Udara yang begitu sejuk ketika tengah berada di sebuah taman ini, perasaanku begitu sangat tenang dengan cuaca hangat yang sangat menyejukkan hati. Awalnya dalam fikiranku tersirat kabar yang begitu tak mengenakan. Pikiranku sangat gundah karena sampai sekarang lelaki yang kusebut jodoh, sampai sekarang tidak kunjung datang.
Masa lalu yang membuatku merasa pahit karena sebuah kenangan yang sama sekali sulit untukku lupakan. Jujur, hati ini masih sangat rapuh tatkala mengingat lelaki dari masa lalu. Banyak lelaki yang datang melamar untuk menjadikanku sebagai istri. Tapi tidak segan aku menolak para lelaki tersebut dengan alasan masih trauma, aku bukan tidak percaya pada lelaki, Akan tetapi, masih ingin menyendiri saja. Kalau sudah waktunya menikah pasti aku juga akan menikah dengan pria pilihanku sendiri.
Kedua orang tuaku sering meminta aku untuk segera menikah, tapi aku belum memiliki kekasih yang benar-benar tulus mencintaiku. Mama sampai khawatir dengan keadaanku, sampai-sampai beliau berniat akan membawaku ke psikolog untuk mengetahui kondisiku. Apalagi Mama sampai merasa sakit hati mendengar ucapan tetangga yang menghina dan mengucap bahwa aku adalah perawan tua.
Aku pun menolak ajakan Mama, menurutku sama sekali tidak butuh ahli psikolog karena aku bukan sakit, melainkan hanya kecewa sakit hati oleh seorang lelaki, aku hanya butuh menyendiri saja.
''Shereen ....!'' ucap seseorang memanggil, aku langsung memutar tubuh dan menatap siapa gerangan yang memanggil.
Ternyata yang memanggil adalah sahabatku--Boy, dia berlari kecil menghampiriku, tidak lama kemudian ia duduk di sampingku. Kebetulan sekarang aku tengah berada di taman yang begitu indah dan membuat hati terasa sangat sejuk.
"Shereen, kamu kenapa berada di sini? Sendiri lagi!'' tanyanya menatap ke arahku tanpa kepastian.
"Aku hanya bosan saja di rumah, Boy. Jadinya aku di taman sejak tadi.'' aku tersenyum menatap sekilas kearahnya.
Boy menundukan pandangan, ''Aku kira kamu tengah ngapain disini, sebab dari tadi aku lihat, kamu tengah melamun. Coba deh kamu cerita dan katakan sejujurnya,'' ucapnya memintaku untuk memberikan penjelasan.
''Nggak kok, aku sama sekali tidak melamun. Hmm ... kamu ngapain ke sini? Tidak biasanya ke taman ini?'' tanyaku mengalihkan pembicaraan.
''Awalnya aku hanya ingin berkunjung saja, eh tahunya ada kamu disini. Ya sudah, aku ke sini saja temani kamu,'' jelasnya. "Aku kira kamu sedang berkhayal tentang masa lalumu bersama mantan kekasih yang dulu pernah meninggalkanmu, Shereen." Boy menatapku kembali, ia seakan tahu apa yang tengah aku rasakan.
"Bukan. Aku tidak mungkin memikirkan masa laluku yang pastinya akan membuatku sakit hati dan aku sudah melupakannya," sahutku berbohong. Padahal memang benar aku tengah memikirkan mantan kekasihku.
"Bagus, kalau kamu tidak memikirkannya lagi. kamu itu harus menatap ke depan, Shereen, berpikir positif saja mungkin kamu sama dia tidak berjodoh,'' ujarnya menasehati.
Aku tertegun dan mengangguk, "Iya, Boy, mungkin Tuhan tidak merestui hubunganku dengan dia, makanya dia tega ninggalin aku. Tapi sekarang aku sudah berusaha ikhlas dan menerima takdir.''
"Tuh, kan, benar. Kamu sedang mikirin pria brengsek itu lagi," Boy memandang, membuatku tersentak karena keceplosan.
"Sudah, ah, aku tidak mau berdebat. Hmm ... kalau begitu, aku mau pulang saja!'' tanpa mendengar tanggapan Boy, aku segera bangkit dan berlali pergi meninggalkannya.
"Shereen ... tunggu aku!"
Boy berteriak, aku sama sekali tidak menggubrisnya dan tak ingin berhenti berlari.
Kemudian, dirasa cukup jauh, aku berjalan pelan. Tubuhku sangat capek sekali akibat berlari tadi. Untungnya aku telah tiba di depan rumah. Terlihat Mama tengah duduk santai sembari menikmati kopi hangatnya, aku pun langsung menyapanya dengan ramah.
"Hai, Ma.'' sapaku sambil mencium pipinya, lalu aku duduk di sebelah Mama, sambil mengedarkan punggung di bahu kursi.
"Kamu dari mana saja, Shereen?" tanya Mama menatap, aku segera menegak minuman air putih, kebetulan ada teko kecil di sampingku.
"Aku baru saja dari taman,'' jelasku mengedarkan pandangan menatap mama.
"Kenapa sampai berlari begitu?"
"Tidak apa, Mah.''
"Oh iya, Shareen. Tadi ada teman kamu datang kesini, ia menanyakan kamu tapi Mama sama sekali tidak tahu kalau kamu sedang di taman," ucap Mama memberitahu.
"Siapa Mah? Apa Mama tahu namanya?" tanyaku penasaran
"Katanya namanya Silvy. Mama juga sama sekali belum pernah mendengar atau melihat Silvy sebelumnya? Apa betul ia teman kamu?" tanya Mama, aku mencoba mengingat siapa Silvy. Perasaan aku sama sekali tidak punya teman bernama Silvy.
"Dia bilang apa, Mah?"
"Dia hanya memberikan secarik kertas ini saja. Mama tidak tahu isi suratnya apa,'' Mama memberikan secarik kertas padaku, aku segera meraihnya.
Aku perhatikan secarik kertas berwarna biru muda, aku ingin membukanya di kamar saja.
"Aku mau istirahat dulu ya, Mah!" kataku sambil berjalan ke arah kamar.
Mama hanya menatap kepergianku tanpa menjawab ucapanku.
Aku melangkah ke kamar, gegas duduk di ranjang tempat tidur. Setelah itu, aku lekas membuka dan membacanya,
[Hai, wanita cantik! Maafkan aku karena dulu aku pernah menyakitimu, aku memang salah karena pernah meninggalkan kamu. Aku sangat berharap ingin kembali bersamamu berajut kasih. Jujur, aku sangat menyesal atas apa yang pernah aku torehkan luka di hatimu. Mungkin kamu sudah bisa menebak siapa aku, yang jelas aku menulis surat ini hanya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya dan jika berkenan, aku berharap ingin memilikimu kembali. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kejadian serupa. Maaf, aku tidak bisa menemuimu sekarang. ini pun aku menyuruh Silvy--temanku untuk mengantarkan surat ke rumahmu.]
Aku berhenti sejenak membaca surat ini, isinya hanya satu lembar. Aku bisa menebak siapa yang mengirim pesan. Ini pasti dari Revan, aku tahu itu. Tulisannya sangat mirip dengan Revan--Mantan kekasihku dulu.
Aku tersenyum kecut menatap tulisan di secarik kertas yang sedang aku pegang ini, ia ternyata sudah menyesal karena telah meninggalkan aku. Dan berniat ingin balikan denganku. Aku tidak akan sudi kembali dengan dia. Luka yang ia torehkan sangat dalam dan itu sangat sakit jika aku kenang masa lalu aku bersama Revan.
Lebih baik, aku tidak usah melanjutkan membaca surat ini. Dadaku seakan sesak dan bergemuruh hebat ketika membaca. Surat ini lebih pantas di buang saja, karena aku tidak sudi menerima Revan kembali menjadi kekasihku.
Aku berdiam diri di kamar menatap kearah luar jendela, sebentar lagi langit akan gelap seperti hatiku yang sudah tidak terang untuk menerima kembali lelaki. Memeluk boneka kesayangan menjadi keseharianku jika aku tengah sendiri. Aku jadi ingat temanku Boy, ia juga pernah mengatakan jika ia sangat mencintaiku. Tapi, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat saja tidak lebih dari tahu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Shereen ... buka pintunya! Mama mau masuk.'' Mama berteriak kencang memanggil namaku berulang kali, tanpa fikir panjang aku segera membuka pintu.
BERSAMBUNG....
''Ada apa, Mah?" tanyaku heran.
"Boy ada di depan, kamu temuin gih," Mama menyuruhku untuk menemui sahabatku itu. Tapi, aku sangat malas sekali bertemu dia. Padahal baru saja kita bertemu di taman.
"Aku malas bertemu Boy. Mama usir saja dia, aku tidak mau keluar menemuinya," aku hendak menutup pintu. Mama langsung menahan.
"Jangan seperti itu, Shereen. Kamu harus temui Boy. Sepertinya ia akan berbicara sesuatu yang sangat penting," sahut Mama. Dengan terpaksa aku meng-iyakan dan langsung melangkah keluar menemui Boy yang berada di ruang tamu.
Terlihat Boy duduk dengan gelisah, aku melangkah mendekatinya menghampirinya dan duduk saling berhadapan.
"Ada apa kamu datang ke rumahku?" tanyaku sambil melipatkan kedua tangan.
''Tadi sewaktu di taman, kenapa kamu malah lari? Aku padahal ingin mengatakan sesuatu,'' cecarnya.
''Memangnya kamu mau bicara apa?''
''Hmm ... aku kesini ingin memberitahukan padamu jika besok aku harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan bisnis Papa,'' ujar Boy menatapku serius.
Aku kaget mendengar ucapannya, kenapa Boy malah tega akan pergi ke luar negeri. Aku sama sekali tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Tapi 'kan untung apa juga aku melarang, sebab bukankah dia hanya ingin melanjutkan usaha bisnis kedua orang tuanya.
"Apa kamu tidak bersedih aku akan pergi ke Amerika?" ucapnya tajam, sedangkan aku tanpa ekspresi menatapnya.
"Kalau kamu ingin melanjutkan bisnis Papamu, boleh saja. Aku tidak akan melarangmu, lagi pula kamu di sana hanya melakukan tugas yang diperintahkan kedua orang tuamu 'kan?'' aku sama sekali tidak akan melarangnya, lagi pula kami sama sekali tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas sahabat. Tapi Boy malah meminta izin padaku.
"Aku akan melanjutkan bisnis Papaku di luar negeri, selama dua tahun akan menetap di Amerika dan aku kesini ingin berbicara hal lain yang lebih penting dari itu," ucapnya serius, aku mengernyitkan dahi dan heran. Tatapan Boy sangat sulit sekali di artikan, kenapa dia tidak langsung saja berucap.
"Apa itu, Boy?"
"Aku sudah beberapa kali menyatakan cinta padamu, untuk terakhir kalinya aku ingin mengungkapkan hal ini padamu. Apakah kamu bersedia menjadi istriku?"
Boy menyatakan cinta, seketika dia langsung mengeluarkan kalung permata mutiara berwarna merah yang tersimpan di dalam kotak emas berlian, aku menutup mulut tanpa mengucapkan beberapa kata, aku sangat bingung mau menjawab apa dan sama sekali tidak ingin menyakiti hatinya.
"Jawab, Shereen!" pekik Boy.
"Hmm ...."
"Kenapa? Apa kamu mau menolakku kembali?" tanya Boy berkaca-kaca
"Bukan begitu maksudnya, Boy. Tapi--"
"Tapi, apa? Apa kamu mau menjadi perawan tua karena diusia yang sekarang kamu akan menginjak kepala tiga. Aku berharap kamu menerima cintaku, Shereen."
"Aku belum bisa memilih, aku masih--"
"Mengingat lelaki brengsek itu? Dia sudah mengkhianatimu dan malah meninggalkanmu. Lalu sekarang kamu masih berharap balikan lagi dengannya?" tanya Boy terlihat marah.
"Aku tidak mengharapkan dia kembali, Boy. Tidak! Aku masih ingin sendiri saja." sahutku. Boy seketika berdiri.
"Sampai kapan kamu mau sendiri? Kamu harus melihat ke depan, kamu seorang wanita cantik, masa mau sendiri terus." kata Boy mengusap wajahnya dengan kesal.
"Aku tidak tahu, Boy. Maafkan aku!"
"Ya sudah, kalau begitu. Aku pergi sekarang! Terima kasih kamu pernah ada di dalam lubuk hatiku. Lebih baik aku pergi dari pada harus menunggumu dalam ketidak kepastian.
Boy pergi meninggalkan rumahku dengan perasaan luka yang menggores karena aku telah menolaknya. Seketika Mama datang menghampiriku. Ternyata sedari tadi Mama menguping pembicaraan kami.
"Shereen, mama mau bicara denganmu. Kenapa kamu masih menolak cinta Boy, padahal dia itu orangnya baik tidak seperti mantan kekasihmu. Mama tahu kamu masih trauma dan terluka karena ulah Revan. Tapi, kamu pun harus menata masa depan dengan menikah dengan pria pilihanmu sendiri." ujar Mama berucap dan memberi saran.
Jujur, rasanya aku ingin mati saja mengingat keadaanku yang seperti ini, memang betul aku masih belum bisa melupakan Revan. Entah kenapa perasaan cinta itu masih ada, padahal sudah jelas-jelas Revan telah mengkhianatiku.
Tapi melihat Boy yang terus-terusan berucap seperti itu, aku jadi merasa tersentuh. Boy lelaki yang selalu bersamaku dikala aku susah, dia mengulurkan tangan supaya aku tidak merasa kesepian karena sudah ditinggal pergi oleh kekasih yang sangat aku cintai. Mama benar, aku harus menata masa depan dengan menikah bersama pria yang aku cintai dan pria itu tak lain adalah Boy sahabatku sendiri.
"Iya, Mah. Setelah aku pikir-pikir aku merasa tersentuh karena dilamar oleh Boy. Lalu bagaimana Mah, dia sudah pergi dengan luka yang sudah aku gores di hatinya. Apa dia mau menerimaku?" tanyaku pada Mama bersedih dan menyesali.
"Temui Boy sekarang, bukankah dia bilang akan pergi ke Amerika besok. Masih ada kesempatan satu hari lagi untuk kamu bisa menyatakan kalau benar kamu sangat mencintai Boy." ujar Mama
"Tapi, sejujurnya aku belum mencintai Boy!"
Aku memandang kebawah, memang aku belum mencintai Boy, sepertinya aku hanya merasa kasihan.
"Shereen, urusan cinta itu belakangan, kalau kamu dekat terus dengan Boy pasti kamu akan merasa nyaman dan langsung mencintai Boy. Mama sangat setuju jika kamu bersama Boy."
Aku menganggukkan kepala mengerti dengan apa yang mama ucapkan padaku.
"Ya sudah, Mah. Sekarang aku akan pergi ke rumahnya untuk bilang masalah ini. Doakan aku semoga Boy bahagia aku menerima lamarannya." ucapku pada Mama.
"Amin, doa Mama selalu menyertaimu!"
Setelah mendengar ucapan dari mulut Mama, aku segera berlari keluar rumah dan menatap sekeliling, Boy sepertinya sudah pergi. Aku harus bergerak cepat supaya aku bisa segera sampai rumahnya.
Kini aku sudah sampai di rumah Boy, kebetulan rumah kami tidak terlalu jauh hanya beda beberapa meter saja. Aku segera menekan tombol berulang kali, seketika satpam di rumahnya keluar dan menatapku.
"Ada apa, Non? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam padaku.
"Saya ke sini ingin bertemu dengan Boy, Pak, apa Boy ada di rumah?"
"Sekitar satu jam lalu, tuan Boy keluar dari rumah sampai sekarang beliau belum pulang." sahutnya, aku menatap tak percaya pada satpam.
"Ah, masa sih, Pak?" aku setengah tak mempercayai ucapannya.
"Betul non, saya tidak berbohong!" ujarnya menampakan wajah serius.
"Ya sudah, kalau begitu saya pergi dulu. Tolong sampaikan pada Boy jika saya Shereen ingin bertemu dengannya mau membicarakan masalah penting!" ucapku, dengan perasaan gundah. Aku kira Boy sudah pulang sewaktu dia ke rumahku.
"Baik, Non, setelah Tuan Boy pulang, akan saya sampaikan." sahutnya. Aku pun langsung bergegas pergi.
Hatiku sangat kesal, kenapa sewaktu Boy datang ke rumah, aku tidak bicara ya saja. Sekarang aku yang harus mencari Boy, aku tidak mau sampai Boy berfikir macam-macam tentangku. Lebih baik aku telepon saja ke nomer ponselnya semoga saja Boy mengangkat telepon dariku.
Aku mencari kontak Boy dan setelah menemukannya aku segera menekan tombol yang berwarna hijau
Drrrrttt ... Drrrtt ... Drrrttt
Boy tidak mengangkat panggilan telepon dariku. Lalu aku segera meneleponnya kembali.
'Panggilan yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, silahkan coba beberapa saat lagi.'
Ponsel Boy tiba-tiba mati, padahal barusan terhubung.
'Boy, Boy. Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan telepon dariku? Biasanya kamu selalu mengangkatnya, apa kamu marah atas apa yang tadi aku ucapkan?' aku berteriak di dalam hati.
BERSAMBUNG...
Aku terduduk lemas di atas jalanan aspal, aku harus mencari Boy kemana? Sedangkan di rumahnya, Boy nampak tidak ada. Aku berfikir dan mencari tempat yang biasanya Boy kunjungi.
'Apa mungkin Boy ke taman, ya?' gumamku dalam hati
Tanpa fikir panjang, aku segera berlari kembali menuju taman. Biasanya Boy selalu berdiam di taman seperti aku yang sejak tadi terdiam memikirkan masalahku dengan mantan kekasihku.
Aku dan Boy selalu datang ke taman ketika kami ingin bersama, di taman banyak sekali orang yang berdiam. Karena kami sangat suka keramaian.
Sesampainya di taman, gegas aku mencari Boy dan langsung menatap ke arah kiri dan kanan semoga saja Boy berdiam di sini, sayangnya sama sekali tak kutemukan Boy berada di sini. Aku merasa sudah sangat lelah, berharap Boy mau mendengar penjelasanku kalau aku mau sudah menerima lamarannya. Tapi kenapa rasanya Tuhan tidak menginzinkan.
Semua yang terjadi salahku, kalau saja aku tidak gegabah seperti tadi. Aku pasti akan bersama Boy terus. Lebih baik aku pergi ke rumah mengistirahatkan sejenak, lagi pula hari sudah menampakan gelap. Aku berjalan pelan menyusuri jalanan berniat pulang, tanpa diduga hujan mengguyur alam semesta membasahi tubuhku.
Gegas aku meneduh di pinggir jalan raya, supaya aku tak bisa terkena rintikan hujan kembali. Aku duduk bersama orang-orang yang tengah menunggu hujan reda. Tiba-tiba tangisku pecah seketika seiring rintikan hujan yang sangat lebat, aku sangat ingin bertemu dengan Boy. Tapi kenapa sekarang aku bersedih ketika Boy mengatakan jika besok ia akan pergi dan ucapannya masih terus terngiang di benakku.
Tiba-tiba aku melihat Boy yang tengah mengendarai mobilnya secara pelan, kaca mobilnya pun terbuka. Aku lantas menatap ke arah mobil dan ternyata itu adalah Boy. Tanpa berfikir panjang aku segera berlari mengejar mobil yang dia kendarai. Padahal hujan mengguyur sangat lebat.
"Boy ....!'' teriakku ketika aku melihat Boy dari kejauhan.
Aku berteriak kencang terus-terusan memanggil namanya, tapi sepertinya ia tidak mendengar teriakanku. Mobilnya malah melaju dengan cepat, aku berusaha mengejar walaupun pasti tidak akan terkejar tapi aku yakin Boy akan mendengar dan melihatku dari kaca spion.
"Tunggu aku, Boy. Berhenti!"
"Boy, ini aku Shrereen."
"Boy!"
Hujan semakin deras, aku sama sekali sudah tidak kuat mengejar. Mobil yang dikendari Boy sama sekali tidak nampak akan berhenti. Padahal aku berteriak sangat kencang dan keras. Tiba-tiba pandanganku kabur, kepalaku sangat sakit. Pada Akhirnya aku terjatuh pingsan di bawah rintikan hujan yang sangat lebat dan seketika aku tidak mengingatnya lagi.
*****
Aku perlahan membuka kedua mata, menatap sekeliling ruangan berwarna putih. Rupa-rupanya aku tengah berada di Rumah sakit. Entah siapa yang sukarela membantuku sampai aku bisa berada di Rumah sakit ini.
KREK!
Pintu ruangan terbuka, terlihat pria renta datang menghampiriku dengan berpakaian layaknya seorang dokter.
"Alhamdulillah, ternyata anda sudah sadar!" ucapnya penuh syukur.
"Dokter, kenapa saya bisa berada di sini? Siapa yang membawa saya ke Rumah sakit ini?" tanyaku, aku sangat penasaran siapa yang mengantarkan aku ke sini.
"Saya tidak tahu yang mengantarkan kamu siapa, yang jelas dia laki-laki. Katanya dia melihatmu seketika kamu tengah pingsan di jalan dalam keadaan basah kuyup." satu Dokter memberitahukan padaku.
Aku mengingat sebelum kejadian aku pingsan, ternyata aku pingsan karena tengah mengejar mobil seseorang yang aku kira Boy.
Aku menghela nafas, mungkin saja itu bukan Boy. Untung saja ada orang baik yang menolongku. Kalau saja tidak ada yang menolong, mungkin aku masih tetap berada di tengah jalan.
"Oh, begitu, ya, Dok. Hmm ... kalau begitu, apa saya boleh pulang sekarang?" tanyaku karena sangat tidak mau terlalu lama di sini.
"Boleh, kalau dirasa sudah agak mendingan,'' sahutnya, aku merasa lega.
"Jika yang menolong saya datang ke sini lagi, tolong ucapkan terima kasih padanya ya, Dok. Saya sangat berhutang budi." ucapku pada dokter, seketika ia langsung tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, pasti akan saya bilang.''
"Terima kasih ya, Dok. Aku pamit pulang dulu, sudah merasa enak sekarang,'' ucapku. Dokter segera mengangguk.
Aku berjalan keluar dan pergi meninggalkan Rumah sakit. Tampak di luar awan sudah gelap, aku melihat jam di ponsel ternyata sekarang sudah pukul 21:30 WIB.
Aku menghela nafas, ternyata aku sangat lama pingsan, smpai tak menyadari hari sudah larut malam. Aku menunggu taksi lewat, aku ingin segera pulang ke rumah dan akan mengabarkan pada Mama kalau hari ini aku tidak mengucapkan apa pun pada Boy, ia sepertinya menghindar.
Setelah cukup lama aku menunggu, akhirnya mobil taksi yang kutunggu tiba juga. Aku segara masuk kedalam dan mobil segera melaju cepat meninggalkan halaman Rumah sakit.
Di dalam mobil tak henti-hentinya aku berfikir bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan Boy mengingat ia sebentar lagi akan berangkat pergi ke Amerika.
Mama pasti sangat marah setelah mendengar kabar buruk ini. Hmm, lebih baik aku telepon kembali nomer ponsel Boy, siapa tahu dia sekarang bisa mengangkat telepon.
Tut ... Tut ... Tut ...
Sambungan terhubung.
Tapi Boy sama sekali tak mengangkatnya.
'Angkat dong, Boy!' gerutuku kesal dalam hati.
Aku membuang ponsel dengan kasar, aku sangat kesal pada Boy dia malah menghindar dariku padahal apa susahnya angkat telepon.
Supir yang melihat aku emosi, segera memberhentikan mobil.
"Non lebih baik keluar dari mobil, saya tidak mau melihat penumpang saya seperti orang gila marah-marah enggak jelas sambil membuang dengan kasar ponselnya." ucap supir, seketika aku kaget mendengarnya.
"Kenapa Bapak malah mengusir saya? Hanya karena masalah itu saya disuruh turun di jalan? Benar-benar ya." cecarku kesal.
"Maaf, Non. Saya bukan bermaksud--"
Aku segera membuka pintu mobil tanpa mendengar penjelasan supir. Hatiku sangat kesal karena ucapan supir yang menyuruhku turun padahal rumahku masih jauh sekitar sepuluh meter.
Tapi bisa-bisanya supir berkata seperti itu. Apa dia tidak merasa kasihan padaku? Terpaksa aku harus jalan kaki kembali karena tak mungkin harus menunggu taksi sebab sekarang sudah sangat larut malam.
Akhirnya tanpa berlalu lama aku telah sampai di depan rumah, bergegas mengetuk pintu perlahan. Semoga saja Mama belum tidur.
"Assalamualaikum, Mah,'' ujarku sopan mengucap salam.
"Waalaikum salam," sahut Mama menjawab sambil membuka pintu rumah.
"Shereen, kamu dari mana saja kok baru pulang jam segini?" tanya Mama, aku sangat lemas mendengar pertanyaan yang dilontarkan mama.
Aku segera masuk ke dalam tanpa menjawab ucapan Mama.
Mama datang menghampiri ketika aku tengah duduk sambil menyenderkan kepala di bahu kursi.
"Kamu dari mana saja, Nak?" tanya Mama mengulang pertanyaan.
"Shereen tadi pingsan dan tiba-tiba malah berada di Rumah sakit, Mah!" ucapku berkata jujur, mama yang mendengar sangat kaget.
"Astagfirullahal adzim. Kenapa kamu bisa pingsan? Tapi kamu tidak kenapa-napa 'kan Shereen?" tanya Mama kembali.
Bersambung...