Bab 1

"Apa?!" Mira terkejut bukan main mendengar permintaan bapaknya. Bahkan mulut Mira sampai menganga lebar dengan mata terbelalak.

 "Bapak yakin meminta Mira jadi istri kedua Mas Alka?" tanya Mira dengan suara bergetar menahan gemuruh di dadanya. Dia menjeda ucapannya sesaat, lalu kembali berkata, "Mira tidak mau, bahkan Mira juga tidak sudi menjadi istri kedua untuk siapapun!"

 Tidak bisa menahan rasa terkejut sekaligus rasa sedih dan kecewa yang bercampur aduk menjadi satu, tanpa disadari Mira berbicara dengan nada tinggi pada bapaknya. Bahkan seumur hidupnya, baru kali ini intonasi tinggi itu keluar dari mulut Mira ketika berbicara dengan orang tuanya.

 Kedatangan Tuan Maheer Wiraatmadja dan Nyonya Salma kali ini bagaikan malapetaka bagi Mira. Bagaimana tidak, Mira yang tidak pernah bermimpi ingin menjadi madu untuk perempuan lain, malah kini dia diminta bapaknya untuk menikah dengan pria beristri.

 "Mira!" hardik Pak Darma yang tidak terima anaknya melawan dengan suara keras seperti itu.

 Pak Darma melangkah ke depan mendekati Mira, sedangkan wanita itu mundur ke belakang menghindari bapaknya.

 "Kamu sudah berani melawan Bapak?" tanya Pak Darma menatap tajam pada anaknya.

 "Mira bukan melawan Bapak, tetapi Mira tidak mau jadi istri kedua! Bapak mau melihat Mira dihujat orang-orang dengan diberi gelar sebagai pelakor? Apalagi Mira belum pernah bertemu dengan Mas Alka, bagaimana kalau dia bukan orang baik-baik?" ungkap Mira mengutarakan isi hatinya.

 "Jaga mulutmu, Mira! Selama ini kau juga telah mengenal mereka lebih dari warga lainnya, tidakkah kau lihat mereka itu sebagai keluarga baik-baik?" bentak Pak Darma.

 Pak Darma maupun Mira tidak pernah bersitegang seperti ini sebelumnya. Apalagi saling bersahutan dengan intonasi tinggi. Sekarang mereka seakan berada di luar karakter diri masing-masing.

 Mata Mira menganak sungai, dadanya terasa sesak bagaikan menahan beban yang begitu berat. Tidak bisa terbayangkan olehnya posisi sebagai istri kedua, apalagi pria itu tidak dikenalinya sama sekali.

 "Mira sangat menghormati Bapak, Mira juga akan selalu menuruti perintah Bapak, tetapi Mira mohon jangan meminta Mira menikah dengan pria yang masih berstatus suami orang. Mira tidak mau jadi istri kedua, Pak," mohon Mira dengan suara bergetar, bulir bening yang sedari tadi dia tahan keluar begitu saja dari pelupuk mata gadis itu.

 "Kita berhutang budi pada keluarga Tuan Maheer Wiraatmadja. Sudah banyak jasanya yang kita terima. Mereka tidak meminta kita membalas dengan setimpal, hanya meminta kamu jadi menantu mereka. Bahkan permintaan itu suatu kehormatan bagi keluarga kita!" ungkap Pak Darma, terlihat jelas kalau dia ingin anaknya mau menikah dengan anak Tuan Maheer.

 Mira tersenyum getir, hatinya bagaikan tersayat ribuan belati ketika bapaknya berbicara soal jasa keluarga Tuan Maheer pada mereka.

 "Jasa dan hutang budi?! Apa di mata Bapak jasa mereka pada keluarga kita atas uang dan hadiah yang selalu mereka berikan itu setimpal dengan hidup Mira? Lalu ... Bapak tega memberikan putri Bapak sebagai alasan balas budi tersebut, mengikhlaskan Mira menjadi istri kedua dalam keluarga itu? Secara terang-terangan Bapak telah memberi peluang pada orang lain untuk menindas Mira sebagai anak Bapak. Sekejam itukah bapakku?" Mira terisak, tangisnya yang dia tahan akhirnya pecah juga. Bulir bening menghujam keluar dari pelupuk matanya.

 "Jika keluarga mereka adalah keluarga baik-baik, maka mereka tidak akan meminta yang namanya balas budi. Apalagi meminta putri Bapak untuk menjadi istri kedua buat anaknya yang masih punya istri sah sampai sekarang. Itu artinya, ada rencana besar yang tengah mereka siapkan ketika memberi keluarga kita hadiah. Pikiran mereka terlalu licik, mereka tidak tulus memberi kita hadiah, mereka bukan keluarga baik-baik, mereka–"

 "Mira!" potong Pak Darma berteriak menghentikan ucapan anaknya.

 Mendengar perkataan Mira, retak sudah kesabaran Pak Darma. Hingga dengan begitu ringan, sebelah tangannya terangkat dan melayang tepat di pipi sebelah kiri anaknya.

 "Bapak tak pernah mengajarimu berkata buruk seperti itu, Mira!" bentak Pak Darma penuh amarah pada Mira yang meringis merasakan sakit dan panas di pipinya.

 Mira memegang pipi putihnya, di sana sudah ada cap merah akibat tamparan dari bapaknya yang begitu keras. Rasanya begitu sakit dan perih, tetapi lebih sakit lagi hati Mira yang mendapat perlakuan kasar dari bapaknya.

 "Tapi benar 'kan, Pak? Mereka itu licik. Mereka memberi keluarga kita uang dan hadiah lainnya, dibalik itu semua mereka punya rencana besar yang telah mereka susun. Apa yang mereka berikan pada keluarga kita bukan dengan keikhlasan. Buktinya mereka sekarang meminta Mira untuk menjadi istri kedua anaknya. Bapak tahu? Mbak Amina, menantu mereka yang sekarang itu mandul!!"

 Mira menjeda ucapannya sesaat, sedangkan Pak Darma mengepalkan tangannya begitu marah pada pemikiran anaknya yang dia rasa sangat singkat.

 "Mereka bukan menginginkan Mira untuk menjadi menantu yang akan mereka sayangi, Pak. Mereka hanya ingin rahim Mira untuk melahirkan keturunan! Bukankah mereka sering mengatakan kalau mereka sangat menginginkan cucu dari Mas Alka? Apa Bapak tidak paham maksud mereka?" Air mata Mira kian berderai, merasakan pedih di pipi dan juga di hatinya.

 "Cukup! Bapak tahu mana yang terbaik untukmu." Pak Darma menatap tajam pada Mira, kepalanya terasa sakit dan pusing ketika Mira terus membantah dan berani menantangnya sebagai orang tua.

 "Jika Bapak tahu mana yang terbaik untuk Mira, tidak mungkin Bapak mau menikahkan Mira untuk jadi istri kedua hanya karena balas budi," sahut Mira membuat Pak Darma makin marah.

 "Cukup, Mira! Cukup!" teriak Pak Darma dengan suara membentak.

 "Jika kamu tidak mau menikah dengan anak Tuan Maheer, jangan anggap Bapak ini orang tua kamu lagi. Bapak tidak sudi punya anak pembangkang seperti kamu!"

 Hancur, itu lah yang dirasakan Mira ketika mendengar pernyataan bapaknya. Pikiran Mira berkecamuk, dia bahkan menyimpan sesal yang teramat dalam. Hanya karena ingin balas budi, bapaknya tega menghancurkan masa depan Mira yang nantinya akan menjadi istri kedua. Yang namanya istri kedua, tidak akan pernah mendapat tempat terbaik di manapun. Itu lah yang kini menggelitik hati dan pikiran Mira.

 "Silahkan pilih, mau menikah dengan anak Tuan Maheer atau pergi dari rumah ini dan tidak menganggap bapak orang tuamu lagi, serta adik-adikmu juga bukan lagi keluargamu!"

*****

Pukul tiga dini hari, Mira menengadahkan wajahnya menatap langit berbintang. Angin malam berhembus dingin, menelisip di antara surai panjangnya, membuat mereka terbang, menari-nari, menimbulkan bunyi yang khas, sungguh elok jika di pandang.

 Bunyi takbir masih terdengar menggema di sudut-sudut kota kami, namun Mira sudah menulikan telinganya, tak lagi tertarik untuk keluar dan ikut meramaikan.

 Beberapa saat kemudian, bunyi keriuhan takbir mulai masuk ke dalam rumah Mira.

 Ceklek!

 "Kak, waktunya pembagian hadiah! " Ucap Wulan seraya menyembulkan kepalanya memasuki kamar Mira, tak lupa dengan senyum sumringah dan nafas ngos-ngosan nya sehabis empat jam nonstop menggemakan takbir di luar.

 Mira mengangguk, buru-buru mengubah mimik wajahnya, "kau kesana lah terlebih dahulu, kakak akan menyusul! "

 Dan tibalah Mira di ruang tamu, tempat ia mendapat 'kabar baik' dari Bapaknya tadi, dan Mira mendengar keseruan kelima adiknya dengan hadiah dari Tuan Maheer dan istrinya.

 "Waaah, hadiah tahun ini banyak sekali! "

 "Iya, aku juga tak menyangka akan sebanyak ini. "

 "Tuan Maheer memang sungguh murah hati. "

 "aku ingin buka yang kotak paling besar itu! "

 "Aku buka yang hijauu... "

 Lalu suara Wulan menginterupsi, "kita tunggu kak Mira saja. "

 Miraa telah berada di belakang mereka kurang lebih lima menit lamanya, namun rupanya mereka tak menyadari kehadiran nya gara-gara terlalu semangat dengan hadiah itu.

 Melihat itu, Mira harus mendesah dalam hati, teringat ucapan Bapaknya enam jam yang lalu.

 Benar sudah ucapan Bapaknya, semua orang di desanya, bahkan desa sebelah, atau mungkin seluruh kota juga sangat menyukai keluarga Tuan Maheer yang terhormat itu.

 Irham, yang duduk paling dekat dengan tembok segera menyadari kehadiran Mira, "kakak kenapa diam saja di situ? Ayo cepat bagikan hadiah ini. "

 "Iya nih, kita rasanya udah nunggu selama satu jam! "

 "Ayo, kak! Cepat ke sini! "

 Mira tersenyum, berupa sebuah senyum palsu yang terlihat paling alami, "Baiklah, rupanya adik-adik Kakak ini sungguh tidak bisa bersabar... " Lalu membagikan hadiah-hadiah itu dengan adil.

 Di belakang Mira, radio jadul yang sejak tadi sore terus membunyikan semarak takbir tak terputus, Tiba-tiba beralih menjadi suara seorang perempuan pembawa acara gosip.

 [ "Seperti yang telah kita ketahui, Tuan Muda Renjana ini memang sering kali terlihat memasuki klub yang sama. Namun, hari ini sungguh berbeda! Tuan Muda Renjana terciduk telah berada di dalam klub itu dari pukul tiga sore tadi. Bukankah itu masih terlalu dini? Atau, mungkin Tuan muda Renjana tidak melakukan puasa wajib?"]

 Wulan mengerutkan keningnya, "huh, andai saja Tuan Muda Renjana ini mengenalku, boleh jadi dia tak akan terus-terusan memasuki klub malam! "

 Mira juga mendengarkan apa yang orang radio itu ucapkan, namun ia tak peduli, bagaimana pula ada orang yang begitu populer dengan tak tahu malu berada di dalam sebuah klub di malam yang indah ini?

 Seseorang di balik radio itu masih terus setia berceloteh ria. Berusaha mencari uang dengan membeberkan keadaan seseorang yang bahkan sama sekali tak ada hubungan dengannya. Tanpa tahu, apakah orang itu merasa keberatan atau tidak dengan apa yang ia lakukan itu.

 Mungkin hari ini Mira memang tak peduli siapa tuan muda Renjana itu. Namun siapa sangka? Hanya butuh beberapa minggu dari sekarang, semuanya berubah, takdir mempertemukan mereka dalam keadaan yang tidak mungkin, dan tanpa sadar Mira memberikan seluruh hatinya pada si Tuan Muda Renjana yang tak ia pedulikan itu.

 Sepuluh menit kemudian, samar-samar terdengar suara ayam jantan berkokok!

 Maka dari itu, setelah selesai membagikan hadiah itu, Mira segera mengambil wudhu dan berdoa dengan sepenuh hati.

 Malam itu, di hari kemenangan yang bahagia, Mira menangis di atas sajadah birunya. ["Bila memang tiada bisa menghindar, maka akan ku jalani takdirku ini."]

 Sementara di rumah kecilnya Mira bergelut sedih dengan hatinya, di sisi lain, di sebuah rumah besar milik keluarga terhormat, di dalam sebuah kamar luas yang bahkan hanya bisa di masuki setelah menaiki tangga dengan karpet putih.

 Alka memeluk erat istrinya dari belakang.

 Sejak seminggu yang lalu, Alka telah merasa keberatan dengan keputusan istrinya yang justru menyetujui ide poligami dari orang tuanya. Ia melayangkan protesnya terhadap Amina, namun apa hendak di kata? Amina juga hanyalah manusia biasa, dan ia juga tak lagi mampu menahan beban kemandulannya itu sehingga membuat sang suami ikut menderita tak memiliki seorang keturunan.

 Untuk tahun pertama itu, mereka masih bisa terima, bahkan Amina masih sangat menantikan keajaiban terjadi dan ia bisa hidup layaknya ibu rumah tangga lainnya yang bisa menimang seorang putra. Namun tiga tahun kemudian, Amina merasa lelah, karena hampir setiap hari ia melihat kilatan cahaya redup dalam mata kedua orang tua Alka. 

 Tentu saja, bagi orang kaya dan terhormat seperti mereka, mempunyai seorang penerus itu adalah hal yang teramat sangat penting. Dan meskipun mereka tak mengucapkannya, Amina tahu, di dalam hati mereka sangat menginginkan seorang pewaris.

 Hingga akhirnya, satu minggu yang lalu, entah siapa yang pertama kali memiliki ide hebat itu, hingga akhirnya Amina setuju suaminya berbagi kasih.

 Alka semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Amina, dan ia merasakan setetes air mata membasahi punggung tangannya, "sayang, dalam hal poligami ini, bukan hanya kamu yang menderita sendirian, Mas pun juga merasakan hal yang sama. Jadi mas mohon, tarik saja ucapanmu kembali, dan jangan biarkan Mas membagi cinta kita!"

 Amina membenamkan wajahnya di dalam bantal, mencoba meredam isak tangisnya yang walaupun sudah ia tahan, namun tetap nakal keluar.

 Karena tak mendapatkan jawaban dari istrinya, Alka kembali berkata, "Mas sungguh tak memerlukan seorang putra, dalam hidup ini, memilikimu saja Mas sudah sangat bersyukur, tak lagi muluk-muluk menginginkan hal lain."

 Amina menggeleng sedih di antara tangisnya. Ia tahu, suaminya bersedia terus mencintainya tanpa syarat. Tapi sebagai seorang wanita yang tak sempurna, ia tentu memiliki hati yang sangat rapuh dan tak lagi memedulikan hal itu. Karena walau bagaimana pun, kebahagiaan suaminya adalah prioritas utamanya, dan baginya, seseorang akan sempurna merasakan kebahagiaan ketika telah berhasil menimang seorang putra.

 Tiba-tiba Alka beranjak berdiri, melepaskan pelukannya pada tubuh Amina, membuat punggung yang awalnya terasa hangat jadi dingin, juga membuat wajah Amina yang semula terbenam di dalam bantal terangkat, "Mas mau kemana?"

 "Mau menemui Ayah dan Ibu,"

 "Mas! Jangan bilang Mas mau... "

Bab 2

"Iya, sekarang kita masih bisa membicarakannya dengan baik. Dan jika kita menundanya, boleh jadi tak ada lagi waktu untuk selamat." Alka tak membiarkan istrinya menyelesaikan kata-katanya. Dan ia telah melangkahkan kedua kaki panjangnya hendak keluar dari kamar.

Melihat itu, Amina segera menyingkap selimut besar yang membungkus dirinya. Ia lalu bergerak cepat menuruni ranjangnya hingga seluruh gerakan tubuhnya menjadi tak terkontrol, kemudian dalam satu adegan yang begitu cepat, ia jatuh tepat di bawah kedua kaki Alka.

Karena sudah terjatuh, dan saat pertama kali membuka mata Amina melihat kedua kaki Alka, ia segera memeluk kedua kaki itu dengan erat, "ku mohon Mas jangan lakukan hal itu!" Ia terisak di bawah kaki suaminya sendiri. Memohon dengan hati yang paling dalam.

Alka membeku, ia tadi mendengar dengan jelas suara gedebuk ketika istrinya terjatuh. Boleh jadi, besok ia akan melihat adanya luka pada tubuh istrinya, dan ia tentu tak bisa merelakan hal itu.

Maka dari itu, Alka menjatuhkan seluruh badannya, dan memeluk Amina di atas lantai dingin kamar mereka, "tapi Mas harus melakukannya, Mas sungguh hanya memiliki satu hati, dan telah di penuhi sesak olehmu!"

Amina menggeleng cepat, "tapi Mas tidak boleh melakukannya! Sore tadi Ayah dan Ibu telah berangkat ke rumah Mira, mereka telah mengatakan niat baik itu pada mereka! "

"Niat baik kau bilang?" Alka menatap istrinya tak percaya. Menjadikan seorang gadis baik-baik sebagai seorang istri kedua, mana bisa di bilang sebagai niat baik? "Dengar, boleh jadi memang Ayah dan Ibu telah menyampaikan lamaran itu pada keluarga mereka, tapi Mas yakin! Mereka pasti belum menjawabnya sekarang!"

Amina memohon dengan tangisan di dada Alka, "maka dari itu, Mas! Jika dalam keadaan ini Mas justru datang dan mematahkan niat itu sepihak, bukankah akan sangat merendahkan keluarga mereka?"

"Bukankah akan lebih merendahkan ketika Mas menikahinya hanya untuk memproduksi seorang bayi? Itukah yang kau inginkan? Kau ingin menyakiti hati wanita lain demi kebahagiaan keluarga kita? "

Amina menggeleng putus asa, bukan itu yang ia maksud. Kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran baju suaminya, dan ia tak akan membiarkan Alka pergi barang satu langkahpun!

Alka menghembuskan nafasnya, mendongak ke arah langit.

Ia tahu, sungguh teramat tahu, apa yang istrinya pikirkan saat ini. Maka dari itu, melihat istrinya yang begitu putus asa di dadanya, ia tak tahan untuk tidak menggerakkan kedua tangannya dan memeluk hangat tubuh istrinya dan berbisik, "maafkan Mas, Mas yang telah salah, sama sekali tak mau mengerti perasaan mu. " Ia mengelus pelan pundak Amina, dan dalam satu gerakan yang dramatis, mengecup kening Amina lama sekali, "Mas akan menikahinya, tapi ingatlah! Hal ini Mas lakukan semata-mata hanya demi dirimu. "

****

"Apa yang ingin kau katakan!?" Renjana menatap dingin orang yang duduk di kursi kebesaran yang tak jauh di depannya.

"Aku telah memikirkan ucapanmu kemarin, tentang membebaskan 'dia' dari rumah bordil itu." Orang itu, yang apalah daya adalah ayah Renjana sendiri, menghisap rokoknya dalam sekali.

"Kau... " Renjana ragu-ragu sejenak, ia takut dirinya hanya di jebak oleh ayahnya sendiri, seperti yang telah sudah-sudah, "kau sungguh akan membebaskannya?"

Orang itu mengangguk kecil, "aku akan membebaskannya, dengan syarat kau harus mengambil alih tanah seluas tujuh puluh hektare milik keluarga Maheer!"

Kedua tangan Renjana mengepal di dua sisi. Ia tahu, orang itu, yang bahkan tak sudi ia menyebutkan namanya, pasti akan meminta sesuatu yang muluk darinya.

"Kau telah mendapatkan begitu banyak selama ini dariku, bahkan itu semua tak sanggup membebaskannya?"

"Aku telah memberimu jalan keluar, tentang mau atau tidak, itu semua terserah padamu! Lagipun, selama ini juga kamu telah mendapat banyak dari kerja kerasmu itu. Bukankah kau selalu di kenal sebagai Tuan Muda Renjana?"

Renjana mendecih, semua itu tak berarti karena ia tak ubahnya 'kacung' yang melayani keluarga bahagia ayahnya dan Ibu tirinya.

"Mari kita buat surat kesepakatan bermaterai!" Ucap Renjana kemudian.

"Oh, hei! Kau bahkan butuh surat bermaterai untuk mengancam Ayahmu?"

Kedua mata seindah bunga persik milik Renjana menyipit penuh kebencian,"Kau sungguh menganggap dirimu sebagai Ayahku?"

"Aku memang Ayahmu!"

"Tapi aku bukan Anakmu!"

Orang itu menghela nafasnya, merasa percuma berdebat dengan anaknya, "kalau begitu, terserah padamu!" kemudian ia menarik sebuah kertas putih dan menempelkan materai di sana, kemudian menuliskan kesepakatan itu dan menyodorkan nya ke arah Renjana.

Renjana menerima kertas itu, membacanya dengan teliti, kemudian menambahkan kata 'harus' untuk menggantikan kata 'akan' pada kalimat: 'akan membebaskan Ningrum'.

****

Dua minggu kemudian. Tujuh mobil mewah datang dari rumah besar keluarga Tuan Maheer untuk menjemput mempelai wanita dan kerabatnya.

Mira telah memakai pakaian pengantin yang begitu indah, anggun, berkelas, dan sangat sedap di pandang mata.

Wulan, ~adik perempuan Mira~ meremas pelan tangan kakaknya. Ia tahu apa yang terjadi, namun memutuskan untuk bungkam, dan seolah tak mengerti apa-apa. Sedang ke empat adik laki-laki mereka justru tengah bergaya dengan jas yang di berikan Nyonya Salma seminggu yang lalu.

Butuh waktu satu jam, hingga akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah rumah yang begitu megah.

Kedatangan keluarga dari kalangan rendah itu di sambut hangat oleh tuan rumah. Nyonya Salma bahkan langsung menghampiri Miraa dan mencium wajahnya. (Eh, maksudnya, mencium kain yang menutupi wajah Mira) dengan suka cita.

Mira dan para tamu kemudian di giring memasuki ruang tamu keluarga yang telah di sulap sedemikian rupa, lengkap dengan sebuah satir setinggi satu setengah meter di tengah-tengah mereka.

Aisha kemudian di dudukkan di kursi paling depan dan langsung di sambut oleh sepasang tangan hangat di sampingnya, "Mira, aku senang kau akan segera menjadi adikku. "

Tanpa perlu Mira membuka kain yang menutupi wajahnya, ia tahu siapa yang tengah mengajaknya bicara.

Itu Amina, siapa lagi?

Amina kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Mira yang tertutup kain, "di masa mendatang, jika butuh sesuatu, maka tak perlu sungkan untuk mencari ku, ya! "

Tak perlu menunggu lama, suara penghulu terdengar dari pengeras suara yang telah di siapkan, lalu terdengarlah suara Alka yang tegas berwibawa, "saya terima nikah dan kawinnya Almira Bestari binti Bapak Darma dengan mas kawin tersebut, tunai. " Dan para tamu menggumamkan kata 'sah' yang hanya terdengar dari telinga kanan Mira dan keluar lewat telinga kiri.

Amina menggenggam tangan Mira, ia dengan setulus hati mengucapkan, "selamat datang di keluarga kami, Mira. "

Mira masih tetap terdiam, telinganya tiba-tiba tuli dengan gema ucapan 'sah' yang baru saja ia dengar. dan sekali lagi, ia harus merasa bersyukur karena baju pengantinnya yang di lengkapi dengan kain penutup wajah. Karena jika tidak, entah bagaimana ia harus menyembunyikan wajahnya sekarang ini?

"Mbak Amina, " Tanpa sadar, Mira memanggil Amina di sebelahnya.

"Iya, Mira? "

Mira ingin mengucapkan sesuatu, Kata-kata itu telah sampai di tenggorokannya, namun tertelan kembali ketika telah sampai di ambang mulut. Ia semakin menundukkan kepalanya, dan sebagai gantinya, justru berkata, "mohon bimbingannya, " Dengan suara agak sedikit bergetar.

Hari itu, ketika orang-orang bersuka cita dengan pernikahannya, memakan berbagai macam hidangan yang tak mungkin bisa mereka makan di kehidupan sehari-hari, Mira malah sibuk sekali dengan pemikirannya sendiri. Ia bahkan sampai tak menyadari, bagaimana keseluruhan acara itu di langsungkan, bagaimana para tamu (yang bagi keluarga Tuan Maheer tak seberapa, namun bagi keluarga Mira sangat banyak) itu pamit pulang.

Dan yang paling miris, ia bahkan tak menyadari bagaimana bisa ia kini telah berada di sebuah kamar yang begitu luas? Dengan sebuah ranjang king size dengan kasur empuk di atasnya, dan entah bagaimana hari sudah begitu gelap? Matahari yang bersinar terang tadi siang, telah berganti dengan cahaya rembulan yang menyabit indah.

Dengan langkah pelan, Mira mendekatkan diri dengan jendela yang menjulang dari lantai ke langit-langit. Ia meletakkan telapak tangannya pada kaca dingin itu, merasakan cahaya rembulan yang tak mungkin ia gapai.

Tok! Tok! Tok!

Miraa masih sangat asik melihat rembulan di langit, sama sekali tak memperdulikan siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarnya, karena ia tahu siapa yang akan masuk.

Ceklek!

Pintu kamarnya terbuka, seseorang masuk, kemudian tertutup lagi, dan Mira masih enggan mengalihkan pandangannya.

"Maaf, karena tak menunggu jawaban darimu terlebih dahulu, dan aku langsung masuk begitu saja, " Dan suara seindah gesekan biola milik Alka terdengar di telinga Mira.

Alka berdiri tepat di depan pintu. Sama sekali tak berniat melangkah lebih dekat ke arah Mira. Ia pun mulai berbicara di sana, "suatu ketika aku pernah mendengar seseorang berkata: hanya seorang wanita yang mengerti perasaan wanita lain. Namun aku tidak tahu, bagaimana kalian para wanita dengan begitu mudahnya mengorbankan perasaan kalian sendiri? "

Alka berdeham pelan, sosok tinggi tegapnya tetap tak berniat melangkah maju. Kedua mata cokelatnya mengikuti arah pandang Mira, memandang rembulan yang menyabit indah, sama sekali tak berniat menatap punggung Mira yang indah berbalut baju pernikahan.

"Hari ini mungkin aku memang menikahi mu, tapi jujur saja, aku sangat mencintai istriku hingga rasanya mustahil hatiku menerima kehadiran hati yang lain. Setiap hari, setiap waktu, aku selalu bisa mencintai istriku tanpa syarat... Aku tahu, mungkin ini memang tak mudah bagimu, namun sekarang akan aku katakan. Amina membagi waktuku untuk kalian berdua dengan begitu adil, semalam di kamarnya, dan semalam lagi di kamarmu, namun karena kita baru saja menikah, maka dalam waktu seminggu ini aku sempurna milikmu."

Terdengar helaan nafas berat, sebelum Alka melanjutkan, "namun hatiku mengatakan agar jangan terlalu egois. Dengan meniduri mu yang boleh jadi tak bisa menerima ketidak berdayaan ku ini, bukankah sama saja aku hanya memanfaatkan mu? Aku melihatmu begitu baik, bahkan, setiap kali Amina berbicara tentangmu, aku selalu berfikir betapa kau adalah seorang gadis yang cantik dan pintar.

Mengingat itu, entah bagaimana cara Ibu membujuk mu, hingga akhirnya kau mau menerima pernikahan yang tak akan pernah sempurna ini?

Maka dari itu aku memutuskan, setiap kali giliran tidur di kamarmu datang, aku akan tidur di kamar tamu. Dan suatu saat, setelah kita bisa lebih bersahabat dengan takdir, dan saat kau telah mau menerima ketidak berdayaan ku ini, maka datanglah ke kamar tamu, dan mari kita lakukan."

Alka berjalan dua langkah ke depan, meraih kartu bank di sakunya, dan meletakkannya di atas meja, dekat dengan buku nikah milik Mira, "di dalam kartu ini, terdapat uang yang akan ku tambah setiap harinya. Kau gunakanlah uang itu! Sandinya 222222."

Setelah mengucapkan hal itu, Alka membalikkan badannya, hendak keluar dari kamar Mira. Namun ketika tangannya telah berhasil memegang handle pintu, ia berhenti, membasahi bibirnya dengan tak nyaman dan berkata, "selamat malam, Mira." Lalu ia benar-benar meninggalkan Mira di malam pertama!

Mira masih terus menatap rembulan dari balik dinding kaca kamarnya. Namun kini pandangan matanya mulai mengembun, membuat kabur bayangan rembulan sabit itu, dan satu tetes air mata lolos membasahi pipinya, menggenang terlebih dahulu di pangkal dagu, kemudian meluncur bebas ke bawah, membasahi lantai murmer yang begitu terasa dingin di kaki telanjangnya.

Malam itu, bahkan langit yang semula cerah tak tersapu awan tiba-tiba menggelap. Bagai ada yang usil menuangkan tinta hitam di sana, maka, hilang sudah rembulan sabit itu, juga jutaan atau bahkan miliaran bintang yang mengiringinya, tergantikan dengan awan hitam pekat sepekat hati Mira.

Lalu perlahan, beberapa tetes air hujan mulai turun, membasahi kota kami dengan begitu murah hati.

Lihatlah! Jika saja Mira memiliki pernikahan yang lebih baik, bukankah segala suasana ini teramat sempurna? Malam yang dingin di sertai suara hujan sebagai musik alami.

Namun sayangnya, Miraa tak bisa merasakan bagaimana indahnya malam pertama yang sering ia baca di novel romansa. Segala suasana malam ini malah terasa begitu memilukan baginya, membuat hati yang menangis kian menjerit, dan membuat mata yang memanas kian memburam.

dalam hatinya, mau tak mau Mira terus membenak: 'Lagi-lagi keluarga ini memberiku uang, menumpukkan rasa perlu membalas budi hingga mungkin bukan hanya aku, bahkan seluruh dunia pun rela bersujud di hadapan mereka! '

Ia berjalan perlahan ke arah meja, meraih kartu bank dan akta nikahnya, lalu memasukkan keduanya ke dalam satu kantung hitam.

Malam ini, Miraa sempurna menghabiskan waktu dengan menangis dan terus menangis.

Di sisi lain, Alka keluar dari kamar Mira dengan hati sesak, dan ketika ia telah berhasil melewati pintu, mau tak mau kedua netranya memandang kamar Amina yang berada tepat di samping kamar tamu. Tanpa sadar kakinya melangkah ke sana, namun ketika ia telah berhasil mencapai depan pintu, akal sehatnya memancarkan sinyal ketidakmungkinan yang kuat, hingga dapat mengendalikan diri untuk tidak menggapai handle kamar yang setiap hari ia buka tanpa perlu mengetuk terlebih dahulu.

Bab 3

Sementara di kamarnya Mira menangis sendirian, di sisi lain, masih di dalam rumah besar yang sama, tepat di samping kamar tamu, tempat kamar utama kedua setelah kamar tuan dan nyonya Maheer, Amina juga tengah meremas dada sesaknya.

Angin malam berhembus menusuk hati, menikam perasaan, membelenggu segala pemikiran baik, dan menonjolkan pikiran negatif dalam diri.

Ketika pernikahan itu benar-benar terjadi, ketika untuk pertama kalinya dalam empat tahun ini, ia akan menghabiskan malam tanpa suaminya, dan ketika suasana malam begitu romantis menyambut hari pernikahan, ia hanya bisa tergugu sendiri, memeluk erat bantal yang biasanya di pakai oleh suaminya, dan menenggelamkan wajahnya di sana, menghirup aroma yang di tinggalkan.

Malam ini, Amina tetap pada posisinya itu hingga pukul dua dini hari!

Ia menegakkan tubuhnya, Kerongkongannya terasa kering. Ia pun turun dari ranjang, bagaimana pun, ia tak boleh menangis semalaman penuh, karena kalau ia melakukannya, boleh jadi besok Alka akan menyadarinya dan sesuatu yang tak di inginkan akan terjadi.

Maka ia langkahkan kakinya menuju meja di sudur ruangan, meraih teko air, namun karena teko itu sempurna kosong, ia pun melangkah keluar, hendak mengambil air di dapur.

Mendengar suara pintu di buka, kedua mata berat Nyonya Salma langsung terbuka, dan ia mendapati menantu pertamanya tertegun melihat kehadirannya.

"Ibu? Kenapa Ibu ada di sini?"Amina menanyakan pertanyaan itu, padahal dalam hatinya ia tentu tahu alasan Nyonya Salma tertidur di balik pintu kamarnya.

" Kau butuh apa-apa nak? Ada yang bisa Ibu bantu?"

Amina menggeleng, merasa sangat terharu dengan mertuanya itu, "tidak, Bu. Amina hanya ingin mengambil air di dapur."

"Kalau begitu biar Ibu ambilkan, kau tunggu saja di sini, ya?" Ia segera melangkahkan kedua kakinya, namun belum genap langkah kedua, Amina telah mencekal lengannya.

"Amina bisa sendiri, Bu."Amina lalu mencoba menuntun mertuanya ke arah kamar utama, " Ibu istirahat saja, tak perlu khawatirkan Amina."

"Tapi, Nak. Di jam segini dan cuaca yang dingin seperti ini, tidak baik bagimu mengenakan pakaian tipis ini. Kau harus lebih mementingkan kesehatanmu dengan menambah pakaian yang kau miliki."

"Iya, Bu. Nanti Amina pakai baju tiga lapis." Ia tersenyum, menyuruh mertuanya memasuki kamar lewat isyarat tangan dengan sopan.

Amina ingat, dua bulan setelah pernikahannya dengan Alka dulu, ia sempat mengalami demam tinggi akibat cuaca yang terlampau dingin.

Saat itu, Nyonya Salma dengan telaten membuatkannya minuman jahe dan memberinya pakaian yang lebih banyak.

Waktu itu, Amina kira Nyonya Salma hanya menyuruh pelayan yang membuatkan minuman jahe itu, kemudian beliau yang memberikannya padanya. Namun siapa sangka, jika ternyata Nyonya Salma benar-benar membuat minuman jahe itu dengan kedua tangannya sendiri? Dan Amina baru mengetahui kenyataan itu setelah seorang pelayan yang mengatakannya padanya.

Di kota kami, siapa yang tak kenal keluarga Tuan Maheer Wiraatmadja yang arif dan terhormat itu? Keluarga pemilik tanah seluas tujuh puluh hektare yang mereka tempati, pemilik ladang-ladang yang mereka garap untuk mengais rezeki. Kalian sebutkan saja salah satu nama mereka di pasar, di sawah, di peternakan, bahkan di gang sempit tempat para pemuda nakal menegak minuman terlarang mereka, maka dengan segan mereka akan mendengarkan.

Dan untuk kesekian kalinya, Amina harus merasa bersyukur, telah menjadi salah satu bagian dari keluarga baik ini.

Tiba-tiba kedua mata Nyonya Salma mengembun, lalu sedetik kemudian ia memeluk erat tubuh menantu pertamanya itu, "maafkan Ibu, nak. Maaf..."

"Tak ada yang perlu di maafkan, Bu. Amina... Baik-baik saja."

Amina berkata ia baik-baik saja, namun suaranya jelas terasa bergetar di telinga Nyonya Salma, "dalam hal ini, kau patut menyalahkan Ibu, Nak! Ibu lah yang terlalu egois menginginkan seorang keturunan!"

Amina membalas pelukan Nyonya Salma tak kalah erat, namun ia sama sekali tak menitihkan air matanya. Karena jika ia menangis, boleh jadi mertuanya itu akan semakin khawatir.

"Tidak, Bu! Ibu sama sekali tak bersalah. Amina juga ingin menimang seorang anak. Dan boleh jadi, ini adalah cara sang Maha Kuasa untuk memenuhi keinginan Amina itu."

Kedua mata Nyonya Salma yang memang telah mengembun, tak lagi mampu membendung air di dalamnya, "tapi kau harus mengorbankan perasaanmu sendiri, Ibu sungguh minta maaf, Nak. "

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka, tepatnya di sela-sela pintu kamar tamu yang tak di tutup rapat, terdapat sepasang mata berembun yang mengamati mereka dengan perasaan haru. Dan lagi-lagi, pemilik mata itu harus membenak: kenapa semua wanita harus selalu mengorbankan perasaan mereka dan menyalahkan diri sendiri?

Ia tetap mengawasi dua wanita yang sangat ia cintai itu dari jauh. Lalu sebelah tangannya menekan jari manis yang kini memakai dua cincin pernikahan.

****

Pagi harinya, sudah menjadi tradisi keluarga besar Tuan Maheer untuk selalu melakukan sarapan bersama. Dan sudah dua kali seorang pelayan bolak balik ke kamar Mira untuk mengingatkan hal itu, namun Mira sama sekali tak mengindahkannya, dan ia justru hanya duduk termenung di atas kasurnya saja.

Ketika pelayan itu kembali ke ruang makan, dan melaporkan hasil yang ia dapat dari kamar Mira, semuanya sama sekali belum menggerakkan tangan untuk makan.

Demi mendengar hal itu, Nyonya Salma langsung berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah kamar Mira.

Tok tok tok!

Dari dalam, Mira mendengar pintu kamarnya di ketuk, namun karena menduga bahwa mungkin yang mengetuk itu hanyalah pelayan yang telah dua kali masuk pagi ini, ia tak menghiraukannya.

Tok tok tok!

Terserahlah! Entah seratus kalipun pelayan itu mengetuk pintu, Mira juga tak mau membukakannya, karena ia tahu, pelayan itu hanya akan menyuruhnya makan! padahal rasa mual di hatinya telah merambat hingga ke seluruh bagian tubuh, dan ia tak mampu membayangkan jika ada makanan barang secuilpun masuk ke dalam mulutnya.

Ia sungguh tak merasa lapar, meski terkahir kali ia makan di pagi hari sebelum hari pernikahan. Itu artinya, dua hari sudah perut Mira tak kemasukan apapun!

Ceklek!

Mendengar pintunya yang di buka dari luar, Mira mendecih kecil. Lihatlah! Pelayan itu bahkan sangat memaksanya untuk hanya sekedar makan! bagi seseorang yang terbiasa hidup sederhana, hal itu terasa sangat mengganggu baginya.

"Mira!"

Suara itu? Mira sangat mengenalinya, dan ia segera membenarkan posisi duduknya ketika sang pemilik suara mulai maju mendekatinya (itu adalah gerakan reflek yang sering di lakukan orang-orang di desanya ketika tahu, salah satu dari keluarga terhormat Tuan Maheer datang).

"Nyonya Salma!"

Nyonya Salma tersenyum, mendaratkan dirinya tepat di samping Mira dan mengelus pelan rambut halusnya, "mari sarapan!"

Mira ingat, ini bukanlah pertama kalinya nyonya Salma memegang kepalanya, dulu, saat ia bersedia meneruskan sekolah dengan di biayai oleh keluarga nya, Nyonya Salma juga melakukan hal yang sama.

Bahkan, Nyonya Salma mendo'akannya dengan begitu tulus, agar dapat meraih kebahagiaan di masa depan.

"Tapi, Nyonya, Mira tidak lapar."

"Jangan panggil aku Nyonya sayang!"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED