“Ayah. Ayah. Ayah. Selalu saja bertanya tentang Ayah. Apa belum cukup, Ibu memberitahumu jika Ayahmu sedang bekerja untuk menghidupi kita,” ucap Ibu dengan tegas setiap aku bertanya tentang ayah.
Hal wajar, untuk seorang anak bertanya tentang sosok seorang Ayah apalagi sejak kecil aku belum sama sekali melihatnya. Hanya dua lembar foto diberikan Ibu untuk meyakinkan jika aku memiliki ayah.
Nadin terlahir dari keluarga biasa saja, meskipun ayahnya seorang pengusaha. Nadin sebut biasa saja karena ia tak pernah merasakan kasih sayang Ayah sejak ia dilahirkan.
Nandin, nama yang diberikan, ia terlahir dari keluarga biasa saja walaupun ayahnya seorang pengusaha—kata Ibu.
Dan satu hal yang ia herankan, tinggal di desa seperti ini untuk apa rumah kita sebesar di kota-kota? Apakah Ayah sengaja membuat istana untuk kita agar kita betah di rumah dan tak perlu keluar melihat dunia.
Kesehariannya hanya ditemani Ibu dan saudara dari Ibu yang sering ke rumah untuk berkunjung. Teman Nadin satu-satunya hanya lah Andi, dia adalah anak budenya yang sering ikut berkunjung kesini. Mereka beda 5 tahunan, tapi Nadin nyaman bermain dengannya. Sejak kecil mereka sering menghabiskan waktu bersama hingga Andi sering menginap dan menemani keseharian di rumah disaat Ibu pergi entah untuk mengurus kebun peninggalan ayah atau untuk pergi arisan bersama teman-teman Ibu.
Dulu Ibu sering berpesan pada Nadin dan Andi untuk saling menjaga satu sama lain, terutama Andi yang lebih tua darinya. Sama halnya dengan Nadin, Andi juga telah kehilangan ayahnya sejak ia masih kecil sekali karena kecelakaan, ayahnya pun meninggal untuk selama-lamanya. Bedanya dengan Nadin, ia masih memiliki Ayah tapi tak pernah tahu di mana keberadaannya sampai sekarang.
Andi sering membantunyq mengerjakan PR, mengajari internet dan masih banyak lagi. Hingga suatu ketika terjadilah perkenalannya dengan dosa.
Waktu itu saat kelulusan Andi dari SMA-nya, Nadin pun naik ke kelas 2 SMP. Andi mengirimnya pesan whatsapp.
"Din kamu lagi di mana? Mas Andi lagi bahagia nih abis lulusan," pesan yang dikirim Andi.
"Wahhh selamat mas udah lulus :) aku di rumah mas baru pulang sekolah ni, ada apa? Mau traktir makan ya hehe,” balas Nadin.
"Mas Andi jemput ke rumah ya, kita rayain kelulusan mas, tar mas traktir kamu apa aja deh," balasan pesan.
"Wahhh yang bener mas? Iya deh aku bilang Ibu dulu minta izin," balas Nadin.
Dengan semangat Nadin pun meminta izin Ibu pergi bersama Andi dan di saat Nadin berganti baju ada pesan masuk yang ternyata itu adalah Andi.
"Din, bawa baju gantinya dobel ya, takut ujan tar pulangnya jadi bisa ganti,” pesan yang di kirim Andi.
"Ok mas,” balas Nadin.
Lima belas menit kemudian terdengar suara motor terparkir di depan rumah. Sudah sampai pikir Nadin, ia pun bergegas keluar dan menemuinya.
"Yuk mas aku udah siap," antusias Nadin.
"Iya bentar pamit dulu sama Ibu," ujar Andi.
"Bu, Ibu, ini ada mas Andi" teriak Nadin.
"Ehhh, Ndi, udah datang, ya? Titip Nadin, ya. Pulangnya jangan malem-malem ya," ujar Ibu Nadin.
"Njeh bule, kita permisi dulu ya," pamitnya pada Ibu.
"Tiati ya din," ucap Ibu Nadin.
"Iya bu," kata Nadin sembari berjalan menuju motor Andi.
Nadin pun di bonceng Andi memakai motor bebeknya. Andi mengarahkan tangan Nadin untuk memeluknya katanya agar tidak jatuh.
"Mas kita mau ke mana sih ini? Kok nggak sampe-sampe," tanya Nadin kesal.
"Tenang aja, bentar lagi sampe kok," ujar Andi menenangkan.
Nadin tak menaruh curiga sedikit pun pada Andi, pasalnya ia memang sering mengajak Nadin untuk main bersama dari berkeliling kota, main PS bersama di rumah Andi, hingga Andi sering berenang di kolam renang dekat rumah Andi.
Akhirnya mereka pun berhenti di rumah salah satu teman Andi. Dan di sana Nadin melihat beberapa anak laki-laki seumuran dengan Andi sekitar 3 orang dan beberapa perempuan juga.
"Woy Ndi, dah datang kau lama bener ah," sambut temannya.
"Iya ni kamu nyari cewek ke pelosok mana sih," ujar yang lainnya.
Nadin pun dipersilakan masuk ke rumah itu dan ternyata di dalam masih banyak teman Andi yang lain, bahkan ada beberapa wanita sebayanya yang masih mengenakan seragam abu-abu yang telah di coret-coret dengan pilok dan spidol. Nadin bingung di sini karena tak ada yang seumuran dengannya, jadi ia canggung harus bersikap bagaimana.
Nadin menggandeng Andi dan berbisik "Mas pulang yuk, aku gak enak di sini banyak temen-temen kamu, aku gak kenal," ucapnya takut.
"Bentar to, ‘kan baru sampe, lagian di sini ‘kan ada mas, gak akan kenapa-kenapa kok udah santai aja," ucap Andi menenangkan.
Nadin dikenalkan pada teman-temannya satu persatu dan akhirnya Nadin pun diberikan segelas minuman yang entah apa itu namanya yang pasti rasanya tidak seperti ale-ale atau teh gelas yang sering di minum Nadin.
"Minum din,ini jus apel enak loh,” ledek temannya.
"Mas..." ucap Nadin sambil memandang ke arah Andi untuk memastikan apakah ia harus meminum minuman ini atau tidak.
"Udah minum aja Nad, gapapa kok nih mas aja minum," Andi yang langsung menenggak minuman di gelasnya sampai habis.
Nadin pun meminumnya sampai habis karena tidak enak dengan Andi di depan teman-temannya.
"Mas aku kok pusing ya? Kayaknya aku masuk angin, pulang aja yuk?" rengek Nadin.
"Udah sini tidurin dibahu mas, ntar juga sembuh," Andi memegang kepala Nadin dan di sandarkannya di bahu.
Seketika Nadin pun tak sadar, entah ia tertidur atau pingsan, yang jelas ketika Nadin bangun ia tak bisa melihat jelas apa yang terjadi di sekelilingnya, hanya suara-suara teriakan dan desahan yang ia dengar sayup-sayup.
"Ya Tuhan apa ini, Mas, Mas Andi maass" teriaknya mencari.
"Iya bentar Din, bentar lagi giliran kamu kok sabar ya," suaranya terdengar di sebelah kasur yang Nadin rebahi.
Terdengar suara wanita tengah meracau di sampingnya, namun Nadin tak bisa melihat jelas karena kepalanya yang masih pusing tak bisa fokus memerhatikan sekelilingnya.
Sesaat kemudian Andi terdengar melenguh panjang seolah telah mencapai apa yang ia harapkan. Nadin Saat itu ketakutan mengetahui apa yang akan terjadi nanti.
Sebelum Andi datang menghampiri, ternyata salah satu temannya langsung memeluk Nadin di atas kasur. Sontak Nadin pun berontak tapi tak ada gunanya karena badannya yang lemas dan tenaganya yang lebih besar Nadin pun terkulai pasrah.
"Masss, mas Andi tolongin aku masss.. Aku mau diapain iniii..." setengah menangis Nadin berteriak.
"Udah diem aja din, kamu mau dibikin enak jangan takut," jawab nya santai.
"Mas aku gak mau mas, aku gak mauuu ... " teriak Nadin semakin kencang yang dibalas laki-laki itu dengan membekap mulutnya dengan tangan yang kekar.
"Oh gak mau sama temenku, yaudah sini sama mas aja ya," ucap Andi membuat Nadin semakin gemetar ketakutan.
"Mas jangan aku mohon aku gak mau mass tolong lepasin, ayo pulang," rengek Nadin dengan air mata yang terus menetes tanpa henti.
"Iya nikmatin sayang," Andi mulai menyetubuhi Nadin dengan kasar dan brutal.
"Aaarrrggghhh …”
Nadin berteriak sejadi-jadinya karena merasakan rasa sakit dan perih di daerah intimnya. Namun teriakan dan tangisan Nadin tak membuat Andi berhenti melakukan aksinya dan di tonton oleh teman-temannya itu. Mereka yang sudah dipengaruhi alkohol sudah tak bisa berpikir lagi, hingga salah satu temannya mengambil sebuah ponsel dan mulai merekam aksinya. Satu-persatu mulai menggerayangi Nadin hingga tak lama kemudian Nadin pun di gilir oleh hampir enam lelaki saat itu.
Nadin yang sudah tak berdaya saat itu hanya bisa memohon dan menangis dengan suara yang semakin habis, meminta agar mereka semua berhenti memperkosanya.
"Hei udah-udah, ntar mati tuh anak orang hey," ujar salah satu lelaki yang memegang kamera itu.
"Anjrit darah cok, ndi dia gak kenapa-kenapa kan," ucap lelaki yang tengah menyetubuhi Nadin yang terkejut melihat sprei kasur itu telah berlumuran darah.
"Yaudah stop dulu, itu dia masih virgin jelas aja berdarah gitu, yaudah tinggalin aja dulu kita minum lagi di luar," ucap Andi.
Nadin pun seketika pingsan di kamar tersebut dengan masih tak berbusana dan hanya berbalut selimut. Ia pun di tinggalkan sendiri di sana berharap Nadin bangun dengan keadaan yang lebih membaik.
Hampir satu jam setengah Nadin pingsan akhirnya Andi menghampiri Nadin di kamar itu dan mulai membangunkannya dengan menggoyang-goyangkan tubuh Nadin yang masih terkulai lemas.
"Nad, Nadin bangun mau pulang nggak?" tanya Andi yang mengguncang tubuh Nadin semakin kencang.
"Aahhh, aduh kepalaku pusing," ucap Nadin sembari memulihkan kesadarannya.
"Ayo pake bajumu kita pulang nanti Ibu kamu nyariin," ujar Andi.
"Aku kenapa tadi? Aaaahhhh sakit banget aku gak bisa jalan," ucap Nadin yang sambil meringis kesakitan dari arah selangkangannya.
"Udah sini ku gendong," Andi menggendong Nadin keluar rumah menuju motornya.
Saat melalui ruang tamu, Nadin tak melihat ada satu orang pun di sana. Nadin bingung dengan apa yang ia lakukan karena Nadin sepenuhnya lupa akan kejadian nahas yang menimpanya beberapa jam lalu.
"Nad nanti langsung istirahat ya, kalo Ibu nanya bilang aja kita abis berenang kamu kecapean," ujar Andi memastikan Nadin tidak akan mengadukannya kepada Ibunya Nadin.
Nadin pun hanya terdiam sepanjang jalan berusaha mengingat kembali apa yang barusan ia alami di rumah temannya itu. Namun kepalanya semakin pusing dan sakit jika ia mengingat kejadian apa yang ia alami. Terlebih Nadin pun heran mengapa daerah sensitifnya bisa terasa sakit dan perih seolah-olah Nadin merasakan ada yang robek di sana. Nadin mulai penasaran dan ia tak sengaja memegang kemaluannya saat masih berada di motor Andi, betapa terkejutnya Nadin saat mengetahui kalau ada darah di sela-sela celana yang ia pakai.
Nadin masih berpikir kalau ia sedang datang bulan, tapi ia mengingat kalau ini bukan tanggalnya, malah masih jauh dari tanggal ia datang bulan di bulan ini. Pikiran Nadin mulai kacau dan tak terasa air matanya mulai menetes membayangkan semua yang ia alami perlahan-lahan mulai menyadarkan Nadin. Ia mulai ingat semua kejadian yang ia alami bersama Andi dan teman-temanya. Saat itu Nadin terpikirkan ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat dari motor Andi, namun Nadin langsung tersadar saat Andi memulai percakapan lagi.
"Nad, kamu gak apa-apa kan? Bentar lagi kita sampai, jangan sampe Ibumu panik dan khawatir sama keadaanmu, kasian bule udah tua gak boleh syok," ujar Andi.
Nadin tak menjawab apa-apa, hanya tangisan kemarahan yang ia tahan di dalam dadanya.
Bersambung …
Malam itu Nadin pulang larut malam dengan di antarkan Andi. Ibunya terlihat menunggu di depan rumah dengan risau.
"Assalamualaikum bule, maaf pulangnya kemaleman, tadi abis renang sama Nadin, terus ban Andi bocor di jalan nyari tukang tambal ga nemu-nemu bule," alasan Andi pada ibuku dan langsung saja Nadin masuk ke kamar tanpa berkata apa pun lagi pada Andi.
"Walaikumsallam ... Oh yawis gak popo ndi, kowe meh bobo kene apa mulih? Ki wis bengi lho," (kamu mau tidur sini apa pulang? Ini udah malem loh).
"Ah iya bule, ntar telponin mamak ae Andi nginep sini ya bule," (ah iya bule, nanti telponin mama aja Andi nginep disini ya bule).
Akhirnya malam itu Nadin habiskan dengan menangis di kamar sambil menahan sakit yang luar biasa karena keperawanannya di renggut oleh Andi dan teman-temannya. Namun Nadin lebih menakutkan ibunya apabila mengetahui semuanya, pasti ia akan kecewa dan sedih melihat anak satu-satunya yang ia banggakan selama ini telah di nodai oleh saudaranya sendiri.
Tok … Tok … Tok …
"Din, ini Andi tidur di kamarmu ya, pake kasur lipat aja yang di atas lemarimu itu, kasian udah malem kalo pulang," suruh ibu Nadin dan langsung diiyakan oleh Andi.
Nadin pura-pura tertidur meski tahu Andi pasti sedang tertawa puas karena bisa tidur sekamar dengannya. Nadin tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi lagi.
"Ndin, kamu belum tidur ‘kan? Mas tau lho, oiya yang tadi makasih loh ya, hahaha," ucap nya puas.
"Eh iya, kalo kamu masih marah ama mas, coba deh buka wa mu, pasti kamu seneng dan gak jadi marah sama mas," perkataannya sangat membuat Nadin benci setengah mati padanya.
Nadin pun membuka whatsapp dan betapa terkejutnya ia saat melihat Andi mengirimkan beberapa foto-foto Nadin yang sedang mereka perkosa dan ada 2 video berdurasi 1 jam yang tak ingin Nadin putar sama sekali.
"Bajingan kau mas, kenapa sih kamu jahat sama aku? Salah aku apa mas? Apa?" Nadin berteriak menangis sambil memukuli Andi.
"Eh eh eh, ssstttt jangan teriak-teriak nanti bule denger. Intinya kalo kamu macem-macem mas bisa sebarin foto sama video ini, makanya santai aja," perlahan dia meyakinkan Nadin dengan memeluk dan mengusap kepalanya yang masih menangis.
Nadin seketika menepis tangan Andi dan langsung merebahkan diri di kasurnya. Malam itu Nadin terlalu lelah hingga Nadin tertidur pulas.
"Din, eh din bangunnn udah siang ayok mandi, sarapan sana," ujar ibu menarik selimutnya.
“Hoam, udah siang ya bu," aku melihat ke samping tapi Andi taka di sana
"Mas andi ke mana bu?" tanyaku heran.
"Udah pulang tadi pagi-pagi katanya mau ada urusan. Lagian kamu di bangunin susah amat Din, pules banget tidurnya, jadi Andi gak pamit kamu" jelas ibuku.
"Aaaawwww, ssshhh" Nadin masih merasakan sakit di area kewanitaannya.
"Kamu kenapa Din" tanya Ibu Nadin.
"Engga kenapa-kenapa bu, ini kemarin kepleset pas pemanasan di kolam jadi keseleo kaki" ujar Nadin berbohong, tentu saja agar ibu nya tidak mengetahui tentang pemerkosaan yang ia alami kemarin.
"Oalah, makanya ati-ati to, untung ada Andi yang anterin pulang, dia tu jagain kamu banget loh Din, ibu jadi gak khawatir kalo kamu sama dia" ujar Ibu Nadin.
Seketika kebencian Nadin pada Andi makin mendalam, andai saja Ibunya mengetahui yang sebenarnya pasti ia akan membenci Andi sama dengan Nadin. Namun Nadin lagi-lagi menyembunyikan itu semua demi Ibunya agar tidak sedih dan kecewa.
Hari itu awal dari perkenalan Nadin dengan dosa melalui Andi saudaranya sendiri. Setelah Nadin lulus SMP ia melanjutkan ke SMA favorit di daerahnya. Meskipun Nadin tumbuh menjadi gadis yang mengalami trauma mendalam terhadap lelaki, tapi ia tak pernah melupakan kewajibannya belajar, terbukti ia menjadi lulusan terbaik dari sejak ia kecil. Karena itu ia tak mau mengecewakan ibunya selama ini, makanya ia menutupinya dengan prestasi.
"Hey, Nadiinnn, suit-suit,”
Sapaan pagi yang bosan Nadin dengar dari teman-teman lelakinya di sekolah. Maklum saja Nadin terlampau memanjakan dan merawat tubuhnya hingga sering jadi bahan eksplorasi mata lelaki.
Pagi itu pelajaran pak Dayat mata pelajaran sejarah yang membuatnya mengantuk dan bosan. Nadin pun mencari alasan untuk meninggalkan kelas "Pak, maaf saya mau ijin ke toilet ya," ucapnya sembari mengangkat tangan untuk intruksi.
"Oh, iya sana," suruh pak Dayat tanpa menengoknya.
Saat Nadin melewati meja guru itu ia berkata "Maaf pak agak lama, biasa urusan wanita," ucapnya pelan.
Seketika pak Dayat melirik dan memperhatikannya saat Nadin berjalan menuju keluar kelas.
Nadin pun menuju kantin yang di mana di ujung ruangan itu ada sebuah ruangan seperti gazebo untuk nongkrong anak-anak saat istirahat, dan tak akan ketahuan guru pastinya.
"Bu, mau jus melon dong satu," pesannya pada bu kantin.
"Siap neng Nadin, tunggu ya," ujar ibu kantin.
"Okay bu," sambil mencomot gorengan tempe yang baru selesai digoreng oleh bu kantin.
"Duh bete gini pengen jalan-jalan deh ah," gumamnya sambil membuka instagramnya.
Nadin mengecek instagram dari notif sampai pesan yang masuk di direct message-nya, ternyata ada satu permintaan pesan yang membuatnya penasaran.
Saat ia buka ternyata dari seorang lelaki yng bernama Romi.
“Hai Nadin, sorry nih aku dm kamu, cuma pengen kenalan aja. Aku mau nawarin kamu buat jadi model di management aku, job nya cuma foto shoot aja. kalo kamu minat boleh hubungi aku ya, ini wa ku 08213091xxxx,” pesan di instagramnya.
"Astaga ...." Nadin kaget saat ada bu kantin mengantarkan jusnya.
"Neng ini jusnya, kok malah kaget gitu haha," ledek ibu kantin.
"Ih bu ngagetin aja sih, makasih bu,” ucap Nadin.
Nadin masih terpikirkan akan job yang ditawarkan si Romi itu, apakah lelaki itu serius atau cuma cowok iseng yang cuman ingin berkenalan dengannya.
"Woy Nadinnnn," teriak Stela dikupingnya.
"Iiihhhh gila lo, budeg ni gue," bentak Nadin.
"Hahaha, lagian lu ngapain sih di sini masih pagi gini," tanya Stela.
"Gue bete di kelas, lu juga ngapain ke kantin pagi-pagi," tanya Nadin.
"Gue mau sarapan, pura-pura sakit izin ke bu Susi gue, haha," ujarnya.
Memang Stela ini anak yang bandelnya kebangetan, meski begitu Nadin senang berteman dengannya karena dia anaknya asik dan seru.
"Ni neng Stela mi gorengnya," ujar bu kantin yang membawa mi goreng pesanan Stela.
"Maacih bu," Stela pun langsung melahap mi nya tanpa ba bi bu lagi.
"Eh Stel, tadi ada dm dari cowo namanya Romi," ucap Nadin membuka obrolan.
"Hah, ganteng gak ganteng gak? Uhukkk ….." tanya stela hingga tersedak.
"Eh lu mah, minum nihh," Nadin menyodorkan jusnya.
Stela pun melanjutkan pertanyaannya
"Eh ganteng gak tuh cowok? Coba liat ig nya,"
"Eh lu mah apa sih nyerocos mulu, dengerin dulu napa,, nih gue tadi di dm ama doi, katanya mau ga jd model dia buat foto shoot,” jelasnya.
"Wahh mayan Din, terima aja lah cuma poto doang," ucap Stela dengan antusias.
"Ah gue takut nipu, tar ujung-ujungnya modus doang," ucap Nadin ragu.
Stela pun merebut hp Nadin dan melihat instagram si Romi.
"Tuh Din, isi ig nya juga foto model semua, ini mah fix kagak nipu tuh laki," Stela menunjukkan ig nya didepan muka Nadin.
"Hmm, I don't think so," Nadin masih ragu.
"Ah yaudah kalo lu gak mau gue aja yang jadi modelnya ah," ucap Stela.
"Emang doi tertarik gitu ama cewek setengah mateng kek elu hahaha," ledek Nadin.
"Ih lu mah bikin gue down deh," sambil manyun, tapi masih melahap suapan mi terakhirnya.
"Hahaha bercanda, eh hari ini maen yuk? Gue pengen nyalon nih, rambut gue dah buluk," ajak Nadin.
"Iye, gue temenin, tapi bayarin dulu ni mi gue hehe," ucap Stela.
"Huuu dasar, yaudah tar ketemu di gerbang sekolah jam pulang yah," jelas Nadin.
"Siap boss.. gue balik kelas yak, takut disusulin bu Susi. Thank you Din mie-nya, mmuacchh," nyelonong pergi.
Masa SMA Nadin tidak ubahnya anak-anak ABG pada umumnya. Hanya saja Nadin lebih suka berteman dengan perempuan dibanding lelaki. Padahal di sekolahnya banyak sekali lelaki yang mendekatinya, namun tetap saja Nadin tidak tertarik sedikitpun menjalin hubungan pacaran dengan salah satu di antaranya. Bukan karena Nadin ini tidak normal, tapi trauma masa kecilnya yang membuat Nadin enggan untuk menjalin hubungan dengan lelaki. Terlebih ia tidak menemukan sosok ayah dalam hidupnya membuatnya makin yakin bahwa lelaki itu sama buruknya dengan ayah dan Andi sepupunya.
Semenjak itu pula Nadin benar-benar menjauhi Andi, terlebih di saat Andi lulus dari SMA ia meneruskan kuliah di kota yang mengharuskannya untuk mengekos di sana karena jarak yang lumayan jauh jika harus dipaksakan pulang pergi dari rumahnya.
Nadin berharap perpisahannya dengan Andi membuatnya dapat mengobati trauma dan kebenciannya terhadap laki-laki. Sampai saat ini sahabat yang paling ia percaya hanyalah Stela.
Sore itu di salon langganan Nadin
"Haiii cyynnn, mo creambath ya," sapa mince pegawai salon langganan Nadin.
"Halo inces minceee, makin cakep aja sekarang, punya gebetan baru ya?" tanya Nadin menggoda.
"Aaaawww tau aja deh dese," jawab mince.
"Gue pengen di masker deh pake plus-plus ya," ucap Stela meledek.
"Iisshhh ekeu ga suka apem cynnn hahaha," ujar Mince membalas.
Sore itu seperti biasa dihabiskan Nadin dan Stela dengan mengobrol dan bercanda bersama Mince di salon itu. Dari hal pribadi hingga masalah percintaan Mince adalah gurunya Nadin dan Stela untuk menanyakan nasib. Tak ada jarak di antara mereka meski berbeda usia dan generasi.
Bagi Nadin sahabat terbaik ialah ia yang selalu ada untuk mendengar dan ada untuk bersandar, tapi lagi-lagi Nadin selalu berdebat akan peran lelaki yang hanya membuat perempuan sedih dan sakit. Stela pun selalu meyakinkan Nadin bahwa tidak semua lelaki itu sama, Stela sering kali menanyakan mengapa Nadin begitu membenci lelaki, namun Nadin tak pernah bercerita soal Andi, hanya menceritakan ayahnya yang pergi meninggalkannya. Jika sudah begini Stela pun memilih diam daripada Nadin makin menjadi-jadi berpidato seperti orang berorasi saat demo menentang penjajahan di atas bumi.
Bersambung ...
Ddrrtt … Ddrrtt … Ddrrtt ….
"Aahhhh, apaan si geter mulu hape," Nadin mencari-cari hp nya.
Nadin melihat layar ponsel dengan mata yg lengket bagai diolesi lem.
“What? Apaan Jam 7?! OMG gue telat pake bgt dong, huwaa ...”
Nadin tergesa-gesa pagi itu karena ia sadar bahwa hari sabtu itu dia ada ulangan pak Bowo guru kimia yang sangat killer.
"Buuu, Nadin berangkat dulu yaaa," sambil masih memakai sepatunya dengan tali sepatu yang tak terikat sempurna.
"Gak sarapan dulu Din?" tanya ibu Nadin.
"Nggak bu, udah telat pake bangeeettt,daaaa..Assalamualaikum," Nadin berlari secepat kilat.
"Waalaikumsalam " jawab ibu Nadin.
Pagi itu menjadi hari yang sial bagi Nadin, pasalnya ia telat ke sekolah di hari itu dan sekarang ia tak mendapati ada angkot yang lewat satu pun di depannya.
Hampir 10 menit ia berdiri di pinggir jalan yang sangat sepi kendaraan itu. Maklum saja di desanya sangat susah mendapatkan transportasi umum, kalau ada pun pasti dari pagi hari saat ibu-ibu yang akan ke pasar dan anak sekolah pergi beraktifitas.
Tak berapa lama setelah Nadin lelah menunggu angkot, suara klakson mobil honda jazz mengagetkannya.
Tiin … Tin … Tin …
"Eehhh," Nadin terkejut sampai melompat.
Terlihat mobil itu membuka kaca mobil nya dan tampak seorang lelaki dewasa tersenyum padanya dan berkata
"Butuh tumpangan kan? Yuk," ujar lelaki itu.
Dibukakan pintu depan oleh lelaki itu dengan senyum.
"Wah, ni orang mau nyulik yah. Wah musti kabur nih, teriak? Sambil lari-lari?” pikiran Nadin mulai kacau dan membayangkan hal-hal yang buruk.
"Udahlah, kamu kan udah telat, lagian gak ada angkot udah jam segini. Yuk!" ucapmya menawarkan.
Dengan memantapkan hati dan mencoba tenang, Nadin pun mengikuti orang itu masuk ke dalam mobil.
Mobil pun melaju dengan kecepatan lumayan, mungkin agar Nadin tak terlambat.
Nadin memberanikan diri bertanya pada lelaki itu dengan deg-degannya.
"Eemmm, bapak ini siapa ya kalo boleh tau? " tanya Nadin pelan.
"Hahaha, jangan panggil bapak lah, apa saya setua itu untuk kamu?" Romi tersenyum.
"Eh, om. Eh mas, ka duh," Nadin mulai panik, takut menyinggung lelaki itu.
"Yayaya, panggil mas aja, mas Romi," Jawabnya singkat.
"Oh baik mas Romi terima kasih” ucap Nadin gugup.
“Hah, Mas? Penampilannya kaya pakde ku mau dipanggil mas hihihi,” gumam Nadin dalam hati.
Sepanjang jalan Nadin menengok keluar kaca mobil sambil mengingat sesuatu yang tak asing baginya. Dalam pikirannya Nadin merasa mengenal Romi itu, tapi di mana?
Hampir 15 menit mereka dalam keadaan diam saja, dan Nadin masih dengan melamun memandang ke luar jendela.
Romi yang melihat Nadin dengan rok span pendeknya tak kuasa mencuri-curi pandang ke arah paha mulus Nadin. Ia leluasa memandangi tubuh Nadin karena Nadin masih terus melamun menatap keluar jendela.
Betapa hasrat Romi ingin sekali membelai paha mulus Nadin yang saat ini ada di depan matanya, Namun segera Romi menyadarkan diri nya dan tetap fokus menyetir. Bukan karena waktunya yang tidak tepat, tapi Romi ingin membangun image baik di depan Nadin sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan dari gadis seksi ini.
Tak beberapa lama kemudian Romi telah sampai di depan gerbang sekolah Nadin yang gerbang nya sudah di tutup rapat oleh satpam sekolah.
"Din, Nadin..." suara Romi membuyarkan lamunannya.
"Eh, iya om, eh mas," jawab Nadin terkejut.
"Udah sampe nih, masuk sana kan udah telat,” suruh Romi.
"Oh, iya udah sampe hehe, makasih ya mas Romi atas tumpangannya," Nadin keluar mobil dan berlari menuju kelasnya.
"Pak … pak tolong bukain gerbangnya, ini aku bukannya telat, tapi tadi disuruh pulang dulu ambil tugas dari bu Susi nanti kalo aku gak masuk lagi di marahin loh, ntar aku bilang gak boleh masuk sm pak satpam gerbang nya di kunci hayo," ujar Nadin membohongi pak satpam.
"Yang bener nih?" kata pak satpam ragu.
"Yaudah nih aku telponin yah ke bu Susi, haallo buu...." ujar Nadin dengan aktingnya.
"Udah udah cepet masuk sana," pak satpam akhirnya membukakan gerbang sekolah dengan mempercayai apa yang dikatakan Nadin.
"Yuhuu makasih pak," ucap Nadin setengah berlari menuju kelasnya.
Pagi itu memang menjadi pagi tersial bagi Nadin. Pasalnya bukan hanya tidak bisa mengikuti ujian kimia pak Bowo, tapi Nadin di hukum membersihkan toilet sekolah selama jam pelajaran beliau.
Brak!
Suara bantingan pintu toilet yang dibantingkan Nadin.
"Sial banget sih hari ini, udah ga boleh ikut ulangan, sekarang dihukum bersihin toilet coba" gerutu Nadin sembari mengepel lantai toilet dari ujung ke ujung.
"Cieeee rajinnya temanku ini," ledek Stela yang tiba-tiba ada di belakang Nadin.
"Kampret lu stel, kenapa ga telponin gue sih td pagi, jadi kan gue telat bangun,” omel Nadin sembari melotot.
"Yee, gue juga telat yelah haha," sangkal Stela dengan bangga.
"Terus lu ngapain sekarang di sini? Gaada kelas emang?" tanya Nadin.
"Ada sih, tapi gue males aja pelajaran pak Didin, doi cabul," jawab Stela.
"Eh bukannya lu suka di cabulin?" ledek Nadin.
"Sialan lu, kalo om om ganteng gue masih oke aja, lah ini udah tuwir gitu masih cabul males gue," tegas Stela.
"Eh Stel, masa tadi gue ditebengin sama om om dong," cerita Nadin.
"What? pasang tarif berapa lu semalem sampe ditebengin ke sekolah? Hahaha," goda Stela.
"Yakali, kenal juga nggak, doi nebengin pas gue nungguin angkot," jelas Nadin.
"Emmm, cakep gak?" lirik Stela.
Nadin menatap kaca di toilet itu dengan tatapan bingung.
"Wooiiiiiii," kejut Stela.
"Apaan sih, gue gatau ganteng nggak, gue fokus ke jalan," sangkal Nadin.
"Ah gue ga percaya, pasti ganteng deh sampe lu gabisa deskripsiin mukanya hahahaha," ledek Stela.
Nadin bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah lelaki itu. Mengapa ia tak asing dengan sosoknya. Tapi di mana?
Jam istirahat pun tiba dan Nadin pergi ke kantin karena hukuman nya telah berakhir. Seperti biasa Nadin memesan jus melon dengan susu. Ketika ia sedang duduk melamun memandangi botol saos dan kecap di mejanya, tiba-tiba hp nya pun bergetar karena notifikasi dari media sosialnya.
Nadin mengecek hp nya dan iseng membuka pesan di akun IG nya, padahal ia selalu malas membuka pesan-pesan di semua media sosialnya, karena isinya kebanyakan spam dan gombalan para lelaki hidung belang. Namun tak biasanya di pesan akun IG nya ada nama yang tak asing baginya.
"Hah, ini kan..."
"Hai Nad," Sapa Mustofa.
Mustofa adalah salah satu lelaki yang menyukai Nadin di sekolah itu, meski Nadin tak pernah meladeninya namun Mustofa tak patah semangat untuk mencoba mendekati Nadin dengan berbagai cara.
"Hai," ucap Nadin cuek namun tetap tersenyum.
"Oh iya malam minggu besok free ngga?" tanya Mustofa.
"Mm paling keluar sama Stela sih sekalian nyari buku buat tugas kimia, ada apa emang?" tanya Nadin.
"Sebenernya aku mau ngajak kamu makan malam nanti malam minggu, tapi kalo kamu udah ada acara sama Stela gapapa deh" ujar Mustofa.
"Oh gitu, sorry ya," jawab Nadin santai.
"Woiii, udah di sini aja lo, eh ada my Musmus," sapa Stela dengan panggilan kesayangannya pada Mustofa.
"Hai Stel," sapa Mustofa seperlunya.
"Ada apa nih tumben nyamperin gue kayaknya kita sehati," ujar Stela dengan percaya dirinya.
"Ini Mustofa mau ngajak jalan malam minggu, tapi kita udah ada janji kan yak Stel, mau cari buku buat tugas kimia?" tanya Nadin sambil melirik tajam ke arah Stela.
"Lah gue kan IPS mana ada mapel kimia maemunah," jawab Stela dengan polosnya.
"Ih kan gue minta anterin nyari buku dari minggu kemaren dudul," Nadin menajamkan tatapannya dan memberi kode pada Stela agar mengiyakan.
"Yaudah gini aja deh kita cari bukunya bertiga aja gimana? gimana mau ga my Musmus,” tanya Stela dengan genitnya pada Mustofa.
"Iiihh cacing kremi," Nadin melotot pada Stela yang masih menatap genit pada Mustofa.
"Oke boleh deh, ntar aku wa kamu ya Nad, yaudah aku duluan ya," ucap Mustofa.
"Tiati My Musmus see u satnight yaaaaa," ucap Stela.
"Ih lu apa-apaan sih Stel, gue males tau jalan ama dia malah lu ajakin jalan bertiga," ujar Nadin kesal.
"Kalo lu males ntar lu balik duluan aja gue yang jalan sama my musmus," ucap Stela.
"Bangke lu ah," ucap Nadin.
"Eh btw pak Samsuri gak masuk jadi jam terakhir lo kosong kan? Cabut yuk," jelas Stela.
"Seriusan, okelah lagian gue juga lagi suntuk pengen nyalon ni," jawab Nadin.
"Eh Stel, lo masih inget ngga cowo yang nawarin gue pemotretan itu?" tanya Nadin.
"Mm, yang mana si?" jawab Stela bingung.
"Itu yang nge dm gue di IG, masa ga inget?"
"Oh, yang lo tolak itu kan? iya kenapa gue inget," jawab Stela santai.
"Ini doi nge dm lagi," Nadin kembali membuka akunnya dan melihat pesan dari lelaki itu.
"Jurus apa yang doi keluarin buat bujukin lo biar mau pemotretan?" jawab Stela ketus.
"Nih baca deh," Nadin menunjukan hp nya dan tertulis di pesan itu bahwa
“Hai Nadin, masih ingat saya? Oiya tawaran minggu lalu apa sudah ada pertimbangannya? Kalau belum tolong dipikirkan lagi ya, padahal tadi pagi saya mau kasih tau langsung tentang rencana saya mau orbitkan kamu jadi talent saya, tapi kamu buru-buru dan sampai telat kan sekolahnya hahaha (Om Romi)” pesan melalui instagram.
"What? Jadi bener ‘kan, tadi pagi yang nebengin gue itu om Romi ini," Nadin terkejut dan melotot ke arah Stela.
"wah kebetulan yang kebetulan dong ya mending lu pikirin lagi deh tawarannya Nad, kalo doi sampe niat gitu hubungin lu berarti lu ada potensi jadi model kan," ujar Stela.
"Ah gatau deh gue bingung, tapi disisi lain gue pengen juga sih punya penghasilan sendiri seenggaknya bisa bantuin ibu gue bayar hutang-hutang bapak gue yang gak bertanggung jawab ninggalin keluarganya dengan setumpuk hutang di mana-mana," jawab Nadin.
"Pokoknya keputusan apapun yang lu ambil gue tetep dukung, asal komisi lu 15% buat gue," jawab Stela.
"Taik lu, hhhhaahhh (menghela nafas panjang) gue cuman gak habis pikir sih sampai saat ini gue gak pernah tau bapak gue itu dimana dan kenapa dia ninggalin keluarganya, kadang gue pengen benci tapi disisi lain gue juga pengen tau penjelasan dia atas apa yang dia lakuin ke kita terutama ke ibu gue," Keluh Nadin.
"Apapun masalahnya pasti bokap lu punya alasan kenapa kek gini, aaa udah yuk jangan sedih-sedih lagi, mending pesen bakso aja pake sambel setengah mangkok yaaaa gue di traktir elu deh," ucap Stela menenangkan Nadin.
"Disaat sedih pun elu masih aja morotin gue ya Stel," ucap Nadin.
Dan suasana pun kembali cair dengan canda taa Stela yang berusaha menghibur Nadin dari kesedihannya.
Bersambung ...