Bab 1

Cahaya mustika namaku. Usiaku kini 22 tahun. Gadis yatim piatu sejak berumur 12 tahun. Kedua orangtuaku tewas karena kecelakaan mobil saat akan mengunjungi nenek kami di Jepara. Bus yang kami tumpangi tertabrak truk kontainer yang membawa semen.

Hingga akhirnya aku diasuh oleh adik ayahku. Aku memanggilnya Lik Marwan.

Lik Marwan mempunyai 3 anak. Si sulung seumuran denganku, Hasan. Dia anak dari mendiang istri pertamanya. Sedang anak keduanya berumur 20 tahun. Namanya Ningrum, sedangkan anak ketiganya berumur 17 tahun bernama Naufal.

Aku dan Hasan seperti anak terbuang dalam lingkungan keluarga ini. Maklum karena saat ini kami tinggal bersama keluarga besar istri kedua Lik Marwan yaitu Mirna. Meski Eyang Sosro, Ibu dari Bapak dan Lik Marwan ikut tinggal bersama tapi beliau sama seperti kami hanya penumpang saja dan tak dihargai.

Untuk urusan sekolah saja, aku dan Hasan bisa sekolah dengan mengandalkan beasiswa. Untung otak kami agak encer. Tapi selalu, aku yang juara. Hasan selalu sebal dan tak mau mengakui kalau aku lebih unggul dari pada dia. Hahaha.

Kami sudah lulus S1, aku mengambil pendidikan Biologi sedangkan dia pendidikan Matematika. Kami sekolah di Universitas Negeri Surakarta (UNS) bermodal beasiswa bidik misi.

Jangan tanyakan Ningrum dan Naufal, secara tampak mata jelas mereka tak seperti kami. Mereka adalah dua anak manja penuh kasih sayang. Sekolah dan kuliah hanya untuk mencari ijazah.

"Orang itu harusnya punya rikuh pekewuh (malu), sudah tahu numpang tapi ngelunjak. Dasar. Sana cari kerja biar gak selalu nunut lilikmu," nyanyian merdu Lik Mirna mulai membahana seperti biasa.

"Hasan juga, gak bisa nyari duit sok-sokan mau kuliah lagi. Sok pinter dia."

Aku yang sedang mencucikan baju milik keluarga ini hanya diam tak mau menjawab. Pokoknya tutup mulut sama kuping.

******

"Caca," panggil seseorang saat aku tengah berbelanja ke pasar. Awan mengulas senyum lebar ke arahku. Aku tersenyum balik ke arahnya.

"Mau pulang?"

"Iya."

"Aku antar."

"Gak usah."

"Gak papa. Aku bawa motor kok."

"Aku naik angkot aja. Makasih."

Awan tidak peduli akan penolakanku, dia langsung membawa belanjaanku menuju motornya. Terpaksa aku ikut motornya. Aku yakin nanti pasti akan jadi masalah.

*****

"Eh Mas Awan," sapa Ningrum manja.

"Eh Ningrum, kamu gak kuliah sih?"

"Ini mau berangkat Mas."

"Oh."

"Anterin yuk Mas."

"Waduh maaf, nanti aku harus ke Kecamatan. Ada rapat sama Pak Camat."

"Au ah. Mas Awan nyebelin." Ningrum pergi dengan memasang muka kesal.

"Loh Nak Awan, kok kesini?" tanya Lik Mirna.

"Oh ini Bu, ngantar Caca. Kasihan bawa belanjaan banyak."

"Ckckck, Ca ... Ca ... Udah Lilik bilang supaya kamu bawa motor, tuh jadi ngerepotin Nak Awan kan?"

"Gak ngerepotin kok Bu, saya malah suka."

Aku memilih diam dan langsung membawa belanjaanku ke dalam rumah. Sengaja berlama-lama di dalam rumah hingga kudengar suara motor Awan.

"Kamu itu jadi orang sadar diri, ndeleng awakmu. Kamu itu sopo? Bukan siapa-siapa. Awan itu anak orang terpandang disini. Bapaknya mantan lurah, ibunya guru SD, kamu itu siapa?"

Aku hanya diam menunduk.

"Udah numpang, gak tahu diri ...." Lik Mirna masih ngomel-ngomel seperti biasa.

Andai aku mau, aku dan Hasan tak mungkin diam diperlakukan semena-mena olehnya. Selama ini kami diam karena menenggang perasaan Lik Marwan dan terutama Eyang Sosro.

Aku menuju kamar belakang, disana ditempat tidur yang mulai reot tergeletak Eyangku, usianya sudah 70 tahun. Sudah sangat sepuh. Hanya beliau yang masih hidup. Eyang kakung meninggal sejak Bapak dan Lik Marwan masih kecil-kecil.

Kupandangi wajah tuanya, kemudian mengelus pelan pipinya. Eyang terbangun dan tersenyum.

"Nduk ...."

"Dalem, Eyang."

"Sing sabar ya."

"Eyang mbe pengin balik Kebumen. Neng kene Eyang ora betah. Angger neng Kebumen ketemu dulur karo tangga perek mesti pada eman karo Eyang." (Eyang juga kepingin pulang ke Kebumen. Disini Eyang gak betah. Kalau di Kebumen bertemu saudara dan tetangga dekat mesti mereka sayang sama Eyang)

"Sing sabar nggih Yang, wonten kulo kalih Hasan." (Yang sabar ya Eyang, ada saya sama Hasan)

*****

"Gimana? ada perkembangan bagus gak untuk beasiswanya?"

"Hahaha. Kamu tahu gak, aku daftar di Malaysia. Kayaknya gak bakalan keterima lah wong saingannya jos-jos," jawab Hasan.

Kami sedang ngobrol didekat kandang ayam. Hanya ini tempat dimana tak ada yang bakalan mengomeli kami. Lah wong yang ada cuma ayam, paling berkokok ... Petok ... Petok ... Cukup dikasih makan anteng ayamnya.

"Kok Malaysia? Bukannya mau di UNS juga?"

"Aku mangkel sama Bapak. Waktu itu udah setuju aku ambil S2 tapi gara-gara Ibu Mirna ngomong, Bapak jadi ngelarang aku."

"Hahaha ... Terus kalau gak keterima kamu mau gimana?"

"Angon sapi."

Aku terkekeh mendengar celetuknya. Iya, Lik Mirna itu tidak suka kalau kami lebih sukses dari kedua anaknya. Makanya walau gelar kami sudah sarjana tapi sengaja aku dijadikan sebagai ART dan Hasan tukang angon sapi peliharaan keluarganya. Sedangkan kedua anaknya dilimpahi kasih sayang tak terkira. Masa bodoh besok mau jadi apa mereka nantinya. Jadi pengangguran gak masalah yang penting aku sama Hasan juga gak jadi orang.

*****

Aku habis menjemur pakaian. Tiba-tiba Lik Mirna memintaku mengirim SMS kepada kakaknya sesuai dengan catatan kecil yang sudah dia buat. Mau tak mau aku melakukan hal yang disuruhnya sambil duduk di kursi dekat pohon mangga.

Saat aku mulai mengetik, aku merasa aneh dengan tingkahnya pun Ningrum si gadis manja. Aku tak terlalu peduli dan mulai mengetik SMS.

"Eh Bu Laras, mau kemana Bu?"

"Eh Bu Mirna sama Ningrum juga. Duh Ningrum rajin ya, pagi-pagi udah sapu-sapu."

"Iyalah Bu, anak saya kan tak didik jadi calon istri yang baik gak kaya tuh yang cuma bisa numpang hidup saja."

Aku menoleh ke arah mereka. Ckckck ... Rupanya mereka lagi drama. Aku tak peduli mereka ngomong apa saja tentangku. Bahkan tanggapan Bu Laras pun tak akan kupedulikan karena bagiku mereka sama saja. Bu Laras walau katanya guru SD dan PNS tapi aku tak pernah menaruh hormat padanya. Sedikitpun. Catet itu.

Perilakunya tak mencerminkan pada titel dan status yang dimilikinya. Dia termasuk guru sombong dan arogan. Untung aku tidak sekolah di SD tempat beliau mengajar.

Husna sahabatku sekolah di SD tempat beliau mengajar. Saat itu ada iuran kurban hanya sebesar tiga puluh lima ribu rupiah. Dia yang anak kurang mampu membayar dengan uang receh logam dan dibungkus plastik bening. Dengan sombongnya beliau tak mau menerima uang tersebut. Beliau tak tahu bahwa uang recehan itu Husna kumpulkan dengan mengurangi jatah jajannya yang tak seberapa. Husna menangis tersedu bercerita padaku dan Hasan.

Hasan yang saat itu punya uang dua puluh ribu dan aku sepuluh ribu ditambah dalam plastik Husna ada uang lima ribu akhirnya digunakan untuk membayar iuran kurban.

Sejak saat itu aku tak menaruh respek pada keluarga mantan lurah itu. Walaupun orang bilang Awan itu tidak seperti kedua orang tuanya. Tapi aku tak peduli.

Aku tahu Awan menaruh hati padaku. Tapi aku tak pernah menanggapi. Karena selain aku tak suka padanya, aku tak mau mati muda dengan bermertuakan orang seperti Bu Laras. No. No. No. Walau aku yatim piatu tapi aku cukup tahu diri dan tahu seperti apa kriteria calon suamiku kelak. Dan sayangnya itu tak ada pada diri Awan.

Bab 2

"Ca ...."

"Hem," sahutku sambil menyetrika baju sedangkan Hasan tengah melipat baju yang tidak disetrika.

Inilah aku dan Hasan, yang satu mantan ketua BEM MIPA sedangkan yang satu aktivis Pramuka sejati. Tapi sekarang kami hanyalah babu cuci. Ngenes.

"Awan kayaknya beneran suka sama kamu. Dia sepertinya serius pengen ngelamar kamu. Kamu gimana?"

"Gimana apanya?"

"Terima apa enggak?"

"Menurut kamu, aku harus gimana?"

"Kamu suka gak?"

"Enggak."

"Cakep. Aku juga enggak."

"Kayaknya kalian akrab. Kok gak suka sama dia, kenapa?"

"Bukan aku yang mengakrabkan diri. Dia aja yang sok akrab. Cih ... Gayaknya sok politikus banget. Emangnya dia aja yang bisa orasi."

"Hahaha ... Kan dia gak tahu kalau yang dia ajak ngobrol mantan politikus walau kelas fakultas. Hahaha."

Satu lagi, tak ada seorangpun di desa kami bahkan keluarga besar Lik Mirna yang tahu bahwa kami adalah sarjana. Karena Lik Mirna sengaja menyembunyikannya.

Orang tahunya kami ini lama mondok dan pengangguran. Pokoknya kalau biasa nonton drama di TV, karakter Lik Mirna sama kedua anaknya tuh kebagian peran antagonis. Aku dan Hasan jadi protagonis.

"Hahaha. Bener kata kamu, kita kan cuma babu dan ...."

"Tukang angon sapi," cetusku.

Kami tertawa tergelak sedikit mengurangi penat hati.

*****

"Nak Awan tumben main kesini," tanya Lik Marwan saat Awan datang berkunjung pada malam Minggu.

"Saya ada perlu sama Pak Marwan."

"Ada apa ya?"

"Ehm ... Begini ... Ehm ... Saya suka sama Caca, Pak. Saya mau ngelamar dia."

"Apa?" teriak Ningrum dan Lik Mirna berbarengan.

"Iya begitu Bu. Saya suka sama Caca. Jadi saya mau melamar dia."

Lik Marwan nampak diam sibuk berpikir, kemudian berkata, "Kamu yakin? Apa kedua orang tuamu setuju?"

"Saya akan bilang pada mereka, Pak. Dan meyakinkan mereka. Tapi sebelumnya saya mau tahu bagaimana tanggapan Caca atas lamaran saya. Gimana Ca?"

Aku terdiam kemudian menarik nafas pelan, "Kamu tanyakan dulu kepada orang tuamu baru aku akan memberikan jawaban."

Setelah pembicaraan malam itu, Awan tak ada kabar. Aku sih cuek karena aku pun tak ada rasa sama dia. Aku cuma penasaran sama tanggapan kedua orangnya terhadapku si gadis yatim piatu.

Sikap Ningrum dan Lik Mirna mirip Bawang Merah serta ibunya. Aku laksana Bawang Putih yang menderita. Weee ... Tapi bohong. Walau aku selalu menuruti setiap perintah mereka tapi dibelakang mereka aku dan Hasan kompak mencaci. Hihihi.

*****

Aku sedang memijat Eyang Putri di teras belakang. Hari ini Eyang Putri nampak sehat, wajahnya cerah dan senyumnya nampak sumringah.

"Ca ... Caca ... Keluar kamu!" teriak seseorang membahana.

Aku meminta Eyang menunggu dulu, aku akan mencari tahu siapa yang berteriak mencariku. Sebelum aku masuk ke dalam rumah. Bu Laras datang dan langsung berkacak pinggang.

"Heh ... Kamu. Gadis yatim piatu tukang nunut dan gak punya urat malu. Kamu pikir Awan siapa? Dia itu kerja jadi kaur keuangan desa, lulusan S1. Kamu sih apa? Jauhi Awan! Awan itu pantesnya dapat sarjana dan anak orang kaya bukan orang kayak kamu. Pengangguran lagi. Sudah nunut, pemalas, inget ya, jauhi Awan!"

"Kamu sama Hasan bener-bener gak tahu malu. Pake pelet apa kalian hah? Kinan keponakanku saja sampe kesengsem, keblinger sama dia. Cuma tukang angon sapi. Cih ... Gak mutu. Awas kalian!" Bu Laras segera masuk kembali kedalam rumah. Walau aku tahu kalau reaksi keluarga Awan akan seperti ini. Tapi, tetap saja ada rasa sakit di dadaku. Mataku yang jarang menangis tampak berkaca-kaca. Aku segera mengusapnya dan berbalik untuk menemani Eyang lagi.

Deg.

Aku melihat lilikku. Dengan tangan gemetar dia memegang cangkul ditangannya. Bisa kulihat wajah terluka dari sorot matanya. Wajah yang sangat mirip dengan almarhum Bapak. Sayangnya hanya wajah yang mirip tapi sikap ketegasan dan mengayomi sama sekali tak dimiliki oleh adik bapakku ini.

Aku tahu dia mendengar semua omongan Bu Laras yang menghinaku dan ... Putranya.

Gedebuk. Terdengar bunyi orang terjatuh.

Kami tersentak kaget.

"Eyang!"

"Mbok!"

*******

Eyang Putri dibawa ke rumah sakit, kondisinya drop. Bersyukur aku dan Hasan dulu berinisiatif membuatkan BPJS walau hanya bisa kelas tiga. Aku dan Hasan menunggu dengan was-was. Lik Marwan tampak diam. Tak banyak bicara.

"Bagaimana keadaan Nenek saya, Dok?" tanya Hasan.

"Kondisi tubuhnya drop. Untuk saat ini kita hanya bisa pasrah. Kita serahkan pada Sang Pemberi Hidup."

Kami segera masuk ke ruang HCU. Disana kami melihat tubuh rentanya. Ya Allah, aku tahu aku harus ikhlas dengan segala kemungkinan hanya saja rasanya kami tak sanggup.

"Bapak pulang saja, lagi pula Bapak juga punya hipertensi. Gak boleh capek. Biar aku sama Caca yang nunggu Eyang," tutur Hasan.

"Iya."

Semalaman, aku dan Hasan menjaga Eyang Putri secara bergantian. Saat aku terbangun, Hasan tidur dan sebaliknya.

*****

"Sepi ya Ca." Hasan memulai obrolan.

Aku sendiri tengah menyandarkan kepalaku di bahu Hasan. Sudah dua hari dua malam Eyang dirawat. Kami selalu setia menunggu. Jangan tanyakan Lik Mirna dan kedua anaknya mereka sama sekali tak peduli.

"Iya. Mungkin karena masih pagi," kulirik jam di tanganku masih pukul enam pagi.

"Semalam aku mimpi ketemu Ibu. Ibuku cantik ya Ca. Aku biasanya cuma lihat di foto. Tapi tadi malam aku bener-bener lihat. Ibu tersenyum Ca."

"Kok sama. Aku semalem juga mimpi ketemu Bapak Ibuku. Mereka juga tersenyum ke arahku. Bapak malah membelai kepalaku."

"Ca ... Hasan." Sebuah suara memanggil nama kami. Awan.

*****

"Maafin Ibuku ya Ca, aku udah denger dari Husna katanya Ibu melabrak kamu. Gara-gara Ibu juga Eyang kamu sampai masuk rumah sakit."

"Gak papa memang sudah takdirnya Eyang masuk rumah sakit."

"Tapi aku merasa bersalah Ca, gara-gara Ibuku ...."

"Sudahlah Wan. Jangan dibahas."

Hening.

"Ca ... Aku akan berusaha meyakinkan kedua orangtuaku. Aku akan ...."

"Wan ... Bukankah aku pernah bilang bahwa jawabanku akan lamaranmu setelah aku tahu tanggapan Ibumu. Dan sekarang aku akan menjawabnya. Maaf mungkin lebih baik kamu cari wanita yang lain."

"Ca ...."

"Sudahlah Awan. Percuma. Kedua orangtuamu tidak akan pernah menerimaku."

"Tapi aku yakin, kalau kita berusaha mereka akan merestui kita."

"Hehehe. Yakin kamu? Bahkan Ibumu saja tanpa melihat adab kesopanan memakiku. Untung hanya di rumah lilikku. Kalau ditempat umum bagaimana?" aku menyerangnya telak, sengaja.

"Kita kawin lari."

Aku terkekeh, " Tapi sayangnya akalku ada pada kepalaku bukan dengkulku. Seperti apapun Ibumu dia surgamu berbeda denganku. Kalau kamu lakukan itu kamu akan menjerumuskan dirimu sendiri dan aku ke neraka. Maaf aku tak mau. Aku mungkin bukan siapa-siapa. Tapi aku punya perasaan, sakit jika dilukai, patah jika dipatahkan."

"Ca ...."

"Sudahlah ... hentikan. Percuma."

Aku memilih kembali ke ruang perawatan Eyang. Tak kupedulikan Awan yang memanggilku. Bagiku semua sudah jelas.

*****

Hari ketiga Eyang dirawat, Eyang siuman. Saat itu ada aku, Hasan dan Lik Marwan. Entah sesuatu firasat atau apa hatiku tak tenang. Walau kondisi Eyang terlihat bugar dan wajahnya tampak cerah sekali. Bahkan senyum tak pernah lepas dari bibirnya, tapi jujur aku merasa takut. Takut akan kehilangan lagi untuk kesekian kalinya.

"Marwan."

"Iya Mbok."

"Aku mau pulang, aku harus kamu anter ke Kebumen ya?" ucap Eyang Putri.

"Mbok masih sakit. Sudah disini saja," sahut Lik Marwan.

"Enggak. Pokoknya Simbok harus pulang ke Kebumen. Gak masalah rumahnya reot tapi itu rumahnya Simbok. Inget ya Wan, aku pokoknya harus balik ke Kebumen," tegas Eyang putri.

"Iya Mbok," akhirnya Lik Marwan menyerah.

"Putuku. Caca sama Hasan. Kalian putuku yang paling baik, paling sayang sama Eyang. Kalau Eyang sudah balik ke Kebumen, maka kalian berdua terbanglah. Kepakkan sayap kalian yang sudah lama terikat. Jadilah seperti merpati yang bisa terbang tapi tahu kapan, dimana serta pada siapa dia akan kembali," ucap Eyang Putri sambil tersenyum manis padaku dan Hasan.

Aku menangis, begitupun Hasan. Kami berdua sadar ini bukanlah sekedar ucapan tapi wasiat terakhir dari Eyang Putri untuk kami.

*****

Eyang Putri menghembuskan nafas terakhirnya pada malam keempat setelah dirawat. Kami sudah rembugan. Eyang Putri langsung dimandikan oleh pihak rumah sakit dan malam harinya kami akan membawanya ke Kebumen.

Hanya aku, Hasan dan Lik Marwan yang ikut. Kami ikut mobil ambulance dengan jasad Eyang Putri juga. Lik Mirna dan kedua anaknya tak mau ikut dengan alasan jauh dan menghemat biaya. Tak masalah bagiku dan Hasan karena tanpa mereka jauh lebih baik.

Bab 3

Kami disambut tangis haru oleh keluarga dan tetangga. Bahkan beberapa sanak keluarga ada yang menangis histeris bahkan pingsan.

Kata-kata penghibur menyertai kami, namun aku kurang begitu antusias dan hanya menanggapi dengan anggukan atau senyum lemah.

Selanjutnya Eyang langsung di sholati dan dimakamkan. Eyang sudah dimandikan ketika di rumah sakit. Aku, Hasan dan Lik Marwan bahkan ikut memandikan jenazah Eyang saat masih di rumah sakit.

"Kamu yang sabar ya Ca," ucap salah satu kerabat, entah siapa aku tak tahu.

"Nggih."

Hasan dan Lik Marwan ikut masuk ke liang lahat untuk membantu memakamkan Eyang. Terakhir Hasan mengazani Eyang untuk terakhir kalinya.

********

"Tempat ini nyaman ya Ca, adem."

Aku menoleh ke arah Hasan dan tersenyum membenarkan perkataannya.

"Iya."

Aku dan Hasan tengah duduk menikmati hamparan sawah di depan rumah Eyang. Hari ini adalah hari ketiga kematian Eyang.

"Ca."

"Iya."

"Eyang udah gak ada."

"Aku tahu."

"Kita mau gimana?"

"Ya tetap tegar dan terus menata hidup."

"Kamu ...." Hasan menghentikan kalimatnya.

"Gak usah khawatir. Aku bisa jaga diri kok. Sepertinya kali ini kita harus berpisah untuk menggapai impian masing-masing."

Hasan mengangguk. Aku mencoba mengalihkan percakapan ke hal lain.

*******

Hari ini malam ketujuh setelah kematian Eyang Putri. Kami masih di Kebumen. Meski rumah sudah tampak reot tapi kami bersyukur masih bisa ditinggali untuk sekedar berlindung dari panas dan hujan.

Dan untuk selamatan Eyang Putri, kami benar-benar tak mengeluarkan biaya sedikitpun. Semua dilakukan atas kebaikan warga sekitar dan keluarga kami. Bahkan teman Bapak selama hidup benar-benar ringan tangan dan mau membantu kami.

Setelah acara tahlilan selesai, aku masuk ke kamar yang dahulu ditempati kedua orang tuaku. Aku sengaja membuka lemari, laci, foto-foto serta segala sesuatu yang berhubungan dengan kedua orang tuaku. Hingga kutemukan tumpukan surat yang setelah dilihat adalah surat antara ibuku dengan sahabatnya.

Rupanya sahabat Ibu bernama Aisyah dan mereka sempat mondok bersama dulu. Dulu ibuku pernah mondok. Bahkan dulu memintaku untuk mondok saat aku akan masuk ke SMP namun sayang beliau meninggal jadi keinginannya belum kesampaian.

Hampir satu jam aku berada di kamar ini. Kubaca lembar demi lembar surat mereka berdua. Entah mengapa sedikit mengobati kerinduanku pada Ibu. Hingga ada sebuah surat yang membuatku termenung cukup lama.

Fatimah, aku sudah menerima suratmu. Kalau kamu memang mau mondokin anakmu, sini aja ketempatku. Biar persahabatan kita tetap langgeng dan terjaga dan sering bisa ketemu. Jadi kita bisa cerita-cerita dan mengenang masa mondok kita dulu. Aku akan selalu menunggu kamu dan putrimu.

Salam sayang Aisyah.

Kulihat foto dua orang remaja usia SMA yang sama-sama cantik. Salah satunya adalah ibuku. Aku seperti melihat diriku sendiri. Ya, aku sangat mirip ibuku semasa mudanya.

*****

"Kamu kenapa? kok murung? Masih inget sama Eyang Putri?"

"Aku masih sedih Ca, tapi sebenarnya lebih ke arah lega. Setidaknya Eyang sudah tak akan merasakan sakit lagi. Dan melihat wajah bahagianya sebelum meninggal, aku tahu memang sudah waktunya Eyang meninggalkan kita. Jadi ya sudah kita harus ikhlas kan?"

"Iya."

Hening. Baik aku dan Hasan sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Ca."

"Hem."

"Aku diterima."

Mataku membulat, "Benarkah? Yeee ... Selamat ya adikku, sahabatku, temen gelutku. Akhirnya kamu bisa S2 juga."

