Bab 1

"Pokoknya kita putus, Edward!" ketus seorang gadis bernama Ranti yang baru ketahuan berselingkuh oleh kekasihnya sendiri.

"Apa kamu bilang, Ranti? Kita putus? Apakah kamu sudah gila? Jangan berpikiran macam-macam kamu!" seru Edward, pemuda yang menjadi pacarnya.

"Aku sedang tidak bercanda Edward! Aku menginginkan kita putus sekarang juga!" seru sang gadis lantang.

"Apa?" kaget pria itu bukan kepalang.

Pasalnya Ranti lah yang telah ketahuan berselingkuh dengan pesaing bisnisnya. Akan tetapi malah gadis itu yang meminta untuk memutuskan hubungan dengannya.

"Ranti, apakah kamu tidak berpikir dengan lamanya hubungan kita telah terjalin?" tanya pria itu sambil memegang erat tangan gadis itu.

"Aku ... aku akan memperbaiki diriku. Aku tidak akan sibuk-sibuk lagi. Aku akan membagi waktuku untuk dapat bersamamu. Please, Ranti. Aku tahu kamu sedang khilaf saat ini." Edward sampai memohon kepada sang pacar yang terang-terangan telah berselingkuh darinya.

Pria itu bepikir jika pacarnya berselingkuh dan dekat dengan pria lain, karena dirinya yang selalu sibuk setiap hari di perusahaan miliknya. Sehingga tidak ada waktu banyak dengan sang kekasih.

Senaif itu pemikiran Edward saat ini demi untuk mempertahankan hubungan

percintaannya dengan Ranti. Sang pria tidak sadar jika hubungannya dengan gadis itu dapat dikategorikan sebagai suatu hubungan toxic.

Namun bukannya berempati kepada permohonan Edward. Dengan cepat Ranti menghempas tangan pria itu yang sedang menggenggam tangannya dengan erat.

Lalu dengan ketus, dia pun berkata,

"Kamu tidak perlu merayuku! Asal kamu tahu dari awal aku tidak pernah mencintaimu! Kamu harus tahu itu!" ucap Ranti sinis.

"Apa yang kamu barusan katakan Ranti?" tanya Edward sangat terkejut dengan perkataan pacarnya

yang sungguh menusuk itu.

"Oh ... ternyata kamu budek rupanya, Edward? Baiklah! Aku akan mengulangnya kembali! Aku tidak pernah mencintaimu sama sekali Edward! Sejak dulu sampai sekarang!

Apakah kamu sudah

mendengar semuanya?" ujarnya setengah berteriak.

Saat ini keduanya sedang berada di sebuah taman. Untung saja di sana hanya ada mereka berdua. Sehingga semua teriakan Ranti hanya dapat di dengar oleh Edward.

"Kamu?" Edward tak menyangka dengan semua perkataan yang

terlontar dari bibir gadis itu.

"Kamu jangan main-main dengan perkataan mu, Ranti. Telah bertahun-tahun kita bersama, tapi kamu malah mengatakan tidak

pernah mencintaiku? Cih! Jangan ngarang kamu!" serunya lagi.

"Aku tidak sedang mengarang cerita Edward! Semua yang kukatakan adalah kebenaran! Aku tidak pernah mencintaimu!"

"Ranti! Jika kamu tidak mencintaiku,

kenapa kamu mau menjadi pacarku dan menjalin hubungan yang cukup lama denganku?" teriak Edward mulai emosi.

"Ha-ha-ha! Karena aku ingin mempermainkan mu!" Lalu tiba-tiba, gadis itu melempar sebuah foto seorang gadis di hadapan Edward.

"Lihat baik-baik perempuan di dalam foto itu! Biar kamu lebih mengenalnya dengan jelas!" tutur Ranti sengit.

Karena penasaran Edward pun segera mengambil beberapa lembar foto yang tadi dilempar oleh Ranti di hadapannya.

Pria itu mulai menatap dalam-dalam wanita di dalam foto itu.

"Ini kan mantanku yang sangat matre," gumamnya dalam hati.

"Apakah kamu mengenal gadis itu Edward Kenneth?" tanya Ranti ketus.

"Ya, aku mengenalnya. Dia salah satu mantanku. Kami telah lama putus. Memangnya kenapa? Apa urusannya gadis ini dengan hubungan kita, Ranti?" tanya Edward penansaran.

"Tentu saja ada! Dia adalah sepupuku! Sekarang dia depresi gara-gara kamu putuskan! Aku menjalin hubungan denganmu untuk membalaskan dendamnya kepadamu!"

"Apa? Tari, sepupumu?"

"Iya! Dia sepupuku! Kenapa? Kamu kaget? Tega-teganya kamu memutuskan hubungan dengannya Edward! Padahal Tari cinta mati kepadamu!" seru Ranti lantang.

"Hei! Tunggu dulu! Kamu jangan menuduhku sembarangan begitu!" Edward jelas tidak terima dengan

semua tuduhan Ranti kepadanya.

"Tuan Muda Edward Kenneth yang terhormat! Aku tidak menuduh Anda! Akan tetapi aku mengatakan hal yang sebenarnya terjadi! Berhenti lah berpura-pura bodoh seperti itu!" tukas Ranti tak mau kalah.

"Asal kamu tahu! Tari saat ini telah resmi menjadi penghuni salah satu rumah sakit jiwa! Dasar pecundang! Pemain wanita! Beraninya menyakiti hati kaum hawa! Pengecut kamu Edward!" Begitu tajamnya omongan Ranti kepada

Edward.

Bahkan gadis itu terdengar beberapa kali memaki-maki Edward dan mengucapkan beberapa kalimat kotor kepada pria itu.

Sepertinya Ranti sangat puas telah memaki-maki Edward. Bahkan pun dengan sengaja dia berselingkuh dengan musuh Edward demi untuk menjatuhkan mental pemuda itu dan membuatnya semakin terpuruk dalam kehidupannya.

"Ranti, tolong dengarkan dulu penjelasanku. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Tolong tenanglah dulu dan biarkan aku menjelaskan semuanya," serunya lagi.

"Tidak perlu! Aku tidak sudi lagi mendengarkan semua perkataan mu yang bulshit! Akhirnya dendam Tari terbalaskan dengan sempurna! Sungguh aku tidak pernah

menyangka, ya! Selamat tinggal Edward! Semangat menikmati hari-hari kelam mu mulai dari sekarang!" ucap sang gadis lalu mulai bergegas pergi dari taman itu.

"Tunggu, Ranti! Jangan tinggalkan aku! Aku sangat mencintaimu! Please .... Aku juga akan memaafkanmu kali ini! Tolong Ranti! Dengarkan aku dulu." Edward mencoba mengejar kekasihnya.

Namun tiba-tiba muncul sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di hadapan keduanya.

Bersamaan dengan itu Edward akhirnya berhasil

meraih kembali tangan Ranti dalam genggamannya.

Lalu kaca mobil itu mulai terbuka. Di dalam mobil terlihat sosok Rian, musuh bebuyutan Edward, yang paling dirinya benci di dunia ini.

"Selamat siang, Tuan Edward!" sapa Rian penuh ejekan kepada Edward.

Lalu pemuda itu melihat tangan Ranti yang sedang digenggam erat oleh Edward.

Emosinya seketika memuncak, Rian pun segera berkata,

"Hei ... Edward Kenneth! Lepaskan tanganmu darinya! Dasar bajingan! teriaknya lantang dari dalam mobil.

"Lho memangnya kenapa jika aku menggenggam tangan pacarku sendiri?" jawab Edward tak mau kalah.

Mendengar ucapan pria itu, Ranti malah tertawa terbahak-bahak saat ini,

"Edward, kita sudah putus! Aku bukan siapa-siapa mu, lagi!" ujar Ranti tajam lalu menghempas tangan Edward dengan sangat keras.

"Ranti! Kamu ...?" Edward lagi-lagi kaget dengan perkataan

sang gadis.

Edward sudah sangat menyayangi Ranti. Sepertinya pria itu telah cinta mati kepadanya. Dia tidak mungkin melepaskan Ranti

begitu saja.

Edward mencoba kembali meraih tangan Ranti mengisyaratkan kepada gadis itu, untuk mendengar penjelasannya terlebih dahulu.

Akan tetapi Rian yang baru saja ke luar dari dalam mobil lebih dulu meraih tangan Ranti dan membawanya di dalam pelukannya.

"Anda jangan memaksa! Ranti pacar gue!"

"Apa?" Edward tak semakin tak percaya.

"Ranti! Kamu ...?" Lagi-lagi Edward kaget dengan apa yang terjadi saat ini kepadanya.

"Iya! Rian adalah pacarku! Kami telah lebih lama berpacaran dan menjalin hubungan! Dia menginzinkanku untuk mendekatimu hanya demi untuk balas dendam!" seru Ranti tajam.

Namun Edward yang telah dibutakan oleh cinta terus saja memohon kepada Ranti untuk mendengar

penjelasannya.

Rian yang tersulut emosi ingin menghajar Edward saat ini juga. Dia mulai memasang kuda-kuda untuk melakukan penyerangan.

Namun sebuah teriakan dari Aksa, sang asisten pribadi dari Edward, menciutkan nyalinya.

"Tuan Rian! Jika Anda berani menyentuh kulit Tuan Muda Edward sedikit pun! Saya pasti kan Anda akan segera lenyap dari muka bumi ini sekarang juga!"

Bab 2

"Hei, Aksa! Jangan sok jagoan Lo!" seru Ranti tak suka."Saya bukannya sok jagoan. Tapi melindungi Tuan Muda Edward adalah tugas saya!" sahut Aksa tegas.Namun Edward memberi isyarat kepada Aksa untuk tidak ikut campur.Sang asisten pribadi ingin membantah akan tetapi tatapan pria itu malah menajam kepadanya.Edward masih saja mencoba mendekati Ranti dan mulai meraih tangannya. Kali ini berhasil, gadis itu membiarkan tangannya digenggam oleh sang pria. Edward pun kembali berkata,"Ranti, please. Mari kita bicara. Aku akan menceritakan semua tentang Tari. Kamu salah sangka kepadaku," ucapnya memelas."Sayang, ayo kita pergi! Ngapain kamu masih melayani pecundang itu?" seru Rian yang telah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Ranti lagi-lagi menghempaskan tangan Edward dengan kasar lalu berkata,"Aku tidak sudi lagi menjalin hubungan denganmu! Enyahlah dari hidupku!" Bahkan saking kesalnya kepada Edward, Ranti mendorong tubuh pria itu sampai terjatuh di tanah."Tuan Muda!" Aksa segera berlari menuju ke arah Edward dan mencoba menolongnya.Sementara Ranti dengan cepat masuk ke dalam mobil Rian, seraya kembali menghina Edward,"Selamat tinggal pecundang! Semoga hidupmu menderita selamanya! Rasakan akibat balas dendam ku!" Lalu dengan sengaja gadis itu meludah ke luar mobil. Pertanda Edward memang tidak ada harganya lagi baginya. "Ranti! Anda jangan semakin kurang kurang ajar kepada Tuan Edward!" hardik Aksa. Namun keduanya malah tertawa terbahak-bahak."Ha-ha-ha!" Lalu Rian segera tancap gas melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.Di sebuah bar di kawasan Jakarta Selatan,Edward sedang duduk sambil menikmati wine yang begitu banyak di depannya. Sejak tadi pagi sampai malam tiba, sang pria berada di tempat ini. Aksa sang asisten pribadi tetap setia menunggu sang bos."Aksa ... kenapa Ranti tega kepadaku? Apa yang sedang merasuki pikirannya? Kenapa dia meninggalkanku disaat aku sudah sangat mencintainya! Apa salahku Aksa?" sedihnya sangat menyayat."Tuan Muda, Anda tidak memiliki salah apa pun kepada Nona Ranti bahkan Anda sudah sangat terlalu baik kepadanya." sahut Aksa."Tapi kenapa dia malah meninggalkanku?" teriaknya.Untung saja, Aksa telah mem-booking tempat itu  Apakah sedikit pun dia tidak pernah mencintaiku? Dua tahun kebersamaan kami hanya kesia-siaan belaka?" Kesedihan Edward semakin mendalam mengingat jelas bagaimana kisah percintaannya kepada Ranti selama ini.Sementara Aksa yang sedang menemani sang tuan muda. Terlihat mengepalkan tangannya dari tadi mendengar semua perkataan Edward. Sepertinya dia harus mengatakan apa yang ada di hatinya saat ini. "Maaf Tuan Muda, jika perkataan saya kali ini sangat lancang. Tapi saya harus mengatakannya kepada Anda. Jujur sejak awal saya tidak menyukai Nona Ranti," ucap Aksa. Mendengar omongan sang asisten, Edward pun angkat bicara,"Apa maksud mu berkata seperti itu, Aksa?" "Sekarang terbukti, Tuan Muda! Nona Ranti meninggalkan Anda begitu saja dengan alasan tak masuk akal. Bahkan dia dengan sengaja berselingkuh dengan Tuan Rian," seru Aksa menusuk."Kamu jangan menghinanya seperti itu! Mungkin saja pikirannya sedang kalut saat ini! Makanya dirinya minta putus." Bahkan Edward pun masih membela kekasihnya."Tapi Tuan Muda, Nona Ranti telah jelas-jelas berselingkuh dengan Tuan Rian dan Anda masih membelanya?" Aksa semakin tak percaya dengan tanggapan Edward saat ini tentang gadis itu. Edward diam dan tidak dapat menjawab perkataan asistennya. Dia malah memilih lebih banyak minum wine untuk menepis luka hatinya yang semakin menganga. Lalu tiba-tiba dari arah luar pintu bar, ketiga cowok tampan para sepupu Edward segera masuk ke dalam.Melihat para sepupunya datang, Edward segera menatap tajam ke arah Aksa. Karena dia tahu betul jika itu adalah ulah asistennya."Sialan Lo, Aksa! Ngapain Lo mengajak mereka ke sini?" serunya tak senang."Maaf, Tuan Muda. Tapi Tuan Muda Ronand telah memiliki bukti konkrit tentang perselingkuhan Nona Ranti dan Tuan Rian." ucap Aksa.Namun Edward seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang asisten. Dia berpikir jika tak mungkin Ranti mengkhianati dirinya dengan sungguh-sungguh."Ya ampun Edward! Demi gadis murahan itu Lo mabuk-mabukkan? Lo tarok di mana otak Lo?" seru Bobby, salah satu dari sepupu Edward."Jaga bicara Lo, Bob! Jangan pernah hina Ranti!" sahut Edward lalu dengan berjalan sempoyongan, pria itu ingin menghajar Bobby.Namun dengan cepat Jemy yang juga sepupu Edward segera melerai keduanya."Woi ... woi .... Ada apa dengan kalian berdua? Santai, Bro!" seru Jemy kepada keduanya."Bobby yang memulai duluan, Jem. Dia menghina Ranti," bela Edward kepada kekasihnya."Edward! Buka mata Lo lebar-lebar. Kenapa Lo masih membela Si jalang itu!" Ternyata Jemy malah lebih menusuk omongannya dibandingkan dengan Bobby. "Shitt! Lo juga ikutan menghinanya, Jem?" Edward tak menyangka dengan sikap sepupunya. "Sudah-sudah! Berisik banget Lo semua!" ketus Ronand, yang dari tadi sibuk di depan laptop. "Edward, simak video ini baik-baik!" ucap Ronand tegas lalu mengarahkan laptop itu di depan sepupunya yang sedang galau itu. Edward pun mencoba menajamkan penglihatannya dan melihat sajian video dari laptop sepupunya, Ronand."Sial! Dari mana Lo mendapatkan video ini?" ucap Edward lalu menutup laptop itu dengan kasar lalu melemparnya begitu saja di bawah lantai bar itu. Seketika laptop itu hancur berkeping-keping dan tak berbentuk lagi. Edward sangat emosi melihat video panas Ranti dan Rian di sebuah hotel. Pria itu sungguh tak sanggup melihatnya."Lo masih membelanya, Ed?" tantang Ronand kepada sepupunya."Ranti!" teriaknya histeris.Lalu Bobby turut melemparkan beberapa lembar foto kebersamaan Ranti dan Rian di segala sudut disetiap pertemuannya dengan selingkuhannya itu, di hadapannya."Lihat sendiri! Sudah sejak lama dia bermain hati dengan Lo!" ketus Boby. Edward lalu meraih foto-foto itu dan melihatnya. Seketika dia meremas semua foto-foto tersebut. Sungguh dia tak pernah menyangka jika Ranti bisa setega itu kepadanya.Ternyata selama ini, ketiga sepupunya diam-diam ikut membantu Aksa untuk membongkar permainan bejat dari Ranti."Sialan Lo, Rian!" tukas Edward. Lalu dengan cepat dia meraih kunci mobil yang ada di meja bar, kemudian mulao ke luar dari bar itu. "Edward, Lo mau ke mana!" teriak Jemy. "Tuan Muda, Anda jangan pergi!" Aksa ikut menimpali."Pakai akal sehat Lo, Ed!" tukas Ronand."Woi ... Edward songong! Jangan gila Lo! Berhenti nggak Lo!" teriak Bobby. Lalu keempat pemuda gagah itu segera menyusul Edward yang telah lebih dulu ke luar dari bar.Begitu cepatnya Edward melangkah sehingga ketiga sepupunya dan Aksa tidak bisa menahan kepergiannya.Dengan sigap Ronand yang jago ngebut segera berlari menuju mobilnya. Lalu dia pun berkata,"Ayo, kalian masuk semua! Kita kejar mobil Edward!"

Bab 3

Para pemuda itu pun

masuk ke dalam mobil. Ronand segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Namun mobil Edward tidak juga kelihatan.

"Sial! Edward ke mana! Kenapa mobilnya tidak kelihatan?" seru Ronand panik.

Bahkan semua orang yang berada di dalam mobil itu juga ikut-ikutan panik.

"Bukannya tadi Edward meneriaki nama Rian?" tukas Bobby.

"Pasti Tuan Edward sedang menuju ke apartemen Tuan Rian," sahut Aksa.

"Nand, segera meluncur ke sana!" seru Jemy kepada sepupunya.

"Beres! Gue putar balik dulu," sergah Ronand.

Dengan cepat pria itu memutar balik arah mobil menuju ke apartemen

Rian.

Benar saja tebakan mereka. Edward memang sedang melajukan mobilnya menuju ke apartemen pria itu.

Namun karena di bawah pengaruh minuman keras Edward terlihat ugal-ugalan membawa mobil.

Hatinya sangat sakit saat ini, harus menerima kenyataan jika Ranti, gadis yang sangat dirinya cintai telah berani berselingkuh dibelakangnya. Sepertinya Edward mulai percaya jika Ranti memang tidak pernah

mencintainya.

Selama ini Edward berharap penuh kepada gadis itu. Bahkan dia telah merancang untuk menikahi gadis itu tahun ini. Sang pria sedang memesan cincin couple untuk mereka berdua. Namun semuanya hanya kesia-siaan belaka.

Ranti telah mengkhianati cintanya. Gadis itu telah menghancurkan harapan terbesarnya. Tak terasa air mata Edward mengalir di kedua pipinya. Sepertinya pria itu sangat patah hati sekarang.

Tiba-tiba saja Edward hilang keseimbangan saat menyetir mobil. Kejadiannya sangat

cepat terjadi. Mobil yang dikendarai olehnya menabrak pembatas jalan dengan sangat kuat.

Pria itu tak sadarkan diri akibat benturan yang kuat. Untung saja air bag mobil langsung berkembang

sehingga melindungi kepala Edward dari benturan yang keras.

Sementara mobil Ronand terus saja mencari

keberadaan mobil Edward, sang sepupu.

Bobby yang duduk di samping Ronand, dari kejauhan dapat melihat sebuah mobil yang telah menabrak pembatas jalan. Asap mulai mengepul dari mobil tersebut.

Sang sepupu ingat betul jika plat mobil tersebut adalah milik Edward, sepupunya. Dia pun segera berkata,

"Guys! Bukannya itu mobil Edward?" teriak Bobby.

"Shit! Edward apa yang sedang merasuki Lo!" kesal Jemy kepadanya.

"Nand! Lebih cepat Lo menyetirnya!" Lalu dengan sigap Ronand mempercepat laju mobilnya.

Sedangkan Aksa segera menelepon ambulans untuk menolong Edward.

Waktu yang telah menunjukkan dini hari, membuat jalanan sangat sepi dan lengang.

Para pemuda itu, segera turun dari mobil. Mereka pun menghampiri mobil Edward yang telah rusak parah. Keempatnya lalu mencoba memecahkan kaca mobil dan membuka pintunya dari dalam, untuk dapat mengeluarkan tubuh Edward dari dalam mobil.

Ronand segera memeriksa saluran pernapasan Edward. Pria itu sangat bersyukur karena sepupunya hanya pingsan.

Lalu Bobby angkat bicara,

"Guys, jujur gue takut memindahkan tubuh Edward!" ungkapnya gusar.

Ternyata para pemuda itu ragu untuk mengeluarkan tubuh Edward dari dalam mobil.

"Kita tunggu petugas kesehatan saja, untuk mengeluarkannya. Takutnya jika kita salah mengangkat tubuhnya, malah dapat memperparah keadaan," tukas Jemy.

"Ide bagus!" sahut Ronand.

Aksa mengeraskan rahangnya karena ambulans belum tiba juga. Pria itu kembali menelepon pihak rumah sakit.

Akhirnya ambulans pun tiba bersamaan dengan datangnya mobil petugas pemadam kebakaran. Tubuh Edward yang telah pingsan segera dievakuasi dengan cepat.

Petugas pemadam kebakaran juga segera menangani mobil Edward sehingga tidak

sempat menimbulkan ledakan dan kebakaran.

Sedangkan Edward sendiri segera dilarikan ke rumah sakit. Aksa dan Jemy ikut masuk ke dalam ambulans untuk mendampinginya.

Sementara Ronand kembali menyetir mobilnya menuju ke rumah sakit, mengikuti ambulans yang sedang melaju sangat kencang saat ini.

Bobby yang berada di samping Ronand yang sedang menyetir, mulai sibuk menghubungi keluarga terutama Aunty Ayu, ibunda Edward.

Tidak lupa juga Bobby menghubungi Opa Bram, kakek mereka.

Tangisan Tante Ayu memenuhi ruang tunggu pasien. Opa Bram juga turun bersedih hati melihat keadaan salah satu cucunya saat ini.

Sang opa pun bertanya kepada Ronand, apa yang terjadi sebenarnya kepada Edward.

Sang cucu lalu menceritakan semuanya kepada Opa Bram tentang hubungan Edward dan Ranti yang terjalin selama ini. Akan tetapi penuh dengan kepalsuan.

Sang opa terlihat sangat

geram mendengar semuanya. Dia pun mempunyai tekad yang bulat untuk menyelamatkan kondisi mental cucunya tersebut.

"Jadi Edward masih saja berhubungan dengan gadis itu?" selidik sang kakek.

"Ya ... begitulah kenyataanya, Opa." seru Ronand menimpali.

"Opa pernah menegur Edward agar tidak bergaul lagi dengan wanita itu. Tapi dia keras kepala rupanya," tutur sang opa.

Ternyata Opa Bram pernah menegur Edward namun dia memilih untuk tidak mendengar perkataan kakeknya.

"Edward terlalu naif memandang cinta. Sifatnya sangat berbeda dengan kalian bertiga," ucap Opa Bram kepada Ronand, Jemy, dan Bobby.

Ketiganya mengangguk tanda setuju. Mereka berpikiran yang sama dengan Opa Bram.

Lalu sang kakek berkata lagi,

"Opa memiliki rencana jitu agar Edward bisa melupakan gadis itu. Akan tetapi, kalian harus membantu Opa untuk menyukseskannya."

"Tentu saja kami mau, Opa!" ucap Bobby.

"Demi kesembuhan Edward. Aku juga akan ikut membantu," tukas Jemy.

"Jangan tanya aku, Opa. Tentu saja aku juga turut bersedia melakukan apa pun, agar Edward lebih cepat pulih," sahut Ronand dari kesungguhan hatinya.

"Baiklah, kalau begitu. Opa akan menghubungi kalian nantinya jika semua telah berjalan sesuai rencana Opa." tutur Opa Bram kepada para cucunya.

Sudah hampir seminggu lamanya Edward telah di pindahkan di sebuah rumah sakit yang berada di Kota London.

Bunda Ayu dan Ronand ikut mendampingi pengobatan Edward di sana.

Sedangkan Jemy dan Bobby bertugas untuk mengelola perusahaan yang ada di Jakarta.

Hasil pemeriksaan para dokter menyatakan, jika Edward mengalami beberapa retak tulang dan butuh recovery yanv sangat intensif selama beberapa bulan ke depan.

Nyonya Rahayu terus saja menangis melihat kondisi putranya yang masih lemah. Seperti tidak memiliki semangat untuk hidup lagi.

"Aunty Ayu, jangan menangis terus dong. Aunty harus yakin jika Edward akan cepat pulihnya," ucap Ronand menghibur sang tante.

"Bagaimana Aunty tidak semakin sedih, Nand. Sepupumu semakin hari kok malah semakin lemah?" isak Aunty Ayu.

"Aunty ... kita harus yakin, Edward bisa melewati semuanya dengan baik. Kita juga patut bersyukur karena kondisi Edward tetap stabil sejauh ini. Tante harus jaga kesehatan, agar tetap sehat dan tidak drop selama mendampingi pemulihan Edward.

Sementara di dalam ruang rawatan. Tubuh lemah Edward sedang terbaring lemah. Pria itu sedang menatap langit-langit rumah sakit. Hatinya terasa hampa saat ini. Entah kenapa kerinduan mendalam kepada Ranti mulai merasukinya saat ini.

Namun tiba-tiba Edward mengingat perlakuan gadis itu kepadanya. Rasa sakit tersebut terasa menusuk-menusuk sampai ke ulu hatinya.

"Ranti! Kamu kenapa sangat tega melakukan semuanya kepadaku?" Air mata Edward mulai keluar membasahi pipinya. Sungguh begitu rapuhnya dia saat ini.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED