Bab 1

Livia merapikan gaun hitam sederhana yang ia kenakan, menatap cermin dengan cemas. Tangannya sedikit gemetar, meskipun ia berusaha untuk tidak terlihat panik. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang tak bisa datang, itu saja. Tidak lebih. Namun, mengapa semuanya terasa begitu berat? Mengapa hatinya berdebar kencang saat mengetahui siapa yang akan menunggunya di restoran itu?

Sahabatnya, Alena, yang sudah lama mengatur kencan buta ini, tiba-tiba menghubunginya dengan pesan panik. Suaminya sakit, dan ia tidak bisa pergi. Livia yang memang sering diminta menggantikan Alena dalam berbagai hal, merasa tidak enak hati menolaknya. Apalagi, kencan buta ini bukan dengan sembarang orang, tapi dengan Damien Remington-putra mahkota keluarga konglomerat Remington yang kaya raya dan terkenal angkuh, dingin, serta memiliki aura yang menakutkan.

"Ini hanya makan malam, Livia. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," bisik Livia pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hati yang mulai tak karuan.

Namun, meskipun berusaha tenang, pikirannya tak bisa berhenti membayangkan sosok Damien. Di dunia ini, hampir semua orang mengenalnya-sebagai pewaris tunggal perusahaan keluarga yang bernilai triliunan. Semua orang berbicara tentang betapa terpeliharanya dirinya, betapa ia tidak pernah menunjukkan sisi lembut atau empati pada orang lain. Bahkan, ada desas-desus bahwa ia adalah pria yang sangat berbahaya, tak segan-segan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya.

Livia tiba di restoran yang mewah, yang hanya bisa dijangkau oleh mereka yang berada di kalangan elit. Sebelum melangkah masuk, ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Saat melangkah ke dalam, suasana di dalam restoran yang tenang dan penuh keanggunan seakan memanggilnya untuk melupakan kekhawatiran itu.

"Livia?"

Suara itu terdengar dingin, menggelegar di antara riuhnya percakapan di sekitar. Livia menoleh, dan langsung bertemu dengan tatapan tajam milik Damien Remington yang sedang duduk di sudut ruangan. Tubuhnya terbungkus jas hitam elegan, rambut hitamnya yang rapi membuatnya tampak sangat berkelas, namun ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat Livia merasa dirinya sangat kecil.

"Selamat datang," kata Damien dengan suara rendah, tak ada senyum sedikit pun di wajahnya. "Aku kira kamu tidak akan datang."

Livia tersenyum kecut, merasakan ketegangan yang semakin mencekam di udara. "Sahabatku, Alena, tidak bisa datang. Dia meminta aku menggantikannya," jawabnya, mencoba terdengar se-normal mungkin.

Damien hanya mengangguk. Ia tidak berkata banyak, hanya menunjuk kursi di depannya, menandakan agar Livia duduk.

Mereka berbicara sedikit-topik ringan yang hanya membuat Livia semakin merasa terasing. Setiap kata yang diucapkan Damien terdengar seperti perintah yang tak bisa dibantah, setiap gerakan tangannya tampak penuh kontrol, seolah dunia ini benar-benar miliknya. Tidak ada rasa hangat, hanya ketegangan yang terpendam, dan Livia bisa merasakannya dalam setiap detik pertemuan ini.

Namun, kemudian, sebuah insiden kecil mengubah segalanya.

Saat makan malam selesai, Livia tanpa sengaja menjatuhkan gelas anggur yang sebelumnya ia pegang. Tangan Damien dengan refleks cepat mengangkatnya, tapi tidak cukup untuk mencegah tumpahan anggur yang merembes ke tangan dan pergelangan tangan Damien, tempat jam tangan mahal yang melingkar di tangannya. Jam tangan itu, yang seharusnya menjadi simbol status, kini terjatuh ke meja dan tergelincir, jatuh ke lantai.

Livia terdiam, jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia hanya bisa menatap horor jam tangan yang tampak rusak itu.

"Sial!" kata Damien, matanya kini penuh amarah yang tak bisa disembunyikan. "Jam tangan ini bernilai milyaran, Livia. Apa yang kamu lakukan?"

Kata-kata itu seperti sabetan pisau yang menusuk tepat di hati Livia. Ia menunduk, menahan diri agar tidak terlihat panik. "Aku... aku tidak sengaja," jawabnya dengan suara gemetar. "Maafkan aku."

Damien menatapnya lama, seolah sedang menimbang sesuatu dalam pikirannya. "Kamu tahu," ucapnya dengan nada datar, "setiap kesalahan ada konsekuensinya."

Livia terdiam. Dalam hati, ia hanya bisa merasakan ketakutan yang semakin mencekam. Ia baru saja terjebak dalam permainan yang sangat berbahaya, dan tampaknya, Damien tidak akan melepaskannya begitu saja.

Bab 2

Setelah kejadian itu, waktu seakan melambat. Livia duduk dengan canggung, matanya tidak bisa lepas dari jam tangan yang tergeletak di atas meja. Setiap detik yang berlalu seolah semakin menekan dadanya, membuatnya merasa semakin terperangkap dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Damien diam. Matanya yang tajam memandangnya dengan penuh perhitungan. Hening yang tercipta begitu pekat, hanya diisi dengan detak jam yang terdengar semakin keras di telinga Livia. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi. Bahkan kata maaf pun seolah tidak cukup untuk menghapus kerusakan yang telah ia buat.

"Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaikinya, Livia?" suara Damien memecah keheningan, penuh kekuatan, dan Livia merasakan ketegangan di ujung setiap katanya.

"A-aku..." Livia tidak tahu harus menjawab apa. Ia merasa seperti tikus yang terperangkap dalam perangkap yang dirancang dengan sangat rapi. Tak ada jalan keluar, tak ada cara untuk mengubah apa yang telah terjadi. "Aku akan mengganti jam tangan itu, Damien. Aku akan membayarnya. Apa pun yang perlu dilakukan."

Damien tidak langsung menjawab. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit, memandang Livia dengan tatapan yang sulit diartikan. Livia merasa tubuhnya dingin, seperti dihadapkan pada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan sebuah barang berharga. Ada sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, yang mengancam di balik mata pria ini.

"Bagaimana kamu bisa mengganti sesuatu yang tidak bisa diganti?" kata Damien akhirnya, suaranya penuh kejam. "Kamu pikir uang bisa mengembalikan kehormatan? Harga diri?"

Livia terdiam, tak tahu bagaimana harus merespon. Ia tahu bahwa di dunia Damien, semua hal-termasuk dirinya-adalah permainan yang bisa dipertaruhkan. Semua yang ada di sekelilingnya hanyalah angka yang bisa dihitung, dipindahkan, atau dibuang begitu saja ketika tak lagi berguna.

"Aku tidak ingin uangmu, Livia," lanjut Damien, suaranya sekarang lebih tenang, namun menakutkan. "Apa yang aku inginkan adalah pengakuan atas kesalahanmu. Apa yang aku inginkan adalah pengorbananmu."

Livia merasa seluruh tubuhnya kaku. Pengorbanan? Apa yang dimaksud Damien? "Aku sudah meminta maaf," katanya dengan suara pelan, berusaha tidak menunjukkan ketakutannya.

Damien tertawa pelan, namun tawanya terasa dingin dan penuh ejekan. "Kamu tidak mengerti, kan? Maaf saja tidak akan cukup untuk menebus kesalahan ini." Ia berdiri, berjalan mendekat dengan langkah tenang, namun setiap langkahnya seakan mengguncang kepercayaan diri Livia. "Aku akan membuat kamu merasakannya. Setiap detik dari sini akan jadi pelajaran yang tak akan pernah kamu lupakan."

Livia menelan ludah, rasa takut dan kebingungannya semakin menyelubungi dirinya. Apa yang sedang Damien rencanakan? Mengapa ia merasa seolah-olah dirinya bukan lagi manusia biasa, melainkan barang yang bisa diperjualbelikan, diperhitungkan dengan segala konsekuensinya?

"Sekarang, kamu akan ikut aku," kata Damien, matanya tidak pernah lepas dari Livia yang tampak semakin kecil di depannya.

"Ke mana?" Livia bertanya tanpa berpikir panjang, suara gugupnya terdengar jelas.

Damien hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mengindikasikan apapun selain bahaya yang siap mengintai. "Ke tempat di mana kamu akan belajar arti dari konsekuensi. Dan kamu akan tahu bagaimana rasanya menjadi bagian dari dunia ini."

Livia merasa dirinya kehilangan kendali atas segalanya. Kecemasannya semakin besar, tapi ia tak bisa mundur. Entah mengapa, ia merasa terikat pada pria ini, meski hatinya menolak. Ada sesuatu yang menggerakkan dirinya, entah rasa takut, entah rasa tanggung jawab atas kesalahannya, yang membuatnya mengikuti langkah Damien tanpa bisa menolak.

Mereka keluar dari restoran, dan Livia terkejut melihat sebuah mobil hitam mewah menunggu di luar. Tanpa kata-kata, Damien membuka pintu dan menyuruhnya masuk. Livia yang terkejut hanya bisa mengikuti perintah itu, tanpa bisa berkata apa-apa.

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa mencekam. Livia hanya menatap ke luar jendela, tidak berani menatap Damien yang duduk di seberangnya. Semua yang ada dalam pikirannya hanyalah satu hal: dia telah terperangkap dalam lingkaran yang tak bisa ia hindari. Lingkaran yang diciptakan oleh Damien, dan entah bagaimana ia merasa, semakin jauh ia pergi, semakin sulit untuk kembali.

Bab 3

Mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang tampak sepi, hanya disinari cahaya lampu yang redup, menciptakan suasana yang semakin membuat Livia merasa cemas. Gedung itu tampak seperti milik pribadi, bukan tempat umum, dan kesan pertama yang ia dapatkan adalah kesan tak terjangkau. Segalanya terasa begitu tertutup dan penuh rahasia, seperti dunia yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal.

Damien tidak berkata sepatah kata pun saat keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu utama gedung. Livia, yang merasa semakin tak nyaman, dengan enggan mengikuti langkahnya. Ia merasa seperti bayangan, hanya mengikuti tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Begitu mereka memasuki gedung itu, Livia merasa terhenyak oleh betapa mewahnya segala sesuatu di sekitar mereka. Ruangan besar dengan lantai marmer yang bersinar, dinding yang dihiasi dengan lukisan-lukisan mahal, dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit memberikan kesan bahwa ini adalah dunia yang tak terjangkau oleh kebanyakan orang. Setiap detail menunjukkan bahwa tempat ini milik orang yang sangat berkuasa, dan Livia tidak bisa menahan rasa takut yang semakin dalam di hatinya.

"Di sini," Damien berkata, membuka pintu sebuah ruangan besar yang tampaknya berfungsi sebagai ruang kerja atau ruang pribadi. Ia melangkah masuk terlebih dahulu, membiarkan Livia terdiam di ambang pintu.

Livia menatap ruang itu dengan cemas. Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar yang tampak sangat kokoh, dengan kursi kulit hitam di belakangnya. Di sisi lain, ada rak buku besar yang penuh dengan koleksi buku-buku berharga. Namun, apa yang paling mencuri perhatian Livia adalah benda di sudut ruangan-sebuah kursi yang tampaknya terbuat dari besi, dengan tali-tali yang membelit bagian sandaran dan lengan kursi. Matanya membelalak, dan sejenak, ia merasa dunia ini semakin mengerikan.

"Ini adalah ruanganku," kata Damien dengan nada yang hampir terdengar puas. "Di sini, kamu akan belajar. Tentang apa artinya menghargai konsekuensi."

Livia menelan ludah, merasa seperti kehilangan pijakan. Semua ini semakin terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya. Ia mencoba untuk berbicara, mencoba mencari jalan keluar, namun lidahnya terasa kelu. "Damien... Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanyanya, suaranya lebih lembut daripada yang ia harapkan.

Damien berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Aku ingin kamu mengerti bahwa setiap tindakan memiliki akibatnya. Kamu sudah melukai harga diriku, Livia, dan aku akan membuatmu membayar itu. Tidak dengan uang, bukan dengan sekadar kata maaf. Aku ingin kamu merasakannya."

Livia tidak bisa menahan kegelisahannya. "Tapi aku sudah minta maaf! Aku tidak sengaja," suaranya sedikit bergetar.

Damien mendekat, dan setiap langkahnya membuat Livia merasa semakin terpojok. "Kamu tidak mengerti, kan?" katanya pelan, namun sangat tajam. "Tidak ada yang bisa membatalkan apa yang telah terjadi. Maafmu terlalu murah untuk menebus ini."

Livia mundur sedikit, tak tahu lagi harus berbuat apa. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanyanya, suaranya hampir tercekik karena ketakutan.

Damien tersenyum, senyum yang sangat berbeda dari sebelumnya. Senyum yang lebih penuh pengertian, namun tetap dingin dan menakutkan. "Kamu akan berada di sini, di dunia aku, untuk sementara waktu," jawabnya dengan tenang. "Dan di sini, aku yang mengendalikan semuanya."

Livia merasa seluruh tubuhnya kaku, seolah-olah ruang ini semakin mengepungnya, dan Damien yang berdiri di hadapannya kini bukan lagi sosok pria biasa. Ia adalah seseorang yang bisa menghancurkan hidupnya hanya dengan sebuah keputusan.

"Apa yang aku lakukan ini bukan sekadar hukuman," lanjut Damien, berjalan lebih dekat lagi, membuat Livia mundur sedikit lebih jauh. "Ini adalah pelajaran untukmu. Pelajaran yang akan mengubah cara pandangmu terhadap dunia ini."

Livia ingin melawan, ingin berteriak, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak berdaya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi semakin jelas bahwa Damien bukanlah seseorang yang mudah dilawan. Ia adalah pria dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada apa yang bisa ia bayangkan.

"Dan jika kamu pikir kamu bisa keluar dari sini begitu saja," kata Damien dengan suara yang lebih rendah, "kamu salah besar."

Livia menelan air liur, menatapnya dengan mata penuh kebingungan dan ketakutan. Apa yang akan terjadi padanya selanjutnya? Bagaimana dia bisa keluar dari semua ini?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED