Suara batuk yang tak biasa dari sang ibu, membuat Fahira yang sedang memasak air di dapur, langsung berlari menghampiri ibunya di kamar. Sesampainya di sana, Fahira langsung duduk di tepi ranjang. Dan, betapa terkejutnya ia, saat melihat bercak darah di tangan ibunya yang tadi menutupi mulut itu saat terbatuk. “Ibu, batuk Ibu berdarah. Ibu harus periksa ke dokter,” ujar gadis manis bermata bulat itu, dengan raut paniknya.
“Tidak, Nak. Ibu baik-baik saja. Nanti juga sembuh sendiri. Uhuk! Lagipula, kita tidak ada uang untuk ke dokter. Berikan Ibu teh hangat saja. Nanti akan membaik dengan sendirinya,” ucapnya, menenangkan Fahira.
Tapi, Fahira bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi. Ia tahu, kalau ibunya itu hanya sedang berusaha menenangkannya saja. Namun, meskipun demikian, Fahira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia tak ingin membuat ibunya yang napasnya kini tersengal-sengal itu, terlalu banyak bicara. Gadis itu hanya bisa menuruti permintaan sang ibunda. “Ya sudah, aku buatkan ibu teh hangat dulu.” Fahira lalu bangkit dari duduknya, dan membawa langkahnya keluar dari kamar, menuju ke dapur.
Sesampainya di dapur, dengan segera, ia membuatkan teh hangat untuk sang ibunda. Saat hendak membawa secangkir teh hangat itu ke kamar ibunya, Fahira tiba-tiba terdiam, memikirkan sesuatu. “Aku tidak boleh diam saja, aku harus melakukan sesuatu. Sakit Ibu pasti sudah parah, dan aku harus segera membawa Ibu ke rumah sakit.”
Fahira kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kamar ibunya, dengan secangkit teh hangat yang ia bawa. “Bu, ini teh hangatnya. Aku mau keluar sebentar,” ucapnya, sambil menaruh secangkir teh hangat itu di atas meja, di sebelah ranjang ibunya.
“Kau mau pergi ke mana, hujan-hujan begini, Nak?” tanya Marni, dengan suaranya yang sedikit serak.
“Ada perlu sebentar, Bu,” jawabnya. “Diminum tehnya, ya. Nanti aku kembali. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Gadis itu pun, bergegas pergi dari hadapan sang ibunda. Fahira meraih payung bercorak bunga-bunga ungu yang menggantung di dekat pintu, sebelum ia keluar. Karena di luar sedang hujan deras. Gadis itu pun, pergi. Ia berjalan di bawah guyuran air hujan, sambil melindungi tubuhnya dengan payung yang sambungan sebelah kanannya sudah patah-patah, hingga tak mampu melindungi tubuhnya dari guyuran air hujan, dengan sempurna. Namun, keadaan itu tak lantas menghentikan langkah Fahira untuk pergi ke suatu tempat.
Fahira, gadis manis berusia 20 tahun. Tak hanya manis, Fahira juga penyayang dan memiliki hati yang lembut. Dia juga gadis yang mandiri dan pekerja keras. Fahira harus kehilangan ayahnya, di saat usianya masih 10 tahun. Dan kini, dia hanya tinggal berdua dengan sang ibunda di sebuah gubuk kecil. Kehidupan Fahira dan ibunya, bisa dibilang serba kekurangan. Fahira hanya mampu bersekolah sampai tamat SD, dan tak mampu untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya. Sehingga ia kesulitan mencari pekerjaan.
Dan sehari-harinya, Fahira dan ibunya, mengais rezeki dari menjual barang-barang bekas yang mereka kumpulkan. Setiap pagi, Fahira dan ibunya pergi ke tempat pembuangan sampah akhir, untuk mencari barang bekas yang bisa mereka jual.
Kemiskinan Fahira dan ibunya, membuat mereka sering sekali mendapat cemoohan dari beberapa tetangga. Bahkan, dari kerabatnya sendiri. Dan terkadang, Fahira merasa tak tahan dengan cemoohan-cemoohan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Memang kenyataannya seperti itu, dia hanya gadis miskin yang mencari rezeki dari sampah.
Jika bisa menawar, Fahira pun tidak ingin hidup miskin. Ya, semua orang juga ingin hidup bergelimang harta. Atau setidaknya, berkecukupan. Tapi, setiap manusia sudah memiliki takdirnya masing-masing. Dan mungkin, di mata manusia, takdir Fahira sangat buruk. Sehingga membuat gadis itu dan ibunya selalu dikucilkan.
Setelah berjalan cukup jauh di bawah guyuran air hujan, ia pun, sampai di depan gerbang sebuah rumah yang cukup mewah. Fahira lalu masuk ke dalam, dan membawa langkahnya ke pintu masuk rumah itu. Gadis itu menaruh payungnya di atas teras, lalu berjalan beberapa langkah mendekati pintu kayu bercat putih itu.
Dengan tergesa-gesa, Fahira mengetuk pintu dengan buku tangannya. Gadis itu lalu memeluk tubuhnya yang kedinginan. Karena sebagian tubuhnya basah terkena air hujan, dikarenakan payungnya yang sudah patah.
Tak lama, pintu pun terbuka. Seorang wanita berambut pendek, menyambut kedatangan Fahira dengan senyuman sinis, sambil menyilangkan tangan di dadanya. Seraya ia bertanya, “Mau apa kau ke mari?”
“Aku ... aku ingin bicara dengan Paman,” jawab Fahira, dengan bibir yang sedikit bergetar karena kedinginan.
“Mau apa? Pasti mau pinjam uang,” cibirnya.
“Riana, ku mohon. Izinkan aku bertemu dan bicara pada Paman,” pinta Fahira.
“Hmm ... baiklah. Tunggu di situ. Aku akan panggil Papa,” ujarnya, ketus. Lalu melenggang pergi dari hadapan Fahira.
Fahira pun, menunggu sang Paman datang. Sambil menahan rasa dingin yang semakin menjalar di tubuhnya.
“Pah, ada si anak miskin tuh, di luar. Katanya mau bicara sama Papa. Palingan juga mau pinjam uang,” selorohnya, lalu duduk di sofa sisi lain.
Ridwan menghela napasnya, lalu beranjak dari tempat duduknya. Dan membawa langkahnya pergi dari sana, untuk menemui Fahira yang sudah menunggunya.
“Ada apa?” tanya Ridwan, dengan raut angkuhnya, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Paman, Ibu sakit. Aku ... aku mau pinjam uang buat bawa Ibu ke rumah sakit,” tuturnya.
“Memangnya, kau bisa bayar?” tanya Ridwan, dengan nada merendahkan.
“Insyaallah bisa, Paman. Aku akan mengumpulkan uang sedikit-sedikit untuk membayar hutangku, nanti,” balasnya.
“Baiklah, aku akan memberikanmu pinjaman. Tapi, dengan syarat bunga 10%.”
“Bunga 10%? Paman, apa bunganya bisa dikurangi? Aku takut tak bisa membayarnya kalau bunganya sebesar itu.” Fahira mencoba bernegosiasi dengan pamannya.
“Ya itu terserahmu. Kalau kau setuju dengan bunga 10%, aku akan memberikan pinjaman padamu. Tapi, kalau kau keberatan, maaf, aku tidak bisa meminjamkan uangku padamu.”
Fahira terdiam, sambil berpikir. “Duh, bagaimana ini? Bunganya besar sekali. Tapi, Ibu harus segera dibawa ke dokter sebelum batuknya semakin parah,” batinnya. Ia mulai bimbang, haruskah ia ambil, atau tidak? Jika diambil, Fahira takut tak akan mampu untuk membayar. Tapi, jika tidak diambil, dirinya tidak akan bisa membawa ibunya ke dokter. Hingga pada akhirnya, dia pun memutuskan, “Baiklah, aku mau, Paman.” Fahira tidak punya pilihan lain, selain menyetujui. Demi bisa membawa ibunya ke dokter.
“Kau mau pinjam berapa?” tanyanya, datar.
“Dua juta, Paman.”
Ridwan tersenyum mengangkat salah satu sudut bibirnya. “Ya sudah, tunggulah sebentar. Aku akan mengambil uangnya.”
Fahira mengangguk. Dan Ridwan pun, kembali masuk ke dalam rumah, untuk mengambil uang itu.
“Ya, Allah. Tolong berilah aku rezeki, supaya nanti aku bisa membayar hutang pada Paman.” Fahira berdo’a dalam hatinya.
Tak lama, Ridwan kembali, dengan lembaran uang di tangannya. Ia lalu menyodorkan uang itu pada Fahira. Sambil berkata, “Ingat, bunga 10%!” Begitu tegas, kalimat itu diucapkan.
“Baiklah, Paman.” Fahira menerima uang itu, meskipun terasa sangat berat untuknya.
Setelah mendapatkan uang itu, Fahira pun bergegas pergi dari sana. Karena terburu-buru, Fahira tak melihat kanan-kiri saat menyeberang jalan. Sehingga ia tak melihat ada kendaraan yang sedang mengarah ke arahnya.
Fahira yang terkejut dengan suara klakson itu, langsung menoleh ke arah suara tersebut. Hingga, gadis itu jatuh tak sadarkan diri, saat mobil SUV berwarna hitam itu, hampir menabrak tubuhnya.
“Hah? Kenapa dia? Apa dia pingsan? Perasaan ... aku tidak menabraknya?” gumam pria tampan, si pengendara mobil tersebut. “Ck! Merepotkan saja!” gerutunya.
Ia lalu turun dari mobil, dan dengan segera menggendong tubuh Fahira, lalu membaringkannya di jok mobil penumpang. Setelah Fahira di dalam, pria itu kembali duduk di tempatnya dengan bajunya yang basah kuyup.
“Aish! Gara-gara gadis itu, bajuku jadi basah begini. Benar-benar merepotkan!” gerutunya, sambil menancap gas meninggalkan tempat itu.
Tak lama, mobil yang dikendarai si pria tampan itu pun, memasuki sebuah rumah mewah yang berada di komplek perumahan elit. Di mana, yang tinggal di komplek itu, hanya kalangan tertentu saja, yang memiliki kekayaan fantastis. Dan salah satunya adalah; Fatih Al Malik.
Fatih adalah pemilik sekaligus CEO dari salah satu perusahaan textile yang cukup besar. Dan nama Fatih pun, cukup dikenal di kalangan pebisnis. Khususnya, di bidang bisnis textile. Karena kehebatan Fatih dalam mengelola bisnis, hingga perusahaan itu, semakin berkembang setelah berada dalam pimpinannya, yang sebelumnya dipimpin mendiang ayahnya.
Setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi, Fatih langsung turun. Dan seketika itu juga, membuat 2 orang bodyguard yang siap mengawalnya sampai ke pintu masuk pun, mengerutkan kening mereka. Mereka terlihat heran, melihat majikannya basah kuyup. Bagaimana bisa? Bukankah majikannya itu sedia payung di dalam mobilnya, untuk persiapan jika dia harus turun dari mobil dalam keadaan sedang hujan? Tapi, kenapa hari ini pulang basah kuyup? Apa mungkin, payungnya rusak?. Namun tiba-tiba, lamunan mereka buyar, saat mendengar perintah Fatih.
“Turunkan gadis itu, dan bawa ke kamarku!”
Sesaat, mereka terdiam. Tak mengerti dengan maksud Fatih. Gadis? Gadis yang mana? Begitu pertanyaan di benak mereka.
“Hey! Kenapa kalian malah bengong seperti orang bodoh? Cepat turunkan gadis di mobilku, dan bawa dia ke kamarku!” titahnya lagi, sedikit kesal. Lalu melenggang pergi dari hadapan kedua bodyguardnya itu.
Setelah mendapat perintah yang kedua, mereka berdua pun baru mengerti. Dengan segera mereka melakukan tugas yang baru saja diperintahkan oleh Fatih. Salah satu dari mereka, masuk ke dalam mobil. Lalu menggendong Fahira keluar dari mobil itu, dan membawa gadis itu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Fatih, langsung pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya.
“Sepertinya aku baru melihat gadis ini?” gumam pria yang menggendong Fahira.
“Ya, aku juga baru melihatnya. Mungkin gadis ini mainan baru Tuan Fatih,” katanya.
“Tentu saja. Apalagi?” timpalnya. “Tapi, penampilan gadis ini sederhana. Biasanya mainan Tuan Fatih itu wanita-wanita berkelas, bukan gadis sederhana seperti ini, ‘kan?” herannya.
“Kau benar juga. Ah sudahlah, kita tidak ada urusan. Yang penting kita bawa gadis ini ke kamar Tuan Fatih, dan tugas kita selesai.”
Si pria yang menggendong Fahira pun, mengangguk.
Sesampainya di kamar Fatih. Pria itu tak langsung membaringkan Fahira di kasur. Karena baju Fahira yang masih basah. Sehingga mereka memilih menunggu Fatih.
“Bajunya basah. Siapa yang akan menggantikan baju gadis ini? Apakah Tuan Fatih?” tanya si pria satunya.
“Entahlah.”
Sementara di gubuk, Marni tampak mencemaskan Fahira. Karena putrinya itu tak kunjung pulang. Wanita itu sangat gelisah, berulangkali ia menoleh ke arah pintu, berharap sang putri datang. Namun, setelah cukup lama, Fahira tak kunjung pulang.
“Fahira, kamu ke mana, Nak? Kenapa belum kembali juga?”
Ibu mana yang bisa tenang, di saat anaknya pergi tak tau ke mana, dan lama belum juga kembali. Tak terkecuali Marni, yang begitu mengkhawatirkan putri semata wayangnya.
Tak berapa lama, Fatih yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian pun, datang.
“Kenapa kau masih menggendong gadis itu? Apa kau suka padanya?” celetuknya, sedikit mengernyit.
“Ah? Tidak, Tuan. Pakaian gadis ini basah. Jadi, saya tidak berani membaringkannya di ranjang,” jawab si bodyguard.
“Astaga, aku lupa. Tolong panggil Bi Mar, biar dia yang ganti pakaian gadis itu,” titah Fatih.
“Baik, Tuan.” Salah satu bodyguard, mengangguk. Lalu pergi dari sana, untuk memanggil Bi Mar.
“Tolong baringkan dia di atas karpet,” pinta Fatih.
Si bodyguard mengangguk, dan bergegas membaringkan Fahira di atas karpet permadani. Sedangkan Fatih, pergi mengambil pakaian untuk Fahira. Tak berselang lama, Bi Mar dan si bodyguard, datang.
“Bi, tolong gantikan bajunya,” pinta Fatih, sambil memberikan pakaiannya pada ART-nya itu.
“Baik, Tuan.” Bi Mar mengangguk, lalu mengambil pakaian itu dari tangan Fatih.
“Kalian berdua, boleh pergi,” ujar Fatih, pada kedua bodyguardnya.
Mereka sedikit membungkuk, lalu pergi.
Selama Bi Mar mengganti pakaian Fahira, Fatih pergi ke sudut lain. Tidak mungkin, dia melihat tubuh polos gadis yang tak dikenalnya itu. Sambil menunggu Bi Mar selesai, Fatih mengecek ponselnya. Siapa tahu ada pesan penting yang masuk dan belum sempat ia buka. Baru beberapa detik jarinya bermain-main di layar ponselnya, Ricko yang merupakan asprinya, menghubunginya. Fatih pun, segera menerima panggilan dari asprinya itu. “Ada apa?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Tuan, setengah jam lagi kita akan pergi menghadiri undangan makan malam dari Tuan Carlos,” tutur Ricko.
“Ah ya, aku sampai lupa!” Fatih menepuk dahinya. “Tapi sepertinya, aku tidak bisa pergi. Tolong kau saja yang urus semuanya,” pintanya, dengan enteng.
“Tapi, Tuan—“
“Sudah, bilang saja aku ada urusan penting yang mendadak, sehingga tidak bisa hadir,” katanya, memberi saran.
“Baiklah, Tuan.”
“Hey, kenapa suaramu tiba-tiba mengecil? Kau keberatan?”
“Hah? Ti-tidak, Tuan. Mana mungkin saya keberatan. Saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan,” katanya.
“Itu bagus. Memang harusnya seperti itu. Ya sudah, lakukanlah tugasmu!” Fatih langsung menekan ikon telepon berwarna merah di layar ponselnya.
Sudah hal biasa bagi Fatih, yang sering tiba-tiba membatalkan undangan atau apapun itu yang menurutnya tidak terlalu penting. Dan semuanya, ia serahkan pada Ricko. Sebagai asisten pribadi, Ricko hanya bisa menuruti perintah Fatih. Meskipun seringkali ia mendapat marah dari klien Fatih. Dan Fatih, tak perduli dengan penderitaan asprinya itu.
“Tuan, saya sudah selesai mengganti pakaian gadis itu,” ujar Bi Mar, sedikit membungkuk.
“Baiklah, terimakasih. Bi Mar boleh pergi,” katanya.
“Baik, Tuan.” Wanita paruh baya itu pun, keluar dari kamar Fatih.
Sang pria tampan, bangkit dari duduknya, lalu menghampiri gadis yang masih terbaring belum sadarkan diri di atas karpet permadani. Ia lalu berjongkok di sebelah Fahira, sambil memandangi wajah manis sang gadis. Seraya bergumam, “Gadis aneh yang menyusahkan.” Fatih lalu mengangkat tubuh Fahira, bermaksud untuk memindahkan gadis itu ke ranjang.
Namun, belum ia sampai, Fahira tiba-tiba membuka matanya dan langsung berteriak kencang, “Aaaaaaaa!” Dan suara Fahira, hampir membuat Fatih menjatuhkan gadis itu. Fatih mempercepat langkahnya, dan menjatuhkan tubuh gadis itu, ke atas kasur dengan sedikit kasar.
“Si-siapa, kau?”
“Si-siapa, kau?” tanyanya, dengan raut wajah penuh ketakutan, menatap pria yang tengah berdiri berkacak pinggang di sebelahnya itu. Namun, Fatih tak menjawab, pria itu hanya menyorotkan tatapan dingin pada sang gadis.
Ketika Fahira ingin menggeser tubuhnya menjauh dari Fatih, ia baru menyadari, kalau pakaian yang melekat di tubuhnya, bukanlah pakaian miliknya. Hingga membuat mata bulat gadis itu semakin membola. Dengan cepat, Fahira menoleh pada Fatih, yang masih melayangkan tatapan dingin padanya. Kemudian ia bertanya, “Kau mengganti pakaianku?”
Fatih tak langsung menjawab. Butuh waktu beberapa saat sebelum ia menjawab pertanyaan gadis itu. Ia lalu bergumam dalam hati, “Hmm, bagaimana kalau aku mengerjainya? Pasti akan sangat seru.”
“Ya, kenapa?” jawabnya, datar. Tanpa ekspresi.
“Itu artinya, kau melihat semuanya?” pekik Fahira, saking terkejutnya.
“Ya, tentu saja. Aku melihat semuanya. Apa itu masalah?” tanya Fatih, dengan entengnya. Sebetulnya ia ingin tertawa melihat ekspresi Fahira yang begitu menggemaskan menurutnya itu. Namun, ia menahan tawa yang sebetulnya ingin pecah itu.
Fahira langsung menarik selimut dan menutupi tubuhnya. “Tentu saja itu masalah, Tuan. Kau melihat tubuhku tanpa seizin dariku!” emosi Fahira, seraya menatap Fatih dengan sorot tajam. Tapi, itu tidak membuat Fatih takut, justru membuat pria tampan itu semakin gemas pada Fahira.
Fatih lalu duduk di tepi ranjang, di sebelah Fahira, yang membuat Fahira langsung menggeser tubuhnya, menjauh dari Fatih. “Mau apa, kau?”
“Tidak ada, aku hanya ingin duduk saja. Apa itu masalah buatmu? Ini kan kamarku, suka-suka aku mau duduk di mana,” celetuknya.
Tiba-tiba, Fahira teringat sesuatu. “Uangku, di mana uangku? Apa kau mencuri uangku, Tuan?”
“Uang apa? Aku tidak mencuri uangmu.” Fatih sedikit mengerutkan keningnya.
“Tuan, tolong kembalikan uangku, aku sangat membutuhkan uang itu untuk berobat ibuku,” pinta Fahira.
“Hey, aku tidak mencuri uangmu, dan aku tidak tahu uang yang mana yang kau maksud,” balas Fatih, yang masih tak mengerti.
“Aku baru saja meminjam uang itu dari pamanku, tolong kembalikan uang itu padaku, Tuan. Ku mohon.” Fahira kembali memohon.
“Berapa uang yang kau pinjam itu?” tanya Fatih
Fahira pun, menjawab, “Dua juta, Tuan.”
“Baiklah, aku akan menggantinya. Dan akan aku ganti lebih dari itu, ji—”
“Ya, tentu saja kau harus menggantinya lebih dari itu, Tuan. Karena kau sudah lancang melihat tubuhku tanpa seizin dariku!” geram Fahira, yang langsung memotong ucapan Fatih.
Gadis itu lalu terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu. Dan membuat Fatih mengerutkan keningnya, bertanya-tanya akan apa yang kini tengah dipikirkan gadis manis di hadapannya itu. Tiba-tiba, sebuah keterkejutan tergambar di wajahnya. Matanya membola, memelotot tajam pada Fatih. Dan sebuah pertanyaan pun, terlontar dari mulutnya, “Tunggu sebentar … apa kau juga sudah melakukan sesuatu padaku di saat aku tidak sadar tadi, Tuan?”
“Hey, aku tidak melakukan apapun padamu,” sangkalnya. Namun kemudian, pria itu mengimbuhkan, “Tepatnya … belum.” Fatih tersenyum nakal pada Fahira, yang langsung membuat gadis itu sedikit ketakutan.
“Ma-maksudmu, kau akan me-melakukan sesuatu padaku, Tuan?” tanyanya, sedikit gagap. Karena rasa takutnya akan ucapan Fatih. ‘Belum’ berarti pria itu akan melakukan sesuatu padanya.
Fatih tak menjawab, pria itu hanya memberikan senyuman mautnya sambil perlahan mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Fahira. Dan membuat gadis itu menggeser tubuhnya menghindari si pria tampan.
“Tu-Tuan, kau mau apa?” Fahira terus mundur menjauh dari Fatih.
Namun sayang, gerakan Fatih lebih cepat. Dan membuat Fahira tak bisa bergerak lagi di bawah kungkungan pria tampan itu.
“Tuan, ku mohon jangan lakukan itu. Jangan sentuh aku, Tuan.” Fahira menggeleng, memohon belas kasihan Fatih.
Fatih tak memeperdulikan permohonan Fahira yang meminta belas kasihnya. Pria itu menurunkan wajahnya, lebih dekat ke wajah Fahira. Dan otomatis membuat mata Fahira langsung terpejam rapat, begitu juga dengan bibirnya yang ia katupkan rapat-rapat, karena takut Fatih akan menciumnya dengan paksa.
Bibir Fatih tampak berkedut menahan tawa melihat ekspresi ketakutan Fahira. Hingga pria itu pun, tak mampu untuk menahannya lagi. Dan tawa itu pun pecah. Seketika, membuat mata Fahira langsung terbuka lebar, sambil menatap Fatih yang sedang tergelak, dengan ekspresi keheranan.
“Kenapa dia tertawa begitu? Apa dia sudah tidak waras?” batin Fahira.
“Kau lucu sekali, hahahaha ….”
“Dia benar-benar sudah tidak waras. Bisa-bisanya aku berada di sini bersama pria tidak waras ini. Tuhan, tolong selamatkan aku dari pria tidak waras ini,” batin Fahira.
“Apa kau takut padaku?” tanya Fatih, sambil menyilangkan tangan di dadanya.
“Tentu saja aku takut. Pertanyaan bodoh macam apa itu? sekarang, tolong menyingkir dari sana, Tuan!” geram Fahira, seraya menatap Fatih dengan sorot tajam.
Namun, Fatih bukannya menyingkir, dia malah kembali mengurung Fahira di bawah kungkungannya, sambil berkata, “Tidak semudah itu, Nona.” Fatih tersenyum dengan mengangkat salah satu sudut bibirnya.
Fahira mendorong dada bidang Fatih dengan kedua tangannya, sambil memohon, “Tuan, ku mohon jangan lakukan ini padaku ….”
“Aku tidak akan melakukan apa-apa, selama kau tidak mengizinkannya,” katanya. Ia lalu melanjutkan, “Aku hanya ingin memberikan penawaran padamu.”
“Penawaran apa?” tanya Fahira, sambil terus menahan dada bidang Fatih, supaya pria itu tidak semakin mendekat.
“Kau cantik, dan aku tertarik. Jika kau ingin uang lebih banyak, jadilah wanitaku.”
Mata Fahira kembali terbelalak, mendengar tawaran Fatih. Tentu Fahira mengerti apa yang dimaksud oleh Fatih. “Apa kau bilang? Menjadi wanitamu? Kau pikir, aku ini wanita macam apa?” geramnya.
Fatih lalu menegakkan tubuhnya dan turun dari ranjang, kemudian membawa langkahnya dan duduk di sofa, dengan menyilangkan kakinya. Ia lalu berkata, “Ya, itu jika kau mau. Kalau kau tidak mau, ya sudah. Aku tidak memaksa.” Ekspresinya terlihat begitu santai, seolah pembicaraan itu adalah hal biasa. Ya, memang itu hal biasa baginya, tapi tidak dengan Fahira. Bagi Fahira, penawaran Fatih merupakan pelecehan dan juga penghinaan baginya. Dan itu membuat Fahira sangat marah
Fahira lalu beringsut turun dari ranjang, dan berjalan cepat menghampiri Fatih. Gadis itu lalu berkata sambil menunjuk wajah Fatih, “Dengarkan aku baik-baik, aku tidak mengharapkan uang lebih darimu. Dan aku tidak akan pernah menjadi wanitamu! Meskipun aku miskin, aku tidak akan menyerahkan harga diri dan kehormatanku hanya demi uang!”
Ekspresi kemarahan Fahira, justru membuat Fatih semakin merasa gemas pada gadis itu. dan semakin ingin menggodanya.
“Baiklah, baiklah. Aku kan tidak memaksamu, Baby. Kau tidak perlu marah seperti itu, kalau kau tidak mau.” Lagi-lagi, Fatih terlihat santai. Seolah ia tak sedang menyakiti hati seseorang.
Melihat sikap Fatih, membuat Fahira mengepalkan kedua tangannya, menahan kemarahan yang sudah di ubun-ubun yang siap meledak kapan saja. “Ingin rasanya aku mencekik pria kurang ajar ini, sampai dia kehabisan napasnya!” geram Fahira dalam hati.
“Hentikan omong kosong itu, Tuan. Sekarang aku minta uangku kembali. Aku harus segera membawa ibuku ke rumah sakit. Dan antarkan aku pulang sekarang juga, Ibu pasti sangat mengkhawatirkan aku di rumah,” pintanya, sambil menahan emosinya.
Fatih terdiam sejenak, ia lalu bangkit dari tempat duduknya sambil berkata, “Baiklah. Ayo, aku antar kau pulang. Setelah itu kita bawa ibumu ke rumah sakit.”
“Tidak perlu, kau cukup mengantarku pulang dan kembalikan uangku,” tolak Fahira.
“Suka-suka aku, apa hakmu melarangku?”