ojek untuk sampai ke rumahnya Adi, ketika sampai disana kulihat rumahnya sepi, tapi pintu sampingnya terbuka, berarti ada orang, begitu pikirku.

Akupun mengetuk pintu luar, dan beberapa kali mengetuk pintu pun dibuka dari dalam. Dan yang membukanya adalah Adi temannya Mas Rahman. Dia terkejut melihatku datang tiba-tiba, seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.

"Eh, Mbak Aini. Masuk Mbak." Aku pun masuk dan duduk di sofa miliknya.

"Kok Mas Adi disini, nggak dikota?" tanyaku langsung padanya. Karena biasanya jika Mas Adi pulang, maka Mas Rahman juga akan ikut pulang.

"Siapa, Mas?" tanya istri Adi yang keluar dari kamar.

"Ini lho Dek, Aini istrinya Rahman." Aku melihat raut wajah istrinya langsung berubah ketika Adi bilang jika aku istrinya Mas Rahman. Kenapa ini ya Allah.

"Salam kenal Mbak, aku ambilkan air dulu ya."

"Nggak usah repot-repot Mbak, aku nggak haus kok."

"Ah, nggak repot kok. Bentar ya." Dia langsung menuju ke dapur untuk membuatkan aku minuman. Syukur Anto hari ini tidak rewel, tapi dia selalu menanyakan Ayahnya. Lalu Adi pun ikut duduk di sofa.

"Aku kesini mau menanyakan tentang Mas Rahman, Di." Aku langsung menanyakan ketitik permasalahan, aku tidak bisa lama-lama pergi. Anak-anakku tidak bisa kutinggalkan kelamaan di tempat tetangga.

"Memangnya Rahman nggak ngasih kabar, Ni?" tanya Adi lagi, dia terlihat gundah dan gugup, apakah terjadi sesuatu dengan Mas Rahman suamiku

"Tidak, makanya aku kemari untuk menanyakan kejelasannya," ucapku sendu.

"Ini Mbak, tehnya diminum dulu," ujar istrinya Adi yang ternyata sudah berada disini.

"Eh, iya. Terimakasih," ucapku lembut. Istrinya juga ikut duduk bersama kami di ruang tamu miliknya.

"Jadi sebenarnya aku sudah tidak bekerja lagi di kota, Aini. Kami selisih paham, jadi karena semua itu modalnya Rahman, aku yang mundur," Jelas Adi lebih tenang dari sebelumnya, tapi rasa gundahnya belum sepenuhnya hilang. Karena aku melihat beberapa kali dia mengusap dengkulnya.

"Kok bisa, tapi kenapa Mas Rahman tidak pulang atau setidaknya memberi kabar dan mengirimkan uang."

"Aini, sebenarnya …." Adi menggantungkan bicaranya, ini membuatku semakin penasaran dan khawatir.

"Sebenarnya apa?" tanyaku panik.

Adi tidak menjawab pertanyaanku, dia malah melihat ke arah istrinya. Aku melihat istrinya mengangguk tanda jika dia setuju jika Adi memberitahuku sesuatu.

"Sebenarnya, Rahman sudah menikah lagi disana." Mendengar penuturan Adi seketika membuatku tercengang,lututku terasa lemas, lidahku terasa kaku, bahkan untuk menutup mulutku saja tidak mampu. Anto seakan tau apa yang dibicarakan oleh Adi, dia pun menangis, tapi aku tidak sanggup lagi untuk menggendongnya. Untuk berdiri saja kini aku tidak mampu, kemudian dengan cepat istri Adi menggendong Anto dan membawanya keluar.

"Kamu nggak bercanda kan?" tanyaku memastikan, aku menepuk pipiku kuat. Berharap semua ini hanyalah mimpi, tapi pipiku rasanya sakit, berarti ini bukan mimpi.

Jangan tanyakan bagaimana hatiku sekarang, duniaku seakan runtuh. Bagaimana bisa Mas Rahman tega melakukan ini semua padaku. Apa kurangku, kenapa sampai ada perempuan lain dalam pernikahan ini. Aku menangis tak bersuara, hanya bisa memukul-mukul dada yang sesak. Seakan oksigen di ruangan ini hilang. Kuhirup dalam udara agar sesak di dada bisa hilang.

"Sabar, Aini. Aku sudah memperingatkan Rahman, tapi dia tidak mau mendengarkan. Bahkan dia mengusirku pulang karena aku terlalu ikut campur keranah pribadinya."

"Siapa wanita itu," tanyaku kemudian. Aku akan menemui mereka, aku ingin melihat wajah wanita yang telah merebut hati suamiku.

"Namanya Maya, dia asli orang disitu. Dia janda anak satu," jawab Adi. Maya, namanya tidak asing, tapi apakah ini adalah kejutan yang dibuat Mas Rahman untukku, aku tidak percaya Mas Rahman tega mengkhianati kami.

"Kamu yang sabar, Aini."

"Aku minta alamatnya ya," ucapku kemudian. Tidak, aku tidak boleh lemah begini. Aku harus tetap waras demi anak-anakku, untuk saat ini akulah satu-satunya harapan mereka. Akan kulakukan apapun, demi mereka anakku.

"Ini alamatnya, beserta alamat wanita itu." Adi menyerahkan kertas berisi alamat Mas Rahman dan wanita itu, dengan tangan bergetar kuterima kertas putih itu. Air mataku terus saja menetes tanpa henti, ya Allah kemana Anto. Suara tangisnya tidak terdengar lagi, aku mencarinya diluar pun sudah tidak ada.

"Mungkin Rina mengajak dia jajan di kios depan," ucap Adi yang melihatku mencari-cari keberadaan Anto.

"Yasudah, kalau gitu aku permisi dulu ya. Aku akan ke depan mengambil Anto, terimakasih sebelumnya." Pamitku pada Adi yang menatap iba kepadaku. Sungguh malang nasibmu Aini, batinku menangis.

Setelah mengambil Anto dari istrinya Adi dan mengucapkan terimakasih, aku langsung pulang menggunakan ojek lagi. Sepanjang perjalanan aku menangis tanpa suara, Anto sudah lelap dalam pelukan. Kulihat wajah mungilnya, kasihan sekali nasibmu nak, bahkan kini ayahmu sudah tidak menginginkan kita lagi.

"Mbak, udah sampai di terminal." Ucapan supir dari depan, aku sangat kaget ternyata dari tadi sepanjang perjalanan pulang dari kota untuk menemui Mas Rahman aku melamun dan menangis sendiri. Bahkan aku tidak sadar jika sudah sampai lagi ke kotaku. Aku turun dari bus, ini sudah malam, sebaiknya aku langsung pulang. Pasti anak-anak mencari dan menungguku, aku meremas ujung jilbab yang aku kenakan.

'Ya Allah, apa yang harus aku jelaskan pada anak-anakku jika mereka menanyakan ayahnya.' Sungguh pilu hatiku kini.

'Ya Allah, kasihanilah hamba dan anak-anak hamba.' Aku kembali menangis tergugu di terminal sendirian.

"Kak Aini, kenapa nangis disini. Yok pulang, biar aku antar." Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk pundakku, dan itu adalah Jumi, anak tetangga sebelah rumah. Aku pun mengangguk, dan dengan segera naik ke atas motor untuk pulang. Jumi memang bekerja di warung area terminal, jadi jam segini dia pasti sudah jam pulang.

Sepanjang perjalanan pulang aku terus berpikir bagaimana caranya menjelaskan pada anak-anak tentang ayah mereka, aku menitipkan anak-anak pada Uwak. Karena semenjak tau jika Mas Rahman menikah lagi, Uwak memilih tinggal bersama kami. Uwak adalah adik Ibu yang tinggal tidak jauh dari rumahku, dia sebatang kara, karena dia memutuskan untuk tidak menikah. Entahlah, dulu aku selalu berpikir jika Uwak salah memutuskan untuk tidak menikah. Tapi untuk kali ini, Uwak benar.

"Makasih ya, Jum," ucapku pada Jumi saat kami sudah sampai di depan rumahku. Dia hanya mengangguk dan berlalu pulang kerumahnya. Lama aku terdiam di depan pagar rumah, untuk pertama kalinya dalam hidup, aku tidak berani masuk kedalam rumahku sendiri.

"Ibuuukkk …." seru Nanda, anak laki-lakiku yang nomor dua. Karena teriakannya, adik-adiknya jadi berlarian memelukku, ah sayang, Ibu rindu. Air mataku sudah tidak dapat lagi kubendung, yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana caranya aku menghidupi mereka. Sedangkan selama ini aku hanya duduk dirumah mengurus semua keperluan tanpa bekerja. Selama ini aku hanya mengharapkan uang yang diberikan oleh Mas Rahman.

"Ayah kemana, Bu?" tanya Ali -- anak sulungku, mereka melepaskan pelukan dan mengedarkan pandangan kesegala penjuru. Namun nihil, mereka tidak akan pernah bisa menemukan sosok ayahnya lagi.

"Bu, jawab dong. Ayah kemana, apa Ibu tidak mengajak Ayah pulang," tanya Lukman, dia anakku yang ketiga. Dia memang anak yang paling tidak sabar diantara semua, tapi dia adalah anak lelakiku yang paling menyayangiku.

"Kita masuk dulu ya, nanti Ibu ceritakan di dalam, yuk." Ajakku pada mereka, meski ada raut sedih dan kecewa dari wajah-wajah malaikatku, tapi mereka memilih masuk bersamaku.

"Assalamu'alaikum," ucapku ketika masuk kedalam rumah. Rumah yang memberikan sejuta kenangan, kenangan keluarga kami yang kupikir harmonis, tapi ternyata pemikiranku dan Mas Rahman berbeda.

"Nenek mana nak?" tanyaku pada Salma, karena dari tadi aku tidak melihat Uwak.

"Ada di dapur Bu, Nenek lagi masak."

"Eh, Aini. Kamu sudah pulang, ayo anak-anak main dulu. Ibu kalian akan mandi dulu setelah itu baru kita akan makan bersama-sama," ucap Uwak yang mengerti keadaanku.

Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk lari dari pertanyaan anak-anak, aku memilih langsung masuk kedalam kamar. Aku merebahkan diri di atas tempat tidur, dan menangis tergugu. Lama aku menangis, lalu aku mengedarkan pandangan kesegala penjuru kamar, disinilah tempat kami memadu kasih, disinilah aku dan Mas Rahman saling mencintai. Kenapa Mas, kenapa kamu sungguh tega padaku. Batinku menjerit pedih, dia sekarang telah pergi dengan wanita lain. Aku mengigit kuat selimut, agar suara tangisanku tidak terdengar sampai keluar. Aku kalut, kemudian berjalan kearah meja rias. Tanganku gemetar mengambil sil*et, aku menutup mata dan menangis lagi, apa kuakhiri saja hidup ini.

Bab 3

Pembalasan Anak Laki-lakiku

Part 3

"Astaghfirullah…."

"Astaghfirullah…."

Aku beristighfar berkali-kali dan melempar silet yang kupegang tadi di lantai. Apa yang sudah aku perbuat, tidak, aku tidak boleh lemah. Anak-anak membutuhkanku sekarang, mereka mungkin akan kehilangan kasih sayang ayahnya, tapi mereka tidak boleh kehilangan kasih sayang Ibunya. Aku terduduk dilantai menangisi semua hal yang terjadi padaku, merutuki kebodohanku yang mempercayai Mas Rahman untuk menggadaikan rumah ini. Aku mengusap wajahku dengan kasar, sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku pasti tidak sanggup membayar tunggakan rumah ini, dan rumah ini akan disita oleh Bank. Kemana aku harus membawa anak-anakku, mereka masih sangat kecil untuk menderita.

Tok Tok Tok

"Bu, sudah siap belum. Kami udah lapar ni," teriak Mia-- anak perempuanku yang bungsu. Aku menghapus air mataku dan menetralkan pernafasan, agar dia tidak menyadari jika aku sedang menangis.

"Hampir siap sayang, tunggu ya. Ibu pakai baju dulu," jawabku kemudian. Aku lupa jika anak-anak sudah menungguku dari tadi. Aku bergegas bangun dan mandi, setelah itu aku memakai baju daster rumahan yang bahannya sangat nyaman. Tidak lupa memakai bedak agar wajahku tidak kelihatan sembab. Lalu aku pun keluar menuju keruang makan, mereka semua sudah duduk dimeja makan dan menungguku.

"Maaf sayang, Ibu tadi mandinya lama," ucapku pada mereka sambil mengambil alih Anto yang dari tadi menangis karena merindukanku. Aku pun duduk sambil menggendong Anto, kami semua makan dalam diam. Biasanya jika kami makan, selalu ribut, entah kenapa malam ini mereka sangat pendiam. Aku juga ikut makan dengan mereka, dan sesekali melihat kearah mereka, terbesit perasaan bersalah pada mereka anak-anakku.

Uwak yang sedari tadi duduk disampingku, sengaja mencolek lenganku dan menunjukkan Nanda yang murung, dia sama sekali tidak menyentuh makanannya. Nasi yang kutaruh tadi masih utuh, dia hanya memandangi nasinya dengan tatapan kosong.

Aku yang melihatnya seperti itu kembali rapuh, keadaan begitu menyiksanya. Aku bangun dari tempat duduk dan berjalan ketempat Nanda, aku akan membujuknya agar dia makan.

"Kenapa nggak makan sayang?" tanyaku sambil membelai rambutnya yang basah, sepertinya dia baru saja selesai mandi.

Dia tidak menjawab pertanyaanku, Nanda hanya menggeleng lemah.

"Kenapa sayang?" tanyaku lagi, aku yakin dia pasti menjawab ingin bertemu dengan ayahnya, sungguh tidak ada seorang Ibu yang mau melihat anaknya menderita.

"Ibu katanya pergi ingin menjemput Ayah, tapi mana Ayah," tanyanya pelan, aku tau dia sedang menahan air matanya agar tidak luruh di pipi. Ya Allah, sesak rasanya mendengar penuturan anakku.

"Makan dulu ya, setelah makan, kita akan menelpon ayah, oke," bujukku lagi agar dia tidak merasa sedih berkelanjutan.

"Tapi janji ya," tanyanya kemudian, aku menganggukkan kepala tanda setuju. Walaupun aku tidak yakin kalau Mas Rahman mau mengangkat telepon dariku.

Nanda tersenyum kearahku, dan segera mengambil sendok menyuapkan makanan ke mulutnya.

Aku kembali duduk di tempatku, tapi selera makanku hilang. Hanya Anto yang kusuapi makan dan setelah ini aku tidurkan di tempat tidurku.

"Buk, ayo telepon Ayah," seru Nanda dari luar kamarku, sepertinya mereka sudah siap makan malamnya. Aku segera bangun dan menutupi sebagian tubuh Anto dengan selimut, kucium pipinya yang gembul dan kubisikkan kata sayang ditelinganya.

'sayang, jaga hatimu ya. Kamu harus menjadi laki-laki yang tangguh untuk Ibu, kamu harapan Ibu di masa depan juga di akhirat'. Kemudian aku mengecup lembut keningnya dan segera keluar untuk menemui anak-anak yang sudah menungguku.

"Yeeiiii… akhirnya Ibu datang," sorak Salma dan diikuti riuh yang lainnya. Aku menaruh jari telunjuk di depan mulut tanda agar mereka jangan berisik, karena adiknya Anto sedang tidur.

"Ayo cepat, Bu. Kami sudah rindu Ayah," ucap Nanda antusias. Aku mengambil ponsel dan duduk ditengah mereka, kulihat Uwak ikut melihat kearahku, dan aku menatap matanya sendu, dia pasti tau arti tatapan mataku.

Aku mencari nomer ponselnya Mas Rahman dan segera menelponnya, lama menunggu akhirnya terhubung, tapi tidak diangkat. Aku melihat kearah anak-anak, wajah mereka kelihatan kecewa karena Ayahnya tidak mengangkat telepon.

"Coba sekali lagi, Bu." Seru Ali, dia anak tertua. Aku mengangguk setuju, aku menekan sekali lagi nomer Mas Rahman dan mencoba menelpon sekali lagi, berharap Mas Rahman luluh dan rindu akan anak-anaknya, dan akhirnya terhubung.

"Assalamualaikum, Mas." Salamku antusias karena akhirnya teleponku diangkat oleh Mas Rahman. Anak-anak juga terlihat sangat bersemangat, tiba-tiba telepon genggamku ditarik oleh Salma. Dan dia berdiri dari duduknya, diikuti gerakan yang sama dengan adik dan abangnya, mereka berebut berbicara dengan Ayahnya.

"Halo Ayah, Ayah kapan pulang, kami…." Salma sangat antusias berbicara dengan Ayahnya, tapi tiba-tiba kata-katanya terputus serta raut wajahnya berubah sendu. Air matanya menganak sungai, seperti akan terjun bebas dari kelopak matanya.

Aku yang melihat itu sangat penasaran dengan jawaban dari Mas Rahman, apa yg dia katakan sehingga wajah Salma berubah sedih. Nanda yang paling antusias tadi segera merebut ponsel dari tangan Salma dan mencoba berbicara dengan Ayahnya.

"Halo, Ayah." Ucapannya juga terputus dan menyerahkan ponsel padaku, aku berdiri dan mengambil ponselnya dan kulihat panggilannya sudah terputus. Wajah mereka yang tadinya berseri sekarang berubah menjadi mendung, seperti suasana langit di luar.

"Sayang, kenapa," tanyaku pada Salma lembut. Dia tidak menjawab dan menghentakkan kakinya di lantai dan segera berlari ke kamarnya. Melihat itu, Uwak yang dari tadi duduk langsung menghampiri anak-anak untuk menghibur.

"Siapa yang mau es krim," tanya Uwak sambil menenteng satu plastik es krim. Uwak memang kalau kesini selalu membelikan mereka es krim, karena dia tau anak-anak suka sekali makan es krim.

Biasanya mereka antusias jika Uwak menawarkan es krim, tapi tidak malam ini. Mereka sama sekali tidak menjawab.

"Kenapa sih Bu, Ayah menutup telponnya," tanya Nanda sedih.

"Mungkin Ayah lagi sibuk sayang, karena tadi pas Ibu kesana ajak Ayah pulang, nggak bisa katanya. Karena banyak sekali pekerjaan yang harus Ayah selesaikan," jawabku menjelaskan. Ali yang mendengar penjelasan dariku langsung pergi dan kulihat dia memasuki kamarnya Salma.

"Yaudah, sekarang kalian tidur ya." Aku menggiring mereka tidur di kamarnya, lalu setelah mereka tertidur aku menuju ke kamarnya Salma. Kulihat disana sudah ada Uwak, Ali juga masih disini menemani Salma yang dari tadi menangis ditempat tidur.

"Sayang, udah dong nangisnya. Memangnya tadi Ayah jawab apa sih, kok anak Ibu yang paling cantik ini bisa nangis gini," bujukku pada Salma yang masih tidur dengan posisi tengkurap. Dia masih saja menangis, malah bahunya semakin tergoyang.

"Salma," aku kembali memanggil namanya. Akhirnya dia bangun dan berbalik kearah kami. Kulihat wajahnya sembab akibat menangis, matanya juga merah tanda sudah terlalu banyak mengeluarkan air mata. Hatiku hancur melihatnya begini, aku marah dan aku sangat benci pada Mas Rahman. Tidak ada seorang Ibu pun yang menerima anaknya dibentak, walaupun oleh Ayahnya sendiri.

"Buk, aku dan Bang Ali sudah besar. Tolong kasih tau kami apa yang sebenarnya terjadi," tanya Salma dengan menatap mataku tajam. Tatapan matanya yang basah karena air mata mampu menghujam jantungku, rasanya oksigen di dalam ruangan ini habis, dadaku sesak. Apa yang harus aku jawab sekarang, apa aku bilang saja yang sesungguhnya.

"Kenapa tiba-tiba Salma nanyanya gitu," tanyaku lagi.

"Jawab dulu yang Salma tanya tadi, Bu," ucapnya setengah membentak, dia memang begini, yang paling keras diantara anak-anakku.

"Ayah disana sedang sibuk sayang, Ayah malah menitipkan salam untuk kalian. Ayah akan pulang, tapi setelah pekerjaannya disana sudah selesai," jelasku panjang lebar. Aku berharap Salma dan Ali mengerti.

"Bohong. Ibu bohong, Ayah disana memang sibuk. Tapi sibuk dengan istri barunya, iyakan," teriak Salma dengan menangis histeris. Ya Allah darimana dia tau semua itu, bahkan sekarang dia baru berumur dua belas tahun, bagaimana bisa anak kecil seperti dia bisa berbicara seperti itu.

"Salma!" bentakku karena dia berteriak berbicara padaku, aku selalu mengajarkan mereka untuk berbicara lembut dan tidak berteriak. Karena aku selalu bilang, jika kita sedang marah maka hati kita akan mengecil dan akan semakin kecil, yang akan besar adalah ego kita.

"Maaf, Bu. Tapi aku kecewa karena Ibu membohongi kami. Tidak seharusnya Ibu menanggung semuanya sendirian, ada aku Bu. Ibu bisa berbagi semuanya dengan aku." Salma menangis sesenggukan sambil memukul-mukul dada dengan tangannya, Ya Allah berikan kekuatan kepada kami semua.

"Ada Ali juga, Bu." Ali kemudian menjawab, kami saling berpelukan satu sama lain. Ali, dia anakku yang paling dewasa. Sikapnya yang tenang, dan pendiam membuatnya lebih dewasa dari umurnya. Mereka berdua mirip sekali, seperti anak kembar, tapi Ali sekarang sudah berumur delapan belas tahun.

"Apa yang dikatakan tadi oleh Ayah," tanyaku kemudian pada Salma setelah aku mengurai pelukan hangat mereka.

"Tadi bukan Ayah yang bicara, tapi wanita itu," jawab Salma menundukkan kepalanya, kembali, air matanya kembali luruh membasahi pipinya.

Aku menggeleng tidak percaya, teganya Mas Rahman mengecewakan anak-anak.

"Apa yang dia katakan," tanyaku cepat.

"Dia bilang, kalau sekarang kami nggak boleh lagi menelpon-nelpon Ayah, karena Ayah sekarang bukan Ayah kami lagi, sekarang Ayah sudah punya Istri dan anak lain."! Salma menjelaskan seraya menangis, bahunya terguncang hebat. Kembali Ali memeluk Salma, kulihat tangannya terkepal erat. Aku tahu dia sedang menahan amarahnya.

"Salma sayang, kamu nggak usah dengerin wanita itu. Sampai kapanpun Ayah tetap akan menjadi ayah kalian," jawabku tenang sambil menahan air mata yang sudah menganak sungai.

"Sudah cukup, Bu. Jangan lagi beri kami harapan tentang Ayah, Ali akan menggantikan Ayah untuk kalian, Ibu sekarang jangan sedih lagi ya," ucap Ali tegas, dia sama sekali tidak menangis, bahkan dia terlihat biasa-biasa saja. Berbanding terbalik dengan kondisi Salma. Aku sangat malu dengan diriku sendiri, Ali bahkan lebih tegar dariku.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan Anto, Uwak yang mendengar itu segera bangkit dan berlari kekamarku.

"Biar Uwak saja," ucap Uwak sambil berlari menuju tempat Anto tidur.

"Terimakasih, Sayang. Kalian harapan Ibu sekarang, tolong kalian jaga adik-adik kalian, bantu Ibu melalui semuanya," ucapku kembali memeluk mereka.

"Ibu tenang saja, serahkan semuanya pada kami, iyakan Salma," tanya Ali sambil mengedipkan matanya kearah Salma. Melihat itu kemudian Salma menghapus air matanya, dan mengangguk cepat.

"Yaudah, sekarang Ibu kekamar Anto saja. Besok kita bahas lagi ya," ucap Ali. Aku mengangguk, mengecup kening mereka dan segera keluar dari kamar.

"Kami pinjam ponsel Ibu ya," tiba-tiba Ali meminta ponselku.

"Buat apa," tanyaku penasaran, biasanya mereka tidak pernah meminta ponselku.

"Buat main game, Bu. Kami belum bisa tidur," ucap Ali menjelaskan. Aku pun menyerahkan ponselku dan segera ke kamar tempat Anto tidur. Tapi hatiku tidak yakin jika Ali dan Salma bermain game di ponselku, aku baru teringat jika di ponselku tidak memiliki aplikasi game sama sekali. Aku kembali lagi ke kamar Salma, saat sedang membuka pintu, aku mendengar suara mereka berbicara.

"Kamu bisakan diajak kerjasama, kita harus membalaskan sakit hati Ibu." Terdengar suara Ali yang tegas, apa yang mereka rencanakan sebenarnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED