“Maaak? Nasinya mana??” protes Pak Priyo menggelegar ke seluruh isi rumah. Menggetarkan jendela. Mengguncang lantai. Dan menggoyang kasur Bu Parmi yang tengah asyik leyeh-leyeh di kamarnya. Perempuan berusia lima puluhan itu pun terbirit-birit ke dapur. Meringis saat suaminya memelintir kumis.
“Loh! Perasaan tadi masih penuh loh, Pak?” Bu Parmi kebingungan melihat isi magic com yang tiba-tiba tinggal kerak.
“Ya udah sih, Mak ..., tinggal masak lagi apa susahnya?” Nuning tiba-tiba nongol sambil bersendawa, mengelus perutnya yang kekenyangan usai menyikat habis isi meja makan hingga licin mengkilat sampai-sampai bisa bikin kepleset lalat yang hinggap.
“Oooh pasti ini dia biang keroknya!” omel Bu Parmi sambil menuding anak gadisnya itu dengan centong nasi.
Nuning ambil langkah seribu sebelum centong itu sempat mendarat di kepalanya. Terbirit-birit kabur meninggalkan emaknya yang ngomel-ngomel di belakangnya, ngepot-ngepot mengejarnya sambil mengacung-acungkan centong bukan sembarang centong, itu centong sakti yang sudah puluhan kali bikin kepalanya benjol.
Nuning melompati pagar dengan lincah. Rambut panjangnya yang dibiarkan terurai pun menghamburkan jutaan ketombe di udara. Gadis itu menerobos jemuran tetangga dengan rusuhnya. Bikin janda semok sebelah rumah menjerit-jerit mengira ada maling mau nyolong pakaian dalamnya.
Nuning pun cekikikan setelah merasa aman dari kejaran makhluk berdaster yang tak lain emaknya sendiri.
“Ngapain ketawa-tawa sendirian? Obat lagi habis?” tegur Jaka sambil memiringkan telunjuknya di kening.
Nuning meringis jijik karena Jaka menegur sambil menjitak keningnya dengan permen kojek yang baru keluar dari mulutnya. Dia mengumpat sambil menginjak kaki Jaka, bikin cowok jangkung itu meringis kesakitan.
“Ngapain ngumpet-ngumpet? Kayak habis maling aja?” tanya Jaka.
Nuning nyengir. “Emang!” Lalu melenggang santai menuju lapangan. Ada lomba layangan sore ini yang tak boleh dilewatkan. Meskipun sudah berseragam putih abu-abu, tapi layangan tetap menjadi hiburan favoritnya. Apalagi layangan Jaka sering membuatnya menang taruhan lawan anak-anak kampung.
“Eh, beneran? Emangnya mangga Mbah Surip udah pada mateng?” tanya Jaka dengan mata berbinar.
Mangga Mbah Surip memang sudah jadi langganan curian mereka sejak zaman SD. Soalnya mangganya enak, buahnya lebat. Sekali srampang langsung berjatuhan. Posisinya yang di pinggir jalan bikin mereka kebiasaan nyolong sambil lewat. Salah sendiri yang punya pelit, diminta baik-baik nggak boleh. Sementara buahnya yang lebat dan ranum seringkali melambai-lambai, nantangin minta dipetik.
“Bukan nyolong mangga, tapi nyolong ayam penyet jatahnya bapakku. Salah sendiri sama emak pake diumpetin segala. Nggak adil namanya, masa anaknya disuruh makan tempe bapaknya makan ayam? Kan kebalik. Siapa yang sedang dalam masa pertumbuhan coba?” sahut Nuning sambil cekikikan.
“Wah, gendeng kamu Ning. Nggak kapok apa uang jajanmu ntar disunat lagi?”
“Lah, kan ada kamu?” Nuning mengalungkan lengannya ke pundak Jaka.
Jaka mengedikkan pundaknya, menyingkirkan tangan Nuning darinya. “Memangnya aku ATM-mu? Ngomong kok kayak kentut, lega di kamu tapi bikin eneg yang denger,” cebiknya jengkel. “Seratus ribuku yang kemarin aja belum balik, ini udah mau nadah lagi? Kayaknya kamu memang cocoknya jadi tukang palak, deh!”
“Kayaknya sih gitu, Jak. Kalau malakin kamu aja bisa kaya, ngapain juga repot-repot mikirin kerjaan lain?”
“Sompret minta dikepret!” gerutu Jaka keki.
Nuning terkikik senang sambal menaiki punggung Jaka yang otomatis memeganginya. “Buruan, Jak! Ntar lomba layangannya keburu mulai!”
Jaka menurut tanpa banyak bacot. Dia lari menuju lapangan dengan Nuning yang tertawa merdeka di gendongan belakang. Orang-orang kampung sudah tak aneh lagi melihat kelakuan duo abege yang gesrek dan tukang bikin rusuh itu.
Nuning, terkenal suka menakuti anak-anak pulang mengaji, pura-pura menyamar jadi Kunti, gelantungan di pohon pakai mukena. Sedangkan Jaka, kebagian menyamar jadi pocongnya.
Meskipun sudah menjadi rahasia umum kalau duo setan itu cuma cosplay, tapi tetap saja sukses membuat takut anak-anak. Bikin duo setan jadi-jadian itu senang, sementara setan betulan yang gaweannya sedang disabotase oleh mereka cuma bisa geleng-geleng saja di pojokan.
Mereka berdua pula yang suka bikin kalong-kalong di kebun minder karena kalah skill nyolong. Mbah Surip pun cuma bisa pasrah memandangi mangganya yang tak pernah awet di pohon.
***
Pak Priyo selama ini terkenal dengan keangkerannya. Kumisnya yang lebat dan perawakannya yang tinggi besar serta suaranya yang menggelegar, suka bikin semaput anak-anak kecil yang berpapasan dengannya. Mungkin karena kebiasaan orang tua mereka yang suka menakuti anak-anaknya pakai nama Pak Priyo. “Awas loh kalau nakal, ntar ditangkap Pak Pri!” begitu kata emak-emak mereka. Padahal Pak Priyo bukan Polisi, bukan TNI, bukan pula satpol PP yang suka beringas saat penertiban bangunan liar. Beliau cuma kepala satpam pasar yang suka bawa pentungan.
Sayangnya, keangkeran Pak Priyo malah tak mempan untuk menghadapi anaknya sendiri. Nuning, anak gadisnya yang bontot justru sering bikin ulah yang bikin Pak Priyo sepaneng. Bikin Bu Parmi mengelus dada dan berpikir keras dulu pernah mengidam apa. Mungkin ada yang belum keturutan jadinya begitu si anak lahir, besarnya jadi ugal-ugalan.
“Mak, aku maluuu. Nuning tuh, Mak!” keluh Bambang, si anak sulung yang satu sekolah dengan Nuning.
Bu Parmi menarik napas, menguatkan jantung, siap-siap menerima cobaan lagi. Minggu lalu sudah dua kali dipanggil kepala sekolah karena Nuning tawuran dan mengunci kakak kelasnya di WC sekolah dan menggembesi motor gurunya. Sekarang, apa lagi?
“Mendingan nggak punya adik sekalian daripada bikin malu aja!” keluh Bambang sambil membanting tas sekolahnya ke kursi. Lalu menghempaskan badan lelahnya ke sebelah si emak yang mukanya ikut kusut.
“Bilangin Nuning dong, Mak. Kalau nggak niat sekolah, mending suruh kawin aja terus pergi sana ikut suaminya. Serah mau ke mana. Ke hutan kek, kebun binatang kek, ke dunia lain kek,” oceh Bambang dengan sekali tarikan napas. Bikin muka Bu Parmi tambah berlipat-lipat bingung.
Bambang emosi! Percuma rasanya jadi bintang kelas, bintang sekolah, bintang lapangan, tapi punya adik yang hobinya bikin malu. Nuning selalu jadi bahan gunjingan di sekolah karena ulahnya yang sering bikin gempar. Dia kerap dapat hukuman karena suka datang terlambat, tapi tak pernah kapok dapat hukuman keliling lapangan sambil berjongkok. Nuning juga suka mengompori teman-temannya mengosongkan kelas saat pelajaran. Lalu jadi komando teman-temannya bolos melompati pagar. Kalau ada lomba panjat pagar sekolah, Nuning pasti sudah jadi juaranya. Rok panjang sepertinya tak jadi halangan bagi adiknya untuk urusan panjat memanjat dan lompat melompat. Monyet aja kalah lincah!
Pokoknya punya adik macam Nuning jadi beban mental bagi Bambang yang seorang ketua OSIS. Bagaimana mau digubris warga sekolah kalau mengurus satu adik perempuan saja tak becus? Wibawanya bagai dikuliti tingkah adiknya sendiri yang rajin melanggar ketertiban.
“Sabar tho, Mbang. Kok jangankan kamu, lah bapakmu aja ikut mumet kok mikirin adikmu satu itu.”
“Ya makanya itu, kawinin aja biar tau rasa!”
“Iya kalau ada yang mau? Tau sendiri kelakuan adikmu itu sudah nyebar seantero kampung,” cebik Bu Parmi ngenes sendiri memikirkan masa depan anak gadisnya yang super absurd. Sudah tampangnya pas-pasan, kelakuan dan prestasi tak bisa dibanggakan.
“Jodohin aja sama duda juragan empang. Dengar-dengar dia lagi cari bini. Biar emak nggak usah khawatir Nuning bisa makan apa nggak, karena suaminya kaya, kan bisa ngasih makan yang banyak. Dia mau makan sepuluh bakul sehari juga udah bukan tanggung jawab Emak lagi,” cibir Bambang jengkel.
Adiknya itu kalau makan persis kerbau bunting! Nasi sepiring pernuh, masih bisa nambah. Herannya badan adiknya tetap mungil dan tak bisa gendut meskipun suka makan tiga piring berturut-turut. Jangan-jangan cacingnya lebih panjang ketimbang ususnya!
“Husss. Sembarangan! Gitu-gitu dia adikmu! Sabar-sabar aja, itung-itung buat nambah pahala.”
“Yang ada mah nambah dosa dan penyakit punya adik kek dia.”
“Kalau ngatain orang bisa lebih keras dikit nggak? Orangnya nggak denger nih,” celetuk Nuning yang tiba-tiba nongol sambil nyengir, masih memakai seragamnya yang warnanya tak putih abu-abu lagi. Tapi Bambang akan lebih heran kalau rok adiknya belepotan dengan darah mens ketimbang belepotan tanah seperti itu. Pasti habis dari lapangan main layangan, atau duduk-duduk di tegalan sambil menikmati mangga hasil colongan.
Memandangi seragam Nuning yang kumal, Bu Parmi geleng-geleng sambil mengelus dada. Perasaan ya ..., anak gadis jaman sekarang wangi-wangi, rapi-rapi. Begitu duduk di bangku SMP umumnya sudah pada sadar kerapihan, sadar penampilan, dan peduli kecantikan. Tapi kenapa anak gadisnya yang sudah SMA begini amat?
“Kayaknya kamu perlu ke psikiater deh. Kali aja kena gangguan jiwa. Kalau nggak, bisa aku yang lama-lama gila punya adik kayak kamu!” omel Bambang.
“Beuhhh. Gaya amat! Kayak kita orang berduit aja. Emangnya ke psikiater gak bayar? Ke dukun aja bayar. Kalau bisa dibayar pake daun sih aku mau aja. Soalnya psikiater kan adanya cuma di kota. Ntar sekalian mampir deh ke mall, jalan-jalan. Bosen tau di kampung mulu,” cebik Nuning, “kalau hujan becek, nggak ada ojek...” lanjutnya lagi dengan logat ala Cinta Laura yang kebarat-baratan.
Nah, kan! Ngomong sama adiknya memang suka bikin senewen. Nuning tak pernah peduli biar seluruh dunia menertawakan atau meledeknya. Dia memiliki dunia sendiri. Punya cara menikmati hidupnya, yang tak pernah sejalan dengan cara hidup Bambang sang kakak.
“Omong-omong soal ke kota, kapan yuk Mak kita ke Jakarta?” celetuk Nuning tiba-tiba.
“Ntar, kalau sapinya bapakmu sudah lahiran,” sahut Bu Parmi asal. Memangnya sejak kapan Pak Priyo punya sapi?
“Yah, emaak. Masa kalah sama Mbah Paijo yang sering bolak-balik liat Monas?” protes Nuning mencatut nama tetangganya.
“Mbah Paijo sopir bus Damri? Ya emang trayeknya itu Lampung-Gambir!”
Tapi Nuning tetap merengek tak mau tahu sambil menarik-narik lengan Bu Parmi yang mulai kelimpungan. Sampai-sampai Bambang menggulung buku lalu menggeplak kepala adiknya supaya berhenti bertingkah macam orang kesurupan jin Monas. Nuning pun manyun, merajuk masuk kamar. Dia bahkan melewatkan makan malam.
Pak Priyo dan Bu Parmi keheranan karena untuk pertama kalinya magic com mereka penuh. Tapi bukannya senang nasinya utuh, kedua orangtua itu jadi galau.
Ada apa dengan Nuning?
***
Jaka Wibawa. Daya tariknya memang sudah bawaan orok. Tak heran begitu lahir jadi rebutan mbak-mbak perawat yang ingin menggendong duluan. Pipi gembulnya jadi bahan cubitan. Tangisnya yang kesakitan justru jadi hiburan. Sampai-sampai rumah sakit melarangnya pulang bukan karena telanjur sayang, tapi orang tuanya belum lunas membayar tagihan melahirkan. Begitulah drama kehidupan menyambutnya.
Meskipun kondisi finansial keluarganya pasang surut, tapi ketampanannya tidak. Justu cakepnya makin jadi dan bikin kepincut orang-orang yang melihatnya. Bikin susah kedip. Bikin ngompol anak-anak perempuan yang niatnya kebelet mau ke WC tapi tak jadi karena masih ingin menatap anak pindahan dari SD Jakarta itu.
Saat semua anak perempuan dibuat gugup kala anak pindahan itu menanyakan letak alun-alun tempat festival layangan, Nuning justru langsung memalaknya. “Wani piro?” tanyanya seraya menadahkan tangan.
Jaka yang lugu langsung menyerahkan uang jajannya, bikin mata Nuning seketika ijo. Dipandanginya anak baru itu dari kepala sampai kaki, dari kaki balik ke kepala. Lalu Nuning menyeringai bagai serigala yang baru saja menangkap kelinci tanpa usaha.
Nuning mengipaskan selembar lima ribuan di tangannya itu, kemudian mengantonginya sambil berkata, “Ikuti aku!”
