Bab 1

Manhattan, USA. | 22.53 PM.

Suara musik menghentak begitu kencang namun tidak memekakkan telinga. Justru sebaliknya, musik dengan kencang seperti ini seolah membuat tempat yang di singgahi terasa begitu menyenangkan dan terasa hidup. Para pelayan tampak hilir mudik mengantarkan pesanan.

Aroma tembakau mahal yang dibakar seketika masuk ke dalam indra penciuman, disertai dengan dentingan gelas sloki yang berisikan wiski, tequila, vodka, dan anggur sehingga mengimbangi suara musik. Ini adalah acara ulang tahun yang tergolong masuk kategori mewah. Bahkan yang di undangnya adalah orang-orang berjas dan berdompet tebal.

Laki-laki dengan balutan kemeja press body itu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang berada dalam ruangan private yang sudah dipesan secara sengaja oleh rekan kerjanya. Matanya berkilat tajam sembari memerhatikan para perempuan yang sengaja disewa untuk menyenangkan pelanggan.

Sampai seorang laki-laki yang memiliki kulit gelap dan berseragam pelayan itu menyerahkan satu gelar anggur. "Ini anggur Anda, Mr. William."

Dia Sean Axel William, laki-laki dengan sejuta pesona yang mampu membuat perempuan mana pun bertekuk lutut terhadapnya. Tampan, mapan, berpedidikan, tegas, berwibawa, dan dia juga berasal dari keluarga terpandang, memiliki kekayaan yang mampu menembus majalah Forbes.

Sean menatap laki-laki di depannya dengan pandangan menelisik. Menurut pendapat Sean, laki-laki itu lebih cocok menjadi polisi karena wajahnya terlihat menyeramkan saat ditatap. "Kau lebih cocok menjadi seorang Polisi dari pada pelayan bar seperti ini."

Laki-laki itu tersenyum kecil dan kembali bertugas saat Sean melambaikan tangannya, pertanda kalau Sean menyuruhnya untuk pergi.

Suasana seperti ini sebenarnya bagi Sean kurang bagus untuk dijadikan tempat ulang tahun. Tapi beginilah gaya ulang tahun masyarakat modern, tidak hanya meniup lilin dan memotong kue bersama orang terkasih. Tapi yang terjadi adalah big party yang diselenggarakan di tempat kelas atas. Kegiatan seperti ini sudah lumrah bagi bangsa Barat atau pun bangsa Eropa, seakan kau bebas melakukan apa pun ketika kau memiliki uang.

"Kudengar kau memiliki hubungan dengan Model dari Chicago itu? Kalau tidak salah namanya Zara Mellano, right?" Julian Antonio bekata setelah menyesap anggurnya. Laki-laki itu mengidikan bahunya dengan acuh saat Sean tidak kunjung menjawab pertanyaannya.

"Dari media mana kau mengetahui berita bodoh itu? Biar aku tuntut medianya." Sean mengeraskan rahangnya saat berita mengenai dirinya dan Zara selalu memenuhi tagar di media sosial. Dia menghadap untuk menatap Julian sebelum berkata, "Dengar Jul, aku tidak sedang dekat dengan siapa pun untuk saat ini. Dan mungkin berlaku untuk kedepannya juga."

Julian menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kau ini kenapa sih? Kau tidak buta perihal meneliti perempuan kan, Sean? Menurutku Zara Mellano itu tipe perempuan yang sempurna," papar Julian dengan senyum lebarnya.

Bagi Julian Sean itu sangatlah aneh, saat diberi umpan yang luar biasa justru malah menolaknya begitu saja. Apalagi kali ini yang ditolaknya dengan mentah-mentah adalah seorang Model ternama.

"Jika kau mau, pacari saja dia, semudah itu." Sean menjawab dengan pendek.

"Tidak setuju. Karena menurutku Zara Mellano terlihat lebih cocok denganmu," balas Julian, kemudian laki-laki itu mengangkat gelas sloki untuk menyesap anggurnya.

Sean menggeleng dan menatap Julian dengan malas. Sepupunya itu selalu saja seperti ini jika ada berita tidak jelas mengenai dirinya. Selalu heboh jika ada berita scandal yang menyangkut namanya. Sedari dulu Sean tidak pernah tertarik untuk terlibat dalam publik apalagi dengan berita tidak jelas seperti yang sering terjadi akhir-akhir ini.

*

Willian Group, Manhattan, USA. | 09.11 AM.

Pagi yang cerah setelah malam yang panjang. Sean mengetuk pena di atas meja, matanya menatap beberapa gedung yang menjulang di hadapannya. Ruangan kerjanya berada di puncak perusahaannya, namun untuk yang memiliki riwayat penyakit jantung jangan harap bisa menginjakkan kakinya di tempat ini.

Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Sean mengizinkan orang di balik pintu itu masuk sehingga berjalan menghadapnya membawa satu map berwarna biru gelap yang didominasi oleh warna emas berkilau melambangkan William Group.

"Ini Pak, laporan mengenai proyek yang Anda minta." Laki-laki paruh baya itu dengan sopan menyerahkan map di tangannya.

Sean menerima uluran map itu dari tangan pekerjanya. Matanya fokus membaca berkas-berkas yang ada di dalamnya. Laki-laki itu melingkari ejaan yang kurang tepat menggunakan pena yang di tangannya.

"Perbaiki lagi, kalau masih salah. Pintu keluar William Group masih terbuka lebar," kata Sean dengan nada suara yang dingin. Menyerahkan kembali map tersebut dan menyuruh laki-laki paruh baya itu keluar.

Sean membuka Mackbooknya untuk melihat perkembangan perusahaan. Semenjak Ayahnya pensiun sebelum waktunya, semua tanggung jawab perusahaan diambil alih olehnya. Mungkin Addison akan meluangkan waktunya sekedar melihat-lihat hasil kerjanya selama ini. Setelah lulus kuliah, Sean sudah harus mengorbankan kebebasannya untuk ini.

Dulu William Group hampir bangkrut karena ada salah satu orang kepercayaan Ayahnya menggelapkan uang perusahaan yang berjumlah miliyaran dolar. Dan yang mengatasi hal itu adalah Sean, menguras banyak tenaga serta pikiran untuk mencari jalan keluarnya.

Setelah mengetahui keperibadian Sean yang jauh lebih menyeramkan dibandingkan dengan Addison. Membuat semua orang yang bekerja di bawah perusahaan William Group harus menyiapkan mental untuk mendengar ucapan galak dan ketus Sean setiap harinya.

Tangannya menari lincah di atas keyboard harus terhenti saat suara dering ponsel menjadi nada yang terdengar riang dalam ruangan senyap dan hening ini. Sean hanya melirik ponsel mahalnya yang menyala dan nama Julian tertera di sana. Membuat Sean mengabaikannya, sudah kebiasaan Julian meneleponnya disaat jam kerja seperti sekarang ini.

Lima panggilan tidak Sean jawab. Sehingga beberapa menit kemudian datanglah satu pesan yang kembali membuat layar ponselnya menyala.

Julian Antonio : Aku hanya mengingatkanmu, nanti siang ada pameran di Galeri Seninya Paman Rodrigo. Kalau kau masih ingin bertemu dengan seniman itu, maka ikutlah nanti siang bersamaku. Pukul satu nanti aku akan ke kantormu.

Sean mengangkat pergelangan tangannya yang dihiasi oleh jam tangan yang harganya selangit. Modelnya terlihat simple namun tidak menghilangkan kesan elegan pada jam tersebut. Sekarang sudah pukul sebelas siang, ternyata dia sudah lama berdiam diri di kantor. Dengan cepat dia mengetikkan balasan pesan Julian.

Sean Axel : Aku akan ke tempatmu, kau masih berada di kantor?

Tidak lama muncul balasan yang mengatakan kalau Julian masih berada di kantor. Sean menutup Mackbooknya dan mengambil jas berwarna navy yang tersampir di kursi kerjanya. Tidak lupa memakainya dan segera meninggalkan ruangan.

Sean tersenyum kecil, tidak lama lagi dia akan bertemu dengan seorang seniman yang sudah sejak dulu ingin dia ketahui. Kabar kalau seniman itu akan datang di acaranya yang kali ini, membuat Sean semangat.

"Tunggu aku, Sands Of Time. Apa pun jenis kelamin dirimu, akan aku temukan."

Bab 2

Collage Art Gallery, Manhattan, USA. | 13.19 PM.

Suara alunan musik klasik kini mulai terdengar di penghujung ruangan. Orang-orang yang mendapat undangan untuk melihat pameran ini pada mengantri melewati pintu masuk yang sudah disediakan. Galeri Seni ini begitu luas, ada beberapa patung dan banyak karya lukisan yang terlihat indah saat dipandang berjejer di antara dinding.

Semenjak kuliah di London Sean tidak pernah bosan melihat pameran seperti ini. Apa lagi Sean selalu penasaran siapa orang yang membuat lukisannya. Sebuah lukisan yang elegan dengan aksen Eropa yang kental, lukisan yang sangat jarang sekali diperjual belikan.

Dan Julian memberitahunya kalau pemilik galeri seninya adalah anak dari Paman Rodrigo. Sahabat dekat Ayahnya, tetapi yang diketahui oleh Sean, Paman Rodrigo hanya memiliki seorang anak laki-laki bernama James yang berprofesi sebagai seorang Dokter. Semakin membuat Sean bingung siapa pelukis itu, dan seperti apa sosoknya, mungkin saja bukan anaknya Paman Rodrigo.

"Ayo, kita harus menemui Paman Rodrigo lebih dulu." Ajakan Julian membuat Sean dengan cepat mengangguk, lantas berjalan beriringan bersama Julian.

Sambil berjalan, pandangan Sean tidak hanya fokus ke depan melainkan memerhatikan sekelilingnya. Sean tidak bisa berhenti kagum pada lukisan-lukisannya, dan sebuah patung sepasang laki-laki dan perempuan sukses menyita perhatiannya. Patung itu berdiri dengan sempurna membelakangi satu sama lain dengan tangan yang saling menggenggam dari belakang. Ini adalah salah satu mahakarya yang luar biasa.

Julian pun ikut berhenti melangkah, menikmati pandangannya dengan leluasa. Bahkan Julian tidak bisa berkata-kata, matanya benar-benar terfokus pada patung ini.

"Sean, Julian. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir, patung yang kalian lihat itu adalah projek terakhir yang dikerjakan oleh keponakanku selama satu tahun terakhir ini." Suara Rodrigo mengintrupsi keduanya dan segera berbalik badan lantas menyalami Rodrigo dengan sopan.

"Ini benar-benar menakjubkan." Setelah itu Sean kembali menatap patung tersebut. Pancaran mata laki-laki itu menunjungan kalau dia teramat menyukainya.

"Wah . . . benarkah Paman? Apakah kita bisa bertemu dengannya kali ini? Sungguh, aku penasaran," kata Julian dengan semangat. Laki-laki itu menatap Rodrigo dengan senyum yang mengembang.

Rodrigo mengangguk dan balas tersenyum dengan wajah yang sedikit muram. "Dia tidak bisa datang, karena masih ada kepentingan di Madrid. Entahlah aku tidak habis pikir dengan anak itu, padahal ini adalah acara pameran semua maha karyannya." ucapnya.

Baik Sean atau pun Julian mendesah dengan kecewa. Padahal ini momen ini adalah salah satu alasan Sean membatalkan pertemuannya dengan orang penting, karena ingin bertemu dengan orang yang lebih penting. Tapi sangat disayangkan orang tersebut tidak bisa datang.

"Dilain kesempatan, Paman akan memperkenalkan kalian dengannya." Rodrigo tersenyum sambil menepuk bahu Sean dan Julian secara bergantian.

Julian tertawa pelan menanggapinya. Julian memang tidak seperti Sean yang begitu menyukai seni, dia lebih suka hal yang menyangkan dan lebih menarik perhatiannya. "Baiklah, semoga lain kali aku bisa bertemu dengannya."

"Paman ke sana dulu ya, selamat bersenang-senang. Dan sekali lagi aku ucapkan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir." Rodrigo tersenyum dan berjalan meninggalkan mereka berdua untuk menghampiri istri laki-laki paruh baya tersebut.

Berada di dalam Galeri Seni ini tidak dingin atau panas. Suhu pendingin ruangan diatur dengan apik sehingga menciptakan sebuah kenyamanan bagi pendatang. Julian melipat tangannya di depan dada, mata laki-laki itu melirik ke sana ke mari dan perlahan berjalan meninggalkan Sean.

Sosok di balik pembuat patung ini adalah orang yang sama. Orang yang selalu menghantui Sean dengan rasa penasaran akan sosoknya. Sebenarnya mudah sekali bagi Sean untuk melacaknya, tapi dia menghargai privasi seseorang, jadi dia hanya bisa menunggu orang itu muncul ke depan publik dengan sendirinya.

Namun sayang sekali, kali ini dia tidak bisa bertemu dengan orang tersebut. Keponakan Paman Rodrigo terlihat begitu sibuk dengan dunianya yang lain. Membuat Sean mendesah dengan sedikit rasa kecewa yang hinggap dalam dadanya.

Sean kembali melangkahkan kakinya untuk berjalan ke arah lain, ruangan yang berisi hal menakjubkan ini tidak dapat Sean hindarkan begitu saja. Meski tidak dapat bertemu dengan senimannya, setidaknya dia bisa menikmati hasil karyanya. Sean mencari-cari keberadaan Julian yang entah di mana keberadaannya, sepupunya yang satu itu mudah sekali menghilang sehingga tertelan oleh keramaian.

Setelah merasa lelah berkeliling, Sean memilih duduk di sebuah sofa panjang yang disediakan dalam ruangan sembari menunggu Julian untuk menghampirinya.

Sean Axel : Aku akan menunggumu jika kau ingin kembali bersamaku.

"Sean, itu kau?"

Suara seorang perempuan itu membuat Sean mengangkat wajahnya dengan malas. Dia sudah sangat mengenal suara itu sejak dulu kala. Zara Mellano, teman sekolahnya semasa junior high school. Seorang model papan atas yang sedari dulu mengejarnya.

Zara berdeham pelan menyadari Sean lagi-lagi mengacuhkannya. Dia kembali berujar, "Sedari dulu kau memang sangat menyukai hal yang berbau seni. Tidak heran jika aku bertemu denganmu di tempat ini." Zara tertawa kecil setelah menyelesaikan perkataannya.

"Lantas, kau sendiri sedang apa di tempat ini?" tanya Sean dengan suara yang terkesan begitu datar. Dia hanya berbasa-basi, dan tidak akan peduli dengan apa jawaban Zara mengenai pertanyaannya.

Zara kembali tertawa dan mengambil tempat duduk di samping Sean. Perempuan dengan balutan dress berwarna peach itu menyandarkan tubuh rampingnya, lantas menahan kepalanya untuk menghadap samping sembari menatap Sean.

"Aku menemani temanku. Dia hanya teman Sean, not others." Sebelah mata Zara mengedip disertai dengan seringaian lebarnya.

Laki-laki itu mengalihkan tatapannya dengan begitu malas. "Aku tidak peduli, Ra."

"Aku tahu, tapi kapan kau akan peduli mengenai perasaanku padamu Sean? Sampai kapan, kau mau aku tetap mengejarmu seperti ini?" tanya Zara, perempuan itu menatap Sean yang tatapan yang pilu.

Sean tertawa meremehkan, matanya beralih untuk menatap Zara dingin seakan tatapan itu dapat menembus ke dalam diri seorang Zara Mellano. "Perasaan yang kau miliki itu bercabang, Zara. Aku jelas-jelas tahu kau bukan perempuan yang tidak bisa hanya dengan bertahan pada satu laki-laki." Sean membantah ujaran Zara dengan telak. Sehingga membuat perempuan itu diam dan menunduk.

Zara dapat merasakan kalau aura dalam diri Sean terasa begitu dingin. Tapi dia harus mengatakannya lagi, meski dianggap angin lalu oleh Sean. "Tapi sampai kapan Sean? Apa kau tidak merasa lelah, karena aku selalu melibatkanmu dalam majalah entertaiment?"

Sudahlah, Sean muak. Laki-laki itu memilih bangkit dari duduknya dan segera pergi dari tempat ini. Sesaat dia merasa menyesal telah menunggu Julian di sini, jika tahu akan ada Zara di tempat ini. Sean akan memilih menunggu Julian di parkiran saja. Banyak perkara yang sudah Zara ciptakan demi menjeratnya ke dalam dunia perempuan itu.

Bab 3

Mansion Amberlane, Madrid, Spain. | 20.27 AM.

"Aku tidak ingin dijodohkan dengan Jason." Setelah berucap dengan nada yang mantap disertai dengan tekanan, suasana ruang makan kembali sunyi bahkan terasa semakin mencekam.

Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi pemecah sunyi saat satu keluarga berkumpul untuk melakukan rutinitas mereka setiap malam. Perempuan paruh baya itu tampak meletakkan sendok beserta garpunya sehingga menimbulkan dentingan sedikit keras. Membuat laki-laki paruh baya di sebelahnya menggelengkan kepanya dengan pelan.

Gustavo mengangkat sebelah tangannya karena tahu tabiat sang istri jika anaknya selalu menolak keinginan perempuan itu. "Selesaikan dulu makanmu, baru kita berbicara di ruang keluarga. Tidak ada bantahan."

Dia Katherine Margaretha Amberlane, perempuan yang bisa dikatakan nyaris sempurna. Mulai dari fisik, otak, serta kemampuannya. Dia seorang seniman yang berhasil mengobral lukisannya satu tahun sekali dengan harga yang fantastis. Sifat keras kepala yang melekat dalam diri Katherine selalu membuat sang Ibu meledak-ledak karena tidak menuruti keingingannya. Permintaan yang sangat konyol, dengan menjodohkannya dengan seorang pengusaha di Spanyol. Jaman sudah modern tapi masih saja ada orang tua yang menjodohkan anaknya.

Lauren mendengus dan segera menyelesaikan makan malamnya. Agar bisa menuntut penjelasan dari anak perempuannya. Menurut Lauren, Katherine Margaretha itu terlalu keras kepala serta terlalu buta dalam memandang hal yang luar biasa. Maka dari itu Lauren harus mengeluarkan segala sesuatu yang bersarang dalam benaknya. Biarlah jika setelah ini Kate tidak pulang lagi ke Madrid, karna kebiasaan sang anak adalah menjelajahi dunia dan meneliti semua isinya.

Kate akan pergi dari rumah jika Lauren terus mendesaknya untuk menikah dengan Jason Maxwel. Sampai kapan pun dia tidak pernah menyukai Jason walaupun laki-laki itu sangat tampan. Karna baginya Liam adalah segalanya.

Setelah lima belas menit semuanya sudah berkumpul di ruangan keluarga, bahkan Gustavo sudah merebahkan punggungnya pada sandaran sofa karena sudah menyiapkan diri mendengarkan ultimatum yang keluar dari mulut istri tercintanya. Bahkan Kate pun yang telinganya sudah terlatih sejak remaja untuk mendengar segala ucapan Lauren, kini menatap sang Ibu dengan malas.

"Mommy tidak akan pernah setuju jika kau bersama Liam Xaviendra. Sampai kapan pun, kau harusnya tahu dan mengerti akan hal itu," tekan Lauren tidak basa-basi, perempuan itu langsung mengutarakan semuanya.

Kate menatap sang Ibu dengan wajah yang terlihat bingung. "Kenapa Mom? Hanya karena Ibunya Liam mantan kekasih Daddy, Mommy melarangku untuk berpacaran dengannya?"

"Sekali Mommy bilang tidak ya tidak, dan tidak hanya berlaku untuk saat itu. Tapi bersifat berkepanjangan, ini bukan perihal Ibunya Liam adalah mantan kekasih Daddymu, tapi ini untuk masa depanmu anak pintar. Dari yang Mommy lihat, Liam kurang baik untukmu. Bisakah kau mengerti itu?" tanya Lauren, kali ini suara perempuan itu terdengar begitu lembut tidak seperti sebelumnya.

Katherine selalu dipanggil anak pintar oleh Lauren karena kepintarannya. Seperti kepintaran kedua orang tuanya menurun semua kepada Kate. Bahkan Kate menyelesaikan study S1 dan S2 hanya dalam kurun waktu lima tahun.

"Mommy tahu kan, kalau Kate tidak suka diatur? Kenapa Mommy memaksa Kate untuk menikah dengan Kak Jason?" tanya Samuel menatap Ibunya dengan pandangan yang meneduhkan. Laki-laki remaja itu menggandeng sebelah tangan Kate sehingga perempuan itu menatap sang adik.

Samuel Gilbert Amberlane adalah anak terakhir dari pasangan Gustavo dan Lauren. Laki-laki yang memiliki pembawaan menenangkan, selalu menjadi penengah ketika orang di sekitarnya beradu argumen. Samuel sangat menyayangi Kate sehingga selalu melakukan pembelaan untuk sang Kakak.

Kate memiliki dua saudara kandung. Keduanya laki-laki, yang pertana Bryan Morgan Amberlane, dan yang terakhir adalah Samuel. Bryan sudah hidup terpisah di Kanada, mengurus salah satu cabang perusahaan Amberlane. Sedangkan Samuel masih remaja high school yang sebentar lagi akan masuk dunia perkuliahan.

"Dengar Muel, kau pasti tahu kalau anak pintar ini sudah dewasa bukan lagi remaja sepertimu. Mommy selalu khawatir kalau dia menjelajahi dunia seperti kebiasaan gilanya itu sendirian. Kalau anak pintar ini menikah dengan Jason, Mommy tidak akan terlalu mencemaskan Kakakmu," jelas Lauren. Mata perempuan itu menatap kedua anaknya bergantian.

Samuel menggeleng tidak setuju. "Kate memiliki Liam Mom, dia laki-laki yang baik. Kita selalu bermain bersama ketika dia pulang ke Madrid, mereka saling mencintai. Kenapa Mommy menghalangi cinta mereka?"

"Muel..." Lauren menggeram saat Samuel seakan-akan membela Liam.

"Aku tidak mau, lagi pula Kak Bry tidak akan setuju kalau aku menikah dengan Jason, Mom." Kate menatap Ibunya dengan permohonan. Mata hijau perempuan itu berkedip beberapa kali.

Sulit sekali membujuk Kate yang keras kepala seperti ini. Jika dia terlalu menekan Kate yang ada Kate tidak mau pulang ke rumah seperti kejadian dua tahun yang lalu. Dia selalu mendesak Kate untuk menikah dengan Jason, alhasil Kate kabur dari rumah dan tinggal di bersama Bryan di Kanada. Karena Bryan adalah tempat pulang ke dua untuk Kate setelah rumahnya di Madrid.

"Fine, Mommy tidak akan memaksamu lagi untuk menikah dengan Jason." Lauren menjeda ucapannya, matanya memicing saat melihat Kate tersenyum. "But, kau harus mendapatkan pengganti Liam jika tidak ingin dengan Jason. Mommy tidak menerima bantahan atau pun penolakan."

Perkataan Lauren membuat atmosfer kian semakin dingin. Kate beberapa kali mengerjapkan matanya sambil melihat Lauren yang balas menatapnya menantang.

"Honey, apa maksudmu? Kau mengatakan itu sama saja kau menekan Kate," ucap Gustavo yang tiba-tiba membuka suara. Laki-laki paruh baya itu menegakkan punggungnya lantas menatap Lauren. "Aku tidak setuju dengan perkataanmu." Gustavo menggeleng dengan raut wajah tidak terima.

Kate menggeleng setelah mendengar perkataan Ibunya, perempuan itu menatap Lauren dengan tatapan tidak percaya. Selalu saja seperti ini, Lauren selalu menentang ketika Kate membawa laki-laki yang tidak memenuhi keriteria laki-laki sempurna untuk putrinya. Ketika Lauren terus mendesaknya untuk menikah dengan Jason semakin membuat Kate muak. Dan Gustavo adalah pihak ketiga yang selalu membelanya.

"Mom, hubunganku dengan Liam sudah lama. Bahkan sebentar lagi akan menginjak lima tahun, Mommy tega sekali menyuruhku untuk mencari pengganti Liam," ujar Kate dengan pelan. Dia menatap Lauren dengan pandangan yang mengiba.

Lauren membungkukkan tubuhnya untuk mengambil kedua pergelangan tangan Kate dan menggenggamnya dalam satu genggaman. Perempuan paruh baya itu menatap Kate dengan lekat. "Tolong percaya kepada Mom untuk kali ini saja, suatu saat Liam akan menyakitimu." balasnya.

"Tidak Mom, Liam bukan laki-laki seperti itu." Kate menggeleng dengan tidak setuju saat mendengar perkataan Lauren.

"Jika kau memilih untuk tetap bersama Liam, itu artinya kau sudah siap terluka karenanya. Ingat perkataan Mom," papar Lauren sambil melayangkan tatapan meyakinkan. "Sekali lagi Mommy ulangi, jika kau tidak ingin menikah dengan Jason. Carilah pengganti Liam."

"Kak Jason? Kau di sini?" Samuel berjalan menghampiri Jason Maxwel yang berdiri terpaku dekat pintu masuk ruang keluarga.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED