Di dalam salah satu gerbong kereta api, terlihat para penumpang duduk berjejer memenuhi kedua sisi tempat duduk. Dua orang wanita terlihat sedang berbicara sambil memamerkan cincin dan gelang indah mereka. Beberapa pria dan wanita tampak berpakaian kerja yang rapi. Seorang pria kaya mendengus sombong sambil memperlihatkan rantai emas tebal yang menggantung di lehernya dan beberapa penumpang lainnya terlihat sibuk dengan telepon genggam atau sekedar diam sambil mengantuk.
Dua orang pria dari tempat duduk yang berseberangan terlihat saling bertatapan sejenak. Mata mereka menyorotkan sebuah arti. Tak lama, terlihat seorang dari mereka memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Secara bersamaan, keduanya langsung berdiri. Seseorang bergerak menghadap ke arah kanan dan lainnya menghadap ke arah kiri. Tangan mereka mengeluarkan senjata api berwarna hitam yang segera ditodongkan pada semua orang di kedua sisi gerbong kereta api.
“Jangan bergerak,” teriak seorang di antara mereka. “Serahkan semua dompet, telepon genggam dan barang berharga kalian.”
Para penumpang dalam gerbong terkejut mendengar teriakan itu dan kemudian melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan penasaran. Setelah menatap senjata api yang digenggam oleh kedua pria itu, desah nafas tertahan para penumpang segera terdengar dari seluruh penjuru dalam gerbong kereta. Raut wajah ketakutan dan tidak percaya menghiasi wajah-wajah para penumpang.
Kedua perampok terlihat menurunkan tas ransel mereka masing-masing, membukanya dan mengarahkan mulut tas yang terbuka ke satu per satu penumpang. Di hadapan senjata api, beberapa penumpang yang ketakutan terlihat buru-buru mengeluarkan dompet mereka dan melemparkannya ke dalam tas ransel perampok. Wajah pria yang memakai gelang emas segera berubah menjadi pucat.
“Telepon genggam, jam tangan, dompet dan juga cincin,” teriak seorang perampok sambil menggerak-gerakkan ujung senjata apinya pada seorang penumpang di depannya. Tanpa daya semua benda-benda itu segera berpindah tangan.
Seorang penumpang muda dengan rambut dicat berwarna merah dan bergaris kuning, terlihat marah dan menolak untuk memberikan apa pun juga pada perampok itu. “Aku tidak memiliki apa pun. Tembak saja aku kalau kamu berani,” tantang pemuda itu. “Aku bertaruh, senjata apimu itu palsu. Ayo semuanya ikut melawan. Jangan takut.”
Perampok itu tersenyum mengejek. Tanpa ragu, ia mengarahkan senjata apinya pada paha pemuda itu dan menembaknya. Senjata api tersebut terdengar berbunyi sayup saat pelurunya muntah melalui sebuah lubang peredam suara yang terpasang pada ujung senjata api. Raut wajah pemuda yang marah segera berubah terkejut dan berikutnya berubah menjadi wajah yang meringis kesakitan. Teriakan dan rintihan keluar dari mulutnya, terdengar penuh penderitaan. Ia menekuk tubuhnya dan kedua tangannya menggenggam pahanya yang kini sudah berlubang dan mengalirkan darah segar.
“Kamu yang memintanya kawan. Jangan salahkan aku,” kata perampok berwajah bengis itu dengan enteng dan tersenyum mengejek.
Sebelah tangan perampok itu bergerak kembali untuk memukul pemuda yang kesakitan itu tepat di kepalanya dengan menggunakan gagang senjata api. “Hayo siapa lagi yang mau bertindak sebagai jagoan?” kata perampok itu terlihat senang.
Seketika semua penumpang menjadi ketakutan dan buru-buru mengeluarkan dompet mereka bahkan sebelum tas perampok itu mendekati mereka. Saat yang lainnya sibuk mengeluarkan harta mereka, seorang pria yang memakai jaket kulit berwarna hitam, masih terlihat duduk dengan santai sambil mengeluarkan dua buah sarung tangan kulit berwarna hitam dan memakainya dengan tenang. Pria itu memakai sebuah topi polos berwarna biru yang menyembunyikan sebagian wajahnya.
“Serahkan dompetmu,” sahut seorang perampok yang sudah tiba di depan pria itu, sambil mengacungkan senjata apinya pada wajah yang tertutup topi.
Kepala pria itu bergerak sedikit dan matanya menatap tajam pada perampok tersebut. Di dalam bola matanya tidak terlihat sepercik pun ketakutan. Mendadak, kedua tangannya bergerak sangat cepat menangkap senjata api perampok di depannya. Dalam satu gerakan tangan yang cepat, arah senjata api tersebut sudah berbalik pada perampok tersebut. Dengan sedikit dorongan dari lengannya ke depan, moncong senjata api langsung melekat pada bahu perampok tersebut. Wajah perampok tersebut terlihat terkejut dan terpana sesaat karena kecepatan dari gerakan yang terjadi. Tangannya sendiri masih memegang senjata api, meski ikut digenggam oleh tangan pria itu juga.
“Syutt...Syutt....Syuttt...”
Senjata api itu mengeluarkan suara tembakan halus tiga kali dan punggung belakang perampok itu bergetar ke belakang beberapa kali terkena hentakan peluru. Hanya terdengar suara desahan tertahan dari mulut pria itu dan matanya yang menatap tidak percaya. Tubuhnya kemudian terjatuh di atas lantai kereta api masih dengan sebelah tangannya tergenggam oleh pria bertopi biru. Pria itu segera berdiri dari tempat duduknya dan menarik senjata api dari tangan perampok.
“Hei, perampok,” panggilnya pada perampok lain di sudut gerbong yang masih mengumpulkan bagiannya. Perampok yang dipanggil segera berbalik. Ia melihat seorang pria yang berdiri dengan senjata api mengarah padanya dan temannya yang terjatuh di lorong kereta api.
Detik berikutnya, ia segera mengangkat senjata api di tangannya dengan cepat. Namun, sebuah sengatan peluru panas segera menyengat jari tangannya dan membuatnya berteriak kesakitan. Senjata api ditangannya terlempar jatuh dari genggamannya dan mendarat di atas lantai kereta api. Tidak berhenti sampai di sana, sebuah tembakan mengenai senjata api itu dan membuatnya meluncur berputar ke sudut gerbong kereta api, memasuki bagian bawah kursi penumpang.
Perampok tersebut berteriak kesakitan. Ia menatap pada tangannya yang sudah berlumuran darah dan jari tengahnya sudah terkoyak hingga terlihat tulang putihnya. Jari telunjuknya kini tergantung pada sedikit daging yang tersisa. Sebuah rasa panas mendadak menyengat pahanya. Membuatnya terjatuh sambil berteriak kesakitan.
Semua penumpang di sana hanya dapat terdiam melihat hal yang berlangsung begitu cepat. Pria bertopi biru berjalan tiga langkah dan menghadap pada seorang penumpang, pria berumur lima puluhan. Ia mengacungkan senjata api pada dahi penumpang itu.
“Keluarkan senjata apimu dengan dua jari.”
“Aku... aku tidak mengerti...” kata pria tua itu terlihat ketakutan.
Pria bertopi biru menatapnya dan mengarahkan senjata api pada paha pria itu lalu menembaknya.
“Baiklah, baiklah!!!” teriak pria itu mengeluarkan sebuah senjata api yang terselip di belakang punggungnya sambil meringis kesakitan.
Ia segera menyambut senjata api tersebut dan membuangnya sejauh mungkin ke ujung gerbong kereta api.
“Pegang lututmu,” perintahnya.
Tanpa daya, pria setengah baya itu menurutinya.
Pria itu segera melayangkan tangannya yang memegang bagian bawah senjata api pada siku pria setengah baya dari arah berlawanan. Teriakan keras dari pria itu segera terdengar menyayat hati. Para penumpang wanita menutup mata ketakutan. Lengan pria tersebut dalam sekejap sudah menggantung, mengarah ke arah yang tidak semestinya. Tampak bagian sikunya telah patah atau terlepas dari sendi siku.
Jari-jari tangan pria bertopi biru segera menyentuh senjata api ditangannya dan dengan gerakan cepat, bagian-bagian senjata api tersebut berlepasan satu per satu dan jatuh berserakan ke atas lantai kereta api.
Selesai membuat senjata api itu menjadi rangkaian-rangkaian kecil, ia bergerak ke dekat pintu keluar kereta api. Melipat tangannya dan bersandar dengan tenang sambil melihat pemandangan di luar kereta api yang sedang bergerak. Para penumpang masih terdiam, hanya menyisakan suara erangan kesakitan dari ketiga perampok itu dan seorang pemuda berambut merah yang melawan tadi.
Mendadak, terdengar sebuah lagu My Heart Will Go On yang di bawakan Celine Dion dari dalam tas ransel perampok yang terjatuh di atas lantai kereta. Pemuda bertopi biru melihat sekeliling dan menatap pada seorang pria berbadan besar dengan wajah brewokan dan tubuh bertato yang terlihat mencoba menghindari tatapannya.
“Kupikir, itu bunyi telepon genggammu,” sahut pria itu ringan. “Sebaiknya kamu mengangkatnya.”
“Iya, iya...” jawab pria berbadan besar yang segera membungkuk dan berjalan ke arah tas ransel.
Ia buru-buru merogoh ke dalam tas tansel dan mengeluarkan sebuah telepon genggamnya yang sedang berbunyi. Pria itu kembali melayangkan pandangannya keluar dari kaca jendela pintu kereta api, terlihat tidak peduli. Para penumpang terlihat bergerak perlahan-lahan setengah ketakutan sambil mengoper tas ransel perampok itu di antara mereka dan mengeluarkan kembali dompet serta harta benda mereka.
Tepat saat kereta api berhenti dan pintu keluarnya terbuka, pria itu telah lenyap.
Pria berjaket hitam itu bergerak keluar dari gerbong kereta api dengan cepat dan segera berjalan masuk pada sebuah gerbong kereta api yang lain. Dia masih harus melewati dua stasiun untuk mencapai tempat yang ingin ditujunya. Pintu kereta api menutup dan mulai bergerak.
Ia mencari sebuah tempat duduk, kemudian melepas kembali sarung tangannya dan memasukkannya pada kantung jaket. Ia yakin, tidak akan ada sidik jarinya yang tertinggal pada senjata api para perampok itu. Matanya menatap pada televisi kecil di dalam kereta api yang sedang menayangkan seekor panther berlari dengan cepat di padang rumput.
Panther adalah nama panggilannya yang sudah digunakannya selama puluhan tahun. Sedangkan nama aslinya sudah ia lupakan bersama dengan ayah dan ibunya. Sebelum ia genap berumur sepuluh tahun, ia menembak mereka berdua dan ikut mengubur masa lalunya. Mata Panther tertutup dan nafasnya menjadi tenang. Ia tidak membutuhkan masa lalu. Ia tidak membutuhkan keluarga. Ia tidak membutuhkan siapa pun. Ia hanya perlu memastikan jika ia memiliki uang yang cukup untuk memenuhi kehidupannya hingga tua.
...
Baiklah, mungkin dia membutuhkan seseorang. Ia membutuhkan Sophie, satu-satunya wanita yang mencintainya. Tanpa sadar tangannya bergerak merogoh sebuah kunci kecil di dalam kantong jaketnya. Kunci salah satu lemari sewaan di dalam stasiun kereta api. Lemari-lemari sewaan itu biasanya menjadi tempat peyimpanan baju ganti, alat-alat pancing, sepatu, atau barang-barang pribadi lainnya yang memudahkan para penumpang untuk melanjutkan perjalanan tanpa perlu kembali ke rumah mereka yang jauh. Sedangkan kunci yang ada di tangannya akan membukakan pintu menuju ke masa depannya.
Saat kereta api berhenti di sebuah stasiun, Panther bergerak keluar bersama dengan penumpang yang lain. Ia berjalan perlahan menuju ke arah lemari-lemari sewaan dari besi yang tersusun berderet-deret. Sebelum tiba di tempat itu, ia berhenti berjalan untuk melihat pada sebuah televisi yang tergantung di peron stasiun. Televisi itu sedang memberitakan tentang kematian seorang tokoh besar dalam dunia politik dan ekonomi bernama Genidio Soulani. Seorang calon kuat presiden berikutnya bagi negaranya.
Kematian tokoh penting itu adalah akibat dari serangan jantung mendadak saat dalam perjalanan pulang dari luar negeri menuju ke rumahnya dengan pesawat pribadi miliknya. Panther tersenyum sinis dan kakinya bergerak kembali. Tokoh itu sebenarnya meninggal dunia setelah ia menyuntikkan sebuah racun yang menyerang jantung dan memberikan gejala seperti terkena serangan jantung pada umumnya.
Tangan Panther kembali menggenggam kunci lemari sewaannya. Kunci dari sebuah lemari yang berisi uang dua juta dollar sebagai uang pembayaran untuk membunuh tokoh penting itu. Ia menghabiskan hampir enam bulan untuk mempelajari segala sesuatu tentang Genidio hingga dapat menyelinap ke dalam pesawat pribadinya.
Ia sudah mengeluarkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit, tapi semuanya sepadan dengan hasilnya. Pembunuhan itu menjadi pekerjaannya yang terakhir. Ia sudah berjanji pada dirinya akan pensiun setelah misi ini. Berikutnya, ia akan hidup tenang dan bahagia dengan Sophie, jauh dari perkotaan dan jauh dari semua pembunuhan. Panther mengeraskan genggaman tangannya pada kunci tersebut. Uang itu akan membawa ketenangan dalam hidupnya.
Meski demikian, Panther kembali mendesah saat memikirkan untuk mencoba mencari pekerjaan baru yang lebih normal. Ia melirik pada beberapa orang yang berlalu lalang dengan seragam atau pun pakaian kerja. Mereka semua terlihat memiliki pekerjaan yang pantas. Ia belum pernah melakukan pekerjaan apa pun juga selain pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Panther mendesah dan terus berjalan.
Kehidupannya sebagai pembunuh bayaran persis seperti seorang pelacur. Semua pelacur pada awalnya adalah seorang perawan, seorang yang malu-malu dan suci hingga tergantung dari apa yang menyebabkan mereka kehilangan kesucian itu. Kemiskinan, pemerkosaan, ditipu oleh kekasih mereka, keinginan mereka sendiri dan seterusnya. Ada banyak alasan untuk kehilangan semua mimpi indah mereka hingga terjerumus ke dalam kejamnya dunia.
Dirinya sendiri memutuskan hubungan dengan hati nuraninya setelah tembakan pertama yang dilepaskannya mengenai tubuh seorang manusia. Ia melihat darah yang mengalir keluar dari tubuh orang itu, melihat denyut jantung serta nafasnya yang perlahan-lahan menjadi lambat dan akhirnya berhenti sepenuhnya. Tubuh itu perlahan-lahan menjadi dingin dan kaku, meninggalkan mata terbuka dari sang mayat yang tidak dapat menerima akhir hidupnya.
Apakah seorang pelacur menangis, bersedih atau menyesal setelah kehilangan keperawanannya? Tergantung dari jawabannya, seorang pembunuh juga merasakan hal yang sama. Pembunuh yang berhasil membunuh musuhnya karena dendam dan kemarahan akan merasakan kenikmatan seperti seorang pelacur yang berhasil bercinta dengan orang yang dicintainya.
Beberapa pembunuh dan pelacur juga tidak menyesal kehilangan nuraninya dengan ganti uang yang sangat besar. Terlebih lagi jika saat itu kemiskinan, kelaparan dan ancaman telah menjerat leher mereka, dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawa mereka adalah uang.
Para pelacur akan meniduri siapa pun yang sanggup membayar mereka, tidak peduli orang itu tua, buruk rupa atau pun jahat. Selama mereka membayar, mereka akan dilayani. Begitu juga dirinya, tidak peduli sasarannya adalah orang suci, orang jahat, bahkan dewa juga akan dibunuhnya jika bayarannya tepat.
Apakah hati nurani lebih penting dari nyawa?
Panther tersenyum, bagi dirinya, pengalaman membunuhnya yang pertama adalah senikmat kebebasan itu sendiri. Ia tidak akan pernah melupakan kesenangannya saat ia pertama kali membunuh musuhnya di usia sembilan tahun dan membebaskannya dari penderitaan. Kesenangan yang didapatnya sama seperti kesenangan saat seorang pemuda bercinta untuk pertama kalinya.
Dirinya sama seperti pelacur yang setelah kehilangan keperawanannya, menemukan bercinta itu nikmat sehingga menjadikannya profesi, untuk mendapatkan uang dan sekaligus kenikmatan. Ia menikmati saat membunuh orang yang menjadi sasarannya. Selain itu, dia mendapatkan uang untuk mempertahankan hidupnya.
Tapi setelah puluhan tahun, semua hal bunuh membunuh itu membuatnya muak. Ia muak dengan suara tembakan, muak dengan bau amunisi, muak pada peluru yang bersarang pada tubuhnya beberapa kali. Atau mungkin ia sudah mulai merasa tua pada umurnya yang bahkan belum mencapai empat puluh.
Ia membutuhkan kedamaian.
Matanya menatap pada barisan panjang lemari sewaan dan kemudian mengintip pada nomor yang tertera pada kunci di tangannya, 735. Matanya perlahan-lahan merayap di antara nomor-nomor yang tertera pada setiap lemari.
Sebentar lagi kehidupannya akan berubah sepenuhnya. Dengan uang dua juta dollar ditambah dengan tabungannya, dia akan dapat hidup hanya dengan mengandalkan bunga deposito uang tersebut.
Ini akan menjadi akhir dari kehidupannya yang penuh kekerasan dan pembunuhan. Awal dari kehidupannya yang tenang. Ia sudah membeli sebuah rumah kecil di dekat danau, penduduk yang ramah dan kota yang damai. Secepatnya, ia akan hidup tenang bersama Sophie di sana. Ia akan segera menikahinya dan memiliki anak-anak.
Menjadi seorang ayah.
Kunci di tangan Panther sudah menemukan lubangnya pada lemari sewaan yang bertuliskan 735. Seketika sebuah firasat buruk menyergap dirinya, seluruh tubuhnya menjadi siaga. Panther terdiam tak bergerak. Selama ini, ia hidup dengan menjadikan nyawanya sebagai taruhan dan insting adalah satu-satunya hal yang telah menyelamatkan selembar nyawanya melewati ratusan medan perang hingga saat ini.
Keringat dingin mengalir di dahinya dan jari-jari tangannya tidak mampu memutar kunci tersebut. Panther segera mencabut kuncinya dan berjalan menjauhi lemari sewaannya. Sekitar 60 langkah, ia memasuki sebuah kamar kecil. Panther membuka kran air, membasuh wajahnya dengan air dingin. Berharap kepalanya dapat menjadi dingin.
“Tidak mungkin,” bisiknya menatap wajahnya sendiri di depan cermin. Ia menarik nafas dalam-dalam dan keluar dengan cepat. Dalam keadaan terburu-buru, ia tidak melihat sebuah ember berisi air yang tergeletak di tengah jalanan. Sebelah kakinya masuk ke dalam ember yang berisi air tersebut dan membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Panther terjatuh ke lantai dengan keras.
Air dalam ember tumpah berceceran di lantai dan membasahi seluruh celana serta bajunya. Beberapa orang di sekitar sana memperhatikan posisi jatuh Panther yang memalukan. Seorang pemuda yang memegang tongkat pel segera mendekatinya sambil menunduk meminta maaf berkali-kali.
“Bantu aku berdiri,” kata Panther terbata-bata, “Kelihatannya kakiku terkilir.”
Pemuda itu segera membantu Panther berdiri dan mendudukkannya pada sebuah kursi tunggu milik stasiun kereta api.
“Aku benar-benar minta maaf,” kata pemuda itu sekali lagi dengan wajah yang ketakutan.
Panther dapat melihat pemuda itu menggunakan seragam petugas kebersihan stasiun kereta api. “Tidak apa-apa, akulah yang salah tidak melihat ember tersebut.”
Pemuda itu segera merasa lega, lalu terdiam tidak tahu harus melakukan apa.
“Aduh...,” Panther mendesah kesakitan. “Tampaknya kakiku terkilir parah. Bisakah kamu ambilkan pakaian gantiku pada lemari sewaan sebelah sana? No 735. Seluruh pakaianku basah,” kata Panther sambil menyerahkan kunci lemari sewaannya.
“Baik,” sahut pemuda itu cepat dan berlari menuju ke barisan lemari sewaan tersebut.
Dari kejauhan Panther dapat melihat pemuda itu menghampiri lemari sewaannya, memasukkan kunci dan memutarnya yang kemudian membuka pintu lemari. Beberapa detik setelahnya, sebuah cahaya menyilaukan menusuk mata Panther dan suara ledakan keras terdengar menggempur gendang telinganya. Terjangan udara segera menabrak tubuh Panther yang disusul dengan gelombang debu.
Sebuah ledakan telah membuat lemari sewaan yang berderet-deret itu hancur, kursi-kursi di depan lemari sewaan terpelanting jauh, atap-atap berjatuhan dan segala yang ada dalam radius 20 meter dari tempat itu hancur berantakan. Debu-debu berterbangan dan beberapa kabel terlontar keluar dari atap dan tembok yang hancur, sambil menunjukkan percikan listrik pada kabel telanjangnya. Kepingan-kepingan sisa lemari sewaan besi menancap dan berjatuhan di kejauhan.
Jeritan panik segera terdengar keras di mana-mana.
Panther dapat melihat beberapa orang terluka akibat ledakan itu, kepala yang berdarah, tangan yang hancur, kaki yang tertusuk pecahan besi dari sisa lemari sewaan dan pastinya beberapa orang tergeletak tidak sadarkan diri. Sedangkan pemuda yang membuka lemari sewaannya, ia tidak tahu apakah tubuhnya masih akan utuh. Panther segera berdiri dan berjalan keluar dari stasiun itu, mencoba membaurkan diri dengan sekumpulan orang-orang yang mencoba keluar dengan panik. Kakinya sama sekali tidak pernah terkilir. Wajahnya terlihat berubah karena kemarahan. Ia tidak melihat adanya sisa-sisa uang tunai yang hancur bertebaran, ia hanya melihat sebuah ledakan.
Misi terakhirnya dibayar dengan sebuah bom!
Ia tidak dapat menerimanya. Ia harus menemukan siapa pun yang bertanggung jawab atas percobaan pembunuhan pada dirinya. Dan juga uangnya.
***
“Tuan, apakah kamu mau membeli jam tangan ini?” tawar seseorang sambil berjalan mendekati seorang pria berpakaian jas hitam. Pria yang disodori jam tangan terlihat duduk pada sebuah kursi kafe di ruang terbuka yang menghadap pada sebuah universitas khusus wanita yang bergengsi.
“Tidak,” sahut pria berbaju hitam itu ketus sambil melambaikan tangan mengusir.
“Ayolah, ini adalah jam Rolex asli. Aku benar-benar kekurangan uang dan bersedia menjualnya pada harga berapa pun juga,” kata penjual itu memelas.
Pria itu tampak tidak tertarik dan menjawab, “Jangan menipuku. Tidak mungkin itu asli.”
“Tuan boleh memeriksanya,” yakin penjual itu. “Jika tidak asli, jam tangan ini gratis untuk Tuan.”
Pria itu menggerakkan tubuhnya sedikit, terlihat mulai tertarik dengan penawaran itu apalagi dia melihat jam tangan yang sangat bagus. Sekali pun jika jam itu nantinya palsu, tidak rugi juga ia mendapatkannya.
“Kemarikan jam tangannya.”
Penjual itu mendekatinya dan menyerahkan jam tangan Rolex ke tangannya. Dalam waktu sesaat itu juga penjual tersebut menusukkan sebuah jarum kecil yang tersembunyi di antara jari-jarinya pada lengan pria itu.
“Auchh... apa yang kamu lakukan?” tatap pria berpakaian hitam itu marah. Namun, secepat itu juga pria tersebut terjatuh lemas di tempat duduknya. Tidak sadarkan diri.
Panther tersenyum dan berbisik, “Ingat kata mama, jangan menerima barang dari sembarang orang.
"Keserakahan akan membunuhmu.” Ia menyentuh tubuh pria itu dan membuatnya terlihat seperti sedang tertidur di atas meja kafe. “Dan ini jam Rolex yang asli.”
Tidak jauh dari tempat itu, Panther dapat melihat sebuah mobil besar berwarna hitam yang menurut informasi memiliki kaca anti peluru. Ia berjalan ke dalam kafe dan tak lama kemudian keluar dengan secangkir kopi dan sekotak donat. Tanpa ragu ia berjalan menuju ke samping mobil tersebut dan mengetuk kaca jendelanya. Dari dalam mobil terlihat bayangan seorang pria yang menatapnya tidak peduli.
“Tuan, kopi dan donat,” kata Panther mengangkat kopi dan kotak donat agar terlihat dari kaca jendela mobil, “Tuan yang duduk di kafe menyuruhku mengirimnya padamu.”
Pria dalam mobil mengangkat kedua alisnya dan tertawa sambil membuka kaca jendela mobil, “Tak kusangka dia akan sebaik itu.”
“Tentu saja dia tidak sebaik itu,” kata Panther menyerahkan kopi dan donat pada pria itu. Tepat saat kedua tangan pria itu menyentuh tangannya, Panther segera bergerak menusukkan leher pria itu dengan sebuah jarum dan dengan cepat segera menarik kembali kopi dan donat tersebut.
“Apa yang kamu!!” teriak pria itu dan perlahan-lahan kedua matanya berputar ke atas. Tubuhnya terjatuh dengan kepala bersandar pada kemudi mobil. Panther langsung bergerak membuka pintu dan memasuki mobil hitam itu dengan menggeser paksa tubuh pria yang sudah tidak sadarkan diri itu. Sesaat kemudian mobil tersebut terlihat bergerak, melaju di atas jalanan.
Selang 15 menit kemudian, mobil tersebut sudah kembali pada tempatnya. Panther terlihat sendirian di depan kemudi mobil dengan memakai pakaian jas hitam persis seperti pria sebelumnya. Di dalam mobil, sambil menikmati kopi dan donatnya, Panther mengeluarkan telepon genggamnya dan membaca data diri target barunya. Natalia Margaret Florance, putri dari Edward Elmund, seorang politikus terkenal dengan kebaikan dan kesuciannya yang seimbang dengan seorang Nabi, Santo atau Budha. Akan tetapi, dibalik wajah suci itu, dialah tokoh yang mengendalikan peredaran obat-obatan terlarang, pencucian uang, pembunuhan, penyuapan dan banyak kejahatan lainnya.
Ia menjual obat-obatan terlarang secara sembunyi-sembunyi dan membangun pusat-pusat rehabilitasi gratis secara terang-terangan di berbagai tempat. Ia melakukan perdagangan manusia dan juga menjadi tokoh utama pendukung kegiatan anti perdagangan manusia. Ia adalah penggiat hukum internasional tentang pencucian uang yang pada saat bersamaan, ia adalah pentolan dalam hal pencucian uang. Ia membangun banyak rumah sebagai tempat pengungsian para yatim piatu, para pengungsi perang dan dialah yang menjual senjata-senjata api pada negara-negara berperang. Ironisnya, kapal yang mengangkut bantuan berupa obat-obatan dan pangan untuk para pengungsi selalu disusupi dengan senjata-senjata perang di bagian bawahnya.