Bab 1

Columbia univesity, New York

Terdengar suara jeritan dan rintihan dari seorang gadis menggema di sebuah ruangan kosong yang sudah tak terpakai di salah satu area kampus tempat gadis itu menempuh pendidikannya.

"Arggghhhh ...

Srettttt...

Krettttt...

Brakkk...

Plakk

Beragam Pukulan, tamparan, gadis itu dapatkan hingga berulang kali tanpa tahu letak kesalahannya.

Bau anyir yang menyengat menyeruak tajam ke dalam rongga hidung akibat tamparan keras menggores sudut bibirnya.

Tidak hanya goresan di sudut bibir mungilnya, luka lebam gadis itu juga dia didapatkan, hingga wajah cantiknya hampir tak terlihat, penuh dengan luka lebam dan darah yang mengalir deras.

"Hiks ... Hikss ... Hiksss ....

"Kenapa kau selalu menyiksaku, apa sebenarnya kesalahanku padamu, aku tidak pernah melakukan apapun, tapi kau selalu saja berbuat kejam dan menyakitiku,"ucap Quinza dengan isakan tangisnya.

"Sudah berapa kali aku memberitahumu, hah!!!"Axton mencengkram kedua pipi gadis itu, "aku tidak suka kau berbaur dengan pria lain ataupun berdekatan dengan pria lain, kau telah mengabaikan ucapanku, sugar. Jadi terimalah akibatnya sekarang, hukuman ini pantas untuk gadis pembangkang seperti dirimu.

Krett...

Srettt...

Axton membuka paksa pakaian yang dikenakan Quinza dan merobeknya dengan sekali hentakan kuat. Quinza hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan. Kini tubuhnya sudah sangat lemah tidak berdaya di bawah kungkungan Axton. Pria yang tengah menatapnya tajam sambil mengucapkan, sebuah kata yang sangat mengerikan untuknya.

"This is your punishment, a punishment that you will remember all your life, jika kau melakukan kesalahan satu kali lagi, i will kill All your family ingat itu baik-baik Quinza Zalene!"Peringatan Axton menekankan setiap kata yang Axton ucapkan tanpa melepaskan tatapan mata tajamnya

"Don t be playing game with me."

Setelah Axton mengucapkan kalimat sakral, Axton memulai aksinya, mencium bibir mungil Quinza yang robek atas tindakan brutalnya, menjelajahi seluruh rongga mulut Quinza, merapat dirinya ke Quinza bahkan tangannya pun ikut menyentuh bagian tubuh sensitif Quinza dengan cara yang kasar tanpa adanya kelembutan, ciuman itu berpindah ke arah leher jenjang milik Quinza, menghisap dan memberikan kissmarknya di leher jenjang Quinza, tangannya yang tadi menyentuh bagian tubuh sensitif Quinza berpindah ke arah dua buah dada Quinza, memegang meremas dan memainkan nipple pink milik Quinza. Hingga bibirnya ikut bermain di dada Quinza

Gairah Axton pun sudah semakin menjadi, Axton sudah tidak bisa menahan lagi hasrat yang timbul dalam dirinya, dengan sekali hentakkan miliknya, Axton merobek pusat kewanitaan milik Quinza, hingga berkali-kali Axton melakukannya.

Quinza hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suaranya, Quinza merasa jijik dengan dirinya sendiri, disiksa bahkan diperkosa oleh dosennya sendiri yang terobsesi pada dirinya.

Setelah Axton mendapatkan semuanya, Axton pergi meninggalkan Quinza yang sudah tidak berdaya.

Tak ada rasa bersalah dalam diri Axton, bagi Axton itu adalah hukuman yang pantas untuk Quinza, agar Quinza tidak bermain-main dengan dirinya.

***

Columbia university, New york

Desas-desus terdengar kabar di seluruh kalangan mahasiswa tentang dosen baru yang akan mengajar di universitas ini, banyak dari mereka berantusias ingin melihat langsung ketampanan sang dosen, terutama para mahasiswi.

Tapi tidak dengan salah satu mahasiswi cantik yang bernama Quinza Zalene Aleandra Martinez, anak ke tiga dari pasangan Matteon martinez dan Veronica Martines, Quinza sama sekali tidak tertarik ataupun berantusias seperti mahasiswi lainnya, bagi dirinya semua dosen itu sama, sama-sama mengajar dan membagi ilmu mereka untuk para siswa dan siswi di universitas ini.

"Ku dengar dosen baru kita sudah berada di sini, apa kau tahu fakultas mana dosen itu mengajar.

"Aku melihat dosen baru itu, sial, dosen baru itu sangatlah tampan, aku siap untuk menghangat kan ranjangnya setiap hari.

"Dosen itu, uhhh!! sangatlah sexy! apalagi dengan bentuk tubuh atletisnya dan dada bidang yang membuat wanita berfantasi liar.

"Aku melihat cara dia berjalan, menatap, bahkan tatapan dinginnya membuatku terpesona.

"Bukan hanya tampan, dosen itu benar-benar sexy.

Itulah yang selalu di dengar Quinza, Setiap kali Quinza berjalan, melewati para mahasiswi itu, mereka selalu saja membicarakan dosen baru yang sekarang menjadi salah satu idola mereka saat ini.

"Apa mereka tidak ada kegiatan lain, selain membicarakan dosen baru itu, ya Tuhan lama-lama kupingku panas mendengar pembicaraan mereka,"ucap Quinza dalam hati, merasa jengah mendengar mereka tentang dosen baru itu.

Di saat itu pula Quinza mendengar teriakan sahabatnya, memanggil Quinza dengan suara lantangnya.

"Quinza ... Quinza ... Wait, kenapa kau jalan cepat sekali, huh!!"ucap Felicia sahabatku,"Apa kau tidak mendengar, aku meneriakimu dari tadi hah! Teriak Felicia kesal.

Mendengar Felicia berteriak membuat kuping Quinza semakin panas, kupingnya pengang. Apa sahabatnya itu sekali saja tidak berteriak memanggil namanya. Sungguh Quinza sangat malu jika sahabatnya itu memanggilnya dengan cara berteriak. Kesal Quinza, merutuki sahabatnya yang selalu saja berteriak jika quinza tidak menyahuti panggilannya

Tepat di saat Quinza akan berbalik badan menoleh ke arah Felica, Quinza menabrak dada bidang seorang pria.

Brukkk...

Quinza terjatuh tepat di depan pria itu, dengan kesal Quinza memaki pria yang menabraknya. "Apa kau tidak punya mata, sampai kau menabrakku hingga aku terjatuh dan kau tidak ada niatan untuk membantuku berdiri, brengsek!!

"Kau menuduhku seolah-olah aku tidak mempunyai mata, justru yang harus disalahkan adalah kau, di mana letak matamu sampai kau berbalik badan tidak melihat aku yang sudah berada di depanmu,"jawab pria itu santai, tanpa mau membantu Quinza berdiri, dan mensejajarkan dirinya di depan Quinza begitu dekat, hingga pria itu membisikan sesuatu pada Quinza

"Jangan pernah mengeluarkan kata kasar dari mulut cantikmu jika kau tidak tahu seberapa brengseknya aku, dan ingat satu hal kau tidak akan pernah lepas dariku, sugar?"Pria itu pergi meninggalkan Quinza yang mematung di tempatnya.

Quinza mematung mendengarkan ucapan terakhir dari pria itu, tanpa sadar, Quinza sudah menjadi pusat objek para mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di area kampusnya.

Bisik-bisik terdengar jelas dari indra pendengaran Quinza membangunkan Quinza dari lamunannya tentang kejadian itu, banyak di antara mereka yang kasihan pada Quinza, ada pula sebagian dari mereka mencemooh Quinza atas kecerobohan dan makian Quinza. Pada dosen barunya.

"Ya Tuhan. Quinza apa yang kau lakukan hah, apa kau tidak tahu siapa pria yang kau tabrak tadi, apa kau mau menjadi pusat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini, cepat bangun!"ucap Felicia, mengulurkan tangannya untuk membantu Quinza berdiri.

"Kau membuat gempar seluruh kampus ini dengan makianmu Quinza, apa yang ada di otak cantikmu sehingga kau memaki dosen baru itu, Quinza,"tanya Felicia tidak habis pikir dengan sahabatnya ini, memaki dosen barunya yang menjadi idola para mahasiswi di kampus ini.

Quinza tercengang mendengar penuturan sahabatnya, hingga Quinza terdiam mematung di tempat yang sama, tanpa disadari Quinza, seorang pria melihat Quinza dari kejauhan dengan senyum yang sulit diartikan, "Menarik.

Felicia mengguncangkan bahu Quinza agar sahabatnya tersadar dari lamunannya "Heii ... Are you okay, kenapa kau diam, apa ada sesuatu yang mengusik pikiranmu, hah!!"tanya Felicia curiga, melihat Quinza terdiam seperti ini.

"I m okay, jadi pria itu, dosen baru di kampus ini?

"Hmm, pria yang kau tabrak dan kau maki itu adalah dosen baru kita, sekaligus dosen pembimbing kita, ku dengar dari beberapa senior kita, dosen baru itu sangatlah killer dia tidak segan-segan menghukum para muridnya jika tidak mengikuti peraturan yang dibuat,"jelas Felicia

"Sudahlah lebih baik kita masuk kelas sekarang, waktu kita tinggal 5 menit lagi, aku tidak mau kena hukuman di hari pertama dosen itu masuk ke kelas kita,"Felica lekas menarik tangan Quinza meninggalkan tempat itu.

Mata pelajaran pertama pun dimulai, para mahasiswi yang berada di kelas itu merapikan tatanan make-up dan penampilannya untuk sang dosen baru, ada juga yang sengaja membuka kancing bajunya untuk memperlihatkan buah dada mereka.

Hingga pintu kelas pun terbuka menampilkan sang dosen yang sedang berjalan di kelas mereka dan berhenti tepat di depan para mahasiswa dan mahasiswinya, tanpa berbasa-basi dosen itu memperkenalkan dirinya dan memberikan peraturan dalam kelasnya.

"Saya Axton Alarich Jacob, kalian bisa memanggil saya Mr.Axton, di kelas ini saya adalah dosen pembimbing kalian yang baru menggantikan Miss Renata, dan saya sudah membuat peraturan untuk kelas saya ini, pertama saya tidak suka dengan mahasiswa atau mahasiswi yang telat di kelas saya, kedua saya tidak suka dengan mahasiswa atau mahasiswi yang lalai dalam memberikan tugas yang saya pinta, ketiga saya tidak suka jika saya sedang mengajar di antara kalian tidak mendengarkan penjelasan saya jika ada mahasiswi atau mahasiswa yang tidak mau mengikuti peraturan saya, kalian bisa angkat kaki dari kelas ini atau nilai akhir dari semester ini tidak akan saya berikan dan kalian akan mengulanginya tahun depan?"ucap Axton dengan tegas.

Setelah Axton memberikan peraturan untuk mahasiswa dan mahasiswinya, kelas yang Axton bimbing pun dimulai, Axton memberikan penjelasan tentang pembelajaran yang Axton berikan pada mereka, tidak ada satupun dari mereka yang berani ribut di kelas Axton, mereka tidak berani membantah peraturan Axton, mereka tahu konsekuensi apa yang mereka dapat jika melanggar peraturan yang Axton buat.

Kelas Axton pun berakhir, para mahasiswa dan mahasiswi pun berbondong-bondong keluar dari kelas mereka, adapun dari mereka secara terang-terangan menggoda sang dosen untuk menghangatkan rahimnya.

Tak lama mereka pun keluar dari kelas, meninggalkan Quinza dan Axton disana, suasana di kelas itu terasa canggung, hingga Quinza melihat tatapan Quinza yang sulit diartikan, dengan cepat Quinza membereskan buku-buku pelajarannya, tanpa mau melihat tatapan Axton yang sangat mengerikan untuk Quinza.

"Aku bersyukur kau salah satu mahasiswiku, jadi aku bisa mengawasimu setiap hari, dan ingat perkataanku tadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu dari pandanganku, Quinza,"ucap Axton, sembari melangkah menghampiri Quinza yang enggan menatapnya.

Tap

Tap

Tap

Axton menghampiri Quinza, yang masih terdiam di mejanya, Axton membalikkan tubuh Quinza, dengan tangannya, sampai tatapan mereka bertemu tanpa melepaskan cengkraman tangannya di pundak Quinza.

Axton memperhatikan setiap inci wajah cantik Quinza tanpa melepaskan tatapannya di bibir mungil Quinza.

"Apa yang akan Anda lakukan, lepaskan cengkraman Anda.

"Menurutmu sugar, apa yang bisa aku lakukan padamu, kita bisa bersenang-senang di sini, bukan kah itu hal yang sangat bagus?

"Brengsek, apa maksud dari perkataan anda tuan Axton, kau dosen pembimbingku, seharusnya kau memberikan contoh yang baik untuk mahasiswimu?"ucap Quinza geram, mendengar ucapan Axton yang membuatnya berang. Marah. Kesal

"Kau bilang aku brengsek, aku akan memperlihatkan seberapa brengseknya diriku."

Di detik itu juga Axton mencium Quinza dengan kasar, dominan, Quinza tidak bisa melawan Axton karena dirinya dikukung oleh kedua tangan Axton dan posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Quinza berada di sudut meja belakang kelasnya.

Bab 2

Axton semakin merapatkan tubuhnya, menghirup aroma lavender yang melekat dari tubuh Quinza, dan mencium Quinza lebih dalam lagi.

Tidak sampai disitu, tangan kanan Axton pun sudah memegang bokong sintal milik Quinza meremas bokong Quinza dengan kasar, hingga tangan Axton pun turun ke bawah mengelus paha quinza yang mulus, menyingkap rok Quinza agar Axton lebih leluasa mengelus bagian dalam paha Quinza.

Axton yang sudah di selimuti gairah melepaskan ciumannya tanpa memper kikis jarak antara mereka, memberikan Quinza ruang untuk menghirup udara sebanyak banyak nya, tanpa melepaskan pandangannya ke arah Quinza.

Melihat sudut bibir Quinza berdarah, Axton menghapus darah yang berada di sudut bibir mungil Quinza dengan ibu jarinya, dan mengatakan sesuatu pada Quinza.

“Itu baru permulaan sugar, jika kau berani terhadapku bahkan kau berani bermain dengan ku, aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari pada ini,” ucap Axton, menatap Quinza tajam, dan pergi meninggalkan Quinza yang sudah terisak atas perbuatannya.

Quinza terisak dalam diamnya, tidak berani untuk membalas ucapan Axton, bagi Quinza axton terlihat seperti malaikat dari luar tetapi jika dilihat lebih dalam lagi Axton seperti devil. Like an angel and devil itulah yang berada di dalam pikiran Quinza.

Merasa dirinya sudah sedikit tenang, Quinza segera pergi dari kelasnya tanpa mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Axton pun hanya menatap kepergian Quinza dari kejauhan sampai punggung gadis itu menghilang. Dari hadapannya.

••••••••

Quinza menjalankan mobil audi R8 miliknya menuju salah satu tempat yang sering quinza kunjungi untuk menenangkan pikirannya yang sedang kacau.

Beberapa menit kemudian, Quinza sampai di tempat tujuannya, di sebuah tempat yang selalu bisa menenangkan hati dan pikirannya, dengan cepat Quinza membuka pintu mobilnya dan keluar, tidak sabar untuk menemui seseorang

Setibanya di halaman rumah yang sangat sederhana, seorang wanita paruh baya telah menunggu Quinza di depan pintu, Quinza langsung memeluknya, menenggelamkan kepala di ceruk leher wanita itu.

"Aku merindukanmu, maaf, aku jarang sekali menemuimu, bagaimana dengan kabar mu bibi elia dan juga anak anak panti disini?" tanya Quinza, ya sekarang ia berada di salah satu panti asuhan di kawasan New York, letaknya tidak terlalu jauh dari kampus Quinza, tempat yang sering Quinza kunjungi, menemani anak anak yatim yang kehilangan keluarganya atau dibuang dari keluarganya.

"Bibi baik darling, anak anak di panti ini juga sangat baik, mereka selalu menanyakan mu dan merindukan mu, masuklah dan temui mereka, mereka sedang bermain di halaman belakang." jawab bibi Ellia wanita paruh baya berusia 54 tahun, pengurus dan pemilik panti tersebut.

Quinza tersenyum sebagai jawabannya lalu masuk kedalam rumah panti menuju halaman belakang, melihat anak anak panti yang sedang bermain, hati dan pikiran quinza menjadi hangat melihat mereka yang sedang asyik bercengkrama dengan anak anak panti lainnya

"Apa aku mengganggu kalian semua yang sedang asyik bermain?" tanya Quinza, tersenyum pada anak anak panti, yang mendengar ucapannya, salah satu di antara mereka bernama emi menghampiri Quinza, memeluk kaki quinza dengan manja.

"Kenapa kamu jarang datang kesini, aku sangat merindukanmu juga masakan mu," Ucap Emi manja. Pada Quinza

Quinza terkekeh mendengar ucapan Emi, "ckk.. Really Emi, kau merindukan ku hmm?" Tanya Quinza, mensejajarkan tingginya pada emi, sambil mengacak rambut blonde milik Emi dengan tangannya,

"jika kau merindukan ku, berikan aku satu buah kecupanEmi, dan aku akan memasak makanan kesukaan kalian, bagaimana apa kalian setuju"

Anak panti bersorak gembira mendengar quinza ingin memasak untuk mereka. Elia ikut senang melihat mereka bergembira, sudah lama rasanya tidak melihat anak anak panti seperti ini.

"Thanks Quinza, kau membuat mereka begitu gembira hari ini," ucap bibi Elia tersenyum pada Quinza.

Quinza menoleh ke arah samping kanannya, melihat bibi elia sudah berada di sampingnya, Quinza tersenyum mendengar ucapan bibi elia lalu Quinza memeluk bibi Elia, "bibi tidak perlu berterima kasih, itu sudah menjadi kewajiban ku untuk menghibur mereka dan membuat mereka tersenyum bahkan bergembira, bagi ku mereka semua adalah nya malaikat malaikat ku, penawar rasa lelah ku disaat aku membutuhkan ketenangan, aku sangat menyayangi mereka, merekalah penyemangat ku bibi," kata Quinza yang sudah terisak di atas pundak bibi elia.

"Don't cry honey, kamu bisa menceritakan keluh kesah mu pada ku, kau sudah kuanggap seperti anak kandung ku sendiri, berbagilah kesedihanmu, aku sangat senang jika kamu menceritakan semuanya."

Quinza beruntung ada seseorang yang masih mau memperdulikannya di saat Quinza membutuhkan teman bercerita.

Tidak terasa Quinza menghabis kan waktu nya bersama mereka panti asuhan, mengajarkan anak-anak menulis dan membaca, sampai mengajarkan anak anak panti bermain piano. Hingga hari pun sudah mulai gelap, hingga Quinza pamit pada mereka dan pada bibi Elia.

"Ingat kalian jangan nakal dan menyusahkan grandma Ellia, aunty pamit pulang, minggu depan aunty mengunjungi kalian lagi," pamit Quinza pada mereka.

Quinza yang hendak menaiki mobil nya mendengar suara pertikaian tidak jauh dari rumah panti asuhan itu.

©©©©©©

"Ku mohon tuan, maafkan saya, saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia itu pada orang lain.

"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu, kau salah mencari musuh, kau tau bukan siapa aku, aku tidak akan segan membunuh seseorang yang berani berkhianat dengan ku.

Pukulan, tendangan bahkan sayatan dan tusukan dia berikan pada orang itu sampai terkulai lemas, melihat orang itu sudah tidak berdaya , dia pun tertawa menarik rambut orang itu sampai mendongakan kepala ke arahnya.

"Kau dengar baik-baik perkataan ku, aku tidak akan puas jika orang yang aku siksa dengan mudahnya mati begitu saja, dan ini baru permulaan aku menyiksamu." Ujar Axton dengan intonasi suara dingin

Suara teriakan menggema di sepanjang jalan yang terlihat sepi, tidak ada satu orang pun yang melintasi jalanan itu.

Quinza yang baru pertama kali melihat kejadian itu pun terkejut sampai dirinya menutup mulut dengan kedua Telapak tangannya.

Quinza menyaksikan dengan begitu seksama. Melihat, bagaimana cara dia menyiksa orang itu sampai kondisinya lemah tak berdaya.

Tidak sampai disitu, Quinza melihat orang itu yang sudah terkapar lemah, diberikan siksaan yang lebih parah bahkan tidak segan orang yang menyiksanya itu, memberikan goresan dan tusukan yang bertubi tubi.

"Jangan pernah bermain dengan ku, jika kau hanya ingin menemui neraka mu, hahahaha, bagaimana rasanya, apa kau masih ingin mendapatkan siksaan dari ku lagi, atau kau menyerah untuk langsung ku bunuh"

"Ckkk.. kau memang iblis berbentuk malaikat, Bunuhlah lah aku sekarang juga, dari pada kau terus menyiksaku seperti ini."

Mendengar permintaan nya, pria pun langsung membunuh orang itu dengan menikam jantungnya bertubi-tubi dan terakhir menembak orang itu dengan menggunakan handgun tepat di bagian kepalanya.

Axton tersenyum puas saat melihat korbannya mati secara mengenaskan di tangannya.

Bab 3

Langit sudah mulai senja, Axton pun bergegas pergi meninggalkan kampus tempat dirinya mengajar, belum sempat Axton membuka pintu mobil suara dering ponselnya berbunyi. Axton segera mengangkat ponsel nya yang terletak di celana panjang miliknya, tanpa melihat nama sang penelepon.

"Katakan ada apa kau meneleponku?" tanya Axton tanpa mau basa-basi.

"Bagaimana bisa..? apa yang kalian kerjakan hah?!"

"Aku tidak mau tahu kau urus penghianat itu sampai aku datang kesana dan kirimkan lokasi nya pada ku sekarang juga, pastikan pria itu tidak kabur," Axton memutuskan panggilan sepihaknya, tanpa mau mendengarkan ucapan si penelepon lagi

Setelah memastikan sambungan telepon ia matikan, axton melihat lokasi yang baru saja ia terima dari salah satu sahabatnya.

Lokasi itu tidak begitu jauh dari tempat ia berada, hanya perlu mengendarai kuda besi nya selama 30 menit.

Setelah memastikan sambungan telepon ia matikan, Axton melihat lokasi yang baru saja ia terima dari salah satu sahabatnya.

Lokasi itu tidak begitu jauh dari tempat ia berada, hanya perlu mengendarai kuda besi nya selama 30 menit.

••••••••

Di tempat lain Dom yang ditugaskan Axton untuk menjadi pemimpin mereka sampai axton datang menyuruh anak buah nya untuk terus memata matai gerak gerik pria itu.

Sayangnya gerak-gerik anak buah Axton dan Dom diketahui oleh pria itu. Pria itu buru-buru berlari dan berhasil lolos dari anak buah Dom. Tepat disaat pria itu ingin bersembunyi, Axton sudah berada di depan tubuhnya, ia tidak mampu berbuat apa apa jika sudah berhadapan dengan Axton apa lagi melihat tatapan Axton seperti elang yang siap memangsa korbannya.

Pria itu hanya bisa menelan saliva kasar nya berharap jika Axton mau melepaskannya.

"Ku mohon tuan, maafkan saya, saya berjanji tidak akan membocorkan rahasia itu pada orang lain.

Axton hanya diam mendengar permohonan pria itu untuk di lepaskan, tapi sayang nya axton bukanlah pria yang mau menuruti permintaan bodoh pria itu.

Lagi lagi pria itu memohon pada axton untuk melepaskan nya. "Tolong tuan maafkan saya, saya mohon, saya akan melakukan apa pun yang tuan inginkan, tapi tolong tuan lepaskan saya, pria itu membujuk axton agar ia terlepas dari cengkraman Axton.

Axton pun tertawa di depan pria bodoh itu sambil memicingkan matanya, hingga axton menarik kerah baju pria itu, sambil membisikan sesuatu padanya.

"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapanmu, kau salah mencari musuh, kau tau bukan siapa aku, aku tidak akan segan membunuh seseorang yang berani berkhianat dengan ku." ucap Axton menegaskan ucapanya pada pria yang berada di depannya.

Axton yang sudah emosi memukul pria itu, menendang bahkan sayatan dan tusukan ia berikan pada pria itu sampai pria itu terkulai lemas, melihat orang itu sudah tidak berdaya , ia pun tertawa menarik rambut orang itu sampai mendongakan kepala ke arahnya.

"Kau dengar baik baik perkataan ku, aku tidak akan puas jika orang yang aku siksa dengan mudahnya mati begitu saja, dan ini baru permulaan aku menyiksamu, dan sekarang saatnya untuk mu merasakan neraka yang kau ciptakan sendiri." ucap axton dengan suara dinginnya.

Axton kembali melayangkan pukulan ke wajah pria itu dan menendangnya sangat keras Sambil berteriak pada pria itu "jangan pernah bermain dengan ku, jika kau hanya ingin menemui neraka mu sendiri, bagaimana rasanya, apa kau masih ingin mendapatkan siksaan dari ku lagi, atau kau menyerah untuk langsung ku bunuh."

Pria itu masih bisa terkekeh setelah mendapat siksaan dari Axton dan meminta axton untuk segera melenyapkannya. "Ck.. kau memang iblis berbentuk malaikat, Bunuhlah lah aku sekarang juga, dari pada kau terus menyiksaku seperti ini" kata pria itu

Sesuai dengan permintaan pria itu, axton pun menikam pria itu di jantungnya dan terakhir axton meletupkan handgun nya tepat di kepala pria itu.

©©©©©©©©

"Arghhhhhh!!!" Teriak Quinza mendengar suara letupan senjata yang tidak jauh dari tempat nya berdiri, tubuh quinza lemas begitu saja ia tidak mampu menompangkan kedua kakinya, tubuh nya terasa kaku di saat ia menyaksikan bagaimana pria itu membunuh tanpa adanya rasa belas kasihan.

Axton yang mendengar suara teriakan seorang wanita di dekat lokasi itu memutuskan untuk mencari tau siapa pemilik suara itu.

dengan langkah yang sangat tenang axton menghampiri sumber suara itu dan melihat sesosok gadis yang mematung di tempatnya.

Hingga Pandangan mereka bertemu, Axton yang manatap Quinza dengan tenang sambil berjalan mendekati Quinza.

Sedangkan Quinza menatap Axton dengan rasa takut yang menyelimuti dirinya, sampai Quinza pun terkukung di antara kedua tangan Axon

Axton yang sudah berdiri di depannya melontarkan Sebuah pertanyaan untuk Quinza "Apa yang kau lakukan disini hah, apa kau ingin seperti pria itu, mati secara mengenaskan, jika kau masih menyayangi hidupmu, lebih baik tutup mulutmu dan jangan pernah menceritakan kejadian ini pada siapapun," ucap Axton memperingati quinza, agar quinza tutup mulut, walaupun di hati kecil axton, axton enggan melenyapkan quinza dari hidupnya.

Melihat quinza yang terdiam dan menunduk, axton pun mengangkat dagu quinza dengan menggunakan jari telunjuknya.

"Tatap mata ku, jika aku sedang berbicara padamu sugar, atau kau ingin kejadian tadi pagi terulang kembali?" kata Axton menggoda Quinza, agar Quinza menatap dirinya.

Quinza sendiri pun enggan menatap Axton, dan malahan memilih untuk menatap ke arah lain tanpa memperdulikan ucapan Axton yang tersirat dengan penuh ancaman.

Dengan sabar Axton menanyakan kembali pada quinza"Are you scared with me, sugar?" tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik Quinza.

Lagi-lagi quinza tidak menjawab pertanyaan Axtonn, dan Axton yang masih bersikap sabar menghadapi keterdiaman Quinz

"Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk menjawab semua pertanyaan ku, tapi satu hal yang harus kau ingat sugar, dimanapun kau berada aku akan tetap berada di dekatmu dan mengawasimu setiap saat? Agar kamu tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun" peringat Axton.

Mendengar ancaman Axton lagi, Quinza hanya bisa terisak merutuki kebodohannya saat ini. Jika ia tidak penasaran dengan suara itu, mungkin Quinza tidak akan bertemu dengan dosen devil, gila ini, dan Quinza tidak akan mendapat ancaman yang mengerikan dari sang dosen gila yang berada di depan tubuhnya.

Dengan keberanian yang cukup quinza pun balik bertanya pada axton. "Kenapa kau selalu mengancamku, kesalahan apa yang aku perbuat sehingga kau tidak mau melepaskan ku, jika aku memang mempunyai salah padamu, aku minta maaf, aku tidak sengaja melihat kejadian ini, aku hanya penasaran dengan jeritan seseorang," aku Quinza meminta maaf pada axton atas kebodohan nya.

Belum sempat quinza meneruskan ucapan nya, axtob sudah membungkam bibir quinza, kali ini axton mencium Quinza dengan lembut tidak sekasar ciuman tadi pagi.

Axton terus melumat bibir quinza, hingga ia menerobos masuk kedalam ke rongga dalam mulut quinza tanpa henti, bibir milik quinza sangatlah manis, Axton menyukainya bahkan axton ingin terus membekam bibir mungil Quinza, hingga Quinza kehabisan nafas.

Di saat pasokan udara mulai menipis dari rongga nafas mereka berdua, axton melepaskan ciuman nya untuk mengambil nafas sebanyak banyaknya, tanpa melepaskan kening mereka.

"Kau tidak perlu takut padaku sweety, kau hanya perlu menuruti semua perintah ku itu sudah cukup buat ku, apa pun yang kamu lihat sekarang itu belum seberapa, tapi aku akan memastikan jika kau tidak akan melihat kejadian ini untuk kesekian kali nya, kecuali kau melanggar semua perintah ku, you're mine, remember that."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED