Bab 1

"Amanda, aku akan mengantarmu pulang." Jeff masih berusaha meski perempuan bermata biru itu tetap menolaknya.

"Aku baik-baik saja, ini hanya mabuk ringan. Aku masih bisa mengemudi. Tetaplah di sini, Jeff. Jika kau meninggalkan acara ulangtahunmu, bagaimana dengan orang lain? Mereka ingin bersenang-senang denganmu." Amanda berharap Jeff bisa memahami keinginannya.

Mereka berdiri di sudut ballroom, menyewa ruangan luas pada sebuah hotel terkenal di kota ini untuk acara ulang tahunnya bukanlah hal sulit, sebab Jeff terlahir sebagai putra tunggal kaya raya dan siap mewarisi bisnis keluarganya.

"Tapi—"

"Jeff, tenanglah. Aku akan menghubungimu jika sudah sampai di rumah."

Pria itu mendengkus, ia terlihat kecewa, tapi tak bisa berbuat banyak. "Aku harus mengalah?"

"Tentu saja, aku sangat menghargaimu. Jadi, tetaplah di sini. Aku baik-baik saja." Amanda tersenyum, ia menyentuh lengan Jeff, aroma alkohol menyeruak dari bibirnya. "Aku pulang sekarang, selamat bersenang-senang."

Amanda meninggalkan pria itu dan keluar dari pintu yang dijaga dua pria berbadan kekar, Jeff tentu kesal, usahanya kembali gagal.

Jeff sangat menyukai Amanda, perempuan itu bekerja pada perusahaan milik ayah Jeff sebagai sekretaris, tapi setiap usaha Jeff untuk mendekati Amanda belum menunjukan tanda-tanda bahwa gadis itu luluh, sebab Amanda selalu bersikap hangat terhadap orang lain, tak ada bedanya ketika Amanda menghadapi Jeff maupun pria lain.

"Kepalaku terasa sangat pening." Wanita dengan dress putih pada tubuhnya berjalan sempoyongan saat menghampiri lift, sejujurnya Amanda membutuhkan teman untuk mengantarnya hingga basement, tapi semua orang sibuk berpesta, ia sungkan mengganggu mereka.

Pintu lift terbuka, Amanda menuduk seraya menyentuh kepalanya ketika memasuki lift, ia bahkan belum menyadari jika seorang pria berjas maroon sudah berdiri di sana.

"Apa aku minum terlalu banyak?" Amanda bergumam, ia berdiri pada sisi kiri pria tinggi di sampingnya, wanita itu bersandar pada dinding lift. "Sangat pening."

Lalu, tiba-tiba.

Hoek.

Amanda memuntahkan cairan bening dari mulutnya dan mengotori lantai lift.

"Sial! Seharusnya pergi ke toilet sebelum memasuki lift, untung saja tidak ada—" Ia terdiam setelah menoleh pada sisi kanan dan menemukan orang lain berdiri memperhatikannya.

Wanita itu menyipit seraya menahan mual pada perutnya, ia berusaha mengingat apa pun dari pria yang terus menatapnya tanpa berkedip, seolah saling berbagi sinyal, dan Amanda sibuk menerjemahkannya.

"Apa aku mengenalmu?" tanya Amanda, ia masih menguasai separuh kesadarannya.

Pria itu memiringkan kepala dan tersenyum meremehkan. "Aku terkejut karena bertemu gadis dari keluarga arogan setelah bertahun-tahun menghilang."

"Kau—" Amanda kembali membungkuk untuk memuntahkan isi perutnya.

"Perbuatanmu sangat merugikan orang lain, cleaning service akan mendapat tekanan dari atasannya karena sikap burukmu saat ini. Apa kau bisa berpikir?" Pria itu kembali mencemooh, ia tak peduli pada kondisi perempuan di dekatnya.

"Ori, Oriaga Niel. Apa aku benar?" Amanda berusaha bersikap normal, ia mengusap sisa muntahan pada sudut bibirnya dan kembali menatap pria itu.

"Baguslah karena masih mengenalku. Jika tidak—kemungkinan karena kau menemukan pria yang seharusnya dikucilkan oleh keluargamu."

"Kenapa tiba-tiba membahas masa lalu?"

"Karena aku ingin membicarakannya, Amanda Claire." Oriaga cukup ketus, bola matanya menjadi lebih lebar dengan barisan alis yang menyatu.

"Tapi, aku tidak pernah menghinamu."

"Benarkah? Tapi, kau hanya diam ketika mereka melakukannya. Kau tak pernah membelaku di depan siapa pun, kau ingat!" Oriaga marah.

Saat itu, pintu lift terbuka, Amanda keluar dan berjalan menjauh meski pening di kepalanya belum lenyap.

Oriaga sempat diam membiarkan wanita itu pergi, tapi tiba-tiba tubuhnya bergerak menghampiri Amanda yang hampir mencapai mobilnya pada parkiran basement.

Oriaga mencekal lengan Amanda sebelum menariknya pada sisi sebuah pilar, punggung Amanda harus membentur pilar karena tarikan Oriaga cukup kuat.

"Apa. Apa yang kau inginkan, huh! Kepalaku terasa pening, aku harus segera pulang. Menyingkirlah." Amanda berusaha menghindar, tapi Oriaga benar-benar berniat menahan wanita itu.

"Kau mabuk? Apa kau baru saja menemui seorang pria di tempat ini? Kau menjadi jalang dan terlibat prostitusi?" Oriaga menuduhnya tanpa ragu.

"Oriaga, kalimatmu terlalu jahat."

"Benarkah? Ini pantas kau dapatkan."

"Sepertinya kau banyak berubah."

"Tentu saja." Oriaga menyeringai. "Roda berputar terlalu cepat untukku."

Amanda tersenyum, kepalanya bersandar pada pilar, ia membenci situasi yang terjadi karena tak bisa melawan pria di depannya, mabuk menjadi pilihan buruk dan telanjur terjadi. Seharusnya Amanda menginjak kaki Oriaga menggunakan ujung heels miliknya, lalu melarikan diri.

"Lagipula apa urusanmu jika aku menjadi jalang dan berhubungan seks dengan siapa pun. Apa kau akan marah?" Amanda tertawa. "Seluruh kehidupanku bukanlah urusanmu. Kita sudah lama tak berinteraksi, saat kembali bertemu—kau mengatakan banyak hal buruk."

Oriaga terdiam, tapi tetap mencekal Amanda karena wanita itu terus berusaha melepasnya.

"Lepaskan aku. Apa kau ingin mendapatkan—"

Hoek.

Sekali lagi, situasi menjadi semakin buruk ketika Amanda tak sengaja memuntahkan isi perutnya pada jas maroon milik Oriaga.

Ia menatap mata pria itu, tampak dingin dan mengintimidasi.

"Aku harus segera pergi ke mobilku dan mengambil tisu untuk membersihkan jasmu." Amanda berharap Oriaga mengabulkan keinginannya.

Namun, pria itu masih diam, ia mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang.

Arah matanya enggan berpaling dari wajah Amanda, membuat sedikit rasa takut pada diri wanita itu muncul.

Amanda sadar jika Oriaga benar-benar berbeda.

"Buka gerbang mansion di utara untukku dan persiapkan segalanya sekarang. Aku akan menginap di tempat itu," perintah Oriaga pada seseorang yang menjawab teleponnya, lalu kembali menyimpan ponsel.

Ia menunduk memperhatikan noda pada jasnya.

Amanda menelan ludah.

"Aku—"

"Kau bertanya, apa yang aku inginkan darimu? Sekarang, aku menginginkanmu." Oriaga menarik wanita itu ke arah lain, situasi di parkiran basement sangat sepi, hanya ada mereka di sana, tapi pada beberapa sudut kamera CCTV yang terpasang dapat merekam situasi sekitar.

"Apa maksudnya? Apa maksudmu!" Ia semakin kehilangan tenaga karena muntah berkali-kali, Oriaga pintar memanfaatkan momen.

"Aku menginginkanmu. Masih kurang jelas?" Ia memaksa wanita itu masuk ke mobil dan memasang sabuk pengaman, lalu menunduk di depan wajah Amanda. "Jika kau benar seorang jalang, inilah pekerjaanmu. Aku bisa membayar sebanyak mungkin yang kau inginkan."

Ketakutan semakin menguasai Amanda. "Oriaga—"

"Diamlah." Oriaga menutup pintu dan duduk di balik kemudi. "Jika kau masih berusaha, aku akan menjatuhkanmu di jalan raya saat mobil melaju kencang. Kau menginginkanya?"

"KAU SUDAH GILA!!!"

"Terima kasih karena telah menyadarinya."

Mobil bergerak keluar dari basement, Amanda terkunci oleh situasi, ia menyentuh kepala peningnya tanpa bisa memberontak atau melarikan diri, dan Oriaga tersenyum penuh arti seolah melihat kemenangan di depan mata.

***

Bab 2

Mansion mewah di sudut kota bagian utara menjadi salah satu mansion terbaik dengan pemandangan alam yang begitu memanjakan mata. Berdiri di tepian tebing dan melihat lautan biru, atau berjalan di pesisir pantai menanti matahari terbenam saat sore menjadi daya tarik paling menakjubkan.

Mansion tiga lantai ini dimiliki oleh Oriaga Niel sejak tiga tahun lalu, tapi Oriaga jarang mengunjungi mansion di bagian utara jika tak benar-benar membutuhkan ketenangan.

Satu setengah jam Oriaga mengemudikan mobilnya sendiri tanpa supir pribadi atau pengawal, ia sempat menghubungi seseorang dan memerintahkan agar menghapus rekaman CCTV pada area sekitar lift serta basement sesuai jam yang sudah disebutkan pria itu.

Oriaga tak ingin terlihat seperti 'pelaku' jika Amanda telah kehilangan efek mabuk dari tubuhnya. Oriaga sadar bahwa perbuatannya saat ini bisa memunculkan masalah yang mengusik bisnisnya.

Sementara wanita itu tak banyak berbicara, Amanda terjebak oleh situasi sulit. Ia sempat berniat menghubungi keluarganya, tapi tangan Oriaga cepat merebut ponsel Amanda sebelum melemparnya pada jok belakang.

"Kau pria gila!"

"Kau baru menyadarinya?" Oriaga semakin angkuh, ia merasa berkuasa atas segala hal yang terjadi sekarang.

Penjaga segera membuka gerbang utama setelah mendengar suara klakson mobil dari kejauhan, lokasi mansion jauh dari jalan raya, sehingga penjaga selalu mudah menebak siapa pun yang bisa mendatangi tempat ini selain para pekerjanya.

"Selamat datang di mansion, Tuan Oriaga." Pria gempal dengan seragam abu-abunya sempat membungkuk saat Oriaga memperlambat laju mobil dan membuka kaca sisi kiri.

"Terima kasih."

"Anda membawa seseorang?"

Oriaga menatap Amanda sesaat, wanita itu menyandarkan kepalanya pada sisi kaca tanpa peduli situasi sekitar.

"Ya, kekasihku."

"Ah. Baiklah."

Mobil kembali melaju lebih cepat menyusuri satu jalan sepanjang 500meter menuju halaman luas mansion.

Saat mobil benar-benar berhenti di halaman, satu penjaga lainnya muncul dan berlari untuk membuka pintu mobil.

"Selamat datang di mansion, Tuan Oriaga."

"Ya. Terima kasih banyak." Pria itu keluar, memutar dan membuka pintu sisi kanan sebelum membopong tubuh lemas Amanda.

Penjaga terkejut melihat wanita asing di sana, tapi ia berusaha bersikap normal di depan majikannya seraya tersenyum hangat.

Tanpa berinteraksi lagi, Oriaga berjalan menuju pintu utama, ia disambut beberapa pelayan wanita yang mengurus mansion ini. Ekspresi mereka hampir sama, terkejut dan diam.

"Dia belum pernah membawa wanita ke tempat ini."

"Benarkah? Jadi, ini kali pertama?"

"Ya. Cukup mengejutkan, tapi terserah, kembalilah bekerja."

Beberapa pelayan sempat membicarakan Oriaga setelah pria itu berjalan cukup jauh menuju sebuah lift kaca. Mereka bisa melihat jelas bagaimana lembutnya Oriaga memperlakukan wanitanya di depan banyak orang.

Ada banyak kamar di mansion ini, dan Oriaga bebas menempati semuanya termasuk kamar utama, kamar paling luas dan mewah di antara kamar-kamar lainnya.

Pria itu membawa Amanda memasuki kamar utama, merebahkan tubuh lemahnya ketika Amanda kembali tersadar.

"Kau. Apa yang kau lakukan?" Kedua tangan Amanda sampai mencengkram kemeja maroon Oriaga ketika hampir berdiri, sementara tubuh Amanda sudah terbaring pada ranjang yang luas, aroma asing menarik perhatian Amanda sehingga melihat sekitar. Ia terkejut setelah menyadari berada di tempat lain. "Di mana, di mana aku? Apa yang kau lakukan!"

Meski lemah, wanita itu masih bisa menunjukan ekspresi kesal, dan Oriaga bertahan dengan posisinya, membungkuk dengan Amanda berada di bawahnya.

Oriaga tersenyum, lalu menyeringai.

"Kau masih bertanya? Kau berpura-pura bodoh atau bagaimana, huh?"

"Oriaga."

"Amanda Claire Griscouv, kau pasti akan menyukai situasi ini. Sebagai jalang, seharusnya kau sudah paham." Ia menarik cengkraman Amanda hingga terlepas, lalu menekan kedua tangan wanita itu di samping kepalanya, sementara Oriaga bergerak naik merangkak di atas tubuh Amanda.

"Aku bukan jalang."

"Benarkah?" Oriaga tersenyum meremehkan. "Kau telah mengakuinya."

"Lepaskan aku, biarkan aku pergi. Tidak pernah ada masalah apa pun antara kita sejak bertahun-tahun lalu, kau bahkan pergi begitu saja, lalu seperti ini? Apa salahku?"

"Aneh jika seorang nona dari Keluarga Griscouv tidak memahami kekesalan yang aku pendam bertahun-tahun."

"Kami memiliki masalah kami sendiri, jadi tetaplah melanjutkan kehidupanmu, Oriaga. Biarkan aku pulang."

"Melanjutkan hidup? Aku sedang melakukannya, kau tahu. Tapi harus diakui bahwa sulit melupakan rasa sakit hati dan tumbuh bersamaku, kau takkan mengerti."

"Apa, jika semua tentang kekecewaanmu, mari bicarakan baik-baik, bukan seperti ini."

Oriaga mendengkus, ia mendekatkan bibirnya pada telinga Amanda, membiarkan desah napas pria itu menjadi sesuatu yang menakutkan ketika menyentuh leher dan telinga Amanda.

"Okey. Mari kita bicarakan baik-baik setelahnya, karena saat ini aku ingin bermain dengan seorang jalang, wanita murahan yang pernah menjadi teman baikku. Seharusnya memberi tip besar setelah permainan, bukan?"

"Oriaga."

Pria itu menatapnya, jarak wajah mereka sangat dekat, ia melihat bola mata Amanda mulai berkaca, ia menangis tanpa bersuara, ketakutan yang nyata.

"Aku mohon, lepaskan, aku."

Ekspresi Oriaga menjadi sayu, ia memperhatikan wajah Amanda yang menangis, membelai sisi wajahnya seperti mengasihani wanita itu, tapi situasi berikutnya membuat wanita itu mendelik ketika Oriaga mendapatkan bibirnya, menciumi Amanda penuh hasrat tanpa jeda.

Semua terjadi begitu cepat, Oriaga sempat mengangkat tubuhnya untuk melepas jas serta kemeja sebelum kembali mencium Amanda.

Tidak peduli bagaimana perasaan wanita itu, Oriaga hanya ingin melakukannya, bertindak sesuka hati seolah meleburkan seluruh amarah yang lama terpendam.

Amanda tidak bisa berhenti menangis, rasanya sakit luar dalam ketika orang lain terus menyakitinya saat wanita itu memohon agar berhenti.

"Tolong berhenti, jangan menyakitiku." Amanda terus memohon saat bibirnya terbebas dari kecupan Oriaga. Namun, tak ada pertimbangan untuk berhenti, Oriaga bertindak semakin jauh, melepas semuanya, pakaian mereka meski harus merobek dress Amanda.

Pada beberapa bagian di punggung Oriaga terdapat luka cakaran dari kuku milik Amanda, tapi tak mengubah keadaan, karena Oriaga terlalu menikmatinya, ia cukup hanyut meski menjadi bentuk siksaan bagi Amanda.

Hingga pada satu dorongan keras dan cukup memaksa, Oriaga menyaksikan Amanda seperti hampir mati. Wanita itu membuat satu tarikan napas yang cukup dalam, mempertahankannya beberapa detik seraya menatap Oriaga penuh dendam sekaligus menahan rasa sakit yang semakin menyiksanya.

Pada situasi seperti ini, efek alkohol benar-benar lenyap. Seharusnya Amanda lebih banyak meneguknya—jika dia tahu perbuatan gila Oriaga akan datang.

"Kau ingin membunuhku?" tanya Amanda bersama rasa sakit yang terus menghantamnya, ia merintih dan mengerang, nyawa wanita itu seperti hampir dicabut. "Kau tak memiliki belas kasih padaku?"

"Kenapa kau berbohong?" Oriaga menyadari sesuatu. "Aku telanjur melakukannya, jadi biarkan apa yang terjadi saat ini mengalir hingga selesai."

"Bajingan."

"Bajingan yang menguasaimu."

Amanda berteriak semampunya, tapi Oriaga justru tersenyum dan membelai wajah wanita itu.

"Menjeritlah hingga tenagamu habis karena suaramu takkan keluar dari ruangan ini. Berusahalah melakukannya, Amanda."

"KAU BENAR-BENAR BAJINGAN, ORIAGA!!!"

Kesadaran Amanda hilang setelah menjerit, wanita itu tak lagi bersuara dan memancing kepanikan di wajah Oriaga.

***

Bab 3

"Anda menculik seseorang, Tuan?" Zayn memang tak pernah membatasi perkataannya, dia orang kepercayaan Oriaga sejak lama. Pria itu mendatangi mansion pada tengah malam setelah mengurus CCTV di hotel seperti perintah Oriaga sebelumnya.

Oriaga sempat berpikir, lalu menggeleng, dia ingin menyangkalnya. "Aku rasa tidak, tapi kau memiliki tugas lain."

"Katakan."

Oriaga membuang puntung rokok dan menginjaknya, mereka berdiri di halaman mansion, atau tepat di samping mobil pria itu. Ia mengulurkan sebuah kunci mobil pada Zayn.

"Maksudmu?"

"Bawa mobil wanita itu kemari, aku tidak tahu di mana dia memarkirnya, kau bisa melakukannya sendiri, atau jika merasa sulit maka ajak Dean bersamamu."

Zayn mengangguk, ia menerima kunci mobil tersebut. "Anda benar-benar membersihkan nama, aku sempat melihat rekaman CCTV itu, sehingga bertanya tentang penculikan."

"Aku sudah lama mengenalnya."

"Ah, baiklah. Aku pergi sekarang, Tuan." Zayn bergegas memasuki kendaraannya sebelum pergi dari tempat itu, sementara Oriaga memilih duduk pada kap mobilnya dan membuka ponsel milik Amanda setelah mengambilnya dari jok belakang.

Layar terkunci menggunakan sidik jari, tapi Oriaga mudah melakukannya—ketika Amanda masih terlelap, ia menempelkan telunjuk wanita itu di sana, lalu sempat mengubah pola penguncian layar karena memiliki tujuan lain pada ponsel Amanda.

Oriaga menemukan beberapa chat masuk sekitar dua jam lalu, bahkan panggilan tak terjawab.

"Bu, maaf. Aku mabuk dan kesulitan mengendarai mobilku, sehingga memilih menginap di rumah temanku. Jangan cemas, aku baik-baik saja." Oriaga berbicara saat mengetik pesan untuk nomor dengan nama 'My Mom'. Pria itu bertingkah seperti ahlinya tanpa ingin memberi celah.

(Amanda, telepon kembali saat kau sudah sampai di rumahmu. Aku benar-benar cemas.)

"Siapa pria bernama Jeff? Apa kekasihnya?" Oriaga menyeringai, tapi ia tak menggubris chat tersebut, lalu melakukan panggilan keluar pada nomornya sendiri. "Ini terlalu mudah, Amanda."

***

"Anda terlalu kasar padanya, perlakukan wanitamu lebih lembut. Apa kau sangat terobsesi?" Dokter Elma berkomentar, jika bukan karena seorang Oriaga Niel, wanita itu tak ingin mengemudikan mobilnya sendirian pada tengah malam seperti ini demi mengecek kesehatan seseorang.

"Aku tahu."

"Bagus, jaga wanitamu dengan baik. Jangan lupa kabari aku saat kau akan menikah." Dokter Elma mengedipkan mata, menggoda pria itu, tapi Oriaga tak menyahut dan mengalihkan pandang. "Aku pulang sekarang. Ingat baik-baik perkataanku, sampai jumpa."

"Hm, ya."

Seorang pelayan wanita mengantar Dokter Elma hingga pintu utama, Oriaga hanya memperhatikannya di balik railing lantai tiga mansion.

Ponsel pria itu berdering.

"Maaf karena menghubungimu saat tengah malam, Tuan. Aku hanya ingin mengingatkan tentang penerbangan ke Paris pagi ini."

"Ya, terima kasih."

Oriaga kembali menyimpan ponsel, ia memiliki cukup banyak jadwal harian, melakukan penerbangan dari satu negara ke negara lain pada satu hari bukanlah situasi yang aneh.

Sekarang Oriaga harus kembali ke rumahnya dan menyiapkan lebih banyak energi untuk besok. Mansion hanya tempat persinggahan, atau satu dari banyaknya properti mewah milik pria itu.

Ia sempat menatap Amanda ketika meraih jas maroon dari sofa di dekat jendela yang tertutup tirai. Wanita itu masih terlelap di ranjang, piyama abu-abu membalut tubuhnya.

***

Amanda terusik ketika cahaya matahari menyentuh wajahnya pagi ini, seorang pelayan membuka tirai dari kanan ke kiri, pemandangan laut menyambut penghuni kamar.

Amanda beranjak duduk, ia masih merasa lemas serta pegal pada beberapa bagian tubuh, termasuk nyeri di area intim karena perbuatan Oriaga.

"Selamat pagi, Nona Amanda." Pelayan dengan seragam hitam putihnya menyapa Amanda seraya tersenyum hangat. "Tuan Oriaga memintaku untuk mengurusmu. Apa Anda membutuhkan sesuatu?"

Amanda menatapnya datar. "Oriaga? Di mana bajingan itu?"

Pelayan tersentak, ia tak pernah mendengar siapa pun mengumpat pada majikannya, tapi wanita di ranjang memiliki keberanian yang besar.

"Tuan Oriaga mengatakan jika hari ini pergi ke Paris, Anda bisa memerintahkan apa pun padaku."

Amanda menggeleng. "Tidak, terima kasih. Aku hanya ingin pulang ke rumahku."

"Mobil Anda berada di halaman."

"Mobilku? Siapa yang—" Amanda berhenti, ia hampir terkejut, tapi sepertinya tidak perlu. "Baiklah." Ia melihat laci dan meraih tas miliknya.

Saat beranjak, Amanda terhuyung dan kembali duduk di ranjang.

"Biarkan aku membantumu, Nona." Pelayan itu melingkarkan tangan Amanda di bahunya, mereka berjalan keluar bersama. Organ intim Amanda semakin perih ketika tubuhnya bergerak, sehingga bibirnya terus merintih dan membuat pelayan merasa iba. "Semalam Dokter Elma datang kemari dan memeriksa keadaanmu, tapi Tuan Oriaga tak menitipkan pesan apa pun padaku selain mobil di halaman."

"Sungguh, aku tak ingin membahasnya."

Mereka memasuki lift kaca, sangat efektif menyingkat waktu Amanda sehingga cepat keluar dari mansion.

Beberapa pelayan berpapasan dengan wanita itu, mereka tetap menyapa dan tersenyum sopan.

"Terima kasih telah mengantarku sampai di sini." Amanda berdiri di samping mobilnya, ia mengeluarkan kunci dari tas, wajah wanita itu cukup pucat.

"Anda akan mengemudikannya sendiri?" tanya pelayan.

"Ya. Aku tak memiliki supir pribadi."

"Tetaplah berhati-hati saat berkendara, Nona. Sampai jumpa."

Amanda tersenyum, setidaknya masih ada keramahan dari seseorang yang menyambut paginya setelah penyiksaan brutal semalam. Ia bahkan tak berpikir jika hari ini tetap hidup dan bernapas sebagai manusia.

Ia sempat membunyikan klakson sebelum mengemudikan mobilnya menjauh dari halaman.

Sementara pelayan tersebut segera menghubungi nomor Oriaga.

"Tuan, Nona Amanda sudah pergi dari mansion."

"Dia mengatakan sesuatu?"

"Tidak, hanya terlihat marah padamu."

Tak lagi terdengar suara Oriaga setelah mengakhirinya begitu saja.

"Bajingan itu melakukan hal buruk padaku, dia melecehkanku. Seharusnya melaporkan Oriaga ke kantor polisi, bukan?" Kesadaran Amanda sudah kembali. "Atau, pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum sebagai bukti pelecehan yang dilakukannya padaku?"

Amanda benar-benar pergi ke rumah sakit untuk melakukan visum, ia memarkir mobilnya di basement, tepat ketika akan keluar—ponselnya berdering.

Sebaris nomor asing tanpa nama menghubunginya.

"Siapa di sana?"

"Apa yang kau lakukan di rumah sakit, huh?"

Suara tersebut membuat Amanda terdiam, menelan ludah, ia seperti mengenalnya.

"Jawab. Apa yang kau lakukan di rumah sakit? Seharusnya kau pulang ke rumah."

"Apa urusanmu. Kenapa mengetahuinya?" Amanda keluar dari mobil dan memperhatikan sekitar, ia mulai takut jika siapa pun menjadi penguntit untuk Oriaga.

"Aku memasang alat pelacak di mobilmu, Nona Griscouv."

"Kau sudah gila, Oriaga!" Amanda semakin terkejut, bagaimana mungkin Oriaga bertindak sejauh itu. "Apa yang kau inginkan dariku sehingga seperti ini, huh!"

"Cepatlah pulang ke rumahmu, atau kau ingin melihatku melakukan hal lain?"

Tangan Amanda menjadi gemetar ketika menggenggam ponselnya. "Kau benar-benar bajingan. Kau mengawasiku, berhenti melakukannya!"

"Pulanglah sekarang. Kita bisa membicarakannya setelah aku kembali dari Paris."

"Jika aku tak mengikuti keinginanmu?"

"Jika kau tak mengikuti perintahku, semua orang akan melihat pesta semalam. Pesta antara kau dan aku di mansion, apa belum cukup?"

Bola mata Amanda mulai berkaca, ia kembali menelan ludah.

"Cepatlah pulang. Aku mengawasimu dari jauh, aku bisa menempatkan mata-mata di sekitar rumahmu, apa kau senang?"

Wanita itu menjauhkan ponsel dari telinganya, ia menangis dan gemetar, lalu membanting ponsel tanpa ragu.

"Kau benar-benar bajingan, Oriaga."

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED