"Kau tidak datang ke perayaan? Aku pikir kau akan ikut," ujar Gilda seraya duduk di pinggir kasur Edzhar dan menatapnya. Dia memerhatikan Edzhar yang tengah tiduran sambil memegang ponsel.
Gilda tengah berada di kamar pribadi Edzhar, seorang pria yang cukup dekat dengannya, tetapi bukan pacar. Gilda adalah sahabat Edzhar sejak mereka duduk di bangku perkuliahan, jadi sudah tidak asing baginya untuk mendatangi kamar Edzhar. Karena malam ini adalah pesta perayaan atas kelulusan mereka, Gilda hendak memastikan bahwa Edzhar turut datang ke pesta.
"Memangnya kau ikut?"
"Kau tidak lihat? Aku sudah memakai gaun, Ed."
Edzhar yang tadinya fokus pada ponsel, kini memandang Gilda. Dari ujung kepala sampai kaki, Edzhar memerhatikan pakaian sahabatnya. "Kau yakin akan memakai gaun itu?" tanya Edzhar dengan pupil membesar.
"Yakin. Mengapa aku harus tidak yakin?"
Gaun yang dipakai Gilda merupakan gaun ketat pendek berwarna putih, dengan model kerah sabrina. Edzhar bisa melihat belahan dada sahabatnya yang tidak tertutupi dengan baik. Oleh sebab itu ia bertanya, dan agar Gilda bisa mengganti dengan gaun yang lebih aman.
"Sebaiknya ganti pakaianmu, itu terlihat ... sedikit menggoda ...," lirih Edzhar sembari menegakkan tubuhnya. Dia turun dari ranjang dan meletakkan ponselnya di atas nakas. Edzhar berjalan ke lemari pakaiannya dan mencari baju yang akan ia kenakan ke pesta perayaan kelulusan.
"Cuma ini gaun yang aku punya. Lagipula aku tidak akan lama, kelab malam bukan tempat favoritku. Kau kan tahu aku, Ed."
"Ya sudah, terserah kau saja. Aku ganti pakaian dulu."
"Oke. Aku tunggu kau di luar."
Setelah beberapa detik Edzhar di kamar mandi, Gilda pun memilih keluar. Akan tetapi, sebelum angkat kaki, dia mendengar Edzhar memanggil namanya. Membuat Gilda mendekat dan menjawab, "Ada apa?"
"Jangan lupa kabari Carla!" titah Edzhar mengingatkan.
Sambil berdiri di depan pintu, Gilda dengan santai menyahut, "Dia kekasihmu, seharusnya kau sendiri yang mengabari, bukan aku."
"Tolonglah ... aku lupa mengajaknya! Jika tidak diberitahu sekarang, kita akan lama menunggunya berdandan! Bisa-bisa kita terlambat ke pesta."
"Oke, aku hubungi sekarang! Kau sendiri jangan lama-lama berganti pakaian!"
Begitu keluar dari kamar Edzhar, Gilda langsung mengabari Carla. Mengatakan bahwa dia dan Edzhar akan ke rumahnya untuk menjemput beberapa menit lagi. Gilda tak lupa mengatakan bahwa mereka akan pergi ke kelab malam untuk berpesta, merayakan kelulusan Edzhar juga dirinya.
*
"Mungkin hanya ini waktu yang bisa dia gunakan untuk memakai gaun cantik itu," kata Gilda yang mencoba menengahi pertengkaran Edzhar dan Carla di parkiran, yang tidak selesai sejak mereka berangkat dari rumah Carla.
"Cantik? Gaun cantik dari mana? Semua paha dan dadanya terlihat jelas! Kau juga, Gil!" semprot Edzhar masih emosi. Carla memang tampil dengan gaun hitam yang jauh lebih pendek dan terbuka dari Gilda, tak heran Edzhar memarahinya habis-habisan.
"Sudahlah, kita ke club untuk berpesta. Aku tidak suka diceramahi ketika kamu sendiri yang mengajakku ke sini, Sayang ...."
Tidak berhenti di sana pertengkaran dua manusia itu. Sampai di dalam club bernama 'Dark Purple' pun Edzhar masih saja memarahi Carla. Hingga Carla yang kesal memilih untuk masuk lebih dulu, meninggalkan Edzhar.
"Kejar! Mengapa kau diam saja?!" perintah Gilda yang kesal, dan mendorong tubuh Edzhar dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya dia yang sendirian, masuk tanpa teman. Ia lebih memilih untuk jalan santai dan memandangi club itu dengan intens.
Suasana club pada pukul dua belas lewat tiga puluh menit malam ini tampak begitu ramai, semakin riuh. Musik dari disjoki yang mengangguk-anggukkan kepala di atas panggung sana juga memberi semangat para anak muda untuk menggoyangkan pinggul ke kanan-kiri. Tak ketinggalan, lampu kelap-kelip bermacam warna yang membuat kepala Gilda pusing, ingin rasanya dia pulang saja.
Di dalam, ia bertemu dengan semua teman seperjuangan. Akan tetapi, ia tak menemukan Carla. Sosok Edzhar ternyata sudah duduk sendirian di ujung sofa, paling pojok.
Gilda yang penasaran di mana Carla, lantas berjalan mendekat. Sebelum duduk, ia sempat disapa para teman seangkatannya dan bersalaman. Gilda juga disuguhi aneka macam minuman beralkohol.
Dengan senyum tipis Gilda mengangkat gelasnya dan mencicip sedikit. "Carla di mana?"
"Aku tidak tahu."
"Lalu kenapa kau masih di sini?! Kenapa tidak kau cari?!"
"Untuk apa? Dia saja tidak ingin mendengarkan perintahku. Aku sudah memanggilnya beberapa kali, tapi dia terus jalan dan mengabaikanku."
Mendengar itu Gilda menepuk-nepuk pundak Edzhar. Dia sudah tahu bagaimana Carla yang terlalu keras kepala, tidak heran jika Edzhar sulit menasihati gadis itu. "Lain kali bicarakan baik-baik, mungkin Carla akan luluh kalau kau lebih lembut padanya, Ed."
Mereka berdua kembali fokus pada obrolan teman-temannya. Gilda tak banyak bersuara. Ia hanya menanggapi pertanyaan temannya yang penasaran akan pekerjaannya.
Gilda mengatakan bahwa dia baru saja melamar di salah satu perusahaan, namun belum mendapatkan panggilan. Jadi, kegiatan Gilda saat ini hanya sibuk mengelola toko kue roti peninggalan orang tuanya saja. "Menurutku lebih seru nonton drama sembari makan mie instan, daripada di sini ... rasanya aku ingin muntah," keluh Gilda yang ditanggapi Edzhar dengan anggukan kecil.
Gilda yang duduk bersebelahan dengan Edzhar, menyender pada bahu lelaki itu. Mulutnya mulai meracau, setelah kesadarannya perlahan-lahan berkurang. Tangannya bahkan bergerak dengan sendirinya, mengambil gelas setelah menerima tuangan dari Edzhar.
Ia meminum minuman jenis tequilla dengan kadar alkohol yang cukup tinggi. Walau begitu asing bagi Gilda, mulutnya terus meneguk. Beberapa teman mereka yang masih kuat minum bahkan beberapa kali memperingatkan Edzhar untuk berhenti minum agar tidak kobam.
Sayangnya, kesadaran lelaki itu sudah menipis sejak sepuluh menit lalu.
Malam itu, pesta perayaan yang terasa asing bagi Gilda menjadi bencana tak terduga di dalam hidupnya. Ia harus menerima kenyataan bahwa dirinya dan Edzhar sudah menghabiskan beberapa jam di kamar pria itu. Dipegangnya kepala yang terasa sangat pening.
"Pusing ...," gumam Gilda yang masih belum sepenuhnya sadar. Dia juga tidak tahu kalau gaun putihnya sudah tidak melekat di badan. Butuh beberapa detik untuknya membuka mata dengan sempurna. Begitu menoleh ke samping kiri, detik berikutnya mata berbulu lentik itu melotot lebar.
"Ed-zhar ...," lirihnya bersamaan dengan lengan kekar di pinggangnya mengerat. Merasakan langsung kulit Edzhar, Gilda sadar bahwa dirinya benar-benar polos tanpa busana. "Apakah kami baru saja selesai melakukan hub—" ucapannya terputus saat Edzhar semakin menarik tubuhnya.
"Aku sangat mencintaimu, Carla ... tolong dengarlah nasihatku." Gilda yang tubuhnya kaku di dalam dekapan Edzhar hanya bisa menelan ludahnya. "Semua itu untuk kebaikanmu, Carla ...." Setelah itu Gilda merasa lengan Edzhar tidak lagi memeluknya dengan erat.
Sembari menahan air matanya yang tiba-tiba menetes, Gilda berusaha melepaskan diri dari pelukan Edzhar. Dengan sangat hati-hati, ia turun dari ranjang milik sahabat dekatnya dan memungut pakaian dalam serta gaunnya, dengan buru-buru meskipun pangkal paha begitu perih. Dia juga mengambil tasnya yang tergeletak di atas lantai dekat nakas.
"Mungkin setelah ini aku akan menjauhimu, Ed ...," lirih Gilda sebelum masuk ke kamar mandi Edzhar untuk memakai pakaiannya kembali. Tak butuh waktu lama untuknya berpakaian dan keluar dari sana.
Ia menatap Edzhar cukup lama sebelum benar-benar angkat kaki dari kamar pribadi Edzhar. Kamar yang biasanya dipakai untuk mengerjakan tugas kuliah bersama dengan lelaki tampan nan sopan itu, mungkin tidak akan pernah ia kunjungi lagi. Akibat insiden mengerikan yang tak pernah ia impikan ini, Gilda bertekad bahwa ia harus menjauh atau masalah lain akan muncul.
Sepasang kaki Gilda terayun sangat pelan, pikirannya mengambang. Seumur-umur, baru kali ini tubuh paling privasi dijamah orang lain. Terlebih-lebih orang itu adalah Edzhar, laki-laki yang selalu menemani dan sangat dekat dengannya. Ia bersumpah tidak akan memberitahu siapa pun tentang kejadian yang menimpanya, termasuk Edzhar.
"Gilda? Kaukah itu?" panggil seseorang dari arah dapur, dan di sanalah pintu belakang rumah Edzhar berada. Pintu belakang sebenarnya akan dipakai Gilda untuk menyelinap keluar, supaya tidak ketahuan orang di rumah Edzhar. Namun, takdir sepertinya lagi-lagi tidak berpihak padanya. "Oh, ternyata kau sudah bangun."
Gilda terdiam. Tubuhnya seperti tak bisa digerakkan saat sosok Mateo kini berdiri menghadap ke arahnya. Bahkan pria tua itu sudah menatap lekat-lekat. Gilda yang langkahnya terhenti sejak suara serak itu memanggilnya, mengangguk-angguk pelan.
"Ini masih terlalu pagi, kembalilah ke kamar tamu. Istirahat saja dulu."
"Tidak, Kakek. Aku harus pulang, bibiku pasti khawatir." Gilda menjawab dengan sopan dan tersenyum tipis. "Semalam aku hanya berpamitan ke pesta sebentar. Aku merasa buruk kalau semakin lama di sini, Kakek."
"Setidaknya minumlah susu hangat dulu, alkohol sudah menyiksamu. Akan sangat berbahaya jika kau pulang sepagi ini sendiri." Mau tidak mau Gilda menerima tawaran Mateo, dan diajak Mateo ke ruang makan. "Kau duduk saja di sini, aku akan meminta pelayan membuatkanmu susu hangat."
"Tidak, Kakek." Gilda masih berusaha menolak baik-baik.
"Setidaknya biarkan perutmu membaik walau hanya dengan segelas susu hangat.
"Baiklah, tapi biar aku saja," tolak Gilda yang benar-benar merasa tak enak.
Namun, Mateo bersikukuh untuk menahan Gilda di ruang makan. "Tidak, Gilda. Aku tahu kau sedang kelelahan, duduklah dengan tenang. Mukamu tampak tidak baik-baik saja, Nak." Sangat terpaksa kepala Gilda bergerak ke atas dan bawah. "Setelah itu aku akan meminta sopir mengantarmu, agar kau pulang dengan selamat."
"Baik, Kakek."
Mateo kembali ke dapur dan meninggalkan Gilda di ruang makan sendiri. Menatap punggung kakek Edzhar yang perlahan menjauh, gadis itu jadi kepikiran akan ucapan pria tua tersebut. Jika setahu Mateo dirinya semalam dibawa ke kamar tamu, lalu mengapa ia bisa terbangun di ranjang Edzhar?
Gilda merasa ada yang tidak beres. Keanehan yang benar-benar dirinya tak habis pikir bisa terjadi, dan menimpanya dalam sekejap saja. Baru saja Gilda hendak menampar wajahnya sendiri, pelayan datang membawakan susu hangat yang dipesankan Mateo, namun bersama beberapa kue. Ditaruh di hadapannya.
Setelah mengucapkan terima kasih, Gilda menahan tangan pelayan itu. "Tunggu, Mona ... ada yang ingin aku tanyakan," ucap Gilda kemudian yang membuat pelayan itu mengangguk dan mempersilakan Gilda bertanya. "Kau tahu siapa yang membawaku ke mari semalam?"
"Tentu saja aku tahu, Nona. Beberapa teman tuan Edzhar yang membawa kalian ke rumah. Aku juga ikut menuntunmu, karena semalam kau mabuk berat, Nona," terang Mona tanpa ditutup-tutupi. "Apa kau tidak ingat sama sekali?" tanya Mona yang membuat Gilda menggeleng.
"Di mana kau membaringkanku semalam?"
"Tentu saja di kamar tamu yang berada di samping kamar tuan Edzhar, Nona." Gilda yang mendengar jawaban Mona tentu saja terkejut, sampai menelan ludahnya sendiri dengan mata membola. Melihat ekspresi Gilda, Mona pun bertanya, “Apakah ada yang salah dengan kamar itu?"
“Ti-tidak, tidak ada, Mona. Terima kasih sudah menolongku kemarin.” Gilda tersenyum tipis dengan pikiran kacau. Mendekatkan gelas berisi susu vanila hangat ke bibir, dia berkata, “Terima kasih juga untuk minumannya ....” Mona lantas kembali ke dapur untuk menyiapkan menu sarapan khusus perintah Mateo Martinez.
“Jadi, siapa yang membawaku ke kamar Edzhar?” gumam Gilda yang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia merasa bodoh jika memang itu yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, bagaimana kalau ada yang menjebaknya? Kalau iya, siapa? Membuang napasnya, Gilda kembali minum.
“Tidak mungkin orang-orang di sini melakukan hal gila itu,” lirihnya sebelum bangun dari kursi. Apalagi saat membayangkan wajah Mateo, sepertinya sangat mustahil bagi Gilda kalau pria tua itu merencanakan hal konyol. Ia menambahkan, “Termasuk kakek, tidak mungkin ... lalu, siapa? Dan untuk apa?” Gilda terdiam sebentar sebelum bertanya pelan pada diri sendiri, ucapnya, “Mungkinkah aku berjalan ke kamarnya tanpa sadar?”
Selesai mencuci gelas di dapur, Gilda didatangi oleh sopir keluarga dari Martinez. Pria itu diperintahkan Mateo untuk mengantarnya pulang. Ia pun dengan rasa sungkan menerima perlakuan baik Mateo. Gilda begitu merasa bahwa dirinya sangat merepotkan, tapi Mateo selalu memaksanya.
“Jika kau tidak menerima perlakuan baikku, aku merasa gagal memperlakukan seorang tamu yang sudah kuanggap bagian dari keluargaku sendiri, Nak ...,” ucap Mateo sebelum dia melihat Gilda masuk ke dalam mobilnya. Pria tua itu melambaikan tangan hingga mobil putihnya menjauh dari halaman rumah, dan benar-benar tak terlihat. “Kau sungguh kuanggap seperti cucuku sendiri, Gilda. Seperti kasih sayang seorang kakek terhadap cucunya, aku pun tidak rela sesuatu yang terburuk terjadi padamu.”
*
Satu minggu penuh Gilda tidak pernah mengabari Edzhar apalagi bertemu. Gadis itu benar-benar tidak berani jika harus berhadapan dengan sahabatnya. Gilda takut kalau peristiwa malam itu kembali mengusik, dan membuatnya kembali kepikiran. Alhasil, dia hanya menyibukkan diri di toko roti. Edzhar sendiri juga tidak menghubunginya sampai detik ini.
Pagi-pagi sekali gadis itu sudah bergabung dengan para pekerja di ruang khusus produksi roti. Tugas Gilda adalah menimbang berat adonan roti satu-persatu dan membentuknya menjadi bulatan. Sementara dua karyawan di sekitarnya tengah mengisi adonan yang siap dihias dengan cokelat, kacang, dan berbagai topping lain. Satu pegawai laki-laki berdiri memasukkan roti yang sudah dihias ke dalam oven.
Gilda yang asyik membentuk adonan roti, mendadak dikejutkan dengan sang bibi yang masuk dan mengatakan, “Edzhar datang ke toko mencarimu.” Dengan kaget Gilda berdiri. “Temuilah, sepertinya ada hal serius yang ingin dia bicarakan.”
“E-Edzhar?” Dalila mengangguk. Dengan sangat gugup, Gilda berjalan ke wastafel, mencuci tangan sebelum menemui lelaki itu. “Apa mungkin Ed sudah ingat apa yang kami lakukan malam itu?” gumamnya di dalam hati sambil berjalan menuju pintu keluar.
Sampai di toko roti, pria berkemeja putih bersih itu membelakanginya. Dengan menarik napas panjang Gilda memanggil, “Ed?” Pria yang dipanggil itu menoleh. “Apa yang membawamu ke sini?” tanyanya seraya menghembuskan napas dan tersenyum.
“Aku ingin mengundangmu ke acara tunangan sekaligus lamaran.”
Gilda yang semula gugup, jadi bingung. Dengan dahi berkerut, dia bertanya, “Memangnya siapa yang akan bertunangan?”
“Sore nanti aku akan melamar Carla,” ungkap pria yang tengah tersenyum lebar itu. “Kakek dan aku akan mendatangi keluarganya. Kakek memintaku untuk mengajakmu, karena itulah aku langsung ke tokomu.”
“Untuk apa aku ikut? Aku bukan keluargamu, Ed. Aku tidak seharusnya ikut.”
“Kakek sudah menganggapmu sebagai cucunya, Gilda.” Edzhar dengan senyum tampannya mengambil salah satu tangan Gilda dan meneruskan, “Jadi, ikutlah ... aku juga akan senang kalau sahabatku datang di hari baikku. Kakek yang sudah mempersiapkan acara mewah ini, pasti beliau mengundang banyak orang.”
Gilda ber-oh ria. “Berarti acara lamaran kalian tidak privasi?” Edzhar menggeleng dengan senyum lebarnya.
“Bagaimana? Kau akan datang, ‘kan?”
Mendengar pertanyaan Edzhar dan melihat senyum cerah terpatri di wajah lelaki itu, entah mengapa tiba-tiba ada perasaan sedih yang bersarang di dalam hati Gilda. Hatinya terasa aneh, seperti ada rasa tak rela Edzhar melangkah ke jenjang yang lebih serius bersama Carla. Jauh di lubuk hati Gilda, ia tak suka, dan tidak terima. Meski begitu, Gilda tetap mengangguk karena masih sadar bahwa dirinya cuma sahabat.
“Aku tidak bisa menolak kalau kakek yang mengajakku,” ucap Gilda kemudian yang membuat Edzhar terkekeh. “Salah kalau aku melarangmu melamarnya, Ed. Kita bukan sepasang kekasih, dan ... malam itu adalah kesalahan yang memang tidak pantas kita lakukan ...,” sambung Gilda di dalam hati.
“Ah, aku lupa ... sebentar, kau tunggu di sini. Ada sesuatu untukmu dan tertinggal di dalam mobilku, akan aku ambilkan.”
“Oke,” jawab Gilda sambil mengangguk.
Edzhar balik badan dan berlari kecil keluar dari toko roti Gilda. Pria itu kembali dengan membawa sebuah paper bag. Sembari memberikannya pada Gilda, dia berujar, “Itu untukmu, kakek yang membelinya, tapi aku belum melihat isinya.”
Gilda menerima paper bag yang disodorkan Edzhar padanya, dan bertanya, “Apa ini?”
Edzhar mengangkat bahu, tak tahu. “Sepertinya gaun untukmu yang harus kau pakai nanti sore,” dugaannya dengan mengelus pundak Gilda. “Baiklah, aku harus pergi. Kau harus datang, Gil. Aku tunggu kehadiranmu sore nanti,” pesannya yang dibalas Gilda dengan anggukan dan senyuman. “Tampillah dengan sangat cantik, supaya kau bisa menemukan laki-laki terbaik di acaraku nanti.” Sesudah mengatakan itu pria yang memakai kemeja putih lengan pendek itu benar-benar beranjak dari toko roti Gilda. Meninggalkan Gilda yang memandangi paper bag dari Mateo.
“Itu apa?” tanya Dalila yang keluar dari ruang produksi dan menghampiri Gilda. Matanya tertuju pada tas berbahan kertas di tangan sang keponakan. “Baju?”
Gilda mengangguk. “Sepertinya gaun untukku, Bi. Aku lanjut kerja dulu,” pamitnya dan melewati sang bibi. Ia tak langsung bekerja, tapi masuk ke ruangan khusus untuknya dan sang bibi yang biasanya digunakan untuk beristirahat dan menghitung hasil penjualan. “Aku jadi penasaran seperti apa gaun pilihan kakek untukku ...,” gumamnya sambil meletakkan paper bag tersebut di atas sofa. Sesudah itu ia beranjak pergi dari sana dan masuk ke ruang pembuatan roti.
*
Gaun maxi berwarna merah tampak gemerlapan karena dipenuhi payet di bagian dadanya sampai perut, dan di sekitar pinggang. Gilda yang datang dengan tampilan memukau itu pun menjadi sorotan para tamu. Tak jarang para pria muda di sana mencuri pandang ke arahnya, dan Gilda yang berjalan dengan tidak nyaman, netra cokelatnya mulai mencari-cari tempat paling sepi.
“Kau sendirian, Nona?” tanya seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di sisi kiri Gilda, dan perempuan itu lantas menoleh, lalu menganggukkan kepala. Tanpa Gilda duga, pria tampan itu mengulurkan tangan kanan pada Gilda sembari melanjutkan, “Kendrick Jonas Hernandez. Kau sendiri siapa?”
Gilda terdiam sebentar seraya melirik tangan itu, yang membuat ujung jarinya semakin maju ke arah Gilda. “Violetta Gilda,” jawab Gilda yang mau tidak mau memberikan senyum ramah untuk pria tinggi di hadapannya ini.
“Kau yakin tidak datang bersama pasanganmu?”
Belum sempat Gilda menjawab, pembawa acara di sana menyapa para tamu dan acara pun sudah dimulai. Gilda lantas diajak Kendrick ke salah satu meja yang tersedia untuk dua orang, karena yang tersedia di acara itu hanya dua tipe meja, meja untuk empat orang dan dua orang saja. Kebetulan yang tersisa hanya tipe meja dengan dua kursi.
“Kau yakin tidak datang bersama pasanganmu, Nona Violet?”
Gilda melirik Kendrick dan menggeleng. “Tidak. Lagi pula sebenarnya aku bukan keluarga dari Edzhar, kakek Mateo yang mengundangku ke acara ini. Ngomong-ngomong, nama panggilanku Gilda, panggil saja Gilda ....”
“Tapi aku suka dengan nama Violet, terdengar cantik dan cocok untukmu.”
Gilda dengan spontan mendelik dan ekspresi itu membuat Kendrick tertawa kecil. “Aku jarang sekali dipanggil Violet.”
“Baiklah, Gilda ... jadi, kau bukan saudara jauh Edzhar?”
Gilda menjawab ‘tidak’ dengan singkat dan memilih fokus pada MC yang membuka
sesi acara dengan mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang datang.
Kendrick mengangguk paham dan lanjut bertanya, “Jika begitu, apa hubunganmu
dengan kakek?”
“Ed dan aku adalah teman kuliah hingga sekarang. Karena itu
kakek Mateo menganggapku sebagai keluarganya,” terang Gilda singkat.
Sesudah itu keduanya memerhatikan acara, dengan Kendrick yang tak bisa berhenti menatap Gilda sepenuhnya. Lelaki itu teramat kagum dengan pesona Gilda pada sore ini, dan berharap Mateo mengizinkannya untuk mengenal Gilda lebih jauh. Hanya Gilda yang benar-benar fokus pada MC di depan
sana.
Acara lamaran itu berlanjut pada sang MC yang menceritakan perjalanan kisah cinta Biantara Edzhar Martinez dan Carla Florine dengan cukup detail. Mulai dari berkenalan, berpacaran, sampai ada di titik ini. Mendengar
baik-baik semua itu, tanpa sadar air mata Gilda menetes. Menghapus air matanya dengan hati-hati, Gilda bangkit berdiri, dan pamit pada Kendrick, “Aku ingin ke kamar kecil.”
“Kau ingin kutemani?”
“Tidak perlu, sepertinya aku akan lama,” jawab Gilda yang langsung pergi. Buru-buru Gilda keluar dari ruang khusus acara dan memilih lari ke taman depan rumah Carla. Kebetulan taman tersebut sepi. Semua
orang benar-benar sedang di dalam, dan Gilda merasa sangat lega setelah duduk di salah satu bangku hitam dengan napas panjang berhembus dari hidungnya.
“Seharusnya kau tidak boleh begini ...,” bisik Gilda pada dirinya sendiri sambil menatap langit yang mulai gelap di atas sana.
“Kau mencintai Edzhar?” tanya pria yang baru dikenalnya tadi itu dengan wajah datar. Ia mendekati Gilda dan berakhir duduk di sebelahnya.“Kau tidak tahan mendengar kisah mereka, bukan? Oleh sebab itulah kau memilih menyendiri di sini.”
“Sebaiknya kau tidak perlu tanya. Bukan urusanmu untuk tahu,” balas Gilda yang langsung bangkit dari bangku dan hendak meninggalkan Kendrick. Belum sempat mengayunkan kakinya lebih jauh, Kendrick menarik tangannya dan membuat Gilda jatuh di atas pangkuan Kendrick. “Apa yang kau
lakukan?!” bentak Gilda saat kedua tangan Kendrick melingkari pinggangnya.“Lepaskan aku!” sentaknya yang kali ini dengan nada lebih tinggi.
“Tentu menjadi urusanku, karena aku tidak akan membiarkan gadis secantik dirimu merasa sedih hanya karena seorang Edzhar," balas Kendrick yang bukannya menyingkirkan tangan dari pinggang ramping Gilda, tapi makin memeluk erat. “Dia tidak pantas untukmu, Violet ...,” bisik Kendrick yang seketika itu membuat Gilda merinding dan menelan ludahnya.
Dalam satu detik saja tangan kanan Gilda sudah mendarat di pipi Kendrick. “Kau pria gila!” sembur Gilda kemudian. Ia bahkan memukul dada Kendrick serta memberikan tamparan tambahan sebelum tubuhnya terlepas dari pelukan Kendrick. “Aku akan mengadukan perlakuanmu ini pada kakek Mateo!”
“Ada apa, Nona Gilda?!” pekik seseorang yang baru saja berlari dari halaman rumah setelah turun dari mobil. “Kau baik-baik saja, Nona?!”
“Aku baik-baik saja, tapi pria itu sepertinya sudah tidak waras!” jawab Gilda sambil menunjuk ke arah Kendrick yang tengah mengelus-elus pipi, dengan tatapan tertuju padanya.
“Kau ingin pergi ke mana, Nona Gilda?” tanya Mona saat Gilda makin berjalan menjauh. Asisten rumah tangga Mateo itu pun berlari, mengejar Gilda dan menarik tangan wanita itu dengan berkata, “Maaf jika saya berbuat lancang, Nona Gilda. Apa kau ingin pergi?”
“Sepertinya aku harus pulang,” jawab Gilda begitu Mona sudah menahan tangannya.
“Kau tidak ingin di sini sebentar saja, Nona? Tuan Mateo pasti mencarimu, beliau pasti cemas jika kau tidak ada di sini.”
“Kau sudah melihatku, dan kau tahu aku ingin ke mana. Karena sudah tahu, biarkan aku pulang.”
Kendrick mendekati dua wanita beda generasi tersebut, lalu menarik Gilda. “Kau tenanglah, aku akan menjaganya untuk kakek. Dia akan tetap di sini sampai acara ini selesai,” ucap Kendrick pada Mona, yang membuat Gilda mendongak ke arahnya. Kendrcik menggeret pinggang Gilda supaya beranjak dari hadapan Mona saat itu juga.
Gilda yang masih kaget, tak langsung memberontak. Wanita itu justru mengikuti ke mana Kendrick membawanya. “Ikuti ucapanku jika tidak ingin aku membongkar isi hatimu itu pada Edzhar maupun Carla ...,” bisik Kendrick setelah keduanya menjauhi Mona.
Dengan sangat terpaksa Gilda mengikuti Kendrick. Wanita itu dibawa masuk kembali, dan ternyata Kendrik memintanya untuk duduk bersama. Keduanya pun mengikuti rangkaian acara pertunangan Edzhar dan Carla dengan tenang.
Tampak Gilda yang tidak memperlihatkan ekspresi senangnya. Wanita bergaun merah kelap-kelip itu seperti berusaha tersenyum. Meski ada keanehan di dalam hati, Gilda tetap memerhatikan pasangan di depan sana. Perasaannya sedikit tidak nyaman saat jari manis Carla tersemat sebuah cincin yang dipasangkan oleh sahabat laki-lakinya.
“Bagaimana? Panas?” tanya Kendrick yang membuat Gilda melirik sekilas pada pria sok asik itu. “Kau tidak ada keinginan untuk menangis?”
Gilda benar-benar menengok ke arah Kendrick, di sebelah kiri. “Kau sendiri? Bukankah kaulah yang merasa panas? Aku tahu, kaulah yang paling sakit hati saat melihat Carla tersenyum senang di sana, seperti sekarang ...,” balas Gilda dengan senyum miring. Tentu yang dikatakan Gilda adalah suatu kebenaran, karena sempat melihat sorot mata Kendrick yang seakan membenci pemandangan pertunangan dua orang di depan mereka.
“Kau tahu itu?” Gilda mengiyakan dengan terus menatap Edzhar dan Carla. “Tapi sepertinya ada wanita lain yang mengisi hatiku,” ucap Kendrick yang membuat Gilda menarik napas sebentar. “Bukankah kita sama-sama tidak suka dengan pertunangan mereka?”
“Lalu?”
“Bagaimana kalau kau dan aku menjalin hubungan?” Tentu saja Gilda mendelik dan mengalihkan tatapannya menjadi ke arah pria di sampingnya. Ia terdiam, hampir saja ia ingin meneriaki nama Kendrick saat itu juga. Akan tetapi, ucapan MC di depan sana membuatnya kembali fokus pada acara. “Apa kau ingin kita langsung menikah saja?”
“Kau memang sudah gila!” pekik Gilda setelah pembawa acara mempersilakan para tamu untuk menikmati hidangan yang tersedia di bagian deretan paling belakang para tamu.
“Aku saja baru kenal dirimu beberapa menit lalu!”
“Mengapa tidak kita coba berkenalan lebih dulu? Lagi pula kau sedang tidak berhubungan dengan seseorang, bukan?” Gilda menggeleng seraya bangun dari kursinya. “Kau mau ke mana?!” Tepat kala Kendrick berhasil menjangkau pergelangan tangan Gilda, suara Carla memanggil pria itu terdengar oleh keduanya.
Gilda yang hendak pergi itu pun menjadi heran saat Kendrick melepas tangannya tiba-tiba dan tersenyum dan berdiri ke arah Carla. Melihat senyum Kendrick, Gilda menggeleng. “Dasar! Oh, jangan bilang kalian berdua pernah ada hubungan ...,” bisik Gilda yang tak terlontarkan sambil menatap Kendrick yang mengucapkan selamat pada Carla dengan tidak tulus. Gilda mampu melihat ekspresi dan nada suara Kendrick yang berbeda.
Tiba-tiba saja Carla menerima pelukan Kendrick dan wanita itu mengajak Kendrick ke arah meja khusus makanan. “Aku harus membawa sahabatku ini sebentar, Gilda. Kami pergi dulu, ya!” seru Carla yang sudah pasti Gilda persilakan. Detik itu juga, Gilda menyadari bahwa pasti ada sesuatu di antara Carla dan Kendrick.
Sesudah kepergian dua orang itu, pundaknya ditepuk seseorang dari belakang. “Ed? Kenapa ke sini? Kau tidak mau berduaan dengan Carla?” Edzhar tertawa pelan. “Untuk apa? Dia tidak akan kemana-mana. Kebetulan aku sedang ingin berbicara dengan sahabatku.” Gilda lantas menunjuk dirinya sendiri. “Siapa lagi kalau bukan kau, Gil? Ayo, kita ambil makanan terlebih dulu sebelum berbincang denganmu lebih jauh.”
“Ah, tidak bisa. Aku haru pulang, Ed.” Edzhar yang sudah meraih tangan Gilda itu langsung merasakan hempasan cukup kencang. “Bibi sedang membutuhkanku. Ada banyak pesanan roti untuk besok pagi, kami semua akan sibuk. Aku ingin pulang sekarang,” alasan Gilda yang membuat Edzhar menatapnya penuh selidik.
“Kau sedang tidak berbohong, ‘kan?”
“Tidak, Ed. Aku serius, besok pagi ada pesanan roti. Malam ini kami harus mulai membuat sebagian.”
Dengan berat hati Edzhar mengizinkan Gilda pulang. Namun, sebelum itu Edzhar menelepon sang sopir agar mengantar Gilda pulang. Edzhar juga meminta Gilda untuk bertemu dengan Mateo terlebih dulu sebelum angkat kaki dari kediaman Carla.
*
Hampir satu bulan lamanya Gilda berkutat dengan toko serta customer yang selalu ramai setiap harinya. Semenjak toko rotinya ikut dipromosikan di media sosial, Gilda jadi tak punya waktu untuk berlibur beberapa hari. Bahkan ia harus mencari tambahan pekerja, dan menyewa tempat lagi untuk memperluas ruang produksi roti dan kue-kue miliknya.
Akibat dari kesibukan itu, Gilda pun jarang memerhatikan kondisi tubuh. Hingga siang ini Gilda mendadak pingsan di ruang produksi. Dalila yang panik lantas meminta beberapa pekerja untuk membantunya mengantar Gilda ke rumah sakit. Belum sampai di rumah sakit, Gilda sudah sadar. Karena efek
aroma dari minyak kayu putih, wanita itu terbangun.
Gilda yang sudah membuka mata itu pun berkata, “Kepalaku pusing ... sepertinya karena perut kosongku.”
“Kau membuatku khawatir! Lain kali jangan lewatkan jam makan siangmu, aku tidak suka melihatmu pingsan!” sembur Dalila dengan muka yang masih syok. “Kita hidup hanya berdua saja, Gilda. Seharusnya
perhatikan kesehatanmu, aku hanya punya dirimu,” tambahnya yang membuat Gilda mengangguk dan berusaha untuk duduk tegak.
“Cari tempat makan saja, Bibi. Aku lapar,” ucap Gilda seraya mengelus perutnya. Sang bibi pun meminta sopir toko roti mereka untuk mencari tempat makan terdekat. Tidak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi mereka berhenti di depan resto. Dalila dengan bantuan karyawannya, membantu Gilda
turun. “Tidak perlu berlebihan, aku baik-baik saja. Lebih baik kalian kembali ke toko, aku bisa urus diriku sendiri,” terang Gilda setelah mereka keluar dari mobil.
“Aku akan mengantarmu sampai dalam,” lontar Dalila tegas. Ia menggandeng Gilda sampai masuk ke resto tersebut. Sampai di dalam, Gilda memohon pada sang bibi untuk kembali ke toko, dan membiarkannya pulang sendiri. Karena Gilda sangat keras kepala, alhasil Dalila setuju dengan meminta sopir toko untuk tetap menemani Gilda. “Jaga dirimu baik-baik, aku kembali sendiri saja. Makanlah yang banyak,” pesan Dalila sebelum keluar.
Seperginya sang bibi, Gilda menyampaikan apa yang ingin sekali ia makan pada waitress. Begitu sang pelayan resto tersebut pergi, Gilda terdiam sambil mengelus perutnya. Ia menunduk dan berbisik, “Maafkan aku karena terlalu fokus bekerja, sampai lupa bahwa bisa saja kau kelaparan, maaf ....”
Makanan yang Gilda pesan pun datang. Gilda sangat ingin memakan sapo tahu seafood yang menurutnya sangat nikmat dimakan di waktu terik seperti ini. Bukan cuma itu, di meja Gilda sudah tersedia cumi goreng mentega. Satu gelas jus alpukat bahkan sudah lebih dulu ia minum sebelum mencicipi menu
utama.
Gilda tidak langsung menghabiskan sapo tahu, tetapi diselingi dengan cumi goreng mentega yang tak kalah menggugah seleranya. Wanita itu tampak makan dengan tenang, dengan sesekali mengelus pelan perutnya. Sesekali harus meminum jus, karena haus melanda. Wanita yang memakai gaun sebetis berlengan pendek itu
dikejutkan dengan suara seseorang. Suara yang tak asing, dan berasal dari belakang tubuh, membuat Gilda menoleh. Sosok Mateo tengah tersenyum padanya dan memilih duduk di depan Gilda tanpa izin lebih dulu.
“Ka-Kakek?” Gilda agak terbata-bata dan berusaha menunjukkan senyum. “Apakah Kakek makan siang sendirian?” tambahnya sembari melirik ke kanan dan kiri, lalu ke belakang sebelum akhirnya kembali melihat depan.
“Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan padamu, Gilda ...," balas Mateo yang terlihat begitu serius di mata Gilda. Wanita itu sampai meraih segelas jus alpukatnya sebelum mengangguk dan mempersilakan Mateo bersuara.
“Hal ini mengenai malam ... di mana kau dan Ed pulang dari club.” Detik itu juga Gilda merasa waktu berhenti. Tatapannya pada Mateo semakin tajam, terlebih saat tangan kirinya refleks terulur ke perut yang
masih rata. Dadanya berdegup lebih cepat saat Mateo mengambil sebuah ponsel dari kantong kemeja yang pria tua itu pakai, dan mengucapkan, “Ada yang aneh malam itu.”