"NERAKA dalam Pernikahanku "
Author by Natalie Ernison
Semua wanita tentu ingin merasakan kisah pernikahan yang indah dan bahagia bersama pria yang dicintai. Namun, bagaimana jadinya jika pria yang akan menjadi suami ialah pria yang memiliki banyak rahasia besar.
Yah, Diane Georginie ialah seoarang photographer kecil. Profesi tersebut ia lakukan sejak masih kuliah, dan uang yang ia dapatkan ialah untuk biaya kuliah sekaligus biaya kehidupan sehari-hari.
Suatu saat Diane berkenalan dengan seorang pria yang cukup dingin namun mampu menggetarkan perasaan Diane. Mereka saling jatuh cinta, walaupun Dianelah yang terlebih dahulu jatuh cinta pada Alexavier Caspian. Alex sangat memperhatikan setiap detail penampilan Diane dan apapun yang Diane lakukan. Sungguh pria yang amat perhatian.
Akan tetapi, Diane tidak pernah mengetahui bahwa Alexavier memiliki watak yang sangat temperamental. Bahkan, hal itu terjadi menjelang hari pernikahan mereka. Diane berpikir, James hanya sedang dalam tekanana pekerjaan dan ia pun memaklumi hal itu.
Namun, Al sudah meminta Diane untuk menyerahkan keperawanannya bahkan sebelum mereka sah menjadi pasangan suami istri.
Semua kebaikan Al pun berbeda, saat sudah mendapatkan seluruh kehidupan Diane... Diane kerap kali di ajak untuk tinggal di kediaman keluarga Caspian.
.
.
.
"Di kediaman keluarga Alexavier"
Prang!!
Suara pecahan kaca jatuh terlempar dan berserakan di lantai marmer, tepat di ruang makan mereka.
"Tolol! Dasar wanita payah! Jika kukatakan aku tidak suka disela saat bicara, harusnya kau mengingatnya dengan baik!" AL membentak Diane, setelah ia membanting sebuah gelas kaca tepat di hadapan Diane.
"Kak, aku tidak pernah bermaksud untuk menyelamu bicara, aku hanya mengatakan yang sebenarnya..—"
"Diam! Wanita tolol!"
Bhuak!
Alexavier memukul lemari di sampingnya menggunakan telapak tangannya, lalu bergegas berangkat bekerja.
Diane hanya bisa terisak pilu, sembari membersihkan pecahan beling yang disebabkan oleh Al. Kini Diane hanya seorang ibu rumah tangga, karena setelah menikah Al tidak mengijinkannya untuk pergi bekerja.
Dari segi ekonomi, kehidupan mereka sangat terpenuhi dan juga sangat mewah. Mereka tinggal di sebuah mansion warisan dari Mr. Caspian, ayah dari Al. Al adalah putra pertama keluarga Capsian, dan mereka juga sangat mengasihi Diane. Hanya saja, Diane tidak dapat mengatakan keadaan hubungannya bersama Al, dikarenakan Mr. Caspian memiliki penyakit jantung berbahaya.
"Nyonya Diane!" Seru salah seorang pelayan mansion, lalu membantu Diane untuk membersihkan beling tersebut. Setelahnya, Diane bergegas untuk kembali ke kamar yang berada di lantai atas.
... ...
Di kamar tersebut Diane terus menangis sedih, baru saja ia menikah dan sudah mendapatkan perlakuan dan ucapan menyakitkan dari suaminya. Diane hanya mengingatkan Al untuk memperhatikan barang-barangnya sebelum berangkat bekerja, agar tidak ada yang terlupakan, namun Al justru menganggap Diane tidak berhak untuk terlalu banyak bicara.
Drrttt....
Ponsel Diane bordering dan bergetar, tertera nama sang ibu di layar ponselnya.
Dengan mengatur napas perlahan sembari menyeka air matanya, dan mulai mengobrol bersama ibunya. Diane selalu mengatakan bahwa kondisinya sangat baik dan begitu bahagia. Walaupun kenyataannya, Diane setiap hari selalu menangis dan tak tahu harus mengadu ke siapa...
~ ~ ~
Di malam hari, seperti istri pada umumnya, Diane melayani Al dengan baik. Al bahkan menyetubuhinya dengan santai dan seolah tidak pernah ada permasalahan apapun. Al melakukan hubungan intim terkesan memaksa dan cukup kasar. Diane hanya mampu menahan sakit yang ia alami dan menangis tanpa suara.
"Seks adalah kebutuhan semua pria, jadi kau harus selalu bersedia untuk melayaniku. Jika tidak, maka kau akan melihat rumah tangga ini sama seperti rumah tangga pasangan di luar sana." Ucap Al setelah puas menikmati tubuh indah istrinya, yang selalu berusaha untuk melayaninya.
Setiap selesai melakukan hubungan suami istri, Al kembali fokus dengan ponsel miliknya dan tidak mempedulikan perasaan Diane. Diane bukanlah pelacur pribadinya, yang bisa dengan mudah diminta untuk memuaskan dirinya, lalu mengabaikannya setelah dirasa puas.
Di siang hari, kembali terjadi pertengkaran hebat antara Diane dan Al. Kali ini Diane sudah sangat tidak tahan lagi pada semua perlakuan suaminya.
Bhuak!
Al menghantam tembok tepat di samping kepala Diane saat ini sedang berdiri tegak.
"Harus berapa kali kukatakan, kau hanya cukup mendengarkan saat aku bicara tanpa banyak protes!" Bentak Al.
"Tapi aku terlalu lelah dengan apa yang kakak katakan! Semua yang kulakukan selalu saja salah, kakak selalu berpikir terlalu jauh.. mengapa kakak tidak pernah mendengarkan penjelasanku.. aku sedang kelelahan.." isak Diane setelah mengatakan ungkapan hatinya.
Al adalah pria yang sangat keras dan tidak peduli dengan alasan apapun, selama ia merasa dirinya benar dan akan selalu benar.
Al tidak ingin menikmati masakan dari para pelayannya, dan harus Diane yang memasak baginya, bahkan seluruh pakaian miliknya, haruslah Diane yang membersihkan dan merapikannya.
Siang ini Diane terlambat menyiapkan makanan, karena ia harus membersihan dan merapikan kamar juga pakaian miliknya bersama Al. Al meradang lalu menyalahkan, jika Diane istri yang malas.
"Kau sangat malas! Jangan pikir karena di mansion ini ada banyak pelayan, lalu kau bisa bersantai. Aku bisa memecat mereka dan kau akan mendapat lebih banyak pekerjaan! Mengerti!" Bentak Al.
"Mengapa hanya berdiri di sana? Cepat siapkan makanan untukku! Atau kau sudah tidak ingin lagi menyiapkan makanan untukku, huh!"
Dengan gemetar, Diane mengantarkan makanan ke hadapan Al. Diane harus tetap berada di dekat Al ketika Al sedang menikmati makanannya. Dengan air mata yang berlinang, Diane mengunyah makanan miliknya dengan susah payah. Semua makanan seakan terasa hambar bagi Diane, perlakuan kasar James sangat menyakitkan baginya.
~ ~ ~
"Tuan, di ruang tamu sudah ada Tuan besar" ucap salah seorang pelayan memberitahukan kedatangan Mr. Caspian pada Al.
"Yah, katakan aku sedang makan siang bersama Diane." Balas Al, dan kembali menghabiskan makan siang miliknya.
"Hapus air matamu dan jangan perlihatkan wajah sedihmu pada keluargaku, karena itu sangat menjijikan.." ketus Al, tidak banyak kalimat yang ia lontarkan namun cukup menusuk hingga menyisakan rasa sesak pada Diane.
"Baik kak, aku akan menyusul setelah membersihkan..—"
"Biarkan pelayan melakukannya, sekarang cepat rapikan wajah kusutmu!" Al berbalik badan untuk menunggu Diane bersiap.
~ ~ ~
"Daddy, mengapa tidak memberitahukan pada kami terlebih dahulu jika ingin berkunjung, sehingga aku bisa mengirim supir." Ucap Al lalu duduk bersama Diane di hadapan ayahnya.
"Daddy hanya merasa jenuh berada di mansion," ucap Mr. Caspian. Tak lama setelahnya, seorang anak gadis berlari ke arah mereka.
"Kak Diane aku bersama Daddy akan tinggal hingga sore hari, kami rindu dengan masakan lezat kakak. Benarkan daddy?" ucap gadis tersebut.
Joesline ialah adik perempuan semata wayang dari Al, ia sangat manja pada Diane yang menurutnya sosok kakak perempuan perhatian. Hal itu membuat Joesline lebih sering datang berkunjung ke mansion kediaman James.
"Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, Joesline." Ucap Diane dengan senyuman tulus. Sang adik iparnya terlihat sangat antusias terhadap perlakuan lembut dari Diane.
... ... ...
Hingga suatu malam tiba...
Ahk.. emmhh... suara desahan seorang wanita yang terdengar cukup lirih.
Yah, itu adalah suara Diane yang menahan rasa sakit pada area kewanitaannya, akibat perlakuan dari Al yang cukup kasar saat berhubungan intim.
"Pelanlah kak, ini cukup menyakitkan.." keluh Diane, saat Al memompa tubuhnya dengan cukup kasar.
Area kewanitaan Diane terasa cukup perih, namun Al tidak pernah peduli akan hal itu.
"Bukankah kau juga menikmatinya.. mengapa harua protes!" Ketus Al, lalu membalikan tubuh Diane, dan kembali memompa tubuh Diane.
Diane terus merintih kesakitan, Al sangat kasar dan tidak peduli. Area kewanitaannya sudah cukup perih, tak ada pemanasan ssbelumnya, dan Al justru langsung menyetubuhi Diane begitu saja.
Meremas seprei dengan air mata berlinang, dan hati yang penuh kesedihan...
***
"NERAKA dalam Pernikahanku "
Author by Natalie Ernison
Saat Al menyetubuhi Diane, tak ada raut wajah bahagia bahkan tersenyum
Saat Al menyetubuhi Diane, tak ada raut wajah bahagia bahkan tersenyum. Wajahnya terlihat sangat dingin dengan tatapan mata yang sangat dalam. Diane menatap wajah juga mata suaminya yang saat ini sedang bercinta dengan dirinya.
"Apakah ada aku dihatimu.. apakah kau melakukannya karena kau mencintaiku.." batin Diane, yang tidak mampu ia ungkapkan pada Alexavier suaminya.
Huhh.. erang Al setelah dirasa mencapai titik kepuasan birahinya. Beranjak dari atas tubuh Diane, melangkah menuju kamar mandi. Begitu pula Diane, pergi mengenakan pakaian dan menuju kamar mandi. Namun, hubungan keduanya kembali dingin. Kemesraan yang terlihat, seolah hanya saat Al sedang membutuhkan kehangatan dan kepuasan pada Diane.
Al bahkan tidak ingin mengeluarkan cairan miliknya ke dalam rahim Diane. Hal ini juga sangat membingungkan bagi Diane saat ini.
"Apakah kakak merasa puas dengan pelayananku?" Tanya Diane memberanikan dirinya.
"Jika ingin bicara jujur, aku kurang merasa puas dengan pelayanan ranjangmu, kau terlalu kaku dan pasif." Balas Alexavier sembari memainkan ponselnya kembai.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kakak merasa puas dengan pelayanan ranjangku?" Tanya Diane lagi, ia mencengkeram selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan posisinya sedang menghadap ke arah Alexavier . Sekalipun Al sedang berbalik badan darinya.
"Bukankah sebelumnya kau juga seorang jurnalis, seharusnya kau lebih tahu untuk mencari informasi dari internet. Apa gunanya kau di mansion ini, jika tidak melakukan hal-hal berguna!" Ketus Al, ucapan Alexavier sangat menohok dan seakan tidak peduli dengan perasaan Diane, istrinya.
"Tapi yang ditulis di internet tidak sepenuhnya benar,--"
"Apa kau begitu bodoh! Kau memiliki otak untuk berpikir, kau bisa bertanya pada dokter, keluargamu!" Bentak Alexavier , lalu beranjak dari atas temoat tidur.
Malam ini, Diane lagi-lagi menyimpan rasa sakit dari setiap ucapan maupun tindakan Alexavier pada dirinya.
Hari-hari ini, seharunya menjadi hari bahagia mereka dan masa untuk berbulan madu. Akan tetapi keadaan rumah tangga baru Diane justru berbeda jauh. Setiap harinya selalu ada saja pertengkaran, hanya karena hal-hal sederhana dan tidak seharusnya menjadi sebuah permasalahan.
~ ~ ~
Seperti biasanya, Diane menyiapkan makanan bagi suaminya dan ia juga berniat untuk pergi ke kantor milik Alexavier dengan membawa bekal makan siang hari ini.
Diane merupakan istri yang amat perhatian pada suaminya, sekalipun hal itu tidak perah dihargai oleh Alexavier .
"Nyonya, aku akan mengantar Nyonya ke kantor Tuan." Ucap salah seorang supir pribadi.
"Baik, tidak perlu menungguku, karena aku akan pergi ke suatu tempat." Ucap Diane.
"Maaf nyonya, tapi tuan selalu berpesan agar tidak membiarkan nyonya pergi seorang diri. Mengingat nyonya adalah istri seorang CEO perusahaan ternama."
Mendengar ucapan sang supir, Diane tidak ingin banyak berdebat dan hanya dapat menuruti aturan dari suaminya.
***
"Perusahaan Caspi Group"
Diane melangkah keluar dari dalam mobil mewah berwarna hitam, yang dikhususkan untuk dirinya dan dalam pengawasan seorang supir dan satu bodyguard.
Seluruh pegawai menundukkan kepala memberi penghormatan pada sang istri CEO sekaligus pemilik perusahaan ternama yang merea tempati saat ini.
"Apakah itu istri dari Tuan CEO tampan kita?" bisik para pegawai saat melihat kedatangan Diane untuk pertama kalinya ke perusahaan Alexavier .
"Nyonya Caspian, silakan," ucap salah seorang pria mempersilakan Diane untuk masuk ke ruangan CEO Alexavier Caspian.
Sebagai seorang menantu pertama dari keluarga Caspian yang terkenal dengan kekayaannya dan sangat terhormat. Tentu saja posisi Diana dalam keluarga tersebut menjadi naik level, semua menghormati dan menyayanginya. Terkecuali untuk James suaminya, yang selalu bertindak menyakitinya.
Diane sudah berdiri di hadapan James yang kala itu sedang fokus dengan berbagai dokumen di atas meja kerjanya.
"Kalian boleh keluar, biarkan aku berdua bersama istriku." Titah Alexavier , dan semua bawahannya pun membubarkan diri. Tinggallah James bersama Diane.
"Untuk pertama kalinya kau datang kemari, apakah uang shoppingmu kurang? Sehingga kau harus repot datang kemari?" ketus Alexavier .
Diane menarik napasnya perlahan, dan sudah mulai terbiasa dengan ucapan ketus dari sang suami.
"Bukankah kakak hari ini sangat sibuk, oleh karena itu aku membawakan makanan favorite kakak." Ucap Diane lembut, dan mulai menata semua rantang yang berisi bekal makan siang juga buah-buahan segar.
Alexavier tertegun dengan sikap lembut dari Diane, sekalipun dirinya selalu membuat Diane menangis karena tindakannya.
"Bantu aku menghabiskannya,"ucap Alexavier dingin.
Diane mengerti, bahwa suaminya ialah pria yang sangat temperamen juga dingin,. Oleh karena itu, Daine berusaha dan terus belajar untuk menjadi istri yang lembut pada suaminya.
Alexavier menghabiskan semua bekal makan siang buatan Diane. Ia makan dengan lahap tanpa mengatakan sepatah katapun, bahkan buah-buahan pun ia lahap habis.
"Ini vitamin kakak, karena kemarin kakak telah menghabiskannya. Aku akan pamit pergi dan pergi ke toko kosmetik bersama supir." Ucap Diane sekaligus meminta ijin pada Alexavier , Alexavier hanya mengangguk lalu melanjutkan pekerjaannya.
Diane tidak banyak berharap akan pujian dari Alexavier pada dirinya, karena ia sudah terbiasa dengan semua sikap dingin Alexavier . Alexavier tidak bertindak dan berucap kasar, itu sudah sangat cukup bagi Diane.
Saat Diane akan melangkah keluar, tiba-tiba saja Alexavier meraih tangannya dari belakang, memeluk erat Diane.
"Ak sedang menginginkannya.." ucap James, sembari memeluk Diane.
"Tapi kita sedang berada di kantor," balas Diane.
"Ruangan ini memiliki kamar khusus untukku beristirahat. Layani aku sebelum kau pergi, puaskan aku.."
James mengunci pintu ruangannya, dan mengaktivkan mode kedap suara juga mematikan cctv di ruangan tersebut. Menarik Diane menuju kamar khusus, lalu mulai mencumbu Diane dengan begitu rakus.a
"Puaskan aku, sayang.." ucap Alexavier , lalu mengarahkan batang miliknya, agar Daine melakukan oral seks pada batang miliknya.
Ughhh... Diane hampir kehabis oksigen akibat tindakan rakus dari sang suami. Yah, Alexavier termasuk suami perkasa dan tahan lama bagi seorang istri. Tentu saja ia akan menjadi suami idaman, namun ia hanya pernah berhubungan intim dengan Diane. Namun, Alexavier juga kerap kali membayangkan wanita lain saat akan mencapai titik kenikmatannya, entah mengapa Alexavier bisa seperti itu. Diane pun masih belum mengetahuinya hingga saat ini.
Deru napas dan pacuan jantung Diane menjadi lebih cepat dari biasanya.
Satu hal dalam hubungan intim yang juga tidak Alexavier ketahui dan sadari ialah, Diane yang tidak pernah bisa benar-benar menikmati hubungan ranjang mereka, dan bahkan jarang mencapai titik kenikmatannya. Sebagai seorang istri, Diane sangat sedih karena hal itu, dan hanya dapat menyimpannya seorang diri.
Setelah memberikan kepuasan ranjang pada Alexavier , Diane pun merapikan dress yang ia kenakan juga seluruh penampilannya.
"Aku akan pergi membeli beberapa kosmetik," ucap Diane.
"Apakah kau masih memiliki uang yang cukup?"
"Yah, uang bulan kemarin masih kusimpan." Ucap Diane, lalu pamit pergi.
Saat melangkah keluar, Diane tetap menjadi fokus perhatian pada pegawai. Ada perasaan kagum, tercengang bahkan rasa cemburu diantara para wanita. Mereka beranggapan bahwa Diane ialah wanita yang sangat beruntung bisa mendapatkan seorang pria kaya raya juga tampan seperti Alexavier .
Tanpa mereka tahu, perangai buruk Alexavier sebenarnya...
****
"NERAKA dalam Pernikahanku "
Author by Natalie Ernison
...
Hari-hari Diane, kini tidak seindah dulu. Setiap harinya, harus menyimpan kekesalan dan menahan diri untuk tidak bertindak nekat.
-------
"Mansion kediaman Keluarga Herrol Caspian"
"Ayah ingin kalian tetap berada di mansion ini, namun ayah sadar bahwa kalian harus hidup mandiri." Ucap Mr. Herrol.
"Ah, yah ayah." Jawab Diane dengan tersenyum sendu.
"Diana, apa kau kurang sehat?" Tanya Mr. Herrol cemas.
"Tidak ayah, aku sangat sehat." Jawab Diane dengan hati yang sebenarnya sedih.
"Katakan saja pada ayah, jika terjadi sesuatu padamu."
"Baik ayah, terima kasih." Ucap Diane dengan berat hati.
Mr. Herrol sangat memperhatikan anaknya, bahkan menantunya sangat ia pedulikan. Namun, Mr. Herrol memiliki kelemahan tubuh yang harus selalu dijaga. Ia tidak boleh menerima berita yang buruk, karena hal itu akan sangat membuat kondisi kesehatannya turun total. Hal itulah yang membuat Diane membungkam mulutnya rapat-rapat.
***
Setelah beberapa bulan menikah, kehidupan mereka bisa dikatakan mendekati kebahagiaan, namun pertengkaran juga menjadi bumbu pedas di dalam pernikahan mereka. Al sangat kasar dalam berbicara, dan nyaris berlaku ringan tangan pada sang istri, Diane.
"Mansion Kediaman Keluarga Alexavier Caspian & Diane"
Diane dan Al kini hanya tinggal berdua bersama para pelayan mansion. Al tidak mengijinkan Diane untuk bekerja, karena baginya wanita hanya akan kembali ke rumah tangga. Selain itu juga, Al juga menyanggupi segala kebutuhan sang istri dan tidak terlalu sulit.
Al ternyata memiliki pribadi yang sangat dingin dan arogan. Setelah menikah, Al sangat sibuk bekerja, dan pulang hanya disaat malam tiba.
Huh.. "Sangat membosankan," keluh Diane yang mulai jenuh dengan kesehariannya.
Diane melanglah menuju lantai dasar mansion dan berniat untuk mengajak sang pelayan pergi bersamanya.
"Bibi, bisakah bibi menemaniku untuk berbelanja kebutuhan rumah?" Tanya Diane sopan.
"Baik Nyonya, aku akan bersiap terlebih dahulu." Sang pelayan bergegas mempersiapkan diri.
Diane juga tidak diijinkan untuk pergi seorang diri, mereka pergi bersama dua pelayan dan satu supir pribadi.
"Nyonya, apakah kita bisa pergi sekarang?" Tanya sangs supir yang sudah tiba di loby utama.
"Yah, kita pergi sekarang. Aku harus mendapatkan daging-daging segar." Ucap Diane semangat, dan mereka pun bergegas untuk pergi berbelanja.
***
Diane sangat suka barang-barang antic, dan ia pun memutuskan untuk pergi ke sebuah Mall ternama di kota New York.
Mereka berbelanja daging segar, dan tanpa sengaja Diane melewati area bermain anak-anak.
Diane terhenti sejenak, sedangkan para pelayan sudah terlebih dahulu dengan mendorong trolley.
"Nyonya," panggil para dua pelayan wanita yang pergi bersama Diane. Mereka terdiam sejenak, tatkala melihat Diane tersenyum tipis ke arah permainan anak-anak itu.
Diane berdiri dan fokus memandangi anak-anak yang sedang bermain. Tanpa ia sadari, kedua matanya sedang berkaca-kaca. Diane sepertinya merindukan kehadiran seorang anak di dalam pernikahan mereka.
Setelah dirasa puas, Diane pun berbalik dan melanglah maju ke hadapan dua pelayannya. Dua pelayannya pun hanya bisa diam, mereka tahu jika Tuan mereka masih belum menginginkan kehadiran seorang anak.
"Nyonya, apakah tidak ada lagi yang ingin nyonya cari?" Tanya sang pelayan.
Diane menggeleng, "tidak bi. Kurasa sudah cukup, dan semua kebutuhanku pun masih banyak." Jawab Diane dengan wajah sendunya.
Sejak kembali dari Mall, Diane kerap kali melamun dan mengingat anak-anak yang ia lihat di area tempat bermain itu.
***
"Mansion Kediaman Keluarga Alexavier Caspian"
Setiap kali waktu menunjukan bahwa Al akan segera pulang dari pekerjaannya, Diane selalu duduk manis menunggu sang suami di ruang tamu. Karena Al hanya ingin Diane yang melayani segala kebutuhannya.
Suara mesin mobil milik Al sudah terdengar jelas, Diane melangkah dengan semangat untuk menyambut sang suami pulang dari pekerjaannya.
"Selamat sore sayang," ucap Diane dengan senyuman lemnbutnya. Al hanya membalas dengan berdehem singkat.
Al pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menyantap makan malam berdua bersama Diane.
Diane sangat ingin bercerita tentang pengalamannya siang hari ini, namun ia menunggu saat mereka akan kembali ke kamar untuk beristirahat.
... ...
Keduanya kini berada di atas tempat tidur, dan Diane pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara.
"Sayang," ucap Diane dari balik punggung Al yang sedang membelakanginya.
Hmm... Al hanya menjawab seperti biasanya dan masih fokus dengan ponsel miliknya.
"Sepertinya, mansion ini akan terasa lebih ramai, ketika ada bayi-bayi lucu..—" ucap Diane antusias, namun tidak dengan Al.
"Sudah kukatakan, aku tidak ingin memiliki anak untuk saat ini. lagipula aku sangat sibuk, dan pada akhirnya kau akan merasa terabaikan, bukan?" ketus Al.
"Tapi, bukankah kita memiliki segalanya, dan kurasa kehadiran seorang anak akan membuat..—"
"Hentikan Diane, aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi." Al pun menutup topic pembicaraan. Diane sangat kesal dan juga sedih hingga membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.
Mengapa Al tidak menginginkan anak di dalam pernikahan mereka, bukankah segala hal telah keluarga mereka miliki?
Mengapa Al tidak menginginkan anak di dalam pernikahan mereka, bukankah segala hal telah keluarga mereka miliki?
***