“Presdir Chen, rapat hari sudah selesai. Ada yang kamu ingin lakukan lagi?”
Sebuah pertanyaan terlontar lagi bibir Zheng Jing Lin yang baru saja selesai menutup ipad di tangannya. Gadis dengan usia terpaut beberapa tahun di bawah Chen Qianqian tampak menatap penuh ke arah bos wanitanya.
Chen Qianqian adalah seorang wanita berdarah dingin nan kejam. Ia memimpin perusahaan sang ayah yang selama ini menjadi objek perebutan harta warisan ayah tirinya. Entah bagaimana bisa sang ibu memilih suami seperti itu, tetapi dirinya nyaris tidak mempercayai.
“Tidak. Kamu bisa kembali, Jing Lin,” jawab Qianqian menggeleng singkat menerima ipad milik sekretarisnya.
Mendengar hal tersebut, Jing Lin pun langsung melebarkan kedua matanya antusias. Sebab, ia jarang sekali mendapatkan liburan dari sang bos, sampai kali ini benar-benar memberikan kesempatan dirinya untuk menikmati hidup setelah bekerja keras selama beberapa tahun.
“Xie xie, Presdir Chen!” ucap Jing Lin membungkuk singkat dengan begitu bersemangat. “Jadwal minggu ini telah aku siapkan, kalau ada perubahan aku akan langsung menghubungimu.”
Qianqian mengangguk singkat.
Setelah itu, Jing Lin pun bergegas meninggalkan ruangan bosnya sebelum berubah pikiran. Jelas saja suasana hati Qianqian begitu mempengaruhi lingkungan sekitar. Sebab, wanita itu memiliki tingkat emosional cukup tinggi sehingga mudah tersinggung dan marah jika ada sesuatu mengganggu hatinya.
Kini seorang wanita genap berusia kepala tiga itu tampak memutar kursi kerjanya menghadap tepat ke arah tiga jendela besar yang memperlihatkan gedung pencakar langit. Qianqian mengembuskan napas panjang sambil melakukan spinning pen di tangan kanannya.
Sesaat tatapan Qianqian mengarah kosong dengan kepala lurus seakan tengah memperhatikan sesuatu, meskipun pada kenyataannya pikiran wanita itu tengah mengarah pada sesuatu.
Benda pipih yang berada di atas meja kerja itu terdengar berdering pelan membuat Qianqian memutar kursinya seperti semula, kemudian mengambil ponselnya memperlihatkan panggilan dari seseorang.
Chen Qianqian tersenyum kecut, lalu mulai menempelkan benda pipih tersebut di telinga kanannya. Ia bangkit dari tempat duduk sambil meraih tas bahu miliknya yang berwarna hitam senada dengan setelan pakaian hari ini. Begitu mewah dengan campuran elegan disetiap pernak-pernik melekat di tubuhnya.
“Hello, Mom! What’s going on?” sapa Qianqian.
“Aiya, Qianqian, Mama dengar kamu hari ini selesai kerja lebih cepat,” ucap seorang wanita paruh baya terdengar seakan mengharapkan sesuatu.
“Shi, zhen me la?” tanya Qianqian tanpa sadar mengernyitkan keningnya bingung menyadari sang ibu terdengar mengharapkan sesuatu.
Untung saja ketika Qianqian menaiki elevator, tidak ada satu karyawan pun yang masuk membuat wanita itu dapat dengan mudah turun tanpa memberhentikan diri sama sekali. Sekaligus memberikan kebebasan pada dirinya untuk tetap bersikap manis pada sang ibu.
“Qianqian, Mama sudah menjanjikan kamu untuk pergi kencan buta. Kamu mau, ‘kan?”
“Aah!!?” Qianqian terbelalak terkejut mendengar sang ibu yang begitu menyebalkan. “Ma, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan masalah ini lagi?”
Sejenak Qianqian ingin sekali protes dengan sang ibu yang selalu ikut mencampuri urusan asmara dirinya sampai menjanjikan banyak kencan buta. Kali ini dirinya tidak bisa melarikan diri dengan alasan pekerjaan, sebab wanita paruh baya itu akan sangat menyebalkan.
“Ayolah, Qianqian!” rayu wanita paruh baya itu terdengar memelas.
Chen Qianqian mengembuskan napasnya kasar, lalu menolak, “Aku tidak akan pergi apa pun yang terjadi. Lagi pula aku sudah muak bertemu dengan mereka, Ma. Tidak ada yang benar-benar serius berhubungan denganku.”
“Kali ini Mama mohon, Qianqian. Mama yakin kamu akan menyukainya,” ucap wanita paruh baya itu berusaha meyakinkan anaknya.
“Dari mana kencan buta sekarang?” tanya Qianqian memilih untuk mengalah dibandingkan harus berdebat lebih lama dengan sang ibu.
Mendengar anaknya memilih mengalah, Nyonya Besar Liu pun mendadak senang, lalu menjawab, “Kamu lihatlah restoran yang dekat dengan kantor. Mama sudah menyuruh dia untuk datang ke sana, agar kamu tidak memiliki alasan lagi.”
“Aiya, Ma!!” Qianqian berusaha mengembuskan napas menenangkan perasaannya agar tidak durhaka melawan sang ibu. “Hao! Aku akan ke sana sekarang. Sudah, ya. Aku tutup dulu.”
Setelah itu, Qianqian memasukkan ponsel mahalnya ke dalam tas bahu dan melenggang dengan tatapan datar tanpa menanggapi banyak sapaan yang terlontar dari para bawahannya. Mereka tampak terbiasa dengan sikap Qianqian hanya diam dan memilih untuk mendahulukan pemimpin perusahaan tersebut.
Kini langkah kaki Qianqian tampak berdiri tepat di depan perusahaan dengan tatapannya mengitari ke segala arah. Entah kenapa ia mulai bingung mencari restoran yang dimaksud oleh sang ibu, sebab wanita paruh baya itu memang tidak mengatakan apa pun tentang nama restoran tersebut.
Akhirnya, ingatan Qianqian pun mengarah pada salah satu restoran yang selama ini menjadi kesukaan sang ibu ketika datang berkunjung. Membuat wanita itu memilih melangkah melewati beberapa ruko sekaligus gedung perusahaan yang berdampingan dengan gedung milik dirinya.
Qianqian menatap ke arah depan restoran yang dijaga oleh satu pelayan berwajah cantik dengan memberikan brosur untuk mempromosikan makanan baru. Walaupun sikapnya yang dingin nan arogan di depan siapa pun, wanita itu masih mengerti cara menghormati seseorang dengan menerima brosur tersebut sebelum akhirnya dilipat begitu kecil dan dibuang ke dalam tong sampah tanpa sepengatahuan pelayan perempuan tadi.
“Ada yang bisa dibantu, Nona Chen?” tanya pelayan tersebut dengan senyuman manis, sebab Qianqian memang sering kali datang, sehingga dikenal oleh nyaris seluruh pelayan.
“Meja pesanan ibuku,” jawab Qianqian singkat.
“Ikuti aku!” Pelayan tersebut melangkah lebih dulu dengan sesekali menoleh ke arah Qianqian yang acuh tak acuh menatap sekeliling restoran.
Selama melangkah beberapa kali dan menaiki satu anak tangga yang memperlihatkan lantai lebih privat dengan ruangan per ruangan tertutupi rotan. Membuat Qianqian mengembuskan napas panjang ketika menyadari sang ibu benar-benar berniat menjodohkan dirinya pada lelaki mana pun.
Pelayan yang mengantarkan Qianqian pun terhenti tepat di ruangan tertutup paling ujung di lantai tersebut. Ia mengetuk pintu gesernya singkat, kemudian mulai mendorong ke arah samping dengan memperlihatkan seorang lelaki tampan tengah membaca koran di letakkan di atas meja.
“Nona Chen, di sini tempatnya! Silakan masuk,” titah pelayan itu dengan senyuman manis yang begitu sopan.
Qianqian mengangguk singkat, lalu membalas, “Terima kasih!”
Setelah itu, pelayan yang mengantarkan Qianqian tadi pun melenggang pergi. Sedangkan Qianqian tampak mendudukkan diri tepat di hadapan seorang lelaki berpakaian jas formal dengan rambut tersisir rapi.
Jelas saja kesan pertama Qianqian melihat lelaki itu adalah seorang pebisnis. Bisa dilihat cara berpakaian dan duduk tegak lelaki itu penuh percaya diri. Membuat Chen Qianqian mengernyit tanpa minat melihat lelaki di hadapannya jauh di luar ekspetasi dirinya akan melihat lelaki lebih absurd pilihan sang ibu yang entah bagaimana caranya bisa menemukan mereka semua.
“Qianqian, apa yang terjadi?”
Pertanyaan dari sang ibu membuat Qianqian terlihat mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Sudah empat kali dalam satu minggu Liu Yi Fan melontarkan pertanyaan yang sama, seakan jawaban dirinya masih belum bisa meyakinkan wanita tersebut.
“Ma, sudah aku katakan. Tidak apa-apa.”
Liu Yi Fan menggeleng pelan, lalu berkata, “Kamu bukanlah Da Yuan yang selalu ceroboh, Qianqian. Kalau tidak ada masalah apa pun, pasti kamu tidak akan terluka seperti ini.”
“Ma, sudahlah. Jiejie pasti memiliki alasan tersendiri sampai seperti ini,” bela Da Yuan memegang lengan sang ibu untuk berhenti memarahi kakak pertamanya yang masih berada di rumah sakit.
Sedangkan Huang Yu Ning yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu tampak menghela napas panjang, kemudian menghampiri istrinya. Jelas saja tatapan Yi Fan sedikit khawatir, meskipun cara memperlihatkannya dengan marah-marah tanpa alasan.
“Tidak apa-apa. Biarkan Qianqian istirahat sebentar,” timpal Yu Ning memegang kedua pundak istrinya lembut. “Selama ini dia telah bekerja keras. Berada di rumah sakit selama dua minggu bukanlah masalah yang mengejutkan. Bukankah lebih baik ada di sini dibandingkan kantor? Kamu akan lebih sering melihatnya, Istriku.”
Mendengar perkataan yang cukup masuk akal dari suaminya membuat Yu Ning mengangguk beberapa kali, kemudian wanita paruh baya itu kembali menatap anak pertamanya yang terlihat tersenyum paksa, seakan tidak ingin menjadikan sang ibu dalam keadaan lebih emosional.
“Baiklah, aku tidak akan menanyakan masalah kecelakaan ini, Qianqian,” putus Yi Fan mengangguk mantap. “Tapi, kamu juga harus menuruti perintahku!”
“Apa itu?” tanya Qianqian penasaran.
“Kamu harus menerima perjodohan keluarga Lu yang telah ditetapkan kemarin,” jawab Yi Fan melipat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum miring.
Sontak wajah Qianqian langsung ternganga tidak percaya mendengar perjodohan yang kembali dilakukan. Ia memang pernah beberapa kali dimintai persetujuan oleh sang ibu untuk mendatangi keluarga Lu, tetapi wanita itu jelas merasa sangat tidak percaya dengan kencan buta kemarin membuat dirinya merasa sangat buruk jika benar-benar menikahi Lu Jin Feng.
“Tidak!!!” tolak Qianqian keras dengan tatapan horror.
“Kenapa? Keluarga Lu itu sangat baik, Qianqian. Kamu akan hidup bahagia dengan Lu Ji Feng,” ungkap Yi Fan berusaha meyakinkan anak perempuan satu-satunya yang begitu keras kepala.
“Aku sudah memiliki calon suami!” balas Qianqian penuh percaya diri. Ia memang lebih baik berbohong sedikit dibandingkan harus menikah dengan seorang lelaki yang benar-benar ambisius seperti Lu Jin Feng.
“Siapa?”
Pertanyaan dari Liu Yi Fan membuat suasana seketika mendadak hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali, seakan menantikan jawaban dari seorang wanita cantik yang kini masih berusaha untuk memulihkan dirinya sendiri.
“Akan aku kenalkan pada kalian berdua,” jawab Qianqian mengangguk meyakinkan.
“Jie, kamu serius, bukan?” tanya Da Yuan menatap penuh keyakinan, entah kenapa tatapan sang kakak yang terlihat gugup membuat lelaki itu merasa semuanya hanyalah kebohongan.
“Tentu saja!” jawab Qianqian mengerjap penuh percaya diri.
Namun, siapa sangka jauh dari dalam lubuk hatinya benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Untuk kedua kalinya Qianqian merasa begitu ceroboh sampai meyakinkan sang ibu bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Walaupun pada kenyataannya dipenuhi oleh kebohongan.
“Hao! Aku akan menunggu Qianqian sampai sembuh sebelum diperkenalkan ke sini,” putus Yi Fan memilih untuk mengalah.
Tanpa sadar Qianqian mengembuskan napasnya lega sambil tersenyum tipis, meskipun dibalik senyumannya menyimpan banyak pikiran yang kemungkinan akan menyiksa wanita itu dalam waktu dekat.
“Setelah keluar dari sini, kamu harus memperkenalkan calon suami! Kalau tidak, aku akan tetap menjodohkanmu dengan Lu Jin Feng,” tukas Yi Fan terdengar mantap dalam keputusannya.
“Terserah kamu saja, Ma. Aku akan tetap memperkenalkan calon suami luar biasa padamu,” balas Qianqian tidak mau mengalah, ia harus tetap menang apa pun caranya.
Setelah perdebatan masalah pernikahan terjadi, akhirnya sepasang suami-istri itu pun memutuskan untuk kembali pulang. Mereka berdua membiarkan Qianqian kembali beristirahat agar bisa cepat-cepat pulih.
Ditambah Da Yuan memiliki kegiatan di kampusnya membuat lelaki itu mengikuti kedua orang tuanya keluar dari ruangan. Secara bersamaan mereka meninggalkan kamar rawat inap milik Qianqian yang kini merebahkan tubuh dengan kedua mata terbuka lebar.
Jelas saja kini perhatian Qianqian teralihkan mencari seorang lelaki yang berada dalam profesi berbeda dengan dirinya. Agar wanita itu bisa melakukan segala hal dengan mudah. Meskipun ketakutan Qianqian akan tetap terjadi, sebab keraguan memilih lelaki yang pas membuat wanita itu mendadak dilemma.
Qianqian mengembuskan napasnya kasar sembari menendang-nendang angin sampai selimut rumah sakit mendadak terjatuh. Ia menggeram marah menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos.
“Nona Chen Qianqian, apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan dari seseorang membuat pergerakan Qianqian mendadak terhenti, kemudian terduduk dengan melebarkan kedua matanya terkejut. Ia mengerjap pelan mendapati seorang dokter yang berdiri memegang berkas di tangannya.
“Ti ... tidak apa-apa,” jawab wanita itu menggeleng pelan sekaligus tergagap bingung sekaligus terkejut mendapati seorang lelaki yang terlihat cukup tampan. “Dokter ...?”
“Margaku Bai, kamu bisa memanggilnya dengan Dokter Bai.” Lelaki tampan itu mulai melangkah mendekat sembari mengambil pulpen di saku depannya dan mencatat sesuatu. “Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah lebih baik?”
Sejenak Chen Qianqian kembali merebahkan tubuh, lalu menjawab, “Masih sedikit pusing, Dokter Bai. Tapi, sejauh ini tidak ada apa-apa lagi.”
“Sedikit pusing, ya?” gumam lelaki itu mengambil senter kecil di dalam sakunya.
Dalam diam Chen Qianqian menatap setiap kegiatan yang dilakukan oleh dokter tampan itu. Ia seperti mengenalinya. Garis rahang dan pahatan hidung sempurna itu benar-benar mengalihkan perhatian Qianqian.
“Aku periksa sebentar, ya. Jangan terlalu tegang,” ucap Chou Fei menyalakan senter tersebut.
Lelaki itu mulai mendekati wajah Qianqian yang terlihat gugup. Kedua tangan wanita itu bertaut cemas sembari memegangi selimutnya tepat secara perlahan wajah dokter tampan berhenti tepat di depan wajahnya, hanya berjarak beberapa senti.
Kemudian, Chou Fei menyentuh pipi mulus Qianqian yang kini mendadak memerah. Wanita itu tengah menahan malu dengan jarak yang sedekat ini memungkinan Chou Fei menyadarinya.
Lelaki itu melihat bagian bawah mata Qianqian yang masih sedikit putih, walaupun ada beberapa bagian yang memerah. Membuat Chou Fei mengangguk singkat dan kembali mencatat sesuatu di kertas rekam medis milik Chen Qianqian.
“Sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan, Nona Chen hanya perlu memulihkan tubuh sampai darah merahnya kembali tercukupi. Kalau bisa lebih baik sesekali makan hati sapi dan minum suplemen dari rumah sakit secara teratur,” tutur Chou Fei memasukkan senter dan pulpennya seperti semula. “Jangan sampai obat yang diberikan tidak diminum. Karena Nona Chen akan semakin lama pulihnya.”
Qianqian mengangguk singkat tanpa menjawab apa pun, sampai pandangan wanita itu mengarah pada sepuluh jemari dokter tampan di hadapannya. Membuat senyuman kecil terbit begitu manis, ia menyadari tidak ada cincin apa pun.
“Dokter Bai, apa kamu memiliki seorang kekasih?” tanya Qianqian dengan wajah penasaran.
Mendengar pertanyaan tidak terduga itu, Bai Chou Fei mendelik terkejut.
“Atau ... seorang istri?” lanjut wanita itu semakin menjadi-jadi.
Chou Fei menggeleng singkat, lalu menjawab, “Itu terlalu privasi. Aku pikir, tidak bisa menjawabnya.”
Mendengar hal tersebut, Qianqian pun bangkit dengan terduduk menatap kesal ke arah lelaki di hadapannya.
“Kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, aku pergi dulu!”
Belum sempat Qianqian membalasnya, tubuh tegap nan menjulang tinggi milik Bai Chou Fei telah lenyap di balik pintu. Membuat wanita berpakaian pasien itu tampak menipiskan bibir menahan kesal.
Akan tetapi, otak pintar miliknya langsung memberikan perintah membuat Qianqian langsung meraih ponsel yang berada di atas nakas. Ia mencari nomor seseorang yang bisa membantu dirinya dengan sukarela.
“Halo, Jing Lin. Aku ingin meminta informasi seseorang,” ucap Qianqian tersenyum miring yang begitu menawan. Wajah pucatnya benar-benar menutupi api semangat yang berkobar.
***
Tepat siang hari Qianqian menghubungi sekretarisnya sendiri untuk mencari informasi mengenai seorang dokter tampan bermarga Bai. Tidak dapat dipungkiri wanita itu merasa gugup menatap berkas di tangannya yang masih tertutup rapat membuat Jing Lin tersenyum geli sembari menikmati potongan buah milik sang bos.
Terkadang Qianqian begitu baik hati membagi makanannya pada Jing Lin, meskipun tempramental wanita itu sangat menyeramkan. Bahkan Qianqian akan sangat mengamuk ketika suasana hatinya buruk, begitupun sebaliknya.
“Semua yang ada di sini informasinya, Jing Lin?” tanya Qianqian entah sudah berapa kali melontarkan hal yang sama.
“Shi, shi, Presdir Chen,” jawab Jing Ling mengangguk beberapa kali, kemudian menaruh pisau buahnya dengan menggigit apel terakhir yang telah dikupas. “Tidak sulit mendapatkan informasi tentang Dokter Bai. Karena ternyata dia adalah anak kedua salah satu orang terpenting di China.”
“Apa maksudmu?” tanya Qianqian mengalihkan pandangannya dengan kening berkerut bingung.
“Ternyata selama ini Dokter Bai benar-benar bersikap sederhana, padahal aslinya dia kaya raya. Anak keluarga kaya nomor 3 di China,” jawab Jing Lin menggeleng tidak percaya menyadari kenyataan dokter tampan itu benar-benar mengagumkan.
“Benar atau palsu? Dia benar-benar orang penting ternyata. Pantas saja aura yang dia miliki sangat kuat dan mampu mengalihkan duniaku.”
Sejenak Qianqian mulai membuka berkas yang ada di tangannya. Ia melihat curriculum vitae milik Bai Chou Fei ketika lelaki itu melamar pekerjaan sebagai dokter. Seorang lelaki tampan dengan lulusan universitas favorit di Jerman itu benar-benar bisa disebut sebagai Dewa Penyelamat.
Seakan Bai Chou Fei dilahirkan hanya untuk menjadi seorang dokter. Walaupun keluarganya berasal dari keluarga medis terkenal sejak zaman leluhur, tetapi lelaki itu benar-benar memiliki kemampuan melampaui kedua orang tuanya sendiri.
Namun, sejak kejadian sesuatu menimpa lelaki itu, Bai Chou Fei memilih untuk menyembunyikan identigasnya sebagai anak dari keluarga terhormat Bai. Bukan tidak mungkin, informasi yang bisa menjangkau seluruh fakta lelaki itu memang tidak main-main.
Qianqian memiliki banyak macam cara untuk mendapatkan semua informasi yang tidak diketahui oleh orang lain. Selain tangan yang mampu dibuat untuk bekerja tanpa lelah, nyatanya otak pintar Qianqian tidak pernah didiamkan sama sekali. Wanita itu memperluas kolega bisnisnya sampai pada orang-orang tertentu yang tidak bisa ditebak.
“Bai Chou Fei menyelesaikan program sarjana menjadi Magna Cumlaude di Oxford University. Sayangnya ketika mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan magister, dia memilih untuk pulang ke negaranya, China. Bai Chou Fei melanjutkan pendidikan kedokteran di Shanghai Jiao Tong University,” ucap Jing Lin menunjuk ke arah bukti sertifikat yang didapatkan lelaki itu ketika mengikuti banyak kegiatan kedokteran di kampus ataupun rumah sakit ternama, termasuk milik keluarganya meski mereka juga tidak mengenal satu per satu dari peserta.
“Selesai pulang di negaranya, dia kembali melanjutkan pendidikan dokter residen di Jerman untuk mengikuti penelitian sekaligus memperdalam ilmu kedokterannya menjadi spesialis. Karena Bai Chou Fei mengambil spesialis bedah syaraf yang menyuruh lelaki itu untuk belajar lebih lama,” lanjut Jing Lin menunjuk ke arah sertifikat berbahasa Inggris di tangan Qianqian.
“Dan, baru-baru ini dia kembali lagi ke China untuk menyalurkan ilmu yang selama ini dia dapat selama menjelajahi ilmu medis diberbagai negara. Cukup mengagumkan menghabiskan waktu usia mudanya dengan pendidikan,” tukas Jing Lin menyudahi perkataannya.
“Wah, kenapa hebat sekali!” puji Qianqian mendadak takjub dengan seorang lelaki yang tanpa disangka memiliki banyak gelar dalam bidang pekerjaannya.
“Nona Chen, ini belum seberapa yang kamu lihat. Karena Bai Chou Fei melewati masa sekolah menengahnya akibat dia terlalu pintar. Bisa dikatakan dia setara dengan professor yang menjadi panutan bagi banyak orang. Sebab, dia belajar medis sama seperti belajar selama 10 tahun penuh, meskipun dia baru saja menyelesaikan selama delapan tahun penuh,” balas Jing Lin tersenyum senang membayangkan lelaki mengagumkan seperti itu menjadi suami masa depannya. Kemungkinan ia tidak akan perlu merasa pusing ketika malas untuk ke rumah sakit, sebab suaminya sendiri sudah menjadi dokter yang dihormati banyak orang.
“Apa lagi yang kamu temukan?” tanya Qianqian menatap penuh minat.
“Uhm ... dia pernah menjadi relawan di Harbin ketika dalam wabah Virus Corona,” jawab Jing Lin mengembuskan napasnya panjang sembari tersenyum kecut.
Menyadari sikap sekretarisnya yang terlihat berbeda, Qianqian pun mengernyit bingung. Entah kenapa ia semakin penasaran dengan semua yang pernah dilalui oleh Bai Chou Fei. Sedikit rasa cemas terhadap lelaki itu dengan kemampuan medisnya yang berada di atas rata-rata.
“Dokter Bai pernah mengalami isolasi selama empat minggu penuh akibat kondisinya yang tertular virus mematikan tersebut,” lanjut Jing Lin mengangguk meyakinkan. “Ketika semua orang berusaha menjauhi orang yang terjangkit, tapi tidak dengan Dokter Bai yang langsung menanganinya tanpa merasa takut sama sekali.”
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Qianqian semakin penasaran.
“Tenang saja, Dokter Bai melewati semua itu dengan baik,” jawab Jing Lin tersenyum tipis. “Demam yang menjadi ciri-ciri penyakit itu menghilang dengan sendirinya dalam waktu satu bulan. Bahkan Dokter Bai benar-benar tidak diperbolehkan untuk mendekat kepada siapa pun. Dia berada di tenda khusus dan hanya orang-orang medis berpakaian Alat Pelindung Diri yang bisa mendekat. Untuk sekedar memberikan makanan dan minuman, lalu obat untuk menurunkan demas sekaligus sesekali mengecek tubuhnya sendiri.”
Tanpa sadar Qianqian meneteskan air mata mendengar perkataan sekretarisnya yang benar-benar mengejutkan. Ia tidak menyadari bahwa lelaki dengan keluarga kaya raya tanpa harus bekerja keras itu sangat mengagumkan.
Bukan hanya wajahnya yang tampan, tetapi hatinya benar-benar seperti malaikat. Julukan Dewa Penyelamat yang disahkan pada Bai Chou Fei memang sesuai dengan tindakannya. Lelaki itu tidak memedulikan apa pun, termasuk nyawanya sendiri. Membuat kekaguman Qianqian semakin besar dan yakin bahwa pilihannya tidak akan salah.
“Okay, I will choose him,” ucap Qianqian menutup berkas tersebut sembari tersenyum miring, lain halnya dengan Jing Lin yang mengangguk kaku melihat sikap sang bos begitu serius memutuskan sesuatu.
Sesampainya di rumah sakit, wanita hamil besar itu pun langsung dibawa menuju ruang ICU membuat Qianqian menatap penuh kecemasan menyadari seorang wanita tengah berjuang di dalam ruangan antara hidup dan mati.
Tentu saja Qianqian tampak cemas sekaligus tegang menantikan seorang wanita yang berada di dalam sampai tiba-tiba seorang dokter kembali melenggang keluar membuat wanita itu langsung bangkit dari tempat duduknya.
“Nona, pasiennya sudah tidak merasa kesakitan lagi. Sekarang kehamilannya sudah mencapai batas waktu untuk segera melahirkan,” ucap dokter paruh baya tersebut dengan mengangguk singkat.
“Benarkah?” tanya Qianqian tidak percaya.
Dokter tersebut mulai memandangi Qianqian dengan kerutan di kening. “Nona Chen, kamu tidak melakukan sesuatu, ‘kan?”
“Bagaimana bisa!” balas Chen Qianqian cepat.
Sesaat kemudian, perhatian mereka berdua teralihkan dengan suara berlarian di lorong rumah sakit membuat Qianqian dengan seorang dokter tengah berbincang itu pun menoleh menatap kedatangan seorang lelaki bertubuh kekar mengenakan kasus lengan pendek dengan padanan celanan panjang berwarna hitam.
“Dimana istriku?” tanya lelaki itu terdengar cemas.
“Tenang, Tuan. Istrimu sedang berada di dalam,” jawab dokter tersebut mengangguk singkat.
“Terima kasih, Dokter Ling,” ucap lelaki itu dengan tersenyum penuh lega, lalu menoleh ke arah Qianqian. “Kamu ... yang tadi menghubungiku, ‘kan?”
“Iya, benar. Aku Qianqian yang bertemu dengan jiejie tadi,” jawab Qianqian mengangguk singkat. “Jiejie ada di dalam. Tolong jaga dia dengan baik, jangan ditinggalkan seperti tadi. Sangat berbahaya dengan usia kehamilannya.”
“Maafkan aku,” sesal lelaki itu mengembuskan napas lega sekaligus masih tetap cemas. “Aku baru saja kembali dari pekerjaan.”
Setelah berbincang beberapa saat, akhirnya lelaki yang baru saja datang itu pun memutuskan untuk memasuki ruangan ICU. Ia hendak memastikan keadaan istrinya sekaligus menebus dengan rasa penyesalan telah meninggalkan tanpa alasan yang jelas. Padahal kala itu mereka berdua sudah berjanji untuk mengunjungi rumah sakit bersama-sama.
Sepeninggal lelaki itu, kini Qianqian tampak melangkah menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan kosong. Hatinya sedikit menghangat telah membantu seorang wanita hamil yang kesusahan sekaligus membantunya ke rumah sakit.
Kecerobodhan Qianqian yang tidak memperhatikan langkah kaki di depannya membuat wanita itu tanpa sengaja menabrak dari seorang perawat keluar dari ruangan. Sontak mereka berdua pun saling bertabrakan dengan tubuh Qianqian terlempar seiring kereta obat berserakan mengenai pergelangan tangannya.
Qianqian menatap tangan kirinya yang mengeluarkan darah membuat wanita itu berusaha menekan lukanya agar tidak terlalu infeksi. Namun, siapa sangka kalau tindakannya malah pendarahannya tidak kunjung berhenti.
Rasa perih mulai dirasakan oleh Qianqian membuat wanita itu tanpa sadar terinsak menahan sakit di tangannya. Sampai seorang dokter dan perawat berlarian menuju ke arahnya menyadari ada yang terluka.
“Nona, kamu terluka,” ucap dokter tersebut mengambil tangan kiri Qianqian yang mengeluarkan darah cukup banyak, kemudian mendongak memanggil perawat di belakangnya, “tolong ambilkan kain apa pun untuk menghambat pendarahan ini!”
“Baik, Dokter Bai!” balas perawat itu dengan cepat mengambilkan sebuah kain dari baskom stainless.
Sejenak lelaki itu menaruh tangan Qianqian di paha kanannya, kemudian dengan gerakan memutar lembut membaluti luka akibat pisau bedah itu. Agar meminimalisir pendarahan yang terjadi.
Namun, rasa perih kembali menyerang membuat Qianqian tanpa sadar mendesis kesakitan dengan mengepalkan tangannya kuat. Ia berusaha menahan diri untuk tidak terlihat lemah, walaupun kenyataannya begitu sakit.
“Tolong tahan sebentar lagi, luka ini memang sedikit sakit,” ucap dokter lelaki itu.
Hal tersebut membuat Qianqian menandangi wajah seriusnya yang terlihat tampan. Entah kenapa lelaki itu benar-benar tenang, meskipun seluruh pakaiannya bersimbah darah merah segar.
Setelah selesai membalut luka, akhirnya dokter itu pun membopong tubuh Qianqian membuat wanita itu spontan mengalungkan kedua tangannya pada leher milik lelaki tersebut.
Banyak tatapan kagum sekaligus tidak percaya melihat seorang dokter berlarian panik di sepanjang lorong sambil membopong seorang wanita cantik. Akan tetapi, perhatian mereka bukan ada pada dokter tersebut, melainkan wajah Qianqian yang mendadak pucat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
Sejenak dokter lelaki yang membopong Qianqian pun menatap wanita di pelukannya benar-benar tidak sadarkan diri. Membuat ia langsung mengerti bahwa wanita itu mengalami darah rendah ataupun tekanan pada syok ketika mengalami kejadian tadi.
“Xiao Bai, zhen me la?” tanya seorang dokter muda yang baru saja membuang masker medisnya ke dalam tong sampah, kemudian menoleh mendapati sahabatnya membawa seorang wanita yang tidak sadarkan diri.
“Wanita ini tidak sengaja menabrak Tingting tadi,” jawab Bai Chou Fei mengembuskan napas panjang.
Bai Chou Fei adalah seorang dokter jenius yang selama ini menjadi idaman banyak gadis. Latar belakang keluarganya dari tenaga medis yang nyaris mengusai seluruh Tiongkok Daratan itu benar-benar terpandang sangat terhormat. Memiliki sifat ramah, dan mudah bergaul membuat dirinya disukai banyak orang, terlabih dari para gadis.
Mendengar hal tersebut, Wang Qiling yang selama bersahabat sekaligus bersaudaraan itu tampak memandangi Chou Fei dengan penuh perhatian mulai membuka balutan kain tersebut. Ia bisa melihat wajah Qianqian yang semakin pucat membuat wanita itu terlihat kekurangan darah.
“Bagaimana keadaannya, Xiao Bai?” tanya Qiling mendadak cemas dan mendekati seorang wanita terbujur lemah seiring wajahnya semakin pucat.
“Darahnya tidak bisa berhenti,” jawab Chou Fei mengernyitkan kening berpikir keras.
Di tengah itu, seorang wanita paruh baya kepala dokter di sana pun melenggang masuk. ia melebarkan kedua matanya terkejut mendapati seorang wanita yang terlihat familier tengah ditangani oleh Chou Fei.
“Apa yang terjadi dengan Chen Qianqian!?” seru wanita itu mendadak panik melihat luka di pergelangan tangannya tidak berhenti pendarahan.
“Namanya Chen Qianqian, Kepala Dokter Zhou?” tanya Qiling menatap penuh.
“Iya, dia Chen Qianqian,” jawab kepala dokter itu mengangguk beberapa kali. “Dia sering datang ke sini untuk melakukan pengobatan. Sampai Direktur Bai mendiagnosis bahwa Chen Qianqian mengidap Hemofilia.”
“Aah? Bukankah yang kena hanya laki-laki?” tanya Qiling lagi sembari memberikan alkohol dan kapas untuk memudahkan sahabatnya menangani Qianqian.
“Memang bisa dibilang penyakit langkah,” jawab wanita tersebut mengembuskan napas panjang. “Dulu Qianqian sering kali datang ke sini akibat kebiasaannya menabrak sesuatu hingga terluka, bahkan pernah melakukan operasi lutut dan berakhir koma selama satu minggu penuh. Akibat pembengkakan sekaligus darah yang tidak kunjung berhenti.”
Mendengar seluruh perkataan kepala dokter di belakangnya, Chou Fei tampak menatap wajah pucat Qianqian yang nyaris seperti mayat hidup. Wanita yang selama ini selalu terlihat glamour dan bahagia di depan televisi, nyatanya kenyataan terberat dalam hidupnya.
“Apakah kasus hemofilia pada wanita sering terjadi, Kepala Dokter Zhou?” tanya Qiling semakin penasaran, sebab ini kali pertama dirinya menemukan pasien yang menderita hemofilia secara langsung.