Bab 1

Di sebuah kamar bernuansa klasik, dinding bercat putih, dihiasi tirai dan gorden tipis berwarna senada dan dilengkapi perabot dan pernak-pernik yang juga berwarna dominasi putih. Ditengah ruangan, terdapat sebuah tempat tidur berukuran sedang dengan sprei berwarna nude. Di atas tempat tidur itu, berbaring seorang gadis berkulit sawo matang, rambutnya terurai bergelombang.

Dialah Cheva, Cleo Alineava Lynn. Putri tunggal dari Alianro Lynn dan Dewi Rahwani. Keduanya bukan orang berada. Alianro Lynn hanyalah seorang karyawan biasa dari kedutaan besar Belanda untuk Indonesia. Ia bertemu Dewi Rahwani saat kunjungan kerjanya ke Bandung, dua puluh lima tahun yang lalu. Keduanya saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Setelah Cheva lahir, Alianro dipindah tugaskan kembali ke Belanda. Dewi dan Cheva mengikuti Alianro dan pindah ke Belanda. Namun, setelah Cheva menyelesaikan sekolahnya, ia memilih melanjutkan kuliah di Indonesia.

Cheva ingin mengenal keluarga Cheva di Indonesia - begitu alasannya dulu.

Dan di sinilah ia kini. Setelah menyelesaikan kuliah jurusan kesekretarisannya, Cheva juga memilih melanjutkan karirnya di Indonesia. Ia belum memiliki keinginan untuk kembali ke Belanda.

"Non Cheva ... " terdengar ketukan di pintu kamar Cheva beberapa kali. Gadis itu menggeliat, "Noon, Non Cheva. Banguuunnn, udah jam berapa. Katanya mau ke bandara jemput Ibu!!!" Cheva terhentak bangun.

"Oh my God! Bodoh, Cheva!" upatnya sambil bergegas turun dari kasur, "Iya, Biiikk. Cheva mau langsung mandiii!!!!!" teriak Cheva dan langsung berlari ke kamar mandi.

***

"Sarapan dulu, Non ..." Cheva menggeleng.

"Tidak sempat, Bik. Nanti Cheva terlambat. Cheva sarapan di bandara saja. Bye, Bik..." Cheva bergegas meraih kunci mobilnya meninggalkan Bi Inah, asisten rumah tangga yang disiapkan Dewi untuk menjaga Cheva selama di Indonesia.

Cheva mengemudikan mobilnya menuju Bandara. Pagi ini, pesawat yang ditumpangi Ibunya akan tiba di Jakarta. Jadwalnya pukul 10.00 dan sekarang sudah pukul 09.00. Kondisi jalanan dari rumahnya ke Bandara Soetha hanya memakan waktu sekitar satu jam, jika tanpa macet. Tapi, sejak kapan Jakarta tidak macet bukan?

Sepanjang perjalanan, Cheva terus mengutuk kebiaaannya yang tidak pernah bisa bangun pagi. Dulu sewaktu sekolah, ia rajin bangun pagi. Tentu saja, karena pilihannya adalah bangun atau ia akan basah kuyup oleh air dingin. Tapi sejak ia tinggal sendiri, siapa yang berani mengguyurnya dengan air es? Bi Inah? Keberanian tertinggi Bi Inah hanya sampai berteriak marah. Itupun karena Cheva nekat melukai tangannya saat ngotot ingin membanfu Bi Inah masak di dapur.

Cheva tiba di Bandara pukul 10.30, ia langsung menuju lobby kedatangan. Ketika sampai di sana, petugas bandara memberi kabar bahwa pesawat yang membawa ibunya terkena delay. Sehingga kedatangannya terlambat 1 jam. Cheva bernafas lega. Setidaknya ia tidak akan mendengar ocehan ibunya pagi ini karena terlambat.

"Terima kasih, Pak," ucap Cheva lalu berbalik meninggalkan lobby kedatangan.

Cheva merasakan perutnya berbunyi.

"Sial, aku belum makan apapun pagi ini. Lebih baik aku pergi ke Starbucks saja. Mom masih lama ini juga..." Cheva berjalan menuju gerai Starbucks.

Setelah memesan beberapa menu, Cheva kemudian memilih kursi yang sedikit berada di pojokan. Tidak terlalu dalam, kursi yang Cheva pilih berhadapan dengan pintu masuk. Siapapun yang masuk dapat langsung melihat keberadaan Cheva.

Setelah menghabiskan makanannya, Cheva melirik jam di tangannya.

"11.05," gumamnya. Seharusnya pesawat yang membawa ibunya sudah tiba sekarang. Cheva kemudian buru-buru membereskan barang-barangnya.

Karena sedikit tergesa-gesa, Cheva tidak melihat bahwa ada seseorang yang masuk ke dalam Starbucks. Akibatnya, keduanya bertabrakan.

"Aww, Sorry!!" teriak Cheva. Ia memegangi kepalanya yang sepertinya membentur tubuh seseorang. Cheva mendongak.

Di hadapannya berdiri seorang laki-laki berjas lengkap berwarna navy dipadukan dengan dasi berwarna senada. Tingginya jauh melebihi tinggi Cheva dan sepertinya Cheva membentur dada laki-laki itu.

Laki-laki itu hanya menatap lurus kearah Cheva tanpa mengucap sepatah kata apapun. Sejenak Cheva sempat terpaku karena ketampanan dan aroma maskulin yang menyeruak dari laki-laki itu. Namun lama kelamaan, Cheva sedikit merasa jengah karena laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan yang ... entahlah, Cheva hanya merasa tidak nyaman.

"S... sorry..." Cheva bergerak sedikit mundur. Dan gerakan Cheva itu menyadarkan laki-laki itu.

"No, problem. Excuse me, you waste my time, Nona..."

"Wh... what?!" laki-laki itu berlalu meninggalkan Cheva yang baru saja hendak menjawab. Namun ia urungkan. Cheva menghela nafas kesal. Ia kemudian buru-buru keluar dari Starbucks.

Kalau saja ia juga tidak sedang dalam urusan penting, Cheva tidak akan membiarkan laki-laki itu. Bagaimana mungkin? Laki-laki itu bahkan tidak meminta maaf sedikitpun. Apakah ini murni kesalahan dan kecerobohan Cheva sendiri? Hey! Dia juga ceroboh saat memasuki Starbucks. Apalagi tatapannya itu. Astaga, Cheva sangat membenci tatapan seperti itu. Tatapan penuh nafsu, tatapan mengintimidasi.

"Dasar laki-laki mata keranjang!!!" ucap Cheva kesal, "Kalau bertemu lagi dengannya, aku akan beri dia pelajaran!!!"

***

"Aku benar-benar tidak punya waktu sekarang, San. Cepat kau kirimkan file itu ke emailku sekarang. Pesawatku akan berangkat setengah jam lagi. Okay, ku tutup!" Devan memasukan kembali handphone ke saku jasnya. Baru saja ia hendak membuka pintu Starbucks, seorang gadis justru tiba-tiba menabraknya dari dalam.

"Aww, sorry!" ucap gadis itu. Ia menggosok kepalanya yang membentur dada Devan dan mendongak.

Devan terpaku.

Mata gadis itu biru. Bagaimana mungkin ada gadis Indonesia dengan kulit sawo matangnya namun memiliki bola mata berwarna biru cerah seperti itu.

Tanpa sadar, Devan menatap gadis itu lamat.

"S... Sorry!" ucap gadis itu lagi sambil mundur beberapa langkah. Devan tersadar dari tingkah konyolnya yang menatap gadis itu.

"No problem. Excuse me, you waste my time, Nona!" ucap Devan sambil berlalu. Ia sempat melihat gadis itu hendak menjawab namun urung.

Setelah memilih kursi, Devan sempat melihat gadis itu berbalik dan berjalan sambil mengomel.

"Gadis yang aneh. Kenapa dia berjalan sambil berbicara sendiri?!" Devan menggeleng.

Perhatian Devan kemudian beralih ke ponselnya yang berdering. Sandra, sekretarisnya mengirimkan file yang ia perlukan untuk meeting hari ini di Bali. Biasanya Devan akan menggunakan pesawat pribadinya untuk pergi kemanapun, namun kali ini, karena beberapa alasan, ia harus menggunakan pesawat komersil.

Ponsel Devan berdering kembali. Tertera sebuah nama di sana.

Fiona.

"Ya, ada apa, Fi?"

"Kau sedang di kantor?"

"Apa? Tidak, aku sedang di bandara."

"Bandara? Sedang apa? Kau mau kemana, Dev?"

"Apa? Tidak, tidak. Aku akan ke Bali, ada meeting dengan Client sore ini... "

"Kau tidak memberi tahu apapun kalau kau ingin ke Bali!"

"Aku sudah memberi tahumu berulang-ulang. Itu menandakan, kau sama sekali tidak peduli dengan yang aku katakan."

"Devan, you're my fiance. Seharusnya kau juga mengajakku ikut serta!"

"Fio, listen to me. Kita sudah sama-sama dewasa. Kau tidak perlu berlaku konyol seperti ini. Aku pergi untuk bekerja, bukan untuk liburan. Sudahlah, ku tutup."

Devan memblokir panggilan dari Fiona. Ia juga mengirimkan pesan ke asistennya untuk tidak merespon panggilan atau pesan apapun dari Fiona. Devan tahu, Fiona akan membuat rusuh satu kantor setelah ia memutuskan sambungan telponnya. Apalagi Devan dengan sengaja memblokir panggilan. Hal ini akan membuat Fiona semakin frustasi.

Tunangan yang merepotkan, ucap Devan kesal.

***

Bab 2

Cheva memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Ia baru saja kembali dari mengantarkan sang ibu ke supermarket untuk membeli bahan-bahan makanan. Sejak kedatangannya dua hari yang lalu, aktivitas Cheva di rumah lebih banyak diganggu dengan urusan-urusan receh sang Ibu, seperti mengantarkan Dewi ke arisan, reuni rekan SD, SMP, SMA, dan bla-bla-bla, masih banyak lagi. Meskipun sebenarnya Dewi bisa menyetir mobil sendiri, namun ia memilih untuk diantarkan saja.

"Kan mommy sudah lama tidak nyetir di Indonesia, Va." begitu ucapnya pada Cheva kemarin.

Setelah membawa turun semua belanjaan Dewi, Cheva kemudian memilih untuk pergi ke kamar tidurnya.

"Kamu mau kemana, Va?" tanya Dewi saat melihat Cheva sudah bersiap berbalik.

"Ke kamar, Mom. Mau cek email. Siapa tahu sudah ada panggilan kerja." Dewi mengangguk. Ia tidak mau mengganggu urusan anak gadisnya itu kali ini.

Sesampainya di kamar, Cheva langsung membuka Macbook-nya dan mengakses email pribadinya. Banyak sekali email masuk. Tapi, pandangan mata Cheva tertuju ke salah satu email.

"Aaaakkk...!!" pekiknya penuh semangat saat membaca pengirim email tersebut.

hrd@edtech.id

<Good Morning, Ms. Lynn. I am glad to inform you that you are selected. We're inviting you to come to ED Technology on Monday, January 26th, 2022. 08.30 AM. - Joana Sandra>

Cheva hampir menangis setelah membaca email tersebut karena begitu senangnya. Ia kemudian berlari menuju dapur dan memeluk Dewi yang saat itu sedang memasak.

"Mooommmm!!!!" teriak Cheva penuh semangat.

"Wh... What, what happened , Va??" Cheva tersenyum.

"Cheva diterima kerja di perusahaan internasional itu, Mom!!!"

"Really???" Cheva mengangguk, "Oh, My Darling. Congratulation..." Dewi memeluk anak gadisnya erat, "Haruskah kita memberi tahu your Dad now?" Cheva menggeleng.

"Nanti saja, Mom. Besok Cheva diminta datang dulu. Kalau semua sudah jelas dan pasti, baru kita kabari Dad..." Dewi kemudian mengangguk menyetujui ucapan anak gadisnya.

***

Devan baru saja tiba di kantornya. Meetingnya hari ini berjalan cukup lancar. Namun seperti biasa, Devan sangat membutuhkan seorang sekretaris. Ia tidak bisa mengandalkan asistennya untuk mengatur jadwal sekaligus menyiapkan bahan meetingnya. Setelah satu bulan kepergian sekretarisnya yang lama, Sandra, pekerjaan Devan cukup melelahkan dan membingungkan dirinya. Karena biasanya selama ini, semua keperluan Devan di handle oleh sekretarisnya.

"Morning, sir..." Joana masuk ke dalam ruangan Devan setelah mengetuk pintunya beberapa kali.

"Ya. Ada apa, Jo?" Joana menyerahkan map kertas berlogo ED Technology kepada Devan.

"This is your new secretary's document, sir. Saya sudah memeriksanya dan menghubunginya untuk datang besok pagi..." Devan mengangguk. Ia meletakkan map tersebut di tumpukan file yang akan ia periksa.

"I'll check it later. Kau sudah lihat kualifikasinya? Kau tahu, sekretarisku tidak bisa hanya bermodal nilai tinggi saja bukan..." Joana mengangguk.

"Of course, sir. Sesuai dengan kualifikasi yang anda minta, saya sudah seleksi kali ini dengan baik. Tapi, sir..." ucapan Joana terhenti. Devan menatapnya.

"Ada apa?" Joana nampak ragu mengucapkan hal yang sedang ia pikirkan.

"Apakah ... tidak masalah untuk Nona Fiona?" Devan menghela nafas.

"Ini adalah kantorku. Aku yang tahu kebutuhan pekerjaanku. Kau tidak perlu khawatir. Aku yang akan menghadapinya jika terjadi sesuatu. Pastikan saja kau laporkan semua yang terjadi di kantor ini padaku saat aku tidak ada di sini..." Joana mengangguk.

"Okay, sir..."

"Kau bisa lanjutkan pekerjaanmu." Joana mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruangan Devan.

Setelah kepergian Joana, Devan tertarik untuk melihat profil calon sekretarisnya yang baru. Sebelumnya, ia memang memberikan beberapa kriteria khusus kepada Joana dalam menyeleksi calon sekretaris pribadi untuknya. Kriteria itu antara lain masih muda, berpengalaman dalam bidang kesekretarisan, berpenampilan menarik dan pandai dalam public speaking.

Sekretaris Devan sebelumnya wanita berusia 35 tahun, namun Fiona memecatnya tanpa sepengetahuan Devan dengan alasan cemburu buta. Kemudian, Devan merekrut sekretaris baru yang lebih tua dari sekretarisnya yang lama. Fiona tetap berulah dengan meneror sekretarisnya itu dengan pertanyaan-pertanyaan konyol tentang Devan hingga membuat suami dari sekretarisnya itu merasa keberatan.

Kali ini, Devan tidak akan membiarkan Fiona untuk ikut campur dalam urusan kantornya lagi. Semenjak ia dan Fiona memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius, tingkah aneh Fiona semakin terlihat hingga membuat Devan semakin tidak nyaman untuk melanjutkan hubungan mereka.

Setelah Devan membuka map biodata calon sekretarisnya yang baru dan menatap foto closed up dalam map tersebut, tubuh Devan terpaku. Gadis di foto tersebut membuatnya terdiam.

"Gadis ini..."

Masih jelas diingatan Devan saat ia memasuki restauran di Bandara beberapa hari yang lalu. Gadis bermata biru itu! Devan tidak mempercayai pandangannya. Mana mungkin gadis yang berada di foto tersebut adalah gadis yang sama yang ia temui di restaurant kemarin.

Devan tersenyum.

"Kebetulan yang sangat luar biasa. Semesta yang membawamu kehadapanku..." gumam Devan. Ia kemudian membaca curriculum vitae milik gadis itu, "Cleo Alineava Lynn. Nama yang unik..."

Setelah pertemuan pertamanya, Devan benar-benar tertarik dengan gadis bermata biru itu. Baru kali ini Devan merasakan getaran aneh saat ia berada di sisi seorang wanita. Bahkan saat ia mengira bahwa ia jatuh cinta pada Fiona dulu, ia sama sekali tidak merasakan getaran apapun. Bahkan saat mereka berciuman. Ia hanya merasa membutuhkan sosok Fiona dalam kehidupannya dan Devan pikir dia sedang jatuh cinta.

Tapi, kenapa saat bertemu dengan gadis ini, ia merasakan hal yang lain? Bukankah ini adalah kali pertamanya bertemu dengan gadis itu? Mengapa Devan merasa ada hal yang menarik dalam diri gadis itu yang membuatnya merasakan sesuatu yang aneh.

"Ini gila! Aku pasti sudah gila." ucap Devan sambil menutup kembali map yang diberikan oleh Joana tadi.

"Honey!!" Fiona tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Devan tanpa mengetuk pintu sedikit pun.

"Kau? Kenapa kau kemari?" tanya Devan saat Fiona sudah berada di hadapannya dan melingkarkan tangannya di pundak Devan, "Fio, this is my office. And it's still workhour. Why you here?" Devan menjauhkan tangan Fiona yang tentu saja membuat wanita itu cemberut sebal.

"Dev, aku bosan di rumah. Aku ingin ke mall!" Devan menatap Fiona. Again, ia harus mengurusi hal sepele yang dibawa oleh Fiona ke kantor.

"Fio, kau bisa pergi ke mall anytime. Kau bisa ajak mommy or nenek with you. Kenapa kau harus menggangguku di kantor?" Fiona mendengus kesal.

"I want to be with you, Dev. Bukan yang lain!"

"Stop to be like this, Fio. I hate this! Kau harus bisa membedakan waktu kerjaku dan waktu santaiku. I know you know it well. And I know you already know me. So, don't disturb me with alasan-alasan yang tidak masuk akal itu. Please, go..." Fiona menghela nafas.

"Kau tidak pernah ada waktu untukku, Dev!!!" bentak Fiona.

Bentakan keras Fiona mengejutkan Devan dan membuat emosinya naik seketika. Devan tidak pernah mau dibentak oleh siapapun. Sayangnya Fiona melakukan itu. Akibatnya, kini Devan sangat marah dan mencengkram tangannya.

"How dare you! Kau sangat tahu aku tidak suka dibentak siapapun! Hm?" Devan menatap tajam kearah mata Fiona, "Kau harus paham, kau bukan siapa-siapa. Kita hanya sekedar bertunangan dan aku bisa saja menghancurkan semuanya. So, jangan pernah macam-macam dan membuatku marah. Atau kau akan menyesal nanti." Devan menatap Fiona sekilas lalu menghempaskan tangan Fiona.

"Kenapa kau lakukan ini padaku, Dev? Aku hanya ingin kau temani!"

"Go away!!" bentak Devan. Kesabarannya benar-benar hampir habis.

"Aku tidak akan kemana-mana!" ancam Fiona.

"Fine. Kau bisa tunggu di sini sepuasmu!" Devan berdiri kemudian berjalan kearah pintu meninggalkan Fiona sendirian.

***

Bab 3

Cheva baru saja selesai mandi. Jam di atas nakas sebelah tempat tidurnya menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dewi sudah mewanti-wanti Cheva untuk tidak terlambat di hari pertamanya bekerja di kantor baru. Karena itu sudah sejak satu jam yang lalu, Cheva dipaksa ibunya yang terus mengomel soal keharusan Cheva untuk mandi dan bersiap-siap.

Setelah memakai skincare dan make up tipis di wajahnya, Cheva beralih ke closet pakaiannya. Memilah-milah beberapa blazer dan kulot. Ia tidak ingin salah kostum pagi ini.

"ED Tech bukanlah perusahaan yang formal-formal banget kayanya. Hm ... bagusnya pakai yang mana ya..." Cheva memadu padankan beberapa kemeja semi formal dan kulot berwarna senada, "Fine. Ini lumayanlah ya to make a good first impression," ucap Cheva setelah memilih kemeja berwarna krem lengan panjang dengan aksen pita kecil dan renda di lehernya dipadukan dengan kulot berwarna coklat tua.

Selesai mengenakan pakaiannya, tidak lupa Cheva menyemprotkan parfumenya di beberapa bagian tubuhnya kemudian berjalan menuju ke ruang makan.

"Sudah ready, Va?" tanya Dewi saat melihat kedatangan Cheva.

"Ya, Mom. Bingung mau pakai apa. Takutnya Cheva salah kostum..." Dewi tertawa.

"Pakaian kamu sudah paling aman. Here, eat your breakfast first."

"Thanks, Mom..." Cheva mengambil piring sarapannya.

Setelah menghabiskan waktu seperempat jam untuk menghabiskan sarapan keduanya. Cheva kemudian berpamitan kepada ibunya.

"Mom, Cheva berangkat dulu yaa. Doain ya mom..." Dewi mengangguk kemudian mencium kening anak gadisnya itu.

"Always. Take care, honey..."

"Yeap!!" Cheva kemudian berjalan menuju garasi mobilnya.

***

Pukul 7.00 Cheva tiba di halaman parkir ED Technology. Gedung pencakar langit tersebut terlihat masih lengang. Namun Cheva memilih untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju lobby.

"Good morning, Miss. May I help you?" sapa security kantor itu.

"Ya, sir. My name is Cheva Lynn. Ms. Sandra ask me to come to office today for some interview..." security itu mengangguk.

"Just call me Edo, Ms. Lynn. Mari saya antarkan..." Cheva mengikuti langkah security bernama Edo tersebut, "Ruang Ms. Sandra ada di lantai empat, Ms. Ruangan pertama sebelah kanan setelah anda keluar dari lift ini. Apakah arahan saya sudah anda pahami, Ms?"

"Oh ya, sir. Thank you..."

"Welcome, Ms. Lynn. Have a nice day..."

Setelah diantarkan ke lift oleh Edo, Cheva kemudian melanjutkan perjalanannya sendiri. Cheva melihat angka di lift sampai ke angka 20. Artinya gedung ini mungkin terdiri atas 20 lantai atau lebih. Perusahaan yang luar biasa.

Ting!!!

Pintu lift terbuka. Cheva kemudian menuju ruangan yang sebelumnya sudah ditunjukkan Edo melalui penjelasannya. Saat ia keluar dari lift, terdapat tulisan besar Human Resource Division di dindingnya.

"Welcome, Miss. May I help you?" seseorang menyapa Cheva lagi.

"Ah, ya. My name is Cheva Lynn. Saya ingin menemui Ms. Sandra?"

"Oh ya. Mari saya antarkan. Ms. Sandra sudah menunggu anda, Ms." Cheva menganguk.

Ternyata lantai 4 adalah lantai khusus bagian kepegawaian. Setelah Cheva tiba di depan ruangan bertulisan Head of Human Resource Division, gadis yang mengantarkan Cheva mengetuk pintu itu beberapa kali.

"Excuse me, Ms. Sandra. Ms. Lynn is here..."

"Oh, fine. Please come in, Ms. Lynn. Thank you, Livia..." Cheva pun masuk.

"Hello, Ms. Sandra. My name is Cleo Aneliava Lynn. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan Cheva..." Joana tersenyum dan menjabat tangan Cheva.

"Welcome to our company, Ms. Cheva. I'm Joana Sandra. Kau bisa memanggilku Joana saja." Cheva tersenyum dan mengangguk, "Have a seat, Cheva..."

"Thank you, Miss..." Joana berjalan menuju lemari berkasnya dan mengeluarkan snechelter hitam dari dalamnya.

"Kau sudah membaca tentang perusahaan kami?"

"Hah? Ah, ya, Miss. Beberapa ya..."

"Kau tahu, kau akan bekerja dengan siapa?"

"Karena jobdesk saya adalah sebagai sekretaris, artinya saya akan menjadi sekretaris kepala devisi mungkin? Mungkin sekretaris anda, Miss?" Joana tertawa kemudian menggeleng.

"No, Cheva. Kau beruntung mendapatkan posisi yang menjadi incaran banyak orang..." Cheva menatap Joana bingung.

"Posisi yang diincar banyak orang? Kenapa, Miss?" Joana tersenyum lalu menyodorkan selembar kertas.

"Kau baca dulu surat perjanjian kerja ini dengan baik. Pahami, jika ada yang kurang jelas, tanyakan padaku. Jika sudah paham dan kau setuju, maka bubuhkan tanda tanganmu..." Cheva mengangguk lalu mulai membaca surat perjanjiannya.

Setelah beberapa menit, Cheva selesai membaca perjanjiannya.

"Saya sudah memahami isi perjanjian ini, Miss..."

"Ada yang ingin kau tanyakan?" Cheva menggeleng.

"Sepertinya sudah cukup jelas."

"Baiklah, kau bisa menandatangani surat itu." Cheva mengangguk kemudian membubuhkan tanda tangannya.

"Here, Miss..." Cheva menyerahkan kembali surat perjanjian itu.

"Baik, setelah ini, aku akan mengantarkanmu ke ruang kerjamu. Termasuk menjelaskan beberapa detil dari ruangan Mr. Hutresky, atasanmu..." Cheva mengangguk, "Kau juga akan menerima salinan dari surat perjanjian ini esok lusa. Karena hari ini, Mr. Hutresky tidak ke kantor. Kemungkinan surat perjanjian ini baru akan ditandatangani beliau besok. Jadi, kau bisa pelajari dulu jadwal kegiatan, hal-hal yang harus kau persiapkan dan kebiasaan dari Mr. Hutresky..."

"W... wait, Miss. Mr. Hutresky adalah..." Joana tersenyum dan mengangguk. Ia paham yang Cheva pikirkan.

"Ya. Mr. Hutresky adalah Mr. Devan Eduardo Hutresky, pemilik dan pemimpin utama ED Technology. Dan kau, akan menjadi sekretarisnya..." Cheva menutup mulutnya.

"How c..." Joana tertawa melihat keterkejutan Cheva.

"Ya, Cheva. Bukankah ini yang biasanya para calon sekretaris inginkan??"

"Ya. But, Miss, you know that I'm just a fresh graduation's secretary and I have no experience about this job. Apakah tidak terlalu beresiko menempatkan saya di posisi penting seperti ini?"

"So, you mean that kau tidak percaya diri?" Cheva terdiam. Dia sangat percaya diri, dia yakin dirinya bisa. Tapi, di perusahaan besar seperti ini.

"I totally trust my self, Miss. But..."

"So, don't make Mr. Devan menyesali keputusannya menerimamu menjadi sekretarisnya, Cheva. I know you'll learning and trying hard. Right?" Cheva tersenyum dan mengangguk.

"Terima kasih karena sudah mempercayai saya, Miss. Mohon bimbingannya!" Joana tersenyum.

"C'mon, aku akan mengantarkanmu ke ruang kerjamu..." Cheva mengangguk lalu mengikuti langkah Joana.

***

Cheva diam dan memperhatikan selama ia dan Joana dalam perjalanannya menuju ruang kerja Cheva saat ini. Saat di lift, Joana menekan tombol 18. Artinya ruangannya dan mungkin ruang kerja CEO perusahaan ini berada di lantai 18.

Benar saja. Saat keduanya keluar dari lift, mereka disambut dengan logo besar bertuliskan ED Technology Indonesia. Dan tidak banyak ruangan di lantai itu. Hanya sebuah ruang rapat, ruang tamu besar, pantry, ruang sekretaris (yang tentu saja menjadi ruang milik Cheva kedepannya) terkoneksi dengan sebuah ruangan lain bertuliskan CEO.

"Ini adalah ruanganmu. Pastikan ruanganmu bersih dan wangi. Mr. Devan tidak menyukai barang-barang yang berserakan atau tidak rapi..." ucap Joana yang dibalas anggukan oleh Cheva, "Ayo, kita ke ruangan Mr. Devan..." Cheva mengangguk.

Joana mengajak Cheva memasuki ruangan Devan. Ruangan yang cukup luas, terdiri atas ruang tamu dengan sofa besar berwarna dark, senada dengan interior ruangan yang juga berwarna kombinasi putih, abu-abu dan navy. Di sudut ruang tamu terdapat taman kecil berhias air terjun yang menambah kesan cozy karena gemericik air yang terdengar di seluruh ruangan itu.

Di bagian lain, terdapat satu meja kerja lengkap dengan all in one pc, printer, fax dan telpon kantor. Di belakang meja kerja tersebut tergantung lukisan besar yang cukup artistik. Kemudian ada lemari kecil berisi bingkai-bingkai foto. Baru saja Cheva hendak melangkah mendekat kearah lemari tersebut, langkahnya terhenti.

"Ehm, apa yang kalian lakukan di sini?!" sebuah suara yang terdengar berat mengejutkan keduanya.

"Sir??" kali ini Joana yang menjawab. Cheva ikut menoleh dan tatapannya terhenti pada sosok laki-laki yang berdiri di belakang mereka.

"Kenapa kau membawa orang lain ke ruanganku, Jo?!" untuk sesaat pandangan mata Cheva menatap lurus ke arah laki-laki itu.

"Maafkan saya, sir. Ehm... Cheva, Cheva!!!" Joana memanggil Cheva yang nampak belum sadar karena ia terus menatap Devan.

"Erhhmmm!!!" suara keras Devan mengagetkan Cheva sekaligus menyadarkannya. Dan Cheva baru menyadari kalau ia sedang ditatap oleh dua orang.

"Cheva!!" panggil Joana kali ini. Cheva langsung bergegas mendekati Joana, "Maafkan saya, sir. Ini adalah Ms. Lynn, sekretaris baru anda. Saya baru saja mengenalkan ruangan di lantai ini padanya..." Cheva membungkuk.

"Hallo, Sir. Perkenalkan, nama saya Cleo Aleniava Lynn. Anda bisa memanggil saya Cheva..." ucap Cheva sopan.

Cheva sedikit tertegun. Sepertinya ia pernah bertemu dengan bossnya ini. Dan ya, kenapa bossnya ini nampak sangat muda sekali. Cheva mengira, Devan adalah seorang laki-laki tua kaya raya berusia 50-60 tahunan. Ia benar-benar tidak menyangka akan menjadi seorang sekretaris dari seorang boss muda. Tapi, kenapa wajah bossnya ini sangat familiar?

"Ya. Apakah kau memang punya hoby termenung?" Cheva terdiam. Joana harus menyikutnya pelan agar Cheva kembali tersadar.

"Pardon me, sir??"

"KAU TIDAK MENDENGARKAN UCAPANKU SAMA SEKALI???!!!" suara Devan seketika meninggi. Joana dan Cheva sama-sama menunduk.

Sial! Kenapa aku harus kena marah di hari pertamaku bekerja! benak Cheva.

"KAU JANGAN MAIN-MAIN MEMBERIKANKU SEKRETARIS SEPERTI INI, JOANA!!! AJARI DIA ATAU AKU AKAN SEGERA MEMECATNYA!!!" Cheva terdiam.

Kasar sekali laki-laki ini. Dia menyepelekan seorang Cheva??!! Cheva kesal setengah mati mendengar ucapan Devan.

"Maafkan saya, sir. Saya akan pastikan Cheva tidak membuat kesalahan. Anda jangan khawatir..."

"PERGILAH. BERI TAHU DIA AGENDA-AGENDA PENTINGKU. AKU TIDAK INGIN ADA KESALAHAN LAGI." Joana mengangguk. Ia kemudian mengajak Cheva untuk keluar dari ruangan Devan.

***

"Apakah Tuan Devan memang kasar seperti itu??" ucap Cheva saat ia kembali ke mejanya. Joana tertawa.

"Kau harus segera terbiasa, Cheva. Aku yakin kau bisa. Perhatikan yang sudah aku jelaskan tadi. Okay. Aku pergi!!!" baru saja Cheva akan mencegah Joana pergi, tapi wanita itu sudah keburu menghilang di balik pintu. Cheva menghela nafas.

Awal yang cukup berat. Bagaimana tidak, baru saja akan bekerja namun Cheva sudah memberikan kesan yang buruk dengan atasannya. Namun untungnya, Cheva tidak bertemu lagi dengan bossnya itu hingga jam kerja berakhir.

***

Di ruangannya, Devan terpaku menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang berada di salah satu sisi ruangannya yang tepat mengarah ke meja Cheva, sekretaris baru yang sebelumnya dikenalkan Joana. Sejak beberapa jam yang lalu, saat Devan menemukan keberadaan gadis itu di ruangannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Terlebih saat gadis itu tiba-tiba berbalik dan menatapnya, mata biru gadis itu seakan menghipnotis dirinya, membuatnya sedikit tidak bisa berpikir dan bertingkah laku dengan baik.

Sehingga lagi-lagi, kata yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan kasar. Padahal ia sama sekali tidak berniat mengucapkannya.

Devan terus memandangi Cheva dari dalam ruangannya. Ya, hingga saat ini, tidak ada yang menyadari bahwa kaca depan ruangan Devan adalah kaca satu arah dari luar. Namun Devan tetap bisa memperhatikan apa yang dilakukan sekretarisnya dari dalam.

Sepertu saat ini, Devan melihat Cheva sedang berjalan mondar-mandir di ruangannya. Seakan sedang kebingungan.

"Ada apa dengan gadis ini? Apakah dia sedang memikirkan sesuatu?" ucap Devan sambil memandang ke arah Cheva.

Tiba-tiba, Cheva berjalan kearah pintu ruangan Devan.

"W... wait, wait. Mau apa kau kemari, huh?" Devan sedikit gugup. Ia tidak siap jika harus berhadapan dengan Cheva kembali. Namun gadis itu terhenti di depan pintu. Ia nampak berpikir sejenak lalu kembali menuju mejanya, "Gadis aneh!!! Apa yang sebenarnya dia pikirkan!!" ucap Devan kesal.

Hingga jam kerja berakhir, Devan sama sekali tidak ingin mengganggu Cheva. Bukan karena dia tidak punya hal yang ingin Cheva kerjakan, namun Devan merasa dirinya belum siap jika harus menatap mata gadis itu lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED