Bab 1

Awan putih menghiasi langit. Menutupi cahaya sang mentari. Jalan aspal hitam menjadi teguh karenanya. Tiupan angin menambah kesejukan. Melintas sebuah bus dari luar kota. Berhenti ketika mencapai sebuah pasar. Para pemumpang mulai turun. isi di dalam bus berkurang drastis. Main, seorang pemuda yang turun dari bus tersebut. Sebuah tas dia gendong di bahunya dan yang satunya dijinjing di tangan kanannya. Terik mentari telah tak terhalang awan lagi, Terpaksa pinggir bangunan dia pilih. Kulit sawo matang yang dia miliki tak bisa menahan panasnya cahaya matahari. Topi putih yang dia gunakan tak mampu menutupi hawa panas.

Setengah jam sudah Main menelusuri jalanan. Kini terpaksa dia harus menyeberangi sebuah sungai. Jembatan penghubung yang ada di sana tak mampu lagi menahan beban yang dia tanggung. Perkebunan nan lebat telah dia lewati. Disebuah rumah terpampang jelas di depannya. Seorang duduk di luar menjadi target untuk Main.

"Bu, aku mau tanya. Rumah Della dimana?" tanya Main.

"Maaf, kamu siapa?" tanya perempuan itu.

"Namaku Salamain. Aku saudara jauhnya Della," jawab Main.

"Silahkan kamu jalan kira-kira 200 meter lagi. Ketika ada rumah depan ornamen batu granit di depannya rumah Della putrinya Sembada berada di depannya," kata sang ibu.

"Terimakash, Bu."

"Sama-sama."

Main meneruskan kembali perjalanannya. 200 meter kurang sedikit telah dia lalui. Rumah hijau megah dia sambangi. Tapi Main malah berbelok ke rumah yang ada di depannya. Rumah nan sederhana dia ketuk pintunya. "Tok tok tok," bunyi daun pintu yang diketuk Main.

Berkali-kali Main mengetuk pintu tersebut. Tak berselang lama keluar seorang perempuan dari dalam. Kaos hitam tanpa lengan dia pakai. Rambut sebahu tanpa hiasan terurai begitu saja. "Mas, Anda mencari siapa?" tanyanya.

"Della Safitri, sudah lama kita tak bertemu. Ini aku, Salamain Rael," sapa Main.

"Oh Mas Main, silahkan masuk," ajak Della.

Rumah yang sederhana dimasuki Main. Sebuah kursi yang ada di ruang tamu tempatnya duduk. Minuman dingin yang disajikan Della menjadi pelepas dahaganya.

"Della, desa ini berubah total sejak aku terakhir ke sini. Sekitar lima belas tahun yang lalu," kata Main.

"Ini semua berkat bantuan dari Pak Badrun. Sejak sepuluh tahun yang lalu Pak Badrun membangun total desa ini. Tapi Mas ke sini ada perlu apa?" tanya Della.

"Aku ada sebuah misi yaitu mencari dan menghancurkan mustika ular hijau. Menurut petunjuk yang ada mustika berada di dekat desa ini," jawab Main.

"Mas, mengapa mustika itu harus dihancurkan? Dan dimana tepat keberadaannya?"

"Mustika itu memiliki kesaktian mampu membuat orang menjadi kaya. Kenapa harus dimusnahkan sebab jika mustika tersebut terisi darah yang cukup maka bisa berubah menjadi ular yang sangat berbahaya. Jika ular tersebut memangsa banyak orang bisa saja satu desa ini habis dimangsanya. Karena itu aku harus menghancurkannya."

"Mas punya alat untuk melacaknya?"

"Ada tapi tingkat ketelitiannya paling kecil radius 2 km. Untuk itulah aku akan menginap di sini, maksudku di bekas rumah ayahku."

"Mas beristirahat saja dahulu di sini. Nanti sore kita akan ke sana."

"Tapi ibumu dimana? Ayahmu juga tak ada."

"Orang tuaku mengantarkan masku untuk melamar calon istrinya. Jadi aku sendiri yang ada di rumah."

Dua jam sudah waktu berlalu. Rasa capek setelah sekian lama berjalan terbayar sudah. Kini Main dan Della menyambangi sebuah rumah. Rumput ilalang tumbuh mengelilingi rumah tersebut. Tembok dari bambu telah tak kuat lagi menahan angin. Para serangga membantu pelapukan kayu tersebut. Beberapa tiang penyangga telaah rapuh dimakan rayap. Tak puas sampai di depan saja, Main mulai membuka pintu rumahnya sendiri. Sayamh, pintu malah terjatuh ke lantai.

"Mas yakin mau tidur di sini?" tanya Della.

"Tentu, ini rumahku sendiri. Jadi akan aku tempati bagaimana pun keadaannya," kata Main.

"Tapi tak ada kamar mandi di sini," kata Della.

"Aku tahu."

Tiada kesanggupan Della untuk menahan Main. Pulang ke rumah menjadi pilihannya. Tapi beberapa dengan Main. Rumah yang penuh dengan sarang laba-laba itu dia tinggali. Sebuah kotak yang tertanam di dalam tanah dia ambil. Sepasang pisau belati tersimpan di sana. Meski telan puluhan tahun tak digunakan tapi pisau tersebut tak berkarat. Main membersihkannya dan bersiap untuk mencoba. Sebuah lemparan dia lakukan. Rumput yang dilewatinya sedikit terpotong. Dengan berkonsentrasi yang sungguh-sungguh pisau yang terlempar kini kembali ke tangan Main. Rasa penasaran main masih tinggi. Dengan konsentrasi yang penuh pisau tersebut bisa bercahaya. Kini pisau telah tertambah panjang dengan adanya cahaya. Sekali lagi pisau dilemparkan. Rumput yang terkena cahaya pisau terpotong dengan rapi. Berkali-kali main melemparnya hingga hati terasa puas. Ditaruhlah pisau di luar rumah hingga dia tak tahu keberadaan pisau tersebut. Dengan berkonsentrasi pisau kini secara tiba-tiba berada di tangan Main. "Wow, keren. Sekarang aku bisa menguasainya," katanya sendiri.

Dari balik dinding sejuta lubang terlihat sekilas ada yang aneh. Main melemparkan pisaunya ke arah sana. Tapi laju pisau terhenti dan kembali ke tangan Main. Berdiri dan melihat dengan mata kepala menjadi pilihan terbaik daripada harus menghancurkan dinding rumahnya. Ketika itulah muncul sesosok ular hijau. Rasa takut akan racun pada ular sempat menghinggapi hati Main. Perasaannya sirna setelah si ular memangsa hewan kecil di sekitarnya.

Tinggal di rumah reot menjadi momok menakutkan bagi Main. Segala barang bawaannya kembali dia ambil. Rumah Della menjadi tujuannya kembali. Sekali lagi pintu rumah Della dia ketuk, "Tok tok tok."

Sekarang yang membuka pintu sesosok laki-laki, umurnya sudah paruh baya. Baju bagus nan rapi dia kenakan. "Mas siapa?" tanyanya.

"Paman, aku Main," jawab Main.

"Wah, ternyata kau sudah besar. Sudah bekerja atau belum?" tanya sang paman, Sambodo.

"Aku belum bekerja. Aku masih menjalankan sebuah misi," jawab Main.

"Ceritanya nanti saja. Ayo masuk dulu."

Kembali lagi Main masuk ke dalam rumah Della. Kali ini lengkap sudah keluarga Della. Berbagai sajian ada di dalamnya.

"Main, bagaimana keadaan kedua orang tuamu?" tanya Sarinah, istri Sambodo.

"Ibu dan ayahku sudah berpindah dimensi. Kini aku sendirian di dunia ini," kata Main agak sedih.

"Main, kamu jangan begitu. Anggap saja kami ini orang tuamu sendiri. Sekarang sudah bekerja atau belum," kata Sarinah.

"Aku masih menjalankan semua misi. Kebetulan misinya ada di sekitar desa ini. Misiku untuk menghancurkan mustika ular hijau. Alat pelacaknya kurang canggih. Jadi aku harus bisa menemukannya dalam radius dua kilometer," kata Main.

"Saudaraku, rumahmu sudah tak layak huni. Bagaimana kalau kau tinggal di sini terlebih. Hitung-hitung menghemat pengeluaran," kata kakaknya Della, Raka Saputra.

"Tapi bagaimana dengan calon istrimu?" tanya Main.

Bab 2

Ular hijau yang membawa seekor tikus berjalan menuju ke sebuah gua. Di sana berkumpul beberapa ekor ular hijau lainnya. Seketika mereka berubah wujud menjadi humanoid.

"Ih, menjijikkan sekali. Kenapa pula aku harus berpura-pura memangsa tikus," kata perempuan itu. Rasanya ingin sekali memuntahkan isi perutnya.

"Memangnya kenapa, Dinda?" tanya sesosok lelaki.

"Kakanda, aku tadi melihat sosok orang yang bisa mengendalikan pisau kembar tersebut. Untung saja dia tak menebas leherku," tanya orang yang dipanggil Dinda.

"Siapa orang itu?" apakah dia kuat?" tanya seseorang yang lebih tua.

"Kelihatannya tidak, atau malah bisa dikatakan lemah. Tapi dia itu sangat sakti. Pisau yang dilemparnya bisa kembali dengan mudah," kata perempuan itu.

"Jangan-jangan dia Main, seorang yang selamat dari kematian," kata orang yang tertua itu.

"Ayahanda, aku ini tak bermain. Aku ini sungguh-sungguh. Dia itu sangat sakti," kata perempuan.

"Namanya Salamain, dia bisa dikatakan anak ajaib. Kalian berdua jangan pernah terlihat masalah apa pun dengan Salamain, dia sosok yang tenang tapi lebih mematikan daripada apa yang kita lihat," kata orang yang dipanggil ayah tersebut.

"Baik, kami mengerti."

***

"Saudaraku, calon mertuaku meminta hal yang aneh. Mereka menginginkan sebuah kekayaan. Karena itulah aku memilih mundur," jawab Raka.

"Yang sabar ya, aku juga belum punya calon," kata Main.

"Main, kau tinggal di sini dulu sebelum rumahmu kami perbaiki," kata Sambodo.

"Terima kasih banyak," kata Main.

Malam hari telah tiba. Sinar mentari kini berganti dengan rembulan. Meski wujudnya masih setengah tapi itu sudah lebih dari cukup untuk Main. Di bawah sinar rembulan Main keluar sendirian. Indera khusus yang dimilikinya mengiring pada sebuah tempat. Bukan rumah yang dia tuju tapi sebuah perkebunan. Sesosok bayangan hitam muncul dari arah belakang. Sebuah serangan dilancarkan bayangan tersebut. Dengan sangat mudah Main menghindar. Main berbalik arah dan menatap bayangan tersebut.

"Siapa kau? Dan apa perlumu?" tanya Main.

"Aku hanya perlu sepasang pisau yang kau miliki," kata si bayangan yang terdengar seperti suara perempuan.

"Berapa lama kau memerlukannya?"

"Selamanya."

Main berkonsentrasi dan mengerluarkan pisau keramik yang dia bawa sebagai cadangan. "Silahkan, ambil ini. Aku tak mau ada masalah dengan ras kalian." kata main sambil melempar pisau yang tertutup.

"Tak kusangka semudah ini. " Dua buah pisau dia ambil bayangan perempuan itu. Saat diamati pisau mirip dengan mainan." Main, aku tahu namamu Main. Bukan berarti kau harus main-main," katanya dengan geram. Amarah di dalam dirinya memanas. Pisau keramin yang dia pegang path menjadi dua bagian.

"Kau bilang pisau kembar milikku. Ya itu yang kupunya dan kuberikan," kata Main dengan santainya.

"Kau ini, berani memainkan aku!" teriaknya dengan penuh amarah. Dua buah pedang telah ada di tangannya. Kini si bayangan menyerang Main.

Dengan berkonsentrasi Main memanggil kedua pisau kembarnya. Serangan dari si bayangan perempuan mampu di tahannya. Si bayangan mundur sedikit, pola dari serangannya dia rubah. Pisau yang dipegang Main bercahaya dan mampu menahan segala serangan dari si bayangan. Adu pedang cahaya dan kegelapan mereka lakukan. Tapi Main kalah tenaga dan cepat capek. Sedikit demi sedikit Main terdesak mundur ke belakang. Sebuah pisau dia lemparkan. Tentu saja si bayangan dengan mudah menghindar. Tiba-tiba Main menghilang dan berpindah ke belakang si bayangan. Sebuah sabetan membuat si bayangan terluka parah di punggungnya.

"Argh!" teriak si bayangan. Dia terjatuh ke tanah. Tiada kata menyerah baginya. Denagan memutar tubuhnya dia kembali melancarkan serangannya. Sebuah sabetan dari pedang misterius dia gunakan. Tapi sekali lagi Main bisa menghindarinya dengan berteleportasi lewat pisau. "Bocah, jangan permainkan aku!" teriaknya.

Sebuah pisau terbang di sebelah kiri si bayangan. Sesaat dia bisa melihat benda itu. Tapi tiba-tiba Main datang dan langsung menyabetkan pisaunya. Kulit lengan atas si bayangan tergores dengan cahaya dari pisau tersebut. Meskipun tak membuat putus tapi mengakibatkan luka yang serius. Pakaian hitam yang digunakan untuk menutupi jati diri menjadi robek. "Argh!" teriaknya merasakan irisan cahaya pisau. Rasa sakit masih saja ditambah dengan tendangan dari Main. Pedang bayangan jatuh ke tanah.

Lagi-lagi si bayangan terkapar di tanah. Sebuah pisau melayang di depannya. Main muncul secara mendadak tapi kali ini si bayangan telah siap. Sebuah tendangan dia lancarkan. Alhasil Main terkena tendangan dan terpental ke belakang. Kini giliran Main terkapar di tanah. Si bayangan melompat tinggi dan menyerang dengan pisau cadangannya. Ketika sampai di tanah tiba-tiba sosok di depannya menghilang. Main telah berpindah ke tempat yang jauh.

"Huh, hampir saja kena," kata Main dengan leganya.

"Kau ini!" Si bayangan kembali lagi menyerang Main.

Tiada kata ketakutan pada Main. Kali ini pisau dia lempar ke arah kanan dan kiri. Tanpa persenjataan Main membentangkan tubuhnya. Tentu saja hal ini membuat si bayangan merasa senang. Dengan penuh senyuman dia menusukkan pisau yang dibawanya. Pisau tinggal satu centimeter dari tubuh Main tapi terlebih dahulu Main menghilang. Secara mendadak Main muncul di kiri si bayangan. Arah serangan berubah ke kiri. Tapi Main menghilang dengan pisau yang dibawanya. Dengan muncul kembali di belakang si bayangan Main menebaskan pisau bercahayanya. Dua garis luka tergambar di punggung si bayangan. "Arg!" teriaknya merasakan irisan pisau yang perih. Main mendendangnya hingga dia terjatuh dan tak kuat lagi berdiri.

Si bayangan telah kalah. Main memilih untuk meninggalkan si bayangan. Punggungnya dia pegang, rasa sakit masih dia alami. Dengan berjalan agak terseok-seok dan napas yang ngos-ngosan Main kembali pulang ke rumah Della.

***

Mentari baru saja menampakkan cahayanya. Para petani mulai berangkat ke tempat biasa mereka menggantungkan hidup pada tumbuhan yang mereka tanam. Tapi kali ini ada sedikit kejanggalan yang terjadi. Tanaman yang berumur kurang dari seminggu menjadi mati karena terinjak-injak. Jejak bekas petarungan mash saja membekas di sana. Dua buah pedang aneh mereka temukan. Bekas darah juga masih tampak jelas. Sesosok perempuan yang terluka menjadi fokus penglihatannya mereka. Beberapa bagian baju robek terkena serangan.

"Siapa yang tega melakukan semua ini?" tanya seorang petani pada dirinya sendiri.

Dilihatlah wajah perempuan tersebut. Ternyata dia bukanlah manusia. Kulit sedikit bersisik dengan mata berwarna hijau membuah para petani kaget. "Dia bukan manusia!" teriaknya.

"Mas, yang penting dia itu perempuan. Kita pemanasan dulu sebelum bekerja. Ada yang mau bergiliran bermain dengannya," kata seorang dengan wajah penuh nafsu.

***

Della sudah berhias dengan cantik. Sebuah tas dia bawa, dompet yang berisi uang dimasukkannya di dalam tas. Terlihat di ruang tamu Main sedang berbincang dengan Raka. "Mas-mas ganteng, aku mau ke pasar. Siapa yang mau ikut?" ajaknya.

Bab 3

"Mau jalan atau naik motor?" tanya Raka.

"Naik motor," jawab Della.

"Aku mundur. Aku tak pernah bisa naik motor," kata Main.

"Wah, kalau aku sedang repot. Motornya aku pakai untuk bekerja," alasan Raka.

"Kalau begitu aku jalan kaki saja," kata Della.

"Aku ikut, kapan lagi berjalan dengan saudariku yang cantik ini," kata Main.

"Mas bisa saja."

Jalan di depan rumah Della sedang ramai. Banyak orang lalu lalang lewat di sana. Bersama dengan beberapa orang Main dan Della ikut menuju ke pasar. Sayang waktu itu aliran sungai sedang deras. Jembatan yang ada masih rusak. Hampir semua orang memilih untuk berputar arah. Della hendak melakukan itu tapi tangannya digenggam Main.

"Mas, ada apa? Kita lewat sana saja," kata Della.

"Atau kita terbang saja," kata Main.

"Caranya?"

Dengan berkonsentrasi kedua pisau secara mendadak muncul di tangan Main. Salah satu diberikan kepada Della.

"Mas, jangan bercanda. KIta tak perlu bunuh diri segala," kata Della.

"Siapa yang suruh? Pegang dengan erat pisau itu dan jangan sampai terlepas," kata Main.

"Buat apa?" tanya Della.

"Begini." Pisau yang dipegang Main menyala terang. Dengan berkonsentrasi pisau bisa mengangkat tubuh main seolah-olah main bisa terbang melayang di angkasa.

"Wow, hebatnya." Della telah yakin dengan ucapan Main. Kini pisau dipegang dengan erat.

Konsentrasi dan memusatkan pikiran dilakukan Main. Sedikit demi sedikit keduanya melayang. Secara perlahan Main dan Della maju sedikit demi sedikit. Derasnya arus sungai yang berada di bawahnya sempat Della lihat dan membuatnya ketakutan. Memejamkan mata menjadi pilihannya.

"Della, kita sudah sampai," kata Main.

Sedikit demi sedikit kelopak mata Della buka. Kakinya telah menginjak bumi, tega rasanya. Rasa takut kini telah hilang. "Mas, lain kali kalau mau mengajak terbang bilang dahulu. Aku malu pakai rok mini. Untung saja tak ada orang yang melihat dari bawah," katanya.

"Lihat itu," tunjuk Main pada beberapa lelaki yang sedang menambang pasir dan batu di sungai.

Rasa malu tak karuan hinggap di hati Della. Wajah cantik kini merona. Tiada lagi daya Della untuk menahan rasanya. Paras wajah ditutupinya. "Mas, kenapa tak bilang sejak tadi," katanya.

"Aku lupa jika ada orang di sana, hehehe," tawa kecil Main. Tangannya dijulurkan ke arah Della. "Mana pisaunya," pintanya.

Dengan keadaan wajah masih tertutup tangan Della membrikan pisau yang dia pegang. Rasa malunya belum hilang.

Kedua pisau telah berada di tangan Main. Niat hati dengan berkonsentrasi penuh untuk mengembalikan pisau. Tapi setelah sekian lama pisau tak hilang juga. Lho, kok tak bisa?" tanyanya sendiri dengan penuh kebingungan.

"Kenapa, Mas?" tanya Della.

"Pisau ku tak mau hilang. Ah, sudahlah." Main membuang pisaunya ke dalam sungai.

Masih dengan wajah tertutup Della berjalan bersama dengan Main. Segerombolan pemuda dengan wajah sangar duduk di sana. Beberapa botol minuman berserakan tak karuhan di dekat mereka.

"Sis, main dengan kami. Sebentar saja," kata seorang pemuda. Terlihat dari omongannya seperti sedikit mabuk.

"Maaf Mas, aku sedang sibuk," kata Della. Bersama dengan Main dia lewat saja.

Kesadaran pemuda itu hampir tiada. Botol minuman yang ada di tangannya di buang. Dipegang tangan Della yang masih menutupi wajah malu. Terlihat kembali wajah cantik Della.

"Kau cantik juga. Temani kami, sebentar saja," kata pemuda itu. Pegangannya semakin kuat.

"Lepaskan aku." Della berusaha memberontak tapi tak bisa. tenaga yang dia miliki tak sepadan dengan pemuda tersebut.

"Mas, kau tak boleh begitu. Jika tak mau jangan memaksa," kata Main.

"Bro, jangan ganggu temanku," kata pemuda yang lain.

"Dan jangan juga ganggu saudariku," balas Main.

"jadi kau saudaranya. Jadi saudara jangan pelit atau...," kata ketua pemuda itu.

"Atau apa?" tanya Main.

"Kami habisi nyawamu." Ketua para pemuda nakal itu mengeluarkan pisau. Para anggota lain melakukan hal yang sama. Benda kecil nan tajam telah bermain di sekitar tangan mereka. Sesekali kilauan cahaya matahari memantul dan menyilaukan mata.

"Aku sebenarnya malas meladeni kalian." Dengan berkonsentrasi pisau cahaya kembali di tangan Main.

Tangan pemuda yang masih memegang tangan Della ditusuk Main dengan sekuat tenaga. Bagian cahaya perpanjangan ketajaman pisau tembus tangan pemuda terbut. Darah keluar di sekitaran pisau. rasa sakit sanagt menusuk hati. genggaman pada tangan Della terlepas. "Argh!" teriaknya merasakan kesakitan yang luar bisa. Tangan yang terluka dipegang, Pisau masih menancap dan darah masih mengalir.

"Kau ini! Berani malaulai temanku!" teriak sang ketua pemuda. Semua serangan dia lancarkan.

Dengan tangan gemulai Main menahan serangan dari ketua pemuda. Menyingkir dari petarungan menjadi pilihan bagi Della. Serangan ketua pemuda mengarah ke tempat lain. Secepat mungkin Main menahan serangan itu. Keduanya saling adu pisau. Meski kalah tenaga tapi pisau bercahaya menambah radius serangan Main. Perut ketua pemuda terisi cahaya. Rasa sakit tak bisa dia tahan lagi. jatuh terkapar di tanah akibat luka parah dan darah yang keluar sangat banyak.

Geram rasa hati pemuda lain. tak mau kalah dengan seorang yang dia remehkan dengan serentak mereka menyerang Main. dari berbagai arah serangan dilakukan. Tapi ketika pisau telah dekat tubuh Main tiba-tiba Main menghilang. Rasa heran menyelimuti para pemuda tersebut.

Rupanya Main berpindah ke dekat pemuda yang terluka. Pisau dia cabut dan pemuda itu ditendangnya. Si pemuda berjatuh ke tanah. Lengkap sudah kedua pisau cahaya milik Main. Dengan genggaman yang kuat pisau mengeluarkan cahaya hingga panjangnya menjadi sekitar satu meter. "Aku tak mau ada yang terluka lagi. Sebaiknya kita akhiri saja semua ini dan kita hidup seperti biasanya," kata Main.

"Tak akan pernah!" Para pemuda berlari ke arah Main. Serangan demi serangan mereka lakukan. Dentingan demi dentingan bunyi adu besi terdengar sangat nyaring dan jelas di telinga Della.

Keadaan Main sedikit terdesak. Serangan bertubi-tubi membuat tenaga Main semakin terkuras. Dipandang dari jarak jauh masih ada sebotol minuman mineral. Sebuah pisau dia lempar. Tiada satu pun mengarah pada sasarannya. Lagi-lagi Main menghilang dan kini mucul di dekat botol mineral. "Maaf Mas-mas semua, aku haua. Aku minum dulu, ya." Botol air mineral dibukanya dan air yang terkandung di dalamnya mengisi butuh Main. Botol plastik yang telah kosong dibuangnya. Kini tenaga dan stamina sedikit pulih.

"Kau ini, serbu!" Para pemuda berbalik arah dan langsung menyerang ke tempat Main berada.

***

Luka yang parah membuat ketua pemuda kilaf. Dengan tekad yang bulat dia merangkak ke sebuah tas. Patung replikasi monster dia keluar. Darah segar masih ada di perut pemuda itu. Kini patung diolesi darah tersebut. Warna merah mata patung tiba-tiba menyala.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED