"Jangan sakiti Mamih!" Teriak Basti sambil melempar barang di meja rias ke arah laki-laki yang sedang menindih sang Mamih.
"Wah, jagoannya Jonas sudah datang. Hai jagoan, Om tidak akan menyakiti Mamih kamu kok. Om mau buat Mamih kamu enak," Aldri menyeringai mesum.
"Diam kamu Aldri!" Teriak Helen. Pandangan wanita itu kini beralih ke arah sang anak. "Basti keluar! Keluar kata Mamih!" Perintah Helen masih dengan suaranya yang lantang. Saat itu, Helen tidak bisa berkutik karena tubuhnya di kunci dengan sangat kuat oleh Aldri, sang mantan kekasih yang kini menjadi selingkuhannya.
Aldri tersenyum sinis lalu mencium paksa bibir Helen di depan Basti dengan penuh gairah. Saat dia melirik ke arah pintu, Basti sudah tidak ada di sana. Tampaknya bocah kecil itu sadar kalau usahanya menolong sang Mamih hanya akan berakhir sia-sia.
Sepeninggal Basti, Aldri semakin menggila di tempat tidur. Dia terus mencumbui Helen bagai seorang singa yang lapar. Bahkan rintihan wanita itu tak sama sekali dihiraukannya.
"Kamu tidak akan pernah bisa menghindariku lagi Helen! Ingat, kartu matimu ada ditanganku. Bukankah selama ini kita saling mencintai? Aku hanya ingin kamu merayu Jonas untuk mengalihkan seluruh hartanya kepadamu, lalu kita akan hidup bahagia bersama. Bukankah itu rencana kita sejak awal? Tapi kenapa sekarang sikapmu berubah? Kamu bahkan lebih sering membela Jonas? Apa mungkin hatimu sudah berpindah pada Jonas?" tutur Aldri panjang lebar. Napas lelaki itu kian memburu.
Helen hanya diam meski tubuhnya masih tetap meronta-ronta.
Aldri memperkuat cengkramannya pada ke dua pergelangan tangan Helen.
"Aku tak akan melepaskanmu begitu saja. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk bisa mewujudkan semua impian kita sejak awal. Mungkin jika kamu tidak di jodohkan dengan Jonas, kita sudah bahagia sekarang! Semua ini tidak perlu terjadikan?"
Ancaman Aldri membuat seorang Helen kian di rundung perasaan cemas luar biasa. Wanita bergaun tidur itu mulai menangis. "Aldri, aku mohon, lepaskan aku. Lupakan aku Aldri. Lupakan semua rencana kita dulu. Jonas sudah begitu baik padaku selama ini. Aku tidak mau mengkhianatinya lebih jauh lagi. Tolong Aldri, kamu bisa mencari wanita lain yang bisa mencintaimu dengan tulus. Tolong jangan ganggu aku lagi" mohon Helen dalam tangisnya yang terdengar pilu.
Sayangnya, Aldri sudah tidak perduli.
Walau kenyataannya Aldri sangat mencintai Helen, namun rasa kecewanya pada Helen yang sudah mangkir dari semua janji dan kesepakatan mereka untuk menghancurkan Jonas justru lebih mendominasi atas apapun juga.
Bagaimanapun, Jonas sudah merebut Helen darinya dan Aldri tidak terima.
"Maafkan aku Helen, aku tidak menginginkan wanita lain lagi selain dirimu. Ayolah, aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu. Aku sangat merindukanmu Helen. Sejak Jonas di penjara, lalu kamu melahirkan, kita tidak pernah berhubungan lagikan?"
Aldri hendak menuntaskan niatnya untuk menyetubuhi Helen ketika sesuatu tiba-tiba saja terjadi.
Srettttt!
"Argh!"
Aldri berteriak kencang saat tiba-tiba tangannya seperti di cincang sesuatu.
Darah segar menetes bersamaan dengan nyeri luar biasa akibat sayatan benda tajam pada lengannya. Dan mereka jadi terperanjat saat melihat Basti, si bocah laki-laki yang baru berumur enam tahun itu, berdiri tak jauh dari mereka dengan sebuah pisau di tangannya.
*****
Sebuah pernikahan sederhana di gelar di kediaman mempelai pengantin wanita yang bernama Raline Septia Wulandari.
Seorang karyawati swasta yang harus merelakan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah kandas karena dirinya yang kini harus menikah dengan seorang lelaki bernama Bastian Dirgantara.
Lelaki yang dulunya adalah sahabat dekat Raline di SMA dan hubungan mereka terus berlanjut hingga sekarang.
Meski, semuanya kini sudah jauh berbeda.
Hubungan mereka, tak seharmonis dulu.
Acara ijab dan kabul itu pun di tutup dengan doa bersama yang di pimpin oleh bapak penghulu dan di iringi kata Amin oleh para tamu undangan.
Kini, waktunya pengantin di sandingkan di atas pelaminan karena acara selanjutnya adalah acara resepsi.
Keluarga Bapak Ibnu Jamil dan Ibu Rani Kalila selaku orang tua dari mempelai wanita terlihat duduk menemani putri tercinta mereka di atas pelaminan. Mereka ikut menyambut para tamu undangan yang hendak bersalaman dengan ke dua mempelai.
Beberapa ibu komplek perumahan seberang tampak berkumpul di tengah-tengah para tamu undangan. Mereka terlihat bercakap-cakap santai.
"Saya masih tidak menyangka kalau Raline bisa menikah dengan anak Gubernur yang tampan itu. Pakai mantra apa dia itu?" ucap Bu Hindun, salah satu anggota dari kumpulan ibu-ibu penggosip di daerah sekitar komplek.
"Tapi dari kabar yang beredar, Raline itu sudah lebih dulu hamil. Coba lihat, tidak ada satu pun keluarga dari mempelai laki-laki yang hadir karena mereka itu tidak setuju kalau anak mereka menikah sama orang miskin," lanjut Femi si ibu RT.
"Kalau begitu, bisa jadi Bastian itu cuma terpaksa menikahi Raline hanya untuk menyelamatkan nama baik Bu Helen? Beliaukan baru naik jadi gubernur DKI," kali ini Ibu Ratna yang bicara.
"Atau bisa jadi, Raline dan keluarganya sengaja pakai cara kotor untuk menjebak Bastian. Ah, aku sudah sangat paham wanita macam apa si Raline itu! Perlu Ibu-ibu tau ya, saya pernah loh, pergokin Raline jalan sama Om-om di mall," kata Ibu Femi lagi.
"Hah? Serius? Wah, tidak benar ini! Kasihan sekali si Basti. Tahu begitu, lebih baik Bastian sama anakku saja yang sudah jelas masa depannya," sahut Bu Hindun.
Kalimat Ibu Hindun memancing tawa Ibu-ibu yang lain. "Bu Hindun ini, tidak usah terlalu berharap nanti kalau jatuh sakit," ledek Bu Ratna.
Gosip-gosip itu masih terus berlanjut sampai akhirnya terhenti dengan sendirinya ketika seseorang datang menghampiri mereka.
Kiara sengaja duduk tepat di sebelah Ibu Femi dan santai menikmati santapannya. Dengan adanya dia di sini, Kiara yakin, ibu-ibu tukang gosip itu akan berhenti mencela kakaknya. Kiara sudah sangat gerah mendengar ocehan ibu-ibu komplek bermulut pedas itu.
Punya mulut kok fungsinya cuma untuk menggosipkan hidup orang? Huh!
Gerutu Kiara dalam hati.
Hari ini resepsi berjalan dengan lancar. Meski sempat di warnai oleh sedikit berita-berita miring karena tak adanya satu pun keluarga dari pihak mempelai laki-laki yang hadir. Hal itu jelas memancing pertanyaan para tamu undangan. Belum lagi mengenai merebaknya isu kehamilan Raline serta latar belakang Bastian, suami Raline yang di gadang-gadang berasal dari keluarga terpandang.
Semua hal itu terangkum menjadi satu berita panas yang pastinya kini menjadi buah bibir di kalangan warga setempat. Terutama oleh ibu-ibu komplek penghuni perumahan elit yang berhadapan langsung dengan rumah Raline yang sangat sederhana.
"Kiara heran deh, kenapa sih selalu keluarga kita yang kena cibiran dan jadi jelek di mata umum cuma karena kita ini orang miskin?" seru Kiara saat acara resepsi selesai. Kini, dirinya dan ke dua orang tuanya sedang beristirahat di ruang keluarga. Kiara baru saja selesai melepas kondenya di bantu oleh Rani, sang Ibu.
"Tidak usah di dengar, Ki. Biarkan saja mereka mau bicara apa, mulut-mulut mereka ini, dosa kita berkurang kalau kita ikhlas," ucap Rani dengan gayanya yang keibuan dan lembut.
"Ibu dan Bapak tidak dengar sih apa yang di katakan sama komplotannya Bu RT tadi, kalau saja tidak memandang perasaan Kak Raline, sudah Kiara sumpal tuh mulut mereka pakai kuah bakso panas! Supaya melepuh bibirnya," omel Kiara lagi. Dia benar-benar tidak terima jika nama baik kakaknya selalu di injak-injak.
"Yang harusnya di salahkan itu kan si Basti! Laki-laki brengsek! Gara-gara dia hidup Kak Raline jadi menderita!" lanjut Kiara tanpa menyadari bahwa nama laki-laki yang tadi dia sebut itu kini baru saja keluar dari arah dapur hendak memasuki kamar pengantinnya.
Rani menendang kaki Kiara. Memberi isyarat supaya anak bungsunya itu berhenti bicara. Tapi dasarnya Kiara, dia justru semakin menjadi begitu tahu kini Basti sedang berjalan di belakangnya.
"Kalau Kiara jadi Bapak, Kiara jelas lebih memilih buat jeblosin Bastian Dirgantara ke penjara, supaya dia bisa belajar bagaimana caranya menghargai wanita! Jangan mentang-mentang anak orang kaya, bisa bertindak seenaknya sama orang lain! Anak sama Ibu kok sama saja! Bisanya cuma membuat hidup orang lain susah!" teriak Kiara, sarkas. Dari balik wajahnya, dia mencoba menyembunyikan senyum penuh kepuasan. Bahkan dia tidak perduli dengan pelototan Rani padanya.
Hingga akhirnya, terdengar sebuah suara pintu yang tertutup. Itu artinya, laki-laki bernama Bastian itu kini sudah masuk ke dalam kamar.
Kiara hanya menggumam saat mendengar omelan Rani dan Ibnu di ruang keluarga. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan keputusan orang tuanya terhadap kehidupan Kakaknya. Jika Kiara menjadi Raline, Kiara akan lebih memilih kabur dari rumah daripada harus dinikahkan dengan laki-laki brengsek macam Basti.
Laki-laki yang sudah dengan tega memperkosa Raline hingga hamil.
Malam ini cuaca sedikit mendung. Tak ada satu pun bintang yang muncul. Awan hitam itu begitu pekat menggulung di angkasa. Berjalan pelan dan berarak tanpa sedikit pun perduli, bahwa kehadiran mereka telah menjadi penghalang bagi bulan dan bintang untuk saling melepas rindu.
Sudah hampir setengah jam berlalu, Raline masih asik bergumul dengan lamunannya. Menatap langit melalui jendela kamarnya.
Satu hal yang menjadi kebiasaan Raline sejak kecil, yaitu termenung sendirian menatap ke arah langit dalam waktu yang bisa di bilang cukup lama. Berjuta beban pikirannya seolah berkurang saat dia melakukan hal itu. Tapi sayangnya, malam ini Raline tak merasakan apapun. Bahkan setelah kepalanya hampir pegal karena terus menerus menatap ke arah langit.
Luka batin di dalam dirinya masih saja menggelayut dan berdenyut.
Raline beranjak dari sisi jendela kamarnya, dia menghela napas berat lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
Sebuah kamar kecil yang sangat sederhana. Tak banyak barang di dalamnya. Hanya berisi satu buah meja belajar usang tempat Raline menyimpan koleksi buku bacaanya. Satu buah lemari pakaian berukuran sedang serta satu kasur lantai busa yang cukup hanya untuk satu orang saja. Bisa sih berdua, tapi tidurnya harus saling berhimpitan.
Raline baru saja selesai mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan membersihkan wajahnya dari riasan make up, ketika seseorang memasuki kamarnya dari arah luar. Seorang laki-laki yang mengenakan celana pendek dan kaos tipis. Dia tersenyum pada Raline. Meski, senyumnya tak mendapat sambutan baik.
Laki-laki itu berjalan ke arah Raline yang saat itu sedang bersiap untuk tidur.
"Makan dulu, Lin. Nih aku ambilin makanan dari dapur. Seharian inikan kamu belum makan. Aku suapin ya?" ucap Basti dengan sepiring nasi beserta lauk pauk di tangannya. Kini, laki-laki itu mulai menyendokkan sesuap nasi untuk Raline.
Raline tidak bereaksi.
"Kamukan lagi hamil, harus banyak-banyak makan sayur, ayo makan dulu," kata Basti lagi masih dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Dengan tulus, Basti hendak menyuapkan satu sendok nasi itu ke mulut Raline, namun sesuatu yang tanpa pernah dia sangka-sangka pun terjadi.
PRANG!
Dengan kasar Raline menepis sendok itu agar menjauh dari mulutnya. Tak sampai di situ, Raline juga menyenggol kuat piring yang di pegang oleh Basti hingga benda pecah belah itu jatuh dan hancur di lantai. Bunyi berisik itu sontak menarik perhatian Rani dan Ibnu yang masih berada di ruang keluarga.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu pun terdengar dari luar di iringi pertanyaan khawatir dari mulut Rani. "Lin, ada apa? Suara apa tadi? Kalian baik-baik sajakan?"
Basti buru-buru membuka pintu.
"Nggak apa-apa Bu. Basti nggak sengaja, tadi pecahin piringnya, maaf ya Bu," ucap Basti menjelaskan, meski bukan yang sebenarnya.
Rani melongok ke dalam kamar itu. Dia melihat Raline kini tertidur di kasur dengan menutup semua tubuhnya dengan selimut.
