Bab 1

Konegade, salah satu dari kelima kerajaan besar yang berkuasa di zaman itu. Bisa dibilang Konegade adalah negeri paling makmur di mana rakyatnya yang terdiri dari ras manusia, altergo, dan juga daemon dapat hidup berdampingan. Tidak seperti empat kerajaan lainnya yang masih sering terjadi cekcok antar ras. Pemimpin Konegade yang sekarang adalah raja ke empat yang dipilih oleh rakyat, yaitu Maeth Elgar Cyane seorang dari ras altergo yang memiliki rambut pirang dan bermata biru. Istrinya adalah seorang daemon berdarah murni yang kini betugas membantu orangtua Elgar di rumah sakit, ialah Ulucia Karina dan keturunan mereka juga merupakan daemon berdarah murni, yaitu Aaron Elang Cyane.

Jika ditelusuri lebih lanjut sebenarnya di dunia ini bukan hanya ada ras manusia, altergo, dan daemon saja, tapi ada sebuah ras yang telah ditutup informasinya dan orang-orang di zaman ini hanya menganggapnya sebagai mitos, yaitu ras nephilim. Mereka semua sama-sama manusia, hanya ras mereka saja yang berbeda. Altergo adalah seorang manusia biasa yang memiliki alter ego yang merupakan kekuatan dari manusia itu sendiri, walau kadang kala ras altergo tidak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri dan bisa saja membahayakan orang lain. Ras daemon adalah keturunan dari iblis yang berhubungan dengan manusia, sedangkan ras nephilim adalah keturunan dari archangel; malaikat utama di surga. Konon ras nephilim bisa mengontrol kekuatan demon beast yang hanya dimiliki oleh daemon berdarah murni, tapi bukan hanya itu, seseorang yang membunuh seorang nephilim dan meminum darahnya akan mendapatkan kekuatan yang sangat besar.

Berdasar pada perkataan kuno itulah, kini seorang pria dewasa tengah berdiri angkuh di tengah sebuah ruangan. Ruangan itu begitu temaram dengan sebuah lilin kecil yang berpendar lembut di tengah-tengahnya. Sorot lembut bulan purnama ikut mengintip aktivitas dalam ruangan itu. Pria itu tidak sendiri di sana, ia tengah bersama putrinya yang masih berusia lima tahun, sang putri duduk bersimpuh di hadapannya dengan patuh.

"Kau tahu kan apa alasanku memanggilmu kemari?" tanya si pria dewasa dengan suara tegas.

"I-iya Ayahanda, a-aku paham," jawab si gadis yang tampak gugup sekaligus takut pada ayahnya sendiri.

"Kau tidak bisa menggunakan Indigo meskipun kau adalah pewaris tunggal Klan Aoi," jelas sang ayah lebih kepada dirinya sendiri. Klan Aoi merupakan satu dari tiga klan terkuat di Konegade dengan kekuatan mata yang bisa menembus letak titik-titik syaraf manusia. Kekuatan mata itu yang disebut sebagai Indigo.

"Ma-maafkan aku Ayahanda." Gadis berambut pendek itu makin mrnunduk dalam, dari usia sedini itu, ia sudah harus memikul beban menjadi pewaris tunggal yang cacat.

"Tidak, ini tidak bisa dihindari, kau sakit saat masih kecil hingga kau tidak bisa menggunakan Indigo-mu." Hidari Aoi yang merupakan Kepala Klan Aoi menghela napas lelah. "Aoi adalah klan terkuat di Konegade selain Abigail dan Cyane, dengan kau yang tidak bisa menggunakan Indigo, aku tidak ingin klan kita dianggap remeh, dan karena kau adalah pewaris tunggal, maka aku sudah melakukan segala cara agar kau mendapatkan kekuatanmu kembali."

"Su-sungguh, Ayahanda?" Mata lavender gadis kecil itu tampak berbinar senang saat menatap ayahnya yang kini mengangguk dan tersenyum ke arahnya.

"Kemarilah, Aleasha." Hidari melambai lembut pada putri kecilnya. Sang putri pun menuruti permintaan ayahnya dengan senyum yang terpasang di bibir mungilnya.

Dan dengan itu Aleasha duduk di dekat ayahnya yang berdiri. Hidari tampak merapalkan mantra sebelum menempelkan tangan kanannya pada punggung Aleasha. Rasa panas menjalari tubuh Aleasha, tapi gadis kecil itu tampak menahannya dengan menggigit bibir sampai rasa panas itu menghilang begitu tangan ayahnya tak lagi menempel di punggungnya.

"Dengar Aleasha, saat usiamu memasuki 17 tahun, kau harus membunuh seorang nephilim dan meminum darahnya, agar kau mendapatkan kekuatan besar untuk memimpin klan Aoi. Aku sudah memasang sebuah mantra pada tubuhmu, takdir akan menuntunmu pada nephilim yang harus kau bunuh dan jika kau tidak membunuh dan meminum darah nephilim itu, maka mantra ini yang akan menyakitimu dari dalam. Kau mengerti Aleasha?"

"A-aku mengerti Ayahanda."

"Bagus."

Hidari mengacak rambut Aleasha penuh sayang sebelum pergi meninggalkan putrinya bersama keheningan panjang yang terasa membingungkan.

***

Malam itu angin berembus aneh seperti menuturkan pertanda di malam bulan purnama. Udara terasa lebih dingin dari hari-hari biasanya. Bulan purnama turut menimbulkan kesan janggal yang tidak menyamankan. Kesunyian aneh itu seperti membangkitkan kutukan atas kematian wakil pemimpin serakah sebelum raja keempat diangkat.

Di sebuah rumah sederhana sosok bersurai cokelat panjang dengan kimono putih tampak tengah memejamkan mata. Alis lebatnya yang tertata rapi mendadak menukik tidak suka, seperti ada sesuatu yang mengganggunya. Perlahan kelopak mata berwarna putih itu membuka, menampakan sepasang mata cokelat madu miliknya. Ditelisiknya wajah bocah lima tahun yang tengah lelap dengan tidak nyaman, karena angin dingin yang terus masuk melalui celah pagar rumahnya.

"Merepotkan sekali harus menjaga bocah sepertimu sepanjang waktu." Perempuan itu mengepakkan sepasang sayap putihnya untuk kemudian memeluk bocah kecil itu. "Ibumu telah membawamu terikat pada demon beast dan juga tempat ini. Tapi jika aku boleh jujur, sebenarnya tempat ini bukanlah tempat yang aman untuk bocah lemah sepertimu."

Angin kembali berembus, membawa memori lampau tentang kematian seorang perempuan yang baru saja melahirkan bayi merah yang terlampau kecil untuk bisa dibayangkan dapat tumbuh dengan baik. Perempuan bersayap itu tersentak dari memori lamanya saat desir angin yang berembus ringan justru menguarkan perasaan yang sama, seperti lima tahun lalu saat keserakahan manusia harus merenggut salah seorang penjaga keseimbangan dunia.

"Tidak lagi, kuharap ini bukan pertanda buruk." Perempuan itu kembali menelisik wajah bocah yang ia peluk dengan sayapnya. "Dia yang sangat kuat pun tidak mampu menghalau keserakahan manusia, apalagi bocah lemah sepertimu. Jika boleh, aku ingin membawamu pergi jauh ke dunia paling aman yang bisa kuberikan untukmu."

"Itu tidak akan pernah terjadi Mikaila." Perempuan itu menoleh pada suara berat yang tiba-tiba ada di belakangnya. Suara yang sangat ia hapal di luar kepala, suara separuh dari dirinya; Nathaniel. "Aku tahu, sebagai seorang archangel, kau pasti ingin menjaga nephilim-mu dengan baik, bahkan jika harus memberikan nyawamu, itu akan kau lakukan. Tapi satu hal yang harus selalu kau ingat, sekuat apa pun archangel melindungi nephilim, nephilim tetap akan terikat takdir archangel yang membawanya pada keselarasan sembilan demon beast, dengan kata lain, takdir archangel akan selalu membawa nephilim dekat dengan bahaya."

"Aku mengerti tentang semua yang kau ucapkan, Yang Mulia Archangel. Aku akan melakukan tugasku sebaik yang kubisa."

"Bagus Archangelku Sayang, sebaiknya kau tidak macam-macam. Aku tidak ingin melenyapkanmu."

Dan kecupan Nathaniel di dahi Mikaila memulai kelindan benang kusut yang tercipta dari takdir archangel dan keserakahan manusia atas godaan iblis.

Bab 2

Pagi yang cerah di Konegade, seorang gadis berambut pirang dan diikat ponytail tampak tengah berjalan membawa parcel buah untuk salah seorang temannya yang ada di rumah sakit. Sesekali ia menyapa orang-orang yang tengah beraktivitas. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menghirup udara yang sesegar ini di tanah kelahirannya.

"Scarlet!" Gadis itu menoleh saat mendengar suara cempreng seorang gadis berbaju merah muda yang kini berlari ke arahnya.

"Oh Rosemary, sudah lama aku tidak melihatmu dan ternyata dahimu masih saja lebar." Scarlet Kananta menyeringai saat mendapati gadis merah muda itu memberengut kesal.

"Apa yang kau katakan Scarlet jelek?" Scarlet hanya tersenyum canggung saat melihat Rosemary menghancurkan botol minuman kaleng yang dibawanya tadi.

"Hehe, aku hanya bercanda Rosemary sayang."

"Katakan sekali lagi!" Rosemary tampak dikelilingi aura hitam pekat yang membuat Scarlet bergidik. Habis sudah kalau begini, lagipula sejak kapan anak itu jadi sekuat ini? Setahu Scarlet, sejak kecil Rosemary itu terlalu takut memunculkan sosok altergo-nya, tapi sekarang bahkan tanpa altergo pun Rosemary sudah semengerikan ini.

"Whoa, sudah lama sekali rasanya. Konegade benar-benar tidak berubah."

Rosemary dan Scarlet melupakan perdebatan mereka sejenak untuk menoleh ke arah sumber suara bariton di belakang mereka. Dan di sanalah seorang pemuda pirang dengan tas ransel yang masih disandang di punggungnya tengah meneliti keadaan desa melalui sepasang samudra di matanya.

"Elang!"

Aaron Elang Cyane menghentikan aksinya memandangi sekitar saat mendengar namanya dipanggil.

"Woah, Rosemary, Scarlet, kalian sudah kembali?" Elang berlari riang dengan cengiran khasnya yang tak pernah lepas dari bibir.

"Yup, seperti yang kau lihat. Aku kembali enam bulan yang lalu dan Scarlet baru kembali satu minggu yang lalu, kalau yang lain aku tidak tahu." Rosemary mengangkat bahu.

"Ah, Ebony dan Onyx juga sudah kembali kok. Hari ini aku akan menjenguk Ebony di rumah sakit." Scarlet menyahut.

"Eh, apa latihannya sekeras itu?" Elang penasaran dengan apa latihan khusus yang dilakukan oleh para ras altergo, apakah semerepotkan ras daemon berdarah murni sepertinya yang harus bisa menaklukkan dan bekerjasama dengan demon beast di tubuhnya atau bagaimana? Elang tidak mengerti, karena sejauh ingatannya, hanya Elang dan Aurora yang merupakan daemon berdarah murni di generasinya, kedua kakak Aurora—Amber dan Russel—dari ras daemon, dan yang lain adalah dari ras altergo.

"Hahaha, tidak juga. Ebony hanya terlalu bersemangat saat pesta penyambutan kami kembali, jadi dia kebanyakan makan dan masuk rumah sakit." Scarlet tertawa canggung. Ia dan kedua teman satu timnya memiliki histori klan yang cukup erat, sampai-sampai di setiap generasi pasti akan ada satu tim yang berisi klan Kananta, Kedgert, dan Keanett.

"Hei-hei, bagaimana latihan khusus para altergo?"

"Huh, kenapa kau menanyakannya Elang?"

"Aku hanya penasaran Rosemary."

"Ah, aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya. Aku ada janji dengan Miss Emerald di rumah sakit."

"Ah, aku juga harus menjenguk Ebony."

"Nah, kalau begitu aku ikut kalian saja ke rumah sakit, sudah lama aku tidak bertemu nenekku. Ehehe dan bisakah kalian ceritakan padaku bagaimana latihan kalian tiga tahun ini, aku penasaraaaaaan sekali. Ya-ya-ya?" Elang mengedip-ngedipkan matanya yang tidak ada imut-imutnya membuat Rosemary dan Scarlet ingin muntah, jadi mereka mengiyakan daripada mereka harus memuntahkan sarapan gara-gara melihat ekspresi aneh Elang.

Sepanjang perjalanan mereka bertiga saling bercerita tentang latihan mereka selama tiga tahun. Di setiap kerajaan adalah wajib bagi ras daemon dan altergo untuk mengabdi pada kerajaan. Mereka akan dilatih untuk membantu pekerjaan yang tidak bisa dilakukan oleh ras manusia biasa juga untuk mempertahankan kerajaan ataupun peperangan yang bisa terjadi kapan pun.

Masing-masing daemon dan altergo juga memiliki tingkatan yang berbeda. Raja adalah pemimpin kerajaan yang tidak berhubungan sama sekali dengan keturunan, karena setiap raja dipilih dari kepantasan, ketangkasan, dan kekuatan untuk memimpin negeri. Di bawah Raja, adalah Alnitak dan Alnitah, dua pangkat yang tugasnya sama-sama dibagi menjadi dua bagian. Sebagian Alnitak adalah penjaga keamanan kerajaan dan sebagiannya lagi adalah yang bertugas menjalankan misi sulit dan juga membimbing dua tingkat di bawahnya; Alnilam dan Mintaka. Sedangkan Alnitah bertugas menjaga keamanan daerah perbatasan dan juga mata-mata. Untuk misi-misi sederhana biasanya dilakukan oleh para Alnilam ataupun Mintaka dengan bantuan Alnitak pembimbing.

Guk ... guk ....

Elang, Rosemary, dan Scarlet menghentikan jalannya saat seekor anjing putih yang berukuran cukup besar menghadang jalan mereka dan mengendus Elang.

"Ada apa Phoenix?" Seorang remaja perempuan dengan tato abstrak di kedua pipinya berseru pada si anjing yang dipanggil Phoenix.

Guk ... guk ....

"Phoenix? Berarti—"

"Oh kau benar Phoenix, dia benar-benar Elang." Azura Skylark mengikuti anjingnya yang tengah mengendus bau Elang.

"Rosemary, apa begini caranya mengenalimu saat pertama kali bertemu setelah tiga tahun?"

"Ya, dia kan memang seperti itu."

Rosemary, Scarlet, dan Elang hanya bisa memberikan cengiran pada cara aneh Azura untuk mengenali temannya. Dari dulu Azura tidak pernah berubah. Dia selalu aneh dengan tato abstrak di kedua pipinya yang katanya itu adalah ciri khas klannya. Dan yang tidak kalah aneh adalah menamai seekor anjing dengan nama Phoenix.

Tak berselang lama saat mereka bertiga berbincang sejenak dengan Azura, Shako Arkana datang dan seperti biasa, Elang hampir tidak mengenalinya karena pakaian yang dikenakan Shako hampir menutup setengah wajahnya ditambah ia memakai kacamata hitam. Pada akhirnya Elang, Rosemary, dan Scarlet harus bertahan lebih lama di sana karena hampir semua teman seangkatan mereka berkumpul di sana.

Di kerajaan Konegade setiap anggota Mintaka yang sudah dinyatakan lulus menjadi Alnilam akan menjalani latihan selama tiga tahun untuk meningkatkan dan menstabilkan kekuatan mereka. Di saat masih Mintaka mereka memiliki kelompok yang terdiri dari tiga orang ditambah satu Alnitak pembimbing, tapi saat dinyatakan lulus menjadi Alnilam mereka bebas menentukan di mana dan dengan siapa mereka akan berlatih.

Di generasi Elang, hal itu juga terjadi. Seingat Elang, tiga tahun lalu dia memilih berlatih hanya dengan kakeknya; Guilen. Rosemary berlatih dengan nenek Elang; Emerald. Aurora, Amber, Russel, Vector dan Aleasha berlatih di Sunegade di mana ibu Aurora berasal. Onyx, Ebony, Azura dan Shako berlatih di Iwegade. Leon di Kumegade, sedangkan Hazel dan Scarlet Kananta di Kiregade. Mereka berlatih secara berpencar di kerajaan lain.

"Kau terlambat!" Suara penuh intimidasi dari Emerald adalah hal pertama yang masuk ke gendang telinga Elang dan Rosemary begitu memasuki ruangan Emerald, sedangkan Scarlet sudah pergi ke ruang rawat Ebony sejak tadi.

"Ma-maaf Miss Emerald, tadi kami bertemu dengan teman-teman di jalan." Rosemary hanya bisa meringis merasakan aura gelap yang dikeluarkan Emerald. Walaupun usianya sudah memasuki kepala lima, Emerald masih tampak muda dengan ilmu kesehatan yang dipadukan dengan mantra altergo.

"Sudah kuduga nenek tidak berubah, masih galak seperti dulu," komentar Elang.

Brak!

Pintu menjeblak terbuka dari luar, sepertinya orang itu sengaja membuka pintu dengan kasar.

"Oh, jadi teman-temanmu lebih penting daripada aku? Benar begitu, Aaron Elang Cyane?" Ulucia Karina Cyane berjalan mendekati Elang dan dalam hitungan detik daun telinga Elang sudah menjadi korban keganasan Karina.

"O, ow, I-Ibu, sakit, sakit, sakit." Elang mengusap-usap telinganya yang memerah sementara Emerald dan Rosemary menahan tawa melihat itu.

"Kau tidak langsung menemui ibumu saat baru saja kembali setelah sekian lama hm?"

"Ma-maafkan aku Ibu, aku kan hanya—"

"Tidak bisa Elang, kau harus dihukum."

"Eeh?"

"Ah Ibu, Rosemary, kami pergi dulu." Karina tersenyum manis pada Emerald dan Rosemary sebelum menyeret Elang pergi.

Ada yang bilang, bahwa semua orang itu berubah, tapi kebiasaan mereka tidak. Bisa dibilang itu terbukti pada seorang Aaron Elang Cyane. Kebiasaan bodoh Elang tidak pernah berubah sejak dia masih kecil, setiap kali asyik dengan sesuatu dia akan lupa pada tujuan sebenarnya, seperti saat  menginjakkan kakinya lagi di Konegade. Sebenarnya Elang sangat merindukan ibu dan ayahnya, tapi gara-gara keasyikan memandangi Konegade dan bertemu teman lama akhirnya hukumanlah yang menjadi hadiah pertama kepulannya ke Konegade. Dan saat ini Elang harus dengan sangat terpaksa menemani ibunya berbelanja, katanya hari ini ibunya ingin memasak untuk menyambut kepulangannya.

Bab 3

"Aku pulang."

Karina dan Elang berseru saat memasuki rumah. Tidak banyak hal yang berubah dari rumah mereka sejak terakhir kali Elang meninggalkannya. Ia mengikuti langkah Karina menuju dapur untuk meletakkan belanjaan. Setelah tiga tahun berkeliling berbagai negeri bersama sang kakek pada akhirnya rumah adalah hal terbaik yang pernah ada.

"Oh iya Elang, sebaiknya kau bergegas mandi, tadi Nicholas berpesan padaku kalau kau dan timmu harus berkumpul jam lima di tempat latihan, ada yang ingin dibicarakan."

"Aku mengerti. Kalau begitu aku ke kamar dulu Bu."

Elang bergegas ke kamar meninggalkan Karina dan berbagai jenis bahan makanan. Anggota tim ... benar juga. Pantas saja sejak tadi Elang merasa ada yang kurang, sekarang ia tahu apa itu. Dari tadi, ia sudah bertemu teman-teman sengakatannya, kecuali dia; Guinevere Abigail.

Elang meletakkan ranselnya dan segera meraih bingkai foto yang menampilkan seorang pria dewasa bersurai perak tengah tersenyum ke arah kamera dengan tiga orang anak kecil, yang satu bermata hitam dengan rambut warna senada, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih salju. Seorang lagi adalah bocah  pirang bermata langit musim panas yang tidak lain adalah dirinya sendiri, dan yang terakhir bocah bersurai cokelat terang, berbaju merah muda yang tengah memegang gulali yang tak lain adalah Rosemary.

Elang menatap sendu ke arah wajah Guinevere, jemari tannya mengusap permukaan kaca bingkai itu. Sudah lama Elang tidak bertemu Guinevere, sangat lama. Guinevere adalah salah satu altergo jenius. Setiap ada dalam misi atau pertarungan, tidak ada satupun pergerakan yang sia-sia. Kadang Elang ingin mengutuk dirinya sendiri jika ia mengingat kejadian saat ujian Alnilam, ujian perebutan gulungan di hutan kematian.

Gara-gara kecerobohan Elang, tim mereka diserang ular raksasa. Dulu, Elang masih terlalu bodoh untuk mengendalikan energi ataupun bekerjasama dengan demon beast di dalam tubuhnya. Rosemary tidak membantu banyak, karena walau ia bisa mengontrol energi altergo-nya dengan baik, dia tidak berani memunculkan sosok altergo miliknya, Rosemary terlalu takut menyakiti yang lain, dan berakhirlah dengan Guinevere yang harus melindungi mereka berdua. Beruntung ular raksasa itu menghilang begitu matahari tenggelam. Sejak saat itu Elang mengerti kenapa dia membenci Guinevere. Elang membenci Guinevere bukan karena ibunya yang tampak lebih menyayangi teman masa kecilnya itu daripada dirinya, tapi Elang membenci Guinevere karena Guinevere selalu melindunginya bahkan saat ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Karina bilang karena luka itulah Guinevere tidak bisa mengikuti upacara kelulusan Alnilam. Guinevere merupakan lulusan terbaik ketiga di bawah Vector yang merupakan lulusan terbaik pertama dan Elang yang merupakan lulusan terbaik kedua. Elang jadi bertanya-tanya, apakah Guinevere masih semenyebalkan dulu? Seberapa kuat Guinevere sekarang? Apakah Elang sudah bisa melampauinya? Dan yang terpenting adalah, apakah Guinevere sudah kembali?

Elang menghela napas lelah, ia letakkan kembali bingkai foto itu di atas nakas sebelum beranjak menuju kamar mandi. Otaknya tidak dirancang untuk berpikir seperti otak Guinevere, jadi berpikir rasanya tidak ada gunanya. Lebih baik sekarang Elang mandi dan bergegas ke tempat latihan. Mungkin jika ia bertemu Guinevere nanti, meminta maaf bukanlah ide yang buruk.

"Ibu, aku berangkat."

"Hati-hati di jalan dan pulanglah sebelum makan malam."

"Aku mengerti."

Elang segera berlari keluar rumah dengan semangat setelah tadi ia selesai mandi kilat dan berpamitan dengan ibunya. Sepanjang jalan menuju tempat latihan, Elang menyapa warga yang tak sengaja bertemu dengannya. Di persimpangan jalan menuju tempat latihan ia berhenti sejenak hanya untuk memandangi sebuah danau berair jernih. Ia ingat, saat masih kecil Guinevere sering berada di sana sendirian, terkadang pula bersama sang kakak; Gerald Abigail. Mengingat itu senyum Elang semakin lebar dan ia berlari lebih cepat menuju tempat latihan.

"Yo, lama tidak bertemu, Elang." Lelaki berambut perak dengan masker menutupi separuh wajahnya menyapa dengan ingin tak ingin. Hanya ada satu orang yang akan melakukannya; Nicholas Arbito, Alnitak pembimbing Elang saat ia masih Mintaka.

"Apa yang kau lakukan Elang? Kau benar-benar terlambat." Rosemary bersedekap dada sambil mencebikkan bibirnya; kesal terlalu lama menunggu si pirang.

"Senior, jadi anggotanya sudah lengkap?" Seorang lelaki berambut cokelat cepak dengan mata hitam yang tidak Elang kenali tampak berbicara pada Nicholas.

"Oh, jadi dia Aaron Elang Cyane?" Seorang pemuda lain yang berambut hitam klimis dengan mata berwarna senada juga kulit putih cenderung pucat tersenyum yang tidak sampai ke mata. Senyum yang aneh.

Elang? Dia masih celingukan mencari ....

"Ah, kau mencari Guinevere? Sayang sekali, dia belum kembali."

Yak. Dan ucapan Nicholas sukses menimbulkan awan mendung yang menurunkan hujan dalam kepala Elang. Lagi ... dia tidak bisa bertemu Guinevere. Apakah Guinevere membencinya sekarang?

"Ada apa dengan semangatmu yang tadi Elang?"

"A-ah tidak-tidak apa-apa kok Rosemary, hehehe." Elang menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. "Jadi, apa yang ingin Mr Nicholas bicarakan? Dan mereka ini siapa?"

"Oh aku lupa memperkenalkan mereka pada kalian, hahaha." Nicholas tertawa hambar. "Elang, Rosemary, dia adalah Yorino." Nicholas menunjuk lelaki berambut cokelat. "Dia yang akan memberi dan menjelaskan kalian tentang misi yang harus kalian jalani dan dia adalah Sean." Nicholas menunjuk pemuda dengan senyum aneh tadi. "Dia akan menggantikan posisi Guinevere sebelum Guinevere kembali."

"Kenapa bukan Mr Nicholas yang memberikan misi pada kami?"

"Ah itu, aku sedang dalam misi, Rosemary jadi aku tidak bisa memberikan misi pada kalian."

"Hei, Mr Nicholas."

"Ada apa Elang?"

"Kapan Guinevere akan kembali?"

"Kenapa kau tidak bertanya saja padanya?"

"Huh?" Semua orang menoleh pada arah yang ditunjuk oleh Nicholas dan tertangkaplah dalam pandangan seorang pemuda bermata oniks dengan rambut hitam panjang yang terikat satu ke belakang. "Kak Gerald."

"Lama tidak bertemu Elang. Kau sudah bertambah tinggi."

"Ahaha dan kau bertambah keriput."

"Ini tanda lahir, sama seperti kumis kucing di pipimu itu."

"Ahaha, aku hanya bercanda tahu. Jadi, di mana Guinevere?"

"Di tempat latihan tentu saja."

"Kenapa dia tidak kembali?"

"Kudengar dari Zoda dia sedang menyempurnakan jurus barunya."

"Begitu. Kapan dia akan kembali?"

"Aku juga tidak tahu."

"Apakah ... apakah Guinevere membenciku?" Elang menunduk dalam.

"Huh?" Gerald mengerjap bingung.

"Sudahlah Elang, suatu saat Guinevere pasti kembali. Gerald ada apa kau kemari?" Nicholas menyela.

"Ah benar juga, kita harus segera berangkat Nicholas."

"Aku mengerti."

"Kalau begitu aku pergi dulu Elang, semuanya." Gerald berpamitan dan segera menghilang dari pandangan disusul oleh Nicholas yang menyerahkan Elang, Rosemary, dan Sean pada Yorino.

Sisa waktu yang ada digunakan Yorino untuk menjelaskan misi pertama yang akan mereka lakukan besok, tapi tak ada satupun kalimat yang sampai pada Elang, karena pikirannya hanya penuh dengan satu nama; Guinevere Abigail. Jadilah Elang hanya memejamkan mata, membiarkan angin memainkan surai pirangnya.

‘Hei Guinevere, apakah kau membenciku?’ tanyanya dalam hati. Sebuah tanya yang tak pernah mendapati jawabannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

Pandora

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED