Alunan musik DJ memekakkan telinga Meira yang tengah duduk sembari menikmati vodka yang ia pesan. Duduk di bartender dengan suasana hati yang sedang kacau.
“Raffael gila! Kalau emang udah gak mau sama gue, gak usah nikahi gue. Bangsat!”
“Woah!”
Meira terkejut kemudian menoleh ke samping kiri di mana seorang lelaki yang jauh lebih muda darinya duduk.
“Boleh duduk di sini?” tanya Daniel, pria berusia dua puluh empat tahun.
Meira mengangguk canggung. “Kamu sudah duduk.”
“Kenapa dengan Raffael?” tanyanya sembari meneguk vodka milik Meira. “Daniel. What’s your name?”
Meira menaikan kedua alisnya. “Kamu … ingin kenalan denganku? Tampangnya masih muda, tapi malah menggodaku.”
Daniel terkekeh pelan. “Gak masalah, kan? Gak ada yang larang pun. Dulu juga pernah heboh. Anak remaja menikahi nenek-nenek tua.”
Meira tertawa kemudian menyurai rambut panjang nan lebat miliknya itu. “Lucu juga,” ucapnya dengan pelan.
“Namanya siapa, Mbak?” tanyanya lagi sembari menerbitkan senyumnya.
Meira menoleh dan menatap lelaki itu. “Bisa temani aku malam ini?”
“Sure! Sampai pagi pun aku siap, Mbak cantik. Asalkan beri tahu dulu, nama kamu siapa.”
“Meira. Meira Maurent.”
“Nama yang indah, Mbak Meira.”
Meira mendehem pelan. “Apa yang sedang kamu lakukan di sini, Daniel?”
Pria itu mengedikkan bahunya. “Mumet, dengar orang tua berantem terus tiap hari. Tapi, gak pernah mau pisah. Dengan alasan anak. Padahal aku sendiri masa bodoh, mau mereka pisah pun itu bukan urusanku.”
Meira manggut-manggut dengan pelan. “Butuh penghiburan, dong?”
“Bisa jadi. Thanks for your drink. Aku ambilkan yang baru.” Daniel lalu memanggil sang barista untuk mengambilkan satu botol vodka dan satu gelas untuknya.
“So! Siapa Raffael?” tanyanya ingin tahu.
Meira menuangkan minuman itu ke dalam gelas miliknya. “We are will married, but … dia menghamili wanita lain. Yang ternyata akulah, selingkuhannya.”
“Oh my God. It’s so hurt.”
“Ya. Aku harus menghadapi orang tuaku dan mengatakan yang sebenarnya. Pernikahan itu batal dan aku, jadi single lagi.”
Daniel menatap wajah Meira dengan lekat. “Tapi, raut wajahmu tidak memperlihatkan jika kamu menyesal, telah berpisah dengannya. Why?”
Meira mengusapi ceruk lehernya kemudian menghela napasnya dengan panjang. “Bisa pesan kamar sekarang juga?” pintanya kemudian.
Daniel menaikan alisnya sebelah. Tampak dari raut wajahnya jika perempuan itu sudah terpengaruh oleh minuman.
“Okay!” ucapnya kemudian menyunggingkan senyum dan memesan kamar untuk membawa perempuan ini ke sana.
‘So funny. Maybe, dengan cara ini, dia bisa melupakan lelaki itu,’ ucapnya dalam hati.
“Di mana, Bro?” Ezra—sahabat dengan Daniel menghubunginya.
“Bar, dekat dance floor. Ada yang lagi butuh pelampiasan. Cantik, dan menggemaskan.”
“Hah? Gila lo! Mentang-mentang baru putus, udah dapat mangsa lagi aja. Gak usah ngadi-ngadi kalau cuma buat pelampiasan nafsu doang, Daniel.”
“No, no, no! Tentu saja bukan. Kali ini gue serius. She is so cute, and … beautiful. Dan umurnya kayaknya lebih tau dia. And i like a old women.”
Ezra tertawa di seberang sana. “Okay, okay. Dari dulu juga lo gak pernah pacaran sama yang lebih muda dari elo. Have fun. Jangan lupa besok main basket.”
Daniel menutup panggilan tersebut kemudian menatap Meira kembali. “Mei?” panggilnya kemudian.
Meira menoleh kemudian tersenyum miring. “I wanna play tonight. Kepalaku, ough! Pening sekali.” Meira memegang kepalanya kemudian menggembungkan pipinya.
“Aku ambil kunci kamarnya dulu,” bisik Daniel tepat di telinga Meira.
Ia kemudian beranjak dari duduknya dan pergi menuju resepsionis untuk mengambil kunci kamar yang sudah ia pesan.
Tak lama setelahnya, ia menarik tangan Meira dan membawanya ke dalam lift menuju lantai dua.
Di dalam club yang cukup gelap tak bisa melihat dengan jelas, wajah cantik wanita itu. Namun, akhirnya Daniel bisa melihat wajah Meira setelah masuk ke dalam lift.
“You look so beautiful, Meira. Kamu harus jadi milikku,” gumam Daniel sembari mengusap bibir merah Meira.
Perempuan itu menoleh pelan. Wajah Daniel sudah berbayang ia lihat. Kepalanya sudah benar-benar pusing akibat alkohol yang ia minum tadi.
Sesampainya di dalam kamar. Daniel langsung meraup bibir perempuan itu dan menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
“Eumph! Slow down,” pinta Meira kepada Daniel.
“No, Baby! Bukankah ini, yang kamu inginkan?” bisik Daniel dengan suara beratnya.
Meira mengatur napasnya yang terengah-engah. Daniel kembali meraup bibir perempuan itu dengan tangan meremas gundukan kenyal milik Meira.
Hingga membuat perempuan itu mengerang kenikmatan. Cumbuan itu semakin menjadi. Daniel semakin menginginkan Meira yang tengah berada di atas tubuhnya.
“Aku menginginkanmu setiap hari, Meira. Bisakah kita melakukan ini lagi?” Daniel sudah meracau tak jelas.
Sementara Meira tak kuat menahan desahan yang terus ia keluarkan bersamaan dengan tangan Daniel yang terus meremas gundukan kenyalnya itu.
“Do it! Ough!” Meira membuka mini dress yang ia kenakan. Pun dengan Daniel. Membuka seluruh pakaian yang ia kenakan.
Lalu meraup bibir perempuan itu dengan rakus. Tangannya kini merayap ke bawah. Mengusapi titik sensitive milik Meira yang sudah basah karena permainan Daniel.
“Kamu sudah basah, Baby,” bisik Daniel lalu tubuhnya merayap ke bawah. Tepat di depan sana, Daniel menikmati benda asing itu dengan penuh.
“Ough! Oh my God! Daniel … ough ….” Meira mengerang. Menjerit menikmati sentuhan yang dilakukan oleh Daniel padanya.
“Enjoy, Baby,” ucap Daniel kemudian menyesapnya lagi.
Meira semakin menjadi. Kepalanya terangkat ke atas dengan tangan menjambak rambut Daniel yang masih menikmati miliknya di bawah sana.
Tubuh Meira mengejang—tanda ia sudah mencapai puncaknya. Kemudian lemas, karena pengeluarannya luar biasa itu.
Kesadaran Meira mulai pulih. Ia kemudian mengerutkan keningnya menatap Daniel yang tengah menyunggingkan senyum kepadanya.
“Daniel? Kamu … yang tadi kenalan di bar tadi, kan?” tanya Meira sembari menunjuk wajah Daniel.
Lelaki itu mengangguk. “Ya. Siapa lagi, kalau bukan aku? Kamu berharapnya siapa, hum?”
Meira menggeleng pelan. “Sorry. But, kenapa kamu melakukan ini? Oh! Sorry. Aku, kalau mabuk memang selalu melantur.”
“It’s okay, it’s okay. Aku juga menginginkanmu. Santai saja.”
Meira menelan salivanya. Bahkan keduanya sudah tidak mengenakan apa pun. Namun, Meira tampak canggung sebab lelaki yang ada di depannya ini baru ia kenal beberapa jam yang lalu.
Namun, sudah membuatnya orgasm. Meira sedikit malu, dan sangat menyesali perilaku mabuknya yang selalu mengajak bercinta. Begitulah Meira.
Daniel kemudian mengadahkan kepala Meira dengan memegang dagu lancip perempuan itu. Kembali meraup bibir itu dengan lembut, membiarkan Meira tahu, bila dirinya sangat menginginkan tubuh Meira.
“Come on! Kita sudah sama-sama tahu, right?” bisik Daniel sembari menatap dengan sangat dekat wajah wanita itu.
Meira mengangguk pelan. “Do it,” ucapnya dengan pelan.
Daniel menerbitkan senyumnya. Ia kembali meraup bibir perempuan itu sembari membawa miliknya masuk di bawah sana.
“Aahh!” pekik Meira usai merasakan pedang ganas Daniel sudah tenggelam masuk di bawah sana.
Daniel memompa tubuh Meira dengan sangat lincah dan memburu. Suara erangan dan pekikan berpadu di dalam ruangan itu. Tangan Meira mencengkeram erat bahu Daniel sembari melayangkan suara desahan yang membuat Daniel semakin menjadi.
Tubuh Meira dibalikkan guna mengganti posisi yang dia inginkan. Lalu membawanya masuk kembali dan memompanya dengan sangat cepat.
“Ouuuh! Daniel … please!” pekik Meira sudah tak karuan.
“Enjoy, Baby. Ini sangat nikmat, oughh!” raung Daniel sembari terus melajukan temponya. Daniel benar-benar tenggelam dalam permainan bersama dengan wanita yang baru ia temui itu.
Sangat luar biasa bahkan membuat Daniel lupa diri. Sensasi yang luar biasa, yang Daniel rasakan kini. Pikiran yang semrawut itu kembali fresh sebab permainan gila yang dilakukan olehnya kepada Meira.
Satu jam berlalu ….
Daniel menyelesaikan permainan itu kemudian mengeluarkan cairan putih itu di atas perut Meira sebab ia tak mengenakan pengaman.
Meira kemudian duduk di samping Daniel yang baru saja membersihkan bekas cairan itu dengan tissue yang tersedia di sana.
“Mau tidur di sini, atau pulang ke apartemenku?” tanya Daniel sembari menatap wajah perempuan itu.
“Boleh, memangnya?”
“Sure! Itu rumah keduaku, jika Mommy dan Daddy sedang bertengkar.”
“Kamu anak tunggal?” tanyanya ingin tahu.
“No! Anak sulung, aku punya dua adik. Dan mereka kembar. Vallery dan Viona, usianya baru dua puluh tahun dan masih kuliah di semester empat.”
Meira manggut-manggut dengan pelan. “Kalau begitu, pakai bajumu. Aku tidak pernah menginap di tempat seperti ini.”
“Okay!” Daniel lalu memunguti pakaiannya dan langsung memakainya kembali.
Setibanya di apartemen mewah itu. Meira mengedarkan matanya melihat betapa luasnya apartemen tersebut.
“Kamu, sendirian … tinggal di sini?” tanya Meira ingin tahu. “Dan permainanmu tadi sangat lihai. Itu artinya, bukan kali pertama, kamu lakukan itu dengan wanita?”
Daniel menghela napasnya dengan panjang. “Mau es jeruk?”
“Boleh. Dan jawab pertanyaanku.”
Daniel mengambil dua gelas dan juga es jeruk di dalam lemari esnya. Kemudian menatap wajah Meira yang ingin tahu tentang dirinya.
“Aku punya pacar. Dan sudah putus beberapa hari yang lalu. Dia sering memintaku melakukan hubungan itu. Tapi, hanya kamu, yang baru aku bawa ke apartemenku.”
“Why?” tanyanya sembari mengambil gelas yang diberikan oleh Daniel padanya.
Daniel mengedikan bahunya. “Dia tidak pernah serius. Hanya ingin dipuaskan saja. Kemudian mendapatkan pria yang jauh lebih ganas dariku.”
Meira geleng-geleng kepala kemudian meneguk es jeruk tersebut. Daniel menatap wajah perempuan itu dengan tatapan manisnya.
“Orang yang sudah mengkhianatimu, suatu saat nanti akan menyesal. Wanita secantik kamu, dilepas begitu saja.”
Meira menyunggingkan senyum kecil. “Mungkin dia jauh lebih cantik dariku.”
“Bisa jadi, kalau itu.” Daniel lalu mengulas senyumnya. “Kamu kerja di mana? Atau punya usaha sendiri?”
“Oh, no. Aku kerja sebagai staff biasa, di Global Perkasa.”
Daniel menaikan kedua alisnya. ‘Perusahaan punya Daddy rupanya,’ ucapnya dalam hati kemudian manggut-manggut dengan pelan.
“Kenal, dengan atasannya?” tanyanya ingin tahu.
Meira mengangguk. “Ya. Dia cukup … gatal.”
Daniel menyunggingkan senyumnya. Lelaki itu ialah ayahnya, dan memang benar, apa yang dikatakan oleh Meira tadi.
“Kamu pernah kena rayuan mautnya?”
“Tidak. Tapi, sekretarisnya itu temanku. Dia sering diajak kencan dan bercinta, setelah diberi uang puluhan juta.”
Daniel tersenyum miring kemudian meneguk es jeruk miliknya sembari meremas ujung meja karena rasa bencinya kepada ayahnya itu.
“Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur. Itu, kamar … kita.”
Meira menoleh dan menatap wajah Daniel. “Us?”
“Ya. Kamu boleh tinggal di sini, kapan pun mau.”
Meira tersenyum tipis. “Kamu baru mengenalku dan ….”
“Dan aku menginginkanmu.”
Meira menelan salivanya mendengar ucapan Daniel. Ia kemudian membuka heels dan masuk ke dalam kamar yang ditunjuk oleh Daniel tadi.
Daniel terkekeh melihat tingkah Meira yang salah tingkah karena ulahnya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum kembali.
Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi. Meira membuka matanya kemudian menoleh ke samping di mana Daniel tengah tertidur pulas sembari memeluknya.
Wajah tampan yang disinari oleh terik matahari yang mencoba masuk di balik tirai itu membuat Meira semakin penasaran padanya.
‘Who are you? Kenapa kamu membawaku kemari, sementara tidak ada satu pun wanita sebelumku yang datang ke sini,’ ucapnya dalam hati.
Dengan pelan, Meira mengangkat tangan kekar Daniel yang melingkar di perutnya. Ia lalu beranjak dari tempat tidur dan melihat-lihat kamar yang sangat luas itu.
“Sangat nyaman. Bahkan kamarku tidak seluas ini,” gumamnya lalu membuka tirai jendela agar matahari masuk ke dalam kamar itu.
Daniel yang merasa silau itu kemudian membuka matanya. Melihat Meira yang tengah berdiri di depan jendela membuatnya tersenyum miring.
“Bukankah ini hari Minggu? Kamu tidak ke kantor, kan?” tanya Daniel dengan suara seraknya.
Meira menoleh ke belakang kemudian menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menghampiri Daniel.
“Tidak. Tapi, aku sudah biasa bangun pagi. Mau itu weekday maupun weekend,” jawabnya kemudian duduk di tepi tempat tidur.
“Okey!” Daniel lalu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur. Melihat Meira yang mengenakan kemeja putih kebesaran membuat fantasinya kembali melayang.
Ia lalu menyibakan selimut yang menutup tubuhnya lalu berputar menghampiri Meira yang tengah duduk di tepi tempat tidur itu.
Ia membungkuk. Kedua tangannya menyangga di samping Meira lalu meraup bibir itu dengan lembut. Usai mencium bibirnya, ia lalu mengulas senyum hangat kepada wanita itu.
Tangannya membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Meira sehingga membuat perempuan itu menelan salivanya.
Tangannya menyelinap masuk ke dalam dadanya dan meremasnya dengan lembut.
“Eumhhh ….” Meira mengerang pelan lalu menggigit bibir bawahnya.
Daniel lalu membalikan tubuh Meira dan menancapkan miliknya kembali di bawah sana. Meira memekik hebat. Tubuh Daniel memompa cepat di bawah sana hingga membuat Meira tak tahan menahan desahan yang akhirnya ia keluarkan.
“Ough! Daniel … oh my God!” raung Meira sembari meremas sprei yang ada di depannya.
“It’s so amazing, right?” bisik Daniel kemudian menciumi sisian wajah Meira.
Perempuan itu hanya mendesah, mengikuti pergerakan tubuh Daniel yang terus menghantamnya dari belakang.
Lima belas menit berlalu. Daniel menyelesaikan permainan itu lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Meira yang masih mengatur napasnya itu kemudian menoleh ke arah dompet Daniel yang tergeletak di atas nakas.
Ia penasaran, berapa usia Daniel sebenarnya sebab lelaki itu tak pernah mau menjawabnya.
“Kartu kredit dan debit-nya banyak banget,” gumamnya lalu melihat beberapa lembar uang merah berjejer rapi di dalamnya.
“Wajar. Apartemennya saja sebagus ini,” ucapnya lalu mengambil KTP milik Daniel sebab ia sangat penasaran dengan usia lelaki itu.
Matanya membola usai melihat tahun lahir Daniel yang sangat jauh dengannya. “What the fu ….”
Meira terduduk lemas usai melihatnya. Beda empat belas tahun dengannya membuat Meira ingin sekali kabur dari dunia ini.
Ia lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi sahabatnya—Feby. “Di mana lo?” tanyanya dengan lemas.
“Lagi nemenin Pak Reymond di vila. Jam sepuluh kemarin dia ajak gue ke sini. Orangnya malah masih tidur, habis mainin gue sampai pagi.”
Meira memejamkan matanya. “Gila lo. Kalau istrinya tahu, bukan Pak Reymond yang dibogem. Tapi elo.”
“Butuh duit gue, Mei. Lo di mana? Suara lo lemes amat. Jangan bilang lo masih ketemu sama Raffael?”
“Nggak. Gue lagi di apartemen cowok. Nanti aja deh, gue ceritanya. Kalau udah balik, kabarin gue.”
“Oke!” ucapnya kemudian menutup panggilan tersebut.
Meira menjambak rambutnya. Menatap kembali KTP milik Daniel yang tak pernah ia sangka akan menjadi teman tidurnya dalam satu malam.
Daniel kemudian mengambil data dirinya itu dengan pelan di tangan Meira lalu duduk di samping perempuan itu sembari menatapnya.
“Memangnya usia kamu berapa tahun?” tanya Daniel ingin tahu.
Meira menghela napas kasar. “Thank you, sudah menemani aku dalam satu malam kemarin. Aku harus pulang.”
“Wait!” Daniel menahan tangan Meira yang hendak beranjak dari duduknya. “Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?” tanyanya dengan pelan.
Meira menundukan kepalanya. “Aku malu, Daniel. Kamu terlalu muda bagiku. Kurasa, pertemuan kita cukup sampai di sini saj—”
“Why? Karena aku lebih muda darimu? Lalu, yang sudah kita lakukan tadi dan semalam, mau kamu lupakan begitu saja? Bahkan aku sudah memberi tahu tempat tinggalku di sini.”
Meira menelan salivanya lalu mengusap wajahnya dengan pelan. “Look, Daniel! Anggap saja aku melayani kamu malam ini dan tadi, satu jam yang lalu. Kemudian kamu memberikan uang padaku, anggap saja aku menjual diri kepada kamu.”
Daniel mengangguk. “Jika itu yang kamu inginkan, aku bisa membayarmu setiap hari, setiap aku menginginkanmu.”
Meira menggelengkan kepalanya. “No! Bukan itu maksudnya, Daniel.”
Daniel malah tertawa. “Hanya karena usiaku jauh lebih muda darimu, kamu ingin mengakhiri semuanya? Bahkan kita belum menjalin hubungan, dan kamu tidak ingin bertemu denganku. What happened, Meira?”
“Daniel. Aku tidak pantas untukmu. Jangan ada kata jalin hubungan di antara kita. Itu sudah sangat melanggar aturan.”
“Oh, shit! Mana ada pelanggaran seperti itu, Meira. Berhenti berucap yang tidak masuk akal. I will never let you go!” ucapnya dengan tegas.
Meira terdiam. “Daniel. Usiaku … usiaku ….” Meira menghela napas kasar. “Tiga puluh lima tahun. Kamu yakin, masih ingin menemuiku?”
Daniel menyunggingkan senyum kecil. “Aku suka wanita yang lebih dewasa dariku. Itu merupakan tantangan yang cukup menyenangkan bagiku.”
“What? Agak lain memang kamu ini.” Meira melipat tangan di dadanya dan menatap Daniel yang tengah mengenakan pakaiannya.
“Mandilah. Akan kubuatkan sarapan untukmu,” ucap Daniel lalu keluar dari kamarnya meninggalkan Meira yang masih tak percaya bila dirinya akan tidur dengan pria muda seperti Daniel.
“Oh my God. Apa yang telah aku lakukan?” ucapnya lalu menjambak rambutnya kembali.
Tak lama kemudian, Daniel kembali masuk ke dalam kamar sembari membawa paper bag di tangan kanannya.
“Bajumu. Jangan pakai kemejaku lagi. Itu hanya akan mengundang birahiku memuncak,” ucapnya lalu menaruh paper bag itu di atas tempat tidur.
“Mandilah. Setidaknya wajahmu kelihatan lebih segar, setelah kuobrak-abrik semalam dan tadi.”
Tubuh Meira meremang. Bisa-bisanya Daniel membuatnya tidak berdaya akan suara sensual yang dia ucapkan.
“Oh, God!” Meira kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Lima belas menit kemudian. Meira keluar dari kamar dan mengenakan pakaian yang dibelikan oleh Daniel tadi.
Daniel menerbitkan senyumnya kepada Meira yang duduk di kursi meja makan. Ia lalu memberikan sandwich kepada wanita itu.
“Thank you,” ucap Meira pelan.
“Sama-sama. Sebagai bayaran jasamu semalam.”
Meira menghela napasnya kemudian geleng-geleng kepala. “Orang tuamu kenapa? Kamu bilang semalam mereka bertengkar tapi tidak pernah mau pisah.”
Daniel mengedikan bahunya. “I don’t know. Bahkan aku udah gak peduli, dengan kondisi rumah tangga mereka. Bahkan mereka tidak tahu, aku tinggal di sini.”
“Why?” tanyanya ingin tahu.
“Males aja. Ngasih tahu orang yang gak pernah anggap aku ada. Karena aku memilih kuliah seni, Daddy buang aku dan gak mau anggap aku anaknya. Ya! Hubungan kami cukup rumit.
“Tidak bisa dikatakan sebagai ayah dan anak. Lebih ke musuh. Aku menyukai apa yang bisa aku lakukan. But, Daddy minta aku jadi apa yang dia inginkan. Lalu aku berontak, dan dia tidak mau kalah.”
Meira manggut-manggut dengan pelan. “Cukup rumit,” ucapnya kemudian mengulas senyum tipis.
“Ya. Seperti yang kukatakan tadi,” ucapnya kemudian menoleh ke arah ponselnya di mana sang adik—Viona menghubunginya.
“Kenapa?”
“Lagi di mana?”
“Di mana aja boleh. Ngapain lo nanya gue di mana?”
“Ada yang nyariin elo, Daniel!”
“Siapa? Gue gak punya janji temu, sama siapa pun.”
“Catty. Kayak nama kucing. Pacar ke berapa elo ini, huh?”
Daniel kemudian menghela napasnya. “Suruh balik aja. Gue gak ada urusan sama dia,” ucapnya kemudian menutup panggilan tersebut.
Meira tak ingin bertanya, siapa yang sedang mencarinya. Meski hatinya menjerit ingin bertanya. Namun, ia rasa itu bukan hak dia untuk tahu Daniel berbincang dengan siapa atau apa pun itu.
“Aku punya enam mantan. Setiap tiga bulan putus. Dua tahun ini aku udah ngumpulin enam orang dan dua di antara mereka, belum rela diputusin. Salah satunya itu, Catty.”
Meira tersenyum miris. “Hebat!”
“Hebat?” Daniel menaikan kedua alisnya. “Aku sudah bosan, gonta-ganti pacar terus, Mei. Mau nyari yang serius, yang mau aku ajak nikah.”
Meira terkekeh. “Cari, Daniel.”
“Sudah. Aku sudah menemukannya,” ucapnya sembari mengulas senyumnya kepada perempuan itu.
Meira menghela napasnya dengan panjang. “Syukurlah, kalau kamu sudah menemukan orang itu.”
“Ya. Di depan mataku ini, yang akan kujadikan istri.”
“Uhuk! Uhuk!” Meira terbatuk mendengar ucapan Daniel tadi.
Lelaki itu kemudian memberikan air minum kepada Meira dan menatapnya lagi. “Mau, menikah denganku?”
Meira menggeleng. “Tidak semudah yang kamu pikirkan, Daniel.”
“I know. Tidak perlu kamu jawab sekarang. Yang pasti, aku akan mengejarmu sampai kamu mau. And, kamu sudah tahu. Aku menyukai wanita yang usianya lebih tua dariku.”
Daniel kemudian menerbitkan senyumnya kepada Meira yang tengah serba salah dengan kelakuan Daniel ini.
Waktu sudah menunjuk angka tujuh malam. Meira masih berada di apartemen Daniel sebab tengah menunggu Feby pulang dari vila.
Daniel kemudian menghampiri Meira yang tengah duduk di kursi panjang dekat kolam renang.
“Kapan, mantanmu itu menikah?” tanya Daniel ingin tahu.
“Entahlah. Aku tidak bertanya setelah memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini dengannya. Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya meskipun dia memberitahuku kalau dia masih mencintaiku.”
Daniel tersenyum miring. “Jangan percaya dengan orang yang memiliki dua wanita di dalamnya. Aku … lebih baik segera mengakhiri hubungan itu, daripada menduakannya.”
Meira menoleh pelan ke arah Daniel. “Kamu masih kuliah? Harusnya sudah lulus.”
“Bar yang kamu datangi kemarin, itu milikku. Sudah lulus satu tahun yang lalu. Lanjut S2, ambil bisnis. Ya! Ujung-ujungnya masuk bisnis juga.”
Meira mengulas senyumnya. “Tapi, bukan karena daddy kamu, kan?”
“Bukan. Aku gak suka, sama perusahaan turun temurun. Mau membangun usaha sendiri agar tidak disetir, oleh dia. Yang sok berkuasa, meminta aku begini dan begitu.”
“Pendirian kamu teguh juga,” ucapnya dengan pelan.
Daniel menghela napasnya dengan panjang. “It’s my life. Meski terlahir dari rahim Mommy dan hasil dari Daddy, bukan berarti mereka dengan mudahnya menyetirku.”
Meira menatap wajah Daniel yang tengah menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Boleh minta nomor kamu?” tanya Daniel kemudian. “Sudah kubilang kan, aku akan menjadikanmu istriku. So! Aku akan menunggu sampai kamu siap.”
Meira hanya diam dan hanya memberikan ponselnya pada Daniel. Lelaki itu kemudian memasukan nomornya dan menghubungi nomornya itu.
“Thanks!” ucapnya lalu menerbitkan senyumnya kepada wanita itu.
“I don’t care, meski jarak usia kita terpaut jauh. Yang penting, kamu wanita baik dan mau menerimaku.”
Meira menghela napasnya. “Aku yang malu, Daniel.”
“Kenapa? Karena aku masih berondong? Jangan hiraukan ucapan orang di luar sana. Memangnya kamu makan dapat minta dari mereka?”
“Ya nggak juga sih. Cuma kan, bikin gak enak makan.”
Daniel terkekeh pelan. “I know. But, jangan bergantung dengan penilaian orang terus menerus. Jika hatimu nyaman, why not? Begitu pun denganku.”
Daniel kemudian mencium punggung tangan Meira dan melepasnya. Membuka celana pendek yang ia kenakan kemudian masuk ke dalam kolam.
Meira menelan ludah melihat tubuh atletis milik Daniel. “Kenapa dia perfect sekali? Dan membuatku gila.” Meira menggeleng kemudian melipat tangan di dadanya.
“Come here!” ajak Daniel kepada Meira yang masih duduk di bangku panjang itu.
Meira menggeleng. “Mau ngapain? Aku sudah mandi.”
Daniel menyunggingkan senyum kecil. “Berenang gak harus belum mandi juga, Meira.”
“Ya, aku tahu.”
“So! Come on!” ajak Daniel kembali. “Atau mau aku gendong?”
Meira menggeleng kemudian membuka dress tipis yang ia kenakan itu kemudian masuk ke dalam kolam.
Daniel lalu mengejarnya dan menghampiri perempuan itu yang tengah berdiri di tepi kolam. Bibirnya meraup bibir Meira dengan lembut.
Suasana yang dingin itu tiba-tiba menjadi hangat setelah Daniel menggesekan tubuhnya pada tubuh Meira.
Lelaki itu kemudian menggendong tubuh Meira dan mendudukannya di tepi kolam. Meraup gundukan kenyal itu dengan rakus hingga membuat Meira menjerit tak karuan.
Lima belas menit kemudian, Daniel menyudahi permainan itu. Tampak lelah, sebab sudah berkali-kali ia melakukan hal ini dengan Meira.
“Kamu … hanya usianya saja yang muda. Permainannya, seperti sudah berumur tiga puluh tahun.”
Daniel terkekeh pelan. “Mau mandi lagi?” tanyanya kemudian.