Sampul Novel PELUKAN UNTUK LANIA

PELUKAN UNTUK LANIA

8.4 / 10.0
Demi keluarga, Amara rela berkorban, tetapi takdir justru menguji ketegarannya. Luka lama kembali terkoyak saat ayah kandung yang dahulu menelantarkannya tiba-tiba muncul. Di masa sulit ini, sosok Angkasa hadir menawarkan kenyamanan hingga Amara terpikat. Namun, ketulusan itu runtuh ketika Amara menyadari dirinya hanya dijadikan orang ketiga. Kini, ia terjebak dalam dilema moral yang meredupkan harapan akan masa depannya.
Ringkasan PELUKAN UNTUK LANIA
Demi keluarga, Amara rela berkorban, tetapi takdir justru menguji ketegarannya. Luka lama kembali terkoyak saat ayah kandung yang dahulu menelantarkannya tiba-tiba muncul. Di masa sulit ini, sosok Angkasa hadir menawarkan kenyamanan hingga Amara terpikat. Namun, ketulusan itu runtuh ketika Amara menyadari dirinya hanya dijadikan orang ketiga. Kini, ia terjebak dalam dilema moral yang meredupkan harapan akan masa depannya.
Baca Selengkapnya

PELUKAN UNTUK LANIA Bab 1

"Pak, apakah perlu saya bawakan kopernya?" tawar pria yang berumur sekitar 45 tahunan. Dengan tergesa ia mengambil tas besar yang masih ditarik Angkasa saat melewati ramainya pengunjung bandara.

Berhari-hari menghadiri rapat bisnis di kota Malang membuat Angkasa ingin segera merebahkan badan di kasur kesayangannya. Apalagi pesawat yang tertunda hampir tiga jam karena hujan yang mengguyur membuat ia benar-benar lelah.

"Terima kasih, Pak Iwan." Ia menyodorkan koper hitamnya pada sopir perusahaan yang ditugaskan menjemputnya di Bandara.

"Pak Angkasa ingin makan atau singgah dulu?" tanya Pak Iwan saat sudah berada di belakang kemudi. Sedangkan Angkasa yang sibuk memasang sabuk pengamannya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi menggelengkan kepala.

"Langsung pulang saja, Pak." Tangannya merogoh kantong celana dan memeriksa ponsel yang sedari tadi dimatikan.

Pak Iwan yang mendengar jawaban atasannya hanya bisa mengangguk patuh dan segera menghidupkan mobilnya. "Bapak bisa tidur nanti kalau sudah sampai saya bangunkan," tawar Pak Iwan lagi saat melihat wajah lelah Angkasa.

Pak Iwan begitu menghargai Angkasa sebagai atasan karena pria itu salah satu orang yang selalu peduli dengan orang lain. Tidak memandang jika dia seorang sopir atau apa pun itu terbukti jika sedang bersama dirinya, Angkasa sendiri tak mau duduk di bangku belakang dan selalu duduk di depan.

"Bangunkan saya, ya, Pak."

"Baik."

Empat hari menginjakkan kaki di kota yang mempunyai julukan Paris of East Java membuat Angkasa yang mempunyai tugas dalam pengelolaan perusahaan benar-benar lelah. Atasannya memberikan dirinya mandat untuk memulai semuanya tanpa terkecuali.

Venus Foods, perusahaan yang berjalan di bidang makanan dan minuman ingin bekerja sama dengan petani lokal Malang untuk memproduksi sari apel dalam jumlah besar. Tak hanya perusahaan yang diuntungkan karena mempunyai ide yang baru, petani lokal pun bisa disejahterakan.

Ponselnya bergetar membuat Angkasa yang bangun dari tidur ayam-ayamnya. Matanya menyipit saat melihat siapa yang berani menelepon.

'Della Calling'

Hanya gumaman yang Angkasa berikan sebagai kata pembuka jujur ia sangat terganggu, ia hanya ingin tertidur sebentar saja.

"Mas? Kamu sudah landing, kok tidak langsung hubungi aku?" cecar perempuan di seberang sana membuat Angkasa sedikit jengah.

"Aku ada rencana hubungi kamu kalau sudah sampai rumah."

"Kamu sekarang sudah sampai mana?"

"Masih di jalan. Nanti aku hubungi kamu lagi ya." Pemutusan sepihak oleh Angkasa membuatnya menghela napas kasar.

Pak Iwan yang mendengarkan atasannya sedikit mengumpat tak berani bersuara, kalau berhubungan dengan wanita memang susah. Apalagi kekasih Angkasa, ia tahu wanita itu. Wanita yang pernah datang ke kantor membawakan makan siang untuk atasannya. Tak sering memang, namun bisa membuat gosip bagi banyak karyawan.

"Pak Iwan, kita lebih baik singgah dulu saja, ya." Sambil menaruh kasar ponsel di pahanya.

"Siap laksanakan, Pak." Mobilnya yang sudah keluar dari jalan tol mencari kafe atau restoran terdekat untuk mendinginkan kepala sang atasan.

**

"Pak, bagaimana keadaan istri dan anak-anak?" Sambil menghisap rokoknya, Angkasa menatap pria yang duduk di hadapannya sedang menyeruput kopi.

"Mereka alhamdulillah baik, yang kecil tahun ini sudah kelas lima sekolah dasar," jawab Pak Iwan.

Angkasa hanya mengangguk-angguk.

Banyak sedikit Pak Iwan bercerita tentang kehidupan keluarganya, yang dulunya ia sopir salah satu perusahaan terbesar di Jakarta tapi tidak mendapat hak yang memuaskan dan akhirnya pemutusan sepihak. Menjalani hidup menjadi sopir ojek online dengan bermodal motor yang mendapatkan penghasilan tak menentu membuat Pak Iwan mencoba melamar pada perusahaan Venus Foods dan alhasil kesabaran Pak Iwan membuahkan hasil.

"Bapak sudah tahu belum kalau perusahaan ada beasiswa untuk anak pegawai yang mendapat peringkat satu sampai tiga?" tanya Angkasa.

"Saya belum tahu, Pak."

"Coba ajukan saja Pak, nanti saya bantu untuk teruskan ke bagian kepegawaian. Sayang kalau anak Pak Iwan dapat peringkat tapi dibiarkan begitu saja." Pengajuan yang Angkasa berikan membuat Pak Iwan bersyukur, selama satu tahun ia bekerja ia baru tahu jika ada sistem itu di perusahaan.

Ponselnya kembali bergetar, tanpa berlama-lama ia segera mengangkatnya. "Assalamualaikum. Iya, Ma?"

"Kasa bentar lagi sampai rumah kok." Isapan terakhir pada rokoknya dan mematikannya di asbak yang tersedia.

"Katakan sama Dellandra besok saja kalau ingin bertemu, Kasa lelah."

"Waalaikumsalam." Tangannya mengusap kasar wajahnya.

"Mau jalan sekarang, Pak?" ajak Pak Iwan setelah mendengar percakapan Angkasa.

**

"Oh iya Pak Iwan ini ada oleh-oleh untuk anak Bapak." Angkasa memberikan paper bag berwarna kuning.

"Apakah tidak merepotkan, Pak?" Pak Iwan menunduk hormat. Tpi atasannya hanya menggeleng dan kembali menyodorkan bungkusan itu. Akhirnya ia mengambil dan pamit pulang.

"Kak Kasa!" teriak perempuan yang sudah melihat Angkasa masuk sambil membawa barang bawaan. Angkasa yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas.

"Mana oleh-olehnya?" tanya Antariksa, Riksa adalah adik perempuan Angkasa.

Angkasa yang mendengar tuntutan Riksa hanya mendorong dahi perempuan itu. "Kamu menghampiri Kakak hanya ingin ini?"

"Kak, ini keju yang lagi viral itu ‘kan?" Tangan Riksa membuka paper bag berwarna kuning dan membuka isinya.

"Iya, kakak memang sengaja beli untuk bahan rapat kantor. kalau kamu mau, ambil saja tapi jangan semua." Angkasa mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu membiarkan Riksa membuka semua barang bawaan dirinya.

"Mama mana?" tanya Angkasa saat melihat situasi rumah yang sepi.

"Di belakang sama Mbak Della."

Kening Angkasa berkerut, ternyata perempuan itu tak pernah main-main dengan perkataannya. Della tadi memberitahunya akan datang ke rumah saat dirinya sudah pulang dari tugas.

"Della sudah dari tadi di sini?" tanya Angkasa mencoba menginterogasi adiknya.

"Kira-kira dua jam yang lalu," jawab Riksa sambil memakan keripik buah.

Dua jam yang lalu? Berarti saat wanita itu meneleponnya dan langsung ke rumah. Luar biasa.

Angkasa menarik kopernya dan menuju kamarnya di lantai dua, ia akan membersihkan diri karena yang ia tahu dirinya untuk saat ini tidak akan pernah bisa beristirahat.

Menyegarkan tubuhnya di pancuran air dingin membuat otot-otot Angkasa yang tadinya kaku menjadi lemas. Sebenarnya tuntutan pekerjaan membuat dirinya tak bisa tidur dengan nyaman beberapa minggu dan puncaknya adalah hari ini. Tapi mengingat Dellandra yang sudah berada di rumahnya membuat ia harus melupakan lelahnya.

Pacar sekaligus tunangan karena perjodohan orang tua dari kedua belah pihak membuat Angkasa tidak bisa berkutik. Meski umurnya yang bisa dibilang muda untuk menjadi seorang manajer, tapi umur tiga puluh tahun sudah cukup matang untuk menjadi imam keluarga.

Ayah dan Ibunya sudah mewanti-wanti untuk Angkasa segera melamar, tapi berbagai alasan yang Angkasa berikan membuat kedua belah pihak tak bisa berbuat apa-apa. Angkasa belum siap, belum siap jika Dellandra yang menjadi istrinya.

"Mas Kasa, mama dan papa selalu mencari kamu loh. Katanya kamu jarang main ke rumah," ujar Della menatap pacarnya di balik kemudi. "Mereka juga mengajak kamu makan malam."

Angkasa mendengarkan saja tanpa merespons, jalanan yang lumayan padat mengingat ini adalah malam minggu membuat ia jengkel. Ia memang ingin cepat-cepat mengantar kekasihnya pulang, dengan begitu ia bisa dengan bebas mengurung diri di kamar tercinta.

Matanya menatap langit, beberapa jam yang lalu terjadi hujan tapi sekarang langit sudah terlihat cerah bahkan sorot jingga sudah makin terlihat.

"Mas ...," tepuk Della pada lengan Angkasa karena tak diberikan jawaban.

"Aku ‘kan tadi sudah katakan, kalau Mas lelah lebih baik tidak usah antar aku. Aku bisa pulang sendiri." Della merasa tak enak hati. Tapi seketika pipinya merona saat Angkasa membalasnya dengan senyum yang terlampau manis.

"Aku takut terjadi sesuatu sama kamu di jalan."

Mobilnya sudah sampai tepat di depan rumah Della, tapi ia tak berniat untuk singgah. "Aku langsung, ya, Dell. Salam untuk tante dan om. Maaf tidak bisa singgah." Meskipun begitu, ia tetap membukakan pintu serta sabuk pengaman untuk Della.

"Tidak apa, Mas. Nanti aku sampaikan ke mama. Kamu istirahat ya." Della mencium bibir Angkasa membuat pria itu tersenyum dan balas menciumnya singkat.

Dengan cepat ia pun melajukan kemudinya, akhirnya sudah selesai satu urusan.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi PELUKAN UNTUK LANIA

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Kamu Mungkin Juga Suka

Novel Rilis Terbaru

Sampul Novel Antara Aku, Kau dan Ibu Tiriku
9.6
Delapan tahun lalu, ibu tiriku menikah dengan ayah yang tampan namun tak bertanggung jawab. Ayah lebih sering menghilang daripada mengurus keluarga, membuatku hanya tinggal berdua dengan ibu tiriku yang kaya raya. Aku diperlakukan seperti anak sendiri, tapi kebiasaannya mengenakan pakaian seksi perlahan mengganggu pikiranku. Di saat yang sama, aku masih menyimpan perasaan untuk Rania, teman SMA yang ingin kudekati lagi. Namun, kehadiran ibu tiri yang terlalu perhatian itu membuat segalanya menjadi rumit. Antara cinta masa lalu dan godaan yang tak terduga, aku harus memilih jalan yang tepat sebelum semuanya berantakan.
Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly, siswi berprestasi, menyimpan rahasia medis yang memalukan. Ia mengidap galaktorea yang membuatnya memproduksi ASI tanpa pernah hamil. Saat rasa sakit akibat kondisi hormon ini tak lagi tertahankan di sekolah, ia terpaksa meminta tolong kepada gurunya di ruang guru. Kejadian tak terduga itu menjadi awal mula rahasia mereka. Hubungan guru dan murid ini pun perlahan berubah menjadi jalinan asmara rumit yang sangat berisiko bagi keduanya.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Divonis kanker rahim stadium lanjut membuat Fatma harus mengubur mimpinya memiliki keturunan. Demi membahagiakan Satria, ia bahkan rela memohon sambil menangis agar sang suami bersedia menikah lagi. Satria sempat menolak rencana itu karena tidak ingin melukai perasaannya. Namun, di balik pengorbanan tulus Fatma sebagai bukti cinta terakhirnya, sebuah kenyataan pahit justru terungkap. Fatma harus menerima fakta menyakitkan bahwa suaminya ternyata tidak pernah mencintainya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima tega menguji ketulusanku lewat obsesi kejam mereka pada Sandra. Puncaknya, demi menyelamatkan perempuan itu dalam sebuah kecelakaan, mereka membiarkan tanganku hancur hingga karier musikku hancur total. Reaksi diamku saat liontin peninggalan ibu dihancurkan Sandra membuat mereka heran. Namun di rumah sakit ini, cintaku telah mati. Aku sadar ini hanyalah sangkar penyiksaan. Kini, aku bersiap untuk pergi dan membalas semua kepedihan ini.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjadi istri kedua miliarder Raga Dirgantara demi membalas utang budi masa lalu. Kehidupan pernikahan ini terasa sangat pahit bagi Kayla, sebab ia hanya dimanfaatkan sebagai alat untuk memberikan keturunan bagi sang pengusaha sukses tersebut. Tanpa memiliki posisi nyata di mata suaminya, Kayla kini harus berjuang keras menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya sama sekali tidak dihargai dalam rumah tangga itu.
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.3
Sekembalinya dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular yang dipercaya bisa memberi keawetan muda jika disembah dengan darah menstruasi perawan. Aku dipaksa menyerahkan darahku dan rambutku dipotong untuk dililitkan di patung itu. Namun, aku menyembunyikan rahasia bahwa aku pernah menginap dengan pacarku saat kuliah. Dua bulan kemudian, konsekuensi mengerikan muncul ketika kulit ibu mulai ditumbuhi bercak biru bersisik dan dia mulai berganti kulit layaknya seekor ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED