Sebuah rumah mewah di kawasan crazy rich Surabaya. Bangunan megah bertingkat tiga megah di bangun dengan nuansa modern minimalis Di depan rumah sebuah taman dan juga air mancur berdiri megah; Lantai tiga ada teras luas dan kolam renang. Kemegahannya berbanding terbalik dengan para penghuni yang individualis dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Di ruang tengah, Indi tengah sibuk menatap layar ponsel. Ia sibuk dengan kegiatan berkirim pesan singkat dengan para sahabatnya, satu perkumpulan sosialita. Mereka banyak membahas masalah-masalah berita terkini dan juga sibuk mengulas aneka barang branded keluaran terbaru. Sementara Indi sibuk dengan ponsel ia birkan televisi menyala dan menyaksikan kegiatannya berkirim pesan.
Indi Denadra, wanita yang kini berusia 41 tahun itu memiliki paras cantik. Bahkan disaat usianya kini telah beranjak empat puluh tahun lebih, masih terlihat begitu cantik. Dengan mata bulat, kulit putih dan juga bibir peach. Tubuh khas standar Indonesia tinggi 160 centimeter dengan berat badan 53 kilogram.
Seorang anak laki-laki berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengenakan sweater oversize, dan jeans berjalan menuju ruang tengah. Ia sudah tahu kau sang ibu berada di sana.
"Mi?' sapa Kuki.
Kuntara Kinandra Adiraja, 19 tahun anak dari Jun, Kini tengah berada di semester empat di salah satu universitas swasta di Surabaya. Ia berjalan menghampiri sang mami yang kini sudah menoleh ke arah lorong menanti kedatangannya. Kuki melangkah dengan cepat, ia kemudian menghampiri sang ibu dan duduk di samping Indi.
"Gimana di kampus?" tanya Indi.
"Hmm, sama aja enggak ada yang spesial," jawab Kuki sambil mengganti chanel televisi. Setelah menemukan tontonan yang ia inginkan, anak itu bersandar pada kepala sofa.
Indi melirik ke arah televisi. "Kamu tuh udah gede, masih aja nonton spongebob."
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu membuat Kuki terkekeh. "Lucu tau Mi. Coba lah mami lihat ayo."
"Emoh*, mami kok malah kamu ajak nonton kaya gitu. Buat anak-anak."
(Enggak mau)
Kuki terkekeh sambil mengedarkan pandangan. "Papi mana Mi?" tanya anak itu.
"Biasa ke Bandung ada urusan kerjaan katanya," jawab Indi dengan senyum yang sedikit memudar,
Jelas Kuki bisa menangkap itu dengan jelas. "Hmm, baru ditinggal sebentar udah kangen ya?" tanya Kuki yang menduga kalau sang ibu kangen pada Jun.
Indi kembali kembangkan senyum. "Ya kangen lah, masa enggak kangen sama suami sendiri. Papimu lho itu."
'"Hehehe, iya memang. Aku ke kamar ya Mi." Kuki pamit ia kemudian mencium pipi Indie sebelum berjalan meninggalkan Indi.
Wanita itu segera hilang senyum. Ia kemudian mengirimkan pesan pada sang suami.
Indi:
Kamu pulang hari ini kan Mas?
Juniar:
Saya pulang besok malam, besok siang masih banyak urusan Mi.
Indi:
Oke, Aku besok mau ada kegiatan ke Pasuruan.
Juniar:
Kegiatan apa lagi?
Indi:
Mau ada bagi-bagi sedikit rejeki. Kamu enggak ada mau bantu? Itu yang bagi-bagi Jeng Pita lho. Suaminya sukses ada rejeki. Jadi dia bagi-bagi sedikit.
Juniar:
Kamu pake aja kartu kredit saya. Hati-hati besok.
Sementara itu saat ini Jun baru saja selesai mandi. Ia tadi keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan. Ya, setidaknya kepergiannya ke Bandung memang selalu untuk kegiatan bisnisnya.
Pria itu berjalan keluar dengan tubuh shirtless, hanya handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Pria itu kemudian berjalan keluar kamar, menuju ruang tengah. Di sana ada Reya yang tengah menonton televisi. Pria itu berjalan mendekati wanitanya kemudian duduk di samping Reya. Gadis itu tersenyum, melihat senyum Reya membuat Jun segera memberi kecupan.
"Tadi lancar Om kerjaannya?" tanya Reya.
Jun kini bersandar pada bahu Reya, mengangguk, lalu menggenggam tangan wanitanya dan kecupi beberapa kali. "Lancar sayang."
"Om capek? Mau kopi? Atau mau apa biar aku bikinin?" Reya bertanya sambil mengusap rambut basah kekasihnya. "Rambutnya basah Om," ucap Reya kemudian berdiri, tapi Jun menahan langkah Reya dengan memegangi tangan gadisnya.
"Mau ke mana kamu?" tanyanya.
"Ambil handuk, buat keringin kepala Om. Nanti pusing lho."
Jun menarik tangan Reya dan meminta untuk duduk kembali. Jun kemudian bersandar lagi pada bahu Reya. "Nonton aja drama kamu. Ini cuma perkara rambut basah."
Reya menatap Jun. "Nanti pusing gimana?" tanya gadis itu lagi.
Jun gemas sendiri, ia kemudian mengarahkan kepala Reya untuk menonton televisi dan tak memikirkannya. Bagaimana Jun tak jatuh cinta? Ketika ia seorang yang dominan bertemu dengan si penurut seperti Reya? Perhatian ... Hal utama yang membuat ia betah berlama-lama. Meski ia berusia nyaris setengah abad ia tetap butuh dimanja. Hubungannya dulu dan Indi berdasarkan perjodohan.
Jun menatap Reya yang masih sibuk dengan televisi, menyaksikan drama. Sesekali tertawa dan itu lucu menurutnya. Ini memang terkesan seperti romansa masa muda yang manis dan Juniar baru mengalami hal ini. Sejak muda dulu hidupnya sudah diatur dan dulu ia menurut saja.
Kini pria itu merasa tergoda. Wajahnya mendekati leher jenjang gadisnya, ia bisa cium aroma white musk seperti bayi manis, lalu membiarkan tepian hidungnya menyentuh belakang telinga hingga leher wanitanya.Jun mengusap-usap hidungnya dengan manja. Ia suka aroma tubuh Reya dan itu jadi salah satu kebutuhannya. Tubuh gadis itu menegang saat Jun melakukan gerakan itu.
"Om," lirihnya minta Jun hentikan itu.
"Hmm?"
"Katanya aku suruh nonton tv?"
Jun anggukan kepala, masih berada di belakang telinga. "Tadinya gitu," sahutnya.
Tangan pria itu masuk ke dalam dan mengusap perlahan bahkan tak menyentuh, stimulus mengambang yang buat Reya merintih ingin lebih.
"Om, emang enggak capek?" tanya Reya.
Jun menjauh, menatap Reya. "Kamu capek?" tanyanya.
Reya anggukan kepala. Ia mengusap wajah Jun dan mengecup bibir kekasihnya itu. "Sedikit."
Jun mengerti meski hasratnya sudah di ujung kepala. Ia tak ingin Reya kelelahan. Ya, memang begitu Juniar begitu menyayangi Reya. Bukan hanya menjadikan gadis itu sebagai pemuas nafsu atau wanita yang menemaninya di saat ia butuhkan. Pria itu benar-benar jatuh cinta. Jika banyak orang yang mengatakan perihal puber kedua. Mungkin itu yang tengah dialami Jun saat ini.
"Maaf Om," ucap Reya merasa bersalah.
"Enggak apa-apa sayang. Saya juga enggak mau kamu kecapekan," ujar Jun.
Kini Reya yang memeluk Jun dan merebahkan kepalanya ke dalam dada bidang pria itu. Jun memainkan rambut Reya aroma strawberry tercium. Meski sudah dewasa gadis itu masih menggunakan sampo anak-anak. Jun mengendus kepala wanitanya dan kecupi bibir setiap Reya menoleh menatapnya.
Malam ini merek habiskan bersama, mengobrol adalah salah satu kegiatan favorit keduanya. Malam terasa singkat setiap kali mereka saling tukar kata untuk bisa merasakan keseharian satu sama lain. Jun butuh didengar dan Reya melakukan dengan baik.
Saat itu ponsel Reya berdering, Arka adiknya. Gadis itu segera menerima.
"Halo? Kenapa Ka?"
" ...."
"Ibu kenapa?" Reya terdengar panik.
"....'
"Iya-iya Mbak Reya balik ke Jakarta."
Reya mematikan panggilan, tubuhnya bergetar ia menangis. Jun memeluk Reya coba buat wanitanya lebih tenang.
"Jangan nangis, kita ke Jakarta oke?" Pria itu memenangkan.
***
Reya di dalam mobil menuju Jakarta bersama juniar. Sejak tadi pria itu terus menggenggam tangan kekasihnya, di kursi belakang. Jun sesekali menatap gadis yang ia cintai. Reya terlihat begitu cemas sambil terus berkomunikasi dengan sang adik. Ibu Reya, Ratna terjatuh di kamar mandi. Tentu saja itu sangat membuat gadis itu cemas. Apalagi adiknya mengatakan kalau sang ibu pingsan.
Pertemuan Reya dan Juniar terjadi empat tahun lalu. Saat Lili sahabat Reya yang tak lain keponakan Jun memperkenalkan mereka berdua. Reya dikenalkan dengan Juniar karena ia ingin menjual rumah petak sederhana milik mendiang ayahnya yang meninggalkan hutang ratusan juta rupiah setelah usahanya hancur.
Sejak itu kehidupan Reya sebagai ana pertama semakin keras. Ratna menderita penyakit komplikasi sirosis hati, diabetes dan juga darah tinggi di usianya yang kini beranjak 43 tahun.
Manis dan pekerja keras itu yang ada di pikiran Juniar saat itu. Ia sering menghabiskan waktu dengan melihat status WhatsApp rekan di kontak. Ya sedikit lucu jika dipikirkan, tapi dari sana ia mengamati Reya. Gadis pekerja keras yang menghabiskan waktu untuk merawat ibunya. Konyolnya, ia tertarik dengan status gadis itu karena status rekannya yang lain berisi tentang kemewahan dan juga kesuksesan.
Bahasa kasarnya Reya terlihat paling miskin dan tak berdaya diantara yang lain. Namun, itu buat Jun terpikat. Apalagi setiap kali gadis itu mengunggah foto dengan wajah aneh dan berbagi efek yang nyeleneh, Jun suka ia terhibur. Berawal dari pertemuan-pertemuan membahas pembayaran rumah, Jun jadi sering iseng mengomentari status gadis itu, menarik pikirnya. Anggap saja ini cara Tuhan mengatur pertemuan mereka.
"Jangan cemas," ucap Jun berusaha menenangkannya.
Reya menoleh, menatap pada Jun jelas ia tak bisa tenang. Kemudian menatap ke luar jendela.
"Kalau ada apa-apa sama ibu, kamu hubungi saya ya?" Jun meminta agar ia juga tak terlalu cemas.
Reya kini menoleh menatap pada kekasihnya lagi dan menganggukan kepala. Jun menepuk dadanya pelan, meminta agar Reya menyandarkan dirinya disana. Gadis itu bersandar, Jun segera meletakan tangannya di kepala Reya, memijat pelan agar gadis yang ia sayangi bisa merasa lebih tenang.
"Aku takut banget ada apa-apa sama ibu Om."
"Mudah-mudahan enggak ada apa-apa. Kamu doain dong. Jangan cemas, pikirin yang positif," kata Jun lagi.
"Iya, semoga ibu baik-baik aja." Reya berkata coba membuat perasaannya sendiri lebih tenang.
"Istirahat, masih ada satu jam lagi sampai ke Jakarta. Kamu cemas terus malah makin pusing nanti. Kamu butuh tenaga untuk jagain ibu, hmm?" pinta Jun. Ia tau Reya cukup lelah hari ini karena harus mengurus dirinya di dapur dan juga ranjang.
"Nanti kalau sampai langsung bangunin aku ya Om?"
"Iyaa sayang," sahut Jun kemudian memegang wajah Reya dan menyandarkan ke pundaknya.
Reya anggukan kepala, kemudian memejamkan mata, merasa lelah dan perasaannya kacau sekali. Sementara Jun kecup pucuk kepala dan mengusap-usap kening Reya. Ia juga tak tega dengan keadaan Reya saat ini. Pria itu mengambil ponselnya kemudian sibuk dengan jemari tangannya yang bergerak di layar ponsel, mengecek pesan dari sang putra.
Kuki:
Papi udah makan? Gimana kerjaan di sana?
Jun:
Belum, papi makan nanti setelah beberapa urusan benar-benar kelar. Makan sana kamu.
Kuki:
Ati-ati kena asam lambung Pi. Aku udah makan di kampus.
Jun:
Yaudah kalau gitu papi mau rehat sebentar.
Sementara di rumah sakit saat ini, Arka tengah duduk menunggu sang ibu yang sudah sadar. Arka tengah memegangi botol minum sang ibu yang kini meneguk air mineral dari sedotan.
"Mbak-mu benar pulang Ka?" tanya Ratih.
Arka anggukan kepala. "Udah di jalan diantar temannya tadi katanya."
"Aduh, gimana acaranya Mbak Reya? Acaranya baru besok lho. Gimana dia? bolak-balik kesian nanti." Ratih cemas merasa mengganggu kegiatan workshop putrinya.
"Ya, ibu 'kan sakit. Batal paling," sahut Arka enteng. Menurutnya kesehatan sang ibu lebih penting.
Ratih mencubit tangan Arka kesal dengan . "Mbak dapat uang dari sana ngisi materi. Ibu enggak bisa kasih apa-apa ibu cuma mau dia bisa senengin hidupnya."
"Ibu jangan mikir aneh-aneh lah. Fokus sehat aja, oke?"
Arka ingin sang ibu tak terlalu memikirkan masalah lain dan fokus dengan kegiatannya. Ia tau pemberitahuan mengenai kecelakaan yang dialami sang ibu pasti akan membuat Reya cemas. Tapi, akan lebih cemas jika ia terlambat memberitahu, itu yang ada dalam pikiran Arka,
Pintu ruangan terbuka, terlihat Reya yang berjalan masuk dengan tergesa. Ia terlihat sedikit lega melihat sang ibu yang menatapnya dengan senyum. Gadis itu berjalan mendekat lalu mencium tangan dan wajah Ratih, lalu memeluk sang ibu. Sementara Arka segera bangkit dan mengambilkan Reya kursi.
"Ah, syukur ibu udah sadar." Reya lega karena sang ibu sudah sadarkan diri. Sepanjang jalan tadi terus menangis karena cemas.
"Ibu jadi ngerepotin ya?" tanya Ratih tak enak.
Reya menggelengkan kepalanya. Tentu saja ini tak akan menjadi beban untuknya. "Enggak lah Bu. Ibu jangan ngomong aneh gitu ah."
"Acara kamu gimana?"
"Ibu tenang aja. Aku udah bilang diundur dan mereka ngerti pasti," jawab Reya, bohong. Itu yang sudah menjadi keahliannya sejak menjalin hubungan dengan Jun.
"Syukur kalau begitu."
Reya kemudian menatap Arka, penasaran dengan apa yang terjadi. "Kenapa ibu bisa jatuh?"
"Itu-" ucapan wanita itu terpotong.
Reya menatap sang ibu. "Reya tanya Arka, Bu."
"Aku lagi ke warung. Pas balik ibu udah jatuh dan pingsan di depan kamar mandi."
Reya kemudian menatap sang ibu. "Ibu mau ngosek kamar mandi ya?" tanya Reya ia tau kebiasaan sang ibu yang tak bisa melihat kamar mandi licin dan berlumut sedikit saja. Tak ada jawaban dari Ratna ia hanya terdiam. Ya, berarti apa yang ditanyakan Reya adalah benar.
"Bu, kan Reya udah bilang .., Jangan kosek kamar mandi. Tunggu aku pulang. Terus kata dokter apa?"
"Katanya tulang panggul ibu retak. Tapi enggak perlu operasi dan hanya butuh istirahat dan pakai sanggahan punggung." Arka menjelaskan.
"Tuh denger, kamu enggak perlu cemas Rey." Ratih katakan itu karena tak ingin si sulung terus merasa cemas.
Dalam hati Reya merasa lega karena keadaan sang ibu yang tak terlalu parah. Namun tetap saja ia tak ingin Ratna keras kepala dan melakukan banyak kegiatan sementara dokter meminta Ratna untuk beristirahat.
Reya teringat sesuatu ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Aku ke luar sebentar ya?"
"Mau ke mana Mbak?" tanya Arka.
"Mau beli sesuatu dulu. Tunggu sini aja temenin ibu." Reya kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar rawat.
***