Prolog
_★_
"Apa kalian pernah mendengar tentang gerhana bulan berdarah?" Si sulung berjalan menghampiri. "Bulan berdarah?" beonya penuh tanda tanya, ia tak pernah dengar sebelumnya.
Wanita baya itu mengangguk semangat. "Ini cerita legenda dari dunia immortal. Dahulu kala gerhana bulan darah pernah—" Ucapannya terhenti. Wanita itu melirik si bungsu, lalu tersenyum kecil. Kemudian dia berkata, "Apa kau tidak penasaran?"
Memandang wajah ibunya lekat-lekat, anak laki-laki itu dilanda rasa bingung. Dia sedang sangat ingin bermain dengan mainannya, tetapi cerita yang di dongeng kan ibunya terdengar menarik.
Akhirnya setelah menimang-nimang penuh perhitungan, ia memutuskan merangkak mendekat dan duduk di dekat kaki ibundanya. Bersiap mendengarkan cerita legenda yang mengisi hari-hari mereka.
Wanita itu tersenyum puas melihat kedua anaknya sudah menunggu dirinya mendongeng, di bawah pohon rindang. "Pada dahulu kala ..."
.
.
Kelahirannya membuat raja dan ratu senang. Kehadirannya disambut hangat oleh para rakyat. Sehingga pesta besar-besaran diadakan untuk menyambut kedatangannya di dunia.
Justin tersenyum simpul, ketika melihat sosok putra yang sangat ia idam-idamkan sejak dahulu. Melirik ke sang istri, dia buka suara setelah lama menangis haru. "Dia sangat tampan, bukan?"
Ratu Estelyn mengangguk antusias disertai senyuman manis. Semakin mendekap tubuh sang buah hati di dalam pelukannya. "Berikan dia nama, Raja ku."
Raja menolehkan kepala ke luar jendela. Sedang ada bulan merah di langit malam.
"Asedouse ... Edgar?" ujar sang raja kebingungan. Ia menatap Estelyn untuk meminta pendapat. "Aku suka nama itu," puji Ratu tulus. Justin tersenyum senang.
"Baiklah, ayo kita bawa Pangeran Edgar ke bawah untuk pesta besar!" ajak Justin semangat.
Salah satu lengan menggendong sang putra, lengan lainnya menggandeng tangan istri tercinta. Mereka bertiga pergi menuju aula kerajaan yang begitu luas dan megah. Di sana banyak pernak-pernik indah menghias segala sudut.
Berhenti pada podium di tengah ruangan, Justin berdiri gagah di hadapan seluruh rakyatnya.
"Wahai rakyat tercintaku!" Justin berhasil menarik seluruh atensi dalam sekali bicara. Walaupun suaranya tidak teriak-teriak, namun telinga para kaum vampir mampu mendengar nada bijaksana sang raja yang kini tengah berbahagia.
"Hari ini, tepat pada gerhana bulan darah, anak ku lahir dengan selamat." Tepukan tangan riuh menyambut ucapannya. Mengangkat salah satu tangan, kerumunan bangsa vampir itu kembali senyap.
"Di hari bahagia ini, aku akan mengumumkan bahwa putra ku, Edgar Asedouse dinobatkan sebagai pangeran dari bangsa vampir!"
Sorak sorai gembira bersahut-sahutan, bersamaan itu juga, suara tepukan tangan kembali menggema mengisi aula besar di salah satu ruangan kerajaan.
Justin tersenyum puas. "Kemarilah, Estelyn," perintahnya pada sang ratu.
Menaiki satu undakan tangga, Estelyn berjalan menghampiri rajanya yang menatap bangga pada sosok dalam dekapannya.
"Ku perkenalkan kalia—"
Bruk!
Ucapan Justin terpotong oleh suara gaduh dari arah luar kastel. Tak lama berselang, ada Zeppa yang datang menghampiri untuk melaporkan kekacauan di luar sana.
Mendengar informasi dari tangan kanannya, Justin menatap murka pada pintu utama yang kini sudah terbuka lebar, menampakkan sosok besar dengan sayap hitam legam.
"Lama tidak berjumpa," sapanya hangat.
Suara dari sosok itu membuat para kaum vampir merinding ketakutan. Tapi tidak dengan Justin, dia melindungi sang istri dan anaknya di balik punggung.
Sosok itu tertawa renyah melihat gerakan spontan dari Justin. "Kau takut? Aku hanya ingin bercengkrama dengan teman lama, tidak lebih ...," ujarnya bermaksud mengejek.
"Pergilah!" usir Justin tanpa sadar menggeram. "Amankan seluruh rakyatku," bisik Justin pada Zeppa. "Baik, Tuan!" balas laki-laki itu patuh.
Makhluk itu membelah kerumunan untuk terbang mendekat. "Tidak perlu repot-repot, aku hanya ingin melihat putra mu," ujarnya santai.
Mata Justin berubah menjadi merah gelap, bersamaan dengan itu, gigi-giginya memunculkan taring tajam nan runcing, begitu juga kukunya yang mendadak memanjang disertai timbulnya urat-urat biru di seluruh permukaan kulit.
"Jangan ganggu kami!" erangnya penuh kemarahan.
Sementara, Zeppa sibuk mengamankan seluruh bangsa vampir yang hadir. Justin mencoba mengalihkan perhatian makhluk itu. "Pergilah!" usir raja vampir itu kesal.
"Anak itu ... kita sudah sepakat hari itu," selanya cepat. Justin menggeleng kuat, lalu tanpa aba-aba menyerang makhluk yang tiga kali lebih besar darinya menggunakan semua kekuatan miliknya.
Namun sekuat apapun Justin berusaha, sosok di hadapannya itu jauh lebih besar, jauh lebih kuat, dan jauh lebih berkuasa.
Mengatur nafas setelah gagal menyerang untuk kesekian kalinya, Justin menatap sang istri untuk lari menjauh.
Mengerti tatapan dari suaminya, Estelyn bergegas beranjak pergi sebelum ketahuan. Tetapi sangat disayangkan, makhluk itu berhasil mencekik Estelyn dan membawanya ke hadapannya.
"Mau dibawa kemana putra kalian?" tanyanya terkekeh-kekeh.
Justin kembali menggeram marah. Baru hendak bangkit dan melayangkan sebuah serangan, tubuhnya terlebih dahulu dihempas dalam sekali ayunan jari hingga tak sanggup berdiri lagi.
"T-tolo-ng jang-an am-bil put-putra ku ...," mohon Estelyn berlinang air mata.
Makhluk tersebut tersenyum licik. "Berikan kami seorang putra, sebagai gantinya kami akan mengorbankan jiwa kami. Bukankah kalian berjanji seperti itu padaku?"
"Kami tidak pernah berjanji, Sialan!" maki Justin berteriak. Makhluk itu melirik malas pada sosok Justin yang terkapar tak berdaya di pojok aula.
Estelyn menggeleng keras. "Ti-dak! Jangan! Ku-moh-on, aku ma-sih ingin me-lihat pu-tra ku tum-buh!" pintanya terbata-bata karena kesulitan bernafas.
Dia tertawa menggelegar. Menatap sosok jelita ratu vampir membuatnya berpikir banyak rencana jahat untuk membalas dendam. "Bukankah kalian terlalu serakah teman-teman? Janji adalah janji."
"TIDAKK!!"
Bergerak cepat dengan langkah tertatih, Justin berusaha menghampiri istrinya yang semakin lemah karena tercekik.
Tubuh Edgar bahkan sudah terlepas dalam pelukannya. Beruntung saat itu Zeppa berhasil bergerak cepat, menangkap dan membawa Edgar pergi menjauh tetapi belum selesai sampai di situ.
"HENTIKAN ITU JAMES!!" teriak Justin marah.
Suara lolongan warewolf terlebih dahulu mengejutkan semua makhluk dalam kerajaan. Termasuk Zeppa.
"Estelyn!" pekik Justin terkejut.
Makhluk itu tertawa keras, sosok Justin bersimpuh tepat di hadapannya, sementara tubuh Estelyn berhasil lunglai dengan bekas cekikan di lehernya.
Menatap murka pada tubuh mungil Justin, sayapnya melebar dan membentang luas untuk terbang menyusul sosok Edgar yang perlahan menjauh dibawa pergi oleh Zeppa.
"Berhenti, Bocah!" teriak James kuat. Kepakan sayapnya berhenti saat sosok Zeppa berhasil dia bekukan dengan hentakan jari telunjuk.
"Lepaskan dia James!" Justin berteriak dari arah belakang. Sosoknya sudah tak lagi berwujud manusia, melainkan kelelawar besar berwarna hitam gelap.
Membalikkan badan untuk mencari sumber suara. James tertawa rendah. Sayapnya perlahan menutup ketika kepakannya berhasil membawa dia berpijak pada tanah.
"Kumohon lepaskan dia!" Bersamaan dengan suara lemahnya, Justin berubah wujud menjadi manusia lagi.
"Kau melanggar janji itu, Justin." Terisak, Justin mengangguk lemah dan meminta maaf. "Tapi, kumohon jangan bawa dia."
Mendengar nada memelas dari kawan lamanya, hati James sedikit tersinggung. Matanya memancarkan kilat amarah besar pada sosok lemah di hadapannya.
"Kau terlebih dahulu mengkhianati ku, maka kau juga harus merasakan kepahitan kehilangan."
"Aqua, Terra, Aer et Ignis. Ante te iuro exsecrari filium huius lamiae regis, fieri monstrum, qui perstat mihi atri sanguinis!"
Kutukan Sang Demon
_★_
"Aqua, Terra, Aer et Ignis. Ante te iuro exsecrari filium huius lamiae regis, fieri monstrum, qui perstat mihi atri sanguinis!" Guntur dan kilat langsung mencambuk langit malam yang gelap. ("Demi Air, Tanah, Udara dan Api. Di hadapan kalian aku bersumpah untuk mengutuk anak dari raja vampir ini agar nenjadi sosok monster yang meneruskan darah gelap ku!")
Sosok bersayap besar itu melebarkan telapak tangan di atas tubuh mungil Edgar yang tengah menangis meraung-raung kedinginan.
Munculnya kepulan asap berwarna ungu menjadi awal masalah bermula.
Sesaat sebelum dirinya menghilang karena teleportasi, James berkata pada Justin. "Jika kau tersiksa karena tak memiliki keturunan, maka aku tambahkan penyiksaan mu dengan mengambil keturunan mu satu persatu."
Tubuh Edgar menggigil di atas tanah. Tangisan juga isakan pilu menyatu dalam keheningan malam.
Sebuah simbol berbentuk bulan sabit terbalik berhias tanda salib besar terlihat memerah dengan darah segar yang mengalir.
Justin berteriak sedih. Menggendong tubuh putranya gemeteran, dia berlari cepat menuju selatan Meridiem, tempat para tetua tinggal.
Brak!
Tangannya membuka kasar pintu kayu kokoh di salah satu gubuk reyot. Matanya berkilat merah, sama seperti bulan pada malam ini yang masih memunculkan ronanya.
"Anak ku dikutuk," katanya bernada dingin.
Estelle, ayah Estelyn mendekati sosok gagah Justin yang mendekap erat tubuh Edgar. Melihat sang cucu perlahan memucat, tetua vampir itu memunculkan taring tajamnya.
"Kau melanggar perjanjian itu, Justin!" erang Estelle marah.
Laki-laki baya lain menghampiri untuk melihat kondisi Edgar. Melakukan hal yang sama, pria itu memunculkan taring tajam di giginya. "Kutukan ini tidak bisa dipatahkan," ungkapnya begitu tenang saat memberi informasi.
Tatapan sang raja menajam. "Tidak! Ini harus dipatahkan, hanya dia satu-satunya penerus ku!" tolak Justin mentah-mentah.
Ia tidak akan sanggup untuk kehilangan sang buah hati yang baru saja lahir di dunia. "Ku mohon, patahkan kutukan ini," pintanya memelas.
Estelle menggeleng tegas. "Bunuh dia, atau kembalikan ke kastel sang Demon," ujarnya tanpa ragu.
Justin meliriknya kesal. "Dia adalah putra ku. Tidak ada yang bisa membunuhnya atau aku yang akan membunuh kalian!" sentak sang raja vampir.
Seorang wanita vampir lain masuk, menengahi keributan di dalam gubuk itu. Katanya, "Jangan buat keributan! Bagaimanapun juga dia anakmu, penerusmu. Tetapi kami di sini sudah jauh lebih lama dari mu, kami jelas lebih tahu hal apa yang akan terjadi jika kau tetap mempertahankan anak ini, Justin."
Justin perlahan merosot turun. Kakinya terasa lemas begitu mendengar perkataan selanjutnya dari wanita cantik berumur ribuan tahun tersebut.
"Kutukan itu tidak bisa dipatahkan dengan cara apapun, kecuali ia memenuhi takdirnya sebagai penerus sang Demon."
Untuk pertama kalinya, gerhana bulan darah disambut tangisan deras awan yang begitu lebat. Disertai guntur memekak telinga, kilatan cahaya dari petir mencambuk langit gelap bagai lampu sorot.
"Ku mohon ... patahkan kutukannya."
Sementara di kastel kerajaan vampir sekarang, Estelyn baru saja terbangun dari kondisi kritisnya.
Ia yang belum sempat beristirahat, bergegas beranjak menyusul sang suami setelah mendengar kabar dari tabib.
Namun ketika kakinya hendak melangkah turun dari ranjang, sebuah tangan hangat menyapu pundaknya, memberikan rasa nyaman dan tenang untuk sementara waktu.
Senyuman manis ia tunjukkan pada Estelyn. "Jangan khawatir, Raja pasti bisa menanganinya," ujar Bellatrix hangat.
Ratu vampir itu jadi merasa sedikit lega. Keberadaan Bellatrix mampu menenangkan sedikit rasa khawatirnya. "Trimakasih, Bella."
"Sama-sama, Yang Mulia." Diam-diam, Bellatrix tersenyum simpul melihat reaksi positif dari Estelyn. "Harusnya aku yang berterimakasih, Estelyn," sambungnya dalam hati.
.
.
Ternyata kabar bahwa anak raja vampir dikutuk oleh sang demon sudah melebar luas ke seluruh penjuru dunia immortal. Termasuk Occidens, tempat dimana Raja Demon tinggal.
Ratu Estelyn meras begitu menyesal telah melahirkan Edgar setelah mengetahui fakta itu, berbeda dengan Raja Justin yang bersikap biasa-biasa saja seperti tak ada yang terjadi.
Berulang kali ratu mencoba membunuh anaknya sendiri, tetapi sang raja berhasil menghentikan niatannya tanpa mau menghukum.
Hal itu terus terjadi selama 19 tahun berturut-turut.
Sampai pada saat Justin kesal karena untuk kesekian kalinya Estelyn berusaha meracuni Edgar ketika jamuan makan malam kemarin.
"Raja, harusnya kau membunuhnya. Dia tidak bisa dinobatkan sebagai putra mahkota, kau tahu itu!" Dalam kamar besar mereka, Justin dan Estelyn tengah cekcok mempermasalahkan keberadaan Edgar kedepannya.
Sang raja berdecih, "Kenapa kau ingin sekali membunuh darah daging mu sendiri? Apa kau tidak pernah menginginkan anak itu?" tanya raja murka.
"Iya, aku tidak menginginkan anak itu sama sekali!" jawab Estelyn tegas. Ia kecewa karena anaknya dikutuk begitu saja oleh sang Demon.
Namun maksud Estelyn ditanggapi berbeda oleh sang raja. "Maksudmu kau tidak pernah menginginkan anak dari ku? Apa selama ini kau memiliki hubungan lain selain dengan ku?" tanya Justin murka.
Estelyn sontak membantah. Dia bahkan bersimpuh di hadapan Justin ketika dituduh begitu kejamnya oleh sang suami.
"Kenapa Raja bilang begitu? Aku tidak punya hubungan apapun selain dengan mu." Justin malah tertawa remeh. "Kini kau bersimpuh untuk pengampunan?"
"Tida— akh ..."
"Selama ini kau mengkhianati ku, Estelyn. Kau telah menjatuhkan kehormatan seorang ratu," ujar Justin menggebu-gebu. Tangannya bergerak untuk mencekik leher Estelyn lebih keras.
"Akh ... ti-dak, bu-kan begi-tu mak-sud ku ..."
"Kau ratunya. Mengkhianati raja dan rakyat adalah kesalahan seorang ratu, Estelyn. Kau harus menerima hukumannya!"
.
.
Beralih pada sosok Edgar.
Hidup di kalangan vampir kerajaan ternyata membuat jati diri Edgar sedikit tertutupi.
Terlalu lama dilindungi oleh sosok ayah, menjadikan Edgar sebagai sosok manja karena sikap protektif Justin pada dirinya. Hingga akhirnya Edgar tumbuh layaknya vampir normal namun dengan sifat sedikit rewel.
Hanya saja, diusianya yang memasuki usia matang. Perilaku Edgar sering berubah-ubah. Terkadang kemampuannya melebihi orang-orang di sekitarnya. Hal itu juga yang membuat raja dan ratu takut.
Klang!
Prang!
Pedang panjang itu terhunus tepat pada sebuah pot bunga di sisi Edgar. Menatapnya malas, tangan laki-laki itu bergerak menghancurkan pot tanpa menyentuhnya.
"Bukankah kau terlalu arogan, Pangeran?" Sosok Bellatrix muncul dari balik tembok. Wanita muda itu sangat tertarik pada sosok Edgar semenjak hari kelahirannya.
Dia berjalan mendekat, "Kau harus istirahat, Pangeran," ujar Bellatrix lagi. Namun, sama seperti sebelumnya, wanita iu diacuhkan oleh Edgar.
"Ayolah—"
"Berhenti bicara Bellatrix, cukup aku yang tahu bahwa kau adalah pengkhianat di kerajaan vampir ini!" sela Edgar penuh penekanan.
Bellatrix terdiam. Wajahnya membeku, begitu juga tubuhnya. Lalu di detik berikutnya, senyum seringaian tercetak tanpa ditutup-tutupi. "Oh, wow. Aku tersanjung kau mengetahui identitas ku, Pangeran."
Edgar lagi-lagi mengacuhkan keberadaannya. "Tapi apa kau tahu siapa orang yang mengutus ku?"
"Memangnya apa peduli ku?" tanggap Edgar acuh.
"Ayolah, kau, kan, memiliki simbol sang Demon. Tidak bisakah kau menebaknya?"
Melarikan diri
_★_
"Ayolah, kau, kan, memiliki simbol sang Demon. Tidak bisakah kau menebaknya?"
Edgar membatu di tempat. Kata-kata yang baru saja Bellatrix lontarkan membuat saraf otaknya membeku seketika.
Yang dimaksud simbol adalah tanda lahir di dahinya, bukan? Tapi, Justin selalu berkata bahwa saat lahir dahinya di ukir semacam simbol oleh para tetua untuk kehidupan panjang.
"Apa maksud mu?" tanya Edgar tak suka. Matanya memicing tajam pada sosok mungil Bellatrix yang tengah tersenyum menatapnya. "Kau tidak tahu? Di dahimu itu ada simbol sang Demon, simbolnya akan menyala sampai kutukan itu dibayar."
Brak!
"Katakan sekali lagi maka kepalamu akan terlepas!" ancam Edgar tak main-main. Cengkraman di leher wanita itu mengerat.
Bukannya merasa takut dan kesulitan bernafas, Bellatrix justru merasa ini hal yang menyenangkan. Dia semakin tersenyum penuh arti.
"Kau. Bukanlah. Penerus. Raja. Justin," ejanya penuh penekanan.
Menghembuskan nafas kasar, Edgar memilih mendinginkan kepala. Ia melepas cengkraman tangannya secara kasar dan berlari masuk ke dalam kastel.
Dalam batinnya ia sudah berteriak, memohon bahwa fakta yang Bellatrix beritahukan tadi hanya tipuan semata. Tetapi di halaman berada, Bellatrix tersenyum penuh arti dengan aura negatifnya yang menguar tanpa ditutup-tutupi.
Baru saja kakinya melangkah masuk ke dalam kamarnya, suara seruan dari para penjaga dan ibunya terdengar nyaring di sepanjang koridor.
Edgar tak bisa memendam rasa keingintahuan nya. Maka setelah kembali menutup pintu kamarnya, Edgar berjalan menuju sisi kanan koridor yang langsung mengarahkan nya pada ruangan besar sang ayah.
Tok! Tok!
Tak ada respon, namun suara ibunya semakin menjerit kesakitan. Edgar bisa merasakan ada rasa panas di sekitar lehernya setiap kali mendengar jeritan itu.
Ceklek. Pintu dibukanya tanpa permisi. Ruangan gelap langsung menyambut indra penglihatan nya. Edgar berdecak.
"Apa aku berhalusinasi?" gumamnya tak habis pikir.
Karena Edgar terlanjur ada di sini. Pria itu memilih mengitari ruang kerja Justin sendirian.
Menilik dan mengamati setiap jengkal benda-benda di sana ternyata membuat Edgar cukup merasa tenang. Terutama pada sebuah benda kuno yang tergeletak di atas buku besar bersampul lusuh.
"Apa ini? Bentuknya mirip dengan simbol di dahi ku." Tangannya meraba dan meraih benda itu. "Apa benar ... aku dikutuk oleh sang Demon?" gumamnya bernada datar.
Melirik buku di atas meja. Jemarinya dengan lentik membolak-balikan halaman utama dan membaca setiap kata yang tertuang dalam hitungan detik.
"Bulan berdarah? Occidens? Apa arti semua kata-kata ini—"
"Bunuh saja dia!"
"Ya, turunkan dia dari takhta kerajaan!"
"Hukum gantung, dia harus di hukum!"
Teriakan dari luar kastel berdengung di telinga Edgar. Matanya menangkap atensi para rakyatnya tengah beramai-ramai mendemo halaman kerajaan untuk sesosok familiar.
"Ibu?"
Edgar segera berteleport mendekat kerumunan. Sosok pertama yang dicarinya adalah Justin, sang ayah.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanyanya pada sosok tegas Justin yang sudah berada di hadapannya. "Ibumu berkhianat."
"A-apa?"
.
.
Edgar berdiri mematung. Nafasnya terdengar tersengal. Pikirannya mendadak kacau semenjak percakapan terakhirnya bersama Bellatrix siang tadi.
Kini ada banyak yang dia sesali. Ada perasaan yang janggal dalam benaknya hingga membuat dirinya terpaksa melarikan diri dari Kerajaan Vampir.
Sosok hitam besar di tengah rimbunnya hutan tadi menambah rasa khawatir Edgar. Terlebih sosok Estelyn berusaha membunuhnya secara terang-terangan saat para pengawal hendak membawanya ke halaman kerajaan.
Setelah peristiwa hukuman sang ibu gagal. Edgar melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sosok-sosok yang selama ini ada di dekatnya, berusaha keras untuk menyingkirkan dirinya.
Sekarang hari sudah malam. Kakinya yang tak beralaskan apa-apa tergores banyak ranting juga batu hingga menimbulkan rembesan darah segar.
Kepala Edgar terasa berdenyut. Bayangan bulan purnama kini menyinari tubuhnya. Lolongan para werewolf menemani kegelisahan nya. Laki-laki itu mendesah pelan.
Memilih beristirahat di dekat batu besar, Edgar duduk dengan perasaan waswas. Indra pendengaran nya menajam, menangkap atensi dari sosok lain yang perlahan mendekati.
Kembali bangkit, gigi-gigi Edgar mengeluarkan taring tajamnya. "Siapa kau?" cetusnya tak suka.
Semakin merasakan sosok lain telah dekat. Edgar menajamkan pengelihatan nya. "Hoho anak muda, tenanglah ...," ujar seorang wanita.
Melihat Edgar bersiap menyerang, wanita itu keluar dari bayangan gelap hutan tropis. Bellatrix.
Sosok yang selama ini Edgar acuhkan padahal ia tahu fakta bahwa Bellatrix adalah penyusup. Pria itu berdesis, "Mau apa lagi kau?"
"Tenang, Tuan ku. Aku datang untuk menjemput mu pulang ke istana Raja Demon." Bellatrix berjalan mendekat.
Dari situlah, Edgar menangkap sosok muda Bellatrix perlahan berubah menjadi wanita baya yang anggun dengan gaun mewah khas seorang bangsawan.
Edgar berdecih, "Aku bukan Demon!" tekannya penuh amarah. Namun, Bellatrix memberi tanggapan remeh sehingga Edgar mau tak mau melayangkan serangkaian serangan tak kasat mata yang membuat Bellatrix tersungkur tanpa perlawanan.
"Sepertinya kau hanya pesuruh? Apa Raja Demon memberimu kekuatan atau semacamnya?" cetus Edgar.
Bellatrix tersenyum, nampak tak terusik dengan kata-kata cetusan Edgar. "Memang, aku hanya utusan Raja ku."
Mendengar hal itu, simbol kutukan di dahinya menyala terang. Seakan ada sebuah panggilan yang mengharuskan Edgar mengikuti jejak Bellatrix yang perlahan pergi menjauh.
"Aku tidak akan ikut!" tegasnya lagi.
"Simbol itu akan terus menyala sampai kutukannya terpenuhi," ujar Bellatrix memberi tahu. Seolah tak peduli, Edgar berteleportasi guna melarikan diri dari kejaran pasukan vampir dan utusan sang demon.
"Oho, seolah selama ini kau telah mengawasi kami dari pertama kali?"
"Kau benar, itu juga yang menjadi latar belakang mu lahir."
"Sialan. Apa kau tidak—"
"Ibumu dikurung di penjara, itu semua karena ulahmu, Edgar."
"JAGA UCAPAN MU, BELLATRIX!"
Sepasang netra kelamnya malah menangkap sosok bayangan hitam itu, lagi. Dia berdiri menjulang di antara padatnya pohon yang tumbuh merimbun.
Edgar bergidik ketakutan, ketika sosok itu merubah wujudnya menjadi bentuk manusia. Apalagi sosok Bellatrix menundukkan kepala di hadapan sosok itu.
"Mundur. Ku peringatkan kau untuk mundur!" perintah Edgar bergetar. Apa sosok ini adalah sang Demon? batinnya bertanya-tanya.
Tiba-tiba saja dahinya terasa terbakar. Bahkan simbol Edgar sampai berdarah karena rasa panas itu. "Menjauhlah!" pekik pemuda itu ketakutan.
Menyunggingkan senyum seringaian, makhluk paling ditakuti banyak kalangan immortal itu berjalan mendekati, dia berbicara pada Edgar tentang sesuatu. "Meus es es , symbolum mansurus es , dum fatum tuum non imples."
Edgar tak bisa mengerti apa-apa selain kata, symbolum, fatum dan imples. Arti dari kata itu adalah simbol, takdir, dan memenuhi.
Apa maksudnya, aku harus memenuhi takdir ku? batinnya histeris.
"Successor meus, maledictionem tunc non sustinebis," peringat James.
Menatap kosong ke arah sosok di hadapannya, Edgar masih mencoba mencerna perkataan yang memasuki kepalanya.
"Fatum nego, non me cogis. Habeo invenire soror mea!" Kemudian tubuhnya terasa dihisap oleh lingkaran hitam besar. Sihir ungu terus menyelimuti tubuhnya dan ia sampai di rumah ini. Rumah seorang gadis—
Tunggu, seorang gadis?
"Kau baik-baik saja? Sudah merasa baikan?"
"A-apa yang ter-jadi?"