Daffin Al-Aziz, terlahir sebagai anak sultan yang penuh gelimangan harta. Tidak ada saudara yang harus membuat nya berbagi, karena ia anak tunggal. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk dirinya seorang. Hal itu membuat kepribadian nya buruk. Egois, pemarah, dan keras kepala.
Beranjak dewasa, semua sifat buruk nya pun menjadi-jadi. Pergaulan bebas, minuman keras adalah teman setia. Seperti malam ini, dini hari baru pulang dari pesta minuman keras dengan teman-temannya di luar.
Dengan jalan yang sempoyongan ia pulang kerumah. Pintu kamar yang pertama di temukan nya adalah kamar Sang Ayah.
"Kenapa kunci dari dalam? ah mungkin ini kamar Papa. Untung saja, kalau tidak tamatlah riwayatku," celoteh Daffin meninggalkan kamar itu. Lalu ia berpindah ke kamar yang lain. Ketika ia meraih gagang pintu pun terbuka. Yakin ini adalah kamar nya, Dengan cepat ia masuk, lalu menutup pintu kembali. Ia menghempaskan tubuh di atas ranjang. Namun hal yang tidak terduga terjadi, bukan merebahkan diri di atas ranjang melainkan di atas tubuh seseorang.
"Aaaaaaa,siapa kamu?" pekik seseorang yang tidak lain adalah Zalfa, pembantu baru di rumah Tuan Aziz.
Dengan cepat Zalfa mendorong tubuh Daffin yang menghimpitnya, lalu berusaha untuk berdiri. Namun belum sepenuhnya berdiri, lelaki ini menarik tangannya sehingga Zalfa terjatuh di dalam pelukan Daffin.
"Siapa kamu? dan apa yang sedang kau lakukan di kamar ku?" tanya Daffin menyadari ada seorang gadis di dalam kamar nya.
"AAA TOLONG, TOLONG." Zalfa lebih memilih berteriak dari pada menjawab pertanyaan Daffin. Sehingga seisi rumah terjaga dan berlari menuju kamar Zalfa.
Ketika pintu kamar di buka semua orang di buat terkejut, karena posisi Daffin sedang berada di atas Zalfa.
Tiba-tiba tuan Aziz merengkuh tubuh Daffin. Tangannya gemetar karena menahan emosi. Dengan perasaan marah ia menampar Daffin sehingga Saidah ikut menjerit melihat nya.
"PA!" pekik Saidah memeluk Daffin.
"Lepaskan dia Ma!" bentak Tuan Aziz.
"Udah lah Pa, udah lah! Bawa istighfar!" anjur Saidah untuk menyadarkan Tuan Aziz.
"Astagfirullah," Tuan Aziz tersadar sambil mengusap wajahnya dan pergi berjalan menuju ruang tamu diikuti oleh semuanya.
"Apa yang kau lakukan pada gadis ini?" Mata tuan Aziz melihat kepada Daffin. Setelah semuanya duduk pada posisi masing-masing.
"Dia siapa sih? bukan aku yang salah, dia yang tidur di dalam kamarku," oceh Daffin ngawur.
"Kamu mabuk Daffin? ya Allah nak, sampai hati kamu membuat Mama mu ini sedih," keluh Saidah menyadari putra nya itu dalam keadaan mabuk dan ngelantur.
"Kapan kamu mulai selalu pulang larut seperti ini?" tanya Tuan Aziz mencoba bertenang hati.
"Baru malam ini Pa."
"Mbok tolong panggilkan security!" perintah Tuan Aziz.
"Baik, Tuan." jawab si Mbok berjalan keluar guna memanggil Sukri sang security di kediaman Tuan Aziz.
Tak berselang lama si Mbok dan Sukri tiba di ruang keluarga.
"Ada apa Tuan?" tanya Sukri cemas.
"Duduk kamu!"
"Baik, Tuan." Sukri pun duduk dengan perasaan gelisah dan takut.
"Jelaskan semuanya!" pinta Tuan Aziz marah.
"Maksud Tuan?" Sukri gugup dan berlagak tidak tahu. Namun karena tatapan tajam dari Tuan Aziz, akhirnya ia berkata jujur.
"Maaf Tuan, sebenarnya saya selalu ingin memberitahu Tuan, tapi Den Daffin melarang dan mengancam saya. Jadi saya diam saja," jelas Sukri pada akhirnya.
"Baiklah keluar!" perintah Tuan Aziz dan Sukri pun keluar dengan perasaan bersalah.
Kini tuan Aziz kembali menatap Daffin.
"Selalu kamu ku bimbing, aku didik, dan malam ini kau membuktikan kalau aku ini ayah yang buruk dan gagal mendidik anak," geram Tuan Aziz mengepalkan tangan menahan emosi.
Daffin hanya menunduk mendengar amarah sang ayah. Dan ia tidak habis pikir, siapa gadis yang di dalam kamarnya sehingga ia ketahuan malam ini. Selama ini ia selalu mabuk dan pulang larut malam, belum pernah sekalipun ketahuan. Tapi malam ini?, karena seorang gadis yang sama sekali tidak di kenal nya ia jadi ketahuan.
"Mbok, beri dia air madu! biar otaknya waras lagi," perintah Tuan Aziz meninggalkan ruang keluarga.
Si mbok membuatkan air madu dan memberikan kepada Daffin, "Silahkan diminum Den."
"Pergi lah tidur di kamar mu!" tutur Saidah kepada Daffin setelah Daffin meminum air madu itu.
"Maafkan Daffin ya Ma," sesal Daffin dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Namun sekilas ia melirik ke arah Zalfa hingga ia benar-benar meninggalkan tempat itu.
"Zalfa kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Saidah kepada Zalfa.
"Tidak, Bu." jawab Zalfa, meski ia masih shock dengan keadaan ini. Semua tungkai, tulang belulang dan sendi nya terasa gemetar dan lemah. Karena seumur hidup dia tidak pernah bersentuhan dengan lelaki, selain saudara laki-laki dan ayah nya. Namun malam ini seorang lelaki yang tidak di kenal nya masuk kedalam kamar dan menghimpit Zalfa. Sungguh pengalaman yang sangat buruk.
"Ya sudah tidur lah!, jangan lupa pintu kamarmu dikunci!" saran Saidah, berlalu dari sana.
Sementara Daffin, baru menyadari kalau yang tadi ia masuki bukanlah kamarnya alias salah kamar.
'Siapa sih wanita itu, gara-gara dia aku ketahuan, kalau dia tidak ada pasti aku masih aman saja.'batin Daffin kesal hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur.
********
Pagi ini, suasana di ruang makan hening tanpa suara hanya suara dentingan sendok yang bersinggung dengan piring terdengar.
Terlihat Zalfa makan satu meja makan dengan mereka. Tidak seperti pembantu lain, Zalfa seperti istimewa bagi keluarga Tuan Aziz, mungkin ini adalah rezeki untuk Zalfa.
Sesekali Daffin melirik kepada Zalfa dan masih bertanya-tanya di dalam hati siapa gadis ini, sebelum nya ia tidak pernah melihat Zalfa.
"Kamu habis ini mau kemana Fin?" tanya Saidah.
"Main kerumah teman Ma."
"Daffin hari ini kamu jangan kemana-mana!" Perintah Tuan Aziz dan di iya kan oleh Daffin.
Selesai makan, semua orang berkumpul di ruang keluarga tidak terkecuali Zalfa. Karena ia juga diminta hadir di sana. Entah mengapa begitu Zalfa sendiri pun tidak tahu jawabannya. Semua yang hadir di situ diam lengang tak bersuara, menunggu Tuan Aziz angkat bicara dan pada akhirnya.
"Jangan mengira Papa akan melepaskanmu begitu saja Daffin, tentu ada hukuman untukmu," ucap tuan Aziz melihat ke arah Daffin.
"Insyaallah Daffin siap menerima hukumannya, Pa."
"Papa, ingin kamu menikah."
"Mau Daffin begitu Pa, tapi Papa ga ngijinin aku nikah sama Alisa."
"Orang tua bodoh yang mengijinkan anaknya menikah dengan gadis seperti dia," sergah Tuan Aziz.
"Alisa gadis baik Pa, hanya penampilan luar saja yang terlihat seperti itu."
"Daffin, Daffin adakah disisi Allah perempuan dengan aurat serba terbuka itu baik, belum lagi tidak ada adab dan sopan santunnya."
Daffin mati kutu dengan ucapan sang ayah, entah apa yang harus di jawabnya bila berurusan dengan masalah pakaian, karena memang penampilan Alisa yang serba terbuka, bahkan bukan hanya serba terbuka melainkan lebih seperti tidak memakai apa-apa. Berulang kali Daffin membujuk supaya Alisa mau berhijab agar kedua orang tuanya merestui mereka. Namun Alisa selalu menolak, alasan dia selalu kata belum siap.
"Jadi, seharusnya Daffin bagaimana Pa? supaya Papa memaafkan Daffin."
"Menikah lah dengan Zalfa!" ucap tuan Aziz. Hal ini membuat Daffin maupun Zalfa terkejut tak kepalang. Sebab, mereka berdua saling tidak mengenal satu sama lain.
Belum habis keterkejutan mereka, datang Mbok inah, membawa seseorang di tengah mereka.
"Maaf Tuan, ini ada yang nyariin Tuan," Mbok Inah berdiri di depan Tuan Aziz dengan membawakan seseorang.
"Oh iya, silahkan duduk!" ucap Tuan Aziz mempersilahkan orang itu yang tidak lain adalah seorang seorang wedding organizer.
Setelah sang wedding organizer, duduk disana. Tuan Aziz mulai bicara.
"Saya mau kamu atur semua persiapan pernikahan, besok siang saya ingin semua sudah selesai!"
"Baik, Pak. Siang besok pasti semua sudah saya siapkan semua nya. Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang dulu."
Usai itu Tuan Aziz melihat kepada Zalfa dan berucap,"Zalfa, telpon Ayah dan semua keluargamu! biar malam ini di urus keberangkatan mereka,"
"Tapi Pak, saya tidak ingin menikah," tandas Zalfa pada akhirnya. Suara yang tercekat sedari tadi pun akhirnya keluar juga.
"Sama saya juga tidak mau menikah, apalagi dengan dia," Daffin menimpali ucapan Zalfa.
"Zalfa, saya dan istri saya secara pribadi sangat berharap kamu mau menerima lamaran ini, untuk menjadikanmu sebagai istri Daffin. Meskipun terlalu mendadak, tapi saya yakin kamu calon yang terbaik buat Daffin,"ucap tuan Aziz penuh harap.
"Iya nak, dan lagi pula semua Persiapan nya sudah disiapkan. Insyaallah besok siang semua sudah selesai. Apakah kamu akan menolak niat baik kami ini?" tutur Saidah menimpali ucapan suami nya sambil mengelus punggung Zalfa dengan lembut.
Dengan berat hati dan terpaksa Zalfa menjawab keinginan dari orang yang sudah sangat baik kepada nya itu, "Baiklah," ucap Zalfa pada akhirnya.
Apalagi yang bisa dia jawab selain dari kata baiklah. Selain itu Zalfa merasa, seperti sedang menuruti permintaan orang tua kandung nya sendiri.
'Ya Allah jadi rindu emak dan ayah di kampung' batin Zalfa.
"Alhamdulillah," ucap tuan Aziz begitu pun Saidah. Mereka sangat bahagia, akhir nya Daffin menikah juga dengan menantu pilihan mereka.
Daffin yang merasa terpojokkan, langsung berdiri dan beranjak dari sana.
"Mau kemana kamu Fin?" tegur Saidah.
"Mau kerumah teman Ma," jawab Daffin singkat dan berlalu dari sana. Namun langkah nya berhenti, ketika tiba di depan pintu.
"Apaan sih pak?!" bentak Daffin murka. Terlebih rasa kesal nya yang tadi belum lagi reda.
"Ini perintah Tuan den, kalau Aden mulai hari ini, dilarang bepergian sampai pernikahan selesai," jelas Pak Sukri.
"Arrrghhh" pekik Daffin kesal dan kakinya menendang kosong di udara. Dengan geram ia mengepalkan tangannya masuk kedalam rumah lagi menuju kamar. Namun di tengah jalan ia berselisih dengan Zalfa.
Dengan penuh kebencian Daffin menatap dan membentak nya.
"Bagus kamu, ya! entah dari mana asal nya, tiba-tiba mau jadi istriku. Kamu kira aku akan suka dengan kamu?! asal kamu tau, aku sudah memiliki seorang kekasih. Jadi meskipun kamu nantinya sah jadi istriku, jangan pernah mimpi untuk bisa mendapatkan aku," ancam Daffin tanpa kontrol. Mata nya menyala merah seakan-akan terbakar saat ini juga.
Mendengar perkataan Daffin yang sangat menyakitkan itu, seolah seperti Zalfa saja, yang sangat menginginkan pernikahan ini. Tentu saja Zalfa tidak rela dituduh begitu. Tentu saja ia akan membalas nya. Jangan dikira, Zalfa perempuan lemah. Tidak ya, huh.
"Kamu pikir, aku sangat ingin menikahimu?! kalau ngomong itu, ucapan nya di saring dulu! Jangan asal main keluarkan aja! aku akui, tidak pernah memiliki kekasih, tapi orang seperti dirimu ini, dalam mimpi pun aku tidak pernah berharap untuk dijadikan teman hidup," balas Zalfa tidak kalah sengitnya dan berlalu dari sana.
Daffin, menatap punggung Zalfa, yang sudah hampir menghilang dari pandangan nya. Namun tidak dengan emosi nya. Tetap saja ia masih mengumpat kesal pada gadis itu.
"Sial! enak saja dia membalas aku hah, memangnya dia siapa?" geram Daffin berjalan masuk kedalam kamar. Bokong nya ia hempaskan di atas sofa seraya meraih ponsel dari kantong celana. Jemarinya menari mencari nama sang pujaan hati dan menekan tombol biru yang ada disana.
"Hallo sayang, ada apa?" Sapa suara dari seberang sana dengan lembut dan manja.
"Aku mau bicara serius dengan kamu," balas Daffin.
"Tumben serius? Dimana kita ketemuan nya?"
"Aku ga bisa keluar, aku bicara lewat telepon aja."
"Why??"
"Besok siang aku mau menikah."
"Sayaaang, kenapa buru-buru sih, besok kan bisa kita bicarakan."
"Aku serius Alisa."
"Iya aku tau, kan aku pernah bilang ke kamu kalau aku juga serius sama kamu, tapi kamu sendiri tau kan? kalau profesi aku tuh model, jadi aku belum siap untuk berhijab."
"Aku akan menikah besok siang, tapi bukan sama kamu, namun dengan orang lain," jelas Daffin kepada Alisa.
"Maksud kamu? Kamu bercanda kan Fin? Kamu lagi mabuk ya? atau lagi prank aku," terka Alisa asal.
"Aku serius Alisa." terdengar lirih namun sangat serius dan menyakinkan, membuat Alisa shock.
"Tidak!, pasti kamu bohong, kamu itu kan cinta sama aku, kamu tidak mungkin akan menikah dengan orang lain, iya kan Fin?"
"Tapi itu sekarang Kenyataan nya. Aku dipaksa papa sama mama menikah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali."
"Jadi ini seriusan?"
"Kan dari tadi aku sudah bilang ini semua serius dan bukan candaan."
"Tapi kamu tidak bisa lakuin itu sama aku Fin, kamu ga boleh menikah dengan orang lain." terdengar suara Alisa yang mulai parau.
"Maaf Alisa, aku tidak bisa menolak perintah Papa, kamu tau sendiri gimana keras nya Papaku," ucap Daffin lalu mematikan ponsel nya.
Tut tut tut
Sambungan telepon terputus namun Alisa, masih tidak percaya dan mencoba menghubungi Daffin kembali, namun nomor yang dihubungi sudah di luar jangkauan.
******
Rembulan, telah berganti dengan mentari pagi. Setiap sudut ruangan tertata dengan rangkaian bunga yang indah. Begitu pula dengan hidangan katering yang di pesan pun, sudah tiba.
Keluarga inti Zalfa, dari kampung pun sudah tiba juga dan menempati kamar tamu. Sekarang Zalfa sudah ada di kamar yang ditempati Ayah dan Emaknya.
Dengan penuh hikmat Zalfa, mencium punggung tangan Ayahnya lalu tangan Emaknya. Lalu berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah sangat bertumpuk mendera di hati nya selama ini.
"Zalfa sangat rindu dengan Emak"ucap Zalfa sambil memeluk erat tubuh Emak.
"Iyolah tu, Emak pun juga rindu sangat dengan Zalfa. nak! kalau boleh emak nak tanya? macam mana boleh jadi macam ni? Coba ceritakan sama Emak!" Emak menatap Zalfa dengan pandangan yang meneduhkan.
"Ntah lah Mak, Zalfa pun tidak mengerti, nak menjelaskan dari mana? sama Emak dan Ayah, tapi mungkin ini adalah takdir Allah SWT untuk hidup Zalfa."
"Manalah boleh macam tu, nak tentu pula lah sebab nya, masalah pernikahan ni soal komitmen hidup, bukan boleh nak dijalani sehari dua hari. Kalau boleh sampai menuo sama-sama." Emak menasihat Zalfa. Tak luput pula rasa risau menghantui hatinya. Macam mana tidak, beberapa bulan anak bungsu mereka merantau, kini mereka dijemput jauh-jauh dari kampung secara tiba-tiba untuk melangsungkan pernikahan nya. Tentu lah ia bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Keluarga mereka di kampung pun juga menjadi gempar dengan kabar pernikahan Zalfa ini.
Zalfa berusaha menenangkan kerisauan hati Emak dan Ayahnya, "Emak dan Ayah tidak usah risau, keluarga Pak Aziz ni insyaallah baik. Oh iya macam mana kabar Ayah apa sudah ada kurang sakit nya?" Tanya Zalfa mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, seperti yang engkau tengok ni, Ayah kau dah bisa jalan lagi walaupun menggunakan bantuan tongkat," jawab Emak.
"Alhamdulillah lah macam tu, kalau gitu, Zalfa balik ke kamar Zalfa yo mak. Dah mengantuk sangat ni. Emak dan Ayah pun baoklah tidur! Nanti siang Zalfa dah nak menikah," ucap Zalfa tercekat.
Emak Pun melihat Zalfa dengan seksama. Tiba-tiba Zalfa memeluk Emak dengan isakan tangis,
"Zalfa, minta ampun ke Emak atas segala khilaf dan dosa Zalfa sama Emak dan Ayah."
Mendengar itu membuat Ayah Zalfa pun ikut menangis dan memeluk Zalfa juga istri nya.
********
Kini jam sudah menunjukkan pukul 2:30
Semua tamu undangan sudah datang dan di posisi masing-masing.
Zalfa di dalam kamarnya dengan hati yang berdebar-debar, di temani Emak dan Kakaknya.
Di ruang resepsi, ada saudara Zalfa yang lain bersama anak-anak mereka. Melihat rumah yang luas, penuh dengan hiasan juga hidangan, membuat dua keponakan Zalfa heboh. Mereka berlarian ke kesana kemari. Mencicipi makanan satu persatu.
Proses ijab qobul pun berlangsung, yang di wali kan oleh Ayah Zalfa.
"Bagaimana saksi sah"
"Saaaaaaaaaah."
"Alhamdulillah."
Saidah datang mengetuk pintu kamar Zalfa, dan membimbing Zalfa menuju dimana dilangsungkan nya akad.
Semua mata tertuju padanya tidak terkecuali Daffin. Riasan yang natural di padu dengan wajah Zalfa yang cantik alami, begitu menyatu. Hingga membuat pandangan mata Daffin untuk sesaat tak berkedip.
Sial, ada apa dengan ku. batin Daffin mengalihkan pandangannya, ketika ia mengalihkan pandangan pada sudut ruangan lain, ia melihat Alisa dengan raut wajah yang merah padam.
"Alisa."sebuah nama lolos dari bibir Daffin.
Kini Zalfa sudah berada di samping Daffin. Saidah menginstruksikan kepada nya untuk mencium telapak tangan Daffin. Dengan ragu Zalfa meraih tangan itu, lalu mencium nya. Kemudian terdengar suara riuh dari tamu undangan yang ikut berbahagia.
"Cium, cium, cium," teriak mereka bersama.
Namun Daffin melihat ke arah Alisa lagi, dan ekor mata itu diikuti oleh Saidah, Mama Daffin.
"Daffin!" tegur Saidah sambil memegang bahu Daffin.
"Eh iya Ma," jawab Daffin.
"Ayo Cium istrimu!"
Dengan ragu pula Daffin, menangkupkan kedua tangannya pada kepala Zalfa lalu, ia kecup kening itu untuk sesaat dan diikuti tepuk tangan riuh dari tamu.
Daffin melihat lagi ke arah Alisa yang terlihat marah dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Ingin sekali rasanya Daffin, mengejar sang kekasih hati, untuk menjelaskan semua. Kalau ini bukan kehendak nya. Lagi pula menurut Daffin Alisa juga ikut andil mengapa ini semua bisa terjadi.
Seandainya Alisa mau mendengarkan nya untuk mengubah penampilan. Mungkin yang akan menikah hari ini adalah dia dan Alisa. Bukan dengan gadis yang tidak ia kenal sama sekali. Bahkan entah dari mana asalnya.
Seusai acara, Daffin langsung masuk ke dalam kamar, diikuti Zalfa di belakang nya.
Ketika pintu kamar terbuka, mata mereka disajikan dengan pemandangan kamar yang didekorasi khusus untuk pengantin baru. Ranjang yang dihiasi kelopak mawar merah membentuk hati. Di setiap sudut kamar dipasang lilin beraroma wangi.
Seketika amarah Daffin, memuncak. Dengan beringas, ia menarik sprei dan mengacak-acak nya. Begitu pun dengan lilin, tak lepas dari kemarahan nya.
Zalfa ketakutan melihat itu. Ia berdiri mematung di ambang pintu.
Ponsel Daffin pun berdering, Alisa yang menelpon nya, "Selamat ya atas pernikahanmu," ucap Alisa dari seberang sana ketika panggilan sudah tersambung.
"Alisa, ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku hanya mencintai mu, dan pernikahan ini hanya untuk menuruti Papa dan Mama saja," jelas Daffin.
"Hah, hanya menuruti katamu? tapi matamu saat menatap nya tadi berkata lain," sinis Alisa mengungkit kejadian saat Zalfa berjalan mendekati Daffin tadi.
"Itu! kamu hanya salah artikan. Aku tadi hanya ingin melihat nya karena aku belum pernah melihat wajah nya."
Di sela pembicaraan Daffin, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
"Ya masuk!" sahut Daffin, tanpa melihat ke arah pintu dan ia tetap melanjutkan penjelasannya kepada Alisa tanpa menghiraukan Zalfa.
"Oke begini saja, aku akan menunggu mu di cafe biasa kita bertemu."
"Baiklah," jawab Alisa mematikan ponsel nya.
Daffin pun berdiri dari sofa tempat dia duduk menelpon Alisa tadi dan melihat pada Mbok Inah seakan minta penjelasan, ada apa pembantu nya itu datang. Mbok Inah yang mengerti dengan tatapan itu menjawab nya, "Maaf den, saya mau mengantar baju non Zalfa kesini."
Selesai berbicara si Mbok masuk kedalam kamar, menaruh semua baju Zalfa di dalam lemari Daffin.
"Stop mbok!" bentak Daffin.
"Kenapa den? Ada yang salah?"
"Jangan masuk kan baju nya disana! aku tidak mau baju ku tercemar oleh nya."
"Jadi den, baju non Zalfa taruh di mana?" Bingung si Mbok.
"Dimana saja asal jangan di lemari ku."
"Sudah Mbok, biarkan tetap di dalam koper itu saja," Jawab Zalfa pada akhirnya.
"Oh ya sudah kalau begitu saya permisi dulu," ucap si mbok berlalu dari sana dengan perasaan bingung.
'Aneh, kok baju istri nya ga boleh di taruh di lemari. Kan kasian non Zalfa. Mana kamar acak-acakan lagi, Tapi mudah-mudahan non Zalfa bisa merubah segala tabiat dan perangai buruk den Daffin,'ucap si mbok bermonolog di dalam hati.
Kini tinggallah Daffin dan Zalfa berdua di dalam kamar itu.
Zalfa terlihat canggung dan tetap berdiri. Sementara Daffin menghempaskan bokongnya di atas king size milik nya.
Daffin menyilang kaki, sambil menatap Zalfa yang diam berdiri mematung di hadapan nya.
Tiba-tiba terlintas di benak Daffin ide untuk mengajak Zalfa keluar agar dia bisa bertemu dengan Alisa.
"Apa kamu akan terus berdiri di sana?" Tanya Daffin, memulai Drama.
"Jadi aku harus bagaimana? Ini kan kamar kamu. Nanti aku salah lagi."
"Bukannya sekarang kita suami istri, jadi kamarku adalah juga kamarmu."
Mendengar itu membuat Zalfa mengerutkan keningnya, berpikir seakan ada yang salah dengan isi kepala lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. Tapi entah apa? ia pun tidak tahu. Baru saja beberapa menit yang lalu ia kasar, eh sekarang jadi lembut bahkan sangat manis.
"Kenapa?" Tanya Daffin membuyarkan lamunan Zalfa.
"Ah tidak apa," jawab Zalfa canggung.
"Ya sudah kalau begitu kamu mandi dulu baru ganti baju, kita mau keluar."
"Keluar?" Jawab Zalfa makin bingung.
"Iya, aku mau ngajakin istri aku jalan keluar emang ga boleh?"
"Emmm, bukan begitu, ah baiklah,"jawab Zalfa masih dalam kebingungan, namun ia tetap menuruti perkataan Daffin karena bagaimanapun Daffin kini adalah imam nya.
Ketika Zalfa sudah di kamar mandi, Daffin tertawa senang, " Dasar bodoh"ucap nya puas.
Tak selang berapa lama Zalfa kini sudah siap dengan mengenakan gamis berwarna coklat muda, dipadukan dengan jilbab yang senada dengan gamis nya.
Tanpa polesan makeup apa pun, hanya sedikit bedak tabur yang biasa digunakan Zalfa. Namun keanggunan yang hakiki takdir dari lahir membuatnya terlihat menawan walaupun tanpa polesan makeup, sungguh kecantikan yang alami.