"Kring......kring.... kring" Suara alarm yang begitu nyaringnya sehingga mampu membangunkan Eric pagi itu. Eric sengaja menyetel alarm karena hari itu, Eric baru berkerja sebagai Menejer disebuah perusahaan di bidang pengadaan barang dan jasa. Oleh sebab itu dia di tuntut datang lebih awal dari biasanya.
Eric adalah seorang Anak lelaki pertama dari 4 bersaudara, dia sangat berantusias untuk bekerja agar dapat membantu orangtuanya dalam menyekolahkan Adik-adiknya.
Umurnya saat itu sekitar 24 tahun dengan postur badan yang gagah dan tentunya lumayan tampan dengan kulit warna sawo matang.
"Permisi Bu, Eric berangkat dulu ya," ucap Eric seraya pamit pada Ibu kostnya yang sedang menyirami tanamannya.
"Iya, kamu hati-hati ya di jalan, " ucap Ibu kostnya itu.
Eric menjalankan ritualnya secepat mungkin, agar dia bisa lebih cepat kekantornya tempat dia bekerja. Eric meninggalkan kostsannya itu dengan mengendarai motor sport kesayangannya.
Eric tinggal sendiri di kota itu umur yang masih muda dia sudah mendapatkan jabatan yang bagus dikantornya.
Dia memang sudah dipasilitasi rumah dan mobil kantor namun dia tetap memilih untuk tinggal dikostsannya di karenakan rumah dinasnya lumayan jauh dari kantornya. Karena itu dia juga lebih memilih menggunakan motor berpergian ke mana-mana.
Karena baginya naik motor itu sangatlah menyenangkan dan tampil lebih maskulin, Apa lagi jalanan Ibu kota itu jam kerja dan pulang selalu ramai dan macet sepanjangan sehingga membuat dirinya memilih untuk menaiki motornya itu.
Sesampai di kantornya Eric melirik jam dinding yang ada di atas pintu ruanganya tepat jam 7.10 wib. Suasana dikantornya itu pun masih sangat sepi lantaran karyawan yang lainnya pun belum ada yang datang.
"Pagi pak!" sapa Dewi Bela yang akrap dipanggil Bela itu memecahkan rasa hening Eric yang sibuk mengutak-katik handphone nya itu.
"Iya, pagi juga Bela,” sahut Eric yang langsung tiba-tiba berdiri dia melengus keluar dari ruangan itu dia ingin sarapan tepat di sebelah kantorya, karna Eric merasa risih jika dia hanya berdua saja dengan Bela di ruangan itu.
Seperginya Eric dari sana membuat Bela ingin membersihkan ruangan itu dia juga membersihkan meja-meja dan menyapu ruanganya.
Bela sebenarnya bukanlah seorang klining service dia adalah lidership bagian pemasaran tetapi karena dia selalu datang duluan dari karyawan lainya, sehingga dia mengambil inisiatif sendiri untuk bersih-bersih sembari mununggu temannya yang lain.
Bela adalah sosok wanita yang berparas cantik, dia berambut lurus dengan kulit warna sawo matang, dia bergabung di perusahaan itu sekitar 1 tahun yang lalu, dia mendapatkan pekerjaannya itu setelah selesai kuliah.
Bela adalah Anak pertama dari empat bersaudara 3 perempuan dan yang bungsu laki-laki, namun takdir berkata lain Adek laki-lakinya itu sudah meninggal karena kecelakaan. Sehingga mereka semuanya adalah perempuan.
Namun karena pekerjaan Bela yang lumayan jauh dari rumahnya dia memilih untuk ngekost di daerah kota itu.
Dan dia juga tinggal di rumah sebuah keluarga yang tidak memiliki Anak, karena kebaikan Bela dengan keluarga itu, Bela sudah di perlakukan seperti Anak sendiri sejak kuliah dulunya dulu.
Bela sangat betah tinggal di sana karena dia sangat di manja oleh orangtua angkatnya itu.
Tepat jam 7.30 wib Eric sudah berada di ruangan metting, karena kebiasaan kepemimpinannya dia selalu mengadakan metting setiap hari Senin pagi dan setiap hari Sabtu sore guna untuk mengevaluasi kinarja dalam satu Minggu.
Setelah semua karyawan masuk ruangan, meeting pagi itupun berlangsung dengan pokok pembahasan tentang di siplin masuk jam kerja, karena dalam 1 bulan pertama dia bekerja, Eric selalu memperhatikan kurangnya di siplin jam kerja.
Sebagai manusia biasa diapun hampir memutuskan mencari kerja yang lain di karenakan betapa banyaknya yang harus dia benahi di dalam perusahaan tersebut dan hari demi hari dilaluinya dengan semangat yang luar biasa sehingga menghantarkan perusahaan itu ke puncak kejayaanya.
Banyak karyawan sangat senang dengan kepemimpinanya yang sangat tegas dan sangat di siplin. Dan tidak sedikit juga karyawan yang tidak suka gaya kepemimpinanya di karenakan karyawan yang biasa mangkir dan nakal tidak bisa lagi bermain-main dengan sesuka hati mereka.
"Tuk... tuk...tuk...:" Pintu ruangan Eric berbunyi
"Iya, silahkan masuk!" sahut Eric langsung.
"Permisi pak,ini laporan keuangan mohon untuk di tandatangani Pak," ucap Ratih seraya menyodorkan file yang disematkan di map yang berwarna merah itu pada Eric selaku atasannya.
Eric menerima berkasnya sambil melemparkan senyuman ramahnya dia langsung menandatangani berkasnya tanpa memeriksanya lagi, karena dia sangat mempercayai kinerja Ratih yang selalu jujur.
Ratih sudah sangat lama bekerja dan menjabat menjadi bagian keuangan, bahkan Ratih adalah salah satu tangan kepercayaan Bos pemilik perusahaan yang di pimpin Eric itu.
Dua tahun berlalu Eric menjalani rutinitasnya itu setiap hari, bahkan dia sempat lupa untuk mengambil cuti tahunanya. Diapun terpikir sejenak, untuk mengambil cutinya untuk liburan.
Satu minggu Eric liburan membuat Bela kewalahan di kantornya karena dia harus mengisi kekosongan tugas dari Eric di tambah tugas utamanya adalah sebagai marketing.
"Selamat malam Pak Eric, maaf mengganggu liburanya Pak, saya mau tanya kira-kira kapan Bapak masuk kembali Pak? karna hari selasa ada jadwal ikut meeting di luar kota untuk tender pengadaan barang, demikian isi Whatshap Bela kepada Eric.
"Iya Bela, mohon di informasikan kepada Candra supaya dia yang menggantikan saya, “ balas Eric
"Iya Pak, namun mohon maaf Pak sebelumnya Candra juga sekarang sedang cuti mendadak karena orang tuanya meninggal, jadi Pak Candra sudah berangkat kemarIn sore Pak, “ pesan dari Bela yang di baca oleh Eric yang merasa bimbang karena disatu sisi dia ingin liburan, namun dia juga tidak mungkin mengabaikan pekerjaan begitu saja.
Candra adalah sekretaris Eric, Eric memilih laki-laki sebagai sekretarisnya untuk menghindari skandal-skandal yang sering terjadi di sebuah perusahaan yang kerap membawa perusahaan jatuh kejurang yang tidak benar.
"Baiklah Bela,sebenarnya saya cuti 2 minggu, tetapi tidak masalah hari Senin saya pastikan saya masuk," ucap Eric membalas pesan Bela. Mereka sudah terbiasa membicarakan hal bekerja walau di luar jam kerjanya akan tetapi seiring waktu berjalan keakrapan mereka berduapun berubah menjadi sebuah rasa yang berbeda.
Eric menganggap Bela adalah sosok wanita yang hebat dan di siplin hal itulah membuat Eric menjadi kikuk terhadap Bela, demikian juga sebaliknya Bela juga menyukai Eric kerena kekagumanya serta ketegasanya yang mampu membawa perusahaan menjulang tinggi.
Namun mereka sama-sama memendam rasa yang ada di hati mereka, Eric sangat merasa takut mengutarakan cintanya terhadap Bela walau pun sebenarnya sangat banyak waktu dan kesempatan yang diberikan Bela untuk mengungkapkan cintanya terhadap Bela.
Karena Bela juga merasa yakin bahwa Eric punya cinta terhadapnya, namun rasa takut Eric jauh lebih besar di banding rasa cintanya.
bersambung....
Eric takut jika cintanya di tolak semua jadi berantakan, karena Bela adalah sosok yang berpengaruh dalam pekerjaannya. Di sisi lain Bela sudah lama menunggu ungkapan itu keluar dari mulut Eric, tapi apa daya seorang wanita yang memiliki sifat menunggu, Bela pun pasrah dalam kegalauannya dan merasa yakin suatu saat akan tiba waktunya.
Keesokan harinya Bela memberikan setumpuk berkas untuk di bawa Eric.
"Pagi Pak, ini berkasnya sudah saya siapkan mohon di periksa kembali jika ada yang kurang biar, saya bereskan!" tutur Bela sambil melantunkan senyum manisnya.
"Pak, Pak, Pak Eric!" desak Bela agar membuyarkan lamunan Eric
"Oh, iya Bela!" sontak Eric kaget terkesiap karena goncangan dari Bela.
Eric memandang Bela dari atas hingga ke bawah membuatnya semakin kagum akan wanita yang ada di hadapanya itu.
"Sorry saya mengantuk, semalam tidak bisa tidur," gugup Eric terbata
"Sekali lagi mohon maaf Pak sudah mengganggu liburannya," ujar Bela merasa tidak enak karena dia tahu jika Eric tidak pernah libur.
" Tidak apa-apa Bel. Biasa saja, " tukasnya santai.
Baik Pak," Bela bergegas meninggalkan ruangan Eric
"Kenapa iya? Pak Eric kok tidak biasanya memperhatikan aku sampai sedalam itu," gumam Bela dalam hatinya sambil merapikan pakaianya.
"Apakah Pak Eric sudah semakin tertarik sama aku?
arkkkghh......buang pikiran kotormu ini Bela ayo kerja-kerja!" gumam Bela menolog dalam dalam hatinya.
"Bel. Tolong sebentar kesini," ucap Eric datar.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu Pak?" ujar Bela dingin, dia sengaja agar untuk menutupi hatinya yang gusar saat dia berhadapan dengan Eric laki-laki yang sangat dia kagumi itu.
"Kamu ada schedule lain tidak di beberapa hari ini? "tanya Eric langsung pada Bela.
"Sementara ini belum ada Pak," tukas Bela pelan.
"Oke, tolong kamu siap-siap karena kita akan berangkat nanti sore,'' tukasnya langsung membuat Bela bertambah kacau karena mana mungkin dia berangkat berdua bersama Eric laki-laki yang sangat dia kagumi itu karena bisa saja dapat meruntuhkan pertahanannya selama ini.
"Tapi pak," tolak Bela membatu karena dia terdiam sejenak saat Eric mengangkat telepon yang terus berdering itu.
Rasa Bela terasa bercampur aduk dia kebingungan dan tidak bisa berbuat apa-apa diapun pasrah dan menunduk meninggalkan ruangan Eric.
Sore itu Eric dan Bela menuju kota Semarang tempat mereka menghadiri tender, jarak antara kota Semarang dengan kantor mereka yang berada di kota Tanggerang sangatlah jauh, butuh waktu sekitar 5 jam untuk menempuh Kota itu, karena itulah Eric memilih untuk berangkat sore.
Di dalam perjalanan mereka tampak hening seolah mereka memiliki pemikirannya mereka masing-masing.
"Ehm, oh ya Bel, kamu tidak keberatan kan saya ajak ikut temani saya?" Ucap Eric memecahkan keheningan di tengah jalan membuat Bela terkesiap mendengar ucapan dari atasannya itu.
"Saya butuh teman mengobrol di jalan, supaya tidak mengantuk bawa mobil," Eric memberikan alasannya agar Bela tidak salah paham atas ajakannya itu.
" Iya Pak, saya tidak apa,"
"Kan, kamu tahu sendiri perusahaan kita tidak ada sopir khusus untuk menyopiri saya seperti ini,"
"Iya Pak, saya tidak keberatan Pak, tapi saya agak canggung saja Pak, masa anak buah di sopiri oleh bos sendiri, kan tidak lucu Pak," ujar Bela terkekeh tertawa ringan dan itu mampu memancarkan cantiknya yang sempurna membuat hati Eric kian menganguminya.
"Oh, gitu iya sudah anggap saja kita ini teman, supaya kamu tidak singkuh, langian selama ini juga saya tidak menganggap kamu sebagai bawahan saya kok, kan kamu lihat sendiri semua karyawan di kantor kita saya anggap teman semua," Eric berbinar menjawab ucapan Bela
"Iya Pak, karena ini baru pertama kali keluar kota sama-sama jadi gimana iya," ujar Bela tersenyum kikuk melihat Eric.
"Oh, ya Bel, saya boleh nanya sesuatu tidak sama kamu?"
"Iya, bolehlah Pak, emangnya ada pak?"
"Ehm, saya perhatikan selama ini kamu kerja dan pulang kerja selalu bawa motor sendiri, apa kamu belum punya pacar?" Tanya Eric langsung pada Bela yang tiba-tiba muka bela memerah karena uacapan dari Eric itu. Dan sontak Bela membuat dia terkejut, tampak sekali muka Bela kikuk saat mendengar pertanyaan itu.
"Kok, nanyanya sampai segitunya Pak, " tukas Bela terbata-bata karena dia baru sadar ternayata selama ini diam-diam selama ini Eric memperhatikannya.
Mendengar kediaman dari Bela membuat Eric merasa tidak enak, apa pertanyaannya itu membuat hati Bela tersinggung.
"Ehm, Iya Pak, sampai saat ini saya belum kepikiran sampai ke sana Pak, saya mau fokus kerja buat bantu orang tua, dan yang diucapakan oleh Bapak memang benar saya belum memiliki kekasih," tukas Bela kikuk, sesekali dia menoleh pada atasannya itu yang mampu membuatnya tenggelam karena dia benar-benar gugup mereka sangat dekat di dalam mobil yang masih tetap setia berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat itu.
"Oh begitu, baguslah karena saya juga tidak mau mendapatkan resiko jika saya berjalan dengan wanita secantik kamu,"
deg!
Jantung Bela berdetak dengan kencang dia merasa kikuk akan ucapan dari Bosnya itu yang mampu membuat hatinya bergumam jika dia sangat senang seakan dia sangat dikagumi oleh atasannya selama ini dan perasaannya itu tidak bertepuk sebelah tangan, semoga ya...
“ ow iya Bel, Kamu berapa bersaudara? Tanya Eric Menyambung pebicaraan mereka
"Iya Pak, saya punya Adik 2 Pak, keduanya masih sekolah jadi terpaksa aku harus bantu orang tua saya untuk menyekolahkan mereka," ujar Bela jujur tanpa menutupi kenyataan pada atasannya itu.
"Wah....itu artinya kamu Anak paling besar iya?"
"Iya Pak, kami tiga bersaudara, perempuan semua. Sebenarnya kami dulu 4 bersaudara 3 cewek 1cowok yang paling bungsu, tapi Tuhan berkehendak lain, tiga tahun yang lalu Adik saya meninggal dunia karena kecelakaan," ujar Bela melempam karena dia mengingat kembaali ingatan tentang Adik laki-lakinya itu.
"Eh, maaf Pak, kok jadi curhat gini yah,"
"Iya tidak gak apa lanjutkan saja, saya mau dengar kok," ujar Eric tetap melajukan mobilnya itu.
" Iya, gitu deh cerita singkatnya Pak,"
"Maaf ya, Bel! Pertanyaan aku tadi jadi buat kamu teringat sama almarhum Adik bungsumu itu, aku jadi ikut sedih jadinya."
"Its oke Pak, tidak apa karena saya juga sudah mengikhlaskan kepergian dari Adik saya itu,"
"Tapi seusiamu ini masa belum punya pacar, kamu cantik, baik, dan wanita karir lagi, masa kamu tidak mencoba untuk pacaran," ujar Eric merayu Bela
Bela hanya tersenyum canggung mendengar pertanyaan dari Eric yang ingin mengulik kisahnya terus.
"Apa memang kamu terlalu milih-milih?"
"Tentu tidaklah Pak, sebenarnya ingin juga punya pacar tapi yah tidak ada yang mau," kekeh Bela tertawa kecil memperlihatkan gigi ginsulnya itu namun sangat menarik bagi Eric yang tak henti menatapnya secara cepat.
Tiba-tiba mereka saling memandang membuat Bela tersipu malu
" Iya, kurang lebih seperti itulah Pak,"
"Kita istirahat sebentar dulu yuk! kaki saya sudah mulai keram nih," Eric memijat kakinya.
Bela hanya mengangguk.
Eric pun meminggirkan mobilnya tepat di pinggir sungai,
"Idih.., kirain tadi mau bilang cinta sama aku," Bela bergumam dalam hatinya. Mereka pun sambil turun dari mobil itu.
Eric berjalan mendekati Bela sambil menggandeng tangan Bela dengan raut wajah cueknya, Eric pura-pura tidak tahu untuk menutupi rasa geroginya mendekati wanita idamanya itu.
"Kita duduk disana yuk!" Eric menunjukkan sebuah tempat duduk yang ada di pinggir sungai itu.
Bela seolah-olah tidak mampu berbicara, dia hanya bingung dan merasa senang membuat dia menurut saja dalam ajakan sosok Lelaki yang dia sukai secara diam-diam itu.
Mereka pun duduk berdampingan di kursi yang ada di pinggiran sungai itu sambil menikmati hembusan udara segar dan suasana menjelang malam itu.
Tak ada kata dan tidak ada yang berani memulai pembicaraan mereka saat itu.
"Bela, aku boleh gomong sesuatu tidak?" tanyanya kian menatap wajah Bela yang teduh sesekali Bela menoleh kearah yang berbeda karena dia tidak sanggup menatap wajah tampan dari Eric selaku atasan yang sanga sangat berwibawa itu.
Bersambung.....
"Bel, saya boleh lagi tidak bertanya pada kamu," tanya Eric kian membuuat Bela menegang dia takut jika dia salah menjawabnya seolah dia sedang diintrogasi aparat saja seakan dia juga orang yang terdakwa malam itu.
"Ehm, Iya Pak. Bapak mau ngomong apa Pak?" tanya Bela yang kian gugup terlihat sekali kekikukannya yang benar-benar ketara.
"Tapi kamu harus janji, apapun yang saya bilang ini kamu jangan marah ya," tanya Eric lagi.
"Iya, saya janji Pak!" yakin Bela seakan memberi lamp hijau akan ucapan dari Eric.
"Bilang saja kalau memang Bapak mencintai aku, " gumam Bela yang sangat berharap dalam hatinya.
"Oke kamu janji ya, Bel...! Sebenarnya saya sudah lama memendam rasa ini, hanya saya takut kamu marah dan benci sama saya, apalagi kita satu kantor, takut jadi semua pekerjaan kita berantakan," tukas Eric serius.
"Memangnya Bapak mau bilang apa sih Pak!" tukas Bela menjadi bingung namun dia tahu jika romannya Eric ingin mengutarakan akan perasaannya yang dia juga harapakan selama ini karena bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang mampu menunggu kepastian darinya saja.
"Ehm, kamu mau kan jadi kekasih saya?" tanya Eric meraih tangan Bela yang tiba-tiba mendingin.
" Apa? Bapak tidak salah ngomong kan? " tanya Bela tidak percaya karena dia juga sangat menginginkannya.
"Iya saya serius Bel..., " ucap Eric penuh dengan keyakinan terhadapnya.
" Tapi Pak, saya kan," ucap Bela gugup dia tidak menyangka apa yang menjadi pengharapannya selama ini terkabul karena dia juga memiliki rasa yang sama dengan Eric.
"Karena itu aku ajak kamu ikut untuk temani aku, karena selama ini tidak ada waktu untuk bicara lebih luas sama kamu," alasan Eric tersenyum lembut namun mampu membuat Bela merespon jika dia juga mmencintai pria yang berparas tampan itu.
"Tapi Pak_" ucap Bela terbungkam karena Eric lebih cepat membungkam bibir ranumnya dengan bibir sensual atasannya itu. Bela terdiam dan Eric tahu apa jawaban dari wanita yang dia taksir itu bahkan Bela memilih untuk menutup kedua matanya menikmati lumatan lembut dari sang Bos eksekutif muda itu.
Eric melepaskannya dia tersenyum angkuh membuat Bela tertunduk malu, lalu Eric kembali meraih dagu ranum miliknya dan kembali melumat habis bibir merah jambu yang terlihat merah alami itu.
Eric mencoba meregangkan bibir Bela namun Bela masih terdiam, Bela tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk membalasnya, Karena baru inilah dia mendapatkan sentuhan pertamanya.
Eric menyelesaikan sentuhan itu dia memandang Bela secara intens memegang pipi Bela yang terlihat kikuk saat itu Eric tahu jika ini pertama kali bagi wanita yang sangat dia cintai itu.
"Kamu tidak marahkan Bel? Kamu maukan jadi pacar aku. aku berharap suatu saat kamu akan mencintai aku Bel, kumohon terimalah cintaku ini," ucap Eric mengiba.
Namun Bela masih diam membisu seolah-olah dia tidak mampu untuk menjawabnya.
"Ehm, sebenarnya Pak, saya juga sangat menyukai Bapak bahkan sedari dulu pertama kali saya ikut bergabung kerja di tempat kita ini, dan saya juga sangat mengharapkan cinta Bapak itu ada untuk saya, " lirih Bela dalam hatinya.
Bela hanya bingung mau jawab apa.
"Iya Pak, aku tidak marah kok, namaya juga manusia punya hak masing-masing di cintai dan mencintai," jawab Bela tersipu malu.
"Itu artinya kamu mau kan? "
"Iya Pak, biarlah nanti waktu yang menjawabnya," tukas Bela bingung ingin menjawab apa.
"Sesungguhnya saya belum pernah mengalami namanya jatuh cinta, saya mohon juga Bapak mengerti keadaan saya,"
Eric kembali memberi sentuhan lembut di bibir ranum Bela, tanpa sadar Eric melingkarkan tanganya tepat di pinggang Bela dari samping bawah, tangan kanan Eric menjalar melingkarkan ke tanganya tepat di atas pundak Bela dan merangkulnya lebih rapat lagi.
Lumayan lama Eric bermain di sana, Bela hanya mengeluarkan napas tidak karuan, dengan bimbingan Eric, Bela pun mulai membalas serangan dari Eric. Bela hanya mengikuti naluriny saja, dengan terbawa suasana Eric semakin ganas dan merapatkan pelukanya pada Bela, sehingga dia merasakan gundukan gunung kembar Bela yang berukuran standar itu tepat di dadanya , dia semakin tidak karuan dia memutar- mutar kepalanya sendiri ke kiri dan kanan, sungguh luar biasa betapa ganasnya first kiss mereka.
" Kring.....Kring.....Kring....."
Bunyi hanphone Bela memecahkan suasana mereka berdua
Eric menghentikan dia terkesiap.
" Siapa yang telepon Bel?"
" Ibu kost," Bela sambil melihat hanphonenya
" Halo Ibu...."
"Sudah sampai belum Nak?"
"belum Bu, ini masih di tengah jalan,"
" Ya sudah hati-hati di jalan Nak,"
" Iya Ibu," ujar Bela sambil menutup teleponnya.
" Terimakasih sayang, sudah membuat saya semakin semangat bekerja, mulai saat ini jika kita di luar jangan panggil Bapak lagi,"
" Trus panggil apa dong,"
"Iyah, panggil sayang apa kek,"
" iya sayang," ucap Bela akrab bercampur bahagia
Bela sudah merasa terjawab apa yang dia inginkan sejak dari dulu yaitu kelak menjadi kekasih dari Eric.
" Yuk, jalan lagi,"
" kakinya sudah tidak pegal lagi kan?" ucap Bela tersenyum manis.
" Ayo! " ujar Eric sambil kembali menyempatkan mencium singkat pipi Bela.
Selama di perjalanan merekapun asik mengobrol layaknya sepasang yang sedang pacaran, dan selama di perjalanan itulah mereka mengakrapkan diri sehingga mereka terlihat pacaran sudah lama.
Sesampai di kota Semarang waktu itu kurang lebih jam 10 malam, mereka pun langsung mencari penginapan seputaran tempat mereka ikut Thender itu, cukup lama mereka bolak balik mencari penginapan itu, sudah ada 2 tempat mereka mencari penginapan namun semua penginapan itu penuh.
Setelah sekian lama mencari penginapan mereka pun melihat sebuah hotel yang agak jauh dari tempat tujuan mereka.
Eric langsung memasukkan mobilnya ke parkiran dan meraka berdua langsung menuju Loby resepsionis hotel itu.
" Selamat malam Pak,"
" Selamat Malam, ada yang bisa kami bantu ?" sapa salah seorang resepsionis dengan ramah.
" Apakah di hotel ini masih ada kamar yang kosong?"
" Masih ada 1 kamar lagi Pak, tempat tidurnya 1 ukuran jumbo dengan dilengkapi tv, AC dan Wifi tapi tempatnya di lantai paling atas," tutur resepsionis itu dengan ramah karena yang hotel yang di tuju oleh mereka tergolong jauh dari keramaian lagi pula Hotelnya bukanlah bintang 5 yang seperti di harapkan oleh mereka berdua.
"Namun sebelumnya mohon maaf Pak, apakah Bapak dan Mbak ini suami istri?"
" Ehm, Iya kami suami istri, " tukas Eric menjawabnya sambil melihat ke arah Bela dengan memperlihatkan senyumannya.
"Baik Pak! Mohon di tunggu dulu ya Pak, kamarnya sedang disiapkan dulu," tukas resepsionis itu dengan ramah seraya melipatkan tangannya mungkin itu adalah selogan dari Hotel itu bisa bersikap ramah dengan pengunjung Hotel tersenyum.
Mereka pun duduk di sopa Loby hotel itu,
"Sayang, kok kita 1 satu kamar sih," tanya ragu Bela pelan dia masih terlalu dini menerima cinta dari seorang yang baru menjadi kekasihnya itu.
" Iyakan, tidak apa-apa!"
" Tidak nyamanlah, kalau kita tidur satu kamar,"
" Terus kita mau nginap di mana kan, sudah beberapa hotel kita cari dari tadi,hanya ini yang ada kamarnya walau hanya 1, kalau kamu takut aku bisa tidur di Sofa saja kok, sayang! ini sudah jam 11.00 malam sayang, kita mau istirahat kapan lagi kita istirahatnya, apa lagi besok kita mau lanjut lagi kerja pagi," ujar Eric merayu Bela.
"Iya sudah, tidak apa! Tapi jangan macam-macam nanti ya," peringat Bela mencubit pinggang Eric yang meringis walau tidak sakit.
" Iya tenang saja, pasti aman kok!" yakin Eric
" Permisi Pak Bobby, kamarnya sudah siap, Ayo saya antar Pak, Ibu."
"Baik ....Mbak, Yuk...... sayang kita ke kamar, sudah capek banget nih...!" Eric meraih tangan kekasihnya itu dan menggandengnya.
Di lorong menuju lantai atas Eric merasa sangat bahagia dan sesekali Eric melihat wajah Bela tersenyum, mereka terlihat sangat mencintai satu dengan yang lainnya dan Bela hanya berharap jika Eric itu adalah belahan jiwa kelak.
" Silakan masuk Pak, Ibu. Ini kartu kamarnya. Selamat beristirahat,"
" Baik Mbak,"
Eric dan Bela masuk ke kamar itu dan segera mengunci pintunya
Bersambung....