"Alhamdulillah, akhirnya kalian sampai juga," ujar Ningsih yang akrab disapa Bu Ning itu dengan senyum merekah lalu menutup pintu kala sang anak dan menantunya sudah masuk.
Nadia namanya, anak semata wayangnya yang telah resmi menjadi istri seorang laki-laki yang berasal dari Jakarta dan kini mereka baru saja pulang dari bulan madunya. Alasan Ningsih begitu antusias menyambut mereka karena memang baru cuma anak dan menantunya saja di kampung ini yang setelah menikah lalu berbulan madu.
"Ibu sudah masak 'kan? Kita laper banget, nih," tanya Nadia sang putri semata wayang Ningsih.
"Sudah dong. Ibu sudah masak banyak buat kalian. Ayo," ajak Ningsih seraya menuntun putrinya menuju meja makan dan sang menantu langsung mengikuti dari belakang.
"Wah, banyak banget, Bu. Ada gulai ayam dan rendang kesukaan aku dan Mas Nino lagi," seru Nadia antusias kala membuka tudung saji yang menutupi banyak makanan enak.
"Ini Ibu masak khusus buat putri tercinta dan menantu tersayang loh ..." jawab Ningsih dengan raut muka yang begitu bahagia.
"Terima kasih ya, Bu. Ya sudah, ayo kita makan sama-sama, Bu," ajak Nino yang sedari tadi belum mengeluarkan suara seraya menarik kursi meja makan dan langsung mendudukinya.
"Kalian saja, Ibu sudah kenyang. Pokoknya harus sampai habis. Ibu mau menyimpan koper kalian dulu," jawab Ningsih.
"Eh, nggak usah Bu, biar sama aku saja nanti," cegah Nadia cepat sebelum ibunya keburu pergi.
"Udah nggak apa-apa kalian makan saja." Lagi-lagi Ningsih memperlakukan anak dan menantunya itu dengan sangat baik. Hingga Nadia dan Nino merasa tak enak tetapi untuk saat ini mereka sangat lapar. Jadi, mereka memutuskan untuk mengisi perut dulu sebelum membereskan barang bawaannya.
* * *
'Loh, kok baju kotor semua? Oleh-oleh buatku mana?' batin Ningsih ketika telah mengetahui isi dari dalam dua koper itu baju kotor semua.
'Apa mungkin mereka memberikannya nanti? Biar jadi kejutan gitu? Asyik, senangnya bakal dapat kejutan dari mantu tersayang,' batinnya lagi seraya menghayal lalu mengeluarkan semua baju dalam koper itu dan bergegas menuju mesin cuci.
Setelah selesai, perutnya keroncongan minta diisi, sebenarnya tadi dia belum makan, cuma baru minum secangkir teh hangat, karena pikirnya sang putri akan membawa banyak makanan. Sayang jadinya, kalau banyak makanan tetapi perutnya sudah nggak muat untuk diisi lagi.
"Hah? Habis semua? Apa mereka nggak ingat Ibunya yang sedang mencuci baju? Mentang-mentang aku bilang sudah makan. Sudah lah, lebih baik aku jemur baju saja dulu," ujar Ningsih dengan sedikit kesal.
"Tumben, Bu Ning baru jemur baju jam segini? Mana banyak lagi," tanya Lela yang sedang lewat di depan rumahnya bersama Siti ketika Ningsih sibuk menjemur.
"Oh, ini tuh sengaja nyucinya sekalian sama pakaian anak dan mantuku yang baru pulang honeymoon jadi aja banyak. Kalau Bu Lela pasti belum pernah kan dengar kata honeymoon? Haha ... Ya, iyalah, kan anaknya nggak diajakin honeymoon sama suaminya," cibir Ningsih seraya masih sibuk menjemur.
"Honeymoonnya dari Yogyakarta 'kan? Wah, nggak mungkin dong kalau nggak beli bakpia pathok sama batik buat oleh-olehnya," sela Bu Siti dengan mata berbinar apalagi bakpia pathok itu kesukaannya.
"Tenang saja, bukan hanya Bu Siti dan Bu Lela yang saya bagi tetapi sekampung saya bagi sekalian," ujar Ningsih dengan nada angkuh. Sedangkan Siti dan Lela hanya mengiyakan saja semua yang diucapkan Ningsih.
"Pokoknya ditunggu ya Bu Ning, oleh-olehnya," goda Siti sebelum akhirnya mereka pamit pergi, yang langsung mendapat acungan jempol dari Ningsih pertanda meng-iyakan.
* * *
Hatinya yang tadi sangat dongkol akibat perut lapar namun makanan habis, kini berganti dengan kebahagiaan yang tiada terkira, usai dia bisa memamerkan sang menantu pada Lela dan Siti. Apalagi Siti, kalau ada berita yang sudah sampai ke telinganya, maka dapat dipastikan semua warga di kampung bakal mengetahuinya dengan cepat.
Kruk ... Kruk ....
"Sampai lupa kan kalau ini perut belum aku isi," ujar Ningsih yang langsung bergegas masak dengan sisa bahan yang ada.
Pukul 11.00, Nadia keluar kamar. Tenggorokannya terasa kering pertanda membutuhkan asupan cairan. Tadinya selesai makan dia mau langsung mencuci semua bajunya tetapi ternyata sudah keduluan sang ibu. Akhirnya karena kecapekan di perjalanan, Nadia memutuskan untuk istirahat sebentar di kamar bersama sang suami.
"Nad, mana oleh-oleh buat Ibu? Udah lah nggak usah pakai acara kejutan segala macam." Ningsih terbangun ketika mendengar pintu kamar Nadia terbuka setelah dia mengisi perutnya tadi, dirinya ketiduran di kursi depan tv.
"Sebentar Bu." Nadia terpaksa balik lagi ke dalam kamar daripada mendengar ibunya mengomel.
"Ini aku beliin batik sama bakpia pathok Bu, maaf tadi capek banget sampai lupa ngasih," ucap Nadia dengan tulus.
"Pas!" jawab Ningsih yang membuat Nadia heran. Karena Nadia pikir ibunya akan mengucapkan terima kasih. Sebagaimana kita kalau menerima pemberian dari orang lain.
"Pas apanya, Bu?" Dengan raut muka heran, Nadia memberanikan diri untuk bertanya.
"Ya ... ini pas. Kamu beli batik sama bakpia pathok, tadi ada Bu Siti si ratu gosip itu tuh, minta oleh-oleh," jawab Ningsih dengan santainya seraya langsung mencicipi bakpia pathoknya.
"Terus, Bu?" tanya Nadia lagi dengan rasa penasaran.
"Ya, Ibu bilang bukan hanya mereka saja yang akan Ibu bagi, melainkan orang sekampung." Ningsih masih menjawab dengan nada santai seraya sibuk menikmati bakpia pathok.
"Apa, Bu? Ibu jangan aneh-aneh deh, aku beli cuma buat Ibu saja, ngapain ngasih ke orang sekampung? Aku bukan sultan, Bu!" tegas Nadia yang tak habis pikir dengan apa yang telah ibunya lakukan.
"Tetapi suamimu kan orang kota, lagian Ibu sudah terlanjur bilang, malu lah kalau sampai mereka nggak dikasih." Lagi-lagi Ningsih menanggapi pertanyaan sang anak dengan santai.
"Salah Ibu sendiri sih, Ibu itu kebanyakan pamer tau nggak?" ucap Nadia dengan nada dan raut muka sebal.
"Heh, Ibu itu bukan pamer tetapi membanggakan anak dan menantu. Pokoknya, Ibu nggak mau tahu, si Nino harus beli lagi batik sama bakpia pathok sesuai jumlah warga yang tinggal di kampung ini bagaimana pun caranya. Suamimu kan orang kota, nggak kaya si Putri anaknya si Lela yang cuma dapat orang kampung," bentak Ningsih seraya mengambil sisa bakpia pathoknya dengan kasar lalu menuju kamar tanpa menunggu jawaban dari Nadia.
Brak! Pintu kamar ditutup dengan kasar.
'Astagfirullah, Ibu. Punya uang darimana lagi Mas Nino buat beli oleh-oleh untuk dikasih ke orang sekampung?' batin Nadia seraya memijat pelipisnya. Kepalanya mendadak pusing. Rasa haus yang sejak tadi dirasa pun tiba-tiba hilang entah kemana.
"Astagfirullah ...." Nadia memejamkan mata sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
"Maaf, Bu. Dimas tidak mengajak Putri honeymoon juga, seperti Nino," ucap Dimas tertunduk ketika sang ibu mertua menceritakan pertemuan tak sengaja nya dengan Ningsih tadi siang. Dia merasa tak enak hati, ketika mendengar Ibu dari wanita yang sangat dicintainya itu selalu dihina karena memiliki menantu yang hanya dari kampung sebelah.
"Maksud Ibu bukan mau membandingkan kok, Nak. Ibu cuma cerita aja, nggak seharusnya kan sampai berkoar begitu apalagi di hadapan Bu Siti? Kalau nggak jadi membagikan oleh-olehnya kan malu. Tahu sendiri, Bu Siti itu siapa di kampung kita," jawab Lela dengan nada masih kesal pada Ningsih.
"Biarin aja lah, Bu. Mungkin mereka punya rezeki lebih dan kalau pun nggak jadi ngasih, itu bisa jadi pelajaran buat Bu Ningsih, agar ke depannya nggak kebanyakan pamer lagi dan buat kamu Dimas, kami nggak masalah kalau nggak ngajak Putri honeymoon juga." Pak Husen--sang bapak mertua angkat bicara.
"Terima kasih, Pak, Bu. Sudah mengerti aku dan Putri. Sebenarnya, kita ada sih tabungan. Tetapi, kita lebih memilih menggunakan tabungan itu untuk dipakai buka usaha saja. Menurut Bapak dan Ibu bagaimana?" tanya Dimas pada mertuanya.
"Nah, itu lebih bagus. Ibu dan Bapak dukung kalian. Iya, kan Bu?"
"Pastinya dong, Pak. Apapun yang kalian lakukan kami pasti meridai asalkan berada di jalan kebenaran."
"Alhamdulillah ...." ucap Putri dan Dimas serentak. Mereka bersyukur mempunyai orang tua yang nggak pernah menuntut untuk memamerkan harta di depan orang banyak meski mereka tahu kalau penghasilan Putri dan Dimas bila digabungkan bisa mencapai puluhan juta per bulannya.
Berbeda dengan suasana makan malam di rumah Ningsih, terasa sangat canggung. Hanya denting suara sendok dengan piring beradu saja yang terdengar. Ningsih masih melancarkan jurus ngambeknya yaitu mendiamkan semua orang yang ada di rumahnya.
"Bu?" panggil Nadia pada Ningsih untuk mencairkan suasana. Namun yang dipanggil hanya acuh pura-pura tak mendengar.
"Sudah sayang, mungkin Ibu masih butuh waktu untuk sendiri." Nino berusaha menenangkan istrinya.
Selesai makan malam, Ningsih segera menuju kamarnya dengan tanpa sepatah kata pun bahkan piring kotor bekasnya pun dia tinggal begitu saja, biasanya selesai makan langsung disimpannya menuju wastafel. Ningsih tergolong wanita yang sangat suka kebersihan. Nadia dan Nino hanya bisa saling pandang, seakan mereka tahu isi pikiran masing-masing.
"Terus bagaimana, Mas? Kalau kita ikutin kemauan Ibu, dapat uang darimana?" Nadia memulai pembicaraan kala mereka sudah masuk kamar. Nadia tahu betul keuangan mereka saat ini.
"Mas masih ada sisa tabungan, kalau kurang kamu pinjam dulu saja sama Putri, InsyaAllah secepatnya Mas ganti. Kamu mau, kan?"
"Tetapi aku malu, Mas," jawab Nadia dengan lesu.
"Demi Ibu, Sayang. Kamu nggak mau kan kalau Ibu jadi bahan gosip di kampung ini?"
"Ya sudah. Nanti aku coba bilang sama Putri. Aku minta maaf, atas kelakuan Ibu, Mas." Lagi-lagi Nadia bicara dengan nada lesu.
"Udah, nggak usah dipikirin lagi, ya. Kamu tidur duluan saja. Mas mau telpon si bos, pinjam uang buat modal kamu buka usaha dan bayar ke Putri nanti."
"Oh, iya, Mas. Ibu kok kayaknya belum ada tanda-tanda mau jualan lagi, ya? Apa Ibu sudah merasa capek, mau istirahat saja?" tanya Nadia ketika dirinya sadar akan sesuatu.
"Coba kamu tanya nanti besok, kalau pun Ibu mau berhenti jualan juga nggak apa-apa, memang sudah waktunya Ibu istirahat." Nino masih bisa memberikan jawaban yang bijak meski ibu mertuanya itu telah membuatnya begitu pusing.
Nadia tak menanggapi lagi ucapan terakhir dari suaminya, sebelum akhirnya dirinya memutuskan untuk tidur. Hatinya sedikit lega karena sudah mendapatkan solusi untuk masalahnya meski dengan menghutang pada sahabatnya.
* * *
"Sudah dua minggu Ibu nggak jualan, kapan mau mulai lagi, Bu?" tanya Nadia pagi ini pada Ningsih.
"Ngapain Ibu jualan? Malu! Punya mantu dari kota masa masih jualan juga," hardik Ningsih.
"Astagfirullah, Bu. Kalau Ibu mau berhenti jualan juga nggak apa-apa tetapi alasannya jangan begitu dong!"
"Jangan ngajarin orang tua! Mana oleh-oleh buat warga? Pokoknya Ibu bakal mogok makan kalau kalian belum membagikan oleh-oleh itu," tegas Ningsih seraya berlalu pergi.
"Bu ..." Nadia menghela napas dalam untuk melonggarkan dadanya yang tiba-tiba sesak.
Setelah minta izin pada sang suami yang sedang mencari rekomendasi toko yang menjual batik dan bakpia pathok di daerah sini, dia bergegas menuju rumah Putri.
* * *
"Assalamualaikum, Put."
"Waalaikumussalam, Nadia. Pasti mau ngasih oleh-oleh honeymoon, ya?" Ternyata yang membuka pintu itu Lela--ibunya Putri.
"Bu, suruh masuk dulu lah, jangan langsung bilang begitu, malu," tutur Putri seraya menuju pintu.
"Ibu kan cuma basa-basi, Put. Udah, yuk masuk, Nad. Ibu mau mengantarkan makan siang bapakmu dulu, Put."
"Iya, Bu. Hati-hati."
Setelah mengobrol cukup lama tentang banyak hal, Nadia mulai mengutarakan maksud kedatangannya. Memang, semenjak Nadia menikah dengan Nino, Ningsih selalu saja menghina Putri yang hanya menikah dengan seorang pemuda dari kampung sebelah dan itu membuat Lela tak terima sang putri terus dihina. Lalu demi menjaga hubungan kedua orang tua mereka agar tak semakin parah, akhirnya Putri dan Nadia memutuskan untuk berkomunikasi lewat ponsel saja.
"Put, kamu punya simpanan uang nggak? Seperti yang Ibu kamu tanyakan tadi. Ibuku terlanjur bilang mau ngasih oleh-oleh buat orang sekampung," ungkap Nadia dengan raut muka sedih dan malu.
"Ibuku juga kemarin cerita. Nanti aku tanya dulu Mas Dimas ya, gapapa kan?" Putri menatap Nadia nanar.
"Nggak apa-apa, Put. Kalau misalnya Dimas mengizinkan kamu transfer saja ya, biar nggak ada yang tahu soal ini."
"Ya sudah kalau mau transfer, aku izin dulu sama Mas Dimas. Kamu yang sabar ya, Nad."
"Makasih banyak ya Put, sampaikan maaf juga pada Ibu kamu. Aku pamit, ya. Masih ada kerjaan." Setelah memeluk Putri, Nadia kembali pulang.
Nadia berharap suami Putri mengizinkan, biar bisa langsung pesan dan besok pagi bisa diambil lalu dibagikan agar Ningsih mau lagi bicara dengannya.
* * *
"Assalamualaikum, semuanya ... Terima kasih loh ... sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini. Maaf juga, harusnya saya yang ke rumah ibu-ibu. Biasa lah ... urusan saya banyak jadi agak sibuk," sapa Ningsih setengah berteriak di depan semua warga yang mayoritas ibu-ibu itu. Ternyata benar, cukup memberitahu ratu gosip saja tanpa harus susah payah pamer ke semua orang, warga langsung mengetahuinya.
"Alhamdulillah, kami yang seharusnya mengucapkan terima kasih, Bu Ning. Nadia sama Nino sudah ingat sama warga di sini. Nggak tanggung-tanggung loh, sekampung dibagi," ucap salah satu dari ibu-ibu itu, mewakili semua warga.
"Ah, cuma oleh-oleh sedikit." Ningsih merendah, padahal dalam hatinya dia begitu bangga.
Ketika semua sudah kebagian, mereka pamit pulang dan tak lupa mendo'akan Nadia dan Nino.
"Tunggu! Ini bener kan pakai uangnya Nadia sama Nino, Bu Ning?" teriak Lela yang berhasil membuat warga menghentikan langkahnya untuk pulang lalu berbalik menuju tempat mereka berdiri tadi.
"Jelas dong, Bu Lela pikir pakai uang siapa memangnya? Ingat loh, mantuku itu dari kota bukan dari kampung sebelah." Ningsih menatap tajam Lela dengan pandangan merendahkan.
"Bu Lela, jangan merusak suasana, kalau misalnya tertarik mau bagi-bagi juga ayo, mumpung kami masih di sini."
"Iya, betul tuh, Bu. Udah syukur mereka ingat sama warga di kampungnya bukan tetangga lagi, ini Bu Dian aja yang rumahnya di ujung kampung ini datang. Jarang loh orang yang seroyal gini." Arum, pemilik warung di kampung ini juga ikut bersuara.
"Udah kaya, baik lagi. Nggak sombong," ujar seorang ibu yang memakai daster bermotif bunga.
"Dengerin tuh! Kalau iri ikutan dong! Lagian Putri punya uang segini banyak darimana? Suaminya saja nggak kelihatan kerja kok, malah mau ngaku-ngaku uang anaknya dipinjam. Jangan malu-maluin diri sendirilah, Bu Lela. Kelihatan banget nggak mampunya." Ningsih semakin merasa dibela.
"Saya cuma memastikan saja, Bu Ning bukannya iri. Soalnya semalam saya dengar Putri sama Dimas bahas pinjam uang. Awalnya saya kira mereka yang bakal punya rencana meminjam uang tapi lama-kelamaan saya dengerin ternyata Nadia yang pinjam uang dan sekarang pas banget lagi bagi oleh-oleh sama orang sekampung. Berarti Bener kan? Maaf ya, Nad. Saya bukan mau mempermalukan kalian, cuma nggak mau saja uang anak saya yang bakal mereka gunakan buat modal usaha malah dipinjamin gini. Masih mending kalau bayarnya cepat. Sengaja bicara di sini biar semua ingin mengetahui kejelasannya juga kalau saya bicara cuma berdua sama Bu Ning, mustahil mau mengakui."
Tanpa aba-aba, Ningsih langsung menoleh pada anak dan menantunya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Bu, kita bisa jelasin." Nadia bicara sambil mendekati ibunya. Sedangkan, Nino berusaha menenangkan semua warga.
"Maaf, ya ibu-ibu atas kegaduhan ini. Saya minta maaf tetapi saya ikhlas kok memberi ini jadi ibu-ibu boleh pulang sekarang."
"Enggak, ah, Mas Nino kita mau tahu yang sebenarnya," ujar Siti yang diangguki semua warga.
"Bu, ayo pulang. Kita bicara di rumah. Nggak baik buka aib orang." Putri tergopoh-gopoh dari rumah kala ada yang memberitahu kalau sang Ibu sedang adu mulut dengan Ningsih.
"Jadi, bener kan uang ini pinjam dari kamu, Put?" Lela menatap intens anak semata wayangnya itu.
"Kita pulang dulu yuk, Bu, nanti aku jelasin di rumah, Nggak enak bicara masalah keluarga dihadapan orang banyak begini."
"Oke, tapi awas kalau kamu bohongin ibu." Lela bergegas menuju rumah sambil digandeng sang putri.
"Udah, ah yuk bubar. Bu Lela nya juga sudah pulang."
"Padahal saya penasaran banget."
"Tahu nih. Nggak seru."
Suara ibu-ibu terdengar mengeluh seakan ini adalah hiburan yang tiba-tiba terhenti. Ningsih, Nadia dan Nino pun masuk ke dalam lalu mengunci pintu rumahnya, memastikan kalau nggak ada yang mendengarkan percakapan mereka. Nadia segera menuju dapur membuat teh hangat tiga gelas.
"Bisa-bisanya kalian mempermalukan Ibu!" Ningsih menatap tajam Nadia dan Nino, dia tak habis pikir dengan apa yang mereka lakukan. Bisa-bisanya meminjam uang pada orang yang selalu dia hina, mau taruh dimana mukanya kalau memang benar.
"Bukan maksud kami mempermalukan Ibu. Kan, Ibu sendiri yang minta kita ngelakuin ini."
"Jadi benar kalian pinjam uangnya Putri? Ibu pikir kalian pakai uang sendiri tapi nyatanya duit pinjaman. Memalukan!" ujar Ningsih setengah berteriak.
"Maaf, Bu. Tapi Nino janji secepatnya akan ganti. Ibu nggak usah khawatir."
"Harus dong secepatnya, malu! Dan satu lagi kalian harus memastikan keluarga Lela nggak bocorin masalah ini! Bukannya membahagiakan malah jadi momen memalukan."
* * *
Sementara di rumah Lela,
"Kamu kenapa sih, Nak? Tega bohongin Ibu demi membela sahabat kamu itu?"
"Aku nggak bohongin Ibu, cuma mau bantu Nadia saja, kasihan dia." Putri masih berusaha menenangkan sang ibu.
"Jadi bener kan, mereka pakai uang kalian?"
"Ada apa sih, Bu. Ramai begini sampai kedengeran ke belakang rumah. Malu ah kalau ada tetangga lewat terus mereka mendengar." Husen menghampiri istri dan putri tercintanya.
"Iya, Bu, Pak. Aku sama Mas Dimas memberi pinjaman Nadia uang. Kita kasihan Bu, lihat mereka ditekan terus sama Ibunya. Aku nggak bisa membayangkan kalau ada di posisi dia, lagi butuh tapi nggak ada yang mau ngasih pinjaman. Nadia itu kan sahabat aku dari kecil. Sedikit banyaknya aku tahu dia dan yang jelas dia beda dengan ibunya."
"Itu masalahnya. Sudah ya, Bu. Nggak usah diperpanjang. Biarlah, mungkin mereka mampu membantu Nadia."
"Tapi kan, Pak ..."
"Ssstttt.... Sudah ayo bantuin Bapak di belakang. Ini urusan Putri sama Dimas. Itu kan uang mereka bukan uang kita, Bu. Ayo ..." Segera Husen meraih tangan istrinya itu mengajaknya ke belakang rumah, karena kalau dibiarkan pasti akan merembet kemana-mana.
* * *
Setelah memastikan Putri ada di rumah lewat sambungan telepon, Nadia dan Nino bersiap menuju rumah sahabatnya itu. Beruntung, bos Nino di tempatnya bekerja mempercayainya untuk memberi pinjaman karena memang dia sudah bekerja lama juga di sana.
"Aku boleh minta tolong lagi nggak, Put?"
"Kenapa lagi Nadia?" potong Lela. Dia kesal putrinya dimintai tolong terus sedangkan ibunya terus saja menghina.
"Kalau nggak keberatan, jangan sampai orang lain tahu, kalau aku pinjam uang buat bagi oleh-oleh."
"Baik, lagian masalahnya juga sudah selesai. Bilang saja ini salah paham kalau ada yang bertanya." Husen yang bicara sekarang. Semua mengangguk setuju.
* * *
Putri dan Dimas memilih bekerja dari rumah semenjak menikah dan tinggal bersama orang tua Putri, bukan tak mampu membangun rumah namun karena Putri anak semata wayang jadi sang ibu tak ingin jauh dari putri tercintanya. Sedangkan Dimas, sudah tak memiliki orang tua. Harta peninggalan orang tuanya dia pakai buat meneruskan pendidikan di kota dan di sanalah dia bertemu dengan Putri. Namun, Dimas masih berhubungan baik dengan saudaranya. Terkadang, kalau bukan Dimas yang ke sana mereka yang silaturahmi ke sini.
Matahari sudah mulai meninggi. Setelah sarapan, Putri dan Dimas mengangkat ember besar berisi pakaian untuk dijemur. Sedangkan, Husen memberi makan kambing yang berada tepat di belakang rumahnya. Lela bersiap menuju warung Arum, belanja untuk makan siang.
"Jadi gimana Bu Ning, kejadian kemarin? Bener nggak si Nadia pinjam uang sama Putri buat bagi oleh-oleh?"
Siti masih belum tenang kalau rasa penasarannya belum terjawab. Jadi, mumpung ada orangnya segera ia menjadi orang pertama yang bertanya.
Yang ditanya malah tertawa lebar sambil memilih sayuran.
"Kok ketawa sih, Bu Ning. Kami ini penasaran," sahut Siti gemas.
"Tahu sendiri kan kalau saya itu suka sengaja menyindir si Putri anak Bu Lela jadi ya, kalau nggak sakit hati pengen balas rasa sakitnya nggak bakal lah dia kayak kemarin. Biasa, mumpung ada kesempatan ngejatuhin saya."
Mendengar namanya disebut langkah Lela terhenti. Dia menajamkan pendengarannya dari samping warung Arum, ingin tahu fitnah apa lagi yang akan Ningsih katakan. Lela tak habis pikir, dikasih hati malah minta jantung.