Bab 1

Seorang gadis bertubuh gemuk terbangun seraya menutupi tubuhnya dengan selimut. Itu adalah Reya Yasmitha, 22 tahun pemilik tubuh gempal dan tinggi seberapa. Bukan tipe ideal untuk seorang pelakor. Jika kalian membaca pelakor, itu benar. Dua tahun belakangan ia sibuk menjadi simpanan Juniar Adi Pranaja, pria berusia 42 tahun yang mungkin lebih pantas dikatakan ayahnya sendiri.

Juniar seorang pengusaha sukses, Adidaya Raja Tekstil adalah perusahaan turun menurun milik keluarganya yang kini menjadi tanggung jawabnya. Jangan tanya tentang kekayaan, ia juga memiliki banyak usaha lainnya termasuk kerjasama dibidang resor juga dunia hiburan.

Reya membuka matanya menatap pria di sampingnya yang kini terpejam. Om Jun, begitu Reya memanggil kekasihnya, ungkapan sayang dari gadis itu. Katakan saja Reya gila, tapi Jun punya sejuta pesona yang ia punya selain uang yang memang jangan ditanya jumlahnya berapa. Tatapannya mengintimidasi, rahang tegas, tubuh yang paripurna, terlebih perhatiannya. Boleh dikatakan kalau Jun punya pesonanya sendiri, lesung pipi saat tersenyum punya magnet luar biasa. Oke baiklah, tampan itu relatif. Namun, Jun memang sesempurna itu di mata Reya. Kini segalanya tentang Jun itu luar biasa.

Gadis bertubuh tambun itu baru saja akan bangkit dari rebah setelah lelahnya pergumulan yang ia lakukan. Tangan Jun menahan meski matanya terpejam.

"Istirahat dulu," kata Jun.

"Katanya, Om mau aku masakin makan siang?" tanya Reya. Saat datang tadi, Jun mengatakan ia ingin makan siang. Menyantap masakan yang dimasak langsung oleh Reya.

Jun membuka mata, tersenyum kemudian. "Saya mau makan nanti. Mana tega saya biarin kamu capek-capek masak setelah saya buat kamu capek. Hmm? Istirahat dulu ya, sayang."

Reya mengambil selimut dan melilitkan ke tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi. "Om tidur aja, aku tetap mau masak."

Jun hela napas. Memang susah bicara dengan si keras kepala satu ini, batinnya. "Ya udah terserah kamu." Ia kemudian kembali merebahkan tubuh dan memejamkan mata.

Reya memakai pakaian dan kini berjalan ke dapur di apartemen mereka. Jun suka masakan rumahan sederhana. Dulu mendiang ibunya suka membuatkan masakan rumahan. Ketika ia mencicipi masakan Reya ia ingat masakan sang ibu. Bukan berarti ia tak menyantap masakan rumahan di rumah utamanya. Hanya saja, ia merasa rasanya berbeda ketika Reya yang membuat. Ya, bisa saja itu hanya rayuan gombal si Om, tapi sepertinya Reya jadi sedikit besar kepala dengan pujian Juniar.

Aroma masakan menyeruak, terutama saat kini Reya menumis sambal sebagai langkah akhir dari kegiatannya memuaskan kekasihnya. Dari dalam kamar terdengar suara bersin yang buat gadis itu terkekeh geli.

Tak lama Jun berjalan ke luar dari kamar lalu menghampiri Reya. Berdiri tepat di samping gadis itu, lalu menyibak poni Reya menunjukkan kening lebar kekasihnya dan segera ia kecup. Sementara Reya dengan segera menutup kembali poni yang menutupi aibnya.

Reya tak suka poninya disibak menunjukkan kening lebarnya dan itu buat ia membecik, menggemaskan. "Om ih, kebiasaan."

"Kenapa sih? Selalu bermasalah sama jidat? Jenong gitu, saya kan tetap sayang sama kamu," kekeh Jun sambil mencubit bibir Reya.

"Enggak jenong ya Om. Cuma lebar."

"Lalu apa bedanya?"

"Jenong itu menonjol ke depan. Jidat aku enggak," protes Reya dengan tatapan kesal hingga buat keningnya bertaut.

Juna tertawa geli sendiri melihat kelakuan Reya. Reya menggerakkan matanya seolah meminta pria itu duduk di meja makan. Jun menurut dan ia kini berjalan, lalu duduk di kursi menunggu Reya menyajikan makan siang.

Reya segera membawa sajian terakhir menuju meja makan. tadi ia sudah selesai membuat sup ayam, pergedel, dan telur dadar. Tak membuat masakan yang sulit karena ia tak sempat berbelanja. Lalu dengan telaten, ia menyajikan ke atas piring. Sudah hapal betul porsi maan kekasihnya.

"Ini," katanya kemudian meletakkan piring ke hadapan Jun. "Ah, lupa minum. Tunggu sebentar Om."

"Biar saya yang ambil," kata pria itu, kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil air putih dalam botol dan juga gelas yang sudah disiapkan Reya kemudian dengan segera berjalan kembali ke meja makan.

"Terima kasih Om sayang," ucap Reya.

Jun mengacak rambut Reya kemudian kembali duduk. Ia kemudian menyantap makan siang yang tersaji.

"Ibu Indi sehat kan?"

Jun menatap, tak suka. "Saya lagi makan lho ini."

"Om aku kan cuma tanya," rengek Reya.

"Baik," jawab Jun kemudian.

Reya melanjutkan kegiatan makan mereka meski ia ingin bertanya lebih lanjut. "Om enggak ada masalah kan?"

Jun gelengkan kepalanya. "Enggak, memang kenapa kamu mikir gitu?"

Reya menatap pada pria di hadapannya, mencoba cari jawaban dari tatapan Jun. "Soalnya waktu datang tadi muka Om kusut banget."

Jun tersenyum di sudut bibirnya. Reya memang pandai membaca situasi dan apa yang terjadi dalam dirinya. "Ada sedikit masalah di kantor, tapi bukan masalah besar. Jangan khawatir," jawabnya sambil mengusap bahu Reya.

"Syukurlah." Reya menyahut kemudian terdiam. "Om," sapanya.

"Hmm?" tanya Jun seraya mengusap bibirnya dengan tisu setelah selesai makan,

"Aku .., Aku kayaknya mau cari kerja." Reya katakan itu takut-takut.

Jun terhenti, meletakan tangannya ke atas meja sebagai penopang wajahnya, kemudian menatap Reya dengan tatapan kesal. "Uang dari saya enggak cukup buat kamu?"

Reya menggelengkan kepala. "Kadang ibu tanya kenapa aku sering ke Bandung. yang ibu tau kan aku kasih workshop kepenulisan. Ya, kadang ibu tanya mana foto-fotonya. Aku enggak pernah kasih karena memang enggak ada kegiatan itu."

"Kalau kamu kerja malah kamu enggak ada waktu ketemu saya. Gitu mau kamu?"

"Enggak gitu Om."

"Gini aja, kamu bilang kerja di mana gitu. Saya sewakan apartemen di Jakarta. Kamu bisa di sana, pura-pura kerja, Kalau saya ke Jakarta juga kita bisa bertemu di sana."

Reya menatap Jun, ia ingat dulu Jun yang meminta untuk tak saling bertemu di Jakarta karena takut jika tanpa sengaja bertemu dengan orang yang mungkin mereka kenal.

"Sesekali, kita ketemu," kata Jun lagi. "lagian kalau kamu kerja, siapa yang jagain ibu kamu? Arka? Kamu bilang adik kamu enggak bisa jagain ibu."

"Iya sih, cuma kemarin ada teman yang ngajakin aku kerja." Reya masih kekeh dengan keinginannya.

Jun hela napas, ia tak ingin terlalu kesal pada wanitanya. "Siapa? Kamu niat kerja gini emang mau cari apa?"

"Cari uang sih Om. Aku kan enggak mungkin nyusahin Om terus."

"Siapa bilang kamu nyusahin saya? Saya kirim bulanan itu kurang buat kamu? sama biaya berobat ibu ity kurang? Saya tambah kalau memang kurang. Enggak usah macem-macem lah. Saat saya butuh nanti kamu harus ada. Kalau kamu kerja, nanti kamu alasan a,b,c lah. Saya enggak kasih ijin." Jun katakan itu tegas.

Lagi Reya selalu kalah jika meminta ijin untuk bekerja. Ya, meskipun salah satu tujuan berkencan dengan Om Jun adalah utuk membantu finansialnya, tapi entah mengapa setelah ia memiliki rasa pada Juniar. Reya malah merasa tak enak hati dan merasa selalu merepotkan.

****

Bab 2

Sebuah rumah mewah di kawasan crazy rich Surabaya. Bangunan megah bertingkat tiga megah di bangun dengan nuansa modern minimalis Di depan rumah sebuah taman dan juga air mancur berdiri megah; Lantai tiga ada teras luas dan kolam renang. Kemegahannya berbanding terbalik dengan para penghuni yang individualis dan sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Di ruang tengah, Indi tengah sibuk menatap layar ponsel. Ia sibuk dengan kegiatan berkirim pesan singkat dengan para sahabatnya, satu perkumpulan sosialita. Mereka banyak membahas masalah-masalah berita terkini dan juga sibuk mengulas aneka barang branded keluaran terbaru. Sementara Indi sibuk dengan ponsel ia birkan televisi menyala dan menyaksikan kegiatannya berkirim pesan.

Indi Denadra, wanita yang kini berusia 41 tahun itu memiliki paras cantik. Bahkan disaat usianya kini telah beranjak empat puluh tahun lebih, masih terlihat begitu cantik. Dengan mata bulat, kulit putih dan juga bibir peach. Tubuh khas standar Indonesia tinggi 160 centimeter dengan berat badan 53 kilogram.

Seorang anak laki-laki berjalan masuk ke dalam rumah dengan mengenakan sweater oversize, dan jeans berjalan menuju ruang tengah. Ia sudah tahu kau sang ibu berada di sana.

"Mi?' sapa Kuki.

Kuntara Kinandra Adiraja, 19 tahun anak dari Jun, Kini tengah berada di semester empat di salah satu universitas swasta di Surabaya. Ia berjalan menghampiri sang mami yang kini sudah menoleh ke arah lorong menanti kedatangannya. Kuki melangkah dengan cepat, ia kemudian menghampiri sang ibu dan duduk di samping Indi.

"Gimana di kampus?" tanya Indi.

"Hmm, sama aja enggak ada yang spesial," jawab Kuki sambil mengganti chanel televisi. Setelah menemukan tontonan yang ia inginkan, anak itu bersandar pada kepala sofa.

Indi melirik ke arah televisi. "Kamu tuh udah gede, masih aja nonton spongebob."

Mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu membuat Kuki terkekeh. "Lucu tau Mi. Coba lah mami lihat ayo."

"Emoh*, mami kok malah kamu ajak nonton kaya gitu. Buat anak-anak."

(Enggak mau)

Kuki terkekeh sambil mengedarkan pandangan. "Papi mana Mi?" tanya anak itu.

"Biasa ke Bandung ada urusan kerjaan katanya," jawab Indi dengan senyum yang sedikit memudar,

Jelas Kuki bisa menangkap itu dengan jelas. "Hmm, baru ditinggal sebentar udah kangen ya?" tanya Kuki yang menduga kalau sang ibu kangen pada Jun.

Indi kembali kembangkan senyum. "Ya kangen lah, masa enggak kangen sama suami sendiri. Papimu lho itu."

'"Hehehe, iya memang. Aku ke kamar ya Mi." Kuki pamit ia kemudian mencium pipi Indie sebelum berjalan meninggalkan Indi.

Wanita itu segera hilang senyum. Ia kemudian mengirimkan pesan pada sang suami.

Indi:

Kamu pulang hari ini kan Mas?

Juniar:

Saya pulang besok malam, besok siang masih banyak urusan Mi.

Indi:

Oke, Aku besok mau ada kegiatan ke Pasuruan.

Juniar:

Kegiatan apa lagi?

Indi:

Mau ada bagi-bagi sedikit rejeki. Kamu enggak ada mau bantu? Itu yang bagi-bagi Jeng Pita lho. Suaminya sukses ada rejeki. Jadi dia bagi-bagi sedikit.

Juniar:

Kamu pake aja kartu kredit saya. Hati-hati besok.

Sementara itu saat ini Jun baru saja selesai mandi. Ia tadi keluar untuk menyelesaikan beberapa urusan. Ya, setidaknya kepergiannya ke Bandung memang selalu untuk kegiatan bisnisnya.

Pria itu berjalan keluar dengan tubuh shirtless, hanya handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Pria itu kemudian berjalan keluar kamar, menuju ruang tengah. Di sana ada Reya yang tengah menonton televisi. Pria itu berjalan mendekati wanitanya kemudian duduk di samping Reya. Gadis itu tersenyum, melihat senyum Reya membuat Jun segera memberi kecupan.

"Tadi lancar Om kerjaannya?" tanya Reya.

Jun kini bersandar pada bahu Reya, mengangguk, lalu menggenggam tangan wanitanya dan kecupi beberapa kali. "Lancar sayang."

"Om capek? Mau kopi? Atau mau apa biar aku bikinin?" Reya bertanya sambil mengusap rambut basah kekasihnya. "Rambutnya basah Om," ucap Reya kemudian berdiri, tapi Jun menahan langkah Reya dengan memegangi tangan gadisnya.

"Mau ke mana kamu?" tanyanya.

"Ambil handuk, buat keringin kepala Om. Nanti pusing lho."

Jun menarik tangan Reya dan meminta untuk duduk kembali. Jun kemudian bersandar lagi pada bahu Reya. "Nonton aja drama kamu. Ini cuma perkara rambut basah."

Reya menatap Jun. "Nanti pusing gimana?" tanya gadis itu lagi.

Jun gemas sendiri, ia kemudian mengarahkan kepala Reya untuk menonton televisi dan tak memikirkannya. Bagaimana Jun tak jatuh cinta? Ketika ia seorang yang dominan bertemu dengan si penurut seperti Reya? Perhatian ... Hal utama yang membuat ia betah berlama-lama. Meski ia berusia nyaris setengah abad ia tetap butuh dimanja. Hubungannya dulu dan Indi berdasarkan perjodohan.

Jun menatap Reya yang masih sibuk dengan televisi, menyaksikan drama. Sesekali tertawa dan itu lucu menurutnya. Ini memang terkesan seperti romansa masa muda yang manis dan Juniar baru mengalami hal ini. Sejak muda dulu hidupnya sudah diatur dan dulu ia menurut saja.

Kini pria itu merasa tergoda. Wajahnya mendekati leher jenjang gadisnya, ia bisa cium aroma white musk seperti bayi manis, lalu membiarkan tepian hidungnya menyentuh belakang telinga hingga leher wanitanya.Jun mengusap-usap hidungnya dengan manja. Ia suka aroma tubuh Reya dan itu jadi salah satu kebutuhannya. Tubuh gadis itu menegang saat Jun melakukan gerakan itu.

"Om," lirihnya minta Jun hentikan itu.

"Hmm?"

"Katanya aku suruh nonton tv?"

Jun anggukan kepala, masih berada di belakang telinga. "Tadinya gitu," sahutnya.

Tangan pria itu masuk ke dalam dan mengusap perlahan bahkan tak menyentuh, stimulus mengambang yang buat Reya merintih ingin lebih.

"Om, emang enggak capek?" tanya Reya.

Jun menjauh, menatap Reya. "Kamu capek?" tanyanya.

Reya anggukan kepala. Ia mengusap wajah Jun dan mengecup bibir kekasihnya itu. "Sedikit."

Jun mengerti meski hasratnya sudah di ujung kepala. Ia tak ingin Reya kelelahan. Ya, memang begitu Juniar begitu menyayangi Reya. Bukan hanya menjadikan gadis itu sebagai pemuas nafsu atau wanita yang menemaninya di saat ia butuhkan. Pria itu benar-benar jatuh cinta. Jika banyak orang yang mengatakan perihal puber kedua. Mungkin itu yang tengah dialami Jun saat ini.

"Maaf Om," ucap Reya merasa bersalah.

"Enggak apa-apa sayang. Saya juga enggak mau kamu kecapekan," ujar Jun.

Kini Reya yang memeluk Jun dan merebahkan kepalanya ke dalam dada bidang pria itu. Jun memainkan rambut Reya aroma strawberry tercium. Meski sudah dewasa gadis itu masih menggunakan sampo anak-anak. Jun mengendus kepala wanitanya dan kecupi bibir setiap Reya menoleh menatapnya.

Malam ini merek habiskan bersama, mengobrol adalah salah satu kegiatan favorit keduanya. Malam terasa singkat setiap kali mereka saling tukar kata untuk bisa merasakan keseharian satu sama lain. Jun butuh didengar dan Reya melakukan dengan baik.

Saat itu ponsel Reya berdering, Arka adiknya. Gadis itu segera menerima.

"Halo? Kenapa Ka?"

" ...."

"Ibu kenapa?" Reya terdengar panik.

"....'

"Iya-iya Mbak Reya balik ke Jakarta."

Reya mematikan panggilan, tubuhnya bergetar ia menangis. Jun memeluk Reya coba buat wanitanya lebih tenang.

"Jangan nangis, kita ke Jakarta oke?" Pria itu memenangkan.

***

Bab 3

Reya di dalam mobil menuju Jakarta bersama juniar. Sejak tadi pria itu terus menggenggam tangan kekasihnya, di kursi belakang. Jun sesekali menatap gadis yang ia cintai. Reya terlihat begitu cemas sambil terus berkomunikasi dengan sang adik. Ibu Reya, Ratna terjatuh di kamar mandi. Tentu saja itu sangat membuat gadis itu cemas. Apalagi adiknya mengatakan kalau sang ibu pingsan.

Pertemuan Reya dan Juniar terjadi empat tahun lalu. Saat Lili sahabat Reya yang tak lain keponakan Jun memperkenalkan mereka berdua. Reya dikenalkan dengan Juniar karena ia ingin menjual rumah petak sederhana milik mendiang ayahnya yang meninggalkan hutang ratusan juta rupiah setelah usahanya hancur.

Sejak itu kehidupan Reya sebagai ana pertama semakin keras. Ratna menderita penyakit komplikasi sirosis hati, diabetes dan juga darah tinggi di usianya yang kini beranjak 43 tahun.

Manis dan pekerja keras itu yang ada di pikiran Juniar saat itu. Ia sering menghabiskan waktu dengan melihat status WhatsApp rekan di kontak. Ya sedikit lucu jika dipikirkan, tapi dari sana ia mengamati Reya. Gadis pekerja keras yang menghabiskan waktu untuk merawat ibunya. Konyolnya, ia tertarik dengan status gadis itu karena status rekannya yang lain berisi tentang kemewahan dan juga kesuksesan.

Bahasa kasarnya Reya terlihat paling miskin dan tak berdaya diantara yang lain. Namun, itu buat Jun terpikat. Apalagi setiap kali gadis itu mengunggah foto dengan wajah aneh dan berbagi efek yang nyeleneh, Jun suka ia terhibur. Berawal dari pertemuan-pertemuan membahas pembayaran rumah, Jun jadi sering iseng mengomentari status gadis itu, menarik pikirnya. Anggap saja ini cara Tuhan mengatur pertemuan mereka.

"Jangan cemas," ucap Jun berusaha menenangkannya.

Reya menoleh, menatap pada Jun jelas ia tak bisa tenang. Kemudian menatap ke luar jendela.

"Kalau ada apa-apa sama ibu, kamu hubungi saya ya?" Jun meminta agar ia juga tak terlalu cemas.

Reya kini menoleh menatap pada kekasihnya lagi dan menganggukan kepala. Jun menepuk dadanya pelan, meminta agar Reya menyandarkan dirinya disana. Gadis itu bersandar, Jun segera meletakan tangannya di kepala Reya, memijat pelan agar gadis yang ia sayangi bisa merasa lebih tenang.

"Aku takut banget ada apa-apa sama ibu Om."

"Mudah-mudahan enggak ada apa-apa. Kamu doain dong. Jangan cemas, pikirin yang positif," kata Jun lagi.

"Iya, semoga ibu baik-baik aja." Reya berkata coba membuat perasaannya sendiri lebih tenang.

"Istirahat, masih ada satu jam lagi sampai ke Jakarta. Kamu cemas terus malah makin pusing nanti. Kamu butuh tenaga untuk jagain ibu, hmm?" pinta Jun. Ia tau Reya cukup lelah hari ini karena harus mengurus dirinya di dapur dan juga ranjang.

"Nanti kalau sampai langsung bangunin aku ya Om?"

"Iyaa sayang," sahut Jun kemudian memegang wajah Reya dan menyandarkan ke pundaknya.

Reya anggukan kepala, kemudian memejamkan mata, merasa lelah dan perasaannya kacau sekali. Sementara Jun kecup pucuk kepala dan mengusap-usap kening Reya. Ia juga tak tega dengan keadaan Reya saat ini. Pria itu mengambil ponselnya kemudian sibuk dengan jemari tangannya yang bergerak di layar ponsel, mengecek pesan dari sang putra.

Kuki:

Papi udah makan? Gimana kerjaan di sana?

Jun:

Belum, papi makan nanti setelah beberapa urusan benar-benar kelar. Makan sana kamu.

Kuki:

Ati-ati kena asam lambung Pi. Aku udah makan di kampus.

Jun:

Yaudah kalau gitu papi mau rehat sebentar.

Sementara di rumah sakit saat ini, Arka tengah duduk menunggu sang ibu yang sudah sadar. Arka tengah memegangi botol minum sang ibu yang kini meneguk air mineral dari sedotan.

"Mbak-mu benar pulang Ka?" tanya Ratih.

Arka anggukan kepala. "Udah di jalan diantar temannya tadi katanya."

"Aduh, gimana acaranya Mbak Reya? Acaranya baru besok lho. Gimana dia? bolak-balik kesian nanti." Ratih cemas merasa mengganggu kegiatan workshop putrinya.

"Ya, ibu 'kan sakit. Batal paling," sahut Arka enteng. Menurutnya kesehatan sang ibu lebih penting.

Ratih mencubit tangan Arka kesal dengan . "Mbak dapat uang dari sana ngisi materi. Ibu enggak bisa kasih apa-apa ibu cuma mau dia bisa senengin hidupnya."

"Ibu jangan mikir aneh-aneh lah. Fokus sehat aja, oke?"

Arka ingin sang ibu tak terlalu memikirkan masalah lain dan fokus dengan kegiatannya. Ia tau pemberitahuan mengenai kecelakaan yang dialami sang ibu pasti akan membuat Reya cemas. Tapi, akan lebih cemas jika ia terlambat memberitahu, itu yang ada dalam pikiran Arka,

Pintu ruangan terbuka, terlihat Reya yang berjalan masuk dengan tergesa. Ia terlihat sedikit lega melihat sang ibu yang menatapnya dengan senyum. Gadis itu berjalan mendekat lalu mencium tangan dan wajah Ratih, lalu memeluk sang ibu. Sementara Arka segera bangkit dan mengambilkan Reya kursi.

"Ah, syukur ibu udah sadar." Reya lega karena sang ibu sudah sadarkan diri. Sepanjang jalan tadi terus menangis karena cemas.

"Ibu jadi ngerepotin ya?" tanya Ratih tak enak.

Reya menggelengkan kepalanya. Tentu saja ini tak akan menjadi beban untuknya. "Enggak lah Bu. Ibu jangan ngomong aneh gitu ah."

"Acara kamu gimana?"

"Ibu tenang aja. Aku udah bilang diundur dan mereka ngerti pasti," jawab Reya, bohong. Itu yang sudah menjadi keahliannya sejak menjalin hubungan dengan Jun.

"Syukur kalau begitu."

Reya kemudian menatap Arka, penasaran dengan apa yang terjadi. "Kenapa ibu bisa jatuh?"

"Itu-" ucapan wanita itu terpotong.

Reya menatap sang ibu. "Reya tanya Arka, Bu."

"Aku lagi ke warung. Pas balik ibu udah jatuh dan pingsan di depan kamar mandi."

Reya kemudian menatap sang ibu. "Ibu mau ngosek kamar mandi ya?" tanya Reya ia tau kebiasaan sang ibu yang tak bisa melihat kamar mandi licin dan berlumut sedikit saja. Tak ada jawaban dari Ratna ia hanya terdiam. Ya, berarti apa yang ditanyakan Reya adalah benar.

"Bu, kan Reya udah bilang .., Jangan kosek kamar mandi. Tunggu aku pulang. Terus kata dokter apa?"

"Katanya tulang panggul ibu retak. Tapi enggak perlu operasi dan hanya butuh istirahat dan pakai sanggahan punggung." Arka menjelaskan.

"Tuh denger, kamu enggak perlu cemas Rey." Ratih katakan itu karena tak ingin si sulung terus merasa cemas.

Dalam hati Reya merasa lega karena keadaan sang ibu yang tak terlalu parah. Namun tetap saja ia tak ingin Ratna keras kepala dan melakukan banyak kegiatan sementara dokter meminta Ratna untuk beristirahat.

Reya teringat sesuatu ia kemudian beranjak dari tempat duduknya. "Aku ke luar sebentar ya?"

"Mau ke mana Mbak?" tanya Arka.

"Mau beli sesuatu dulu. Tunggu sini aja temenin ibu." Reya kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar rawat.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED