UNDANGAN REUNI
"Undangan reuni?" dahi Anggia berkerut sambil menggumam, tangannya menahan kacamata yang melorot.
Di tengah kemelut nya kantor menghadapi hari cuti panjang di depan mata. Anggia mendapat undangan reuni dari salah satu cewek terhits di SMA nya dulu. Plus musuh paling ditakutinya dulu. Perlu digaris bawahi 'musuh'.
Anggia terkejut karena begitu tiba-tiba. Setelah 8 tahun berlalu tak mendengar kabar angin. Sekarang, wanita itu mengirimkannya pesan dengan sikap sok baiknya. Apakah musuhnya itu telah berubah?
Ia kembali mendapat pesan. Tangannya gemetar mengusap layar notifikasi.
"Dateng ya Gia! Kita udah lama gak ketemu, kamu pasti kangen kan sama temen-temen lain? Ayo kita nostalgia bareng!"
Lagi, dahi Anggia mengernyit. Baginya, itu pesan teraneh dari seorang musuh. Atau bisa dibilang mantan musuh?
"Kenapa dia memintaku datang? Apa yang diharapkan jika aku ke sana? Kenangan apa yang bisa dinostalgiakan?" Anggia merasa lucu dan tersenyum remeh.
Nyatanya tidak juga, tidak ada yang harus di nostalgiakan. Saat SMA dia tidak punya banyak teman. Momen-momen indah yang mana yang bisa dia kenang? Sedangkan Anggia hanya punya dua teman dekat yaitu Laila dan Ema. Dari kelas 10 sampai kelas 12. Yang menjadi teman bicaranya ya dua orang itu saja. Yang lainnya tidak akrab.
Saat itu siapapun tidak mau bergaul dengan Anggia yang culun dan tidak populer. Dia juga tidak terlalu pintar, hanya menempati 10 besar saja.
Kehidupan Anggia juga tidak menarik. Siapapun pasti akan percaya kalau Anggia tidak pernah berpacaran. Karena tidak ada laki-laki yang menyukainya. Siapa juga yang menyukai gadis culun, berkacamata dan tidak populer?
Kondisi yang seperti itu membuat Anggia menarik diri, menjadi pribadi introvert yang matang. Namun gara-gara perlakuan buruk teman-temannga juga Anggia berusaha merawat kulitnya agar lebih cerah. Dia tidak mau dikatai dekil lagi seperti dulu.
"Anggia! Selamat menjalani cuti panjang!"
Seseorang partner kerja di sebelahnya mengucapkan selamat, sebelum beranjak dari mejanya.
"Iya! Selamat juga buat kamu."
Bersyukur, di perusahaan pun masih ada yang mau menjadi temannya. Meskipun masih bisa terhitung oleh jari. Penampilannya sudah mengalami perubahan, tapi kepercayaan diri Anggia yang rendah mempengaruhi pergaulannya dan jumlah teman yang ia miliki.
Anggia terus menatap undangan digital tersebut sambil menunggu bus malam yang lewat dengan perasaan bimbang. Jujur saja, Anggia belum siap bertemu dengan teman-teman lamanya.
"Datang tidak ya? Datang tidak ya?" setiap langkah kakinya terdengar ragu.
Sejak dulu Anggia kurang memiliki kepercayaan diri. Yang ada di bayangannya sekarang adalah transformasi wajah teman-temannya yang semakin cantik dan tampan. Bisa dipastikan jika dia datang ke acara itu. Anggia akan terus membanding-bandingkan dirinya sendiri dan terus merendah.
Bukan rahasia umum lagi kalau reuni adalah ajang pamer status dan kekayaan.
Anggia melepas kacamatanya dan berdiri di depan cermin, menatap sosoknya yang tidak berubah sejak dulu. Hanya warna kulitnya saja yang semakin cerah. Tidak ada perubahan signifikan pada dirinya.
"Bagaimana kesan teman-teman kalau melihatku lagi? Pasti biasa saja kan? Aku memang biasa saja, bahkan yang lebih menyedihkan, aku belum memiliki pacar di usia 27 tahun."
"Itu karena kakak memang suka terjebak di zona nyaman, coba deh rubah penampilan kakak yang monoton itu, kacamata besar, kuncir kuda? Huh mana ada wanita modern yang berdandan seperti itu?"
Anggia tanpa berkedip memandangi adiknya yang tiba-tiba saja ada di atas tempat tidurnya. Dan ajaibnya adik yang selalu terlihat cuek itu. Mendadak cerewet.
"Kapan kamu masuk ke sini?"
"Daritadi aku memang tidur di sini, kakak saja yang tidak fokus."
"Adik tidak sopan! Kamu kan punya kamar sendiri!" Anggia tidak tahan selimut kesayangannya kusut ditindih Anjas. Sehingga dia menariknya sampai terlempar ke lantai.
"Hey kak! Usiamu sudah 27 tahun, rubahlah penampilanmu dan dapatkan pacar! Ibu sudah semakin tua, tidak lihat kalau ibu ingin cucu? Tiap hari dia gendong cucu orang lain saja, masa kakak tidak peka?"
"Cerewet! Pergi kamu! Kakak mau tidur!"
Anggia kesal, memukul mundur adiknya dengan bantal.
***
"Tips mendapatkan pacar, harus cantik, berpenampilan modis, pintar dan menggoda! Semua ini gak aku miliki! Tips yang buruk! Siapa sih yang bikin tips beginian? Bikin aku insecure saja!"
Karena tidak ada yang relate untuknya, Anggia melempar hp nya dengan kesal. Semua tips-tips itu hanya diperuntukkan untuk orang yang good looking.
"Anggia! Anggia!"
Anggia menangkap suara sang ibu, Lula memanggilnya dari balik pintu. Sebelum Anggia turun dari tempat tidurnya, pintu sudah terbuka, menampilkan wajah sang ibu yang melongok ke dalam sambil melontarkan senyum penuh arti.
"Kenapa Bu?"
"Uhmm begini."
Ibunya berjalan masuk, atensi Anggia langsung mengarah ke tangan sang ibu dimana sedang memegang amplop coklat yang mencurigakan.
"Itu apa Bu?"
"Ibu baru saja dapat arisan," katanya.
"Lalu?"
"Rencananya mau ibu kasih ke kamu setengahnya."
"Mau kasih ke aku?" Anggia terkejut.
Sang ibu mengangguk mengiyakan.
"Iya, selama ini kan kamu sudah kerja buat ibu, kebutuhan ibu selalu kamu penuhi, jadi ibu mau bagi setengah uang arisan ini buat kamu pergi senang-senang."
"Tapi Bu..."
Sang ibu memegang kedua pundaknya seraya menatap matanya dalam.
"Ibu mau kamu ubah penampilan, belilah baju, tas, sepatu baru yang kamu suka dan pergilah ke salon ya? Sudah saatnya kamu berubah jadi cantik dan modis. Ibu gak mau lihat anak ibu begini-begini terus."
Perkataan Lula tidak bisa dibilang sebagai hinaan. Tapi permintaan orangtua agar anaknya berubah.
"Terimakasih ibu." netra Anggia mulai berkaca-kaca.
"Gak perlu berterimakasih kak, ini kan uang kamu juga. Sudah saatnya kamu nikmatin jerih payah kamu. Ini ada uang 10 juta buat kamu, gunakan sebaik-baiknya! Ibu mau kamu tampil beda."
Anggia menerima amplop berisi uang itu dengan sukacita dan langsung memeluk sang ibu.
"Kata adik, kamu ada acara reuni ya? Datang aja kak, kamu harus tunjukkan versi terbaru diri kamu ke mereka."
Anggia merasa pilu, sampai sebegitunya sang ibu menginginkannya mendapat pasangan. Dia memang tidak mengatakannya langsung dan terang-terangan, tapi semuanya berhubungan dengan perkataan sang adik semalam.
***
Dengan uang itu, pertama-tama Anggia mendatangi mall. Membeli beberapa pakaian baru. Cukup membeli 3 dengan harga yang terjangkau tapi bukan yang murahan. Lalu lokasi berikutnya adalah salon, dia memilih salon yang ramai. Karena biasanya pelayanannya bagus dan hasilnya juga bagus.
"Mau potong rambut kak?" tanya si hairstylist.
"Iya."
"Mau yang model apa?"
"Terserah kakak saja, yang pasti model yang lagi trending saat ini dan cocok di wajah aku."
"Oh oke kak."
Selesai mengubah tatanan rambut. Kemudian Anggia pergi ke lokasi yang ketiga.
BIRO JODOH LOVER FRIENDS
Anggia menatap brosur di tangannya lalu berganti menatap papan reklame di samping pintu masuk gedung pink-maroon itu. Dia sedang memastikan apakah ini benar tempat yang ada di brosur itu atau bukan.
"Benar gak ya ini tempatnya?" Anggia kebingungan, karena tempatnya begitu sepi.
"Halo kak cantik!"
Anggia berjingkrak terkejut, ketika seseorang datang secara tiba-tiba dari belakang dan hampir saja, Anggia tersandung karena sepatu high heels barunya.
Anggia menghela napas panjang, setelah jantungnya hampir copot, lalu memperhatikan wanita cantik nan seksi di hadapannya. Tiba-tiba si wanita cantik nan seksi itu menjabat tangannya.
"Perkenalkan! Aku madam Sevia. Ada yang bisa saya bantu kak cantik? Mau dicarikan suami, pacar, atau pacar-pacaran?" dengan suara cemprengnya, wanita berpakaian formal dengan jas pink dan rok pendek pink di atas lutut menyapa dengan wajah ceria.
"Pacar-pacaran?" Anggia terheran, menggaruk pelipisnya. Jelas dia tidak mengerti maksudnya.
"Begini biar saya jelaskan, pacar-pacaran artinya pacar sewaan, yang bisa dibayar perhari kak, mau disewa seminggu, sebulan, setahun juga boleh, lebih lama makin banyak bonus kak. Akan lebih murah dan banyak promo kalau kakak mau gabung jadi member kami."
Sevia menjelaskan dengan aura ceria dan ramah. Semakin menarik perhatian Anggia untuk mengetahui lebih lanjut.
Entah setan apa yang merasuki Anggia, sampai tertarik untuk datang ke tempat ini. Kalau bukan gara-gara pegawai salon yang memberitahunya. Anggia tidak akan sepenasaran ini. Bahkan di tangannya sudah ada brosur yang dia ambil dari sana.
Awalnya Anggia berencana mencari jodoh untuk jenjang serius. Tapi tawaran yang ini terdengar lebih menarik.
"Boleh deh, saya mau pacar sewaannya."
"Oke kak, silahkan masuk. Pria tampan akan memanjakan mata kakak."
AXEL ALGEBRA
"Oke all! Tunjukan pesonamu!" seru Sevia.
Sudah berjejer di depannya, pria-pria yang bekerja paruh waktu di biro jodoh lover friend ini. Wanita cantik yang menjadi pemandu tadi pun, memberikan buku katalog yang menampilkan harga-harga sewa perharinya dilengkapi identitas lengkap. Setiap tipe punya harga berbeda.
Mereka dijejer di dalam ruangan, yang di tengahnya dipasang dinding transparan besar yang membatasi kandidat dengan Anggia. Bak boneka dalam kaca.
"Silahkan pilih kakak, yang pastinya sesuai selera kakak cantik."
Anggia menarik sudut bibirnya, bingung memilih.
"Aku gak pandai memilih," jawab Anggia
"Oke, biar aku sang ahli yang memilih untuk kakak cantik, yang ini tipe S, tipe seksi, ganas dan agresif. Harga sewanya 870 ribu perhari, namanya Alendro, blasteran Spanyol Sulawesi, bulan depan usianya 30 tahun, badannya berotot, rambut hitam, tinggi 180 cm. Dia paling suka kalau diajak ke kamar rawrrr!" jelas Sevia dengan semangat. Diakhiri rauman nakal nan manjalita.
Anggia dengan kepolosannya langsung menggeleng ketakutan mendengar kalimat terakhir.
"Suka diajak ke kamar?" gumamnya lirih. Untuk pertama kalinya, dia tidak nyaman mendengar kalimat ambigu itu.
"Uhmm maaf kak saya skip yang ini."
"Oke, kalau kakak mau yang tsundere tapi ganas dan hot juga ada, dia ini di tipe X, namanya Daniel, harga sewa 1,5 juta perhari, tinggi badan 179, tubuh agak berotot dan paling suka diajak ngedate ke wahana-wahana ekstrim," jelas madam Sevia.
"Skip kak skip, ada yang lain?" Anggia mengibas-ngibas tangannya meminta kandidat selanjutnya.
"Wuihhh masih banyak kak tenang, kita biro jodoh lover friend punya 370 kandidat pacar sewaan, jadi santai aja."
Anggia mengangguk paham, mencoba mempercayakannya pada kakak cantik ini.
"Yang ini ada tipe B, romantis, manis dan perhatian, namanya Axel Algebra, tinggi 181 cm, dia suka...,"
"Saya pilih yang ini!" tanpa pikir panjang lagi, Anggia memilih kandidat ke 3. Sejak pandangan pertama, Anggia merasa pria ini cocok jadi kekasih sewaannya.
"Serius kak? Tapi dia masih tipe B, gak mau yang tipe Y atau Z, yang sudah berpengalaman?"
"Gak kak, saya pilih dia aja, Axel Algebra."
"Owh oke."
Kakak cantik itu menarik sebuah mic dan berbicara. Memanggil kandidat terpilih yang berdiri di ruangan itu.
"Axel Algebra, kamu terpilih, silahkan keluar! Biaya sewanya perhari 155 ribu ya kak. Oh iya plus biaya daftar member 100 ribu ya kak, mau sewa berapa hari?"
Anggia terdiam sejenak, nampak berpikir. Karena sisa uangnya masih banyak. Sepertinya seminggu cukup untuk menyewanya. Kalau sehari, cuma sebentar. Dia tidak bisa menikmati quality time dengan pacar sewaan sesingkat itu.
"Seminggu kak."
Wanita itu langsung membuka kalkulatornya. Matanya berbinar-binar saat menghitung total uangnya.
"Oke seminggu, jadi totalnya 1.185 ribu ya kak."
"Oke, ini saya bayar kontan saja di muka ya kak."
"Waduh kakak, terimakasih, kembaliannya kak jangan lupa."
"Oke kakak, transaksinya sudah berhasil, kakak boleh bawa pacar sewaannya sekarang juga."
"Sekarang juga?"
Wanita itu mengangguk dengan wajah jenaka. "Iya dong kakak, apalagi kakak bayarnya kontan, tanpa cicil."
"Axel! Kamu sekarang boleh pergi dengan kakak cantik ini!"
"Baik madam!"
"Jangan lupa ya kode etik nya kelas B!"
"Saya ingat madam." Axel mengangguk paham.
Untuk beberapa saat Anggia terdiam melihat pria pilihannya sudah berdiri di sampingnya. Begitu tinggi, kalem dan tampan. Kulitnya bahkan lebih halus dan mulus darinya. Meskipun kulitnya halus, dia kelihatan sangat manly. Rambutnya hitam, halus dan ingin sekali dia sentuh. Mirip aktor China Dylan Wang.
"Terimakasih sudah menyewaku."
Bahkan suaranya membuat tubuhnya meremang. Geli, seperti ada yang menggelitik perutnya. Beginikah rasanya berhadapan dengan pria tampan. Seumur hidup Anggia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Pria tampan di sekolah, di kampus bahkan di perusahaan tidak ada yang mau meliriknya. Meskipun sewaan, setidaknya dia sangat tampan dan menyenangkan hatinya.
Pria itu tersenyum manis. Anggia takjub bukan main dengan pesonanya. Bahkan tanpa sadar air liurnya menetes keluar.
"Oh iya siapa namamu tadi? Agi?"
Anggia segera menyeka air liurnya. Pesona Axel membuatnya tergiur.
"Anggia! Panggil saja Anggia."
"Oh Anggia, aku Axel Algebra, panggil aku Axel."
"Ohh Axel, namamu sangat keren. Persis seperti pemiliknya," balas Anggia dengan canggung. Rasanya berdosa sekali menyewa pria setampan Axel. Orang-orang pun tidak akan percaya perempuan jelek punya pacar tampan.
Axel lagi-lagi tersenyum manis. Dia melakukannya hanya demi mematuhi etika-etika yang sudah diatur oleh madam Sevia sebagai pacar sewaan. Seperti selalu tersenyum ramah, sabar dan bersedia setiap waktu selama masa sewaan.
"Sekarang apa saja jadwal kencan kita?" tanyanya.
Belum cukup mengagumi keindahan Axel, kini Anggia dihadapi kebingungan. Dia sama sekali tidak memikirkan jadwal kencan. Karena memiliki ide pacar sewaan hanyalah ide dadakan.
Anggia menggeleng pelan, "Aku belum memikirkan jadwal kencan kita."
Axel sejurus menjentikkan jarinya.
"Oke, kalau begitu aku saja yang buat. Kalau ada ide bagus, beritahu aku ya?"
"Oh iya masukkan juga jadwal reuni besok, karena besok aku mau membawamu ke reuni sebagai pacar, tapi jangan bilang pacar sewaan ya?"
"Oke Anggia. Enaknya pakai sebutan apa ya? Kalau kamu kupanggil sweetie, suka tidak?"
"Suka! Suka!" Anggia mengangguk semangat dengan tangan mengepal di dada. Tubuhnya berjingkrak-jingkrak kecil.
"Oke sweetie, besok kamu kan ada jadwal reuni, bagaimana kalau kamu mempersiapkan diri, di reuni pasti banyak teman-teman yang ingin kelihatan wow, lihat kukumu sweetie, itu sepertinya butuh perawatan lebih, bagaimana kalau aku menemanimu ke pusat nail art?"
"Oke, kita pergi ke pusat nail art. Benar juga honey, sudah lama aku tidak merawat kuku."
Axel terkekeh dengan sebutan itu. "Ternyata kamu pandai sekali memanggilku honey?"
"Ini pertama kalinya, aku memanggil lawan jenis honey."
Axel menoleh pada Anggia dengan ekspresi lurus.
"Sweetie tidak pernah pacaran?"
Anggia menggeleng mengasihani diri sendiri. Tatapannya redup.
"Aku belum pernah pacaran seumur hidupku, mana ada laki-laki yang mau sama aku, honey harus tahu, yang kamu lihat ini bukan diriku yang asli. Diriku yang sebenarnya adalah perempuan culun, berkacamata dan berkepribadian lurus."
Axel kembali tersenyum, pertama kalinya dia mendapat klien yang jujur dan mengakui keaslian dirinya. Dari belasan klien sebelumnya, Anggia termasuk kliennya yang jujur dan naif.
"Tak masalah, kamu melakukannya dengan baik kok."
Axel mendekatkan wajahnya, menatap mata Anggia begitu lama. Pipi Anggia sampai bersemu merah akibat ditatap terlalu lama.
"Yang dipakai di matamu itu adalah lensa?"
Yah Anggia sudah salah berpikir, ternyata Axel sedang memperhatikan lensa kontak yang dia pakai.
"Iya ini lensa, aku melepas kacamataku karena aku terlihat culun memakai kacamata."
"Tenang saja sweetie, jangan sedih! Aku pacar sewaanmu tidak akan menilaimu buruk, aku punya kode etik yang harus dilakukan, termasuk tidak melukai hati penyewanya."
Anggia cukup senang mendengar itu.
"Jadi aku bisa menceritakan apapun padamu tanpa takut dapat penilaian darimu?"
"Benar sweetie."
***
"Ibu aku pulang!"
"Iya sebentar," sahut sang ibu dari dalam.
Saat pintu dibuka lebar, mimik takjub sang ibu yang awalnya mengarah pada Anggia teralihkan langsung pada pria di samping Anggia. Karena wajah tampan Axel, ibunya terpana tanpa berkedip sekalipun.
"Wow Anggia! Kamu bawa laki-laki ke rumah?"
Pertama kalinya Anggia membawa seorang pria ke rumah. Ibunya terlihat lebih bahagia daripada Anggia. Ini adalah momen langka yang ditunggu-tunggu.
"Satu hari berubah cantik dan kamu langsung dapat pacar? Luar biasa Anggia!"
Bagaimana dia harus menceritakannya pada sang ibu, kalau Axel hanyalah pacar sewaannya. Melihat wajah sumringah sang ibu, rasanya tidak tega kalau Anggia jujur sekarang. Dia takut ibunya kecewa. Sejurus Axel mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Halo ibu, perkenalkan aku Axel pacarnya Anggia, hari ini kita baru jadian."
Sang ibu membelalak tak bisa berkata-kata, tanpa sadar dia membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak menyangka anak sulungnya secepat itu dapat pacar. Mana tampan banget pula.
Sadar tamunya masih berdiri, Lula mengajaknya duduk.
"Ayo! Ayo duduk nak! Siapa tadi namanya?" ibunya mendadak kelimpungan.
"Axel Algebra bu," jawab Axel.
"Oke Axel, silahkan duduk. Mau minum apa? Teh, kopi, jus, terus cemilannya mau apa?"
"Axel minum dan makan apa aja Bu," jawab Axel ala kadarnya. Karena tak ingin membuat tuan rumah kelimpungan.
"Oh iya iya, ibu siapkan dulu ya. Kalian mengobrol dulu saja."
Lula berlari ke dapur begitu gembira.
"Asikkk, putriku punya pacar." bahunya bergerak naik turun saking senangnya.
Anggia menghela napas berat, merasa bersalah setelahnya. Masa penyewaan Axel hanya seminggu, bagaimana kalau setelah masa sewa berakhir sang ibu masih mencari Axel?
MELANGGAR KODE ETIK
"Bu! Kak! Anjas pulang!"
Dengan wajah lesu, sang adik baru saja pulang dari aktivitas bermain. Berjalan ke rak sepatu, melepas sepatunya dan meletakkan skateboard miliknya di sudut sana.
Melihat putra satu-satunya nya pulang, Lula dengan semangat menghampiri Anjas demi memperkenalkan Axel padanya. Anjas sedikit risih ketika sang ibu bersemangat menggamit kedua bahunya. Namun dia hanya bisa pasrah saja.
"Anjas, pacar kakakmu sedang bertamu di sini, perkenalkan dirimu padanya, bicara dengan sopan ya anak baik?" suruh Lula dengan sedikit mendorong Anjas pada Axel.
"Pacar?" alis Anjas terangkat satu, merasa ada yang janggal.
"Secepat itu kak Anggia dapat pacar? Bahkan wanita cantik pun tidak semudah itu mendapatkan pacar, ada yang tidak beres nih." Anjas membatin merasa ada yang aneh.
Anjas menghampiri mereka, pertama kali melihat wajah Axel yang begitu tampan. Anjas semakin menyimpan curiga. Jangan-jangan itu bukan pacar kakaknya tapi pacar sewaan. Karena dengar-dengar dari temannya ada pekerjaan seperti itu di kota ini.
"Hai aku Anjas."
Anjas lebih dulu memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangan meski dengan mimik wajah yang datar. Bocah itu memang kurang ekspresif.
"Halo Anjas, aku Axel pacar kakakmu."
Ekspresi mencurigai dari Anjas sama sekali tak bisa ditutupi. Bocah laki-laki berusia 16 tahun itu mengangkat sebelah alisnya. Matanya bergerak naik turun menelisik. Apalagi dengan gaya bicara Axel yang terlalu lebay untuk mengakui kalau dirinya adalah pacar kakaknya, itu terlihat tidak alami. Seperti ekting yang dibuat-buat.
"Kak Axel benar-benar pacar kak Anggia?"
Axel mengangguk mantap.
"Kak, aku gak yakin kalau cowok ini adalah pacarmu," seloroh Anjas dengan nada ragu.
"Jangan sembarangan ya kalau bicara! Axel ini pacar kakak, kenapa? Kamu gak percaya ya karena dia tampan?" Anggia langsung menyergah dan mengelak.
Anjas menoleh pada ibunya.
"Ibu! Ibu percaya?" tanya Anjas pada Lula.
"Tentu saja, kenapa tidak boleh percaya? Kakakmu kan cantik. Cantiknya alami tanpa permak."
Anjas mencebik malas dan memilih untuk pergi ke dalam kamarnya ketimbang berbicara dengan ketiga orang itu.
"Maaf ya Axel, adikku memang begitu, sedikit gak ramah."
Axel menggeleng, "Gak masalah, dia lucu dan sepertinya asik diajak bermain, dia ikut komunitas skateboard?"
"Sepertinya iya," jawab Anggia agak ragu. Karena ia tak pernah kepo dengan hobi adiknya.
"Aku juga suka skateboard, lain kali kita bisa main bareng."
***
"Sebenarnya ini pertama kalinya aku membawa masuk laki-laki ke dalam kamarku."
Anggia sengaja mengajak Axel masuk ke kamarnya untuk berbincang. Dia tidak nyaman kalau semua pembicaraan didengar oleh sang ibu yang terlampau kepo. Untungnya Lula mengerti dan membiarkan keduanya berbicara intim di kamar.
Axel hanya tersenyum tipis setelah mendengar pengakuan Anggia.
"Tak apa, tak usah takut. Aku selalu mematuhi etika tipe B. Jadi aku akan membuat klienku senyaman mungkin dan tidak bertindak di luar batas."
"Memangnya apa saja etika tipe B?"
"Jangan membuat marah, bersikap sabar, perhatian, romantis, jangan mencium, jangan berhubungan badan, jangan menyinggung hati ataupun berkata kasar, selalu tersenyum ramah dan menuruti apa yang klien mau, tidak termasuk mengeluarkan uang, karena klien yang harus mengeluarkan uang," jelas Axel.
Anggia mengangguk paham. Dia tak habis pikir ada orang kaya yang membangun biro jodoh dan memperkerjakan orang-orang untuk disewa.
"Kenapa kamu memilih pekerjaan seperti ini? Masih banyak pekerjaan di luar sana yang menjanjikan, kamu juga tampan Axel, tubuhmu bagus, memiliki penampilan yang menarik adalah modal besar untukmu, kenapa tidak coba pekerjaan lain? Seperti model misalnya."
"Sebenarnya menceritakan latar belakang hidupku adalah salah satu kode etik tipe B, tapi tak apalah. Ini pertama kalinya ada klien yang penasaran dengan latar belakangku."
"Oh kalau begitu, tidak usah. Kamu tidak perlu menceritakannya, aku tidak memaksa juga kok."
Tiba-tiba Axel mencondongkan wajahnya pada Anggia. Menatap matanya begitu berani, lagipula menatap mata masih ditahap kewajaran. Axel menarik kedua lengan Anggia sampai jarak mereka begitu dekat.
"Terimakasih sudah pengertian, lain waktu aku akan menceritakannya padamu," katanya setengah berbisik.
Otomatis, tubuh Anggia meluruh seperti lilin yang mencair. Suara Axel terdengar sangat seksi dengan tipe suaranya yang berat dan serak-serak basah.
"Memangnya bo-boleh kita sedekat ini? Apa membuat jantung berdebar-debar adalah tugasmu juga?" tanya Anggia merasa gugup.
"Tentu saja boleh. Jantung berdebar adalah hal normal," jawab Axel sambil terkekeh kecil.
Anggia mendorong dada Axel untuk memberi jarak. Merasa tidak siap dengan perilaku romantis yang dadakan ini. Rasanya jantung hampir copot dari tempatnya.
"Lain kali jangan dadakan begini." Anggia masih tidak bisa mengendalikan degup jantung nya. Dia tidak sanggup menatap Axel terlalu lama.
Cukup menarik bagi Axel membuat wanita polos merasa malu. Anggia satu-satunya klien yang memiliki kepribadian polos dan lurus. Dan ini adalah pertama kali baginya.
Anggia sibuk menetralkan degup jantungnya, sedang Axel dengan netra coklat hazel nya menyapu ruang kamar Anggia yang didominasi warna abu-abu dan putih.
Tepat di atas meja, di sana terpanjang sebuah foto selfie Anggia dengan dua teman SMA nya. Laila dan Ema.
Begitu tertarik, Axel mengambil foto tersebut dan memperhatikannya dengan khidmat.
"Ini teman-temanmu?"
"Ah iya itu teman dekatku, dia Laila dan Ema."
Axel mengangguk.
"Teman dekat ya, masih berkomunikasi dengan mereka?"
Anggia menggeleng.
"Kalau Laila sih masih, tapi Ema tidak. Entahlah bagaimana kabar Ema. Dia tiba-tiba menghilang beberapa bulan lalu. Aku coba menghubunginya lewat semua akun medsosnya tidak ada balasan."
Beberapa saat Axel terdiam, mengusap foto itu yang sedikit berdebu.
"Ini wajah aslimu saat SMA?"
"Jelek kan? Aku memang sejelek itu!"
"Tidak, kamu cantik sweetie! Cantik itu relatif. Jangan terlalu merendahkan dirimu, semua wanita terlihat cantik di mata laki-laki yang tepat."
Anggia tersenyum bahagia, meski itu terdengar seperti kepalsuan. Anggia bisa menerimanya. Dia tahu Axel hanya sedang melakukan tugasnya dan mematuhi kode etik.
"Jangan mengubah dirimu terlalu banyak, itu akan terlihat palsu dan menipu sweetie."
"Ucapannya terdengar tulus, rasanya diriku seperti sedang masuk ke dunia novel romantis dan manis, kalau saja Axel pacar asliku, aku akan sangat senang. Tapi semua kata-kata manisnya adalah kalimat palsu untuk menyenangkanku. Akhh! Rasanya aku tidak tahan ingin memeluk Axel! Sepertinya sangat menyenangkan jika memeluk tubuh yang besar dan hangat itu!"
Bahkan Anggia akan sedih setelah masa sewaannya berakhir. Axel dan dia akan menjadi asing. Dan selanjutnya Axel akan melakukan hal-hal manis pada kliennya yang lain. Anggia tidak bisa membayangkan saat momen itu terjadi.
"Terimakasih Axel, kamu sudah menghibur hatiku."
"Sama-sama sweetie."
Melihat bahu lebar Axel dari belakang, membuatnya tidak tahan untuk memeluk. Naif kalau dia tidak suka. Bahkan Anggia yang tidak pernah pacaran, juga akan tergoda dengan pemandangan indah seperti Axel.
"Uhm Axel, bolehkah aku?"
Belum menyelesaikan kalimatnya, Anggia langsung memeluk Axel dari belakang. Axel terkejut dan menoleh ke belakang.
"Sweetie kamu begitu naif, kamu memintaku untuk tidak terlalu dekat tapi kamu sendiri..."
"Apa kita melanggar kode etik?" tanya Anggia dengan suara parau.
"Sebenarnya iya."
"Bukankah, kamu harus menuruti apa yang klien inginkan?"
"Tentu saja."
"Jadi biarkan aku peluk sebentar, aku cukup menderita sejak lama karena menjadi orang yang jelek."