Nuning mengajak Jaka melewati sawah, menyeberangi kali, memutari kampung. Sampai dengkul Jaka hampir copot baru dia membawanya ke alun-alun. Esoknya, Nuning minta jatah jajan lagi atas jasanya membawa Jaka jalan-jalan kemarin.
Begitulah perkenalan mereka dimulai beberapa tahun lalu di kelas 4 SD. Perkenalan yang bikin Jaka sebal sekaligus terkesan. Sejak saat itu, ia ditakdirkan duduk sebangku dengan Nuning selamanya. Sampai lulus SD, SMP, dan sekarang di kelas sebelas SMA pun mereka masih sebangku.
Jangankan PR, setiap ulangan Nuning mencontek habis-habisan pekerjaannya. Kalau soal itu sih tak masalah. Nuning bisa mencuri hasil pikirannya, tapi kan tak bisa mencuri otak pintarnya. Tapi yang memalukan, ketika ada sidak Nuning buru-buru memasukan salah satu komiknya ke dalam tas Jaka sambil mengedip, “Nitip dong,” bisiknya menyebalkan.
Jaka pun cuma bisa pasrah terima nasib ikut digiring ke ruang BP. Dia bingung saat Pak Jono melotot membuka lembar demi lembar komiknya Nuning. Padahal kan cuma komik? Mana tahu dia kalau di dalam komik itu si Wonder Woman-nya lagi telanjang!
Pak Jono mengurut jantungnya yang nyaris kendor. Lalu menyodorkan komik itu ke muka Jaka dengan geram. "Apa-apaan ini?" omelnya.
Jaka seketika syok, tanpa mampu berdalih. Iapun ikut menanggung akibatnya, dijemur di lapangan sampai kering. Sampai kulit putih mulusnya jadi buluk keseringan menemani Nuning dapat hukuman dijemur.
Jaka tak peduli lagi akan nama baiknya yang sudah hancur lebur di sekolah, jika memang itu harga yang harus dibayar sebagai sahabat. Bagaimanapun Nuning telah membuat hidupnya berwarna dan banyak tawa. Main bersama Nuning sering menggenjot adrenalinnya yang sudah lama tertidur pulas. Jaka seperti kembali menemukan dirinya.
“Ngapain pake beli? Petik aja sendiri, di kebun banyak tuh!” kata Nuning dulu ketika Jaka disuruh bibinya membeli mangga.
“Kebunmu?”
“Bukan. Kebun oranglah,” sahut Nuning santai banget.
“Itu mah namanya nyolong.”
“Ya emang,” sahut Nuning lagi-lagi santai dan bikin Jaka memucat. Dia belum pernah mencuri seumur hidupnya.
“Ntar kalau ketahuan gimana?”
“Ya jangan sampai ketahuan dong.”
“Kalau ketahuan?”
“Ya kaburlah.”
“Kalau ketangkap?”
“Ya minta maaf.”
“Kalau nggak dimaafin?”
“Ya itu urusan mereka sama Tuhan, yang penting kan kita udah minta maaf.”
Jaka menelan ludah. Memandangi Nuning yang masih belum mengganti seragam merah-putihnya, agaknya malah belum pulang ke rumah sejak dari sekolah.
“Mau nggak?” desak Nuning bagai setan penguji iman, bikin Jaka bimbang.
“Sini duitnya, beli sama aku aja!” Nuning menadahkan tangan.
Jaka pun menyerahkan uangnya dengan sedikit gugup.
“Tunggu sini. Bentar lagi aku balik,” janjinya sambil mengedipkan sebelah mata.
Benar saja, tak sampai setengah jam, Nuning kembali dengan mangga curiannya. Besar-besar. Wangi menggiurkan karena matang pohon. Bikin Jaka penasaran, segampang itukah nyolong?
“Ning, pernah ketangkep nggak pas nyolong mangga?”
“Jangankan ketangkep, dikejar Mbah Surip pake celurit juga pernah.”
Dikejar pakai celurit?" Jaka memucat. “Kok kamu nggak kapok, Ning?”
“Karena aku bukan pengecut! Lagian ketangkep sama lolosnya lebih banyakan lolosnya, kok. Kalau udah biasa, nanti lama-lama kamu bakalan ahli kayak aku juga. Semua itu cuma soal jam terbang.”
“Nggak takut dosa?”
“Takut itu sama Tuhan, ngapain takut sama dosa?”
“Kalau dosa ntar masuk neraka!”
“Makanya itu habis dosa lekas tobat, biar catatan dosanya dihapus sama malaikat.”
“Terus habis itu nyolong lagi? Percuma dong tobat!”
“Percuma itu kalau ngomong sama kamu! Bilang aja kalau kamu takut? Nggak punya nyali.”
Nah! Ngomong sama Nuning memang seperti ngomong sama tembok. Makin Jaka ngegas, makin kejedot sendiri.
***
“Apa? Komik porno??”
Bu Parmi mengelus jantungnya yang nyaris loncat biar tak ngesot-ngesot ke lantai begitu mendengar laporan Bambang. Dia tak punya jantung cadangan. Meskipun jantungnya yang ini sudah beribu-ribu kali terkena guncangan berita tak enak perihal anak gadisnya, dia berusaha bertahan. Demi keselamatan hidupnya. Bu Parmi belum siap diabsen malaikat pencabut nyawa dengan membawa laporan gagal mendidik anak gadis satu-satunya. Amanatnya sebagai orang tua.
Bu Parmi mengelap keringat dengan tangan gemetaran. “Sejak kapan dia punya komik porno?” keluhnya pada Bambang yang mukanya tak kalah kisut dari emaknya.
“Ya meneketehe,” cebik Bambang dengan bahu berkedik. Masih bete. Dia sudah terlalu sering dipanggil menghadap kepala sekolah gara-gara adiknya yang gesrek! Kalau soal kebiasaan adiknya lompat pagar, dia masih bisa mengusulkan agar Nuning didaftarkan menjadi tim atletik sekolah cabang lompat tinggi. Tapi kalau urusan komik porno? Bambang mati kutu. Aib ini mah, aib!
Sementara yang lagi kena kasus malah tak tahu kemana juntrungannya. Bambang tak melihat batang hidungnya di sekolah. Padahal tadi Nuning pamit pagi-pagi berangkat duluan. Nyangsang ke mana adiknya? Ah. Bodo amat. Palingan kalau tidak sedang memancing, mungkin menebang bambu buat bikin layangan sama Jaka. Soalnya Bambang juga tak melihat cowok jangkung itu di sekolah. Memikirkan Jaka, terbersit iba dalam hatinya. Kasihan, ganteng-ganteng kok ketularan koplak!
Pihak sekolah sepertinya sudah bosan memberi hukuman skors buat Nuning, bukannya bikin jera tapi malah bikin anak itu senang. Tak kena skors saja sudah rajin membolos kok. Untung raport Nuning masih bagus, sekolah masih sayang mengeluarkan dia. Tak tahu saja kalau nilainya itu hasil mencontek total pekerjaan Jaka.
“Pak! Nuning baca komik porno, Pak!” lapor Bu Parmi nggak tahan lagi. Kali ini dia menyerah suaminya yang tampangnya angker itu mau berbuat apa. Mungkin itu anak perlu dipentung bapaknya sekali-kali, biar otaknya yang menceng bisa lurus lagi.
Tapi. Diluar dugaan. Pak Priyo justru terkekeh. “Biarin, Mak. Kemajuan itu namanya.” Lalu dia membuka catatan utangnya. Soalnya habis gajian, saatnya menunaikan kewajiban membayar tagihan di warung kopi langganan.
Jawaban suaminya bikin Bu Parmi merem melek tak percaya. “Bapak ini gimana sih?! Kemajuan apanya? Dulu aku dipanggil sekolah mulu karena anaknya sering tawuran, sekarang komik porno! Punya anak gadis baca komik porno kok dibilang kemajuan?!” cerocosnya seperti mercon tahun baru, ramai tak habis-habis.
Kalau rajin mengaji itu namanya kemajuan. Lah, ini boro-boro ngajinya benar, yang ada malah jadi biang kerok di masjid karena suka menukar-nukar pasangan sandal jamaah. ‘Jabang bayik, punya anak gadis satu aja kok begini banget!’pikir Bu Parmi ngenes.
“Artinya dia sudah memahami fungsi kelaminnya, Mak,” sahut Pak Priyo sambil meraih cangkir kopi lalu menyesapnya dengan nikmat.
Jawaban macam apa itu? Bu Parmi ingin mencakari tembok saking gusarnya.
“Lah, kemarin siapa yang ribut mikirin takut Nuning nggak bisa kawin? Emak sendiri tho? Kalau anaknya sendiri nggak sadar dia itu laki apa perempuan, gimana mau kawin?”
“Buapaaakkk!” Bu Parmi kejang-kejang.
Padahal yang lagi bikin pusing santai saja selonjoran di gubuk tepi sawah. Leyeh-leyeh membaca komik Superman, tapi Superman betulan yang pakai sempak ketat diluar bajunya, tidak telanjang. Sedangkan si Jaka di sebelahnya sedang mengulur tali layangan. Menatap puas ke angkasa, bangga melihat ular naga panjangnya menari-nari di udara.
“Jak, udah bayar buat study tour belom?”
“Belum, ini lagi ngumpulin duitnya,” sahutnya sambil menatap lagi layangan ular naga panjangnya. Pesanan khusus anak kampung sebelah buat gacoan lomba.
“Sekalian bayarin ya,” ucap Nuning yang dijawab Jaka dengan menjitak kepalanya.
"Ngomong kok kayak kentut. Bikin eneg!"
Nuning meringis jengkel lalu balas menendang bokongnya. Jaka oleng dan nyebur ke lumpur sawah kemudian ngomel-ngomel. Tapi seperti biasa cewek itu cuek saja dan membaca komiknya. “Emang susah ya nggak punya duit gini. Aku jadi ngiri sama Tante Beti, duitnya banyak sehabis kerja di Jakarta. Di sini bisa dapat kerjaaan apa coba? Bosen aku hidup di kampung mulu,” gerutunya.
Jaka tertawa sambil melepas celana panjang abu-abu seragamnya, menyisakan kolor yang menempel di badan atletisnya, tapi sama sekali tak pernah bikin Nuning ngiler. Sebab di matanya, Jaka itu bukan seorang cowok, melainkan ‘a partner in crime'. Dan bagi Nuning, mangga Mbah Surip lebih menggairahkan ketimbang cowok.
“Emangnya nyari kerja di Jakarta gampang? Di sana juga banyak pengangguran. Saingan kerja banyak,” kata Jaka sambil nyebur kali, mengucek celananya yang kotor. Lalu dia memerasnya, dan menjemurnya di atap gubuk. Kemudian Jaka duduk bersila di samping Nuning yang mulai tak fokus mengikuti adegan Superman berkelahi dengan penjahat. Toh dijamin pasti menang. Nuning pun menutup komik dan duduk bersila menghadap Jaka.
“Jakarta kek gimana sih?” selidiknya dengan bola mata membesar.
“Di Jakarta, mana bisa kita nyolong mangga kek gini. Karena nggak ada kebun yang bisa dijarah. Rawa-rawa udah pada diuruk jadi perumahan, nggak bisa buat mancing lagi. Di sana juga nggak ada yang gratis, kencing aja bayar. Modelmu gini, mana bisa hidup di sana.”
Nuning menghela napas panjangnya yang terasa berat. Mungkin karena pertama kalinya serius mendengarkan Jaka. Pikirannya menolak percaya begitu saja, terlebih sinetron-sinetron suka menyuguhkan budaya hedon yang telanjur menyusupi khayalannya.
“Kapan kamu balik ke Jakarta, Jak?”
“Ntar, kalau udah lulusan.”
“Aku ikut!”
Seketika, Jaka terbatuk-batuk kaget dan merasa ngeri.
***
Jaka tak habis pikir Nuning habis kesambet apa. Tiba-tiba ngebet banget ingin pindah hidup ke Jakarta. Jangankan minggat ke ibukota negara, menginap melewati batas kecamatan saja dikejar Pak Priyo pakai pentungan kok. Meskipun otaknya gesrek dan kelakuannya melenceng, tetap saja orang tua Nuning peduli dan menyayanginya. Apalagi dia anak gadis satu-satunya.
Masalahnya justru Nuning yang tak mengerti sedang disayang. Makin dilarang, malah makin ngebet ingin minggat.
“Pokoknya, aku mau ikut kamu ke Jakarta. Titik! Bosen akutuuu, sejak lahir sampe segede ini hidup di kampung. Bisa mati engap aku makan buah colongan mulu. Aku juga kan pengen ngerasain makan pizza, makan steak, makan donat yang macem-macem toppingnya kayak yang sering nongol di TV. Pengen mejeng di mall, bukannya nongkrong di sawah mulu liat kebo sama bebek,” oceh Nuning merutuki nasib. Kebanyakan membayangkan wajah ibukota yang gemerlap dan menjanjikan kesenangan dalam pikiran sederhananya.
Mungkin kesenangan sebatas perut itu receh bagi orang lain, tapi penting bagi Nuning. Mumpung giginya masih utuh, mumpung indera pengecapnya masih berfungsi optimal. Bayangin kalau sudah uzur macam Mbah Surip terus disodori pizza sama steik? Pasti bagi orang-orang tua itu masih lebih enak singkong yang direbus sampai lembek, biar makannya tinggal telan karena giginya sudah pada habis.
Nuning tak mau nasibnya seperti Mbah Surip, yang dari zaman Belanda sampai zaman Indonesia merdeka puluhan tahun, makannya masih saja singkong, mentang-mentang tinggal mencabut di kebun. Mumpung Nuning masih muda harus banyak mencicipi yang enak-enak. Anak muda bersenang-senang itu wajib hukumnya. Kalau sudah tua baru senang-senang, keburu kena rematik, nggak asyik!
Toh, Nuning ingin senang-senang dari hasil keringatnya sendiri. Tak minta jatah duit dari emak-bapaknya. Dia siap menghadapi tantangan kerja. Dia tak takut dengan ibukota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri. Dengan ibu sendiri yang bisa bikin kualat saja Nuning tak takut kok, apalagi dengan ibukota yang tak pernah melahirkan dirinya.
Jaka mencebik. Dia sudah pernah hidup di Jakarta. Pernah menjelajahi kota besar itu dengan kaki kecilnya yang telanjang. Bersama ibu yang tiga hari terseok-seok sepanjang jalan, menuntun tangan kecilnya tanpa arah tujuan.
“Minta antar aja sama bapakmu, apa masmu. Masa aku?” ujar Jaka.
“Tapi yang tahu Jakarta kan kamu. Yang bakal tinggal di Jakarta juga kamu. Bukan bapakku, apalagi Mas Bambang yang cita-citanya aja kerja di tambak udang,” sahut Nuning ngeyel tiap Jaka mengelak diikuti.
Jaka jadi jengkel. Nuning tak asyik diajak main lagi. Umpan di kailnya jadi utuh, mungkin ikan-ikan pada ngacir karena budeg mendengar suara berisik Nuning yang membahas Jakarta melulu tiap mereka lagi mancing.
“Udahlah nggak usah bahas Jakarta terus. Lulus dapat ijazah aja belum kok.”
“Janji deh, nggak akan nyolong lagi kalau kamu bawa aku ke Jakarta. Aku tobat. Mau cari kerja yang halal. Ngumpulin duit yang banyak buat nyenengin Emak sama Bapak. Biar mereka nggak nyesel udah ngijinin aku kerja di sana. Sumpah!”
Bukannya tersentuh mendengar janji Nuning yang bisa mengundang geledek di siang bolong, Jaka malah terkikik sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Habis makan apa si Nuning? Kok tiba-tiba waras begini? Tapi kalau anak ini waras, siap-siap saja sebentar lagi gempa bumi. Tanda-tanda mau kiamat.
Si emak juga sama saja tak asyik seperti Jaka. Begitu Nuning bilang ingin kerja di Jakarta, matanya seketika melotot sebesar biji duren. “Siapa yang mau ngawasin kelakuanmu di sana? Di kampung aja udah bikin jantung Emak mpot-mpotan kok. Nggak usah aneh-aneh, di kampung aja udah! Ngapain kerja ke Jakarta segala? Cari nafkah urusan bapakmu. Kamu mau makan sebakul, Emak masih sanggup masakin.”
Nuning manyun. Dih! Bohong bangeeet, yang suka bikin kepalanya benjol kalau dia menghabiskan isi magic com itu siapa? Lagipula, memangnya hidup cuma buat makan nasi? Dia kan ingin makan enak. Dan makanan enak yang penampakannya aneh-aneh macam di TV itu adanya di kota macam Jakarta. Di sana apa saja juga ada. Asal punya duitnya. Makanya Nuning ingin kerja di sana sambil menikmati hidup enak sebaik-baiknya dari hasil kerja kerasnya sendiri. Mandiri gitu loh. Kerja di Jakarta gajinya kan gede katanya.
“Hidup di Jakarta itu nggak seindah yang kamu lihat di tivi, Nduk,” emaknya menasihati seakan bisa mendengar isi pikiran Nuning.
“Ah, kayak emak pernah hidup di Jakarta aja.”
“Sembarangan kalau ngomong. Gini-gini emakmu pernah jadi pembantu di Jakarta sebelum nikah sama bapakmu!”
“Dih, pernah jadi pembantu bangga. Bangga tuh kalo pernah jadi artis!” cebik Nuning yang seketika mengaduh sakit saat Bu Parmi mencubit bibirnya yang dimonyong-monyongin buat meledek.
“Sampai kapan aku hidup sama emak terus?” rengeknya sambil mengupas bawang. Bikin Bu Parmi menengok ke jendela. Takut tiba-tiba hujan badai karena tumben-tumbenan Nuning membantu pekerjaan dapurnya.
“Ya sampai kamu kawinlah! Sampai kamu punya suami yang jagain kamu, yang bisa kasih kamu makan. Kalau sudah kawin, kamu mau ke mana kek, asal sama suamimu, ya terserah.”
Nuning memutar bola mata sambil memonyongkan bibir. Mencari suami kok seperti mencari tukang gembala yang tugasnya menjaga dan memberi makan kambing saja. Uh. Cuma izin kerja ke Jakarta tapi ribetnya seperti minta warisan saja!
“Tapi, Mak, lihat tuh tetangga-tetangga kita yang anaknya pada kerja di Jakarta. Hidupnya pada enak kan sekarang. Bisa beliin bapaknya motor yang bagus. Bisa beliin emaknya tivi yang layarnya datar, nggak gembrot kayak tivi kita, kayak perut emak!”
Kurang asem! Itu mulut apa petasan cabe? Ngomong sama orang tua kok seenak jidatnya aja. Bikin Bu Parmi sewot sambil diam-diam mengempiskan perutnya dengan cara menarik napas dalam-dalam terus melipir ke kamar. Dia mengambil stagen, melilitkan ke perut, dan mengikatnya kencang-kencang. Lalu melirik bayangan perutnya yang menyedihkan di cermin dengan muka masam.
***
Bambang lulus SMA dan diterima kerja di tambak udang sesuai harapannya. Tak lanjut kuliah karena kondisi ekonomi. Giliran Nuning yang sebentar lagi menghadapi ujian negara. Tapi bukannya fokus tentang ujian, pikirannya justru dipenuhi dengan Jakarta. Nuning tak mau terjebak seumur hidupnya di kampung yang sering mati lampu, minim hiburan, miskin uang jajan. Tak banyak pula pilihan kerjaan. Ditambah sahabat karibnya balik ke Jakarta begitu lulus SMA. Ngeri. Ditinggal pergi Jaka rasanya lebih horor daripada film Suzana beranak dalam kubur. Menghabiskan hidup di kampung sampai tua tanpa teman bermain seasyik Jaka? Ini sih sama saja kiamat sebelum waktunya!
“Nikah, yuk!”
Ucapan Nuning yang tak masuk akal bikin Jaka terbatuk-batuk. Es teh dimulutnya menyembur membasahi baju seragamnya. Ajakan Nuning bagai geledek di siang bolong, menyambar kuping dan mengoyak ketenangannya. ‘Kesambet apa lagi bocah gendeng ini?’ pikirnya horor.
“Emang udah telat berapa bulan?” seloroh Jaka sambil mengunyah pentol baksonya dua sekaligus hingga pipinya menggembung penuh. Masa bodoh lirikan abang bakso yang tiba-tiba kepo, siap-siap menangkap gosip besar, yang bisa mengguncang seisi kampung kalau disebarkan. Ya kali saja bisa bikin warung baksonya ikut viral menarik pelanggan.
Nuning manyun sambil mengaduk es tehnya. “Soalnya sama emak aku nggak boleh ninggalin kampung kalau belum kawin. Padahal aku kan pengen kerja di Jakarta. Makanya itu,” Nuning lalu terdiam dan cengar-cengir menatapnya.
“Apaan?” Jaka mulai mengendus keanehan. Bulu kuduknya merinding melihat cengiran Nuning macam itu. Horor. Lebih horor ketimbang mencium wangi kembang melati tengah malam.
Nuning berkedip-kedip macam orang kelilipan. “Makanya, nikahin aku,” rengeknya sambil mengatupkan kedua tangannya, memohon.
“Ogah!” ketus Jaka sembari melengos. Menikahi Nuning? Yang benar saja!
Ditolak dengan kecepatan cahaya sedemikian rupa bikin ego Nuning sebagai perempuan sakit juga. Dicubitnya pinggang Jaka yang langsung melolong minta ampun. “Pokoknya kamu kudu tanggung jawab!” bentaknya berubah garang, bikin si abang bakso makin memanjangkan kuping.
Jaka mengusapi pinggangnya yang panas. “Duh! Nggak kebayang aku kawin sama kamu, bisa ditindas seumur hidupku,” keluhnya menahan sakit. Cubitan cewek scorpio satu ini memang tak pernah main-main.
“Siapa yang mau menindasmu? Aku kan cuma minta dinikahi biar sah aja. Ntar aku bisa nyari makan sendiri, nggak minta kamu. Yang penting... habis nikah, kamu kudu bawa aku ke Jakarta, pokoknya bawa aku pergi dari kampung!” cerocosnya.
Abang bakso yang asyik menguping merasa ngenes. Lalu mengkhayal. Andai saja ada perempuan muda dan semanis Nuning ngomong begitu padanya, dia tak bakal pikir panjang lagi. 'Enak tho punya istri yang nggak minta dinafkahi?' Tak superti istrinya di rumah yang selalu mengeluh uang belanja kurang, tapi saban ke pasar beli daster. Beli lingerie kek! Boro-boro beli sempak buat suaminya, padahal sempaknya sudah pada bolong karena otot pantatnya bekerja keras setiap hari mendorong gerobak baksonya melewati banyak tanjakan.
“Ogah!” Jaka mengelak.
Nuning mengatupkan kembali kedua tangannya lebih erat. “Plissss,” rengeknya dengan memasang tampang memelas. Melirik abang bakso yang makin kepo. Lalu melirik lagi pada Jaka yang asyik mengunyah pentol bakso. “Mau kugugurin aja nih?” ucapnya mengada-ada sambil akting mengusapi perutnya yang buncit karena kekenyangan.
Jaka mendengus lalu menjitak kepala gadis itu. Hilang sudah selera makannya gegara tingkah absurd Nuning yang mulai kelewatan.
“Berapa semuanya, Bang?’ tanya Jaka pada abang bakso sambil mencantelkan tas ranselnya ke bahu. Kemudian merogoh saku dan membayar sejumlah harga yang disebut si abang. Mengabaikan Nuning yang merengek di belakangnya minta ditunggu, tapi sempat-sempatnya menyikat habis dulu sisa mie dan kuah di mangkuk Jaka. Padahal tadi sudah menghabiskan semangkuk mie ayam plus tambah lagi dua mangkuk.
“Jakaaaaa. Nikah, yuuuuk!” panggilnya bikin malu.
Jaka pun lekas ngibrit. Lari tunggang langgang. Nuning mengejar sambil melemparinya dengan buah mahoni yang berserakan di tepian jalan. Tapi Jaka gesit menghindar dan Nuning jadi semakin kesetanan mengejar. Dua remaja absurd itu pun kejar-kejaran di siang bolong. Bikin iri kambing tetangga yang diikat di bawah pohon, ingin bebas lari-lari juga.
***