Bab 1

Tidak seperti biasanya, Mama sudah menunggu di gazebo sewaktu aku pulang dari kampus. Meskipun aneh tapi tetap saja merasa tersanjung dan langsung berjalan mendekat, setelah memarkir mobil persis di samping garasi. Sengaja tidak memasukkannya ke garasi karena sebentar lagi mau pergi lagi, ke toko buku. Ini, pulang sebentar untuk mengambil buku memo yang tertinggal di kamar. Aku mencatat semua buku yang mau kubeli di sana. By the way kapan lagi kan, Mama yang super duper sibuk dua puluh empat jam itu menyambut kepulanganku seperti ini?

"Hai Sayang!" Mama menyapaku dengan kelembutan dan kehangatan yang berjuta-juta kali lipat dari biasanya, "Sudah dari tadi lho, Mama nungguin kamu! Kok, lama banget tadi ke kampusnya?"

Sebenarnya aku deg-degan juga mendengar pertanyaan Mama yang seperti itu tapi jujur, takut untuk membuat kesimpulan. Maksudku, di kamar aku punya schedule board yang cukup besar, sebesar papan tulis di kampus dan kami memakunya dengan tembok di samping pintu kamar bagian dalam. Artinya, setiap kali Mama masuk ke kamar, pasti dia bisa melihat schedule board itu dengan jelas. Well, aku juga menulisnya dengan tulisan yang tidak bisa dikatakan kecil, kok. Sekitar tiga puluh lah kalau misalnya diketik di 'document'. Masa, Mama tidak tahu? Ummm, atau malah belum masuk ke kamarku sama sekali, hari ini?

CATHERINE'S MONDAY

Pagi: Kampus

Siang: Toko buku

Sore: Rumah Ranti

Malam: Di rumah sampai pagi

Nah, sudah jelas dan detail kan, aku menulis jadwal hari ini? Wuaaahhhh, jangan-jangan benar, Mama belum marambah kamarku sama sekali? Ckckckck, benar-benar SBM. Super Busy Mama.

"Maaf Ma, tadi aku ke toko buku dulu. Ini pun bukunya belum terbeli, catatan judul sama penulisnya ketinggalan di kamar." kataku menjelaskan sambil menyalami Mama yang tersenyum penuh pengertian, "Ada apa, Ma?"

Melihat raut wajah Mama yang berbinar-binar seperti itu, rasanya penasaran juga. Jadi, walaupun harus segera kembali ke toko buku, aku menyempatkan diri untuk bertanya. Prinsipku, penasaran adalah penyakit yang paling ganas dalam jiwa manusia. Minimal, menimbulkan penyakit hati yang bernama kepo dan itu bisa berakibat fatal. Salah satunya insomnia, sungguh. Kalau tidak percaya, buktikan saja sendiri. Hehe. Oke, jadi mengingat betapa bahayanya sesuatu yang bernama penasaran itu, takkan kubiarkan diri ini mengalaminya dalam jangka waktu lebih dari sepuluh menit.

"Ada apa, yaaa?" tanya Mama menggoda sambil menggoyang-goyangkan kepalanya yang terlihat lucu, "Pingin tahu aja atau pingin tahu bangeeet, tuuuh?"

Mama tertawa cekikikan setelah itu, membuat rasa penasaran dalam diriku kian membesar dan mengeras. Bukan apa-apa. Masalahnya, semenjak Papa meninggal tiga setengah tahun yang lalu, baru kali ini aku melihat Mama sebahagia ini. Sumpah, aku sampai berpikir, jangan-jangan Mama jatuh cinta lagi? Ingin menikah lagi? Ya, yaaahhh, meskipun tidak rela kalau hal itu terjadi, sih. Who knows?

"Ya, pingin tahu banget lah, Ma!" jujur, aku menjawab, "Ada apa sih, Ma?"

Saat ini Mama tersenyum simpul, menyelam hingga ke dasar bola mataku yang perlahan-lahan menjadi berair dan hangat, membuat seluruh tubuh ini merinding ngeri. Entah mengapa, rasa-rasanya kecurigaanku tadi mendekati kebenaran kalaupun tidak bisa dikatakan benar, Mama jatuh cinta lagi. Jadi, dia menjajaki perasaan dan penerimaanku terhadap pria pilihan hatinya. Ah, belum-belum aku sudah ill feel. By the way punya papa tiri itu seperti apa, sih? Semenakutkan berita-berita yang sering kubaca di media sosial atau tidak? Semenyakitkan itu kah?

"Catherine Alexandra!" panggil Mama dengan nada kesal sambil mengguncang-guncangkan pundakku, "Kok, malah bengong, sih?"

Geragapan, aku menyorot penuh mata Mama dengan mata yang semakin menghangat, "Eh enggg ummm maaf, Ma?"

Sekian detik kemudian, aku berusaha untuk menghalau kecurigaan dan ill feel yang tadi sempat mengikis ketenangan hati. Lebih baik mendengarkan dulu apa yang akan Mama sampaikan. Menyimak dengan sebaik-baiknya, apapun itu.

"Iya udah, udah dimaafin. Tapi kamu janji ya sama Mama, jangan suka bengong lagi ya, Sayang?" Mama menyahut tulus, "Kalau kamu suka bengong gini kan, Mama jadi khawatir, Catherine?"

Refleks, aku menggeleng-gelengkan kepala, meyakinkan Mama, "Nggak kok, Ma. Aku nggak suka bengong lagi. Mungkin tadi itu karena belum jadi ke toko buku!"

Baik Mama maupun aku sama-sama tersenyum setelah itu, senyum lebar yang berujung pada tawa kecil. Kami memang begini kalau sedang berdua. Saling menghadiahi senyum atau tertawa kecil bersama-sama. Kalau tidak, bercanda atau berbincang-bincang dari hati ke hati. Sebenarnya ini kebiasaan baru, sih. Terutama setelah aku mulai kuliah, tiga tahun yang lalu. Menurutku, bukan hanya karena itu saja sih tapi juga karena Papa meninggal dunia. Well, mungkin Mama bangga karena aku diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Umum universitas negeri yang terkenal di Yogyakarta. Tapi meninggalnya Papa juga faktor yang cukup besar untuk Mama memberikan perhatian lebih padaku. Buktinya, setelah itu Mama menambah waktu untuk Family Time. Bukan hanya weekend tapi juga di sela-sela waktunya bekerja sebagai ahli gizi di rumah sakit-rumah sakit besar di seluruh pelosok Negeri.

"Catherine?" panggil Mama dengan nada serius setelah tertawa kami terhenti secara alami dan tanpa menunggu aku menyahut dia melanjutkan, "Kamu sudah besar sekarang, sudah saatnya kamu tahu …!"

Dug!

Begitulah bunyi detak jantungku setelah mendengar kata-kata pembuka Mama. Sudah besar, sudah saatnya aku tahu? Hei, what is that? Huaaa, benar kan, kecurigaanku tadi? Mama pasti mau menikah lagi kan, yang berarti akan ada seseorang yang bernama papa tiri dalam hidupku? Ya ampuuun! Kenapa harus sekarang, sih? Di saat aku sedang serius dan fokus menyusun TAS. Tugas Akhir Skripsi. Kenapa tidak besok saja, setelah aku lulus dan menikah dengan Prima. Jadi kan, sudah ada seseorang yang menjaga dan melindungiku? Eh! Tapi kan, Mama belum tahu soal hubunganku dengan Prima?

"Kamu kenapa, Sayang?" alih-alih melanjutkan penjelasannya, Mama justru bertanya padaku, "Kamu nggak apa-apa kan, Catherine? Ayo cerita sama Mama, ada apa, Sayang? Ada masalah apa, hemmm?"

Kali ini aku merasa Mama benar-benar perhatian jadi aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hati dengan jujur, sejujur-jujurnya. Perlahan-lahan namun pasti aku menyusun kata-kata agar tidak menyinggung atau malah menyakiti hati Mama. Bagaimana pun kan, Mama itu harta kekayaan yang paling berharga dalam hidupku. Di bawah telapak kakinya, Allah ciptakan Surga.

"Mama?"

"Iya, Sayang?"

"Aku nggak keberatan kalau enggg Mama enggg misalnya Ma---"

"Walah, kamu kenapa sih Sayang, kok malah ang eng ang eng. Bicaralah yang jelas, yang tenang. Mama nggak apa-apa, kok."

Sejenak, aku memindai kejujuran kata-kata Mama, "Mama jangan nikah dulu ya, kalau aku belum lulus kuliah?"

Bukannya menanggapi, Mama malah tertawa terpingkal-pingkal, terjungkal-jungkal. Jujur, aku jadi kikuk dan bingung tapi mendadak kehabisan kata-kata. Speechless.

"Catherine, Catherine!" kata Mama sambil menyeka air matanya yang merembes, "Lha yang mau nikah itu siapa? Hahahaha. Cinta Mama cukup untuk Papa seorang, Sayang. Cinta sehidup semati, dunia akhirat. Hahahaha … Catherine, ada-ada saja?"

Rikuh sekaligus malu, aku bertanya, "Jadi, ada apa, Ma?"

Mama tersenyum simpul, manis sekali. Senyum yang mempertegas gambaran kebahagiaan yang terpancar penuh di wajahnya, "Catherine, dengerin baik-baik, ya?"

Dalam kebingungan sekaligus ketakutan yang mendera, aku mengangguk lalu tanpa menunggu detik-detik berganti, Mama mengatakan, "Sebenarnya, Papa dan Daddy sudah menjodohkan kamu sama Figo!"

Haaa, whaaat?

Bab 2

Figo?

Bagaimana bisa, Papa menjodohkan aku dengannya? Apa masih kurang jelas, kalau dia itu tipe laki-laki yang sok tahu, sok tampan, usil dan sukanya tebar pesona? Kalau tebar pesona saja tapi tidak suka berdandan sih, tidak apa-apa. Lah ini, sebentar-sebentar memakai hand & body lotion, face cream, hair lotion … Menyisir, bercermin dan selfie, seolah-olah dirinya adalah artist terkenal di seluruh penjuru dunia. Oh God, benarkah Papa tidak tahu akan hal itu?

"Catherine?" Mama melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku, "Kamu kenapa, nggak apa-apa, kan?" Mama bertanya seolah-olah berita tentang perjodohan yang baru saja disampaikannya itu tadi hanyalah isapan jempol belaka. selevel berita seperti ini, "Catherine, weekend ini nanti kita sama Mommy plus Figo mau berlibur ke Bali, lho. Kamu ikut, kan?"

OK!

Kalau beritanya seperti itu sih, aku santai. Super duper tenang. Tapi kalau yang ini, soal perjodohan crazy ini, mana mungkin bisa tenang? Sumpah! Seumur-umur, belum pernah aku seemosional ini di depan Mama. Jangankan emosional, mungkin aku malah sudah mati rasa setiap berhadapan dengan Mama yang misterius plus full surprise, sungguh. Sekali lagi kukatakan, ini masalah perjodohan, lho. Bukan hanya menyangkut masa depan tapi juga hidup dan mati. Lahir batin, dunia dan akhiratku.

"Figo, Figo …?" gumamku setengah menceracau, "Figo anak Mommy-Daddy, saudara sepupu aku, Ma?"

Fiyuuuhhh, leganyaaa!

Akhirnya bisa juga membuka suara, berusaha menyanggah yang notabene menolak. Menolak dengan keras, sekeras-kerasnya, "Tapi kan Ma, mana mungkin kami menikah?"

Sekarang tubuhku sudah terlanjur oleh keringat dingin. Gemetar, nyaris menggigil. Lupakanlah soal bagaimana Figo membawa diri karena itu tidak penting sama sekali. Bagiku, yang terpenting adalah bagaimana caranya memberikan pemahaman pada Mama kalau perjodohan itu tidak mungkin terjadi. Siapa pun yang telah menulis surat wasiat untuk kami, bahkan kalau itu Oma, Opa atau semua leluhurku sekali pun. Karena apa? Ya ampuuun! Bagaimana dengan Prima nanti dan bagaimana diriku sendiri? Bagaimana masa depan ikatan cinta dan janji suci kami?

Sumpah, andai tiba-tiba langit runtuh pun aku tetap tidak mau menerima perjodohan itu. Tidak akan pernah. Karena bagiku itu terlalu crazy! Atas dasar apa coba, Papa memilih Figo untuk menjadi pasangan hidupku? Kepiawaiannya untuk tebar pesona?

"Kamu jangan gitu, Catherine!" Mama tersenyum, berujar lembut, "Figo kan, anaknya baik. Sebentar lagi, lagi sudah jadi dosen akuntansi. Coba, apa nggak prestise, i---"

"Nggak mungkin, Ma!" aku menjerit putus asa, "Nggak mung---"

Bib, bib!

(Suara klakson mobil Mommy)

"Nah, itu Mommy sama Figo sudah datang!" Mama berseru dengan wajah berbinar-binar, seolah-olah aku tidak sedang meradang dan kritis.

Ugh, Papa!

Mommy turun dari mobil dengan wajah sumringah, berlipat-lipat dari biasanya---Mommy tipikal orang yang murah senyum dan suka bercanda---memaksa Figo turun lalu menyapa Mama, kakak kembarnya. Disapa seramah itu oleh adik kembarnya, Mama langsung bangkit dari posisi duduk selonjor bersandar ke dinding, berdiri menyambut. Sumpah, seberbinar apa pun wajah Mama kali ini, sama sekali tidak bisa menghadirkan rasa haru dalam hatiku. Jangankan terharu, bersyukur pun tidak sama sekali. Sorry, kalau terkesan anak durhaka tapi kekecewaan di hati tidak bisa dibawa tenang dan baik-baik saja.

Bukan hanya kecewa sebenarnya tapi juga marah, walaupun tidak tahu, harus marah pada siapa. Papa, tidak mungkin lagi. Mama? Jujur, aku ragu karena dalam hal Mama tidak sendiri. Ada Mommy yang akan berjuang bersamanya. Wuaaahhh, bisa gawat urusannya. Gawat kuadrat. Mommy memang murah senyum dan suka bercanda tapi sekalinya mengambil sikap tegas dan keras, jangan tanyakan lagi bagaimana akibatnya!

"Figooo, ayo sini?" Mommy berseru memanggil Figo yang masih duduk bersedekap di belakang setir, "Ini, sudah ditunggu Mama ini, lho! Mumpung ada Catherine juga di rumah. Buruan gih, Figo?"

Tahukah kalian, apa yang terjadi?

Figo malah memutar balik mobilnya dan pergi entah ke mana. Ahaaa, yes!

Setidaknya, sampai di titik ini aku jadi tahu kalau Figo juga menolak perjodohan ini. Jadi, aku tidak sendirian, pastinya. Bisa saja kan, kami bekerja sama? Walaupun tidak nyaman dengan segala tingkah lakunya, tapi demi batalnya perjodohan ini, mengapa tidak?

Why not?

***

Bali, 16 Juni 2016

Kepada Puteriku tercinta

Catherine Alexandra

Puteriku, ini wasiat dari Papa untuk kamu. Jangan sekali-kali kamu langgar wasiat ini ya, Puteriku tercinta tiada tara? Kalau kamu sudah dewasa nanti dan sudah sampai saatnya berumah tangga, menikahlah kamu dengan Figo. Karena Papa dan Daddy sudah menjodohkan kalian, Catherine Alexandra dan Figo Galaxy.

Salam cinta dan kasih sayang,

Papa Alexandre Moeja

Menyetujui: Daddy Vicko Galaxy

Jika tidak mengingat Mama, mungkin aku sudah merobek-robek surat wasiat Papa, sungguh. Tidak terima dan tidak rela. Itu yang kurasakan saat ini. Terlebih setelah membacanya berulang-ulang dan ternyata tidak ada yang berubah sedikit pun yang berarti itu nyata. Bukan mimpi dan bukan pula rekayasa. Terlebih, Papa membubuhkan tanda tangan di atas materai. Begitu juga dengan Daddy.

"Gimana, kamu sudah yakin, sekarang?" Mama bertanya sambil memindai dusta di dalam diriku, "Mama nggak pernah main-main, Catherine. Begitu juga dengan Mommy. Jangan khawatir!"

Ya, aku tahu, mereka tidak pernah main-main. Apalagi untuk hal yang sepenting dan segenting ini, sedangkan untuk hal-hal yang levelnya di bawah ini saja sudah luar biasa. Pernah dulu, mereka mengamuk gara-gara aku dan Figo pulang kemalaman waktu jalan-jalan di pantai Depok. Bukan mengamuk marah-marah, tapi menangis meraung-raung, khawatir kalau kami tergulung ombak. Padahal sebelumnya sudah meminta izin dan konfirmasi kalau pulang malam karena kami berombongan dengan teman-teman sekelas. Tidak mungkin pulang lebih awal, kan? Wuaaahhh, mereka heboh kuadrat. Bayangkan, betapa gawatnya psikis Mama dan Mommy!

"Tapi Catherine nggak mau, Mama!"

"Harus!"

"Nggak!"

"Catherine?"

"Mama?"

***

Pling, pling, pling!

[Lex, asal kamu tahu aja ya?]

[Aku gak mau dijodohin sama kamu!]

[Jangan gede rasa kamu!]

Figo mengamuk di chat room tapi aku bersikap seolah-olah tidak peduli. Biar saja dia mengamuk, yang penting aku tidak seperti yang dia pikirkan. Lagi pula, apa untungnya melayani orang yang sedang mengamuk? Tidak ada, kan? Nah, dari pada terlibat lebih lanjut dalam amukan Figo yang seperti petir menyambar tumpukan jerami lebih baik menemui Prima.

Tadi aku sudah chat, katanya kami bisa bertemu di Titik 0 KM. Jadi, tunggu apa lagi? Lebih baik segera mandi, ganti baju dan dandan yang cantik. Namanya juga mau bertemu dengan kekasih hati, harus tampil maksimal, dong?

By the way tentang perjodohan crazy itu sebenarnya aku pun ingin mengamuk sama seperti Figo. Bedanya, aku masih bisa waras sedangkan dia, tidak. Lihatlah, bagaimana caranya mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan! Childish sekali, bukan? Hahahaha, seperti itu Mama bangga sekali padanya karena sudah mau selesai menyusun skripsi, terus sebentar lagi wisuda. Bisa membayangkan tidak sih, akan menjadi seperti apa mahasiswanya kalau si Dosen childish? Ummm, ckckckck, bisa-bisa bahaya. Lucunya, tebar pesona dan hobi dandannya itu lho, tidak matching sama sekali dengan profesi yang menjadi cita-citanya. Ah! Kenapa dulu tidak memilih jurusan modelling, fashion designer atau apa begitu yang pas dengan hobi dandan dan tebar pesonanya?

Pling, pling, pling!

[Reply!]

[Reply!]

[Reply!]

Haha. Kadang-kadang Figo memang seperti itu. Egois, emosional. Lah, EGP! Emang Gue Pikirin? Intinya sih begini, aku tidak mau punya suami seperti dia. Titik.

Bab 3

Tanpa menghiraukan Mama yang dengan emosionalnya memanggil-manggilku dari balkon, aku terus melaju bersama Breva, mobil kesayangan. Bukan, tentu saja ini bukan hal yang biasa terjadi, percayalah. Walaupun terlahir sebagai anak semata wayang dari Mama dan Papa, tidak lantas membentukku menjadi anak yang tidak tahu tata krama atau semacamnya. Pure, ini karena Prima sudah menunggu di Titik 0 KM. Bagaimana mungkin, membiarkan beloved fiance menunggu terlalu lama di sana? Jujur, selain tidak sampai hati, aku juga mudah terbakar api cemburu. Mencegah lebih baik dari pada mengobati, kan?

Nah, kalau Mama saja bisa kuabaikan, bagaimana lagi dengan Figo yang hanya saudara sepupu? Ummm, yaaahhh, walaupun sekarang ini aku tidak bisa menganggapnya enteng sih. Bukan apa-apa. Bisa saja kan, akhirnya dia menerima perjodohan ini walaupun yang kutahu dia sudah punya pacar? Tidak tahu pasti yang mana tapi menurutku kalau bukan Shade ya Hakaci. Dua orang itu sih, yang terlihat dekat dengannya.

Maksudku, pasti menjadi masalah besar kan, kalau dia menerima? Ummm, pasti Mommy yang ambisius itu mati-matian membujuk Mama untuk meluluhkan hatiku. Wuaaahhh, bahaya! Bisa-bisa rumah yang selama ini selalu memberikan kedamaian dan kebahagiaan, terisi dengan perang dingin. Apa tidak memprihatinkan kalau seperti itu kejadiannya?

Twiiiwiiing, twiiiwiiing!

Twiiiwiiing, twiiiwiiing!

Sambil membelokkan mobil ke arah Malioboro, aku melirik Sweety, smartphone yang terletak di atas dashboard. Ternyata new chat dari Figo. Hemmm, dia pasti masih belum waras juga. Pasti, masih berpikir kalau aku enjoy atau bahkan happily menerima wasiat Papa dan Daddy. Hemmmhhh, Figo, Figo!

"Kamu, kapan dewasanya sih, Go?" aku bergumam jengkel pada bayangannya yang sibuk mondar-mandir dalam benak, "Emang, cuma kamu aja, yang shocked? Aku juga, tahu? Tapi kan harus main teror chat gitu juga, kan? Kayak aku yang tergila-gila sama kamu saja?"

Sejujur-jujurnya kuakui, ini bukan perkara ringan. Bisa saja Mama dan Mommy bersikukuh atau malah memaksa kami untuk tetap menikah, apa pun yang terjadi. Masalahnya jelas, surat wasiat … Aneh! Kok, selama ini Papa tidak pernah memberikan isyarat tentang perjodohan kami, ya? Tidak, seingatku tidak sama sekali. Bahkan, kadang-kadang Papa bersikap galak---dulu waktu aku dan Figo masih SMP--setiap aku ikut bermain layang-layang di lapangan. Bukan hanya itu, bahkan membonceng sepedanya pun Papa terlihat tidak senang. Masam begitu, wajahnya. Sungguh. Tak jarang juga, Papa memarahi Figo karena dia sering bersikap usil. Menakut-nakuti dengan belalang, kupu-kupu atau laba-laba, hewan yang membuat aku mengidap fobia serangga.

Wuaaahhh, ini pasti sandiwara, kan?

***

Prima sudah menungguku di bangku kayu dengan dua cup cokelat---sepertinya hangat, kulihat tidak ada pantulan es di lapisan luar cup---satu kotak martabak manis dan satu kantong kertas French Fries. Semua itu makanan favorit kami setiap lali hangout. Sumringah, Prima berdiri menyambut kedatanganku yang dengan tangan kosong tanpa secuil pun makanan. Ya, kalau dalam keadaan normal dan baik-baik saja sih, aku yang selalu menyediakan makanan plus minuman untuk kami. Bukan Prima. Ah, sekali-kali, tidak masalah bukan? Prima juga terlihat enjoy saja, kok.

No problem!

"Kamu ke mana dulu sih, Sweety?" Prima bertanya gemas, "Aku kan jadi khawatir?"

Tentu saja aku terharu, mendapatkan sambutan yang sehangat itu dari Prima, my beloved fiance. Duh, runyam juga rasanya otakku, setiap kali teringat perihal perjodohan crazy itu. Harus bagaimana aku menceritakan semua itu pada Prima? Bagaimana cara memulainya? Apa tidak membahayakan keharmonisan kami? OMG! Sepertinya Mama sudah keracunan tape ketan buatan Mommy, deh? Ah, mungkin Mommy terlalu banyak memasukkan ragi!

"Sorry Prim, tadi aku ada urusan dikit sama Mama." kataku sambil terus menepis kegelisahan yang malah semakin angkuh merajai hati, "Makanya sampai telat gini!" imbuhku meyakinkan, "Eh tapi sekarang sudah selesai kok, tenang sa---"

"Sweety, kamu kenapa?" tanpa kusangka-sangka sebelumnya, Prima memotong kata-kataku, "Ada apa Sweety, kok kamu kelihatan gelisah begitu?"

Dug!

Begitulah bunyi detak jantungku waktu mendengarkan semua pertanyaan Prima yang penuh dengan perhatian. Jadi, Prima tahu kalau aku porak poranda di dalam? Tapi dari mana dia tahu? Aku kan, sudah menutupinya dengan sikap santai dan ceria seperti biasa? Emmmhhh, sepertinya aku harus melakukan self healing nanti, begitu selesai mandi di rumah. Bahaya. Masa, calon dokter kok, gagal rileks? Ya, sebenarnya kalau ada yang patut untuk disalahkan sih, Mama lah orangnya. Siapa lagi? Mama, Papa, Mommy dan Daddy. Titik.

"Sweety, are you OK?" Prima mencolek lembut pucuk daguku, "Gimana, acara book hunting tadi, asyik?"

Fiyuuuhhh, leganyaaa!

Syukurlah, kalau Prima berpikir aku gelisah seperti ini hanya karena masalah kampus dan kawan-kawannya. Bukan apa-apa. Masalahnya, tidak mungkin kan, aku menceritakan masalah yang kuberi nama bom nuklir itu sekarang? Kalaupun bagi Prima tidak masalah, aku yang belum siap. Jangankan bercerita, kata-katanya pun aku tidak punya.

"Ummm, aku nggak apa-apa kok, Prim!" sahutku setelah menyeruput colelat hangat, "Nggak jadi beli buku tadi, sibuk bantuin Mama di rumah."

Prima memindai bola namaku, "Ooohhh, serius kamu nggak apa-apa? Kalau ada apa-apa, kamu selalu punya aku ya, Sweety? Jangan lupa itu!"

***

Beruntungnya aku punya Prima!

Orangnya simple dan easy going. Praktis, realistis dan tidak mudah cemburu. Sepertinya hampir berseberangan denganku sih tapi dia tidak pernah mempermasalahkan. Terpenting, aku menyayangi, mengasihi dan mencintainya selama-lamanya. Ah, satu lagi. Prima hanya menuntutku untuk selalu bersikap jujur, tidak ingkar janji apalagi sampai berkhianat. Itu saja, sungguh. Masalah aku mau apa, ini, itu tidak masalah selama masih dalam kebaikan dan tidak melanggar hukum. Hehe. Bagaimana, amazing tralala kan, calon suamiku?

Nah, sudah begitu bahagianya aku bersama Prima, masa malah harus hancur hanya demi Figo yang jauh dari kriteriaku, sih? Jauuuhhh sekali---seperti timur dan barat---dengan Prima. Dia memang selalu tampil bersih, rapi dan wangi tapi bukan karena suka berdandan apalagi mandi parfum, tidak sama sekali.

Catherines Note: Kalau sampai Mama memaksa aku untuk tetap nikah sama Figo, aku akan pergi. Kawin lari sama Prima. Prima pasti setuju dan otomatis kami bisa hidup bahagia selama-lamanya.

"Catherine?" Mama memanggil sambil mengetuk pintu kamar, "Catherine, buka pintunya dong, Mama mau bicara penting!"

Duh, apalagi sih, Mama?

Tidak bisakah Mama membiarkanku bernapas lega sebentar saja? Lagi pula, kenapa sih harus membahas tentang masalah itu terus? Tidak tahukah Mama, menyusun skripsi itu bukan pekerjaan yang mudah? Kalau bagi Mama mudah atau sangat mudah, bagiku sebaliknya, tentu saja. Heran, apa sih, bagusnya perjodohan? Di mana coba, letak kehebatan orang tua yang berhasil memaksa anaknya menikah dengan jodoh pilihannya? Tidak ada, kan? Ah, memangnya, mereka dulu juga dijodohkan?

Tok, tok, toookkk!

"Catherine, buka pintunya, Sayang?" kata Mama lagi dengan penuh harapan, "Itu, ada Mommy di bawah, mau ngajakin kaku beli cincin …!"

Duaaarrr …!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED