Bab 1

~~~~~~~~~~~

Flash back on.....

Tirai-tirai tebal apartemen mewah itu hampir tak bisa menyaring gemuruh kota di malam itu.

Di dalamnya, udara terasa pengap, berat, dan basah oleh keringat.

Hanya teriakan sesak dan desahan yang memecah kesunyian, saling berkejaran dalam bayangan yang diterangi lampu kamar yang remang remang.

Seorang pria bernama Noah, mendominasi setiap jengkal ruang dan setiap helaan nafas. Tubuhnya berayun tanpa ampun, digerakkan oleh sebuah obsesi gelap yang lebih besar daripada nafsunya sendiri.

Suaranya rendah, serak, dan penuh klaim kepemilikan yang mengerikan, menyelinap di antara helaan nafasnya yang berat.

" Mmmhh.. "

" Aku... akan membuat kamu hamil, Abigel. " desisnya, dengan setiap kata yang ditekan seolah mengisaratkan keseriusan ucapanya itu.

" Dengan begitu... kamu akan benar-benar menjadi milikku. Selamanya, tidak ada lagi laki-laki lain yang berani menyentuhmu, bahkan mendekatimu. " tegas Noah yang terlihat sudah seperti kesetanan akibat rasa cemburu dan amarah yang menjadi satu.

Di bawahnya, Abigel mencoba mengumpulkan kesadarannya yang tercerai-berai, akibat ulah pria itu.

Tangannya yang lemah menekan bahu Noah, sebuah upaya sia-sia untuk membuatnya berhenti. Nafasnya tersengal, pecah oleh setiap dorongan dari tubuh besar pria itu.

" Mmhh... Eng-enggak..." rintihnya, putus asa.

" Noah, tolong... jangan... jangan keluarin di dalem... Aku mohon... " lirih Abigel di sela sela putus asanya.

Namun permohonannya hanya di anggap oleh Noah, sebagai bagian dari permainan mereka.

Ia membenamkan wajahnya ditengkuk leher Abigel, mengabaikan setiap kata penolakannya, bisikannya terasa panas dan menyesatkan.

" Ssshhh... Aku tau kamu menginginkannya juga, sayang. Kamu akan jadi milikku selamanya. Hanya aku yang berhak memilikimu. " bisik Noah.

Abigel memalingkan wajah, menyembunyikan air matanya yang mulai menetes di bantal satin. Suaranya melemah, nyaris hilang dalam deru nafas mereka berdua.

" Nggak.. mmhhh... Bukan ini yang aku mau... enghh.. hentikan, Noah.. aku bilang hentikan! "

Namun Noal seakan tuli dan sudah terlalu jauh. Ia tenggelam dalam kabut g4!r4h buta dan racun kecemburuan yang ia ciptakan sendiri.

Pikirannya telah menyempit hanya pada satu tujuan, memiliki, menandai, mengklaim. Ia bergumam, bukan lagi untuk Abigel, namun untuk memuaskan kegilaannya sendiri.

" Milikku... kau hanya milikku... "

Bagi Abigel, gumaman itu adalah pintu penjara yang terkunci. Perjuangannya melemah, digantikan oleh sebuah kepasrahan yang pahit.

Tubuhnya tak lagi melawan, namun menerima setiap hentakan dengan isak tangis yang bercampur desah kepayahan. Air matanya mengalir tanpa henti.

" Mmmhhh.. No-Noah... hiks.. hentikan..enghh.. "

Namun semua itu sudah terlambat. Noah mencapai puncaknya dengan sebuah helaan nafas panjang dan dalam, sebelum akhirnya tumbang di atas tubuhnya yang masih membelenggu Abigel dalam pelukan yang sesak dan posesif itu.

Beratnya menindih, namun yang lebih menindih adalah beban kegetiran yang ia tinggalkan. Dengan mata kosong, Abigel menatap langit-langit kamar apartemen mewah itu.

Dunia di luar sana masih berdenyut, tetapi di dalam dirinya, segalanya terasa hampa dan sunyi. Sebutir air mata terakhir mengalir pelan di pelipisnya, menyerap ke dalam rambutnya, menjadi saksi bisu dari sebuah kepemilikan yang dipaksakan.

Setelah beberapa saat beristirahat dalam keheningan yang hanya diselingi oleh jeritan mereka, Noah menarik tubuhnya.

Dengan gerakan yang tiba-tiba namun penuh klaim, ia mengangkat tubuh Abigel yang lunglai dan mendudukkannya dalam pangkuannya.

" Jangan menangis, sayang. " bisiknya, suaranya tiba-tiba melembut, bertolak belakang dengan keganasannya beberapa saat lalu.

Tangannya yang besar mengusap air mata di pipi Abigel dengan lembut.

" Maaf... Aku akan melakukannya dengan lembut sekarang. "

Abigel, dengan sisa tenaga yang hampir habis, hanya bisa mengalungkan kedua tangannya di leher pria itu.

Melihat sikap pasrahnya, senyum smirk dan penuh kemenangan melintas di wajah Naoh.

Dengan keyakinan penuh bahwa ia telah menang, dengan perlahan namun pasti Noah kembali mengulang kegiatan panas itu.

" Mmhh... " lenguh Abigel pecah, campuran antara rasa sakit, kelelahan, dan sensasi yang tak terbendung.

Kemudian Noal mulai menggerakkannya dengan perlahan, tangannya erat memegangi pinggang wanita itu untuk mengontrol setiap ritme.

Ia menunduk,  kemudian memberikan c!um4n dan gigitan lembut di leher Abigel, menandainya lagi dan lagi.

Abigel benar benar terlihat sudah tidak berdaya, hanya bisa pasrah menerima setiap gerakan. Sementara Noah, yang masih diselimuti kabut gairah dan posesif, terlihat tak pernah puas menikmati setiap inci tubuh wanita yang diklaim miliknya itu.

" Kamu hanya milikku, sayang. Selamanya hanya milikku. " batinnya, semakin menjadi.

" Mmhhh... Noah... enghhh.. " rintih Abigel dengan suaranya yang mulai terdengar parau.

" Aku ada di sini, sayang..." jawab Noah, suaranya berat dan penuh kepuasan, seolah perkataannya itu sebuah penghiburan.

Secara tak terduga, Abigel menegakkan tubuhnya. Dengan sisa-sisa kekuatan dan sebuah keputusan yang muncul dari dalam lubuk kepasrahannya, ia mencium bibir pria itu dalam-dalam.

Tangannya masih melingkar di lehernya, dan ia mulai menggerakkan tubuhnya sendiri, mengikuti irama yang ditetapkan Naoh.

Matanya terpejam, seolah berusaha keras untuk sepenuhnya tenggelam dalam sensasi yang menghanyutkan itu, melarikan diri dari pikiran yang kacau.

Noah, terkejut sekaligus terhanyut oleh inisiatif tak terduga ini, kemudian ia mendekapnya lebih erat.

Satu tangannya menahan kuat pinggang Abigel, sementara tangan yang lain memainkan area terlarang yang sejak tadi berusaha Abigel tutupi. Namun Noah bagi Noah, hal itu semakin memabukkan dalam ilusi bahwa ini adalah sebuah konsensual yang penuh gairah, dan bukan sebuah penyerahan diri yang lahir dari keputusasaan.

~~~

Udara di Kafe kecil itu terasa pengap walaupun pendingin ruangan terpasang di bawa suhu rata ratanya. Abigel duduk sendiri di sudut cafe itu, jemari tanganya gemetar memutar gagang cangkir yang sudah dingin.

Tiba-tiba, bayangan panjang menyapu meja kecilnya. Dadanya terasa sesak saat melihat Noah sudah duduk di hadapannya tanpa diundang, matanya membara dengan intensitas yang membuatnya ingin menghilang.

" Abigel. "

Noah menghela napas panjang, berusaha terdengar sabar namun nada posesifnya masih terlihat sangat jelas.

" Aku sudah bilang. Perbedaan antara kita bukanlah halangan. Kekayaan keluargaku, latar belakangmu itu semua tidak penting. Yang penting adalah perasaanku padamu. " ucap pria itu dengan sorot matanya yang selalu tajam.

Abigel langsung menunduk lebih dalam, menatap erat tangannya sendiri seolah bisa mencari kekuatan dari sana.

" Bukan... bukan itu masalahnya, Noah. Aku... aku nggak sanggup. Duniamu terlalu besar, terlalu rumit. Aku merasa tertekan. Tolong, jangan lagi mencariku. Kamu bisa mendapatkan wanita mana pun, dari kalangan mana pun yang lebih pantas untukmu. " jawab Abigel, suaranya pecah dan getir.

Wajah Noah berubah mengeras. Kesabarannya langsung habis mendengar penuturan wanita di hadapanya itu.

" WANITA LAIN?! " ucap Noah dengan suara yang mulai meninggi, yang langsung menarik perhatian beberapa pengunjung lain.

" Aku tidak menginginkan wanita lain! Aku menginginkanmu, Abigel. Hanya kamu. " tegasnya.

Dengan sisa keberaniannya, Abigel berdiri, mengambil tasnya dan menatap Noah.

" Noah, aku serius. Ini untuk kebaikan kita berdua. Aku minta kau menghormati keputusanku. "

Namun gerakan Noah lebih cepat. Tangannya mencengkram lengan Abigel dengan kekuatan yang membuatnya kaget seketika.

" Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Kamu selalu lari. Aku lelah mengejarmu. "

" Apa yang kamu lakukan? " ucap Abigel mencoba melepaskan diri, suaranya bergetar ketakutan.

" Lepaskan aku! Ini tempat umum! "

Noah langsung menariknya dengan paksa menuju pintu, suaranya rendah dan penuh ancaman yang membuat bulu kuduk Abigel berdiri.

" Kita akan bicara di tempat yang lebih privat. Apartemenku. Kamu tidak bisa terus melarikan diri dariku, Abigel. Karena aku selalu bisa menemukanmu. "

Abigel berjuang melepaskan diri, namun sia-sia. Tubuhnya jauh lebih kecil dan lemah dibanding Noah.

" Noah... Tolong... jangan..."

Isaknya lemah, tenggelam dalam gemuruh hatinya yang ketakutan.

Setibanya di apartemen mewah milik pria itu.

Abigel terduduk di sofa mewah, memeluk bantal erat-erat seperti perisai. Apartemen yang luas dan mewah itu, terasa seperti penjara yang berlapis emas.

" Noah, tolong... jangan lakukan ini. " pintanya, suara kecilnya penuh keputusasaan.

Noah berdiri di hadapannya, dengan gerakan tegas melepas jasnya. Matanya gelap, dipenuhi obsesi yang mengerikan.

" Aku melakukan ini karena kamu memaksaku, Abigel. Kamu tidak memberiku pilihan lain. Jika kata-kata tidak bisa membuatmu mengerti, maka mungkin dengan cara ini kamu akan sadar bahwa kamu adalah milikku. "

" JANGAN! " jerit Abigel ketika pria itu mendekat, namun jeritannya hanya memantul di dinding-dinding apartemen mewah yang sunyi itu.

Noah tidak menghiraukan, tangannya mengurung Abigel dengan erat.

" Aku akan membuatmu mengerti. Setelah ini, kamu tidak akan bisa lari lagi. Kamu akan tetap di sini, bersamaku. "

Abigel mulai terisak, perlahan kehilangan tenaga untuk melawan. Tubuhnya terasa lemas dan pasrah.

" Tolong... hentikan..." lirihnya hampir tak terdengar, sirna ditelan kekerasan yang terjadi.

Noah yang sudah benar-benar hilang dalam obsesinya, bergumam lirih di telinga wanita itu

" Kamu akan melihat... ini satu-satunya cara agar kamu tetap bersamaku selamanya. "

Malam itu, di balik kemewahan apartemen yang megah, sebuah kepercayaan diinjak-injak, dan sebuah jiwa dipatahkan dengan paksaan, hanya untuk memuaskan obsesi seseorang yang menyebutnya cinta.

Flash back off.....

_

_

_

Esok harinya.

Di kamar tidur yang begitu luas dan megah, namun membuat Abigel merasa semakin kecil dan tersesat.

Ia mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha menyesuaikan penglihatan dengan cahaya matahari pagi yang perlahan lahan mulai menelisik masuk kekamar itu. Kesadarannya perlahan mulai kembali.

Abigel masih terbaring di atas ranjang king-size yang mewah, tubuhnya tenggelam dalam bantal-bantal sutra.

Matanya menyapu ruangan yang dihiasi perabotan antik dan lukisan-lukisan mahal, yang terlihat sangat berbeda dari apartemen milik Noah.

" Ini di mana? " batinnya bingung, kemudian perlahan rasa panik mulai menyergap.

Perlahan lahan Abigel mendengar suara ketikan keyboard. Dengan cepat ia menoleh dan melihat Noah duduk santai di sofa kamar itu, sambil sibuk dengan laptopnya.

Pria itu mengenakan kaus katun putih dan celana hitam pendek, terlihat sangat santai seolah tidak ada yang aneh dari situasi ini.

" Selamat siang, sayang. Apa tidurmu nyenyak? " tanya Noah yang terdengar tenang dan wajar, sama sekali tidak mencerminkan keanehan situasi itu.

" Noah, ini di mana? " tanya Abigel dengan suara yang terdengar serak, karena masih diliputi rasa takut dan kebingungan.

Noah langsung menutup laptopnya perlahan.

" Ada di rumah kita, sayang. Rumah utama kita. " ujarnya dengan lembut namun penuh kepastian.

" Aku membawamu tadi pagi, saat kamu masih terlelap. "

Abigel menggenggam erat selimut sutra yang menutupi tubuhnya, mencari perlindungan dari bahan yang mahal itu.

" Aku... mau pulang, Noah. " ucapnya dengan suara lirih penuh ketidakpastian.

Noah menghela napas panjang, kemudian berdiri dan berjalan perlahan menuju ranjang besar itu.

Ia duduk di tepi ranjang, kemudian mengulurkan tangan untuk mengelus lembut pipi Abigel. Wanita itu langsung menoleh, menghindari sentuhannya.

" Sayang... ini sekarang rumahmu. Di sini, bersamaku. Kamu adalah nyonya di rumah ini. " ucap Noah dengan suara lembut namun mengandung paksaan.

Abigel menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

" Aku nggak mau jadi nyonya di sini, aku hanya ingin kehidupanku yang sebelumnya. "

Wajah Noah tetap lembut tapi tegas. Tangannya masih membelai pipi wanita itu.

" Kehidupanmu yang dulu sudah berakhir, sayang. Jangan cemas tentang pendapat orang lain, atau tentang apa pun. Biar aku yang mengurus semua itu. Yang kuminta darimu hanya satu, "

Noah membungkuk, mendekatkan wajahnya kemudian mencium singkat bibir Abigel.

CUP!

" Jalani hidup sebagai istriku. Bersamaku, selamanya. Lupakan semua masalah dan kekhawatiranmu. Kamu hanya perlu melakukan apa pun yang membuatmu bahagia. Aku akan memastikan dunia ini tidak menyakitimu lagi. " bisiknya.

Abigel hanya bisa menatap kosong ke depan, perasaan terjebak dan ketakutan membeku di dadanya.

Noah telah membangunkan ia di dalam sangkar emas, dan memahami dengan jelas bahwa pintu keluar dari rumah mewah itu mungkin telah tertutup untuk selamanya.

~~~NEXT~~~

Bab 2

~~~~~~~~~

Kamar mandi menguap hangat ketika Abigel keluar, sehelai handuk mewah melingkar erat di tubuhnya, menyerap tetesan air yang masih menempel di kulitnya.

Udara dingin ruangan itu membuatnya merinding. Noah sudah menunggu, duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang sulit dibaca.

" Duduk sini dulu, sayang. Aku ingin memeriksamu. " ucap Noah, suaranya lembut namun mengandung nada yang membuat Abigel sedikit tegang.

Abigel membeku di tempatnya, tangan mengencangkan cengkeramannya pada handuk.

" M-Memeriksa apa? " tanyanya dengan suara bergetar penuh kegugupan.

Noah hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang membuat jantung Abigel berdetak tak beraturan.

Dengan gerakan yang cepat dan halus, Noah berdiri dan mendekati Abigel. Abigel yang sebelum sempat bereaksi, namun Noah sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah.

Wanita itu hampir berteriak kaget, tangannya secara cepat mencengkeram kemeja Noah cukup erat karena takut terjatuh.

Dengan hati-hati, Noah mendudukkan Abigel di tepi ranjang, posisinya persis di hadapannya.

" Aku ingin memeriksa milikmu, sayang. " bisiknya, matanya tak lepas dari Abigel.

" Sepertinya kemarin kamu sangat kesakitan. "

Mendengar itu, dengan cepat Abigel merapatkan kedua kakinya, wajahnya memerah dan mengalihkan pandangannya ke karpet mewah di lantai.

Pikirannya melayang ke situasi yang terjadi kemarin malam.

" Udah tahu sakit, tapi masih di paksa. Dasar nggak punya hati. " batin Abigel mendengus kesal.

Tanpa banyak bicara, dengan lembut Noah mulai melepaskan handuk yang melindungi tubuh wanita itu.

Dengan ia hati-hati meletakkan kedua kaki Abigel di atas tempat tidur, membukanya perlahan untuk memeriksanya.

Abigel yang merasa malu dan terbuka, segera menutupi area itu dengan kedua tangannya.

" Jangan ditutup, sayang. " ucap Noah dengan suaranya yang tiba-tiba serak, penuh dengan hasrat tertahan.

Dengan lembut, Noah mulai memeriksanya.

" Apa ini sakit, sayang? " tanyanya yang terus memperhatikan milik Abigel.

Abigel menggeleng pelan, napasnya mulai tak teratur.

" E-enggak... cuma rasanya aneh aja. " jawabnya jujur.

Mendengar pengakuan itu, senyum kecil yang percaya diri sebuah smirk muncul di wajah Noah.

Tidak berselang lama, kegiatan panas itu terulang kembali. Namun kali ini Abigel tidak memberontak, melainkan mulai menikmatinya.

Hal itu membuat Noah merasa sangat senang dan penuh kemenangan, karena berhasil meluluhkan hati wanita itu perlahan lahan.

Dalam keheningan yang kembali menyelimuti kamar, Noah memeluk erat Abigel yang masih lemas.

" Terima kasih, sayang. " bisiknya lembut di telinga Abigel, suara yang kontras dengan perasaan aneh beberapa saat sebelumnya.

_

_

_

Jam dinding masih menunjukkan pukul 11:20 siang, ketika Abigel sudah selesai membersihkan tubuhnya untuk kedua kalinya

Pagi itu, udara masih terasa lembap dari uap air yang baru saja menguap. Abigel duduk di bangku meja rias, dengan tubuh masih sedikit lemas.

Di belakangnya, Noah berdiri dengan handuk lembut di tangan, penuh perhatian mengeringkan helai demi helai rambut Abigel yang masih basah.

" Maaf ya, sayang. " ucap Noah dengan suara rendah yang bergetar penuh emosi.

" Aku tidak bermaksud membuatmu kembali kelelahan. " lanjutnya sambil tangan terampilnya terus bekerja mengeringkan rambut wanita itu.

" Tapi aku tidak bisa tahan saat melihat milikmu yang indah itu. " bisiknya, merujuk pada tubuh Abigel yang baru saja ia lihat begitu sempurna di balik pancuran.

Abigel hanya diam membisu, matanya menghindari kontak dengan Noah melalui pantulan cermin.

Abigel memilih fokus pada sikat make-up di atas meja, daripada harus menatap pria yang baru saja membuatnya lemas lagi.

Noah membungkuk, mendekatkan wajahnya ke bahu Abigel. Satu tangannya bebas menyentuh lembut pipi wanita itu, sementara bibirnya mulai menciumi lehernya yang masih basah oleh percikan air.

"Mmm.. " Abigel mendesis pelan, matanya refleks terpejam saat sensasi familiar itu kembali menyebar.

" Aku selalu tidak bisa menahan diri jika bersamamu, sayang. " ucap Noah berbisik lagi, napasnya hangat di dekat telinga Abigel.

" Kamu sangat candu untukku. "

Tak cukup dengan itu, ia mulai menggigit lembut daun telinga Abigel, membuat wanita itu gemetar.

" No-Noah.. "

" Aku laper. " tuturnya.

Ucapan itu seperti menyiram air dingin untuk Noah. Ia langsung tersadar, karena memang mereka telah melewatkan waktu sarapan karena kesibukan mereka pagi itu.

" Maaf sayang, biar aku ambilkan makanan. Kamu disini saja. " ucapnya cepat, sebelum mencium sekali lagi leher Abigel dan bergegas keluar kamar.

Begitu pintu tertutup, Abigel segera membuka mata dan mendekatkan wajahnya ke cermin.

Dengan jari gemetar, ia menyibak rambutnya dan menarik napas pendek. Lehernya dipenuhi tanda merah bekas c!um4n dan gigitan yang Noah lakukan. Beberapa bahkan terlihat agak keunguan.

" Dia benar-benar gila. " gumam Abigel pada bayangannya sendiri, jari-jarinya menelusuri setiap tanda yang ditinggalkan pria itu.

Setiap jejak itu seperti stempel kepemilikan yang ia rasa semakin mengurungnya dalam dunia Noah yang begitu intens dan kadang membuatnya sulit bernapas.

Beberapa menit kemudian, Noah kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi berbagai hidangan.

Aroma harum buah segar dan Croissant hangat memenuhi udara. Dengan hati-hati ia meletakkan nampan di atas meja kecil di depan sofa, kemudian mengambil mangkuk berisi salad buah yang penuh warna.

" Biar aku suapin kamu sayang. " ujarnya lembut, dengan sendok sudah terulur dari tangannya.

Abigel hanya duduk di sofa, dengan tubuh yang masih terasa lemas.

Matanya kosong menatap ke depan, membiarkan Noah menyuapinya tanpa perlawanan. Bibirnya membuka secara otomatis menerima suapan demi suapan itu.

Noah tak berhenti menyuapinya, suarnya tetap lembut penuh perhatian.

" Apa ada yang kamu inginkan, sayang? Mau jalan-jalan ke mana? Aku akan mengantarmu ke mana saja. " tawarnya, berusaha memancing respon dari Abigel.

Abigel mengunyah makananya dengan perlahan, dengan mata yang sengaja menghindari kontak dengan Noah.

" Aku... nggak mau apa-apa. Cuma ingin jalan-jalan di sekitar sini aja. " jawabnya datar.

Noah mengangguk, senyum tipis menghias bibir pria itu.

" Baiklah. Nanti akan kuantar kamu keliling halaman belakang. Di sana banyak tanaman buah yang sudah mulai mateng. " ucapnya.

Mendengar kata tanaman buah, tanpa sadar mata Abigel langsung berbinar.

" Benarkah? Ada buah apa aja? " tanyanya dengan nada yang tiba-tiba antusias, seolah lupa sejenak pada semua kekakuan antara mereka.

Noah tersenyum semakin lebar, senang melihat reaksi antusias Abigel.

" Banyak, ada Strawberry, Blueberry, Anggur, bahkan Pir. Semua kutanam untukmu, sayang. " ujarnya penuh arti.

Tiba-tiba Abigel terdiam mendadak, ekspresinya berubah sedikit.

" Jadi.. semua ini udah ia rencanakan sejak dulu? " batinnya, merasa seperti ada sesuatu mengganjal di dadanya.

Noah terus menyuapi dengan lembut, matanya tertuju pada bekas c!um4n yang masih jelas terlihat di leher Abigel.

" Masih ada yang ingin kamu tanyakan tentang halaman belakang? " tanyanya lagi.

Abigel menggeleng, menundukkan kepalanya.

" Nggak. " jawabnya singkat.

Senyum smirk muncul di bibir Noah. Jarinya menyentuh lembut bekas ciuman di l3h3r wanita itu.

" Kamu terlihat sangat cantik dengan tanda ini. " bisiknya, suara rendah penuh kepuasan.

Abigel hanya diam, menahan perasaan campur aduk yang membuatnya ingin menangis.

Sementara Noah masih terus menyuapinya dengan penuh perhatian, seolah tidak ada yang salah dengan situasi mereka yang rumit itu.

Setiap suapan terasa seperti simbol kontrol dan kepemilikan, bukan sekadar gesture kasih sayang.

_

_

_

Di halaman belakang rumah mewah yang luas itu, Noah dan Abigel berdiri di antara hamparan kebun buah yang tertata rapi.

Dengan sedikit lirikan matanya yang tajam, Noah memberikan isyarat halus kepada para pelayan yang sedang beraktivitas di sekitar area tersebut.

Seketika, semua pelayan itu memahami pesan nonverbal itu dan segera beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua sendirian di tengah kebun.

Abigel terlihat tampak sangat antusias berjalan pelan di setiap petak kebun, matanya berbinar-binar memandangi buah-buahan yang sangat menggoda untuk di petik.

Dengan perlahan Noah mendekat dari belakang, langkahnya pasti namun tidak tergesa-gesa.

" Kamu boleh petik dan makan semua buah itu sepuasmu, sayang. " ucapnya dengan suara lembut namun penuh makna.

" Semua itu memang untukmu. " lanjutnya.

Abigel menoleh ke arah pria itu, kemudian senyum kecil mengembang di bibirnya.

" Ini beneran nggak apa-apa? " tanyanya, masih sedikit ragu.

Noah mengangguk, pandangannya penuh kepastian.

" Iya sayang, semua yang ada di rumah ini juga milikmu, karena kamu nyonya rumah ini. " jawabnya sambil mendekat lebih erat.

Tanpa diduga, Noah memetik satu buah strawberry merah sempurna dan membawanya ke bibir Abigel.

Namun alih-alih menyuapkannya dengan tangan, pria itu membawa buah tersebut dengan mulutnya sendiri, mendekatkannya ke bibir Abigel.

Tangannya dengan lembut meraih pinggang wanita itu, menariknya semakin dekat hingga tubuh mereka hampir bersentuhan.

B!b!r mereka pun menyatu dalam sekejap, berbagi rasa manis strawberry yang sedikit asam.

Rasa buah itu terasa semakin manis dan panas di antara pertukaran napas mereka yang semakin memburu.

Dalam momen itu, di antara rimbunnya tanaman buah dan hawa hangat yang menyelimuti, seolah hanya ada mereka berdua yang saling berbagi kehangatan dan rasa kepemilikan yang begitu kuat.

~~~NEXT~~~

Bab 3

~~~~~~~~

Di dalam mobil mewah yang meluncur cepat, Noah duduk di belakang kemudi dengan satu tangan dengan santai memegang setir, sementara tangan lainnya terentang di sandaran kursi penumpang, hampir menyentuh bahu Abigel.

Suara mesin yang halus hampir tidak terdengar, menciptakan suasana yang sunyi dan tegang di dalam mobil itu.

Noah menoleh sebentar ke arah Abigel, matanya menyapu wajah wanita itu yang nampak kelelahan.

" Nanti di kantor, kamu bisa beristirahat di privat room-ku, sayang. " ujarnya dengan suara datar namun mengandung unsur perintah yang tak terbantahkan.

Abigel mengangguk lemas, kepalanya terasa berat.

"Em." jawabnya singkat, suaranya hampir tak terdengar.

Noah melanjutkan, nadanya sedikit lebih tegas.

" Dan jangan keluar dari ruangan itu tanpa izinku. Aku tidak ingin ada yang mengganggumu."

Abigel hanya menutup matanya, bersandar ke bahu pria itu dengan lelah sambil menghela nafas pelan.

" Hmm..." gumamnya, karena merasa terlalu lelah untuk memberikan respons yang lebih jelas.

Noah melirik Abigel yang tampak lemas, suaranya tiba-tiba menjadi lembut.

" Kamu masih lemas? Maafkan aku sayang, tapi aku benar-benar tidak bisa menahan diri. "

Abigel tidak menjawab, hanya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri dari gemuruh pikiran yang mengganggunya.

_

_

_

Sesampainya di kantor megah milik Noah, suasana langsung berubah drastis. Pria itu keluar dari mobil dengan gesit, kemudian langsung merangkul pinggang Abigel dengan posesif, menariknya dekat ke tubuhnya.

" Stay close to me, sayang. " bisiknya, suara rendah namun penuh kuasa.

Para karyawan yang melihat langsung berbisik-bisik pelan.

" Wah, siapa itu? Kok Boss terlihat sangat protektif sekali. " gumam salah satu karyawan.

" Mungkin adiknya? Tapi kok rasanya nggak mirip. " Karyawan lainnya membalas dengan suara pelan.

Dari kejauhan, karyawan lain mengamati dengan cermat.

" Lihat cara Boss memandangnya. Pasti ini wanita spesialnya."

Noah tiba-tiba memandang tajam ke arah karyawan yang berbisik, membuat mereka langsung terdiam dan menunduk ketakutan.

Abigel berusaha menunduk, wajahnya memerah karena malu.

" Noah jangan pegang terlalu erat di sini. " pintanya dengan suara kecil.

Noah mendekatkan bibirnya ke telinga wanita itu, berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar olehnya.

" Tidak ada yang berhak protes, sayang. Mereka harus tau bahwa kamu itu milikku. "

Tanpa melepas rangkulannya, Noah terus memandu Abigel dengan posesif menuju lift khusus, meninggalkan para karyawan yang masih saling pandang dengan penuh keheranan dan rasa penasaran.

Setiap langkah mereka diikuti oleh pandangan tak percaya dan bisik-bisik yang tak berani diucapkan terlalu keras.

~~~~

Di dalam lift yang sepi dan mewah, suasana tiba-tiba berubah menjadi intim dan mencekam.

Noah tak membuang waktu. Tangannya yang hangat dengan lembut mendongakkan wajah Abigel, memaksanya menatap matanya yang gelap penuh intensitas.

Sebelum Abigel bisa bereaksi, bibir pria itu sudah menyambut bibirny4 dalam sebuah ciumsn yang dalam dan penuh klaim.

Abigel hanya bisa memejamkan mata, menyerahkan diri pada kemauan Noah. Tubuhnya sedikit gemetar ketika bibir atas dan bawahnya bergantian dilumat dengan penuh hasrat oleh pria itu.

Tangannya yang besar menekan tengkuk Abigel, memperdalam ciumanny4 hingga tak ada celah antara mereka.

" Enghh..." lenguh Abigel lemah, nafasnya mulai tersengal-sengal.

Namun Noah tak berhenti. Ciumannya bergerak turun ke leher Abigel, meninggalkan jejak panas di setiap jengkal kulit yang disentuhnya.

Pria itu terus mencium dan menggigit lembut kulit leher Abigel yang masih sensitif, membuat wanita itu merinding.

" Noah... udah.." protes Abigel lemah, tangannya mencoba mendorong dada Noah tanpa keberhasilan.

Noah mengangkat kepalanya, matanya yang gelap menatap langsung ke dalam mata Abigel.

" Setiap melihat bibirmu ini, " bisiknya dengan suara serak.

" Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melumatnya, sayang. Bibirmu ini sangat candu buatku. "

Sebelum Abigel bisa merespons, Noah sudah kembali menangkupkan bibirnya pada bibir Abigel, melumatnya dengan sebuah intensitas yang membuat kaki wanita itu melemah seakan kehilangan kekuatanya.

Di dalam lift yang terus bergerak naik, mereka terisolasi dalam dunia mereka sendiri, sebuah dunia dimana Noah memerintah dan Abigel hanya bisa pasrah menerima setiap bentuk posesifitas dan ketagihan yang ditunjukkannya.

TING!

Pintu lift terbuka dengan halus, memperlihatkan koridor mewah lantai eksekutif yang sepi.

Noah dengan enggan melepaskan bibirnya dari Abigel, namun lengannya tetap erat melingkari pinggang wanita itu seolah takut akan menghilangnya.

" Ayo, sayang. " bisiknya suara serak, menuntun Abigel untuk keluar dari lift.

Dani sang asisten yang sudah menunggu di depan pintu kantor, hampir tak bisa menyembunyikan keheranannya melihat wanita mungil di samping bosnya itu.

Matanya membelalak sesaat sebelum akhirnya kembali fokus.

" Selamat pagi, Tuan. Ada beberapa dokumen yang perlu..."

Noah tak menghiraukan laporan asistenya itu, langkahnya tak melambat saat melewati Dani yang menyapanya dengan sopan.

" Buka pintunya, Dan. " perintahnya singkat tanpa menoleh.

Dani buru-buru membukakan pintu itu, dengan perlahan lahan.

" Baik, Tuan. " jawabnya patuh.

Di dalam ruangan yang luas dan megah, dengan lembut Noah menuntun Abigel ke sofa kulit hitam yang besar.

" Duduklah di sini, sayang. Lebih nyaman. " ujarnya sambil menekan bahu wanita itu perlahan.

Abigel hanya menurut, tubuhnya ringkih tenggelam di bantal sofa empuk.

Matanya kosong menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota yang sibuk.

Noah berjalan ke meja kerjanya yang megah, mengambil posisi di kursi eksekutif.

" Dan, siapkan camilan, buah potong dan susu dingin untuk istriku. " perintahnya tanpa melihat ke arah asistennya.

" Baik, Tuan. " jawabnya sebelum beranjak pergi.

Noah kini memandangi Abigel yang masih terpaku pada pemandangan di balik jendela.

" Kamu baik-baik saja, sayang? " tanyanya, suaranya berusaha lembut.

Abigel tetap diam membisu, tak bergerak sedikitpun.

Dani yang masih berdiri di dekat pintu pun, memberanikan diri untuk bertanya.

" Apakah perlu saya panggil dokter, Tuan? Nona terlihat... "

" Tidak perlu . " jawab Noah dengan suara rendah.

" Dia hanya lelah. Sekarang lakukan perintahku. " lanjutnya.

Dani pun segera keluar, meninggalkan mereka berdua.

Noah kemudian beranjak dari kursinya, mendekati Abigel yang masih terpaku.

Ia duduk di sofa, menarik tubuh wanita itu dengan mudah ke pangkuannya. Tangan besarnya mengelus pipi pucat Abigel dengan lembut.

" Kamu mau apa sayang? " tanyanya lagi.

" Aku pengen pulang, tapi kalau aku bilang gitu, juga percuma. " batin Abigel tanpa suara.

Ia hanya menggeleng pelan, kemudian dengan pasrah menyandarkan kepalanya di dada Pria itu. Noah langsung tersenyum puas, tangannya mulai mengelus lembut rambut panjang Abigel yang tergerai indah.

" jika menginginkan apapun, bilang saja sayang, aku akan menurutinya. " bisiknya, sebelum menambahkan dengan nada yang tiba-tiba tegas.

" kecuali pergi dariku! " tegasnya.

" Tuh kan..."  lirih Abigel dalam hati, mata yang tadi kosong kini berbinar pelan oleh cairan keputusasaan yang mulai menggenang.

Ia benar benar merasa sudah terikat dan tak ada lagi jalan keluar dari tempat itu.

~~~NEXT~~~

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED