Bab 1

"Pak, apakah perlu saya bawakan kopernya?" tawar pria yang berumur sekitar 45 tahunan. Dengan tergesa ia mengambil tas besar yang masih ditarik Angkasa saat melewati ramainya pengunjung bandara.

Berhari-hari menghadiri rapat bisnis di kota Malang membuat Angkasa ingin segera merebahkan badan di kasur kesayangannya. Apalagi pesawat yang tertunda hampir tiga jam karena hujan yang mengguyur membuat ia benar-benar lelah.

"Terima kasih, Pak Iwan." Ia menyodorkan koper hitamnya pada sopir perusahaan yang ditugaskan menjemputnya di Bandara.

"Pak Angkasa ingin makan atau singgah dulu?" tanya Pak Iwan saat sudah berada di belakang kemudi. Sedangkan Angkasa yang sibuk memasang sabuk pengamannya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi menggelengkan kepala.

"Langsung pulang saja, Pak." Tangannya merogoh kantong celana dan memeriksa ponsel yang sedari tadi dimatikan.

Pak Iwan yang mendengar jawaban atasannya hanya bisa mengangguk patuh dan segera menghidupkan mobilnya. "Bapak bisa tidur nanti kalau sudah sampai saya bangunkan," tawar Pak Iwan lagi saat melihat wajah lelah Angkasa.

Pak Iwan begitu menghargai Angkasa sebagai atasan karena pria itu salah satu orang yang selalu peduli dengan orang lain. Tidak memandang jika dia seorang sopir atau apa pun itu terbukti jika sedang bersama dirinya, Angkasa sendiri tak mau duduk di bangku belakang dan selalu duduk di depan.

"Bangunkan saya, ya, Pak."

"Baik."

Empat hari menginjakkan kaki di kota yang mempunyai julukan Paris of East Java membuat Angkasa yang mempunyai tugas dalam pengelolaan perusahaan benar-benar lelah. Atasannya memberikan dirinya mandat untuk memulai semuanya tanpa terkecuali.

Venus Foods, perusahaan yang berjalan di bidang makanan dan minuman ingin bekerja sama dengan petani lokal Malang untuk memproduksi sari apel dalam jumlah besar. Tak hanya perusahaan yang diuntungkan karena mempunyai ide yang baru, petani lokal pun bisa disejahterakan.

Ponselnya bergetar membuat Angkasa yang bangun dari tidur ayam-ayamnya. Matanya menyipit saat melihat siapa yang berani menelepon.

'Della Calling'

Hanya gumaman yang Angkasa berikan sebagai kata pembuka jujur ia sangat terganggu, ia hanya ingin tertidur sebentar saja.

"Mas? Kamu sudah landing, kok tidak langsung hubungi aku?" cecar perempuan di seberang sana membuat Angkasa sedikit jengah.

"Aku ada rencana hubungi kamu kalau sudah sampai rumah."

"Kamu sekarang sudah sampai mana?"

"Masih di jalan. Nanti aku hubungi kamu lagi ya." Pemutusan sepihak oleh Angkasa membuatnya menghela napas kasar.

Pak Iwan yang mendengarkan atasannya sedikit mengumpat tak berani bersuara, kalau berhubungan dengan wanita memang susah. Apalagi kekasih Angkasa, ia tahu wanita itu. Wanita yang pernah datang ke kantor membawakan makan siang untuk atasannya. Tak sering memang, namun bisa membuat gosip bagi banyak karyawan.

"Pak Iwan, kita lebih baik singgah dulu saja, ya." Sambil menaruh kasar ponsel di pahanya.

"Siap laksanakan, Pak." Mobilnya yang sudah keluar dari jalan tol mencari kafe atau restoran terdekat untuk mendinginkan kepala sang atasan.

**

"Pak, bagaimana keadaan istri dan anak-anak?" Sambil menghisap rokoknya, Angkasa menatap pria yang duduk di hadapannya sedang menyeruput kopi.

"Mereka alhamdulillah baik, yang kecil tahun ini sudah kelas lima sekolah dasar," jawab Pak Iwan.

Angkasa hanya mengangguk-angguk.

Banyak sedikit Pak Iwan bercerita tentang kehidupan keluarganya, yang dulunya ia sopir salah satu perusahaan terbesar di Jakarta tapi tidak mendapat hak yang memuaskan dan akhirnya pemutusan sepihak. Menjalani hidup menjadi sopir ojek online dengan bermodal motor yang mendapatkan penghasilan tak menentu membuat Pak Iwan mencoba melamar pada perusahaan Venus Foods dan alhasil kesabaran Pak Iwan membuahkan hasil.

"Bapak sudah tahu belum kalau perusahaan ada beasiswa untuk anak pegawai yang mendapat peringkat satu sampai tiga?" tanya Angkasa.

"Saya belum tahu, Pak."

"Coba ajukan saja Pak, nanti saya bantu untuk teruskan ke bagian kepegawaian. Sayang kalau anak Pak Iwan dapat peringkat tapi dibiarkan begitu saja." Pengajuan yang Angkasa berikan membuat Pak Iwan bersyukur, selama satu tahun ia bekerja ia baru tahu jika ada sistem itu di perusahaan.

Ponselnya kembali bergetar, tanpa berlama-lama ia segera mengangkatnya. "Assalamualaikum. Iya, Ma?"

"Kasa bentar lagi sampai rumah kok." Isapan terakhir pada rokoknya dan mematikannya di asbak yang tersedia.

"Katakan sama Dellandra besok saja kalau ingin bertemu, Kasa lelah."

"Waalaikumsalam." Tangannya mengusap kasar wajahnya.

"Mau jalan sekarang, Pak?" ajak Pak Iwan setelah mendengar percakapan Angkasa.

**

"Oh iya Pak Iwan ini ada oleh-oleh untuk anak Bapak." Angkasa memberikan paper bag berwarna kuning.

"Apakah tidak merepotkan, Pak?" Pak Iwan menunduk hormat. Tpi atasannya hanya menggeleng dan kembali menyodorkan bungkusan itu. Akhirnya ia mengambil dan pamit pulang.

"Kak Kasa!" teriak perempuan yang sudah melihat Angkasa masuk sambil membawa barang bawaan. Angkasa yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas.

"Mana oleh-olehnya?" tanya Antariksa, Riksa adalah adik perempuan Angkasa.

Angkasa yang mendengar tuntutan Riksa hanya mendorong dahi perempuan itu. "Kamu menghampiri Kakak hanya ingin ini?"

"Kak, ini keju yang lagi viral itu ‘kan?" Tangan Riksa membuka paper bag berwarna kuning dan membuka isinya.

"Iya, kakak memang sengaja beli untuk bahan rapat kantor. kalau kamu mau, ambil saja tapi jangan semua." Angkasa mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu membiarkan Riksa membuka semua barang bawaan dirinya.

"Mama mana?" tanya Angkasa saat melihat situasi rumah yang sepi.

"Di belakang sama Mbak Della."

Kening Angkasa berkerut, ternyata perempuan itu tak pernah main-main dengan perkataannya. Della tadi memberitahunya akan datang ke rumah saat dirinya sudah pulang dari tugas.

"Della sudah dari tadi di sini?" tanya Angkasa mencoba menginterogasi adiknya.

"Kira-kira dua jam yang lalu," jawab Riksa sambil memakan keripik buah.

Dua jam yang lalu? Berarti saat wanita itu meneleponnya dan langsung ke rumah. Luar biasa.

Angkasa menarik kopernya dan menuju kamarnya di lantai dua, ia akan membersihkan diri karena yang ia tahu dirinya untuk saat ini tidak akan pernah bisa beristirahat.

Menyegarkan tubuhnya di pancuran air dingin membuat otot-otot Angkasa yang tadinya kaku menjadi lemas. Sebenarnya tuntutan pekerjaan membuat dirinya tak bisa tidur dengan nyaman beberapa minggu dan puncaknya adalah hari ini. Tapi mengingat Dellandra yang sudah berada di rumahnya membuat ia harus melupakan lelahnya.

Pacar sekaligus tunangan karena perjodohan orang tua dari kedua belah pihak membuat Angkasa tidak bisa berkutik. Meski umurnya yang bisa dibilang muda untuk menjadi seorang manajer, tapi umur tiga puluh tahun sudah cukup matang untuk menjadi imam keluarga.

Ayah dan Ibunya sudah mewanti-wanti untuk Angkasa segera melamar, tapi berbagai alasan yang Angkasa berikan membuat kedua belah pihak tak bisa berbuat apa-apa. Angkasa belum siap, belum siap jika Dellandra yang menjadi istrinya.

"Mas Kasa, mama dan papa selalu mencari kamu loh. Katanya kamu jarang main ke rumah," ujar Della menatap pacarnya di balik kemudi. "Mereka juga mengajak kamu makan malam."

Angkasa mendengarkan saja tanpa merespons, jalanan yang lumayan padat mengingat ini adalah malam minggu membuat ia jengkel. Ia memang ingin cepat-cepat mengantar kekasihnya pulang, dengan begitu ia bisa dengan bebas mengurung diri di kamar tercinta.

Matanya menatap langit, beberapa jam yang lalu terjadi hujan tapi sekarang langit sudah terlihat cerah bahkan sorot jingga sudah makin terlihat.

"Mas ...," tepuk Della pada lengan Angkasa karena tak diberikan jawaban.

"Aku ‘kan tadi sudah katakan, kalau Mas lelah lebih baik tidak usah antar aku. Aku bisa pulang sendiri." Della merasa tak enak hati. Tapi seketika pipinya merona saat Angkasa membalasnya dengan senyum yang terlampau manis.

"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu di jalan."

Mobilnya sudah sampai tepat di depan rumah Della, tapi ia tak berniat untuk singgah. "Aku langsung, ya, Dell. Salam untuk tante dan om. Maaf tidak bisa singgah." Meskipun begitu, ia tetap membukakan pintu serta sabuk pengaman untuk Della.

"Tidak apa, Mas. Nanti aku sampaikan ke mama. Kamu istirahat ya." Della mencium bibir Angkasa membuat pria itu tersenyum dan balas menciumnya singkat.

Dengan cepat ia pun melajukan kemudinya, akhirnya sudah selesai satu urusan.

Bab 2

Melihat langit yang begitu indah sore ini membuat Angkasa berniat menghentikan mobilnya tepat di taman kota. Wajahnya menengadah melihat senja, burung-burung yang lalu lalang serta banyak pemuda pemudi yang bercengkerama seolah sudah siap akan malam minggunya.

Ia segera duduk di bangku panjang yang terlihat kosong meskipun ada seorang bocah menempatinya seorang diri di posisi paling ujung. Entah ke mana orang tua anak lelaki itu, meninggalkannya seorang diri di tempat umum seperti ini.

Menikmati suasana dengan angin yang berhembus ia menyandarkan punggungnya tanpa ingin tahu keadaan sekitar. Langit yang kuning makin lama berubah menjadi gelap digantikan oleh lampu-lampu untuk membantu penerangan.

Telinganya mendengar bunyi tak asing, melirik sedikit apa yang dilakukan bocah di sampingnya itu.

"Kamu lapar?" Bergumam tanpa melihat.

Sedangkan anak laki-laki itu hanya menunduk malu seperti tertangkap basah mencuri sesuatu. Angkasa akhirnya menatap dengan jelas bocah itu. Anak yang sebenarnya tampan dengan baju yang sudah pudar warnanya.

Bunyi yang sama ke sekian kali membuat Angkasa menghela napas, akhirnya ia beranjak pergi. Bocah lelaki itu melihat kepergian Angkasa dengan wajah tertunduk, ia yakin om itu tak ingin berdekatan terlalu lama dengannya.

"Makanlah!" Sodoran yang diberikan membuat bocah itu melihat bagaimana wajah pria yang sudah memberikannya sesuatu. Ia melihat bungkusan hadapannya, tampak menggiurkan tapi dia takut.

"Kamu sendirian?" Angkasa duduk kembali sambil menaruh bungkusan nasi di bangku dekat dengan bocah itu. Tapi hanya anggukan yang di dapat Angkasa.

"Kamu tersesat atau bagaimana?" Menarik, seorang Langit Angkasa ingin ikut campur urusan orang lain. Ia tak henti-hentinya menanyakan hal yang seharusnya tak ia tanyakan.

Hanya anggukan lagi. Angkasa sampai menegakkan tubuhnya.

"Siapa namamu?"

"Kakak!" Teriakan secara tiba-tiba bocah itu sambil melambaikan tangan, entah siapa yang dipanggil membuat ia terperanjat.

"Cakra, Cakrawala." Sambil berlari, bocah itu berbalik menatap Angkasa

***

"Kamu dari mana saja?" teriaknya sambil memeluk bocah yang sudah lari menghampiri dirinya. Hampir dua jam ia berkeliling kota untuk mencari sang adik, yang entah kenapa bisa hilang begitu saja.

"Maaf, Kak," ringis bocah itu karena dipeluk erat sang kakak.

"Kakak takut kehilangan kamu!" Jantung Amara semakin berdetak, ia ingin menyerah dan menelepon polisi saja jika sampai malam ia tidak menemukan adiknya. Jakarta bukan kota aman untuk bocah seusia Cakra yang sendirian, bisa saja eksploitasi anak membuat Cakra menjadi budak. Ia menggeleng-geleng mengenyahkan pikiran buruk tentang hal tersebut.

"Apa yang ada di tangan kamu?" Menggandeng tangan Cakra untuk berjalan kembali pulang.

Cakra melihat tangannya yang membawa bungkusan, ia nyengir malu. "Makanan, diberikan oleh Om yang tadi susuk di samping Cakra.”

Amara tak habis pikir, bisa-bisanya Cakra mengambil pemberian dari orang lain yang tidak di kenal. Padahal bisa saja itu modus penculikan. "Kamu tidak ingat apa yang Kakak katakan untuk tidak mengambil pemberian orang lain?" Amara mengambil bungkusan dari tangan Cakra. “Beri tahu Kakak yang mana orangnya!”

"Jangan, Kak! Nasibnya bisa untuk makan malam kita ...," mohon Cakra sambil menarik baju kebesaran milik Amara.

"Dengar! Kalau di makanan ini ada obat terlarang atau racun, bagaimana? Lalu kamu diculik dan dijual oleh mereka?" Amara mensejajarkan tubuhnya untuk melihat wajah gembil sang adik. "Kakak masih punya cukup uang kalau untuk makan kamu sehari-hari. Jangan jadi miskin hati, Cakra. Cukup materi kita saja yang kurang." Amara menghela napas.

Bekerja sebagai operator fotokopi di depan sekolah, membuat Amara lebih banyak bersyukur meskipun hanya berpenghasilan pas-pasan. Ia sudah banyak mencoba melamar di suatu instansi atau perusahaan walaupun bermodal ijazah SMA. Tak ada salahnya bukan?

Sambil menunjukkan tempat orang yang memberikannya makan, Cakra menengok sekelilingnya. "Tadi om itu duduk di sini, Kak. Duduk di samping Cakra," jelas Cakra sambil menunjuk bangku panjang.

"Terus sekarang om itu hilang?" ejek Amara melihat wajah kebingungan Cakra yang terlihat lucu. Ia pun mendudukkan bokongnya di sana.

Amara memberikan bungkusan pada Cakra. "Ya sudah, ini untuk kamu. Tapi nanti kalau kita bertemu lagi dengan orangnya maka kamu harus membayar uangnya, ya.”

Cakra pun mengangguk senang. Setidaknya ia bisa makan enak malam ini.

**

"Bagaimana bisa kamu main hingga sejauh ini?" tanya Amara sambil menggandeng Cakra menikmati malamnya suasana ibukota.

"Tadi ada ondel-ondel terus Cakra ikuti, deh," kata bocah berumur sepuluh tahun itu menjelaskan.

"Sampai sejauh ini?" Anggukan yang bocah itu berikan membuat asumsi Amara benar. "Kamu sendirian?" cecarnya.

"Tidak, banyak anak lain juga tadi. Tapi sekarang Cakra tidak tahu mereka ke mana." Bisa dipastikan entah Cakra yang kehilangan jejak temannya atau memang ia yang pergi ke suatu tempat setelahnya.

Amara membuka gerbang tua rumahnya, membuat besi yang sedikit berkarat itu berbunyi. "Cepat kamu mandi, Kakak ingin lihat ibu dulu." Dengan lihai Amara menghidupkan seluruh lampu rumahnya.

Dibuka pintu kayu untuk melihat ibunya. "Bu ...." Panggilan itu memenuhi ruangan yang sedari tadi sunyi.

Hanya gumaman yang terdengar sebagai balasan. Amara duduk di pinggir ranjang memperhatikan ibunya yang juga menatap dirinya. Dengan sigap Amara membantu ibunya untuk duduk. "Cakra sedang mandi, Bu." Sambil memijat kaki ibunya, ia berbicara.

Mata sayu itu menatap Amara dengan lembut walau dirinya tak bisa berbuat banyak namun doa selalu terpanjat di hatinya.

"A ... aa ... aa." Perkataan tak jelas yang selalu bergumam itu membuat Amara miris. Tubuh ibunya tak lagi sama, setengah dari sistem sarafnya tidak berfungsi. Bibir yang sedikit menyungging itu menandakan jika dia tak bisa berbicara normal.

"Ibu lapar?"

Menggelengkan kepala Dinarianti–Ibu Amara—membuat Amara semakin berpikir apa yang diinginkan ibunya.

"Aaa ... aaa."

"Kak Guntur?" Akhirnya Amara mengetahui apa yang ibunya jelaskan, dengan bantuan tangan kiri yang masih berfungsi menggambarkan sosok tinggi yang artinya kakak Amara.

"Kak Guntur sepertinya tidak pulang lagi, Bu." Helaan napas Dinar membuat Amara mengerucutkan bibirnya.

Guntur Pribumi laki-laki dewasa yang sudah menginjak dua puluh lima tahun itu entah ke mana dan jarang pulang. Sosoknya tak ubah seperti berandalan di pinggir jalan yang sering nongkrong bersama teman-temannya. Mengikuti pergaulan bebas.

Amara tak banyak berharap dengan Guntur, jika laki-laki pertama di keluarga lain pasti menjadi sandaran dan tumpuan tapi tidak untuk Amara dan Cakra. Mereka tak bisa mengharapkan Guntur yang memberikan kenyamanan di rumah.

"Ibu ingin ke toilet?" Amara membantu Ibunya berdiri, Dinar bisa saja berdiri sendiri namun kakinya sebelah yang mati rasa memperlambat dirinya untuk berjalan.

Dengan tertatih dan menyeret kaki sebelah kanan, Amara menopang tubuh sang Ibu. Belum sempat mencapai pintu kamar, Dinar serta Amara dikagetkan dengan pecahan kaca dari arah dapur. Amara dengan cepat mendudukkan ibunya di kursi. Pikirannya langsung tertuju pada Cakra yang sedang di dapur, semoga Cakra hanya memecahkan gelas.

Amara tambah panik saat melihat adiknya sudah terduduk di lantai dengan pecahan kaca di sampingnya.

"Kak Guntur!"

Bab 3

Melihat Cakra yang bersimpuh membuat Amara mendekati dengan hati-hati takut pecahan kaca menggores telapak kakinya. Membantu adiknya untuk bangun dan memosisikan di belakangnya.

"Kakak bisa ‘kan tidak usah marah-marah dengan Cakra!?" Amara menahan marahnya, ia tak bisa meluapkan karena melihat kondisi kakaknya yang 'tidak baik'.

"Diam kamu, Mar! Seharusnya kamu bisa memberitahunya untuk jangan dekat-dekat dengan aku lagi!" teriak Guntur menatap tajam Cakra yang masih memegang erat baju Amara.

"Kak, dia adik kita. Cakra adik kita!" protes Amara memeluk tubuh kurus Cakra.

"Adik?" Tawa miris Guntur membuat Cakra semakin ketakutan.

"Adik yang membuat ibu dan ayah pisah, iya, Mar?"

Amara tak habis pikir kenapa Kakaknya bisa berbicara seperti itu terlebih di depan Cakra. Anak itu tidak tahu apa-apa, setidaknya belum. Belum mengetahui apa yang terjadi di keluarganya.

Tanpa mau menyahut sang Kakak, Amara membawa Cakra pergi dan tak mengizinkan anak bertubuh kurus itu berhadapan dengan Guntur. Amara masih menutupi telinga Cakra tak ingin membuat adiknya mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut tajam yang sedari tadi tak ada habis-habisnya berucap.

“Jadi apa yang membuat kak Guntur marah sama kamu?” Amara mengelus kepala adiknya.

Anak berumur sepuluh tahun itu mengangkat bahunya. “Cakra hanya ingin minum dan kak Guntur juga melakukan hal yang sama.”

Amara mendesah dan tak bertanya apa-apa lagi.

"Cakra sepertinya tadi melihat ayah, deh, Kak." Ia berkata sambil menatap tubuh kakaknya yang berjalan dengan membawa baju ganti untuknya.

Amara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum masam tak berniat menjawab. Ia memberikan pakaian yang dipegangnya. "Cepatlah pakai bajumu, setelah itu kita makan malam." Cakra hanya mengangguk tanda setuju, ia lupa jika cacing dalam perutnya sudah berdemo sejak tadi.

***

Kembali ke rutinitas seperti biasa membuat Angkasa berjibaku dengan laporan-laporan yang membuat kepalanya berdenyut seketika. Memang sudah cukup ia beristirahat selama satu hari untuk meluruskan otot-ototnya yang tegang. Tapi tetap saja, pekerjaannya seakan-akan tak pernah habis.

Me-diall nomor yang sudah hafal di luar kepala, wanita di seberang sana pun tak lama mengangkat. "Tolong siapkan rapat dengan divisi marketing lima belas menit lagi."

"Baik, Pak."

Meletakkan gagang telepon, Angkasa kembali melihat angka-angka di atas kertas. Jumlah angka selama tiga bulan terakhir mengapa semakin lama semakin berkurang. Pasti ada yang salah.

Ketukan pintu membuat Angkasa melihat wanita berdiri dengan balutan formal dengan menggunakan kacamata.

"Semua sudah siap, Pak," kata sekretaris Angkasa.

Angkasa hanya mengangguk dan membawa flashdisk juga paper bag warna kuning.

"Sha, kamu tidak perlu ikut. Ini hanya rapat santai saja dengan mereka." Angkasa meninggalkan ruangannya membuat sang asisten hanya menggaruk kepalanya, bingung.

Meeting Room menjadi tujuan Angkasa. Ruangan yang terletak di lantai dua membuat ia harus turun dengan elevator. Tapi ternyata ia berpapasan dengan Pak Rizal, Manajer Pemasaran. Kebetulan sekali.

"Pak Rizal," sapa Angkasa membuat pria berumur empat puluh dua tahun itu tersenyum dan menepuk pundak Angkasa.

"Dari mana, Pak?" tanya Angkasa.

"Biasa, Pak Direktur sedang berkicau."

Sudah bisa dipastikan, hal yang Pak Direktur sampaikan pasti sama perihal yang akan Angkasa diskusikan. Tapi seharusnya sang Direktur tak perlu repot-repot mengurusi hal ini toh ada Angkasa yang menjadi penanggung jawabnya.

"Jadi pagi-pagi Pak Rizal sudah dapat kultum?" tawa kedua orang yang berada dalam elevator membuat ruangan pengap itu menjadi bising.

Angkasa membukakan pintu ruang rapat guna menghormati Pak Rizal yang lebih tua, meskipun kedudukan mereka sejajar namun sopan santun harus yang utama. Sudah ada delapan orang yang menunggu, Rizal dan Angkasa duduk berhadapan dengan staf Marketing di meja bundar. Ya memang meja itu berbentuk lingkaran.

"Pagi semua." Rizal memberikan ucapan pembuka saat melihat timnya duduk tegang saat melihat Angkasa. Padahal tidak sekali dua kali Divisi Marketing rapat santai dengan divisi lainnya terlebih operasional.

"Pagi." Suara pelan yang menggema di ruang kedap suara itu membuat kening Angkasa berkerut.

"Kalian sedang berpuasa?" celoteh Angkasa dibalas tawa Rizal.

Angkasa menatap satu persatu timnya, yang menarik perhatian adalah pria berambut keriting mengembang yang ia ketahui bernama Bastian.

"Bas, kamu mau ini?" Pria yang sedari tadi sedikit mengantuk itu langsung membelalakkan matanya saat disodorkan bungkusan kuning di atas meja.

"Buat saya, Pak?" Angkasa mengangguk.

"Jadi hari ini Pak Angkasa ingin mengobrol santai dengan kita. Betul, Pak?" Rizal berkata sambil minum kopi yang sudah disiapkan.

Angkasa mengangguk sambil memberikan flashdisk pada Vero, wanita berkacamata yang duduk paling dekat dengan monitor kecil.

"Maaf sebelumnya karena saya terlalu jauh ikut campur dengan Divisi kalian. Tapi, tugas saya juga berkaitan dengan semua di perusahaan termasuk penjualan. Saya harap kalian mengerti," kata Angkasa.

Rizal mempersilakan Angkasa berbicara.

Vero yang sebagai operator dadakan membuka file yang terletak si monitor di hadapannya. Sambungan LCD yang lebih besar membuat semua orang di ruangan fokus pada apa yang ditayangkan di depan sana.

"Saya akan menunjukkan penjualan seluruh produk perusahaan selama enam bulan terakhir." Angkasa berdiri berhadapan menghadap monitor

"Kalian bisa lihat sendiri, grafik dari bulan Juni sampai bulan Agustus stabil malah cenderung meningkat walaupun hanya sepuluh koma tujuh persen. Tapi ...." Angkasa memberikan kode pada Vero untuk mengganti slide. "Ada apa di bulan Oktober?

"Dimulai dari September yang mengalami penurunan hingga Oktober penjualan benar-benar drastis hingga tiga belas persen dalam satu bulan." Angkasa melihat Rizal yang memegang dagunya, Manajer itu juga tampak berpikir.

Semakin lama dunia bisnis semakin banyak saingannya, apalagi produk makanan yang kaya inovasi meskipun dengan bahan baku yang sama.

"Saya tidak mengerti kenapa produk kita mengalami penurunan hingga tiga bulan terakhir." Angkasa kembali duduk di samping Rizal.

"Ada yang tahu?" tanya Angkasa.

"Seperti yang kita tahu Pak, mungkin masyarakat sudah bosan dengan produk kita dan lebih memilih produk baru apalagi bermain dengan warna." Dina, salah satu staf dengan rambut blonde.

"Jadi menurutmu produk kita akan kalah saing dengan homemade?" Angkasa mengetuk jarinya.

"Di awalnya iya. Mereka penasaran tapi akhirnya masyarakat tahu produk yang dikonsumsi sejak lama pasti akan meninggalkan kesan dan mereka akan kembali membeli produk lagi." Singgih menimpali.

"Benar, Pak." Bastian dan Yessi membenarkan apa yang telah Singgih katakan.

"Reza, kamu tidak ingin memberikan pendapatmu?" Angkasa melihat Reza yang masih mencatat pembicaraan diskusi di buku binder miliknya.

"Tidak, Pak. Karena saya masih junior, saya setuju dengan kakak-kakak senior saja."

Reza yang umurnya lebih kecil di antara yang lainnya. 23 tahun. Sedangkan yang lainnya rata-rata 25-26 tahun. Kecuali Zevanya, gadis cantik yang berumur 24 tahun.

Angkasa menyandarkan tubuhnya. "Oh begitu."

"Bastian kamu tidak mau coba buka bungkusan itu?" Angkasa menatap Bastian yang sedari tadi menatap bungkusan kuning itu.

Pekikan terkejut apalagi Zevanya yang langsung mengambil benda kuning itu dan mencium aromanya. "Mozarella khas Malangnya, Kak!" Bastian hanya bisa melongo mendengar pekikan keras teman satu timnya.

"Kamu salah naskah, Beb." Bastian mengambil kembali produk itu dari tangan Zevanya.

Angkasa menjentikkan jarinya. "Nah kalian saja langsung mengenali produk itu. Karena apa? Marketing mereka benar-benar membuat masyarakat tidak pernah lupa apalagi promosi di media sosial."

"Jadi kalian tahu apa yang kita butuhkan?"

Semuanya menggeleng masih belum mengerti.

"Tagline untuk promosi secara besar-besaran di media sosial."

Yessi memperhatikan temannya yang mengangguk mengerti. "Bukankah kita sudah punya Tagline tersendiri, Pak?"

"Apa kamu pikir orang akan selalu ingat Venus Foods dengan  kata-kata 'Food Healthy For You're Life'? Maksud saya, kita tak akan mengubah Tagline yang ada. Tapi menambahkan untuk promosi di sosial media demi menarik pelanggan lebih banyak. Saya kira kalian lebih paham ‘lah mengenai hal itu apalagi menjadi timnya Pak Rizal yang dikenal dengan ide kreatifnya,” puji Angkasa.

"Saya kira hanya ini saja yang saya sampaikan. Terima kasih sudah ngobrol santai dengan saya." Angkasa pamit dengan Pak Rizal untuk meninggalkan ruangan.

Mengobrol santai katanya? Bastian mengernyit dan berdiri.

"Hey, kalian ingin ke mana?" Pak Rizal menginterupsi saat melihat anak-anaknya sudah ingin meninggalkan tempat.

"Kembali ke ruangan, Be," kata Zevanya. Babe, panggilan untuk Rizal dari semua anak-anaknya.

"Tunggu sebentar, Babe punya berita menghebohkan dari pada tugas yang Pak Angkasa berikan."

Setelah mendengar atasannya bicara semua orang mendekati Pak Rizal dengan heboh sambil menarik kursinya masing-masing.

"Apa, Be?" Dina yang diketahui mempunyai suara lebih besar menaik-turunkan alisnya.

"Tadi saat Babe dipanggil sama Pak Bos. Dia memberi kita pilihan ...." Sengaja menggantung ucapannya agar semua pada penasaran.

Bastian menutup mulut Zevanya yang kedapatan terlihat terbuka.

"Ih kamu apa-apaan sih, Kak." Sambil mengelap mulutnya yang sudah terkena sentuhan tangan Bastian.

"Jika dalam dua bulan penjualan meningkat liburan yang diiming-imingi ke Singapura akan terlaksana. Tapi ...." Kebiasaan buruk Babe Rizal adalah membuat semua orang penasaran seperti ini contohnya.

"Satu ... dua ...." Reza mulai menghitung karena sudah tak tahan.

"Bogor menjadi salah satu tujuan perusahaan untuk Family Gathering jika dalam penjualan tak ada peningkatan."

Mereka yang mendengar itu semua langsung menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi seolah lemas mendengar penuturan atasannya.

"Lebih baik aku pura-pura mati saja"

"Kenapa Bogor lagi sih tahun kemarin ‘kan kita sudah ke sana."

"Tidak sanggup lagi, sudah cukup Ferguso."

Banyak lagi omelan yang didengar Rizal. Pria yang hampir paruh baya itu hanya tersenyum tanpa makna.

"Be, katakan sama Pak Abraham dong untuk tambah orang. Biar bisa membantu kita nih. Karyawan magang juga tidak apa-apa deh," celoteh Yessi diangguki yang lain.

"Kita sudah banyak orang loh, Yes," jawab Rizal.

"Staf kita cuma sedikit dibanding yang lainnya. Coba bayangkan divisi lain saja bisa sampai dua belas orang, sedangkan kita hanya tujuh orang. Apalagi laporan yang belum selesai-selesai," omelnya.

"Catat, DELAPAN," koreksi Rizal penuh penekanan.

"Iya, sembilan."

"Iya, Be. Kalau bisa yang cantik dan masih muda," bisik Bastian di sebelahnya tapi masih bisa didengar oleh semua orang.

"Kutandai kau, ya!" Zevanya menarik rambut Bastian.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED