Bab 1

"Aku sangat mencintaimu, aku tidak akan pergi meninggalkanmu." Kalimat itu seakan menjadi penangkal, saat kebimbangan mulai menyapa hati dan pikiran.

Apakah semua adalah rasa cinta yang sebenarnya, ataukah hanya sekadar pengisi kekosongan sementara...

Abelle Dorothy, seorang wanita karir yang cukup sukses. Ia menjalankan bisnis kecantikan. Mulai dari make-up, busana, tas dan kebutuhan para wanita lainnya. Memiliki seorang kekasih crazy rich. Menjalin hubungan selama dua tahun dan terpaut jarak. Sepertinya, Abelle belum sepenuhnya tahu, bagaimana sifat maupun karakter asli dari sang kekasih.

~ ~ ~

Abelle datang berkunjung secara tiba-tiba ke mansion kediaman sang kekasih. Abelle berniat untuk menunjukkan desain gaun pengantin miliknya, dan berharap gaun tersebut akan dikenakan dihari bahagia mereka.

"Mansion kediaman Dariel Herme"

Abelle sudah tidak sabar untuk menunjukkan hasil desain gaun pengantin miliknya.

"Kuharap dia menyukai ini," gumam Abelle tersenyum ceria.

Sudah satu tahun terakhir, Abelle belum bertemu dengan kekasih hatinya. Hari ini merupakan hari yang sangat istimewa baginya, karena setelah sekian lama terpisah oleh jarak dan waktu. Waktu yang dilalui bukanlah sebentar, dan cukup menyiksa ketika rindu mulai hadir.

"Baby!" Seru Abelle dengan melangkah setengah berlari. Hari ini ia sangat bahagia dan tidak sabar untuk memeluk erat sang kekasih hati.

Seluruh pelayan mansion hanya menunduk tak mengatakan sepatah katapun.

Abelle pun berinisiatif untuk mendorong pintu ruangan kerja yang biasa Dariel gunakan sejak dulu.

"Baby..—" saat Abelle mendorong pintu tersebut, seluruh tubuhnya terasa sangat kaku.

"Abelle!" Ucap Dariel terkejut, lalu mendorong wanita yang sedang mencumbu dirinya bahkan melakukan oral sex padanya, tepat di atas kursi kerja milik Dariel.

Saat Abelle tiba, Abelle mendapati Dariel sedang dicumbu oleh seorang wanita berpakaian seksi, sepertinya wanita itu adalah sekretaris pribadi dari Dariel. Wanita itu juga sedang melalukan oral sex pada Dariel tepat di atas kursi kerja milik Dariel.

"Baby.. k-kau dan wanita inihh..?" ucap Abelle dengan bibir gemetar. Abelle hampir tidak dapat berucap sepatah katapun. Hasil desain yang berada di tangannya pun ia remas dan Abelle berbalik dari hadapan Dariel.

Namun Abelle kembali berbalik ke arah Dariel.

"Mengapa kau melakukan hal ini padaku? Mengapa!" Abelle berteriak nyaring hingga membuat suaranya terdengar parau. Dariel berdiri sembari memijat kepalanya pelan, sedangkan si wanita meringuk di sisi ruangan.

"Kau jalang murahan! Aku memperkerjakanmu di perusahaan Dariel, karena aku ingin membantumu! Tapi apa balasanmu, kau membalasku dengan cara yang kejam seperti ini!" Teriak Abelle sedih.

Abelle gemetar menahan rasa kecewa, sakit, sedih, marah yang bercampur menjadi satu.

"Aku hanya membutuhkan seseorang yang dapat berada disisiku, kapanpun aku membutuhkannya." Ucap Dariel menatap ke arah Abelle.

"Bukankah aku sudah berusaha dengan semua yang dapat kulakukan? Aku melakukan semua pekerjaan itu, karena aku ingin menjadi wanita yang hebat bagimu! Aku tidak ingin keluargamu menganggapku hanya mengandalkan kekayaanmu.." isak Abelle yang terdengar semakin sedih.

"Abelle, aku mencintaimu tapi aku juga tidak dapat terus bersabar untuk menanti kedatangamu."

"Cukup! Cukup... aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari pria bajingan sepertimu! Kau bajingan yang sangat memalukan! Mulai detik ini kita tidak ada hubungan apapun lagi!" Tegas Abelle lalu berbalik.

Dariel menahan kepergian Abelle,, maraih tangan Abelle, seakan tak ingin Abelle mengakhiri hubungan ini begitu saja.

"Jangan pernah sentuh aku lagi dengan tangan kotormu, pria bajingan!" Teriak Abelle lalu menendangi area selangkangan Dariel.

Dariel Herme

--------

Abelle berlari keluar dari mansion megah kediaman Dariel.

"Bagaimana bisa Dariel melakukan ini padaku! Bagaimana mungkin..." Abelle terus menangis hingga tergugu.

Disaat yang sama, Abelle teringat bagaimana Dariel begitu menyayanginya. Dariel akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Abelle, bahkan perihal materi tidaklah sulit bagi Dariel untuk memanjakan Abelle.

Selama menjalin hubungan dua tahun terakhir ini, Abelle sangat mempercayai Dariel dengan sepenuh hati. Abelle sangat tahu, jika Dariel tidak akan mengkhianatinya. Komunikasi diantara mereka terjalin baik dan setiap harinya mereka selalu menjalin komunikasi yang penuh kemesraan.

Namun, hari ini adalah awal kehancuran bagi Abelle. Kepercayaan yang selama ini terbangunpun hancur begitu saja.

"Pria pengkhianat bajingan!" Abelle terus mengumpat dan berlari ke arah jalan raya.

"Abelle!" Dariel berteriak nyaring, saat mendapati Abelle jatuh terlempar ke sisi jalan dan kepalanya terbentuk ke trotoar jalan. Abelle tertabrak saat sedang berlari menjauh dari Dariel yang sedang mengejarnya.

"Bodoh! Apa yang kalian lihat! Cepat panggil mobil! Dasar para pelayan tolol tidak berguna!" Bentak Dariel penuh amarah.

"Abelle kau tidak boleh mati! Kupastikan kau akan segera sadar dan pulih." Gumam Dariel panik.

***

Bab 2

Apa yang telah Dariel perbuat pada Abelle, sangatlah menyakitkan. Pengkhianatan yang sangat kejam yang telah Dariel perbuat, tentu sangat menghancurkan Abelle. Kisah cinta yang sekian lama dijaga dan dipupuk dalam kepercayaan. Kini, semua harapan besar akan masa depan bersamapun pupus begitu saja.

Abelle juga mengalami kejadian tragis setelah apa yang ia saksikan hari ini. Abelle dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan serius.

***

Rumah Sakit Swasta XX

Abelle mendapat penanganan yang sangat serius. Luka pada bagian kepala dan juga bagian anggota tubuh lainnya sudah mendapatkan penanganan khusus. Dariel meminta para dokter yang sangat ahli untuk menangani Abelle.

Dariel duduk di depan ruang UGD dengan penuh kegundahan. Dadanya berdebar-debar menanti informasi terbaru dari perkembangan Abelle.

Memijat bagian dahi miliknya, dan terus memejamkan mata sembari menundukan kepalanya.

"Apa yang sudah kulakukan?" gumam Dariel dengan penuh kegundahan.

Drrttt... getar dan dering ponsel milinya.

Merogoh isi kantung celana miliknya dan menatap layar ponsel tersebut.

"Bos, apa yang harus kami lakukan?" Tanya salah seorang bawahannya dari panggilan suara.

"Hapus semua memory yang akan mengingatkan Abelle pada kisah-kisah lama." Ucap Dariel.

"Seluruh barang-barang kenangan bersama bos?"

"Yah, lenyapkan semuanya. Ganti dengan apartemen terbaru. Karena sepertinya, ingatan Abelle tidak akan sebaik awal."

Dariel pun mengakhiri percakapan mereka, setelah memberikan perintah pada bawahannya.

Keesokan harinya...

Salah seorang dokter yang melakukan penanganan pada Abelle pun pergi menemui Dariel ke ruang tunggu. Namun, Dariel sudah tidak lagi di rumah sakit tersebut. Dariel kembali menjalani aktivitasnya seperti semula, seakan kondisi Abelle tidaklah beban berat baginya.

***

Perusahaan H Group

"Permisi Tuan Dariel, ada panggilan untuk anda." Ucap salah seorang sekretaris yang bekerja pada Dariel.

"Katakan saja aku sedang sibuk." Balas Dariel cuek.

"Ah, baik Tuan." Balas sang sekretaris barunya. Sekretaris Dariel kali ini ialah seorang pria yang baru saja di pilih dari lulusan terbaik.

Bekerja dan terus bekerja dengan fokus. Itulah yang selalu Dariel lakukan setiap harinya. Namun, dibalik kesuksesannya tersebut, Dariel ialah seorang playboy nakal. Tanpa Abelle ketahui, Dariel selalu berganti wanita.

Bahkan disaat mereka sedang berkomunikasi melalui panggilan video maupun suara, Dariel masih saja bermain dengan wanita lain. Menutupi semua kebohongannya, tidaklah sulit bagi seorang Dariel.

Namun bagi Dariel, Abelle ialah wanita yang sangat berbeda juga istimewa. Apapun yang ia lakukan di belakang Abelle, Dariel tidak pernah sekalipun melupakan sang kekasih. Abelle pun sangat mempercayai Dariel dengan sepenuh hati.

Ahk! "Apa lagi yang harus kukerjakan?" Tanya Dariel pada sang sekretaris.

"Untuk hari ini sudah cukup, Tuan." Ucap sang sekretaris.

"Baiklah. Malam ini, dampingi aku ke rapat penting." Ucap Dariel lalu meraih mantel miliknya.

"Baik, Tuan." Jawab sang sekretaris.

***

Longue Bar.

"Apakah ini yang dimaksud dengan rapat penting?" sang sekretaris barunya cukup terkejut, saat sang CEO mengajaknya untuk pergi ke Longue Bar.

"Selamat malam Tuan tampan." Sapa seorang penari tiang, dengan penampilan yang sangat seksi. Wanita tersebut meraba area dada hingga selangkangan milik Dariel. Si wanita meremas gemas batang kebanggaan milik Dariel.

Mata sang sekretaris membulat saat menyaksikan pemandangan yang tidak biasa itu.

"Siapkan ruang vip untukku, jalang kecil." Bisik Dariel tepat di daun telinga si wanita penari tiang tersebut.

Ah, "tentu saja Tuanku," ucap si wanita lalu melangkah pergi.

Dariel memberikan kode pada sang sekretaris barunya, untuk mengikutinya.

~ ~ ~

Vip room.

Dariel duduk mengangkang dengan bersandar di sopa ruangan vip tersebut.

Seorang wanita seksi datang lalu tersungkur di hadapannya. Wanita itu berinisiatif untuk membuka resleting celana yang sedang Dariel kenakan. Merogoh isi celana milik Dariel, dan ia pun mendapatkan sesuatu yang sudah ia dambakan.

"Super big, Master" ucap si wanita dengan senyuman nakalnya. Dariel tersenyum nakal, lalu menjajal batang kebanggaan miliknya ke dalam mulut si wanita.

Wanita tersebut melakukan oral seks menggunakan mulutnya. Dariel terus mendorong keras kepala si wanita hingga mencapai kerongkongan si wanita.

Argh! Dariel mengerang nikmat, saat cairan putih kental miliknya menyembur ke dalam mulut si wanita lalu ke area wajah wanita tersebut. Wanita tersebut terengah, sembari terus tersenyum.

dariel bangkit dari tempat duduknya dan mengajak sang sekretarisnya untuk pergi dari vip room.

***

Hampir setiap harinya Dariel melakukan perbuatan yang tidak senonoh. Pergi ke bar longue, dan terkadang memanggil wanita untuk memuaskan nafsu birahinya. Hal tersebut seakan sudah biasa ia lakukan selama ini, bahkan sejak ia sudah menjadi kekasih bagi Abelle.

Suatu saat, Dariel sedang berada di ruang rapat panting bersama para pemegang saham besar. Mereka baru saja menyelesaikan rapat yang cukup panjang. Sebuah pesan dan panggilan masuk ke ponsel miliknya.

"Selama siang Tuan Dariel, atas nama pasien Abelle Dorothy sudah kembali siuman." Ucap salah seorang dokter yang merawat Abelle di rumah sakit.

"Ah, benarkah? Baiklah. Aku akan segera ke sana." Balas Dariel sembari terbangun dari kursi tempat duduknya.

"Jansen, hari ini damping iaku ke rumah sakit pusat kota." Titah Dariel lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan rapat yang baru saja berakhir.

Melangkah dengan sedikit tergesa-gesa, sembari menatap arloji yang melakat di pergelangan tangan kirinya.

"Sudah hampir satu bulan, akhirnya kau kambali sadar." Gumam Dariel.

~ ~ ~

Hampir satu bulan penuh Abelle tidak sadarkan diri dari tempat ia terbaring lemah. Kini, Abelle kembali terbangun walaupun kemungkinan pulih seperti semula masih belum Dariel ketahui.

"Kita akan mengunjungi kekasihku yang sudah hampir sebulan penuh koma. Hari ini, bersikaplah biasa dan cukup lakukan seperti yang aku katakan."

"Baik, Tuan." Balas Jansen.

"Kekasih? Apakah selama ini Tuanku memiliki kekasih sungguhan?" Jansen sedikit bertanya-tanya. Mengingat perbuatan nakal Dariel yang selama ini ia saksikan dan ketahui.

"Apapun yang terjadi, tetaplah tenang. Jangan lakukan hal diluar perintah."

"Baik, Tuan. Dimengerti," balas Jansen yang masih sedikit bingung.

***

Rumah Sakit Swasta XX

Mereka tiba di rumah sakit tempat Abelle sedang dirawat, melangkah menuju ruang vip.

Dariel menghela napas perlahan, dan sudah siap akan segala kemungkinan yang terjadi pada mereka.

"Selamat siang, Tuan Dariel." Sapa seorang dokter kepercayaan Dariel, dan Abelle terlihat sedang duduk bersandar di ranjang pasien. Seluruh tubuhnya masih melekat segala perlatan medis.

Namun, Abelle terlihat seperti orang bingung. Abelle tidak terlihat baik-baik saja, walaupun ia sudah sadar kembali.

"Abelle Dorothy, apa kau mengingatku?" Tanya Dariel menatap lekat lekat ke arah Abelle.

Abelle spontan menggeleng dan masih sangat bingung.

"Nona Abelle mengalami hilang ingatan yang cukup berat. Semua memory seakam hilang, bahkan namanya sendiri pun ia tidak tahu." Ucap sang dokter.

Dariel duduk di samping Abelle, dan mendekati Abelle. "Namamu adalah Abelle Dorothy, dan kau adalah asisten kepercayaanku. Mulai saat ini, kau akan kembali bekerja denganku." Ucap Dariel dengan tersenyum lembut.

"Bos,maafkan aku. Aku sudah berusaha mengingat segalanya, tetapi kepalaku sangat sakit." Ucap Abelle yang terlihat merasa bersalah karena telah melupakan sosok atasannya. Walaupun, itu hanyalah cerita karangan dari Dariel.

"Its okay. Lakukan dan pikirkan apa yang membuatmu nyaman. Jika dengan mengingat kenangan lalu membuatmu sakit, lebih baik lupakan." Abelle pun mengangguk.

"Kau ternyata tidak pernah berubah Abelleku. Senyuman dan caramu menerima kehadiran seseorang sangatlah lembut. Maafkan aku, karena aku harus melakukan ini agar kau tetap berada di sisiku..."

Abelle memiliki kepribadian yang sangat ramah dan lembut. Siapapun pria tentu akan sangat menyukainya, dengan segala sikap sopannya. Tidak hanya cerdas, ia juga mudah bergaul dan mempercayai seseorang yang ia anggap baik. Hari ini, adalah awal mula kehidupan baru Abelle yang berstatus sebagai seorang asisten pribadi bagi Dariel.

***

Bab 3

Abelle akhirnya kembali terbangun dari koma, pasca kecelakaan yang menimpanya. Namun kini, Abelle sudah tidak dapat lagi mengingat semua kisah masa lalunya. Terlebih lagi kisah lamanya bersama Dariel, kenangan yang sangat menyakitkan seakan tidak dapat lagi Abelle ingat.

~ ~ ~

Dariel segera membawa Abelle menuju sebuah apartemen yang telah ia siapkan. Sebuah apartemen baru, khusus bagi Abelle. Semua kisah baru sudah Dariel rancang bagi Abelle.

Apakah yang akan Dariel perbuat pada kisah hidup terbaru Abelle?

Gedung Apartemen Pusat Kota

Dariel membelikan semua pakaian terbaru bagi Abelle, dan juga membuang semua barang-barang lama milik Abelle.

"Apakah semua barang-barang milik Nona Abelle sudah kalian tata rapi?" Tanya Dariel kapada beberapa pelayan mansion yang ia tugaskan untuk menata seluruh barang yang terdapat di gedung apartemen baru milik Abelle.

"Sudah, Tuan. Kami sudah menata semua barang-barang milik kepunyaan Nona Abelle." Jawab beberapa pelayan kepercayaan Dariel.

"Nona Abelle, ini adalah apartemen terbarumu." Ucap Dariel, sembari mengajak Abelle menuju kamar milik Abelle.

Abelle menatap sekeliling, lalu duduk di atas sofa empuk yang tersedia di ruangan tengah.

"Kau menyukainya, Nona Abelle?" Tanya Dariel ramah.

"Yah, aku sangat menyukainya. Terima kasih atas keramahan dan perhatian anda Tuan." Ucap Abelle dengan wajah tersenyum.

"Itu adalah tanggung jawabku atas hidupmu. Maaf, karena hanya ini yang dapat kuberikan padamu."

"Ah, ini sudah sangat luar biasa, tuan." Balas Abelle yang terlihat sedikit tidak nyaman atas situasi mereka.

Sementara itu, para pelayan Dariel hanya berdiri sembari menunduk patuh. Begitu pula halnya dengan Skretaris Jansen, ia hanya menunduk diam.

"Sungguh malang nasib Nona Abelle. Kehilangan memori, dan harus hidup dalam kisah bohong dari Tuan muda..." para pelayan merasa begitu kasihan atas apa yang kini terjadi pada Abelle.

"Abelle, besok kau sudah harus berada di kantor sebelum aku tiba. Kau akan kutempatkan di perusahaan keduaku."

"Baik, Tuan Dariel."

"Oke. Aku harus segera kembali. Tetaplah untuk mengkonsumsi semua obat-obatan secara rutin."

Setelah mengatakan hal itu, Dariel pun melangkah pergi dari hadapan Abelle.

-----------------

Abelle merebahkan diri di atas tempat tidur miliknya, sembari memainkan ponsel baru miliknya.

"Tuan Dariel sangat baik padaku.. sebagai seorang asisten kepercayaannya, aku harus memberikan pelayanan yang terbaik.." ucap Abelle, lalu memiringkan posisi tidurnya.

Drrttt...

"Besok supir akan menjemputmu, dan siang harinya kita akan pergi ke sorum mobil." Mr. Dariel.

Usai membaca isi pesan dari Dariel, Abelle pun segera beristirahat. Sehingga keesokan harinya ia dapat bangun lebih awal dan memulai pekerjaan barunya.

Keesokan harinya...

Abelle bangun lebih pagi, membersihkan diri dan mempersiapkan segala kebutuhan yang akan ia bawa di tas kerja miliknya. Tak lupa, sebelum pergi bekerja, Abelle selalu duduk manis di depan meja rias dan mulai merias wajahnya dengan make-up tipis nan elegant.

Keterampilannya dalam merias wajah tidak diragukan, karena memang itulah keahliannya, sebelum mengalami kecelakaan tragis.

***

Perusahaan 2nd H Group

Abelle sudah berada di sebuah ruangan khusus yang Dariel persiapkan baginya.

"Apakah Abelle sudah berada di dalam ruangannya?" Tanya Dariel setiba di perusahaan kedua miliknya.

"Sudah Tuan. Nona Abelle sudah tiba lebih pagi dan sedang mempelajari beberapa berkas perusahaan." Jawab salah seorang pimpinan kedua perusahaan tersebut.

"Mizou, kuharap kau tidak banyak bicara tentang banyak hal padanya. Bersikaplah sebagai seorang pimpinan, dan hubungan semua anggota perusahaan adalah pekerja." Ucap Dariel memperingati Direktur Mizou.

"Baiklah, aku akan mengingat apa yang kau ucapkan." Balas Direktur Mizou.

Direktur Mizou adalah orang kepercayaan Dariel, ia juga pimpinan kedua di perusaan tersebut. Memiliki paras yang tampan, tubuh proporsional, cerdas dan suka berolahraga sehat.

"Hari ini bawa Abelle ke sorum dan biarkan dia memilih mobil yang ia sukai." Ucap Dariel, lalu memberikan sebuah black card pada Direktur Mizou.

"Baik, aku akan lakukan sesuai yang kau minta." Balas Direk. Mizou si tampan yang cukup dingin.

~ ~ ~

"Tentu saja sayang, kau ingin aku melakukan gaya apa lagi?" ucap Dariel yang sedang melakukan panggilan apda seseorang, tentunya seorang wanita taman ranjangnya.

Saat sedang berbicara, Dariel berada di sebuah anak tangga sembari duduk seorang diri.

"Jika aku tidak menghentikannya, mungkin kau akan tidak dapat terbangun lagi, bukan?" ucap Dariel sembari tertawa.

Di hadapannya sudah berdiri seorang pria yang ialah Direk. Mizou. Menunggu Dariel menyelesaikan pembicaraan asyiknya.

Dariel pun mangakhiri panggilan, lalu memasukan ponsel miliknya ke dalam saku celana. "Apakah jumlah uang itu kurang baginya?" Tanya Dariel penuh keangkuhan.

Direk. Mizou menghela napas pelan, "apakah tidak masalah, jika kami hanya pergi berdua?" Tanya Direk. Mizou.

"Tentu saja tidak masalah. Apapun yang kulakukan, hanyalah untuk menebus kejadian itu." Ketus Dariel lalu melangkah pergi.

"Pria bajingan kecil ini sungguh preman kejam.." gumam Direk. Mizou lalu melangkah pergi.

Direk. Mizou pergi menemui Abelle yang sudah menunggu kehadirannya.

"Tuan Mizou," sapa Abelle ramah dengan senyuman lembut di bibirnya.

"Nona Abelle akan pergi bersamaku, Tuan Dariel menyerahkan segalanya padaku." Ucap Mizou tersenyum tipis.

Keduanya pun pergi bersama menuju sorum mobil, seperti yang telah Dariel perintahkan pada Mizou.

***

Sorum Mobil xx

"Pilihlah mobil yang ingin kau gunakan," ucap Mizou.

"Apakah ini tidak terlalu mahal, Tuan?" ucap Abelle ragu.

"Ini adalah perintah dari Tuan Dariel, jadi bukan semata-mata uang dariku. Posisi kita hanyalah rekan kerja, dan hal ini pun untuk kelancaran urusan pekerjaan." Ketus Mizou.

"Baik Tuan." Balas Abelle dengan tersenyum tegar, seolah perlakuan dingin dari pria-pria sekelilingnya, tidak mengusik kenyamanannya.

Abelle mulai berkeliling untuk memilih jenis mobil sesuai keinginannya. Sorum tersebut tergolong luas dan juga dengan harga yang sangat fantastic. Tanpa ragu, Abelle pun memilih jenis mobil mini yang sesuai dengan dirinya sebagai seorang wanita karir.

Mereka pun bergegas kembali ke kantor dan mulai bekerja seperti biasanya.

***

Perusahaan 2nd H Group

"Dasar bajingan kecil yang kejam!" Mizou mengumpat kesal, atas apa yang Dariel putuskan diluar pengetahuanya.

Dariel menjadikan Abelle sebagai asisten pribadi bagi Mizou, dan tidak seperti yang ia katakan di awal.

Knock knock knock...

"Permisi Tuan Mizou, ini adalah dokumen yang telah kupelajari." Ucap Abelle lalu mengembalikan dokumen perusahaan pada Mizou.

Mizou menatap lekat ke arah Abelle. "Kau sudah mengetahui semua ini, mengapa kau bersikap seakan ini bukan hal penting?" ucap Mizou yang tiba-tiba melampiaskan rasa kesalnya pada Abelle.

"Aku hanya melakukan apa yang Tuan Dariel perintahkan." Balas Abelle singkat.

"Termasuk keputusan mendadak seperti ini, bahkan aku saja tidak tahu!"

"Aku hanya melakukan sesuai prosedur perusahaan, jika Tuan tidak berkenan. Silakan Tuan mengatakan hal ini pada Tuan Dariel secara langsung." balas Abelle ketus.

Mizou terbungkam dengan ucapan sedikit ketus dari Abelle.

"Kau kembalilah ke ruanganmu." Ucap Mizou dingin. Abelle pun melakukan sesuai perintah, dan ia kembali fokus bekerja.

"Kau sangat bajingan Dariel! Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Kau menyeret kekasihmu yang saat ini tidak dapat mengingat segalanya!"

Bhuak! Mizou mengeberak meja kerja miliknya, ia sangat kesal atas tindakan sesuka hati dari Dariel.

Abelle dijadikan asisten pribadi bagi Mizou, walau kenyataannya Abelle adalah wanita yang selalu Dariel inginkan. Dariel bertindak sesuka hati dan tidak dapat ditebak apa yang ia sedang rencanakan.

****

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED