Bab 1

“Maaf, Nona! Anda sebaiknya saya antar pulang saja, tidak baik jika anda menginap di rumah saya,” kata Naka. Pria tampan dengan postur tubuh tinggi dan gagah itu tampak tengah berusaha memapah seorang wanita cantik yang berjalan sempoyongan karena mabuk berat.

“Ah, tapi aku ingin tidur di sini saja, aku malas pulang ke rumah,” rengek wanita itu. Wanita cantik berdarah China Indonesia itu tampak tengah bergelayut manja di tengkuk Naka, dialah Orin, merupakan putri dari bosnya Naka. Naka sendiri adalah orang yang dipercaya oleh papinya Orin untuk menjaga Orin kemanapun pergi, jadi Naka adalah bodyguardnya Orin.

“Nona, saya akan antarkan anda pulang, nanti Tuan mencari anda,” kata Naka

“Tidak mau!” seru Orin

“Tapi, saya tidak enak sama tuan kalau anda menginap dirumah saya, nanti juga…,”

CUP!!

Naka seketika membeliak matanya mendapatkan perlakuan dari putri majikannya itu. Orin tiba-tiba mencium bibir Naka, bahkan dengan ganas mencoba menerobos masuk ke sela-sela mulut Naka, sehingga membuat Naka blingsatan, apalagi Naka sama sekali belum pernah merasakan yang namanya ciuman.

“Bang Naka, aku kepanasan, tolongin aku,” rengek Orin, yang kemudian kembali menyerbu bibir Naka.

“Nona, tolong jangan seperti ini!” seru Naka, sulit sekali mengatasi wanita cantik itu kalau sudah mabuk, dan sepertinya juga minum obat perangsang.

Naka memang sore tadi tidak bisa mengawal Orin untuk pergi ke club malam bersama teman-temannya karena ada tugas dadakan mengawal nyonya besar alias maminya Orin ke salon, sehingga Orin lebih memilih pergi sendiri, toh selama ini juga Orin terbiasa pergi kemana-mana sendiri, sedangkan Naka memang lebih sering mengantarkan Sonia, yang merupakan ibu tiri dari Orin dengan usia yang hanya terpaut 5 tahun dari Orin.

Anindito selaku papinya Orin, memang menikah lagi setelah mami kandung Orin meninggal karena kanker paru-paru, dan ternyata dia justru menikahi sekretarisnya sendiri yang usianya terpaut nyaris 20 tahun. Orin tidak pernah mempermasalahkan, karena Sonia juga baik pada Orin.

“Nona, anda tadi pergi dengan siapa saja?” tanya Naka, “Minuman anda pasti diberikan obat perangsang, kan!?”

“Panas!! Tolongin aku!” rengek Orin yang tiba-tiba sudah melepas pakaiannya hingga hanya tersisa pakaian dalamnya saja, tentu saja Naka tambah melotot tidak percaya, bisa secara langsung melihat tubuh mulus anak majikannya.

“Nona, jangan seperti ini!” seru Naka yang langsung menutupi tubuh Orin dengan selimut, “Ayo saya antarkan anda pulang! Ibu Sonia pasti tahu cara mengatasi masalah ini. Saya akan cari siapa pelaku pemberi anda obat perangsang!”

Naka susah payah membopong tubuh Orin keluar dari rumahnya, lalu memasukkan Orin ke dalam mobil jeepnya. Orin tadi datang kerumahnya menggunakan taxi online, sehingga Naka tidak perlu repot memikirkan mobil Orin.

Sepanjang perjalanan, Orin terus-terusan merangsek menciumi Naka. Naka tetap berusaha tenang, dan fokus pada setir mobilnya, satu-satunya cara adalah membiarkan Orin melakukan apapun semaunya, dan sampailah Naka di sebuah rumah besar dan megah bergaya Eropa itu.

Naka kembali menutupi tubuh Orin dengan selimut miliknya dan membopong tubuh Orin seperti karung beras dipundaknya. Sonia dan suaminya Anindito tampak terkejut melihat kedatangan bodyguard keluarga itu sambil membopong tubuh Orin yang berteriak-teriak tidak karuan sambil memukul-mukul punggung Naka.

“Naka, ada apa?” tanya Sonia

“Entah, Bu. Nona tadi tiba-tiba kerumah saya dalam keadaan mabuk parah, dan sepertinya ada yang mencampur minumannya dengan obat perangsang,” jawab Naka, “Saya bawa Nona ke kamarnya saja dulu, ibu bisa bantu mengatasinya?”

“Ya, sudah, bawa ke kamarnya!” seru Anindito sambil membantu Naka memegangi putrinya, “Ya ampun, anak ini, selalu saja membuat ulah seperti ini.”

“Pak, jangan marah-marah, percuma, Nona mana ngerti,” balas Naka.

“Tapi anak ini sudah berkali-kali seperti ini, Naka. Maka dari itu aku minta kamu selalu mengawal dia kemanapun dia pergi,” kata Anindito.

Naka kemudian merebahkan tubuh Orin di tempat tidur, tetapi baru mau menegakkan tubuhnya, Orin sudah meraih tengkuk Naka dengan kedua tangannya merangkul di tengkuk Naka dan langsung mencium bibir Naka lagi.

“Abang…. Panas….,” rengek Orin

“Orin!” teriak Anindito tidak percaya dengan kelakuan putrinya.

“Nona, sebaiknya nona istirahat saja, nanti panasnya akan hilang sendiri lama-lama,” balas Naka, merasa tidak hati pada majikannya karena ulah Orin.

Sonia kemudian mengambil handuk yang sudah dibasahi dengan air es, kemudian merentangkan di tubuh Orin yang ternyata dibalik selimut itu hanya mengenakan dalaman saja.

“Kemana pakaian Orin?” tanya Sonia

“Eee. Itu, Bu, ketinggalan dirumah saya, tadi nona melepaskan begitu saja pakaiannya dan langsung saya tutup selimut, karena mana mungkin saya memakaikan kembali pakaiannya, sangat sulit,” jawab Naka dengan wajah memucat, takut majikannya akan marah.

Orin sudah sedikit lebih tenang setelah mendapatkan kompresan air es dan akhirnya tertidur, sementara Naka untuk menghilangkan rasa gugup dan takutnya menuju ke dapur dan mengambil sekaleng minuman soda dari dalam lemari es, dan menegaknya.

Naka merasakan panas luar dalam, takut jika majikannya marah karena telah meladeni ciuman dari putrinya, bahkan sudah melihat tubuh Orin yang hanya mengenakan dalaman saja. Beruntungnya Naka mampu mengendalikan hasratnya, pria yang baru berusia 23 tahun itu tampak terduduk lemas di bangku taman belakang rumah itu.

“Naka, bisa kita bicara sebentar?” suara Anindito mengejutkan Naka.

“E… iya, Pak. Kita mau berbicara di mana?” tanya Naka

“Ikut keruangan kerjaku,” jawab Anindito.

Naka mengikuti langkah sang majikan menuju keruang kerjanya yang terletak di lantai dua. Anindito kemudian duduk di sofa sementara Naka tetap berdiri di hadapan Anindito.

“Duduklah!” titah pria yang sudah berumur 52 tahun itu sambil menepuk-nepuk sofa yang ada disebelahnya.

“Saya di sini saja, Pak,” balas Naka sambil mendudukkan dirinya di sebuah sofa kotak tanpa sandaran, tepat di hadapan Anindito.

“Berapa usiamu?” tanya Anindito

“23 tahun, Pak,” jawab Naka

“Apakah kamu sudah mempunyai kekasih?” tanya Anindito

“Tidak Pak, saya tidak ada waktu untuk memikirkan kekasih, saya masih fokus menyelesaikan kuliah dan kerja sama Bapak saja,” jawab Naka.

“Kuliahmu jurusan apa?” tanya Anindito

“Jurusan ekonomi pembangunan, Pak,” jawab Naka, “Semester akhir.”

Naka memang masih berstatus sebagai mahasiswa di sebuah universitas ternama, kepandaiannya menyebabkan dia mendapatkan beasiswa untuk menyelesaikan kuliah. Sayangnya, selama ini Naka harus berjuang memenuhi kebutuhannya sendiri, kedua orang tuanya sudah meninggal 3 tahun lalu karena kecelakaan mobil, sehingga Naka hanya tinggal seorang diri di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Keahlian Naka dibidang beladiri, membuat Naka akhirnya diterima bekerja sebagai salah satu bodyguard di keluarga Anindito Asmoro, seorang pengusaha sukses dengan bisnis menggurita hampir di penjuru negeri dan bahkan di luar negeri.

“Jadi tadi itu pengalaman pertamamu berciuman?” tanya Anindito sambil tersenyum

“Hah! I-iya, Pak. Maaf, Pak! Saya sudah lancang,” jawab Naka, mendadak Naka merasakan panas dingin ditubuhnya.

“Tidak, kamu tidak salah. Orin yang salah,” kata Anindito, “Maafkan anakku yang sudah mencuri ciuman pertamamu.”

Naka menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah majikannya, baginya, sekalipun ini bukan kesalahannya, tapi dia tetap merasa bersalah karena sudah kurang ajar, mendapatkan ciuman dari putri sang majikan, bahkan sudah melihat kemolekan tubuh wanita cantik itu.

Orin memang sudah berusia 27 tahun, selama ini bekerja sebagai salah satu CEO diperusahaan milik Anindito, sayangnya Orin memang gadis yang susah diatur, kesukaannya pada dunia malam dan menghabiskan waktu untuk dugem dan mabuk sering membuat Orin terjebak oleh teman-temannya, maka dari itulah Anindito meminta Naka menjadi bodyguardnya.

“Apakah kamu mau menikah dengan Orin?” tanya Anindito

Seketika tubuh Naka seperti membeku mendapatkan pertanyaan seperti itu, bagaimana bisa sang majikan malah menawarkan putrinya untuk dia nikahi. Padahal dia hanya seorang bodyguard yang tengah berjuang menyelesaikan pendidikannya.

“Naka, Bapak tanya sekali lagi, maukah kamu menikahi putriku?”

Bab 2

“Bapak pasti bercanda,” kata Naka, “Nona mana mungkin mau menikah dengan saya, secara umur saja saya lebih muda dari nona Orin.”

“Bapak tidak bercanda, nikahi Orin, barangkali dengan seperti itu, dia bisa mulai bisa merubah tabiat buruknya,” balas Anindito

“Kenapa Bapak tidak nikahkan Nona dengan anak dari rekan bisnis Bapak? Mereka lebih pantas dibandingkan saya yang hanya seorang bodyguard, Pak,” kata Naka

“Tidak, anak-anak rekan bisnisku sama saja seperti Orin, suka dunia malam, mabuk dan having sex, mau jadi apa jika dua anak manusia sama-sama menyukai dunia seperti itu dijadikan satu dalam sebuah pernikahan,” balas Anindito, “Menikah itu bukan sebuah permainan, jika bosan dan tidak suka maka buang, cari yang lain lagi, Bapak tidak mau Orin seperti itu.”

“Lalu kenapa harus saya?” tanya Naka masih saja tidak percaya.

“Karena kamulah orang tepat untuk Orin, kesabaranmu selama ini menghadapi Orin sudah cukup membuktikan bahwa kamu layak menjadi suami Orin, jangan melihat usia. Secara usia memang Orin lebih tua dari kamu, tapi secara kedewasaan, kamu lebih dewasa dari dia,” jawab Anindito, “Tapi, Bapak tidak bisa menjamin, apakah Orin masih perawan atau tidak, mengingat pergaulannya yang sebebas itu selama ini. Tolong bimbing dia.”

Orin memang bukan anak satu-satunya Anindito. Pernikahan Anindito dengan Tasya, almarhum istrinya menghasilkan 3 orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Kedua kakak Orin laki-laki dan sudah berkeluarga semua, dan mereka tinggal terpisah dengan Anindito. Orin adalah anak bungsu Anindito, sekaligus anak perempuan satu-satunya, sedangkan hasil pernikahan dengan Sonia, lahir seorang putra yang baru berusia 1 tahun, semua orang biasa memanggilnya Indra.

“Tapi Pak, Nona Orin belum tentu mau sama saya, mungkin dia sudah punya kekasih hati, tolong jangan dipaksa. Ini sudah bukan lagi jaman Siti Nurbaya, Pak,” kata Naka

“Bapak kasih waktu kamu satu minggu untuk berpikir,” balas Anindito, “Dan Bapak harap kamu menerima tawaran saya, ini juga demi masa depan kamu, karena setelah kamu lulus kuliah nanti, kamu bukan lagi bodyguard, kamu juga akan Bapak angkat jadi salah satu CEO diperusahaan.”

“Pak, tapi….,”

“Kamu hanya punya dua pilihan, Naka. Kalau kamu tidak menerima tawaran ini ini, maka dengan sangat terpaksa kamu dipecat dari pekerjaanmu selama ini,” kata Anindito dengan penuh penekanan, “Jadi pikirkan baik-baik, masalah Orin mau atau tidak, itu urusan Bapak nanti. Lagi pula kamu juga sudah melihat keseluruhan tubuh Orin secara langsung, Bapak malu kalau Orin menikah dengan pria lain, sementara kamu sudah pernah melihat tubuh Orin.”

Naka benar-benar di buat bingung karena permintaan majikannya kali ini, baginya ini adalah permintaan yang tidak masuk akal. Dimana-mana seorang ayah pasti menginginkan putrinya menikah dengan pria yang sejajar dengan mereka, baik dari segi kekayaan maupun kasta, ini kenapa malah sang majikan menginginkan dirinya menjadi menantunya.

Naka tetap bekerja seperti biasanya, mengawal Orin kemanapun pergi, sejak kejadian itu, Anindito murka dan kemanapun Orin pergi harus di kawal, tanpa pengecualian, dan Anindito hanya meminta Naka untuk mengawal Orin, pun jika Naka tengah ada jam kuliah maka hanya akan digantikan sementara oleh bodyguard lain yang juga teman Naka, yaitu Paul.

“Nona, anda mau kemana setelah ini?” tanya Naka sambil menyetir mobilnya, sementara Orin, wanita cantik dengan tubuh bak gitar spanyol itu tampak duduk di kursi penumpang.

“Aku lama tidak clubbing,” jawab Orin sambil menyalakan rokoknya, sehingga dengan terpaksa Naka membuka jendela mobil dan mematikan AC mobil.

“Bapak tidak ijinkan nona clubbing lagi,” kata Naka, “Saya antar pulang saja, ya?”

“Ayolah, Naka, sekali ini saja, aku rindu dengan teman-temanku,” balas Orin

“Tidak, saya tidak mau melanggar perintah Bapak,” kata Naka dengan nada tegas, “Pelaku pemberi obat perangsang diminuman anda saja sampai sekarang belum ditemukan, anda jangan mengulang hal bodoh seperti kemarin lagi, Nona!”

“Memangnya aku melakukan apa?” tanya Orin dengan wajah bodohnya.

“Nona tidak ingat apa yang sudah nona lakukan dihadapan saya?” tanya Naka balik

“Tidak,” jawab Orin

“Astaga!” seru Naka lalu menepikan mobilnya. Naka keluar dari mobil kemudian membuka pintu mobil belakang dan duduk di sebelah Orin. Naka mengambil rokok Orin lalu membuangnya keluar, “Merokok tidak baik untuk kesehatan wanita, Nona.”

“Naka! Mau apa kamu?” tanya Orin, “Cepat bawa mobilnya.”

“Saya akan tetap duduk di sini kalau nona tetap meminta saya mengantar ke club,” jawab Naka dengan santainya, “Saya hanya ingin bertanya sekali lagi pada anda nona, apakah anda tidak ingat dengan kejadian tiga hari yang lalu?”

“Tidak, aku tidak ingat, aku bangun-bangun sudah ditempat tidurku sendiri,” kata Orin

“Kalau begitu nona bisa cek CCTV dikamar nona jika ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” balas Naka, “Gara-gara anda, saya terancam dipecat sama Bapak.”

“Sudah! Ayo pulang saja kalau begitu!” seru Orin

Naka tersenyum, kemudian kembali duduk di belakang kemudi dan membawa mobil sang nona majikan pulang ke rumah bergaya Eropa itu. Orin langsung turun dari mobil tanpa menunggu Naka membukakan pintu terlebih dahulu.

“Pakkkkk Azaaam!!!” teriak Orin

“Ada apa, Non?” tanya pria yang sudah berumur dengan seragam serba hitam itu, Azam adalah security di rumah Anindito.

“Pak, aku mau lihat rekaman CCTV tiga hari yang lalu!” seru Orin

“Oh, baik, Non, akan saya bawakan file nya kekamar Nona,” balas Azam

Orin langsung masuk kekamarnya untuk membersihkan diri, sedangkan Naka bergegas menuju dapur karena sedari tadi merasa haus sekali. Azam akhirnya datang ke kamar Orin dengan membawa sebuah flashdisk berisi hasil rekaman CCTV.

“Makasih, Pak,” kata Orin

Orin kemudian menyalakan laptopnya dan membuka rekaman CCTV melalui laptopnya. Dia mendapati rekaman mobil jeep Naka memasuki halaman rumahnya yang lebih luas dari lapangan bola, kemudian berhenti dan membopong tubuh Orin yang tertutup selimut.

“Kenapa aku ditutupi selimut!?” tanya Orin bingung

Sampailah Orin pada rekaman yang ada dikamarnya, dimana dengan jelas terlihat dia mencium Naka dengan penuh nafsu. Orin seketika melotot tidak percaya, apalagi Orin mencium Naka dengan posisi selimut melorot sehingga hanya mengenakan dalaman saja.

“Astaga!” teriak Orin tidak percaya, “Jadi maksudnya dia ini!?”

Orin seketika terdiam, tidak menyangka dalam keadaan tidak sadar karena pengaruh minuman keras dan obat perangsang yang entah diberikan oleh siapa dalam minumannya membuat dia jadi menjadi seliar itu, dan ini dia lakukan terhadap bodyguardnya sendiri. Pantas kalau Naka mengatakan karena perbuatannya, papinya mengancam akan memecatnya, yang jelas-jelas kesalahan ada di pihak Orin, Naka hanyalah korban keganasannya saja.

“Papiiii!!!” teriak Orin yang langsung menghambur keluar dari kamarnya, mencari-cari Anindito yang ternyata tengah berada di ruang kerjanya.

“Ada apa?” tanya Anindito melihat putrinya berteriak-teriak mencarinya.

“Papi, tolong jangan pecat bang Naka! Dia nggak salah!” seru Orin

“Maksudmu?” tanya Anindito

“Pi, aku waktu itu benar-benar tidak ingat dengan apa yang sudah aku lakukan, bukan salahnya Bang Naka, dia nggak salah,” jawab Orin, “Kasihan Bang Naka kalau dipecat mau kerja apa, papi kan tahu dia sedang menyelesaikan skripsinya!”

Anindito tersenyum melihat sang putri yang tampak berharap sekali supaya sang bodyguard yang selama ini menemani Orin kemanapun perginya tidak dipecat.

“Jadi kamu ingin supaya Naka tetap menjadi bodyguardmu?” tanya Anindito

“Iya, Pi,” jawab Orin

“Mau menuruti semua perkataan Naka?” tanya Anindito, “Tadi Naka laporan kamu mau clubbing lagi.”

“Iya, aku akan menuruti Bang Naka, jangan dipecat bang Nakanya,” jawab Orin, “Setelah ini aku akan minta maaf sama dia, tapi…. Aku malu, Pi. Dia udah lihat tubuh Orin ternyata!”

“Papi akan turuti permintaanmu untuk tidak memecat Naka, tapi ada syaratnya,” kata Anindito

“Apa itu, Pi?” tanya Orin

“Kamu harus mau menikah dengan Naka.”

Bab 3

Seketika Orin melotot tidak percaya jika sang Papi menginginkan dirinya justru menikah dengan Naka, bodyguardnya sendiri, alias bawahan Papinya. Dunia rasanya berhenti berputar ketika Orin membayangkan itu semua, bahkan Naka saja kuliah belum selesai, apa kata teman-temannya jika orin justru menikah dengan makhluk yang disebut berondong.

“Bagaimana?” tanya Anindito

“Tidak ada pilihan lain, Pi?” tanya Orin tampak bimbang

“Tidak, itu pilihan Papi yang paling tepat, menikah dengan Naka atau Naka akan Papi berhentikan menjadi bodyguard keluarga kita,” jawab Anindito.

“Boleh nggak Orin mikir dulu?” tanya Orin

“Boleh, waktumu hanya sampai besok pagi,” jawab Anindito dengan tegas

Orin langsung membeliakkan mata, tidak percaya, keputusan menikah atau tidak hanya diberikan waktu kurang dari 24 jam. Orin langsung lari masuk ke kamarnya, merebahkan diri diranjang empuknya.

“Papi nyebelin, masa aku suruh nikah sama bocah!” gerutu Orin, “Pasti Ulin sama Rara bakal ngeledek aku habis-habisan kalau tahu yang menjadi suamiku bocah kemarin sore, mana kerjaannya bodyguard lagi. Apa sih hebatnya dia!?”

Pintu kamar Orin tampak diketuk seseorang, dan dengan malas Orin membukakan pintu. Ternyata Sonia sudah berdiri di depan pintu kamar Orin sambil tersenyum.

“Ngapain sih Mami kesini?” tanya Orin. Orin meskipun hanya beda lima tahun dengan Sonia, tetap memanggil Mami pada ibu tirinya.

“Kamu lagi kena ultimatum sama Papi ya?” tanya Sonia balik sambil tersenyum

“Huh, udah tahu nanya aja sih, Mami ini!” gerutu Orin sambil kembali merebahkan diri dikasurnya, sementara Sonia menyusul masuk dan duduk dipinggiran kasur Orin.

“Menikah itu enak, Rin. Apa salahnya menerima permintaan Papi,” kata Sonia, “Dari pada kamu diluaran sana selalu saja tidak jelas jalan dengan siapa, ujung-ujungnya dijebak teman terus-terusan, untuk kemarin Naka yang bawa kamu, coba kalau laki-laki lain? Sudah habis kamu dilahap laki-laki yang belum tentu mau bertanggung jawab.”

“Ya tapi kan nggak sama Naka juga, Mam!” protes Orin

“Ada yang salah dengan Naka? Dia baik, tanggung jawab, rajin juga, kuliah hampir selesai, paling sebentar lagi juga mampu mensejajari jabatan CEO mu,” balas Sonia

“Mami, dia itu baru 23 tahun, dan aku 27 tahun, nanti apa kata orang aku nikah sama berondong,” kata Orin.

“Nggak ada yang salah, Mami nikah sama Papi juga beda 20 tahun, apanya yang salah?” tanya Sonia

“Hihhhh!!! Kan yang lebih tua Papi, ya itu wajar, dimana-mana itu laki nya yang lebih tua dari wanitanya, ini malah kebalik!” jawab Orin

“Nggak ada yang salah juga lebih tua wanitanya daripada lelakinya,” kata Sonia, “Hayoloh mau jawab apa!?”

“Ih, si Mami bukannya kasih solusi malah ngompor-ngomporin,” gerutu Orin

“Naka ganteng, kurang apa coba,” bisik Sonia sambil terkekeh, “Jarang ada pria seganteng Naka bisa melindungi wanita, bisa beladiri, gak malu-maluin kalau di ajak kondangan juga.”

Mata Orin seketika melotot tidak jelas pada Mami tirinya, sementara Sonia terkekeh sambil meninggalkan kamar Orin, sebelum menutup pintu kamar Orin, Sonia menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan.

“Papi tidak akan pernah salah mencarikan jodoh untuk kamu, sayang,” kata Sonia, “Pikirkan baik-baik.”

Sonia kemudian menghilang dari kamar Orin sambil menutup pintu kamar itu. Orin hanya terdiam saja, mencoba mencerna setiap perkataan Sonia tadi. Memang benar Naka berwajah tampan, kulit putih bersih dan paras yang mirip actor korea, sangat jauh dari kesan dia seorang bodyguard selama ini.

Soal tanggung jawab dan kebaikan, Naka sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya, juga sangat baik, sudah terbukti beberapa kali membawa Orin pulang dalam keadaan mabuk tanpa melakukan tindakan kurang ajar sedikitpun. Naka juga calon sarjana ekonomi, artinya Naka juga mampu menjadi seorang pengusaha kelak, bahkan mungkin sepak terjangnya didunia bisnis kelak akan lebih kompeten, berbekal kepandaiannya selama ini, kuliah saja beasiswa, kalau nggak beasiswa mana mungkin pinter.

Malam harinya, Orin tampak keluar dari kamarnya jam sembilan malam karena lapar, dia sedari tadi malas keluar dari kamarnya, sehingga akhirnya merasa lapar sendiri. Suasana rumah sudah tampak sepi, sepertinya Papi dan Maminya juga si kecil Indra sudah masuk ke kamar untuk beristirahat.

Orin pergi ke dapur juga terlihat sepi, para maid sepertinya sedang membereskan urusan didapur belakang. Orin justru melihat Naka tengah duduk di meja makan sambil menghadap laptop, seperti tengah mengerjakan sesuatu.

“Non, selamat malam,” sapa Naka yang langsung berdiri ketika melihat kedatangan Orin, “Ada yang bisa saya bantu?”

“Aku lapar,” jawab Orin

“Sepertinya sudah tidak ada sisa makanan, apa perlu saya buatkan sesuatu?” tanya Naka

“Tidak usah, kamu sedang apa?” tanya Orin

“E, saya sedang merevisi skripsi saya, non,” jawab Naka sambil garuk-garuk kepala kikuk.

“Sudah selesai?” tanya Orin

“Sudah, baru saja selesai,” jawab Naka.

“Mau menemaniku keluar cari makan?” tanya Orin

“Kemana? Asal jangan ke club lagi, Non. Nanti bapak marah,” jawab Naka.

“Kita kulineran malam saja, kamu pasti juga lapar habis menguras pikiran buat merevisi skripsimu,” kata Orin.

“Baiklah, saya bereskan dulu laptop saya,” balas Naka yang langsung membereskan laptopnya, lalu membawa masuk ke dalam kamarnya yang terletak bersebelahan dengan kamar para maid lain. Naka memang diberikan kebebasan oleh Anindito untuk menginap dirumahnya sendiri atau mau menginap dirumah Anindito, sehingga ada satu kamar khusus untuk Naka jika ingin menginap disana.

Naka keluar dari kamar sambil mengenakan jaket jeans juga topinya, Orin sedikit terkejut melihat penampilan Naka malam itu, terlihat sederhana tetapi sebenarnya justru terlihat tampan sekali.

“Naka, pakai motor saja bisa?” tanya Orin, “Bosan pakai mobil terus.”

“Tap-tapi adanya motor saya, motor matic biasa, non,” jawab Naka

“Gakpapa,” kata Orin

“Nona tidak ganti baju dulu?” tanya Naka yang melihat Orin hanya mengenakan setelan piyama panjang.

“Nggak usah, gini aja,” jawab Orin

Naka akhirnya keluar dari rumah menuju garasi, diikuti oleh Orin. Orin kemudian memakai helmnya, begitu pula Naka. Orin lalu duduk diboncengan belakang, membuat sedikit jarak agar tidak menempel pada tubuh Naka, lalu Naka melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

“Nona mau makan dimana?” tanya Naka, “Jam segini sudah banyak restoran tutup.”

“Kalau yang masih buka apa?” tanya Orin balik

“Ya, warung pinggir jalan, pasti nona gak suka,” jawab Naka

“Contohnya?” tanya Orin

“Ya nasi goreng atau lamongan gitu,” jawab Naka

“Kita coba nasi goreng saja, tidak apa-apa diwarung pinggir jalan asal enak,” kata Orin

“Yakin?” tanya Naka

“Iyalah…. Ayo!” seru Orin

Naka menghentikan motornya disebuah warung nasi goreng yang memang terkenal enak, tempat biasanya Naka juga makan.

“Mas Naka, tumben malem kesininya?” tanya sang penjual

“Iya, nih, pak! Nganterin Nona Orin, katanya lapar, saya tawarin disini kok mau,” jawab Naka, “Non, mau pesen nasi goreng apa?”

“Emangnya ada apa aja?” tanya Orin

“Nasi goreng ayam, nasi goreng babat, nasi goreng seafood, sama nasi goreng hongkong,” jawab Naka, “Atau yang direbus juga ada, bisa nasi rebus atau mie rebus.”

“Nasi goreng babat saja,” kata Orin, “Kamu pesan sekalian, temani aku makan.”

“Pak, nasi goreng babat pedes sedikit 1 sama nasi goreng hongkong seperti biasanya 1, minumnya es teh sama es jeruk,” kata Naka.

Keduanya kemudian duduk lesehan disalah satu tempat yang kosong, saling berhadapan. Naka sebenarnya canggung duduk bersama dengan Orin dalam satu meja, tapi Orin maunya duduk bersama, mau tak mau Naka menuruti.

“Naka, Papi ada ngomong sama kamu soal kita?” tanya Orin

“Ngomong soal apa, ya, non?” tanya Naka balik, “Perasaan bapak nggak ada ngomong sama saya.”

“Masa kamu gak ingat?” tanya Orin

Naka mencoba mengingat-ingat, dan dia hanya ingat soal tawaran Anindito agar Naka mau menikahi Orin.

“E…. nggak ada, non.” Naka mana bisa menyampaikan itu ke Orin.

“Papi meminta aku menikah sama kamu,” kata Orin

“E….masa, non?” tanya Naka tidak percaya, ternyata Orin sudah tahu masalah ini, “Ya, bapak memang membicarakan itu, tapi saya pikir bapak bercanda saja, mana mungkin non Orin mau sama saya.”

“Ya, Papi maksa memang, tapi mau gimana lagi kalau itu maunya Papi,” jawab Orin, “Kamu mau nikah sama saya?”

“Haaaa….”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED