"Mas lagi nggak ada duit, Kasih. Beberapa bulan ini kerjaan Mas sedang kurang kondusif, jadi kerjaan banyak liburnya."
Kasih menghela napas berat, suaminya selalu saja beralasan seperti itu. Hari ini Kasih benar-benar membutuhkan uang, untuk membelikan ibunya obat, karena stok obatnya sudah habis.
"Mas udah nggak punya simpanan lagi, coba kamu pinjam dulu deh ke tetangga, siapa tahu dapat," sambung Danu dari ujung sana.
"Utang yang kemarin aja belum dibayar, ini disuruh minjam lagi, pasti nggak bakalan dikasih, Mas," keluh Kasih.
"Habisnya mau gimana lagi, Mas benar-benar nggak ada duit."
Sudah beberapa bulan ini, Dani tidak pernah mengirimkan uang, Kasih memahami hal itu.
Tapi, semakin ke sini, Kasih semakin curiga dengan tingkah suaminya yang belakangan ini tampak berbeda. Kasih merasa jika Dani tengah menyembunyikan sesuatu.
"Mas lagi nggak bohong sama aku, kan?" tanya wanita itu penuh selidik.
Kasih mendengar dengkusan kasar dari ujung sana.
"Kamu nuduh Mas berbohong?"
"Bukan begitu, hanya--"
"Itu sama saja kalau kamu anggap Mas bohong. Emang susah ya kalau bicara sama kamu, ini yang Mas nggak suka dari sifat kamu, bawaannya selalu curiga terus," sentak Dani.
"Maksud Mas apa?"
"Halah! Sudahlah, teleponnya Mas matikan saja."
Baru saja Kasih ingin membuka mulutnya, panggilan itu langsung terputus.
Kasih menghela napas berat. Kentara sekali jika wanita itu tengah kecewa. Danu, pria satu-satunya yang selalu dia andalkan, nyatanya tak dapat membantu, lantas ke mana lagi dia harus mencari bantuan?
Prang ....
Kasih terperanjat kaget ketika mendengar suara benda jatuh. Buru-buru dia melangkahkan kakinya menuju kamar ibunya.
Matanya membola ketika melihat serpihan gelas berhamburan di mana-mana.
"Ibu!" jerit Kasih.
Kasih tak memedulikan bagaimana kakinya yang terkena pecahan gelas itu, yang dia khawatirkan saat ini adalah ibunya. Mutia tampak memegangi kepalanya sambil meraung kesakitan.
"Sakit, Kasih," erang Mutia.
"Iya, Bu. Secepatnya aku akan membeli obatnya, Ibu yang sabar, ya," pinta Kasih dengan mata berkaca-kaca.
Kasih harus berusaha keras untuk meminjam uang. Secepatnya, kalau terus-terusan ditunda, ibunya akan semakin lama merasakan kesakitan.
'Maafin aku, Ibu. Karena telah gagal menjadi anak yang membanggakan,' batin Kasih sambil meneteskan air mata.
Kasih bernapas lega ketika melihat Mutia tidak lagi mengerang kesakitan. Ibunya tampak tertidur pulas. Kasih menatap ibunya cukup lama. Namun, semakin Kasih tatap, ada yang berbeda dari cara Mutia tertidur.
"Bu," panggil Kasih pelan, sambil menggoyangkan tubuh Mutia dengan pelan.
Tak ada respon, membuat Kasih kembali menggoyangkan tubuh ibunya.
"Ibu, jangan bikin aku takut, Bu. Ayo bangun, aku janji akan belikan Ibu obat," ucap Kasih yang tampak ketakutan.
Lagi-lagi Mutia tak menjawab, Kasih semakin cemas, tangannya gemetar, keringat dingin bercucuran. Kasih tahu bahwa saat ini Mutia tengah pingsan.
Tak ada cara lain, jalan satu-satunya adalah membawa Mutia ke rumah sakit, Kasih tak ingin mengambil risiko jika terjadi sesuatu pada ibunya.
***
Kasih tertunduk lesu ketika melihat nominal uang yang ada di kertas itu, pihak rumah sakit tak ingin membantunya jika dirinya belum membayar biaya administrasi.
Wanita itu tampak begitu frustrasi, tak ada jalan lain. Sepertinya dia harus meminjam uang lagi pada temannya, walau sebenarnya dia tahu, besar kemungkinan hasilnya nihil.
"Dicoba aja dulu deh," gumam wanita itu sambil merogoh ponselnya di saku celana.
Kasih harap-harap cemas ketika mendengar sambungan telepon itu terhubung, berdoa dalam hati semoga saja kali ini temannya mau membantunya.
"Halo, Kasih. Ada apa?"
Kasih tersenyum lebar ketika Diana mengangkat panggilannya.
"Halo, Di. Lagi sibuk nggak?" tanya Kasih pelan.
"Nggak terlalu sih, emangnya ada apa? Mau minjam uang lagi?"
Kasih tersenyum miris ketika Diana sudah bisa menebak pikirannya, pasti Diana risih karena dirinya selalu meminta bantuan padanya.
"Iya, Di. Apa kamu bisa membantuku, kali ini aja. Please," mohon Kasih.
"Aduh, maaf ya, Kasih. Kali ini aku nggak bisa bantu kamu. Soalnya aku juga lagi butuh uang. Tapi, aku ada kerjaan nih buat kamu, siapa tahu kamu tertarik."
Kasih menghela napas berat. "Aku butuh uangnya sekarang, Di," lirih wanita itu.
"Kamu tenang aja, kerja di sana bisa minta kasbon dulu kok. Bosnya itu baik banget. Kamu nggak tertarik kerja di sana? Daripada jualan, kan? Belum tentu dagangannya selalu laris."
Siapa yang tidak mau menerima tawaran yang begitu menggiurkan. Sama seperti Kasih saat ini, wanita itu tampak berbinar senang.
"Aku mau," jawab wanita itu cepat. "Tapi, kalau bisa, aku minta uangnya malam ini. Aku butuh banget uang buat biaya pengobatan ibu aku. Apa kamu bisa bantu aku?"
"Masalah itu gampang. Oke, jadi udah fix nih kamu terima tawaran itu?" tanya Diana.
"Iya, aku mau," jawab Kasih mantap.
"Oke, nanti malam aku datang ke rumah kamu, ya. Kita akan datang ke tempat kerja itu. Kamu harus berpakaian yang menarik."
"Siap, sekali lagi terima kasih ya, Di. Kamu memang teman yang sangat baik."
***
"Kita mau ke mana sih, Di. Memangnya ada ya, orang kerja malam-malam?" tanya Kasih heran, wanita itu tampak risih karena pakaiannya terlalu terbuka.
"Banyak kali, Kasih. Kamu dagang aja sampai malam, kan?"
"Iya, tapi kenapa harus pakai baju seperti ini?"
"Kamu takut? Atau kita balik aja deh, aku nggak mau kalau kamunya terkesan terpaksa."
"Jangan," sergah Kasih. "Oke, oke. Aku akan diam. Nggak akan komentar lagi."
Setelah itu, mereka berdua benar-benar terdiam. Sepanjang perjalanan, Kasih selalu duduk dengan gelisah. Feelingnya mengatakan jika akan terjadi sesuatu padanya.
Mata Kasih mengerjap ketika mobil Diana berhenti di sebuah diskotik. Kasih langsung menatap Diana dengan horor.
"Santai aja kali, aku datang ke sini mau ketemu sama teman, sebentar aja. Ayo ikut masuk," ajak wanita itu.
"Nggak deh, aku tunggu di sini aja," tolak Kasih.
"Yakin? Siapa tahu aku agak lama di sana, nggak takut kalau ada yang macam-macam sama kamu?"
Kasih menggigit bibir bawahnya, kentara sekali jika saat ini wajahnya pucat pasi, seumur hidupnya baru kali ini dia menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Bagaimana nanti kalau suaminya tahu? Pasti akan mencercanya habis-habisan.
"Oke, aku ikut. Tapi jangan lama-lama ya."
"Sip, ya udah. Ayo turun."
Mereka berdua pun akhirnya turun dari mobil, Kasih menelan salivanya, berjalan dengan kaki gemetar, beruntungnya ada Diana yang kini tengah menuntunnya.
Semakin mereka masuk ke dalam ruangan itu, dada Kasih bergemuruh hebat. Bahkan saat ini Kasih memegang tangan Diana begitu erat.
"Itu dia, ayo kita ke sana," ajak Diana.
Kasih mencekal tangan Diana, lalu menggeleng pelan.
"Kamu tenang aja, nggak usah takut. Orang-orang di sini nggak apa-apa, kok," ucap Diana sambil tersenyum tipis.
Kasih diam saja, membuat Diana kembali melanjutkan langkahnya.
"Hai, aku datang. Sesuai yang aku janjikan, tentunya tepat waktu," sapa Diana pada sosok pria yang saat ini tengah duduk sambil menenggak sebotol minuman yang Kasih tak tahu itu minuman apa.
"Oke, tunggu aku di kamar nomor 15," ucap pria itu dengan suara serak, sambil menatap Kasih tajam.
Kasih yang ditatap seperti itu seketika merinding, wanita itu langsung membuang pandangannya ke sembarang arah.
"Oke, jangan lupa komisinya."
Setelah itu Diana membawa Kasih pergi, bukan ke arah luar, melainkan ke sebuah lorong yang begitu sepi.
"Kita mau ke mana?" tanya Kasih, kepalanya celingukan ke sana-sini, kemudian bergidik takut.
"Aku mau temuin teman dulu di kamarnya, katanya dia lagi ada di sana."
Kasih kembali terdiam, perasaannya tiba-tiba tak enak. Dia ingin membicarakan hal itu pada Diana, tapi diurungkan karena tak enak hati.
Tepat di sebuah kamar nomor 15, mereka berdua berhenti melangkah. Diana membuka knop pintu itu, lalu masuk, disusul juga oleh Kasih.
"Kamu duduk-duduk dulu di situ, aku mau lihat dia ada di mana."
Kasih menuruti perintah Diana, wanita itu duduk di sebuah ranjang yang begitu empuk.
"Kasih. Kayaknya ponsel aku ketinggalan di mobil deh, kamu bisa tunggu aku sebentar di sini, sebentar aja kok."
Kasih menggeleng tak setuju. "Nggak, aku mau ikut aja. Takut sendirian di sini, masa kamu tega."
"Ya ampun, cuma sebentar aja kok. Habis itu aku balik lagi ke sini. Suer deh, cuma sebentar," ucap Diana meyakinkan.
"Tapi, Di--"
"Cuma sebentar aja," sela Diana cepat.
Kasih menghela napas pasrah. "Ya udah deh, janji ya, cuma sebentar?"
"Iya," sahut Diana. Wanita itu pun akhirnya pergi dari kamar itu.
Kasih mendengar pintu itu dikunci dari luar, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
"Kok pintunya dikunci?" gumam wanita itu, tapi setelah itu dia mengedikkan bahunya acuh. Mungkin saja Diana melakukan seperti itu karena tidak ingin terjadi sesuatu padanya.
Selang beberapa menit, Kasih mendengar knop pintu terbuka, membuat wanita itu mengembangkan senyumnya.
"Sebentar banget, kamu ngambil ponselnya sambil lari-lari atau ...."
Kasih menggantungkan kalimatnya, matanya mengerjap beberapa kali karena melihat bukan Diana yang ada di ambang pintu itu, melainkan seorang pria yang tadi dia lihat sedang mengobrol dengan Diana.
Pria itu berjalan mendekati Kasih, tak lupa juga dia menutup pintu itu. Jelas saja membuat Kasih begitu ketakutan.
"Maaf, Diananya lagi nggak ada, tapi ... sebentar lagi dia akan--"
"Sssttttt," desah pria itu sambil membungkam bibir Kasih menggunakan jari telunjuknya.
"Kamu cantik, tapi malam ini jauh lebih cantik."
Kasih memundurkan tubuhnya, menatap pria itu ketakutan. Dia tahu jika pria yang ada di hadapannya ini tengah mabuk.
"Aku bukan Diana, aku ini temannya. Tolong jangan bersikap kurang ajar sama saya!" kata Kasih tak terima.
Tiba-tiba saja pria itu tertawa keras, jenis tawa yang menurut Kasih begitu berbahaya.
"Ya, aku tahu hal itu. Kamu adalah Kasih, temanmu yang sudah menjualmu padaku, ngerti?"
Kasih mematung di tempat, apa maksud perkataan pria itu? Menjual? Diana? Apa Diana menjualnya? Tidak, Kasih yakin Diana tidak akan pernah melakukan perbuatan sekeji itu.
"Itu tidak mungkin, kamu jangan mengarang cerita," tandas Kasih.
"Kenyataannya memang seperti itu, Kasih," kata pria itu, lalu detik berikutnya pria itu mendorong tubuh Kasih ke ranjang. "Intinya, tubuhmu saat ini adalah milikku, aku sudah membayar mahal pada temanmu. Jadi, marilah kita lewati malam panjang ini dengan malam yang begitu panas," ujar pria itu seraya tersenyum menyeringai.
Kasih memberontak, sekuat tenaga dia mendorong tubuh pria itu, tapi tetap saja hasilnya nihil.
"Kautahu, Kasih, semakin kamu memberontak, jiwa kelakianku semakin menjadi-jadi, semakin bergairah. Atau ... kamu sudah tidak sabar untuk memulainya, hem?" tanya pria itu dengan suara serak.
"A--aku mohon, tolong lepaskan aku," rintih wanita itu.
"Bagaimana? Melepaskan? Kamu gila, mana mungkin aku melepaskan begitu saja. Asal kamu tahu, uangku sudah melayang banyak," kata pria itu disertai kekehan halus.
"Aku janji, aku akan mengembalikan uang itu padamu, iya ... aku janji."
Pria itu tak mendengar ucapan Kasih, matanya malah tertuju pada bibir wanita itu. Rasanya tidak sabar untuk mengecupnya.
Kepala pria itu akhirnya mendekat, semakin dekat, sampai akhirnya kini bibir mereka saling bersentuhan.
Kasih mencoba untuk menggelengkan kepalanya agar tautan bibir itu terlepas, hal itu membuat pria itu menggeram kesal.
Pria itu menarik tengkuk Kasih, lalu menciumnya begitu agresif.
"Jangan--"
Pria itu tak peduli dengan berontakan Kasih, dia menyapu bibir Kasih yang setengah terbuka, mustahil jika Kasih bisa melawan serangan gencar itu. Ciuman itu cepat dan kuat, memaksa bibir Kasih menyambut serbuan lidahnya.
Pria itu tersenyum menyeringai ketika Kasih tidak lagi menolaknya, dia merasa jika Kasih juga ikut menikmatinya.
Pria itu mengangkat wajahnya, menatap Kasih dengan pandangan sayu.
"Aku tahu, bibir ini sepertinya membutuhkan ciuman, bukan begitu?"
Kasih tak menjawab, wanita itu malah membuang pandangannya ke sembarang arah. Kasih meyakinkan diri bahwa dia menolak sentuhan-sentuhan lembut dari pria itu, sayangnya dia gagal. Kasih berbohong pada dirinya sendiri. Nyatanya, wanita itu pun merasakan hal yang sama. Mereka saling merasakan gairah yang begitu membara.
"Tolong lepaskan aku," pinta Kasih.
Pria itu tertawa keras. "Hei, wajahmu sudah memerah, dan ingin yang lebih dari sekadar ciuman. Untuk apa kamu membohongi diri kamu sendiri, Kasih. Kita sudah dewasa, tidak perlu malu-malu lagi. Aku tahu kamu juga membutuhkan pelepasan, kan?"
Kasih bangkit dari ranjang itu, dia menatap pria itu dengan nyalang.
"Jangan mentang-mentang Anda orang kaya, seenaknya saja menghina orang susah seperti saya. Saya memang tidak mempunyai apa-apa, tapi jangan pernah Anda berpikir jika saya akan tertarik tidur dengan Anda. Perlu Anda ketahui, saya sudah menikah, saya telah memiliki suami, jika Anda ingin melampiaskan nafsu, silakan cari wanita lain. Permisi," ucap Kasih, wanita itu berjalan mendekat ke arah pintu.
Kasih menggeram kesal ketika kenop pintu itu tak bisa dibuka, ternyata pintu itu sudah dikunci oleh pria itu.
"Tolong bukakan pintunya, saya ingin pulang." Kasih berkata dengan suara tegas.
Bukannya mengikuti perintah Kasih, pria itu malah menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, tidur terlentang sambil menatap Kasih dengan tatapan dingin.
"Yakin ingin pulang?" tanya pria itu.
"Ya," sahut Kasih singkat.
"Baiklah, kuncinya ada di atas meja, silakan pergi dari sini."
Mata Kasih mengedar, dan ucapan pria itu ternyata benar, tanpa berpikir lama Kasih mengambil kunci itu, dia cepat-cepat memasukkan kunci itu, dan tersenyum lega karena pintunya berhasil dibuka.
Namun, ketika Kasih ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba saja dia mendengar ucapan pria itu yang membuatnya mengurungkan niatnya.
"Kamu tidak memikirkan bagaimana nasib ibumu, Kasih?"
Kasih kembali menghampiri pria itu. "Apa maksudmu?"
"Sebelum temanmu menjualmu kepadaku, aku sudah mencari tahu tentang siapa dirimu, di mana dirimu tinggal, dan seluk-beluk keluargamu," jelas pria itu, saat ini dia sudah terduduk sambil menatap Kasih dengan senyuman menyeringai.
"Temanku tidak mungkin menjualku, dia sangat baik padaku, jadi jangan pernah fitnah dia seperti itu!" bantah Kasih tak terima.
"Dia tidak sebaik yang kamu kira, kamu pikir dengan dia selalu meminjamkan kamu uang, itu sudah kamu anggap baik? Tidak, pikiranmu terlalu polos, Kasih. Dia itu menjebakmu."
Kasih terus menggeleng, tak percaya dengan ucapan pria itu.
Kasih memutar tubuhnya, membelakangi pria itu, lalu kembali berjalan ke arah pintu.
"Aku tahu saat ini kamu sedang membutuhkan banyak uang, karena ibumu sakit, bukankah begitu? Dan juga, suami kamu yang kamu bangga-banggakan itu tidak pernah mengirimi uang. Ah, sungguh miris sekali hidupmu."
"Sebenarnya apa yang kamu mau?" tanya Kasih sambil mengepalkan tangannya.
"Mari kita bekerja sama."
Kasih mengerutkan keningnya, kemudian tertawa sinis.
"Bekerja sama? Lelucon macam apa ini, bukankah kamu orang kaya? Salah besar jika kamu mengajakku bekerja sama."
"Sangat penting, dan aku yakin kalau kerjasama ini saling menguntungkan," kata pria itu serius.
"Oh, ya. Apa itu?" tanya Kasih dengan tangan melipat di depan dada.
"Kamu butuh uang, kan?"
"Ya, semua orang membutuhkan uang," sahut Kasih cepat. "Hanya orang munafik yang bicara tidak butuh."
Pria itu mengangguk. "Sebelumnya, perkenalkan dulu, nama aku Gilang Jafran," ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya di depan Kasih.
Kasih tak menerima uluran tangan itu, dia hanya melihat sebentar, setelah itu membuang pandangannya ke sembarang arah.
Gilang tersenyum sinis.
'Tak apa, sebentar lagi akan aku pastikan, kamu akan berada di bawah kungkunganku, kita lihat saja nanti,' batin pria itu.
"Langsung to the poin saja, sebenarnya apa yang kamu mau," sela Kasih. Sepertinya wanita itu tidak ingin berlama-lama berada di tempat itu, apalagi jika berduaan dengan pria asing.
"Partner di atas ranjang."
Mata Kasih membulat, dia menatap Gilang dengan tatapan mematikan.
"Apa kamu bilang?!" tanya wanita itu dengan suara yang cukup nyaring.
"Ya, aku rasa telinga kamu tidak salah dengar. Dan ya, aku menawarkan kerja sama itu, gimana? Sebuah tawaran yang menarik, bukan?"
Kasih menggeleng tak percaya, kentara sekali jika wanita itu tengah menahan emosi.
"Dengar, aku memang membutuhkan uang, tapi untuk jadi jalangmu, maaf, aku tidak sudi. Permisi," ujar Kasih dengan sengit.
Selepas mengatakan hal seperti itu, Kasih membalikkan badannya, lalu melangkah cepat menuju pintu.
Sungguh menyesal karena sudah berlama-lama berada di tempat seperti ini.
"Ingat! Kamu sangat membutuhkan uang, ibumu yang saat ini berada di rumah sakit, dan pihak rumah sakit tidak ingin menanganinya karena kamu belum membayarnya. Oh, Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang ibumu derita."
Kasih kembali menghentikan langkahnya, tiba-tiba saja wajah kesakitan ibunya terbayang jelas di kepalanya.
Tanpa sadar Kasih mengepalkan tangannya. Tidak! Dia tidak mau melihat ibunya menderita lagi, tapi di sisi lain juga dia tidak mau dengan tawaran yang Gilang berikan. Perlu digaris bawahi, Kasih sudah mempunyai suami, tidak mungkin jika dia berkhianat.
Mereka berdua sudah saling berjanji, tidak akan membuka pintu untuk orang ketiga.
"Aku hanya memberikan satu kesempatan padamu, Kasih. Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu mau melakukan kerja sama ini? Kamu mendapatkan uangku, dan aku mendapatkan tubuhmu. Apa pun yang kamu inginkan selalu terpenuhi. Kamu ingin membeli rumah, mobil, membahagiakan ibumu, semuanya bisa. Semua keputusan ada di tanganmu, jika kamu memilih untuk pergi, maka kesempatan itu sudah tidak ada."
Ucapan Gilang sungguh membuat Kasih bimbang, selama ini dia memang berniat ingin membahagiakan ibunya, dengan cara membelikan rumah, tapi apalah daya. Semua hanya angan belaka.
Dan ketika mendapat tawaran seperti itu, apakah Kasih yakin akan melepaskannya begitu saja?
"Berapa?" tanya wanita itu lirih.
Gilang tersenyum menyeringai. "Apa?"
"Kerja samanya berapa lama?"
"Tunggu! Apakah ini sebuah persetujuan?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Aku terima tawaran itu."
"Kamu yakin dengan jawabanmu? Jika sudah masuk ke dalam genggamanku, sulit sekali untuk lepas. Sekali lagi aku bertanya, apakah kamu yakin?"
Kasih tahu, jika ucapan Gilang sebuah ancaman, tapi sialnya kepalanya mengangguk begitu saja tanpa berpikir panjang.
"Baiklah, aku akan membuatkan surat perjanjian di antara kita, takut kalau suatu saat nanti kamu akan berubah pikiran, lebih tepatnya tidak konsisten dengan kerjasama ini," ucap Gilang sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Aku rasa tidak perlu."
"No! Ini sangat perlu. Kita tidak tahu masalah apa yang akan terjadi ke depannya, bukan?"
"Aku tanya, kerja sama ini berlangsung berapa hari?" tanya Kasih mengalihkan pembicaraan.
"Hari? Apakah aku tidak salah dengar? Dengar, Kasih. Paling cepat 6 bulan, paham?"
"Hah, 6 bulan? Kamu gila, ya?!" tanya Kasih dengan mata terbelalak.
Kasih membaca kata demi kata itu dengan seksama. Sesekali dahinya mengernyit ketika ada yang mengganjal dalam pikirannya.
Menurutnya, Gilang membuat surat perjanjian itu seenak jidat, hanya menguntungkan dirinya sendiri saja, bukan kedua belah pihak.
"Ini serius perjanjiannya seperti ini?" tanya Kasih dengan kedua alis bertaut.
"Ya, ada yang salah?" tanya pria itu.
"Untuk poin pertama. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi. Oke, itu masih bisa diterima. Kedua, pihak kedua harus menuruti semua keinginan pihak pertama. Ini maksudnya pihak pertama siapa, dan pihak kedua siapa?"
Gilang mendengkus pelan. Pria itu menunjuk surat perjanjian itu dari atas, menyuruh Kasih agar membacanya dari atas.
"Makanya, kalau baca itu mulai dari atas, jangan langsung lihat nomor," decak Gilang.
Kasih meringis pelan. "Oh, sorry," kata wanita itu pelan.
Sesuai perintah Gilang, Kasih pun membaca surat perjanjian itu dari awal. Wanita itu pun manggut-manggut ketika sudah tahu apa maksud isi dari perjanjian itu.
"Aku keberatan," ungkap Kasih seraya menaruh kertas itu di atas meja.
Gilang mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Semua perjanjian itu sangat menguntungkan bagimu, dan memberatkan bagiku. Ya, aku memang membutuhkan banyak uang, tapi di sini sama saja kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Kamu memperalat aku," desis Kasih.
Gilang tersenyum samar. "Oke, bagian mana yang memberatkan untukmu? Kamu bisa saja menambahkan atau mengurangi, ini hanya pendapatku saja, toh kamu juga berhak atas perjanjian itu. Silakan," ujar Gilang, pria itu kembali menyodorkan surat itu beserta pulpennya. "Kamu bebas menulis apa pun, selagi itu menguntungkan untuk kita berdua."
Kasih memijat kepalanya dengan pelan, jelas saja dia ragu dengan perjanjian itu.
"Boleh kasih aku waktu untuk berpikir?" tawar Kasih.
Gilang tersenyum masam, membuat Kasih berdecak pelan.
"Apa lagi yang kamu pikirkan, bukankah kamu sangat membutuhkan uang? Hei, ibu kamu sedang sekarat di rumah sakit," tandas pria itu.
Kasih mengepalkan tangannya, jelas saja dia tidak terima karena Gilang mengatakan jika ibunya sedang 'sekarat'.
"Tutup mulutmu, ibuku masih hidup!" pekik wanita itu.
Gilang mengedikkan bahunya acuh.
"Kenyataannya memang seperti itu."
Kasih menggebrak meja itu dengan keras, dia berdiri dari duduknya, matanya menatap nyalang.
"Sepertinya aku telah salah mengiyakan permintaan kamu tentang perjanjian konyol ini. Jadi, selagi belum terlalu jauh. Lebih baik aku urungkan saja niatku, kamu bisa mencari wanita lain, atau kalau tidak dengan Diana saja, lagi pula dia sudah membawa uangmu, kan? Kalau begitu aku permisi."
Selepas berkata seperti itu, Kasih melangkahkan kakinya menuju keluar, tanpa menunggu persetujuan dari Gilang. Bahkan beberapa kali pria itu memanggil, Kasih mengacuhkannya.
"Hei, tunggu dulu."
Tiba-tiba saja Gilang sudah berada di hadapan Kasih, membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
"Apa lagi?" tanya wanita itu ketus.
"Oke, aku tidak akan memaksamu, aku ngerti kalau kamu sedang membutuhkan waktu. Bawa surat ini, siapa tahu suatu saat kamu butuh, pintu hatiku selalu terbuka lebar jika kamu membutuhkan bantuanku."
Kasih menatap surat perjanjian itu dengan ragu. Karena terlalu lama mendapat respon dari Kasih, Gilang pun langsung mengambil tangan Kasih, lalu menaruh surat itu tepat di tangan wanita itu.
"Aku selalu menunggu," bisik pria itu tepat di telinga Kasih, membuat bulu kuduk Kasih seketika merinding.
Pria itu pun meninggalkan Kasih seorang diri. Kasih sendiri tak menyadari jika saat ini dirinya berdiri dengan linglung.
***
"Tega kamu, Di. Aku ini teman kamu loh, kenapa kamu jual aku ke orang asing?" tanya Kasih dengan emosi.
Setelah kejadian pertemuan antara Kasih dan Gilang, wanita itu memutuskan untuk menemui Diana.
Kasih harus memastikan apakah yang pria ucapkan benar atau tidak. Dia sangat berharap jika ucapan pria itu hanya bualan saja. Nyatanya, Kasih harus menelan kekecewaan ketika melihat Diana diam saja usai dia bertanya tentang hal itu.
Diana malah tersenyum sinis, menatap Kasih dengan muak.
"Nggak usah munafik gitulah, Kasih. Aku tahu kalau kamu itu butuh uang, dan juga pastinya butuh belaian juga, kan? Harusnya kamu berterima kasih sama aku karena aku sudah membantumu. Langsung mendapat dua keuntungan sekaligus."
Kasih tak bisa lagi untuk menahan kekesalannya pada wanita itu.
"Kamu benar-benar teman yang jahat. Sekarang uang itu mana, kamu harus kembalikan uang itu pada pemiliknya, karena aku menolak."
Diana tertawa ketika mendengarnya.
"Mengembalikan? Yang benar saja. Dengar, Kasih, kamu itu sama sekali belum bayar utang ke aku. Jadi, anggap saja uang itu imbalannya."
Mulut Kasih menganga, dia tidak salah dengar, kan? Benarkah yang saat ini ada di hadapannya adalah temannya? Kenapa sifatnya sangat berbeda sekali dari biasanya?
"Diana, kamu ...."
Kasih tak melanjutkan ucapannya, ketika melihat Diana menatapnya dengan bengis.
"Kenapa? Aku itu muak sama kamu, Kasih. Jujur, ya, nyesal banget aku berteman sama kamu, udah hidup pas-pasan, tukang ngutang lagi. Iya kalau langsung dibayar, ini selalu ngaret banget, selalu banyak alasan kalau ditagih. Biar seperti itu kamu masih ingin pinjam uang lagi? Gila nggak tuh."
"Diana, aku pikir kamu ikhlas membantuku, tapi ternyata--"
"Kalau kamu ingin aku mengembalikan uang itu, sekarang bayar dulu utangmu, totalnya 15 juta, aku maunya sekarang."
Kasih menundukkan kepalanya. Mustahil jika dia akan memberikan uang pada Diana sekarang, sementara uang yang saat ini dia pegang hanya sekitar 100 ribu.
'Apa yang harus aku lakukan,' batin Kasih.
"Nggak bisa bayar, kan? Ya udah deh, nggak usah sok jual mahal buat nyuruh kembalikan uang itu. Tinggal kamu ikutin aja saran dari laki-laki itu," cibir Diana.
"Aku udah punya suami, Diana. Itu sama saja aku berkhianat," sela wanita itu. Kasih berusaha berbicara dengan tenang, padahal kentara sekali jika saat ini dia tengah menahan emosi.
"Jangan terlalu berpikir positif pada suami kamu, Kasih. Coba kamu pikir, akhir-akhir ini suami kamu susah dihubungi, kan? Setiap kamu minta uang juga nggak pernah ditanggapi. Jika orang lain, pasti mereka akan berpikir jika suami kamu pasti selingkuh di sana. Iya kalau hanya sekadar jajan, kalau seandainya dia punya istri baru di sana bagaimana? Kamu terlalu bodoh untuk ditipu, Kasih."
Kali ini Kasih tak bisa lagi untuk membendung emosinya, dia menatap Diana dengan sorot mata tajam.
"Tidak usah mencampuri urusan rumah tanggaku, Diana! Masalahnya di sini hanya utang, nggak usah melebar ke mana-mana. Dan untuk suami aku, tahu apa kamu tentang kehidupan kami, hah?!"
Diana mengedikkan bahunya, wanita itu berdiri dari duduknya.
"Sebaiknya kamu pergi saja dari sini, urusan kita sudah selesai. Aku menganggap bayaran dari lelaki itu sebagai pelunasan utangmu, silakan pergi," usir wanita itu.