"Ya sudah, biar Ibu bantu bereskan,"
"Nggak usah, Bu. Biar Basti aja yang beresin. Ibu istirahat aja," ucap Basti yang jadi tak enak hati pada Ibu mertuanya yang memang sangat baik itu.
"Kalau begitu, nanti kamu ambil saja makanannya lagi. Di dapurkan masih banyak. Ibu tahu dari pagi kamu belum makan Basti," ucap Rani sambil tersenyum. Entah apa yang dia rasakan pada sosok Basti justru berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan anak-anaknya. Sebagai seorang Ibu, Rani bisa melihat adanya ketulusan dari sikap Basti yang memang dasarnya pendiam dan tidak banyak bicara. Menurut Rani, Basti itu laki-laki yang sopan dan baik. Meski, dia sendiri tidak menampik satu kesalahan besar yang Basti lakukan terhadap Raline anaknya. Tapi, jika boleh jujur, Rani tidak bisa membenci Basti. Apalagi bersikap kasar pada laki-laki itu. Rani sendiri tidak mengerti kenapa, walau terkadang sifatnya ini kerap di salah artikan oleh Raline dan Kiara yang menganggapnya sebagai Ibu yang materialistis. Tapi biarlah, mau mereka berpendapat apapun, Rani tidak perduli, yang jelas, dia yakin bersama Basti, Raline pasti bisa bahagia.
Setelah kepergian Rani, Basti menutup pintu kamarnya dan berdiri sejenak di belakang pintu. Dia menatap ke arah lantai kamar yang kini berantakan dan kotor. Basti menghela nafas berat, sebelum akhirnya dia berjongkok dan mulai membersihkan pecahan-pecahan kaca itu. Sesekali dia menoleh ke arah kasur, di mana Raline kini tertidur dengan posisi miring membelakanginya. Tubuh istrinya itu tertutup rapat oleh selimut.
Basti menggeleng pelan dan kembali tersenyum hambar.
Sebelumnya, dia sudah menduga bahwa malam pertamanya dengan Raline pasti akan berakhir dengan sesuatu yang menyedihkan.
Mungkin Raline masih membutuhkan waktu untuk benar-benar bisa menerima dirinya.
Basti hanya perlu bersabar.
*****
Pagi harinya, Basti terbangun saat sinar matahari sudah menerobos masuk melalui jendela kamarnya. Keningnya mengernyit karena silau. Dia menoleh ke arah kasur di mana tempat itu kini telah kosong.
Basti bangkit dan menggulung tikar yang dia gunakan untuk alas tidurnya di lantai.
Awalnya, tidur hanya dengan beralaskan sebuah tikar cukup membuat seluruh tubuh Basti merasakan nyeri dan ngilu. Namun setelah hampir satu bulan belakangan ini, dia tinggal menumpang di rumah Raline, Basti sudah cukup terbiasa dengan kondisinya sekarang. Dan tubuhnya pun sudah bisa beradaptasi dengan keadaan lantai yang dingin dan keras. Serta tikar yang seringkali membuat kulitnya sedikit gatal-gatal.
"Raline sudah berangkat, Bu?" tanya Basti begitu dia keluar dari kamar dan mendapati Rani dan Kiara sedang bebenah di dapur.
"Iya, Raline bilang dia ada jadwal interview kerja hari ini, dia berangkat bareng Bapak," jawan Rani sambil tersenyum. "Sarapan dulu Bas, itu Ibu sisakan untuk kamu ayam gorengnya di meja makan," ucap Rani lagi.
"Iya, Bu. Makasih," ucap Basti seraya beranjak dari dapur menuju meja makan kecil di ruangan sebelahnya. Saat dia membuka tudung saji rotan di atas meja, dia hanya melihat nasi, sambal dan kerupuk.
Mana ayam gorengnya? Pikir Basti heran. Padahal jelas-jelas dia tadi mendengar Ibu mertuanya mengatakan ada ayam goreng di meja makan.
"Nyari ayam goreng ya? Nih, udah masuk ke perut gue. Malahan udah keluar lagi tadi," bisik Kiara saat dirinya melewati Basti dari arah belakang.
Basti menutup kembali tudung saji itu. Dia menarik nafas panjang. Sabar Bas... Ujarnya dalam hati.
"Tenang aja Mas Basti yang tampan dan kaya raya, tuh gue sisain sambel terasi sama kerupuk udang buat lo sarapan. Kurang baik apa coba gue? Lagian, lo kan anak orang kaya, lo tinggal telepon aja tuh restoran mahal terus delivery deh, bereskan?" sambung Kiara lagi. Dia menoleh ke arah dapur, takut-takut sang Ibu tiba-tiba nongol.
Basti hanya diam menanggapi ocehan adik iparnya itu yang jika bicara selalu nyelekit di hati.
"Cari kerja sana. Mba Raline aja udah berangkat dari shubuh buat cari kerjaan, ini kok kepala rumah tangga malah asik-asik molor aja di kamar. Lo nggak malu apa? Udah hidup numpang, bisa ikut makan enak di sini setiap hari, gratis pula. Huhhh, Bokap gue tuh cape cari duit, pergi pagi pulang malem, masa iya cuma buat biayain menantu nggak tau diri kayak lo!"
Basti yang saat itu hendak masuk kembali ke dalam kamarnya, sempat terdiam di ambang pintu. Kalimat pedas itu jelas menikam perasaannya.
Dia sangat tersinggung. Tapi, dia harus bisa menahan caci maki itu, karena dia tahu Kiara hanya seorang wanita. Basti tidak mau lepas kendali. Dia harus tetap mengontrol emosinya. Dan semua itu dia lakukan karena dia masih menghormati ibu mertuanya dan Raline sebagai istrinya. Satu-satunya wanita yang sangat dia cintai.
"Kamu nggak usah khawatir, Ra, aku pasti bakal cari kerja kok." ucap Basti kemudian. Dia berusaha untuk tetap menyunggingkan senyumannya ke arah Kiara. Meski sangat berat.
"Bagus deh kalau gitu! Lunasin tuh, semua biaya yang udah Ibu dan Bapak keluarin buat resepsi pernikahan lo sama Mba Raline, dan satu lagi, tabungan Mba Raline untuk kuliah juga jadi terpakai untuk biaya pernikahan kalian, lo nggak tahukan gimana hancurnya perasaan Mba Raline, saat dia harus menerima kenyataan kalau rencananya untuk kuliah gagal. Dan semua itu gara-gara ulah lo! Dasar manusia robot! Nggak punya hati! Lo udah ngancurin hidup dan masa depan kakak gue, jadi jangan harap lo bisa hidup tenang di rumah ini, selama masih ada gue di sini? Ngerti lo!"
Kiara pergi dan masuk ke dalam kamarnya begitu dia selesai dengan kalimat panjang nan sarkasnya itu.
Sementara Basti, kini hanya berdiri termangu di depan pintu kamarnya. Perasaan bersalahnya pada Raline kian menjadi-jadi.
Dia benar-benar tidak tahu perihal uang tabungan kuliah Raline yang harus terpakai untuk biaya pernikahan. Lagipula, sejak awal, Basti sudah mengatakan bahwa pernikahan mereka cukup di adakan secara sederhana saja, tapi ke dua orang tua Raline sendiri yang menginginkan pernikahan itu dibuat meriah.
Lantas, darimana Basti bisa mendapatkan uang-uang itu? Sementara dia saja kesulitan mencari pekerjaan selama ini.
Seandainya pun Basti sampai di terima bekerja di sebuah perusahaan, hal itu tak akan berlangsung lama. Tidak sampai satu minggu, Basti pasti akan menerima panggilan untuk pemecatan secara tidak hormat dan dengan alasan yang terkadang tidak masuk di akal.
Dan hal itu terjadi bukan hanya satu kali. Tapi sudah berkali-kali.
Tepatnya, sejak satu bulan yang lalu dia di usir dari rumahnya sendiri, oleh seorang wanita yang bernama Helen Anastasya Dirgantara.
Yang tak lain dan tak bukan, adalah Ibu Kandungnya sendiri.
*****
Lagi dan lagi, untuk yang ke sekian kali, lamaran pekerjaan Raline di tolak oleh perusahaan-perusahaan pencari kerja dengan beribu alasan.
"Maaf Mba, kriteria pekerja yang kami cari tidak sesuai dengan diri Mba. Zaman sekarang mencari pekerjaan hanya mengandalkan lulusan SMA saja susah Mba. Perusahaan kami itu mencari karyawati yang masih fresh graduate dan masih single. Silahkan Mba cari pekerjaan di tempat lain saja Mba," ucap seorang karyawan yang bertugas menginterview para pelamar baru hari ini. Dia mengembalikan berkas milik Raline yang telah dia masukkan kembali ke dalam sebuah amplop coklat.
Raline tersenyum pahit seraya menerima berkas lamarannya yang di tolak.
Ini sudah perusahaan ke lima yang dia datangi. Tapi, tak ada satu pun yang mau menerimanya.
Huft...
Raline menarik nafas berat dan menjatuhkan tubuhnya di atas bangku sebuah halte bus. Berjalan kaki menggunakan heels yang cukup tinggi ternyata sangat melelahkan. Raline merasa kaki-kakinya kini kram dan kesemutan. Belum lagi cuaca terik yang membakar ibukota, membuat dahaganya kian menjadi-jadi.
Raline masih duduk di halte dan mulai menenggak sebotol air mineral dingin yang baru saja dibelinya dari warung rokok di pinggir jalan.
Raline melonggarkan kakinya dari sepatunya yang terasa mencekik sebab sepatunya itu sudah sangat sempit dan tidak nyaman lagi di gunakan. Harusnya sepatu itu sudah pensiun dan tidak layak pakai, hanya saja, Raline tidak memiliki cukup uang untuk membeli sepatu baru. Jadilah dia membiarkan jari-jari kakinya kini lecet dan perih.
Seandainya dia tidak menikah dengan Bastian, mungkin dia bisa melanjutkan kuliah. Mungkin dia tidak akan seperti ini sekarang dan mungkin, dia tidak akan kehilangan pekerjaannya yang dulu.
Raline tahu, semua masalah dalam hidupnya yang dia alami secara bertubi-tubi saat ini, semua tak lepas dari campur tangan Helen Anastasya Dirgantara.
Wanita kejam yang kini menjadi Ibu mertuanya.
Wanita kejam yang sangat-sangat tak berperasaan.
Hari ini nasib Basti tak jauh lebih sial dengan Raline. Mereka sama-sama pergi mencari pekerjaan, tapi sama-sama gagal.
Hanya saja Raline pulang lebih awal dari pada Basti yang pulang setelah jam makan malam sudah lewat.
Basti terlihat kusut malam ini. Dia pulang dalam keadaan yang cukup memprihatinkan setelah tadi sempat terkena sasaran amukan seorang pengendara bermotor yang kesal padanya karena menyeberang jalan sambil melamun.
Alhasil, dia mendapat tanda mata dari si pengendara motor berupa bogem mentah di pelipis kirinya.
"Ya ampun Bas, pipi kamu kenapa biru begini?" tanya Rani yang langsung berhambur ke arah Basti saat menantunya itu muncul dari balik pintu.
"Nggak apa-apa Bu," jawab Basti pelan lalu permisi untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Makan dulu, Bas?" ucap Rani lagi sebelum Basti benar-benar pergi.
"Iya, Bu. Basti mau mandi dulu,"
Sebelum masuk ke dalam kamar, Basti sempat mendengar percakapan antara Ibnu dan Rani di ruang Tv.
"Nanti kita cari jalan keluarnya Bu. Kita pinjam uang di Bank saja. Soalnya, karena kejadian itu Bapak jadi di pecat dan harus ganti rugi juga. Orang yang Bapak tabrak itu mau menuntut melalui jalur hukum kalau Bapak tidak menyanggupi biaya ganti rugi yang dia ajukan,"
"Jahat sekali dia. Padahal dia tahu Bapak cuma supir taksi, kok bisa-bisanya dia meminta uang ganti rugi sebanyak itu?" ungkap Rani dengan nada sedih, bingung, bercampur marah.
Basti merasa penasaran dengan masalah yang sedang dihadapi Bapak dan Ibu mertuanya itu. Tapi, kalaupun dia tahu apa masalah yang kini sedang dihadapi ke dua Ibu dan Bapak mertuanya itu, dia sendiri tidak akan bisa membantu. Jadi, lebih baik dia diam dan berpura-pura tidak tahu saja.
Akhirnya, Basti pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, di mana Raline sedang menerima telepon. Basti sempat melihat Raline tertawa di telepon itu, meski tawa itu kian memudar seiring kehadiran dirinya di kamar itu. Bahkan, Raline justru memilih keluar tanpa sedikit pun perduli pada wajah suaminya yang bonyok serta kemeja putih Basti yang kotor dan kusut.
"Iya-iya sebentar Mas, aku mau pindah dulu," ucap Raline pada lawan bicaranya ditelepon tepat saat dia berjalan melewati Basti.
Setengah jam berlalu, Basti sudah selesai mandi dan dia sengaja menunggu Raline masuk ke dalam kamar. Sepertinya, dia perlu bicara serius dengan Raline malam ini.
Tak lama setelah itu, Raline terlihat masuk ke dalam kamar dengan senyuman yang sempat terukir di wajah manisnya. Meski senyuman itu tak bertahan lama dan langsung memudar begitu tatapannya tertuju pada lelaki yang kini resmi menjadi suaminya.
"Kamu habis teleponan sama siapa?" tanya Basti dengan nada suaranya yang dia usahakan selembut mungkin. Padahal dalam hati, Basti tahu dia sedang dilanda rasa cemburu. Hatinya terbakar saat dia harus mendengar pembicaraan Raline di telepon itu.
Sebab, beberapa menit yang lalu saat dia baru saja keluar dari kamar mandi, Basti sempat menguping pembicaraan Raline di belakang rumah. Dan amarah Basti semakin nyata ketika dirinya harus mendengar Raline yang memanggil lawan bicaranya di telepon dengan panggilan Mas.
Apa-apaan?
"Lin, kamu habis teleponan sama siapa tadi?" tanya Basti mengulang pertanyaannya yang tak kunjung di jawab oleh Raline. Wanita itu justru sibuk mengetik-ngetik sesuatu pada ponsel di tangannya sambil menyambungkan charger ponsel itu ke stop kontak. Raline duduk di tepi jendela kamarnya.
Basti yang kesal karena merasa di acuhkan jelas tidak mau tinggal diam. Dia mengambil ponsel di tangan Raline secara paksa. "Aku bicara sama kamu, Lin! Tolong hargai aku sedikit!" katanya dengan nada yang mulai meninggi. Emosinya mulai terbaca oleh Raline.
"Hargai?" Raline tertawa hambar dengan wajah yang melengos cuek. Seolah-olah apa yang baru saja dikatakan suaminya adalah hal yang lucu. Sangat lucu, bahkan. "Setelah apa yang kamu lakukan padaku, lalu kamu bilang aku harus menghargai kamu? Kamu sedang melawak apa sedang mengigau? Hah?" teriak Raline tepat di depan wajah Basti. Mata wanita itu melotot dengan tatapan sarat emosi. Ke dua sisi rahangnya mengeras.
"Tapi aku suamimu sekarang, Lin," bahu Basti merosot seketika. Suaranya kali ini terdengar lemah. Selemah dirinya yang memang tak memiliki daya apapun saat ini. Harga dirinya sebagai kepala rumah tangga benar-benar tak bisa dia pertahankan. Basti sadar, kesalahan yang telah dia lakukan memang sudah sangat fatal. Tapi, entah mengapa, relung hatinya menentang keras hal itu. Ada sebagian dalam dirinya yang mengatakan bahwa bukan dia pelakunya. Bukan dia yang sudah memperkosa Raline. Meski, hal itu tidak bisa dia buktikan. Basti benar-benar terjebak dalam dilema yang berkepanjangan. Dilema yang membuatnya hampir putus asa.
"Lalu? Kamu mau apa dariku sekarang?" tanya Raline menantang. Dagunya terangkat ke atas. Dia menatap Basti dengan penuh keberanian. Bahkan kini, Raline terlihat mulai membuka satu persatu kancing baju teratasnya. "Kamu mau tubuhku? Kamu mau aku menunaikan kewajibanku sebagai seorang istri? Iya? Oke, akan aku lakukan!"
Basti berjalan mundur karena Raline kini terus berjalan maju ke arahnya, hingga akhirnya, langkah Basti terhenti saat tubuhnya mentok di pintu kamar.
Raline sudah membuka kaus hitamnya dan menyisakan bra merah yang menutupi payudaranya yang ranum dan begitu menggiurkan. Tatapan amarahnya kian menjadi-jadi. Menguliti setiap jengkal wajah laki-laki bajingan dihadapannya. Jika memang dia harus menjadi seorang pelacur, Raline akan melakukannya malam ini. Bukankah harga dirinya sudah hancur berantakan, terkoyak hingga ke akar-akarnya. Bagi Raline tubuhnya kini sudah tak lebih dari sebuah barang yang bisa di nikmati sesuka hati. Tak berharga. Tak bernilai sama sekali. Jadi untuk apa dia malu?
Manusia biadab ini sudah meluluhlantahkan harga dirinya, kehormatannya sebagai seorang wanita. Sampai Raline sempat berpikir bahwa dirinya kini hampir gila.
Gila karena terus menerus larut dalam kesedihan yang sama.
Di saat dia tahu, bahwa dirinya telah di nodai oleh laki-laki yang jelas-jelas begitu dia cintai selama ini. Satu-satunya laki-laki yang telah mendiami relung hatinya yang kosong dan telah tinggal di sana untuk waktu yang cukup lama. Satu-satunya laki-laki yang dia harap bisa menjadi tumpuan harapan manis dalam kehidupannya di masa depan.
Hingga pada saatnya, Raline terbangun dari semua mimpi-mimpi indahnya itu. Dia terbangun, dalam keadaan yang begitu mengenaskan. Dia terbangun, saat mahkota sucinya telah di renggut secara paksa bahkan tanpa permisi. Dan sejak itulah, seluruh perasaan cintanya pada Basti musnah seiring dengan pupusnya asa yang terganti oleh perasaan benci yang tiada tara.
Raline memang mencintai Basti, tapi dia tetap tidak bisa menerima kenyataan jika Basti harus memperlakukan dirinya serendah itu.
"Ayo jamah aku! Ayo perkosa aku seperti waktu itu! Sekarang kamu bisa melakukan apapun terhadapku, Bas! Nggak akan ada yang menyalahkanmu! Ayo! Lakukan!" perintah Raline lagi. Teriakannya bahkan terdengar keluar.
Rani dan Ibnu hanya bisa menangis mendengar teriakan anaknya dari dalam kamar.
"Bukan aku pelakunya, Lin! Bukan aku yang memperkosa kamu! Harus berapa kali lagi aku bilang?" ucap Basti pada akhirnya.
Basti memungut pakaian Raline yang tercecer. "Pakai baju kamu, Lin!" perintah Basti seraya melempar tank top Raline ke arah wanita itu. Sebenarnya Basti sendiri tidak ingin munafik. Sebagai seorang suami jelas dia menginginkannya. Dia ingin Raline malam ini. Tapi, bukan atas dasar keterpaksaan wanita itu. Basti tidak ingin menjadi laki-laki egois yang mementingkan nafsunya daripada perasaan wanitanya sendiri. Basti ingin, seandainya memang hal itu harus terjadi, semua atas kehendak Raline sendiri. Basti berharap Raline bisa benar-benar menerimanya.
Basti mencoba menghindar. Dia memalingkan wajahnya dari hadapan Raline sebelum dia benar-benar dibakar hasratnya sendiri. Sungguh, perasaan ini sangat menyiksanya.
"Kalau memang bukan kamu pelakunya, lalu untuk apa kamu bersedia menikah denganku? Kamukan anak dari Ibu Helen yang terhormat dan berkuasa, kenapa kamu nggak menyewa pengacara untuk membebaskanmu dari hukuman penjara? Kenapa, Bas?" Raline memakai kembali tank topnya. Air mata wanita itu mulai menggenang.
"Harus aku menjawab kenapa?" ucap Basti dengan suaranya yang mulai terdengar parau. Bola mata coklat maroon laki-laki setengah bule itu mulai berkaca-kaca. Dia kembali menatap ke arah Raline.
Raline terdiam untuk beberapa saat. Dia mencoba mencerna kembali pertanyaanya sendiri. Dan menerka kemungkinan yang akan di ucapkan oleh Basti. Meski setelahnya dia berusaha untuk tidak benar-benar perduli. Sebab alasan apapun yang akan di ucapkan oleh Basti, tak akan mampu melunturkan perasaan bencinya terhadap laki-laki itu.
"Aku cuma mau kamu yang dulu, Lin. Aku rindu Raline yang dulu. Raline yang periang dan selalu menjadi alasanku untuk tersenyum. Aku cuma mau kamu melupakan kejadian itu. Kita mulai semuanya dari awal. Cuma kamu dan aku. Aku mau kamu terima aku apa adanya, Lin... Itu aja," Basti kembali berbalik dan menatap Raline yang kini berdiri dengan wajah yang terus menunduk. Basti tahu, Raline sedang menangis.
"Aku mencintaimu, Lin. Aku nggak mau kamu menjalani kehamilanmu tanpa seorang suami. Aku nggak mau kamu, Ibu dan Bapak malu akibat kehamilanmu itu. Itulah sebabnya, aku memilih untuk pergi dari rumah dan terpaksa meninggalkan segalanya. Mengenai masalah uang tabungan kuliahmu yang terpakai untuk biaya pernikahan, aku janji akan menggantinya secepat mungkin. Aku akan berusaha untuk segera mendapat pekerjaan. Aku yang akan membiayai kuliahmu nanti, Lin..." Basti mulai berjalan mendekat ke arah Raline. Meski dia belum memiliki keberanian untuk menyentuh tubuh istrinya.
Detik dan menit berlalu, mereka masih saling diam dalam kebungkaman masing-masing. Masih saling merenungi apa yang seharusnya dilakukan.
Hingga setelahnya, wajah Raline perlahan mulai terangkat. Mata hitam wanita itu terlihat sembab dan sedikit memerah. Ditatapnya Basti dalam-dalam. Seolah mencari kebenaran atas apa yang baru saja laki-laki itu katakan.
"Maaf, Bas. Apapun alasan yang kamu katakan, hatiku tetap nggak bisa menerimanya. Kejadian malam itu seolah mendarah daging di dalam diriku, bahkan setiap kali aku memejamkan mata, aku seolah melihat siluet kejadian malam itu dengan begitu nyata! Kesakitanku malam itu sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Bas... Aku hancur Bas..." Raline menelan salivanya yang terasa pahit. Kejadian itu sungguh menyisakan trauma mendalam bagi diri Raline. Sulit baginya untuk melupakan semuanya. Terlebih, dengan keberadaan Basti di sisinya sekarang.
"Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa melupakan semuanya, Lin? Apa yang bisa aku lakukan supaya aku bisa melihat Raline yang dulu kembali?" tanya Basti dengan penuh keyakinan. Dan apapun jawaban Raline, dia akan mengabulkannya. Jika memang itu yang terbaik.
"Menghilanglah dari pandanganku, Bas! Untuk selama-lamanya..."
Dan Basti pun tertegun.