Selama 8 tahun lamanya, kucoba untuk melupakan kenangan manis bersamanya yang telah mengalir dan menyebar ke seluruh tubuhku bagaikan darah yang sedang mengalir.
Apakah arti kehilangan bagimu sendiri? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri yang mengalami hal itu.
Suatu hal yang sangat menyakitkan dan menyedihkan yang pasti akan kau alami di dalam hidupmu entah kapan terjadinya hal itu, kuyakin semua manusia pasti akan mengalaminya suatu saat nanti di dalam hidupnya.
Suaranya...
Tangannya...
Kehangatan pelukannya...
Hingga senyumannya, tak akan pernah kulupakan sampai saat ini dan juga mungkin sampai selamanya. Akibat kebodohan yang telah dilakukan olehku sendiri, sekarang aku mengalami kehilangan seseorang yang sangat penting bagi hidupku.
Apakah manusia bisa membuat mesin waktu yang bisa membuatku kembali ke masa itu agar aku tak melakukan hal yang menyakitkan ini?
Apakah suatu hari nanti orang itu akan kembali padaku?
Selama 16 tahun terakhir aku terus menantinya.
Aku sangat yakin kalau ia pasti akan kembali padaku suatu saat nanti, walau nantinya aku tak bisa bersamanya yang penting aku bisa melihatnya meskipun hanya satu detik saja.
Sudihkah dia untuk melihatku kembali yang sudah menyakitinya jika dia sudah kembali padaku nanti?
Jika iya, aku akan merasa sangat senang ... tapi, jika tidak ... lebih baik aku menghilang saja dari dunia ini...
***
Misa menatap layar komputernya, jemarinya gemetar saat mengetik kata terakhir naskah iklan. Tenggat waktu tinggal besok, dan beban di pundaknya terasa berat. Ia bertanggung jawab untuk memastikan kesuksesan proyek besar ini.
“Misa, tenggat waktunya adalah besok,” kata Pak Kepala, suaranya tegas. “Saya harap kau bisa menyelesaikannya tepat pada waktunya.”
“Ah, baik, Pak Kepala!” Misa menjawab, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Hari itu menandai tahun kedua Misa bekerja di perusahaan periklanan terkemuka di kotanya. Perusahaan itu bertahan di tengah persaingan ketat, meninggalkan pesaingnya bangkrut. Strategi promosi perusahaan yang agresif dan fokusnya pada jasa periklanan menjadi kunci keberhasilannya.
Misa beruntung bergabung dengan perusahaan itu, menyadari betapa sulitnya mencari pekerjaan di tengah iklim ekonomi yang menantang. Ia merasa beban berat untuk membuktikan dedikasinya.
Tugas utamanya saat ini adalah membuat naskah iklan untuk perusahaan minuman terkemuka di negerinya itu. Misa bingung mengapa perusahaan sebesar itu memilih perusahaan di kotanya yang terpencil untuk membuat iklan televisi. Bukankah lebih mudah meminta perusahaan periklanan di ibukota?
Namun, Misa tidak memikirkan hal itu terlalu dalam. Ia telah menyelesaikan naskahnya dua hari lebih awal dari tenggat waktu. Namun, ia menahan diri untuk memberikannya kepada atasannya karena rekan-rekannya di bagian logistik masih belum kembali dari ibukota untuk membeli bahan dan properti yang diperlukan.
Saat waktu istirahat akan tiba tak lama lagi, rekan kerja Misa yang duduk di sampingnya, menepuk bahunya. “Jangan terlalu stres, Misa. Kita pasti bisa menyelesaikannya tepat waktu,” katanya meyakinkan.
Misa tersenyum, meskipun ia tidak yakin. Ia kembali memeriksa naskahnya, membuat beberapa perbaikan kecil. Saat siang menjelang, ia mengumpulkan rekan-rekannya dan mereka bersama-sama meninjau naskah tersebut.
Setelah beberapa diskusi dan revisi, mereka akhirnya siap untuk menyerahkan naskah itu ke atasan mereka. Pak Kepala tampak senang dengan hasil kerja mereka dan memuji Misa atas kerja kerasnya. Misa merasa lega dan bangga karena telah memberikan yang terbaik.
Di tengah hiruk pikuk kantor, lamunan Misa buyar saat suara lembut rekan kerjanya memanggil namanya dan memecah konsentrasinya. “Misa, waktunya istirahat. Ayo kita makan bersama di taman~”
Misa mengalihkan pandangannya dari layar komputer, menoleh ke arah dua orang yang berdiri dengan kotak bekal di tangannya. Dia adalah MIra, sahabat baik Misa.
Di samping Mira, ada Hani yang juga ikut tersenyum kepada Misa. Misa tersenyum balik. “Baiklah, mari kita pergi.”
Ketiganya berjalan meninggalkan ruang kerja mereka menuju ke sebuah taman kota yang terletak di depan kantor mereka. Udara segar dan hijaunya pepohonan menyambut mereka begitu tiba di sana. Misa menarik napas panjang, menikmati kesejukan yang menenangkan.
“Bagaimana pekerjaanmu, Misa?” tanya Hani sambil membuka kotak bekalnya.
“Lumayan. Cukup sibuk, tapi aku bisa mengatasinya,” jawab Misa. Ia juga mengeluarkan kotak bekalnya dan mengeluarkan isinya yang sederhana, nasi goreng dan tumis sayuran.
“Semangat ya, Misa. Kau pasti bisa menyelesaikan semua tugasmu.” ucap Mira
Misa mengangguk. “Terima kasih.”
Ketiganya makan bersama sambil mengobrol ringan. Mereka membicarakan tentang kehidupan pribadi, hobi, dan rencana mereka untuk akhir pekan. Misa merasa senang dan rileks. Ia merasa seperti memiliki teman dekat meskipun mereka bekerja di divisi yang berbeda.
Setelah selesai makan, mereka bertiga duduk di bangku taman sambil menikmati pemandangan kota. Misa melihat gedung-gedung yang ada di sekiratnya dan lalu lintas yang lumayan padat di bawah. Ia merasa bersyukur atas pekerjaannya yang memberinya kenyamanan hidup.
“Aku senang kita bisa seperti ini, menjadi teman seperti ini.” ucap Hani.
“Aku juga,” timpal Mira. “Misa, aku selalu mengagumi semangat kerjamu. Kau selalu menyelesaikan tugas tepat waktu dan dengan kualitas yang baik.”
Misa tersenyum mendengar pujian itu. Ia merasa dihargai oleh rekan kerjanya. “Terima kasih. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik.”
“Kau gadis yang hebat, Misa,” kata Hani. “Aku yakin kau akan sukses di masa depan.”
Misa tersipu. Ia tidak menyangka rekan kerjanya akan memberikan penilaian yang tinggi kepadanya. “Terima kasih. Aku harap begitu.”
Saat tengah duduk dan menikmati waktu makan siangnya, Misa terkesima oleh pemandangan dua anak kecil, seorang laki-laki dan perempuan, yang mengejar kepakan kupu-kupu.
“Kalau saja kau mau dengarkanku tadi, kita sudah menangkapnya!” gerutu si anak laki-laki.
“Iya-iya, maaf ya~” jawab si anak perempuan dengan wajah imut yang menggemaskan.
Misa mengamati mereka, hatinya dipenuhi rasa manis dan nostalgia. Mereka sangat mengingatkannya pada masa kecilnya yang berharga, jauh di masa lalu.
Sebuah taman yang penuh dengan bunga dan kupu-kupu pernah menjadi dunia keajaiban bagi Misa, tempat ia menghabiskan waktu berjam-jam bersama sahabat laki-lakinya. Mereka berlarian melintasi lautan bunga, mengejar kupu-kupu yang menari di udara seperti peri berwarna-warni.
Misa terharu saat melihat anak-anak itu menghidupkan kembali kenangannya. Setiap tawa, setiap cibiran, setiap senyum mengembalikan momen-momen berharga yang tersimpan jauh di dalam hatinya.
Ia memicingkan matanya, memejamkan mata untuk membenamkan dirinya dalam ingatan masa kecilnya. Sahabat laki-lakinya ada di sampingnya, tangan mereka bergandengan, senyum ceria di wajah mereka. Mereka berlomba mengejar kupu-kupu yang cantik, saling mendorong dan tertawa terbahak-bahak.
Dunia mereka hanyalah kupu-kupu yang menari, kicauan burung, dan persahabatan yang tak tergoyahkan. Itu adalah surga yang tak pernah bisa ia kembali.
Saat Misa membuka matanya dan kembali pada kenyataan, Misa pun ingat kalau sahabat laki-lakinya itu telah lama menghilang, meninggalkan hanya ruang kosong di hatinya. Masa kecilnya telah menjadi harta karun yang berharga, kenangan yang ia hargai dengan segenap hatinya.
Misa bangun dari tempatnya dan berjalan perlahan keluar dari taman meninggalkan Hani dan Mira, membawa serta kenangannya. Meskipun masa kecilnya telah berlalu, ia tahu bahwa ikatan persahabatan yang dia bagikan akan selalu menjadi bagian dari dirinya.
Taman itu akan selamanya menjadi tempat sakral di mana mimpi-mimpinya melambung tinggi dan kasih sayang berkembang. Dan saat ia menyaksikan anak-anak kecil itu mengejar kupu-kupu, ia merasa terhubung dengan masa lalunya, mengisi kembali kekosongan yang telah mengganggunya selama bertahun-tahun.
Di kantor perusahaan periklanan yang sederhana di pinggiran kota, Misa tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya saat mendengar pengumuman dari Kepala Kantor.
“Dan untuk merayakan keberhasilan kita tahun ini, kita akan mengadakan pesta malam ini di kafe E.Z yang terkenal di samping kantor kita!”
Sorak-sorai memenuhi ruangan saat Misa dan rekan-rekannya menyambut kabar tersebut dengan penuh antusias. Setelah berbulan-bulan bekerja keras, mereka akhirnya berhasil mencapai target perusahaan.
Saat siang berganti sore, Misa bersiap untuk pesta dengan hati yang berdebar. Dia tahu bahwa acara ini bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga kesempatan untuk menunjukkan penghargaan kepada timnya.
Kafe E.Z dipenuhi dengan kegembiraan saat para karyawan tiba. Musik menggema di udara, dan lampu-lampu berkelap-kelip menciptakan suasana yang semarak. Misa berbaur dengan rekan-rekannya, menikmati makanan dan minuman serta mengobrol dengan gembira.
Suasana malam itu terasa seperti mimpi bagi Misa. Dia telah bekerja keras selama ini, dan rasanya luar biasa bisa merayakan pencapaian mereka bersama rekan satu timnya. Dia menyadari bahwa dia tidak hanya menemukan pekerjaan di perusahaan ini, tetapi juga sebuah keluarga.
Saat acara semakin larut, Misa dan teman-temannya berdiri di balkon kafe. Mereka memandang ke kota yang berkilauan di bawah mereka, merasa bangga dengan apa yang telah mereka raih.
“Kita melakukannya, Misa,” kata salah satu rekan kerja Misa, menepuk pundaknya. “Kita telah mencapai target.”
Misa tersenyum. “Kita semua melakukannya,” katanya. “Ini adalah kerja keras semua orang.”
Dia melihat kembali rekan-rekannya dan merasa dipenuhi dengan rasa syukur. Mereka telah melalui begitu banyak kesulitan bersama, tetapi mereka tidak pernah menyerah. Mereka telah membuktikan bahwa bahkan perusahaan periklanan kecil di luar Ibukota dapat mencapai kesuksesan.
Lalu, Pak kepala kantor mendatangi mereka yang sedang berada di balkon.
Hahahaha. Kau terlihat sangat senang, Misa!' seru Pak Kepala.
Misa terkejut. “Aih? Eh? A-apa iya, Pak Kepala? Aku hanya ikut-ikutan orang lain saja yang merasa senang dan bersemangat.”
Tawa semakin keras menggema di ruangan. “Tentu saja! Selama dua tahun kau bekerja untuk perusahaan ini, kau selalu murung dan itu membuat para pria yang mengincarmu menjadi kewalahan dan kesulitan menghadapimu yang selalu murung begitu, ditambah kau itu pegawai teladan yang selalu menyelesaikan tugasmu sebelum batas akhir waktu pengumpulan tugas. Jadi, intinya adalah kau itu wanita yang paling istimewa! Termasuk Hani dan Mira juga!”
Wajah Misa memerah padam. Tatapannya menjelajahi seluruh ruangan. Semua pria yang memperhatikannya langsung membuang pandangan saat matanya bertemu dengan mereka. Sementara itu, para wanita menatap Misa dengan mata iri.
“I-ini… ini sangat membuatku tak enak hati,” gumam Misa dalam hati.
“Apa benar... ?” gumamnya pelan.
“Tentu saja, Misa! Lihat, seluruh pria yang membuang pandangan mereka saat kau melihati mereka,” kata Pak Kepala.
Wajah Misa kembali merona. Perasaan yang berkecamuk dalam hatinya membuatnya ingin menghilang saat itu juga.
“...berhentilah menggodaku…, Pak Kepala!”
“Hahaha!”
Pak Kepala malah menertawakannya saat wajah Misa memerah. Ia merasa heran pada Pak Kepala yang selalu saja menggodanya Apa karena wajah Misa yang terlihat polos? Atau memang beliau orang yang jahil.
Dalam keriuhan kafe yang dipenuhi gelak tawa dan perbincangan, suasana tiba-tiba berubah senyap saat Mira angkat bicara. Beranjak dari tempatnya, ia melangkah menuju Pak Kepala kantor yang duduk di dekat jendela. Senyum jenaka terukir di bibirnya.
“Baiklah-baiklah! Waktu bercandanya selesai!”
Semua mata tertuju pada Mira, yang kini berdiri di depan Pak Kepala. Pak Kepala yang sedari tadi terlihat santai, kini menunjukkan ekspresi kaget dan gugup.
“Sekarang,” Mira melanjutkan, suaranya terdengar sedikit menggoda, “waktunya kita merayakan keberhasilan kita yang sudah mencapai target di bulan ini. Dan yang lebih penting lagi…”
Mira menggantungkan kalimatnya, membuat semua orang di ruangan itu menanti dengan penuh harap.
“...Pak Kepala yang akan mentraktir kita malam ini di kafe ini!”
Sorak sorai dan tepuk tangan bergema di kafe. Pak Kepala terkagum-kagum sekaligus sedikit panik. “Eeehh?! Kenapa harus aku, Mira?!”
Mira terkekeh. “Bukankah Pak Kepala yang masih muda dan bugar? Lagi pula, Pak Kepala sendiri yang bilang pada kami kalau malam ini kita akan adakan pesta, kan?”
“Iya, tapi-”
“Tapi apa, Pak Kepala?” Mira menimpalinya dengan nada menggoda. “Bukankah perusahaan ini milik anda Pak Kepala? Tidak apa-apa dong kalau Pak Kepala yang mentraktir.”
Pak Kepala mengerutkan kening. Ia tidak bisa mengelak lagi. Dengan senyum terpaksa, ia mengangguk. “Baiklah... baiklah... Saya akan mentraktir kalian.”
Kemeriahan kembali memenuhi kafe. Semua orang bergegas memesan minuman dan makanan favorit mereka. Mira tersenyum puas. Ia bangga bisa membuat Pak Kepala mentraktir mereka, walaupun ia harus sedikit memaksanya.
Misa yang menyaksikan ekspresi Pak Kepala yang berusaha menahan tawa. Pria itu biasanya bersikap serius dan berwibawa, tetapi kini wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa geli. Misa memahami alasannya.
“Jika saja aku bisa mengabadikan momen ini,” pikir Misa. “Ini adalah tontonan yang langka.”
Di depan kafe itu, Misa tak sengaja memandang dengan tatapan sendu ke kerumunan anak-anak SMA yang berpasangan-pasangan. Malam minggu ini terlihat begitu indah bagi mereka, penuh canda tawa dan kemesraan. Namun, bagi Misa, pemandangan itu bagaikan belati yang menusuk hatinya.
"Kau kenapa menangis, Misa?' tanya Hani, temannya, yang duduk di sampingnya.
Misa tersentak. Ia buru-buru menghapus air matanya. “Aih? Aku menangis? Aku tidak menangis, ini karena tadi mataku kemasukan debu dan membuat air mataku keluar.”
“Jangan bohong, Misa. Aku tahu kau itu menangis dan bukannya matamu kemasukan debu. Mana ada debu berterbangan di ruangan ber-AC seperti ini, sebenarnya kau teringat kembali dengan masa SMA-mu dan 'orang itu' ketika matamu tak sengaja melihat anak-anak SMA itu bersama, kan?” tebakan Hani tepat sasaran.
Misa terdiam. Ia tahu temannya itu sangat mengenalnya. Hani selalu bisa membaca pikirannya, termasuk kepedihan rahasia yang selama ini ia pendam.
“Ah, aku ketahuan, ya?” Misa akhirnya angkat bicara, wajahnya tampak sendu. “Iya, aku mengaku kalau aku teringat dengan semua itu, terlebih lagi dengan mereka berdua yang membuatku teringat padanya saat sedang minum jus berdua, Hani. Mereka menggambarkan seperti aku dan 'orang itu' saat berada di toko jus langgananku.”
Hani menghela napas lagi. “Sudah berapa kali aku mengingatkanmu tentang ini, Misa... lupakanlah dia yang tak akan mungkin kembali lagi padamu…”
Misa menunduk seketika. Entah kenapa, perasaannya yang terdalam selalu bisa dirasakan oleh Hani sejak mereka bersahabat di bangku SMA. Apakah ini yang dinamakan kekuatan sahabat yang mampu merasakan apa yang sahabatnya rasakan?
“Dengarkan aku, Misa,” Hani menggenggam tangan Misa. “Tolong lupakanlah dia dan kembali menjalani hari-harimu seperti dulu lagi, seperti saat kita masih SMA yang ceria. Aku mohon, Misa... aku mohon... sudah lama aku tak melihatmu seperti pada masa SMA dulu yang terlihat ceria…”
“Hani…” Misa terisak pelan. “Aku sudah mencoba untuk melupakannya. Bahkan setelah aku mengetahui rahasia itu, tapi entah kenapa kepalaku ini masih terus terbayang-bayang dengannya. Apa ini akibat aku telah menyakitinya?”
“Misa, aku tahu kamu masih belum melupakannya,” ujar Hani lembut. “Tapi kamu harus tahu, menyakiti seseorang itu tidak benar. Dia telah memilih jalannya sendiri, dan kamu harus menghargainya.”
“Tapi aku merasa sangat kehilangan, Hani…” Misa semakin terisak. “Aku tidak pernah membayangkan akan kehilangan. Aku masih merasa bersalah karena telah menyakitinya.”
“Tidak apa-apa untuk merasa kehilangan, Misa. Tapi kamu harus belajar menerima kenyataan dan melanjutkan hidupmu. Ada banyak hal indah yang menunggumu di depan.”
Tiba-tiba, Hani menggenggam tangan Misa erat dan bergegas menariknya keluar dari kafe. Mereka menuju ke parkiran, lalu berhenti tepat di taman kota yang sepi. Rintik hujan mulai turun, membasahi tanah kering.
Di sana, mereka saling menatap dalam diam. Misa menunduk, menghindar dari tatapan Hani. Dia tahu apa yang akan dikatakan temannya itu. Dia akan disuruh melupakan masa lalunya, masa kelam dari masa SMA-nya.
“...Misa…” suara Hani memecah keheningan.
“...aku tahu, Hani. Maaf, tapi aku tak bisa,” Misa menjawab dengan lirih, air mata mulai membasahi pipinya. “Aku sudah mencobanya! Selama bertahun-tahun aku merasakan sakit karena suara itu terus terngiang di kepalaku. Saat aku memejamkan mata, aku melihatnya tersenyum pilu…”
Tangisan pecah dari bibir Misa. Air matanya mengucur deras, membasahi pipi dan menetes ke tanah.
“Apa kau tahu kalau aku ingin terlepas dari ini semua?!” teriak Misa. “Aku tidak menginginkan ini semua! Akulah yang membuat hidupku tidak tenang!”
Misa menundukkan kepalanya, masih menangis. “Tidakkah kau tahu, Hani, saat bayangan 'orang itu' selalu menghantuiku... aku pernah berpikir untuk mengakhiri hidupku agar bisa terlepas dari ini…”
Hani terkejut mendengar pengakuan Misa. Tubuhnya gemetar, suaranya tercekat. Dia membuka pelukannya lebar, dan Misa secara refleks mendekat. Hani memeluk Misa erat, membiarkan temannya menangis dalam pelukannya.
“Aku di sini, Misa,” bisik Hani. “Aku akan selalu ada untukmu.”
Suara tangisan Misa perlahan mulai mereda. Dalam pelukan Hani, dia merasa sedikit tenang. Dia tahu masih ada seseorang yang peduli padanya, yang tidak akan meninggalkannya saat dia sedang berjuang.
Hujan terus turun, membasahi mereka berdua. Namun, perasaan hangat dari pelukan Hani membuat hujan terasa tidak lagi sedingin es. Misa tahu bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi masa lalunya. Hani akan selalu ada untuknya, apa pun yang terjadi.
Sekitar 16 tahun dan beberapa bulan yang lalu...
Pulang sekolah, Misa berlari-larian menuju rumah. Entah mengapa, ia merasa begitu senang tanpa alasan yang jelas. Ia berlari kencang hingga tiba di depan rumahnya.
“Mamah, aku pulang!” serunya.
“Eh, Misa sudah pulang? Mau ke mana? Makan dulu nanti kamu sakit! Setidaknya minumlah jus mangga buatan Mamah dulu!” ujar Mamahnya.
“Nanti saja, Mah!” jawab Misa.
“Aduh, dasar anak itu…” desah Mamahnya sembari memegang kening.
Misa berlari keluar rumah setelah menyimpan tasnya di atas kursi tanpa mengganti seragam sekolahnya. Ia mengejar kupu-kupu yang sedang berterbangan di depan rumah. Hingga akhirnya ia sampai di sebuah bukit di pinggiran kota dekat dengan rumahnya.
Di lereng bukit itu, Misa berlari mengejar seekor kupu-kupu yang menuntunnya ke jalan yang belum pernah ia lalui sebelumnya. Jalan setapak yang berkelok-kelok itu dipenuhi pemandangan yang memesona, dengan bunga-bunga berwarna-warni yang mekar sempurna di kanan dan kiri.
Setiap langkah yang diambil Misa membawa aroma bunga yang memabukkan dan pandangan kupu-kupu yang menari-nari di udara. Gadis kecil itu terpesona, kagum pada keindahan yang tersembunyi ini.
Saat kupu-kupu itu hinggap di kelopak bunga merah yang mencolok, Misa berhenti berlari dan menatap takjub. Jalan setapak itu tampak seperti kanvas yang dilukis dengan sapuan warna-warni, dihiasi oleh titik-titik berkilauan dari sayap kupu-kupu yang beterbangan.
Terinspirasi oleh pemandangan yang indah, Misa berlari lagi, lengannya terentang ke samping. Gerakannya membuat ribuan kupu-kupu berhamburan dari kelopak bunga, membentuk awan yang berputar-putar di sekelilingnya.
Misa berputar dan berputar, tertawa riang saat kupu-kupu menari bersama dirinya. Setiap gerakannya menciptakan simfoni warna dan gerakan yang memikat. Dia merasa seolah-olah sedang berada dalam lukisan hidup, sebuah mahakarya yang hanya bisa diimpikan.
Saat hari mulai berganti senja, Misa memperlambat larinya dan menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Awan yang dihiasi warna-warna keemasan berkumpul di cakrawala, memantulkan cahayanya ke atas kanvas bunga dan kupu-kupu.
Misa melangkah perlahan menyusuri jalan setapak yang berliku, meninggalkan hiruk pikuk kota di belakang. Setelah beberapa saat, ia sampai di sebuah puncak bukit yang memukau. Hamparan luas di hadapannya bertransformasi menjadi kanvas yang dilukis dengan warna-warna cemerlang.
Sebuah taman yang memesona terbentang sejauh mata memandang. Bunga-bunga dari segala corak bermekaran dengan anggun, membentuk sebuah mozaik berwarna-warni yang memukau. Kuning keemasan bunga matahari, merah merona bunga mawar, ungu tua bunga lavender, dan putih bersih bunga lili terjalin harmonis, menciptakan sebuah simfoni keindahan.
Kupu-kupu dari berbagai ukuran dan pola beterbangan riang di antara bunga-bunga, hinggap dengan anggun pada kelopak-kelopaknya yang lembut. Sayap mereka yang berwarna cerah menari-nari di udara, menambahkan sentuhan keanggunan pada pemandangan yang sudah menakjubkan.
Angin sejuk membelai wajah Misa, membawa aroma manis dari tanaman yang bermekaran. Ia terkesima oleh keindahan yang menyelimuti taman ini, tempat yang tak pernah dibayangkannya ada di dekat rumahnya. Ia menghela napas, terbenam dalam ketenangan yang dibawa oleh tempat yang memesona ini.
Misa kembali berlarian riang di taman bunga yang semarak, lengannya terentang, tubuhnya berputar-putar. Tawa ceria menggema di udara saat dia melaju melalui hamparan bunga warna-warni. Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti saat matanya tertuju pada seorang anak laki-laki seusianya yang berdiri diam, memandangnya dari pinggir taman bunga itu.
Anak laki-laki itu memiliki rambut hitam panjang yang indah tertiup angin sepoi. Dengan langkah penasaran, dia menghampiri Misa yang berdiri di tengah ladang bunga yang mekar berlimpah.
“Sedang apa kau di sini?” tanya anak laki-laki itu, suaranya lembut seperti angin musim panas.
Misa kaget di tempatnya berdiri. Dia tidak pernah melihat anak laki-laki itu sebelumnya. “Aku hanya... bermain,” gumamnya pelan.
“Hmm,” kata anak laki-laki itu. “Bunga-bunga di sini memang sangat indah.”
Misa mengangguk setuju. “Ya, aku suka melihat mereka. Warnanya begitu cerah dan ceria.”
Mereka berdiri diam sejenak, diam-diam mengagumi keindahan taman. Lalu, anak laki-laki itu memecahkan kesunyian, “Namaku Andhika.”
“Misa,” jawab Misa, suaranya juga lembut.
Andhika tersenyum padanya. Senyumnya manis dan ramah, membuat Misa merasa nyaman di hadapannya. “Senang bertemu denganmu, Misa.”
“Sama-sama,” kata Misa, membalas senyumnya.
Dan itulah kali pertama Misa bertemu dengan Andhika.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam berjalan bersama melalui taman, mengobrol tentang hal-hal kecil dan tertawa bersama. Semakin lama mereka mengobrol, semakin Misa merasa terikat dengan Andhika.
Sejak pandangan pertama di sebuah taman kecil dekat rumah, Misa langsung merasa terhubung dengan Andhika. Kedekatan mereka bersemi, hingga Andhika pindah sekolah dan seketika menjadi teman sekelas Misa. Tahun kelima SD menjadi masa puncak persahabatan mereka.
Setiap pagi, mereka duduk bersebelahan di kelas, berbagi cerita dan tawa. Sore harinya, mereka mampir ke taman tempat pertama kali bertemu. Di taman itu, mereka menjadi diri sendiri, bebas dari tekanan lingkungan.
Suatu hari saat mereka menyusuri jalan setapak dengan keadaan mendung, tawa mereka bercampur dengan hujan yang tiba-tiba turun tiada henti. Tetesan air hujan menelusuri pola sesaat di wajah mereka, menciptakan mosaik kegembiraan tanpa malu-malu. Dengan setiap langkah, mereka merasakan kebebasan, seolah-olah dunia telah menghilangkan kekhawatiran mereka.
Namun, petualangan mereka tidak luput dari perhatian. Saat mereka mendekati tepi taman, cahaya lampu jalan yang terang menyinari jalan menuju rumah mereka. Dengan tiba-tiba menyadari konsekuensinya, mereka berbalik untuk melarikan diri, hanya untuk disambut oleh tatapan murka dari orang tua mereka yang menunggu.
Tatapan kesal orang tua mereka memenuhi udara saat Misa dan Andhika digiring kembali ke rumah masing-masing. Suara marah orang tua mereka bergema di lorong-lorong, sebuah bukti kekecewaan mereka. Namun meski mendapat teguran keras, baik Misa maupun Andhika tidak mampu memuaskan dahaga mereka akan petualangan.
Dengan setiap hujan berikutnya, mereka mendapati diri mereka tertarik kembali ke taman. Mereka akan menyelinap keluar rumah, langkah kaki mereka teredam oleh rintik hujan. Saat mereka berdiri berdampingan, memandangi lanskap yang dilanda badai, rasa keterhubungan yang mendalam menyelimuti mereka.
Seolah-olah hujan telah menjadi simbol perlawanan mereka terhadap norma-norma masyarakat dan ikatan yang tidak dapat dipatahkan. Mereka menolak untuk digoyahkan oleh pandangan tidak setuju dari orang lain atau kendala yang dikenakan pada mereka.
Anehnya, setelah tamasya pertama mereka saat hujan deras, kemarahan orang tua mereka mulai mereda. Seolah-olah hujan telah menghapus kebencian mereka, meninggalkan rasa penerimaan yang aneh.
Sejak saat itu orang tua mereka sudah tidak melarang mereka untuk pergi saat hujan, bahkan saat hujan deras sekalipun orang tua mereka malah memberikan payung atau jas hujan. Mereka mungkin berpikir untuk tidak mengganggu masa kanak-kanak dari anak-anak mereka yang bisa membuatnya tidak bahagia di masa depan.