"Mama... Zafran nggak bisa napas..."
Tubuh kecil itu menggigil di pelukan Zunara. Wajah Zafran pucat, dadanya naik-turun cepat, matanya setengah terpejam.
"Astaghfirullah...! Aleena, Rayyan! Cari inhalernya cepat!"
"Nggak ada, Ma! Inhalernya nggak ada!"
Suara Rayyan bergetar. Anak-anak lain mulai menangis keras.
"Mama, Abang Zafran mau mati ya? Jangan mati, Abang..."
Yahya meremas ujung gamis ibunya sambil terisak.
"Tolong! Ada yang bisa bantu?! Anak saya sesak napas!"
Zunara berteriak, napasnya memburu. Orang-orang hanya menonton. Ada yang malah merekam dengan ponsel.
Zafran mengerang lemah.
"Mama... sakit..."
Zunara hampir jatuh berlutut. Bagaimana kalau Zafran benar-benar berhenti bernapas?
Tiba-tiba suara berat namun tegas terdengar.
"Serahkannya pada saya, cepat."
Zunara menoleh. Seorang pria tinggi dengan wajah tegas dan sorot mata tajam berdiri di depannya.
Kemeja putihnya kusut karena berlari, tapi auranya... berbeda. Bukan orang biasa.
"Saya pernah urus kes macam ni. Kalau lambat satu minit saja, anak puan boleh mati dalam pelukan."
Zunara menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.
"Tolong... selamatkan anak saya."
Rayyan maju, berdiri protektif.
"Jangan sentuh adik saya! Siapa kamu?!"
Pria itu menatap Rayyan, nada suaranya tajam.
"Awak mau dia hidup atau tak?"
Rayyan terdiam, gigi bawahnya menggigit bibir. Zunara mengangguk cepat.
"Tolong..."
Pria itu meraih Zafran dengan sigap.
"Pegang kuat, dik. Jangan tidur, ya. Bertahan. Saya janji, awak akan baik-baik saja."
Dia langsung berjalan cepat, menembus kerumunan. Suara kamera ponsel berkedip di sekitar mereka.
Zunara mengejar, hampir menangis.
"Ya Allah... siapa pun dia... selamatkan anakku..."
Di dalam mobil hitam mewah yang melaju kencang, pria itu menatap Zafran penuh khawatir.
"Bertahanlah, dik..." bisiknya, logat Malaysianya terdengar jelas.
Nama pria itu?
Tengku Salman Fawwaz.
Pangeran paling berpengaruh di Malaysia.
Dan sore itu, tak seorang pun tahu kalau video dirinya menggendong seorang bocah sesak napas akan viral... dan mengubah hidup mereka semua.
Video berdurasi tiga puluh detik itu beredar cepat di media sosial.
Tengku Salman Fawwaz, pria tinggi dengan kemeja putih yang basah oleh keringat, menggendong seorang bocah kecil sambil berlari ke arah mobil hitam mewah. Wajahnya tegang, tatapannya penuh khawatir.
"Pangeran Malaysia tolong anak sesak napas di pasar Indonesia!"
"Tengku Salman Fawwaz, calon menantu idaman!"
Netizen heboh. Komentar membanjir:
"Masya Allah, baik banget pangeran ini, ya!"
"Duh, ganteng banget, siapa tu anaknya?"
"Jandanya siapa tu? Kok banyak banget anaknya kelihatan di video."
"Ih, liat deh tuh perempuan big size, bawa anak segambreng, dasar numpang tenar."
Nama Zunara Mahnoor ikut terbawa. Orang-orang mulai mencari identitasnya. Dan ketika menemukan fotonya... hinaan makin menjadi-jadi.
"Pantes aja janda, siapa juga yang mau sama dia."
"Big size, anak 14, mau cari simpati lah tu."
"Eh tapi untung ada pangeran, bisa aja janda ini mancing biar dikasihani."
---
Zunara duduk di lantai ruang tengah, menatap layar ponsel yang terus berbunyi notifikasi. Tangannya gemetar.
Aleena duduk di sampingnya, mencoba menenangkan.
"Ma, jangan dibaca lagi. Nggak semua orang di dunia ini baik..."
Zunara menelan ludah. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tetap tersenyum tipis di depan anak-anaknya.
"Mama nggak apa-apa, Nak. Biarin aja orang mau bilang apa. Yang penting kalian sehat."
Tapi Zoya Tabassum tak bisa setenang itu. Gadis 12 tahun itu menatap ponsel ibunya dengan mata merah.
"Kenapa orang-orang jahat banget, Ma? Mama nggak salah apa-apa... Mama tuh baik..."
"Zoya, udah, jangan-"
"Enggak!" Zoya tiba-tiba berdiri, air matanya jatuh deras.
"Aku benci orang-orang itu! Aku mau balas, Ma! Aku mau tulis di komentar mereka kalau Mama nggak kayak yang mereka bilang!"
"Zoya, cukup!" suara Rayyan tegas, tapi Zoya makin histeris.
"Mereka hina Mama, Kak! Mereka bilang Mama janda gendut nggak pantas sama Pangeran itu! Mereka bilang kita semua... anak-anak sampah!"
Zoya menangis keras, menjerit hingga Arhaan yang duduk di pojok menutup telinganya dan mulai gelisah. Yahya juga ikut menangis, memeluk lutut ibunya.
Zunara langsung memeluk Zoya erat, berusaha menenangkan.
"Nak, tolong... jangan nangis gitu... Mama kuat kok. Kalian nggak usah mikirin Mama..."
Tapi air matanya sendiri akhirnya jatuh juga.
Tiba-tiba... ketukan keras terdengar di pintu.
Tok! Tok! Tok!
Aleena mengintip lewat celah jendela, wajahnya berubah kaget.
"Ma... itu..."
Zunara menatap heran.
"Siapa, Nak?"
Aleena menelan ludah.
"Itu... Pangeran itu, Ma."
Di depan rumah sederhana itu, berdiri Tengku Salman Fawwaz dengan kemeja santai tapi tetap rapi. Sorot matanya... tajam, penuh tekad.
"Assalamualaikum... Saya mahu bercakap dengan puan. Tentang anak-anak ini... dan tentang puan."
Tengku Salman Fawwaz duduk di kursi ruang tamu yang sederhana itu.
Sorot matanya menyapu anak-anak satu per satu sebelum akhirnya berhenti pada Zunara.
"Saya minta maaf datang tiba-tiba. Tapi saya fikir, saya patut cakap terus pada puan."
Zunara menunduk sopan, tangannya meremas ujung jilbabnya.
"Iya, Tengku... Silakan."
"Pertama sekali, anak puan, Zafran... dia sudah stabil. Doktor kata dia cuma perlu rawatan lanjut, tapi keadaannya sudah selamat."
Zunara menghela napas lega, air matanya menetes.
"Terima kasih, Tengku... Saya nggak tahu harus balas kebaikan Tengku gimana..."
Salman mengangguk tipis.
"Tak perlu berterima kasih. Itu memang tanggungjawab manusia. Tapi... ada perkara lain saya nak bincang. Perkara besar."
Rayyan yang sejak tadi berdiri di dekat Zunara melipat tangan di dada, pandangannya penuh curiga.
"Perkara apa? Kalau soal bayar rumah sakit, kami nggak minta belas kasihan siapa pun. Mama nggak perlu kasihan dari orang asing."
"Rayyan!"
Zunara menegur lirih, tapi Salman hanya tersenyum tipis.
"Bagus, awak anak yang jaga maruah keluarga. Tapi saya bukan nak hina puan Zunara atau anak-anak. Saya nak tawarkan sesuatu. Sesuatu yang... mungkin akan ubah hidup puan."
Zunara menatap Salman bingung.
"Maksud Tengku?"
Salman menarik napas panjang, sorot matanya serius.
"Saya tahu orang bercakap macam-macam di media sosial. Mereka hina puan. Hina anak-anak. Puan tak layak terima semua tu."
Zunara menunduk, matanya memerah.
Salman melanjutkan, suaranya tegas.
"Jadi saya fikir... hanya ada satu cara untuk hentikan semua fitnah. Satu cara supaya anak-anak puan dilindungi... dan nama puan bersih."
"Cara apa, Tengku?" suara Zunara bergetar.
Salman menatapnya lurus.
"Kahwin dengan saya, Puan Zunara."
Kata-kata itu seperti petir di siang bolong. Ruang tamu mendadak hening. Anak-anak menatap dengan mata terbelalak.
"A... apa?" suara Zunara bergetar, wajahnya memerah.
"Tengku... jangan bercanda. Kita baru kenal kemarin. Ini... ini nggak masuk akal."
Rayyan langsung maju selangkah, berdiri protektif di depan ibunya.
"Mama nggak usah jawab! Kita nggak butuh pernikahan pura-pura kayak gini!"
"Rayyan!"
Zunara menegur, tapi remaja itu menatap Salman tajam.
"Kami nggak kenal kamu, dan Mama nggak perlu kasihanmu!"
Salman tetap duduk tenang, sorot matanya dalam.
"Saya faham awak marah, Rayyan. Awak anak lelaki yang baik, jaga maruah keluarga. Tapi awak salah faham. Saya tak berniat nak hina puan Zunara... malah saya hormat dia."
Zunara menggigit bibir, tangannya meremas jilbabnya.
"Tapi... kenapa, Tengku? Kenapa tiba-tiba minta saya menikah dengan Anda?"
Salman menarik napas panjang, suaranya rendah namun tegas.
"Puan, saya tengok sendiri macam mana orang hina puan di media sosial. Mereka takkan berhenti. Nama puan akan terus dipijak, anak-anak puan akan terus dibuli."
Zoya yang duduk di lantai mulai menangis lagi, Aleena merangkulnya.
"Saya fikir... kalau puan jadi isteri saya, semua orang akan berhenti bercakap. Mereka takkan berani hina lagi. Dan anak-anak puan akan dilindungi."
Zunara menunduk, air matanya jatuh.
"Tapi... saya cuma perempuan biasa, Tengku. Tubuh saya besar... anak saya banyak... kenapa Tengku mau repot-repot?"
Salman menatapnya serius.
"Kerana saya pun bukan lelaki sempurna, puan. Saya ada kekurangan sendiri... kekurangan yang orang tak tahu. Tapi saya tak kisah tentang rupa puan atau jumlah anak puan. Saya cuma nak bantu."
Rayyan menggeleng cepat.
"Mama, jangan percaya dia! Ini pasti ada maunya!"
Salman berdiri perlahan, menatap Rayyan.
"Awak berhak fikir macam tu. Tapi saya tak paksa. Saya cuma beri pilihan."
Lalu Salman kembali menatap Zunara.
"Puan... saya tak minta jawapan sekarang. Fikir baik-baik. Saya beri masa tiga hari. Kalau puan setuju, hidup puan akan berubah. Kalau tak... saya akan pergi dan takkan ganggu lagi."
Salman berjalan ke pintu, berhenti sebentar dan menoleh.
"Tiga hari, puan. Lepas tu, saya akan anggap jawapan puan adalah... tidak."
Pintu tertutup pelan.
Zunara duduk kembali, wajahnya pucat. Tangannya menutup mulutnya, air matanya jatuh.
Anak-anak menatapnya bingung, Rayyan berdiri kaku, dan Zoya mulai terisak lagi.
Tiga hari.
Hanya tiga hari... untuk memutuskan sesuatu yang bisa mengubah segalanya.
----
Sejak Salman pergi, rumah itu tak lagi sama.
Tiga hari. Hanya tiga hari. Tapi waktu terasa begitu sempit untuk memutuskan sesuatu sebesar itu.
Zunara duduk di dapur, menatap kosong cangkir teh yang sudah dingin. Air matanya menetes diam-diam.
"Ma, jangan nangis lagi..." Aleena duduk di sampingnya, menggenggam tangan ibunya.
"Tengku itu orang baik. Kalau Mama mau, aku setuju..."
Rayyan langsung membanting sendok ke meja.
"Aleena! Kamu pikir nikah itu mainan? Kita nggak kenal siapa dia! Dia cuma pangeran yang mungkin mau jaga nama baiknya doang!"
"Tapi Kak, kalau Mama sama Pangeran itu... orang-orang nggak akan hina Mama lagi, kan?" suara Zoya kecil, matanya sembab.
"Aku... aku nggak tahan mereka bilang kita anak-anak sampah..."
Rayyan berdiri, wajahnya merah menahan emosi.
"Jadi kalian mau Mama jual dirinya demi nama baik?! Mama nggak perlu orang kaya untuk bikin kita bahagia!"
"Rayyan..." Zunara akhirnya bersuara, lirih.
"Jangan bilang gitu... Pangeran itu... dia cuma tawarkan bantuan. Dia nggak pernah maksa."
Rayyan menatap ibunya, suaranya parau.
"Mama... kita baik-baik aja kok. Aku bisa kerja nanti. Kita nggak perlu nikah sama orang asing."
Zunara mengusap kepala putranya, hatinya perih. Dia tahu Rayyan hanya takut kehilangan ibunya.
Anak-anak sudah tidur, tapi Zunara masih duduk di ruang tengah, menatap kosong layar ponselnya.
Notifikasi berita online terus berdatangan.
Judulnya masih sama:
"Janda Big Size Disorot Netizen, Pangeran Malaysia Disebut Kasihan Sama Dia."
Zunara menarik napas berat, dadanya sesak.
Tiba-tiba
tok... tok... tok!
Zunara terlonjak. Malam-malam begini siapa yang datang?
Dia membuka pintu perlahan... dan di sana, Tengku Salman Fawwaz kembali berdiri.
Kemeja santai, senyumnya tipis, dan di sampingnya berdiri dua orang pria membawa kotak besar terikat pita.
"Assalamualaikum, puan." Salman menatapnya lembut.
"Maaf datang malam-malam. Tapi... saya fikir, anak-anak puan perlukan ini."
Zunara mengerutkan kening, matanya menatap kotak besar itu.
"Ini... apa, Tengku?"
Salman tersenyum tipis, sorot matanya penuh misteri.
"Buka saja, puan. Mungkin... ini akan bantu puan buat keputusan sebelum tiga hari habis."
BAP 6 – HADIAH UNTUK ANAK-ANAK
Kotak besar dengan pita biru itu diletakkan di tengah ruang tamu. Anak-anak mulai mengelilinginya dengan mata berbinar-binar.
"Ma, boleh dibuka sekarang nggak?" suara Zoya bergetar, pipinya masih basah sisa tangis semalam.
Zunara menoleh ke Salman, ragu.
"Tengku... ini..."
"Buka saja, puan. Itu untuk anak-anak. Tak ada niat lain." Salman tersenyum tipis, tangannya bersedekap santai.
Rayyan berdiri di sudut, masih cemberut.
"Huh... mau kasih hadiah biar Mama luluh, ya?" gumamnya pelan.
Salman hanya melirik sekilas, tidak membalas.
Zunara menarik napas panjang, lalu mengangguk.
"Baiklah... Zoya, Aleena, bantu Mama buka, ya."
Saat Kotak Terbuka ...
"Masya Allah..." Zunara menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.
Di dalam kotak itu ada tumpukan perlengkapan sekolah baru-seragam, sepatu, tas, buku-buku cerita bergambar, bahkan beberapa mainan edukatif.
Zoya langsung mengambil sebuah buku dongeng dengan gambar peri di sampulnya.
"Ma! Ini buku yang aku pengen banget!"
Aleena memeluk tas baru berwarna ungu, matanya berbinar.
"Terima kasih, Ma... eh, terima kasih, Pangeran..."
Salman hanya tersenyum.
"Sebut saja saya Uncle Salman, ya. Saya tak suka orang panggil saya Pangeran di depan anak-anak."
Zoya tertawa kecil, matanya masih basah.
"Uncle Salman baik banget..."
Yahya duduk di lantai sambil memeluk sepatu barunya erat-erat, wajahnya cerah.
"Ma... ini sepatu kayak di toko kemarin... yang nggak bisa kita beli itu..."
Zunara mengusap kepala anaknya, air matanya jatuh.
Bahkan Arhaan yang biasanya gelisah kini tersenyum kecil sambil memainkan boneka binatang yang ikut dalam kotak.
Salman memperhatikan semua itu diam-diam. Tatapannya melembut setiap kali anak-anak tertawa.
Zunara menoleh ke Salman, suaranya parau.
"Tengku... saya... saya nggak tahu harus bilang apa. Anak-anak senang banget... Terima kasih."
Salman menatap Zunara lama, sorot matanya dalam.
"Saya dah kata, puan. Saya tak peduli apa orang cakap tentang puan. Saya cuma nak anak-anak ni bahagia."
Zunara terdiam, dadanya terasa hangat sekaligus berdegup aneh.
Rayyan yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara pelan, namun nadanya tetap keras.
"Hadiah nggak bikin kita percaya begitu aja. Mama nggak boleh ambil keputusan cuma karena ini."
Salman mengangguk tenang.
"Betul, Rayyan. Mama awak patut fikir masak-masak. Saya tak paksa."
Lalu Salman berdiri, bersiap pergi.
"Tapi saya tetap harap... puan fikirkan bukan untuk diri puan saja. Tapi untuk masa depan anak-anak."
Dia melangkah menuju pintu, sebelum akhirnya menoleh sebentar.
"Tinggal dua hari, puan. Lepas tu, saya takkan tanya lagi."
Malam itu, Zunara duduk sendirian di kamar, lampu sudah diredupkan. Anak-anak tertidur, hanya terdengar suara napas mereka yang teratur.
Tapi di dada Zunara, semuanya bergemuruh.
Tiga hari... tinggal dua hari lagi... apa aku harus menerima lamaran itu?
Dia menatap foto suaminya yang sudah lama meninggal-foto satu-satunya yang masih disimpan di laci.
Maaf... aku bahkan nggak pernah bisa cerita ke kamu soal hidup seberat ini...
Air matanya jatuh, membasahi bantal.
Anak-anak sudah berkumpul di ruang tengah. Zoya duduk di samping Zunara, memeluk lengannya erat.
"Ma... kalau Mama nikah sama Uncle Salman... kita bisa pindah rumah yang lebih bagus, kan?" bisiknya polos.
Zunara menghela napas, mengusap kepala putrinya.
"Nak... Mama nggak nikah cuma karena rumah atau uang. Nikah itu serius..."
"Tapi Mama nggak sedih lagi, kan? Kalau sama Uncle Salman, Mama nggak bakal dibully orang lagi."
Aleena juga ikut bicara, suaranya pelan.
"Ma... aku cuma pengen Mama bahagia. Selama ini Mama capek banget. Mungkin Uncle Salman bisa bantu Mama, nggak cuma soal uang..."
Rayyan berdiri bersandar di dinding, wajahnya masam.
"Kalian ini kenapa sih? Mama nggak butuh pangeran itu! Dia cuma orang asing! Siapa yang jamin dia nggak ninggalin kita nanti?!"
"Tapi Kak... Uncle Salman baik..." suara Yahya lirih.
Rayyan menatap adiknya, suaranya meninggi.
"Baik sekarang, siapa tahu nanti berubah! Mama pernah ditinggal, kalian lupa?! Mau Mama sakit hati lagi?!"
Zunara langsung menoleh, suaranya tegas.
"Rayyan, cukup. Jangan bicara begitu."
Rayyan menggertakkan gigi, menunduk, lalu berjalan masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Zoya mulai menangis kecil, Aleena memeluk adiknya.
Zunara menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca.
Ya Allah... aku harus gimana?
---
Rumah sudah sepi, anak-anak tertidur. Zunara duduk di kursi dapur, menatap kosong piring yang belum dicuci.
Tangannya menggenggam jilbabnya erat-erat. Air mata menetes tanpa suara.
Kalau aku terima... apa aku egois sama anak-anak? Tapi kalau aku tolak... apa aku tega membiarkan mereka terus dibully?
Suara angin malam masuk lewat jendela, menambah sunyi.
Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk.
Zunara meraihnya, jantungnya berdegup saat membaca nama pengirimnya.
Tengku Salman Fawwaz.
Pesannya hanya satu kalimat:
"Puan, saya tak mahu ganggu puan fikir. Tapi esok saya datang, cuma nak bincang hal anak-anak, bukan hal kita."
Zunara menatap layar ponsel lama sekali, dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
---
Pagi itu, rumah Zunara riuh. Anak-anak sibuk menata mainan dan buku-buku baru.
"Uncle Salman datang lagi, kan, Ma?" tanya Zoya dengan mata berbinar.
"Iya, tapi ingat, dia cuma mau ngobrol. Jangan ribut ya."
Zunara mengingatkan, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tapi hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Tok! Tok! Tok!
Zunara membuka pintu, dan di sana Tengku Salman Fawwaz berdiri lagi dengan kemeja biru muda yang rapi.
"Assalamualaikum, puan. Maaf datang pagi-pagi."
"Waalaikumsalam... silakan masuk, Tengku."
Salman masuk, menunduk sopan pada anak-anak.
"Hai, anak-anak. Uncle bawa sesuatu lagi, tapi bukan hadiah besar kali ni. Cuma sedikit makanan."
Dia meletakkan kantong besar berisi roti, susu, dan beberapa camilan sehat. Anak-anak langsung bersorak kecil.
"Terima kasih, Uncle Salman!" Yahya memeluk kotak susu kesukaannya.
Salman tersenyum, matanya berbinar hangat.
"Bagus... minum banyak susu ya, biar cepat besar dan kuat."
Zoya duduk di sebelah Salman, menatapnya dengan kagum.
"Uncle Salman, di Malaysia ada istana ya? Kalau kita ke sana, ada kolam renang besar nggak?"
Salman tertawa kecil.
"Ada... tapi nanti kalau kalian ke sana, kita main di taman dulu. Kolam renangnya dingin sangat."
Zoya tertawa, pipinya memerah.
Zunara memperhatikan dari dapur, dadanya menghangat melihat anak-anak begitu bahagia.
Tiba-tiba Rayyan muncul dari kamarnya, wajahnya datar.
"Udah selesai main sandiwara-nya? Mama, aku mau ngomong sama kamu habis ini."
Suasana hening sejenak. Zunara menatap Rayyan, khawatir.
"Rayyan, jangan gitu-"
"Nggak apa-apa, puan. Dia cuma jaga hati puan. Saya faham." Salman tersenyum tipis pada Rayyan.
"Rayyan, boleh Uncle cakap sama awak sebentar?"
Rayyan mengangkat dagu.
"Ngapain? Saya nggak ada urusan sama Pangeran."
"Cuma lima minit saja. Tentang Mama awak."
Rayyan menatapnya tajam, tapi akhirnya mengangguk malas.
"Ya udah, lima menit."
Salman berdiri di teras, menatap Rayyan dengan tenang.
"Rayyan... saya tak pernah niat ambil Mama awak dari kalian. Saya cuma mahu bantu. Kalau awak rasa saya tak layak, awak boleh terus benci saya. Tapi saya minta satu saja..."
Rayyan mengerutkan kening.
"Apa?"
"Jangan buat Mama awak menangis sendirian. Dia kuat, tapi hati dia rapuh bila lihat anak-anaknya sedih."
Rayyan terdiam, matanya memerah.
"Mama nggak pernah bilang sama saya kalau dia sedih..."
"Sebab dia tak mahu awak rasa susah. Tapi saya nampak... dia selalu tahan air mata."
Rayyan menunduk, giginya menggigit bibir. Salman menepuk bahunya pelan.
"Awak lelaki baik, Rayyan. Saya tak paksa awak suka saya. Tapi kalau saya salah di mata awak... saya rela awak marah saya, asalkan Mama awak tak perlu menangis lagi."
Rayyan mengangkat wajahnya, sorot matanya bimbang.
Di dalam rumah, Zunara mengintip dari balik jendela, melihat percakapan itu.
Hatinya berdebar tak karuan.
Kenapa... kenapa aku merasa dia benar-benar tulus?
Sementara itu, Salman berbalik, menatap Rayyan dengan serius.
"Rayyan... saya ada rahsia yang tak pernah saya cakap pada siapa pun. Esok... saya akan beritahu Mama awak. Dan mungkin... awak patut tahu juga."
---
Suasana rumah siang itu jauh lebih ramai dari biasanya.
Aleena membantu Zunara di dapur, sementara tawa anak-anak terdengar dari ruang tengah.
"Uncle Salman, lihat nih! Boneka Arhaan bisa ngomong!" Noor berteriak kegirangan.
Salman duduk bersila di lantai, dikelilingi anak-anak. Arhaan duduk di sampingnya, tertawa kecil sambil menekan tombol boneka.
Untuk anak yang biasanya canggung dengan orang baru, ini kemajuan besar.
"Pandai sekali Arhaan..." Salman menatap anak itu dengan senyum hangat.
"Kalau awak rajin main sama Uncle, nanti Uncle belikan boneka lain yang boleh nyanyi juga."
Arhaan menoleh pada Zunara dengan mata berbinar. Zunara yang sedang mengiris sayur ikut tersenyum.
"Uncle Salman baik banget..." bisik Yahya, memeluk lengan Salman erat.
Salman mengusap kepala bocah itu lembut.
"Bukan baik, Yahya... Uncle cuma mahu kalian bahagia. Itu saja."
Zoya duduk di samping Salman, menatapnya serius.
"Uncle... kalau Mama nikah sama Uncle, kita nanti ikut ke istana ya?"
Zunara langsung menoleh cepat.
"Zoya... itu bukan pertanyaan yang pantas sekarang..."
Tapi Salman hanya tertawa kecil.
"Tak apa, puan. Anak-anak jujur saja."
Dia menatap Zoya, nadanya lembut.
"Kalau Mama kalian mahu, saya tak keberatan kalian ikut ke mana saja Mama pergi. Tapi semua itu keputusan Mama kalian, bukan Uncle."
Zunara terdiam, dadanya sesak.
Senyum Salman... entah kenapa membuat hatinya panas-dingin.
Rayyan berdiri di ambang pintu, mengawasi diam-diam.
Wajahnya masih datar, tapi sorot matanya sedikit berbeda.
Dia melihat ibunya... tersenyum.
Senyum yang jarang sekali muncul beberapa tahun terakhir.
Anak-anak akhirnya tidur setelah seharian heboh dengan Salman.
Rumah kembali sunyi.
Zunara duduk di teras, menatap langit malam. Pikirannya penuh. Salman duduk di sampingnya, menjaga jarak sopan.
"Maaf kalau anak-anak terlalu berisik hari ini," ucap Zunara pelan.
"Tak apa... saya suka suasana bising begini. Rumah saya di Malaysia terlalu sunyi."
Salman menatapnya, sorot matanya teduh.
"Bising anak-anak tanda mereka bahagia, kan?"
Zunara tersenyum tipis, tapi cepat-cepat mengalihkan pandangan.
"Tapi mereka terlalu senang sama Tengku... Saya takut... kalau nanti mereka kecewa."
Salman terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bersuara.
"Puan... saya janji, saya takkan buat anak-anak kecewa."
Dia menatap lurus, nadanya tegas.
"Tapi ada satu hal... yang saya belum berani cakap. Esok... saya akan jujur pada puan. Tentang saya."
Zunara menoleh, jantungnya berdegup kencang.
"Kenapa... kenapa harus besok?"
"Kerana saya mahu puan fikir keputusan ini bukan sebab simpati."
Salman menarik napas panjang, matanya menatap Zunara dalam.
"Puan berhak tahu siapa saya sebenar sebelum buat keputusan apa pun."
Malam itu, Zunara kembali ke kamarnya dengan hati yang tak tenang.
Dia memeluk Zafran yang tidur di sampingnya, mendengarkan napas kecil anaknya.
Besok... besok Salman akan bicara.
Apa yang akan dia katakan?
Dan... kenapa hatinya merasa takut sekaligus menunggu?
---
Pagi itu rumah terasa tegang.
Zunara gelisah sejak subuh. Tangannya sibuk menyiapkan sarapan, tapi pikirannya melayang-layang.
"Ma, tenang aja..." Aleena menatap ibunya.
"Uncle Salman pasti orang baik. Nggak usah takut."
Rayyan diam saja, tapi dari tatapannya terlihat dia juga gelisah.
Sementara Zoya duduk di lantai, memeluk lututnya.
"Ma... hari ini Uncle Salman bilang mau ngomong penting sama Mama ya? Tentang apa?"
Zunara mengusap kepala putrinya pelan.
"Nggak tahu, Nak... Mama juga belum tahu."
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk. Semua anak langsung menoleh.
Yahya berlari kegirangan.
"Uncle Salman datang! Uncle Salman datang!"
Zunara membuka pintu perlahan.
Di sana Tengku Salman Fawwaz berdiri dengan kemeja putih bersih, wajahnya serius.
Kali ini tak ada senyum hangat seperti biasanya.
"Assalamualaikum, puan."
"Waalaikumsalam..." suara Zunara nyaris berbisik.
Salman melangkah masuk, menatap anak-anak satu per satu.
"Hai, anak-anak. Uncle datang sebentar saja. Uncle mahu bercakap sama Mama kalian."
"Boleh kami dengar juga, Uncle?" tanya Zoya polos.
Salman tersenyum tipis, menggeleng.
"Nanti ya, sayang. Ini hal orang dewasa dulu."
Anak-anak akhirnya duduk di ruang tengah, tapi mata mereka mengikuti langkah Salman dan Zunara yang menuju teras.
Di teras, suasana sunyi.
Hanya suara burung yang terdengar di kejauhan.
Salman berdiri sebentar, lalu duduk, menatap Zunara dengan sorot mata yang lebih dalam dari biasanya.
"Puan... saya janji saya akan jujur. Tapi saya harap... puan dengar sampai habis sebelum putuskan apa pun."
Zunara mengangguk pelan, jantungnya berdegup cepat.
Salman menarik napas panjang.
"Saya... bukan lelaki sempurna seperti yang orang lihat di luar sana."
Dia menatap Zunara, sorot matanya sedikit meredup.
"Beberapa tahun lalu... saya mengalami kemalangan. Parah sekali. Dan akibatnya..."
Salman berhenti, menunduk.
Zunara terdiam. Matanya membesar, napasnya tercekat.
Salman melanjutkan, suaranya lebih pelan.
"Itulah sebabnya saya... saya senang bila bertemu puan. Saya lihat anak-anak puan... dan saya fikir, mungkin Allah beri saya kesempatan."
Zunara menatapnya lama, air matanya menetes tanpa ia sadari.
"Tapi... Tengku..." suaranya bergetar, "kenapa bilang ini pada saya?"
"Kerana saya tak mahu puan fikir saya pilih puan sebab simpati. Saya... benar-benar mahu bahagiakan kalian."
Sunyi. Hanya terdengar suara napas mereka.
Zunara mengusap wajahnya, dadanya sesak.
"Tapi... ini keputusan besar, Tengku..."
"Saya tahu. Sebab itu saya beri masa. Esok... esok jawapan puan akan mengubah segalanya. Lepas itu, saya takkan tanya lagi."
Tanpa mereka sadari, di balik pintu, beberapa anak sudah mengintip.
Zoya menahan tangis di pelukan Aleena.
"Berarti... Uncle Salman?" bisiknya.
Yahya menatapnya polos.
"Berarti kalau Mama sama Uncle Salman, kita... kita jadi anak-anaknya?"
Rayyan berdiri di samping mereka, wajahnya tegang.
Dia menggertakkan gigi, lalu berbalik masuk ke kamarnya.
Aleena memeluk Zoya erat.
"Jangan nangis dulu... Mama belum jawab..."
Malam itu, Zunara duduk di tepi ranjang, menatap anak-anaknya yang sudah tertidur.
Air matanya menetes di pipi.
Esok... aku harus jawab. Tapi... jawaban apa yang harus aku beri?
---
Rumah itu sunyi pagi itu, hanya terdengar suara anak-anak berceloteh kecil di ruang tengah.
Zunara duduk di kursi dapur, menatap cangkir teh yang sudah dingin. Tiga hari sudah lewat, dan ia belum juga memberi jawaban.
Tok! Tok! Tok!
Pintu diketuk pelan. Zunara berdiri, menahan napas.
Dan di sana, Tengku Salman Fawwaz berdiri, mengenakan kemeja biru muda.
Senyumnya tipis, matanya serius.
"Assalamualaikum, puan."
"Waalaikumsalam... silakan masuk."
Di ruang tamu, anak-anak duduk di lantai, sebagian malu-malu, sebagian antusias. Zoya berbisik pada Yahya.
"Uncle Salman datang lagi... mungkin Mama jawab hari ini..."
Yahya memeluk lututnya, matanya berbinar.
"Aku mau Uncle jadi Papa..."
Rayyan hanya mendengus pelan di sudut, tangannya bersedekap.
Salman duduk di hadapan Zunara, menatapnya lama.
"Puan... saya datang hari ni bukan untuk paksa. Cuma... tiga hari sudah habis. Saya nak tahu jawapan puan, walaupun jawapan tu bukan yang saya harap."
Zunara menarik napas panjang. Matanya menatap Salman penuh keraguan dan lelah.
"Tengku... maafkan saya," suaranya lirih tapi tegas.
"Saya... saya belum bisa. Saya nggak bisa memutuskan sesuatu sebesar ini secepat itu. Saya... sendirian selama ini. Hidup saya cuma anak-anak. Ada begitu banyak hal yang harus saya pikirkan... terlalu banyak."
Salman diam, matanya menatapnya dalam.
"Tapi saya tetap berterima kasih... untuk semua bantuan, hadiah, dan kebaikan Tengku pada anak-anak saya."
Zoya langsung berdiri, matanya berkaca-kaca.
"Ma... jadi Mama nolak Uncle Salman?"
Zunara mengusap kepala putrinya.
"Sayang, Mama nggak nolak. Mama cuma... belum bisa sekarang."
Rayyan menghela napas lega, meski matanya tetap bimbang.
"Keputusan yang tepat, Ma..."
Salman tersenyum kecil, meski senyumnya tampak menahan sesuatu.
"Saya faham, puan. Saya tak mahu puan buat keputusan kerana rasa kasihan... atau kerana tekanan. Puan patut pilih bila puan betul-betul yakin."
Zunara menunduk, air matanya jatuh diam-diam.
"Terima kasih... karena mengerti."
Salman berdiri, menatap anak-anak satu per satu.
"Uncle Salman nak pulang ke Malaysia hari ni. Tapi saya janji... saya tetap kirim bantuan untuk kalian, bukan kerana saya mahu puan setuju... tapi kerana saya sayang anak-anak ni."
Zoya langsung berlari memeluknya.
"Uncle jangan lama-lama ya ke Malaysia..."
Yahya ikut memeluk kakinya erat-erat.
"Uncle janji datang lagi ya..."
Salman mengusap kepala keduanya, matanya memerah sesaat.
"Insya Allah... Uncle datang lagi."
Beberapa Hari Kemudian
Zunara kembali pada kehidupannya yang biasa.
Pagi-pagi sekali, ia sudah bangun, menyiapkan sarapan untuk 14 anaknya.
Aleena membantu memasak, Rayyan mengantar adik-adik ke sekolah dengan sepeda tua mereka.
Zunara bekerja di sebuah kedai roti kecil, membantu membuat kue dan mengantar pesanan.
Terkadang, ia juga menerima pesanan menjahit sederhana dari tetangga.
Siang hari, ia menjemput Zafran ke klinik untuk kontrol asma, sementara sore hari ia menemani Arhaan terapi wicara di puskesmas.
Hidupnya tetap sama: sibuk, lelah, tapi penuh senyum untuk anak-anak.
Namun... setiap malam, saat anak-anak sudah tidur, Zunara duduk di dapur, menatap kosong cangkir tehnya.
Dan wajah Tengku Salman Fawwaz selalu muncul di pikirannya.
"Kenapa... aku nggak bisa berhenti mikirin dia..." bisiknya pelan, matanya berkaca-kaca.
---
Di Malaysia
Tengku Salman berdiri di balkon istananya, memandangi langit senja.
Ponselnya ada di tangannya, terbuka pada satu foto: Zunara dan anak-anaknya yang tersenyum saat membuka hadiah.
Dia menarik napas panjang, matanya sendu.
"Kenapa saya rasa... saya tinggalkan sebahagian hati saya di sana..." gumamnya.
Seorang pembantunya datang.
"Tengku, ada mesyuarat bisnes lepas ni."
Salman hanya mengangguk. Tapi tatapannya tetap ke layar ponsel.
Dan dalam hatinya, ia berbisik,
"Puan Zunara... saya janji akan datang lagi."
---