“Aku cuma mau papa," gumam anaknya.
Lily hanya tersenyum getir usai mendengar kalimat barusan. Permintaan sederhana yang ternyata sangat sulit untuk dia wujudkan. Wanita bersurai panjang itu terdiam cukup lama sembari memandangi buah hatinya yang tengah sibuk menyantap makan siang.
“Mau tambah lagi, hemm? Tempe goreng atau ikannya?” tanyanya dengan wajah yang terlihat kembali ceria.
“Enggak. Aku sudah kenyang,” tolak Farel pelan. “Mama denger tidak yang aku katakan tadi? Aku mau papa datang di pesta ulang tahunku.”
“I-iya. Akan mama usahakan ya, Sayang,” jawab Lily yang sebenarnya juga tak begitu yakin.
“Atau aku yang telepon papa saja ya? Aku sudah kangen.” Gelengan Lily membuat bocah yang usianya hampir mencapai empat tahun tersebut seketika cemberut. “Kenapa sih? Papa sudah tidak sayang aku?”
“Eh? Siapa bilang begitu? Papa lagi sibuk bekerja. Kamu sabar ya. Nanti mama yang hubungi papa kamu. Sekarang cepat selesaikan makannya, terus tidur siang. Oke?”
Anggukan Farel membuat Lily bernapas lega. Di dalam hati sungguh dia sangat merutuki sang mantan suami yang sudah lama tak memberi kabar. Ada rasa berkecamuk detik itu juga mengingat janji yang pernah diucapkan oleh pria tersebut. Sayangnya semua hanya ucapan belaka. Hampir setahun lamanya buah cinta mereka tidak mendapatkan kabar atau nafkah layak sebagaimana kesepakatan yang telah dibuat.
Usai memastikan kalau anaknya sudah masuk ke kamar, barulah Lily memberanikan diri menyambar ponselnya. Lantas melihat riwayat pesan yang sekitar dua bulan lalu tidak kunjung mendapatkan balasan hingga detik ini. Luka yang telah lama dia tutupi kini kembali terbuka.
Suara balasan dari layanan jaringan telepon membuatnya berdecak pelan. Sesuai dugaannya kalau nomor sang mantan suami akan sulit dihubungi. Tidak ada pilihan selain mencoba jalur yang terakhir. Jadilah Lily berbuat nekad.
“Ha-halo!” sapanya ketika mendengar panggilan tadi langsung tersambung.
[“Halo. Ini Nyonya Li-ly ya?”]
Senyum Lily langsung terulas tipis meskipun hatinya sedang dilanda sedikit kecemasan. “Iya, Mbok. Iya, aku Lily. Hemm ... Mas Adrian ada?”
Sayangnya harapan tadi langsung pupus ketika dia mendengar suara lantang dari seberang sana. Siapa lagi kalau bukan sang mantan ibu mertua yang merebut paksa telepon dari asisten rumah tangga tersebut.
[“Hei, kamu!! Masih berani telepon kemari, hah??”]
“Mami??” Napas Lily seketika tercekat usai mendengar suara hardikan barusan. Demi permintaan Farel dia kembali menjatuhkan harga dirinya lagi.
[“Kenapa? Kamu berharap kalau Adrian yang akan terima telepon ini? Jangan mimpi kamu! Mau apa? Kamu kekurangan uang? Iya? Enggak sanggup ngurusin anak kamu sendiri? Makanya jangan sok mampu kamu! Dengan yakinnya waktu itu ngomong kalau bisa besarin Farel. Butuh uang berapa kamu? Saya transfer sekarang!"]
Air mata Lily jatuh saat itu juga. Dia terisak karena lagi-lagi harus menerima perkataan kasar dari wanita yang menjadi penyebab hancur rumah tangganya barusan. “Mi, aku telepon bukan untuk minta uang.”
[“Terus apa coba? Kamu kerjanya cuma nyusahin anak saya saja. Beda sama calon mantu saya si Bella yang sekarang. Sudah cantik, baik, mandiri, dan pastinya berasal dari keturunan yang sederajat sama kami.”]
“Cukup, Mi. Aku hubungin ke nomor rumah karena hape-nya Mas Adrian enggak aktif udah sejak lama,” sergah Lily sembari menghapus kasar jejak air matanya. “Farel pengen jumpa papanya. Dua hari lagi dia ulang tahun. Dia cuma mau kehadiran Mas Adrian.”
Alih-alih mendengar keluh kesah Lily, ibu mertuanya itu hanya terkekeh. [“Kamu antar saja dia ke depan rumah kami. Setelahnya kamu pergi. Mampir ke mana kek. Ke hotel atau apa. Yang jelas saya enggak mau lihat muka kamu lagi. Oh ya. Saya bakalan kirim tiket PP kalian Medan-Jakarta. Gampang ‘kan? Hemm, tapi sepertinya Adrian enggak akan hadir ke acara ulang tahun anak kalian. Dia lagi sibuk nyiapin pesta pernikahannya. Gimana dong?”]
“Mas Adrian me-ni-kah lagi?” tanya Lily dengan terbata-bata.
Hatinya jelas merasakan sakit mendengar ucapan tadi. Pantas saja sejak dia kembali ke kampung halamannya di Medan pria itu semakin sukit untuk dihubungi. Ternyata benar gosip yang pernah dia dengar bahwa mantan suaminya akan menikah lagi.
[“Iya. Dia akhirnya sadar kalau Bella lebih baik daripada kamu. Berkali-kali lipat bahkan.”]
“Baiklah. Kalau gitu aku jadi tahu bahwa enggak perlu lagi berharap pada orang yang salah.”
[“Baguslah kalau kamu sadar diri. Kirimkan nomor rekening kamu. Saya masih berbaik hati loh.”]
“Enggak perlu, Mi. Aku masih bisa hidupin anak aku sendiri. Titip salam buat Mas Adrian aja. Tolong sampaikan kalau anaknya ingin bertemu. Itu saja.”
Setelahnya Lily memutus pembicaraan via udara itu dengan tangan yang bergetar. Jujur saja dia memang masih mencintai mantan suaminya. Namun, perasaan tadi jelas takkan bisa memperbaiki hubungan mereka yang sudah kandas sejak tahun lalu.
Waktu sudah menunjukkan pukul dini hari. Lily menyeka peluh yang membasahi area wajahnya yang kelelahan akibat bekerja. Dia hanya mengulum bibir saat melihat tubuhnya yang tampak kurusan dari hari ke hari. Semua dilakukan demi mengidupi dirinya dan Farel semata. Tak masalah dengan shift kerja yang sering menguras jam istirahat tidur. Yang penting buah hatinya tersebut tidak merasakan kekurangan.
“Ma.”
“Sayang? Kenapa, hemm?” gumam Lily ketika melihat wajah putranya yang masih terjaga.
“Papa bilang apa tadi? Kapan datangnya?” tanya Farel dengan wajah yang berbinar cerah. Sungguh dia tak sabar ingin menunjukkan sosok sang papa di hadapan teman-temannya nanti.
“Oh itu ya.” Lily mendesah pelan lalu meletakkan kedua tangannya di masing-masing pundak Farel. “Papa kamu itu, dia ... tidak akan datang. Mulai sekarang kita hidup berdua saja ya.”
“Maksud mama?” tanya Farel dengan wajah yang tampak bingung. “Aku ‘kan sudah bilang kalau aku maunya papa. Cuma papa!!”
Lily pun berdecak pelan. “Lihat mama, Rel!! Selama ini yang berjuang buat kamu itu mama. Kenapa sih kamu tetap inginkan papa? Dia itu tidak bertanggung jawab. Dia—“
“Mama jahat!!” sentak Farel dengan suara yang meninggi. “Mama yang udah bawa aku pergi dari rumah.”
“Bukan begitu. Kamu saja yang belum mengerti. Hubungan mama dan papa memang sudah ...,” Lily menggantung ucapannya. Dia merasa bersalah lantaran terbawa emosi. Karena kelelahan dan tekanan dari dunia kerja, pikirannya pun kacau balau. Mirisnya Farel sudah kadung mencerna perkataan barusan. Bocah itu berbalik badan lalu meninggalkannya dengan wajah sembab. “...., Maaf. Mama yang salah.” Tangis Lily pecah seketika. Dia butuh waktu untuk menyendiri sebelum kembali mengajak putranya berbicara lagi.
Setelah membersihkan diri, dia berniat untuk melihat keadaan anaknya. Berharap malam ini bisa memeluk tubuh mungil penyemangat hidupnya itu. Tepat saat membuka pintu kamar, dia dikejutkan dengan pemandangan yang menyesakkan dada.
"Farel, kamu kenapa??"
Napasnya terasa sesak ketika melihat tubuh Farel yang menggigil di bawah selimut.
“Pa-pa!”
“Sayang, bangun. Ini mama,” ucap Lily dengan suara seraknya yang tertahan. Dirinya panik bukan main ketika merasakan sekitaran badan putranya yang panas.
Farel masih dalam keadaan mata terpejam dengan racauannya yang tadi. Dengan cepat Lily menyibak selimut kemudian mengggendong tubuh sang putra dalam hitungan detik. Saat itu juga dia merasakan adanya guncangan yang hebat.
“Bibi! Paman! Tolong!!” pekik Lily yang sudah berada di ambang pintu.
Tak butuh waktu lama hingga seorang wanita paruh baya muncul dari kamar yang lain. “Eh? Kenapa sama Farel?”
“Farel demam lagi, Bi. Dia barusan kejang-kejang! Kita harus ke rumah sakit sekarang.”
“Iya iya. Bibi bangunin paman kamu dulu ya.”
Kini kendaraan roda tiga yang biasanya dijadikan sang paman untuk mencari nafkah sehari-hari sedang melaju kencang membawa Lily, Farel dan bibinya menuju rumah sakit terdekat. Beruntung jarak fasilitas kesehatan itu dari rumah mereka hanya memakan waktu lima menit saja.
“Tolong, Sus,” isak Lily ketika mereka tiba di depan ruangan IGD. Matanya menatap nanar dua orang tenaga medis yang tampak sigap menangani Farel di atas brankar.
“Suhunya 39 derajat, Dok!” lapor salah seorang dari mereka.
Pria berjas putih dengan stetoskop yang sudah berada di telinga mengangguk cepat. “Siapin pemasangan infus segera ya.”
Lily kehilangan kata-kata saat dokter yang menangangi putranya menjelaskan secara singkat apa yang barusan terjadi. Dia hanya mengangguk sembari melihat mata Farel yang masih terpejam.
“Makasih ya, Dok,” ucap bibinya ketika dokter tadi mengakhiri kalimatnya.
“Sama-sama, Bu. Pasien kita observasi sampai satu jam ke depan ya. Setelahnya kami akan pindahkan ke ruang rawatan inap.”
Lagi-lagi Lily mengangguk dalam diamnya sebagai respon. Sementara kini sang bibi segera mengajaknya untuk duduk di samping brankar tempat Farel berbaring.
“Farel sudah ditangani. Kamu jangan cemas ya,” kata bibi berusaha menenangkan dirinya. “Paman tadi langsung pulang ke rumah karena harus nganterin langganan becaknya yang mau ke pasar.”
“Iya, Bi. Makasih ya udah bantuin aku,” gumam Lily akhirnya.
“Hei, kamu kayak sama siapa aja. Kita ini keluarga, Ly. Jadi harus tolong-menolong.”
Lily mengangguk samar dengan senyuman getirnya. Sungguh dia semakin takut kalau nanti putranya akan membuka mata. Apa yang harus dia katakan nanti? Keinginan yang dianggap Farel sangat mudah ternyata sangat sulit untuk dia penuhi.
“Kalau memang Farel mau ikut Mas Adrian, aku harus apa ya?” tanyanya entah pada siapa. Namun, ucapan tadi terdengar oleh wanita yang ada di sampingnya itu juga.
“Maksud kamu gimana? Apa kamu mau ngelepasin anak kamu ke kandang harimau? Jangan ceroboh, Ly! Bibi saja kalau boleh ditanya sangat nyesel restuin pernikahan kamu dengan si Adrian itu. Pamanmu juga sama. Cuma ya dia hanya bisa diam. Toh udah kejadian juga.”
“Bibi,” isak Lily kemudian.
“Maafin bibi ya, tapi memang begitu isi hati bibi yang terdalam. Pamanmu pun merasa bersalah karena kamu yang merupakan anak dari abangnya menderita sekarang. Dia enggak nyangka kalau Adrian masih tidak berubah. Selalu aja hidup di bawah ketiak orangtuanya. Kamu dan Farel yang jadi korban karena dia tidak bisa mandiri.”
“Ini udah jadi jalannya hidup aku, Bi. Enggak ada yang harus disesali. Aku bersyukur punya Farel. Iya ‘kan?”
Bibinya mengangguk sambil tersenyum. “Sudah ya. Jangan pikirkan lagi yang tidak-tidak. Farel itu masih kecil. Belum mengerti permasalahan orang dewasa. Kamu harus luasin rasa sabar lagi. Nanti dia juga tahu dengan sendirinya.”
Beruntung hari ini dan besok memang waktunya Lily untuk libur dalam pekerjaan. Jadilah dia tak perlu risau kalau gajinya akan dipotong. Wanita tersebut lekas bangkit ketika melihat putranya terbangun.
“Kita di rumah sakit, Sayang. Kamu tadi demam lagi. Sekarang udah dipindah ke ruangan biasa,” jelas Lily panjang lebar begitu melihat respon terkejut dari anaknya. “Maaf ya kalau tempat rawatan kamu kurang nyaman. Itu artinya kamu harus sembuh supaya bisa kembali ke rumah.”
Hati Lily ikut perih ketika mengatakan kalimat barusan. Fasilitas BPJS kesehatan kelas terendah yang menjadi senjatanya tentu tidak akan memberikan kenyamanan penuh seperti yang keluarga mantan suaminya berikan. Meskipun begitu dia wajib bersyukur karena bisa memberikan apa yang dia mampu untuk Farel.
“Aku mau pulang. Di sini menakutkan,” rengek putranya. “Bau obat, Ma. Aku tidak suka.”
Lily tidak kehilangan akal. Dia menatap jarum jam yang masih menunjukkan ke angka enam. “Sebentar lagi sarapan kamu datang. Setelahnya mama ajak ke taman. Ya hitung-hitung sambil nungguin dokternya besuk ke sini. Gimana, hemm? Kalau sudah boleh pulang baru kita siap-siap.”
“Mama enggak bohong lagi ’kan??” tanya Farel sedikit ragu.
“Sayang,” ucap Lily yang semakin merasa bersalah. “Maafin mama ya soal yang tadi malam.” Farel hanya menunduk tanpa berniat untuk mengucapkan apapun.
Di sinilah mereka sekarang. Taman rumah sakit yang letaknya berada di tengah-tengah, dekat dengan area parkiran. Banyak pasien berkusi roda yang sedang menghirup udara pagi di sana. Lily memegang tiang infus dengan tangan yang lain mengusap rambut putranya.
“Duduk di bangku panjang sana yuk,” tunjuknya ke arah yang dimaksud. Farel tak menjawab langsung. Namun, langkahnya ikut berpindah juga.
Tatapan Farel yang tadinya kosong kini beralih ke sosok pria yang baru saja ke luar dari mobil bewarna hitam. Satu alisnya terangkat dengan mata yang menyipit sejenak. “Itu Papa! Papa!”
Tanpa mempedulikan selang infus yang masih menancap di punggung tangannya pria kecil itu berlari kencang ke arah tadi. Membuat Lily langsung tersentak menatap darah putranya yang menetes di ubin rumah sakit.
“Farel! Sayang, tunggu!!” Lily pun berlari sekuat tenaga mengimbangi gerakan anaknya yang sangat cepat. Mulutnya ternganga ketika mendapati Farel yang tengah mendekap tubuh seseorang.
Sama sepertinya yang terkejut saat ini. Pria dewasa yang tak tahu apa-apa itu hanya diam tanpa mengatakan apapun. Tak juga merespon dengan memeluk balik Farel yang tengah menangis sesenggukan. Barulah dia terkesiap saat melihat lengan jasnya yang ternoda dengan darah.
“Hei, kenapa dengan tanganmu?” tanyanya kemudian. “Kamu melepas infusnya dengan paksa ya?”
Farel tak menghiraukan ucapan barusan. “Papa ke mana saja? Aku kangen Papa.”
“Sayang, dia bukan papa,” gumam Lily sangat hati-hati. Kedua tangannya berusaha melepaskan dekapan erat sang putra. Sayangnya tindakan tadi malah berakhir dengan sia-sia. Farel malah memberontak.
“Aku mau sama papa,” isak Farel masih di posisi yang sama.
Lily merasa kalah dengan keadaan. Dia menatap pria yang dianggap putranya sebagai papa itu dengan sorot mata sendu. “Anakku lagi sakit. Maaf.”
Pria tadi malah terkekeh dengan senyuman yang mengejek. “Apa kalian sedang bersandiwara? Ini sama sekali tidak lucu.”
“Papa di sini saja. Jangan pergi ke mana-mana lagi,” pinta Farel dengan wajahnya yang masih kelihatan pucat.
“Sayang, sudah ya. Susternya mau pasang infus kamu dulu. Sebentar lagi obatnya mau dimasukkan. Dengerin kata mama ya, Nak,” ucap Lily yang hampir frustrasi.
Farel hendak memberontak, tetapi tubuh pria dewasa yang dianggapnya adalah sang papa tadi mulai mendekat. Jadilah dia mengangguk dan akhirnya menurut untuk tidak bergerak lagi.
“Sakit itu tidak enak. Jadi kau harus cepat sembuh,” katanya dengan suara datar. Namun, ternyata berhasil membuat Farel senang karena merasa diperhatikan.
“Papa janji ya tidak akan jauh-jauh dari kami lagi,” gumam Farel dengan sorot matanya yang sendu. “Besok aku ulang tahun. Teman-teman pasti akan bertanya lagi di mana papa. Jadi jangan pergi.”
“Aku ada—“
Ucapan tadi terjeda saat dokter yang menangani Farel muncul ke dalam ruangan. “Selamat pagi. Wah. Infusnya terlepas ya?”
“Maaf, Dokter,” cengir Farel seraya menunjukkan cengiran kudanya. “Aku tadi terlalu senang karena bertemu dengan papa.”
Dokter tadi pun menoleh ke arah pria yang dimaksud. “Pak Keenan?”
“Jangan banyak bertanya. Anak ini sedang sakit. Kau cepatlah selesaikan pekerjaanmu,” tukas pria yang bernama Keenan itu.
“Baik, Pak.” Sang dokter lekas meraih map berisi kumpulan hasil pemeriksaan pasien lengkap dengan laporan dari laboratorium juga. “Syukurlah tidak ada yang mengkhawatirkan. Besok jagoan kecil yang cerdas ini bisa pulang.”
“Apa tidak bisa sekarang? Besok aku ulang tahun,” pinta Farel menunjukkan rasa kecewanya.
“Maaf ya, Boy. Ada obat yang harus dimasukkan lewat infus sampai besok pagi. Jadi pulangnya memang harus sesuai dengan yang saya katakan.”
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan tepat. Sepasang orang dewasa yang tadi hanya diam kini saling menoleh.
“Aku ada meeeting. Jadi harus pergi,” ucap Keenan tanpa basa-basi.
Lily mengangguk paham. “Terimakasih ya. Yang Anda lakukan tadi sangat membantu.”
Keenan tak mengatakan apapun setelahnya. Lantas dia bangkit dari posisi yang semula duduk dan berjalan cepat menuju luar ruangan. Sebelum benar-benar pergi dari sana, dia menyempatkan diri untuk melirik sejenak Farel yang tengah tertidur di atas brankar. Ada perasaan bersalah karena tadinya sempat menuduh yang bukan-bukan pada kedua ibu dan anak itu. Jadilah dia bungkam dan tak protes saat sang bocah mengajaknya ke ruang rawatan.
Sementara kini Lily menatap iba putranya. Sama sekali tak menyangka jika sakit Farel yang sekarang karena bisa saja sangat merindukan sosok seorang papa. Hingga suara ketukan pelan dari arah luar membuyarkan lamunannya.
“Bibi?”
“Maaf ya, Ly. Bibi baru selesai beres-beres di rumah. Tadi pelanggan sayur bibi pada banyak yang nitip buat besok makanya baru kemari. Oh ya. Kamu sudah sarapan?” tanya bibinya sembari mengeluarkan bungkusan nasi dari dalam tas plastik. “Ke kantin gih. Makan pake teh hangat biar enggak masuk angin. Kamu juga ‘kan belum tidur dari tadi malam.”
“Iya, Bi. Titip Farel sebentar ya. Kalau dia kebangun telepon aku aja.”
Karena terlambat mengisi perut, jadilah dia merasakan mual ketika menyuapkan nasi ke dalam mulut. Lily meneguk isi teh manis pesanannya hingga tersisa hanya setengah. Selera makan pun hilang lantaran sibuk memikirkan solusi dari keinginan putranya yang masih belum dipenuhi.
Lambungnya hanya menerima hingga suapan keempat saja. Atensi wanita malang itu lekas beralih pada kucing berbulu putih yang langsung membuatnya terenyuh. Kasihan. Begitu yang dipikirkan Lily. Lantas dia pun beriniatif untuk memberikan ikan yang ada di dalam bungkusan nasi tadi pada hewan tersebut.
“Pusss, sini!!” pekiknya dengan suara setengah berbisik.
Entah mengapa kakinya melangkah mengikuti arah sang kucing yang berjalan ke bagian selatan mata angin. Setelah membuntuti selama satu menit Lily lekas mengeluarkan sisa makanannya tadi.
[“Come on, Dad. Ini jaman apaan coba? Sekarang udah enggak berlaku hal yang kayak begituan.”]
Suara samar-samar tadi membuat Lily menghentikan aktifitasnya. Niat hati hendak pergi, tetapi kaki enggan beranjak sama sekali. Seolah ada perekat yang membuat ibu satu anak itu terpaku di sana.
[“Aku belum mau menikah. Lagi pula aku rencananya tidak ingin punya anak. Tidak bisakah kalian menghargai pendapatku, hah??”]
[“...”]
Pria yang tengah tersulut emosi itu menyugar kasar rambutnya ke arah belakang. Dia menendang angin saking begitu kesal dengan orang di seberang sana yang menjadi lawan bicaranya.
[“Sumpah ya. Kalian benar-benar menyebalkan.”]
[“...”]
[“Halo! Daddy! Aku belum selesai bicara.”]
Tampaknya panggilan tadi terputus begitu saja. Membuat sang pria berdecak kesal. Sialnya ketika dia menoleh ke arah kanan, wajah Lily tampak dalam hitungan detik.
“Kau??” tunjuknya dengan kilatan amarah. “Mau apa kau membuntutiku, hah??”
Lily pun tergagap. Rasa takut pun muncul ketika melihat pria yang tak lain adalah Keenan. Dia berubah seperti singa yang hendak menerkam mangsanya. “Ma-af. A-aku ke sini tidak sengaja. Aku ... hemmm memberi makan kucing. Iya. Dia di sini tadi.” Tak pelak jarinya menunjuk ke arah bawah di mana terdapat tulang-tulang ikan yang sudah berserakan.
Belum sempat mendengar respon dari pria di hadapannya, ponsel Lily mulai bergetar. Lekas dia merogoh benda pipih tersebut dari dalam saku celana.
“Halo, Bi. Kenapa?” tanyanya dengan suara yang masih meredam rasa ngeri akibat menatap dua bola mata penuh emosi milik Keenan.
Sayangnya dia tak mendengar dengan jelas lantaran saat itu juga suara ambulans menyamarkan ucapan sang bibi. Jadilah Lily mengaktifkan mode lain di dalam ponselnya.
[“Farel udah bangun. Dia bilang mau ketemu papanya. Memang tadi Adrian kemari ya?”]
“Ah itu.” Lily menatap sekilas Keenan yang masih dalam posisi mengintimidasi sedari tadi. “Aku ke sana sekarang ya.”
“Kau mau ke mana??” sentak Keenan masih dengan suara yang meninggi. “Aku tidak suka ada orang yang tahu tentang kehidupanku.”
Sumpah. Lily sama sekali tak berniat menguping atau apa. Lagian dia ingin membagi informasi yang didengarnya tadi pada siapa? Toh bertemu dengan Keenan juga baru tadi pagi. Mereka jelas tidak mengenal satu sama lain.
Dia pun menghela napas pelan sebelum akhirnya membuka mulut, “Maaf, Pak untuk hal yang barusan. Saya sama sekali tidak ada maksud lain. Lagipula masalah saya masih banyak. Permisi.”
“Tunggu!” Keenan membentangkan satu tangan kekarnya ke hadapan Lily yang hendak beranjak pergi. “Aku benci mengatakan ini, tapi aku sedang terdesak.”
“Maaf. Apa maksud Anda ya?” tanya Lily tak mengerti ke mana arah pembicaraan tersebut.
“Dari pengamatanku tadi, sepertinya anakmu mengalami depresi ringan.”
“Terimakasih atas pemberitahuannya,” ucap Lily singkat.
“Aku butuh status baru untuk mengambil alih perusahaan. Anakmu pun butuh seorang ayah. Jadi ... mari menikah.”
Menikah? Ide macam apa itu? Lily pun terkekeh mendengar tawaran barusan. “Anda gila ya?”