Kulihat Hasan tersenyum tipis dan lalu tampak sedih. Aku menepuk bahunya, "Kamu gak usah mikirin aku. Kamu pikir aku siapa? Bawang Putih? Sorry ya. Jadi kamu gak usah khawatir sama aku. Aku sekarang mau mondok. Mau mewujudkan keinginan Ibu sebelum beliau meninggal."

"Kamu itu Nenek Lampir."

"Kalau aku Nenek Lampir, kamu itu Gerandong."

Hahaha. Kami tergelak bersama.

"Oh iya minggu depan kita jadi wisuda. Aku sudah mendaftar dan kamu juga sudah aku daftarkan. Kita bakalan ikutan. Oke."

"Sip."

Kami berdua lulus 3,5 tahun dengan IPK cumlaude. Aslinya aku juga bisa ikut beasiswa S2 hanya saja aku memutuskan menjalankan amanah ibuku untuk mondok.

Akhirnya, kami akan ikut wisuda bareng teman seangkatan kami. Aku dan Hasan memang sudah berjanji dengan teman kami masing-masing bahwa walaupun kami lulus gasik tapi kami akan ikut wisuda bareng dengan teman seangkatan.

********

Aku dan Hasan menemui Lik Marwan. Kami memutuskan berbicara serius dengan beliau demi masa depan kami. Lilik menyetujui dan memberikan restunya. Saat wisuda, kami sengaja mengajak Lik Marwan tanpa istri dan kedua anaknya yang lain. Lik Marwan nampak bahagia, tangis haru tak bisa berhenti dari kedua matanya.

"Maafin Bapak ya Le, maafin Lilik Nduk. Bapak lemah. Lilik khilaf. Maaf," ucapnya saat memeluk kami yang memakai toga dan menggenggam piala penghargaan sebagai wisudawan terbaik untuk prodinya.

Lik Marwan kembali ke Jepara seminggu kemudian. Ia berulang kali masih meminta maaf pada kami. Mungkin kejadian saat Bu Laras menghina putranya dan diriku ini begitu membekas di hatinya. Sehingga ia mengijinkan kami untuk berjuang menjadi orang. Orang yang tidak akan dianggap hina lagi.

*****

Aku membantu Hasan menyiapkan keperluan untuk S2-nya. Seminggu lagi dia berangkat. Untungnya kami orang yang hemat. Uang beasiswa kami, benar-benar kami gunakan sehemat mungkin sehingga kami masih punya sedikit simpanan untuk menunjang hidup beberapa bulan kedepan. Apalagi selama kuliah, aku dan Hasan juga bekerja di resto milik sahabat kami, Jamal. Ditambah lagi sedikit 'warisan' dari Eyang Putri yang masih bisa beliau selamatkan terutama dari tangan Lik Mirna. Bahkan Lik Marwan saja tidak tahu.

"Ingat ya, selalu hubungi aku. Misal aku ganti nomer tapi email, instragam, dan facebook aku gak pernah ganti," ucapnya saat kami berada di bandara Adi Sucipto Jogja.

"Tenang. Akun somedku juga gak pernah ganti kok. Paling gak tahu kapan bukanya hehehe." Hasan mengusap ujung kerudungku dan kami berpelukan.

"Aku bakalan kangen sama cerewetmu. Kangen debat dan gelut sama kamu."

"Sama. Aku juga bakalan kangen sama kekonyolan kamu. Hati-hati ya. Kalau kepincut perawan Malaysia jangan lupa aku di beliin tiket buat kesana."

"Oke."

Akhirnya kami berpisah. Selamat tinggal saudaraku. Mari kita songsong masa depan kita. Mari kita rentangkan sayap kita yang sudah lama terikat.

Ketika pesawat yang ditumpangi Hasan sudah lepas landas, aku memilih menuju ke area foodcourt dan memesan fried chicken karena satu jam lagi aku juga harus naik kereta menuju Purwokerto.

Aku memutuskan akan merentangkan sayapku dan terbang kesana. Ke tempat sahabat ibuku. Di pondok Al-Hikam. Ada rasa gamang dalam hatiku. Namum, aku segera menepisnya dan membulatkan tekad bahwa ini pilihanku dan demi baktiku pada kedua orang tuaku.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED