"Menikahlah denganku!"
Dua kata yang diucapkan dengan nada datar itu pun, seketika saja berhasil membuat gadis berambut ikal itu, mulai mengedip-ngedipkan matanya tak percaya.
Benarkah ini? Apa dirinya tidak sedang bermimpi? Seorang bos yang notabe-nya kaya raya dan juga memiliki paras yang begitu tampan kini tengah melamar gadis miskin seperti dirinya?
"Alana! Kamu mendengarkan ucapan saya, bukan?!"
Suara bass khas atasannya itu pun seketika saja berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ah! Iya, Pak? Tadi, Bapak ngomong apa ke saya?"
Saking groginya, gadis itu pun sampai-sampai bertanya dengan pertanyaan yang jelas-jelas, dapat membuat kemarahan sang atasan kian terpancing.
Atasannya itu, sama sekali tidak suka terhadap orang yang meminta agar apa yang atasannya itu ucapkan harus diulang kembali. Bahkan jika sang atasan sampai menjadi kesal dan emosi tinggi, bukan tidak mungkin, kata pecat akan langsung dilayangkan kepada siapa saja yang membuatnya kesal.
Serem banget, kan? Bahkan, rasa-rasanya tidak ada satu orang pun yang ingin memiliki seorang atasan yang ke lewat tegas seperti itu, bukan?
"Maaf, Pak! Maksud saya, apa saat ini Bapak sedang latihan untuk melamar seseorang? Makanya, Bapak mengatakan kalimat itu kepada saya," ralat Alana cepat sebelum dirinya didepak dari kantor bergaji tinggi ini.
"Tidak!"
"Latihan untuk drama, Pak?"
"Kamu pikir saya anak TK?! Mengatakan hal itu untuk latihan teks dialog Frozen."
Meski sudah mendapati wajah kesal sang atasan. Gadis itu pun sama sekali tidak menyerah untuk menebak, untuk siapakah sebenarnya kalimat yang sebelumnya atasannya itu ucapkan.
"Ah, pasti sekarang Bapak lagi dijodohin sama orang tua Bapak dengan orang yang gak Bapak kenal sama sekali, kan? Terus, biar nanti pas ngelamar jodoh Bapak itu, Bapak gak grogi lagi! Makanya, Bapak jadiin saya buat objek percobaan kan, Pak? Fix. Ini pasti gak salah," ucap Alana kembali dan tanpa sadar malah menunjuk wajah sang atasan dengan tak sopannya.
"Alana." ucap sang atasan dengan nada penuh penekanan dan berhasil membuat Alana tersadarkan dengan apa yang sudah dilakukannya.
"Maaf, Pak! Kebawa suasana! Plis, jangan potong gaji saya, yah, Pak! Soalnya saya masih harus bayar uang kontrakan sama cicilan motor matic saya, Pak! Pliss," pinta Alana sembari menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya.
Tanpa ingin ambil pusing, sang atasan pun memilih untuk mengabaikan ucapan gadis itu saja.
"Sudahlah! Lupakan saja! Lalu, berpikirlah dengan semestinya, Alana!"
Berbelit. Itulah kata yang pertama kali muncul di benak Alana saat mendengar ucapan sang atasan.
Gadis itu sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh sang atasan itu.
"Menikahlah denganku, Alana!"
Kembali, kalimat itu diucapkan oleh atasannya. Membuat Alana spontan langsung menatap manik hitam tajam itu.
"Bapak serius? Btw, saya gak lagi ulang tahun loh, Pak!" ucap Alana yang masih saja tidak percaya dengan ucapan sang atasan.
"Saya serius, Alana! Saya mohon, untuk kali ini kamu harus serius!" ucap atasannya itu dengan wajah datarnya.
"Tapi, kenapa harus saya, Pak? Bukankah masih ada orang lain dan yang lebih dari saya di kantor ini?" tanya Alana yang kini mulai serius.
Sedangkan alam imajinasinya, kini gadis itu sudah berharap. Jika bos-nya itu akan mengatakan bahwa, "Karena hanya kamu yang dapat menarik hati saya! Saya diam-diam mencintai kamu! Mengagumi kamu karena semua kesederhanaan yang kamu miliki! Saya mohon, menikahlah dengan saya."
"Alana! Alana! Apa yang sedang kamu pikirkan?!"
Lagi dan lagi, suara bass khas milik sang atasannya itu pun, berhasil membuat lamunan Alana seketika menjadi buyar.
Dan kini, pandangan serta telinga Alana pun lantas ia alihkan lalu fokuskan ke arah sang atasan.
"Alasannya adalah karena yang pertama, saya perhatikan kamu tidak seperti gadis-gadis yang ada di sini. Kamu tidak pernah ke club malam dan selalu sopan kepada orang lain kecuali kepada saya. Terkadang kamu bisa kelewatan!"
"Lalu, yang kedua, saya tau kamu hanya hidup sendiri selama ini. Orang tua kamu sudah meninggal dan kamu perlu banyak uang untuk bertahan hidup, bukan? Jika kamu bersedia menikah dengan saya, maka saya akan menjamin seluruh fasilitas hidup kamu! Bahkan, saya juga akan melunasi cicilan motor kamu itu!"
"Dan setelah kita menikah, kamu juga akan tinggal di rumah saya. Jadi, otomatis kamu sudah tidak perlu lagi membayar uang kontrakan. Saya juga akan menafkahi kamu layaknya suami dan istri pada umumnya. Kamu bisa menyebut ini seperti pernikahan kontrak. Nanti akan ada pengacara yang datang dan mengurus seluruh surat-suratnya. Kamu dan saya hanya perlu bertanda tangan di atas materai. Untuk tugas kamu juga tidak susah, kamu hanya perlu berpura-pura tampil sebagai istri yang baik. Saya juga akan turut andil dalam akting ini,"
Perlahan, Alana pun berusaha untuk mencerna seluruh kalimat yang baru saja dikatakan oleh atasannya itu.
Tunggu dulu! Apa katanya, tadi? Nikah kontrak? Jadi, maksudnya, mereka menikah pura-pura gitu?
Tapi, kan! Ini tidak benar. Namun, kalo dirinya menolak? Bukan tidak mungkin, ia akan dikeluarkan dari kantor ini.
Jika di pikir-pikir, Alana tidak dirugikan malah dibuat untung besar oleh atasannya itu. Jadi? Apakah Alana memang harus mengatakan, iya?
"Mohon maaf Pak sebelumnya! Tapi, kenapa Bapak melakukan ini? Bagaimana kalo nanti sampai ada yang tau?" tanya Alana hati-hati.
Huftt...
Helaan nafas yang panjang pun seketika terdengar, keluar dari mulut sang atasan setelah mendengar pertanyaan yang Alana ucapkan.
"Mau tidak mau saya harus melakukan ini. Karena Mami say...," ucap sang atasan terpotong akibat suara aneh yang berasal dari gadis yang ada di hadapannya itu.
Setelah cukup lama, menahan seluruh tawanya, kini tawa itu pun langsung pecah. Alana benar-benar sudah tidak sanggup untuk menahan tawanya itu.
"Mami?! Hahahaha!!! Bapak serius?! Ngomong Mami?! Hahahaha! Ya ampun, Pak! Nih, yah Pak! Wajah Bapak itu udah sangar, dingin kayak balok es, terus datar kek tembok! Tapi, sama ibu manggilnya Mami?! Hahaha! Gokil banget sih, Pak!"
Tanpa Alana sadari karena saking menghayati tawanya. Kini, wajah atasannya itu pun telah berubah menjadi warna merah padam.
Antara marah dan malu menjadi satu.
"Diam! Atau kamu saya pecat!"
Bagaikan api yang langsung padam saat disiram oleh air. Begitulah kiranya, gambaran tentang kondisi Alana begitu mendengar kata pecat diucapkan oleh sang atasan.
"Mama minta saya untuk menikah secepatnya karena seluruh teman saya telah menikah, bahkan sudah ada yang punya anak. Maka dari itu, Mama gak mau sampai saya lebih lama lagi menunda pernikahannya," ucap atasannya sambil memijit pelipisnya pelan.
"Baru nyadar ternyata kalo dia udah tua! Untunglah, Mamanya buru-buru ingetin," gumam Alana pelan yang masih terdengar di telinga lelaki itu.
"Apa kamu bilang!"
"Gak ada, Pak!"
"Saya lanjutkan lagi, sebenarnya saya tidak menikah itu bukannya saya tidak sadar jika usia saya akan semakin meningkat melainkan ada seseorang yang harus saya tunggu. Dia sepertinya seumuran dengan kamu, tapi dia memilih untuk melanjutkan kuliahnya hingga nanti bisa mendapatkan gelar S2-nya. Karena dia yang tidak bisa menikah saat ini juga, terpaksa saya harus melakukan pernikahan kontrak ini. Dan ini juga merupakan ide dari kekasih saya," jelas sang atasan.
"Bego banget sih nih bos, gue! Mana ada coba orang yang benar-benar cinta relain pacarnya nikah sama orang lain! Pasti sekarang tuh cewek udah ada pacar baru di sana! Sedangkan bos gue, dimanfaatin buat ATM berjalannya," gumam Alana yang lagi-lagi samar-samar didengar oleh atasannya.
"Apa kamu bilang?!"
"Gak, Pak! Saya diem dari tadi," ucap Alana cepat.
"Karena saya kasihan dan turut merasa empati dengan apa yang terjadi dengan hidup, Bapak! Yaudah deh! Saya mau aja! Kontraknya berakhir sampai pacar Bapak balik ke sini, kan?" ucap Alana dengan santainya.
"Bagaimana kamu bisa tau tentang akhir kontrak itu?" tanya sang atasan dengan tatapan tak percaya-nya.
"Biasanya kan emang gitu, Pak! Saya sering baca novel tentang nikah atas materai ataupun pengantin pengganti gini lah, Pak! Jadi, saya gak akan asing lagi! Dan udah tau gimana saya harus bertingkah laku," ucap Alana dengan senyum bangganya.
"Baiklah! Terserah apa yang kamu katakan saja! Nanti, jika urusan surat-surat kontraknya telah selesai, saya akan segera menghubungi kontak kamu. Jadi, fix. Semuanya telah diputuskan," ucap sang atasan dengan sedikit tersenyum. Ingat! Sedikit! Hanya sedikit tersenyum!
"Diputuskan? Keputusan apa yang kamu maksud, Evan?"
Suara lembut namun tegas itu pun terdengar begitu menginstruksi kedua orang yang ada di dalam ruangan itu. Spontan, secara bersamaan, keduanya pun lantas mengalihkan tatapan mereka, memandang objek yang sama yakni sang pemilik suara yang berdiri di ambang pintu itu.
****
"Mami?" gumam sang atasan yang ternyata bernama Evan. Atau yang lebih tepatnya adalah Evans Mervelin.
Anak pengusaha terkenal di pusat kota Jakarta ini. Evan adalah anak tunggal dari pasangan Alexander Mervelin dan Anna Evalin.
Sudah sekitar 1 setengah tahun lamanya, Evan menggantikan posisi sang Papi di perusahaan utama keluarga Mervelin ini.
"Mami?" ulang Alana dengan dahi yang berkerut.
"Ooo.. jadi ini Mama-nya Pak Bos! Ooo oke-oke, baru tau gue sekarang!" gumam Alana sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun, belum ada satu menit gadis itu menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja gerakan itu menjadi terhenti, dirinya seperti baru menyadari ataupun memahami sesuatu hal.
"Eh, tunggu dulu! Apa tadi katanya? Mami? Berarti ibunya Pak Bos dong? Calon mertua gue? Lah! Iya! Kenapa gue malah jadi santai gini?!" gumam Alana yang baru sadar akan situasi yang ada diantara dirinya saat ini.
"Halo, Tante! Saya Alana Salsabiela, saya sekretaris dari Bos Evan di sini! Umur saya 21 tahun, bisa masak rendang, sup ayam, sama nasi goreng! Terus, 2 minggu lagi saya ulang tahun, Tante," ucap Alana yang langsung menghampiri Anna sembari menyalimi tangan wanita itu.
Melihat tingkah konyol gadis itu, Evan lantas menepuk pelan wajahnya. Oh ayolah! Katanya gadis itu bisa berakting menjadi istri pura-puraan, tapi kenapa sekarang malah seperti ini?!
"Alana?" tanya Anna pelan dengan dahi yang berkerut. Seketika, tatapan Anna pun perlahan mulai berganti alih menjadi menatap ke arah sang anak.
Evan yang menyadari situasi sekarang pun, seketika langsung melangkah cool menuju sang Mami.
Dengan penuh percaya diri, lelaki itu lantas langsung saja melingkarkan tangannya di pinggang Alana.
Membuat Alana yang tidak menyangka sang bos akan melakukan itu pun, seketika tersentak dan langsung menyingkut perut sang bos.
"Aww! Lo..," ucap Evan yang hampir saja keceplosan ingin memarahi gadis itu.
"Eh? Kenapa kamu malah mukul Evan, Alana?" tanya Anna dengan dahi yang semakin berkerut.
"Ah ini, Tante! Tadi, Alana..." ucap Alana terhenti saat suara Evan sudah lebih dulu memotong ucapannya.
"Gapapa, Mi! Mungkin Alana masih belum terbiasa sama sikap aku yang langsung meluk dia dari samping gini! Soalnya selama ini, kami gak pernah sedekat ini kalo pacaran," ucap Evan yang langsung berhasil membuat Anna percaya dengan ucapan sang anak.
"Sekali lagi kamu seperti ini! Saya potong gaji kamu! Dan kamu, jangan bertingkah konyol seperti tadi! Saya sudah menceritakan tentang kamu dengan Mami saya," bisik Evan dingin tepat di telinga gadis itu.
Mendengar kata potong gaji itu pun seketika wajah Alana menjadi berubah saat itu juga. Dan pada detik berikutnya, buru-buru dirinya langsung menyunggingkan senyuman manisnya.
"Ohh, jadi ini yang namanya Alana? Cantik banget yah, Van! Tapi, Alana! Kamu kok mau sih sama Evan yang mukanya datar gini?" tanya Anna sembari terkekeh pelan.
"Hehe, iya, Tante! Awalnya saya juga gak mau sama dia! Tapi, karena dia maksa terus dan katanya kalo gak saya cepat terima dia entar saya dipecat Tante dari pekerjaan ini! Terus yah, Tante! Tiap malam dia itu ngechat saya mulu, Tante! Pokoknya saya bener-bener ngerasa bukan kayak dicinta tapi berasa kayak diteror sama anak Tante ini! Pokoknya serem deh, Tante! Kalo Tante jadi saya," curhat Alana tentunya dengan kebohongan.
Membuat Evan yang mendengarnya seketika membelalakkan matanya sempurna.
Apa-apaan ini?! Berani-beraninya gadis itu melapor hal yang setengah benar dan setengah salah itu kepada Mami-nya!!
Bukannya takut, kini, Alana justru tersenyum puas saat wajah sang bos seketika berubah drastis. Bahkan, Alana juga tidak segan-segan untuk menjulurkan lidahnya, mengejek sang bos.
Kini, mata Anna pun membulat sempurna saat menatap sang anak.
"Ya ampun, Evan! Siapa yang ngajarin kamu buat lakuin hal konyol kayak gitu?! Kamu ini, yah! Harus profesional dong! Jangan hanya karena masalah pribadi, kamu sampai ingin membuat Alana kehilangan pekerjaannya! Coba deh kamu bayangin, kalo jabatan kamu sebagai bos di kantor ini, Mami sama Papi copot! Terus, kamu kami biarkan berkeliaran gak jelas di luaran sana! Gimana coba, rasanya?!" marah Anna sembari menarik gemas telinga sang anak.
Sedangkan Evan, kini, matanya telah menatap tajam ke arah sang sekretaris seperti sudah sangat siap untuk memakan gadis itu secara hidup-hidup saat ini juga.
*****
"Yang ini? Bukan!"
Sedari tadi, Alana terus saja mencari baju yang cocok agar bisa ia gunakan saat dinner bersama keluarga pak bos-nya nanti malam.
Namun, sedari tadi juga. Dirinya tidak menemukan barang satu pakaian pun yang pantas untuk ia gunakan.
Maklum, dirinya hanyalah anak gadis yatim piatu yang lebih memikirkan makanan apa yang akan ia makan untuk mengisi perutnya dibandingkan memikirkan baju bagus apa yang harus ia gunakan agar tampil mencolok di hadapan orang-orang.
Hingga akhirnya, seluruh pakaiannya pun sudah tidak ada lagi di dalam lemari itu. Semuanya sudah tergeletak di atas lantai rumahnya.
"Aduh! Aku harus pakai baju apa, yah?! Satu pun aku gak punya baju yang bagus! Terus aku harus gimana, yah?!" gumam Alana pelan sembari mengigit bibirnya bingung.
Tring! Di tengah-tengah kebingungannya karena pasal baju yang akan ia gunakan. Tiba-tiba saja dering pertanda ada sebuah pesan masuk pun, terdengar hingga ke telinganya.
"Bos?" gumam Alana pelan saat membaca username di kontak WA-nya itu.
"Ngapain bos ngechat aku? Mungkinkah ada pekerjaan tambahan? Atau meeting mendadak?" gumam Alana yang terus menerka-nerka.
Tanpa ingin memendam rasa penasaran yang lebih jauh lagi, Alana pun langsung saja membuka chat dari sang bos.
Bos Evan
•Keluar! Saya ada di depan kost-an kamu. Sekarang!
Seketika, mata Alana pun membelalak sempurna saat sadar bahwa dirinya telah mengabaikan sang bos selama bermenit-menit lamanya.
'Mampus gue! Bos pasti bakalan marah-marah sekarang!' batin Alana sembari menepuk dahinya pelan.
Buru-buru Alana lantas berlari kecil menuju pintu depan kost-an-nya. Dan benar saja, seorang lelaki dengan baju jas serta tampang memberengutnya pun sudah terpampang jelas di depan matanya saat ini.
"Sore, Bos! Apa kabar? Cuacanya lagi bagus banget yah, Bos!" ucap dan sapa Alana yang langsung mendapatkan delikkan tajam dari sang bos.
"Darimana saja kamu?! Sudah bermenit-menit saya berdiri di sini! Kamu ingin membuat kaki saya patah?! Ini! Ambillah," julid Evan yang setelahnya langsung menyodorkan sebuah paperbag berwarna pink cerah.
Dengan dahi yang berkerut, Alana lantas memilih untuk mengambil paperbag itu.
"Ini? Apaan, bos?" tanya Alana yang langsung mendapatkan kode dari sang bos untuk mengeceknya sendiri.
Seketika, mata Alana pun membelalak sempurna saat menangkap dress biru malam dengan hiasan bunga-bunga indah di depan dadanya.
"Cantik banget dress-nya! Pasti ini mahal banget! Tapi, ini serius buat saya, bos? Gak dipotong dari gaji saya, kan?" tanya Alana takut-takut gajinya dipotong.
Pada menit setelahnya, suara helaan nafas panjang pun, terdengar keluar dari mulut sang bos.
"Tidak! Ini gratis! Tapi, ingat! Malam ini, jangan pernah kamu buat kesalahan apapun! Cukup selalu berdiri di sisi saya! Dan bersikaplah lebih dewasa, tidak pecicilan lagi!" ucap Evan dengan nada suara dinginnya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Alana lantas menatap penuh haru ke arah sang atasan. Ini adalah kali pertamanya bagi Alana mendapatkan sebuah hadiah mewah dari seseorang yang dianggap begitu mustahil bagi dirinya.
Dan karena saking bahagianya, tanpa sadar, gadis itu justru langsung berlari kecil menuju sang bos. Hingga pada detik berikutnya, Alana lantas memeluk tubuh sang bos dengan erat.
"Makasih, bos! Makasih! Ini kali pertamanya saya mendapatkan hadiah dari seseorang! Makasih banyak, bos!" ucap Alana yang hingga pada detik berikutnya langsung tersadar dan melepaskan pelukannya.
Hingga saat suasana diantara mereka menjadi awokaword, seseorang pun tiba-tiba datang dan berhasil membuat tatapan keduanya menjadi teralihkan.
Khususnya Alana yang kini langsung menepuk dahinya pelan.
"ALANA! BAYAR UANG KOST-ANMU!!"
Damn! Sungguh! Ini sangat amat memalukan!
****
"Ini Bos kopinya! Silahkan diminum," ucap Alana sambil tersenyum kikuk.
Tanpa mengucapkan terima kasih karena sudah dibuatkan kopi, sang bos justru langsung saja meminum kopi itu.
Demi apapun! Alana benar-benar malu saat ini. Dan rasa-rasanya, Bu kost-annya itu benar-benar telah melempar kotoran sapi ke wajahnya saat ini.
Kalian pikir saja! Di depan sang bos, Bu kost-nya itu malah menagih uang kost-annya dengan suara tinggi pula.
Padahal, Alana sebelumnya memang sudah ingin membayar uang kost-annya itu.
"Gak ada yang gratis! Kamu harus membayar uang saya tadi dengan memijat kepala saya sampai saya tertidur di sofa jelek kamu ini!"
Tiba-tiba saja, fokus Alana pun menjadi teralihkan ke arah sang bos.
Tunggu! Apa katanya? Harus memijat kepala bos-nya itu sampai sang bos tertidur? Yang benar saja!
Udah minta dipijitin eh malah ngejek pula! Bener-bener tuh manusia! Andai aja lelaki itu bukan bos-nya, pasti sudah ia tendang perut lelaki itu hingga mental ke Antartika.
"Gak bisa, bos!" balas Alana setelah beberapa menit terdiam.
Terlihat jelas, ada kerutan bingung yang tercetak di kening lelaki itu saat mendengarkan penolakan dari Alana.
"Alana! Kamu tau, kan? Saya tidak pernah menerima penolakan! Dan saya tidak ingin sampai keputusan saya dibantah," tekan Evan dengan mata yang masih tertutup.
"Bukannya saya ingin menolak permintaannya, bos! Tapi, kan! Saya sama bos itu cuman orang asing, dua orang lawan jenis yang berada satu atap tapi gak ada ikatan yang sah! Itu gak boleh, Bos! Nanti pandangan masyarakat gak bener," jelas Alana berusaha meyakinkan sang bos.
Evan yang berusaha menyimak dengan baik perkataan yang tadi sang bawahannya itu katakan pun, kini terlihat membodo-amatkan ucapan sang bawahan.
"Jangan beralasan, Alana! Lagipula saya dan kamu, kan! Besok akan menikah! Lalu, apa masalahnya? Sekarang, cepatlah! Kamu pijat kepala saya!" titah Evan tanpa memperdulikan bagaimana reaksi Alana saat ini.
Tunggu! Apa katanya? Menikah? Besok? Benarkah? Atau mungkin itu hanya sebuah alasan yang sengaja dipakai oleh bos berhati batunya itu, dengan tujuan agar dirinya mau memijat kepala sang atasan? Ah! Fix, pasti Evan hanya sedang menipunya saat ini.
"Cepat, Alana!" perintah Evan kembali saat merasa gadis itu tak kunjung mendekatinya.
"Tunggu!"
Belum ada satu langkah Alana melangkahkan kakinya, Evan malah sudah lebih dulu menghentikan dirinya.
"Apalagi sih, bos??" kesal Alana sembari menggerutu sebal.
"Tolong kamu gelar tempat tidur tipis lagi kecil kamu itu di sini! Cepatlah! Saya tidak suka menunggu lama," titah Evan lagi dan lagi.
Dengan menghembuskan nafasnya kesal, Alana lantas bergerak cepat untuk mengambil kasur satu-satunya yang ia miliki itu untuk sang bos.
Menit berikutnya, Alana pun mulai menggelarkan kasur itu, tepat di samping sang bos.
"Duduk!" perintah Evan kembali yang membuat tanda tanya besar tercetak di benaknya.
"Buat apa, bos?" tanya Alana yang sama sekal tak dihiraukan oleh Evan.
Tanpa ingin memperpanjang perdebatan lagi, Alana lalu memilih untuk mengikuti apa saja yang diperintahkan oleh sang bos.
Gadis itu lantas memanjangkan kakinya sembari tubuhnya bersandar pada kursi sofa itu. Jujur saja, tubuhnya terasa pegal-pegal saat ini. Entah apa yang ia sudah lakukan tapi bawaannya selalu terasa lelah.
Hingga saat menit mulai berganti pada menit berikutnya, Alana pun seketika dibuat tersentak saat itu juga.
Saat dengan tiba-tiba sang bos langsung merebahkan kepala lelaki itu tepat di atas pangkuannya.
Membuat jantung Alana seketika berdegup kencang, bahkan jika bisa dibuat perumpamaan-nya juga.
Kini, pasti sudah banyak orang-orang yang menghampiri jantungnya, sebab bunyi jantungnya itu benar-benar terdengar, cedag-cedug kayak suara dj-dj di diskotik pada umumnya.
"Tangan kamu itu di sini! Di kepala saya! Bukan malah megangin jantung kamu itu! Acara lamarannya nanti malam, Alana! Bukan sekarang!" ucap Evan sambil memindahkan tangan Alana yang semula di dada gadis itu menjadi di atas kepala lelaki itu.
Demi menutupi rasa gugupnya saat ini, Alana pun berusaha mengontrol dirinya dengan mulai memijat pelan kepala lelaki itu.
Sungguh! Aroma minyak rambut lelaki itu yang begitu menyengat dan sangat ia sukai pun menyeruak hingga ke indra penciumannya.
"Harum," spontan Alana, yang membuat Evan lantas menatap ke arah gadis itu.
"Jelaslah! Ini kan minyak rambut mahal! Bukan seperti kamu! Shampoo aja beli-nya sachet-an doang!" ucap Evan dengan raut wajah datarnya.
Saking datarnya, membuat Alana menjadi ingin sekali untuk melemparkan satu kepalan tangan kepada wajah tampan lelaki itu. Ups.
Setelah ucapan sombong itu, Evan lantas langsung diam dan mungkin lelaki itu telah tertidur cukup lelap saat ini.
Entahlah, tiba-tiba saja Alana menjadi betah untuk menatap wajah lelaki itu. Antara mimpi atau memang kenyataan, dirinya masih terus tak mengerti, mungkinkah ia memang bisa menyentuh wajah sang bos?
Lelaki berhati batu itu, benar-benar terlihat berbeda saat ditatap seperti ini. Wajahnya saat tertidur terlihat lebih tenang dan menenangkan dibandingkan wajah lelaki itu saat terbangun yang selalu datar tanpa ada tawa ataupun senyuman.
Lama Alana terus menatapi wajah lelaki itu, tanpa terasa mata Alana pun jadi ikutan berat. Membuatnya tanpa sadar, jadi ikutan tertidur, menyusul lelaki itu.
46 menit setelahnya, Evan pun merasa ada yang salah dengannya saat ini. Entah mengapa kepalanya terasa berat dan benar saja ternyata ada Alana yang tertidur di atas kepalanya.
Evan yang tak tega dengan posisi gadis itu yang terlihat seperti tidak nyaman dengan tidurnya pun, lantas mulai memindahkan gadis itu agar berbaring.
Dan setelahnya, tanpa sadar, Evan lantas kembali ikut tertidur dengan posisi tubuh yang memeluk erat tubuh gadis itu.
"Terima kasih, Alana!"
*****
"Eughh!" eluh Alana begitu dirinya ingin membuka matanya dan berganti posisi.
Sesuatu yang berat tiba-tiba saja terasa seperti menindih dirinya. Dan benar saja, sebuah tangan kekar ternyata melingkar sempurna di pinggangnya.
Untuk pertama kalinya, di hidupnya, ada orang lain yang memeluk dirinya. Membuat senyuman terukir sempurna di wajah gadis itu.
Perlahan, Alana pun mulai membalikkan tubuhnya, menatap penuh bahagia ke arah lelaki itu.
Hingga pada detik berikutnya, Alana baru teringat akan satu hal. Bukankah lelaki itu???
"ASTAGFIRULLAH!! BOS NGAPAIN MELUK SAYA GINI?! BOS MAU CABUL SAMA SAYA, YAH?!" teriak sekaligus tuduh Alana yang berhasil membuat Evan langsung menutup kedua telinganya.
Teriakkan melengking dan begitu memekakkan telinga itu benar-benar mengganggu indra pendengarannya.
"Enak saja kamu! Saya hanya kasihan dengan kamu tadi! Makanya saya suruh aja kamu buat tidur di samping saya! Kan kamu yang minta tadi! Terus yang saya meluk kamu, itu karena tadi kamu narik-narik tangan saya! Maksa tangan saya buat meluk kamu! Terus, tanpa saya sadar, saya malah ketiduran! Kamu yang ganjen sama saya! Bukan saya," tegas Evan yang tentunya hanya beralasan.
Dan bukan Alana juga namanya, kalo langsung percaya begitu saja dengan seseorang. Kini, gadis itu tampak memicingkan matanya, menatap penuh curiga ke arah lelaki itu.
"Sudahlah! Saya mau pulang!" ucap Evan yang langsung bangkit dari tempat tidur itu.
Setelahnya, Evan pun memilih untuk membersihkan dan merapikan kemejanya sebelum akhirnya ia pun melirik ke arah arlojinya.
"7 malam?"
Suara tiba-tiba dari Evan itu pun seketika berhasil menyita perhatian Alana. Membuat gadis itu langsung berlari dan ikut menatap angka yang ditunjukkan oleh arloji milik lelaki itu.
Matanya pun seketika membelalak sempurna. Bagaimana mungkin? Ternyata keduanya malah sudah tertidur hingga berjam-jam lamanya.
Lalu, bagaimana sekarang? Pasti kedua orang tua Evan sudah menunggu sedari tadi.
Hingga, saat Alana sudah mondar-mandir gak jelas karena panik. Sebuah ketukan pada kost-annya pun berhasil membuat kedua manusia itu mengalihkan tatapan mereka.
"Assalamualaikum! Alana! Oii, Alana! Gue minta beras dong! Sekalian ngutang mie instan plus satu telur! Akhir bulan ini gue bayar deh, janji!"
Suara itu, berhasil membuat Alana ketar-ketir gak jelas saat ini.
"Mampus! Kelly kesini!"
*****