“Kakakmu kabur dari pernikahan ini, jadi kamu yang harus menggantikan dia.”
Raline, yang telah mengenakan kebaya, bagai tersambar petir saat mendengar perintah mutlak sang ayah, Pandu.
Sudah hampir tiga puluh menit ketiganya menunggu dalam situasi tegang. Mereka telah rapi dengan kebaya dan jas sejak dua jam lalu. Pandu Pramuditya Gabriel, memang berniat menikahkan Bora Adine Gabriel, dengan seorang pria kenalan temannya. Namun, sudah hampir satu jam, putri pertamanya tidak kunjung datang dan seseorang justru memberi kabar bahwa dia tidak ditemukan di kamarnya.
“Kamu juga sudah pakai kebaya rapi, kita langsung saja keluar menemui penghulu!” titah Pandu, kemudian menarik tangan Raline.
Gadis itu berhenti dan menggeleng. “Pah, Raline di sini cuma sebagai pendamping dan saksi, bukan pengantin!” tolaknya.
Wajah Pandu berubah galak mendengar jawaban putri keduanya. “Lalu, kamu mau nama baik keluarga kita tercoreng? Para tamu dan keluarga sudah berdatangan!” kecam pria itu.
Raline terhenyak. Wajahnya memucat. Seluruh energinya seakan menguap habis. Benar-benar tidak terpikirkan olehnya akan menjadi sosok yang menikah hari ini. Terlebih, dia memiliki seorang pacar. Tidak mungkin Raline mengkhianatinya begitu saja.
“Raline tidak mau, Pah!” jawabnya, kemudian menatap sang ibu dengan pandangan memohon. “Mah, tolong bilang ke Papah. Raline tidak siap. Raline punya Adikara, Mah,” katanya dengan sorot berkaca-kaca.
Sabrina, yang sejak tadi terlihat resah, berubah menjadi tajam saat menatap putri keduanya.
“Ikuti perintah Papamu,” titahnya, “Lagi pula, kamu yang bikin Bora melarikan diri, ‘kan?”
Raline menggeleng putus asa dengan pipi berlinang air mata. Tidak menyangka jika sang ibu justru ikut mendukung ide gila sang ayah.
Sejak awal, Raline memang ditugaskan untuk menemani Bora. Dari sejak penataan busana sampai merias, Raline harus selalu berada di sisi sang kakak sekaligus menjadi penjaga. Sebab, dari awal, perjodohan ini memang tidak disetujui oleh Bora.
Hingga kemudian, Bora meminta waktu sendiri untuk merenung. Raline membiarkannya, tetapi dia sama sekali tidak menduga jika kakaknya berencana untuk kabur.
“Kita bisa membatalkan pernikahan ini, Pah. Masih belum terlambat!” Raline bersikeras.
“Kamu gila!” Pandu mengecam dengan dahi yang tegang. “Keluarga Nelson bukan keluarga sembarangan! Kita akan mendapat malapetaka seumur hidup jika menghancurkan kehormatannya!”
Raline menggeleng, terlihat semakin putus asa.
“Menurut saja, Raline!” Sang ibu menambahkan. “Masa depan kamu akan cerah jika menikah dengannya daripada dengan Adikara yang tidak jelas itu,” ejeknya.
Raline tidak akan menolak jika sejak awal dijodohkan dengan pria seperti itu. Keluarga Nelson memang meminta satu putri dari keluarga Haqq, tetapi ayahnya langsung menunjuk Bora. Raline tidak pernah mendapat kesempatan. Dia selalu tersisihkan dari kakaknya.
Kini, mengapa kedua orang tuanya justru mendesak dia?
“Kenapa Mama sama Papa tega mengorbankan Raline?” isak gadis itu. Air mata meleleh di wajah cantiknya.
Namun, baik Pandu maupun Sabrina, seakan tidak tergerak oleh kesedihan putri mekea.
“Kamu tidak mau menikahi dia? Oke, mulai sekarang, kamu bukan bagian dari keluarga Haqq!” kecam sang ayah.
Bagai tersambar petir. Raline berhenti terisak dan menggeleng berulang kali. Terperangah oleh pengumuman mutlak sang ayah.
Secepat kilat, gadis itu menjatuhkan diri dan berlutut di kaki sang ayah. “Jangan, Pah! Raline mohon! Raline masih menyayangi Mama sama Papa,” jawabnya tersenguk-senguk.
Meski nama ‘Haqq’ tidak pernah terselip di belakang nama Raline, kasih sayang gadis itu kepada orang tuanya tidak terbendung. Namun, Pandu dan Sabrina tetap sering bersikap semena-mena terhadapnya. Seperti sekarang.
“Kalau begitu, nikahi putra keluarga Nelson,” perintah sang ayah dengan dingin.
Raline mengangguk dengan isakan tertahan. Gurat-gurat keseriusan timbul di wajahnya, membuat gadis itu terlihat lebih dewasa. “Tapi, aku punya satu syarat,” katanya, “Jika pria itu tidak menginginkanku, aku tidak akan menikah dengannya.”
Wajah Pandu kembali memerah padam. Tidak menyangka jika Raline berani bertindak lancang. Punya pilihan apa gadis itu, hingga berani mengajukan syarat?
Tetapi kemudian Pandu mengangguk satu kali. “Panggilkan Liam,” titahnya pada Sabrina.
Liam Bernardus Nelson. Itu adalah nama calon suami kakaknya yang sekarang menjadi nama calon suaminya.
Raline tidak pernah bertemu pria itu secara langsung, hanya pernah melihatnya melalui foto yang ditunjukkan ayahnya saat menawarkan lamaran itu kepada Bora.
Liam memang tidak pernah datang setiap kali pertemuan keluarga diadakan. Selalu saja ada alasannya, mulai dari sibuk hingga terkendala. Namun, ayah Liam terus meyakinkan jika sang putra pasti muncul pada hari pernikahan. Dan itu benar.
Ceklek.
Pintu terbuka, kemudian Sabrina berjalan masuk, diikuti seorang pria bertubuh tegap. Dan Raline seakan membeku di tempat begitu melihat sosoknya.
Liam Bernardus Nelson adalah seorang pria berbadan tegap. Usianya baru menginjak dua delapan. Wajahnya terlihat tegas dan bersih meski rambut-rambut tipis membingkai rahangnya. Tatapannya terlihat cerdas dan memancarkan aura hitam gelap yang memahitkan tenggorokan.
Raline sontak menjatuhkan pandangan saat tatapan mereka bertemu. Takluk oleh karisma kental pria itu.
“Mohon maafkan kami.” Pandu memulai. “Bora telah bertindak memalukan dengan melarikan diri dari pernikahan, tapi kami masih memiliki Raline! Dia bisa menggantikan Bora menjadi pengantinmu hari ini.”
Bahkan, pesona kental Liam berhasil membuat sang ayah berkata-kata dengan segan.
“Tapi, ada satu syarat.” Raline memberanikan diri bersuara meski kaki-kakinya terasa lemas. Sang ayah memberikan tatapan tajam terhadap tindakan lancang anak perempuannya. Seakan ingin memperingati Raline bahwa yang tengah ia hadapi bukan pria sembarangan.
Namun, Liam tetap menunjukkan raut tak beremosi ke arahnya.
“Katakan.”
Raline menelan saliva untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering. Ia merasa amat gugup, seakan ia dipaksa bicara, padahal ada senjata api yang menodong dahinya.
“Aku hanya akan menikah dengan Tuan jika Tuan menginginkannya,” ujar Raline, memaksakan diri untuk menatap iris cerdas menaklukan itu. “Apakah… Tuan mau menikah denganku yang bukan Bora?”
Liam tidak langsung menjawab. Bibir tegasnya terkatup rapat, menunjukkan bahwa ia sedang berpikir.
“Tidak mau. Kumohon, tidak mau,” batin Raline. Mereka tidak saling mengenal. Selama ini, Liam hanya mengenali Bora lewat satu-dua pertemuan. Tidak mungkin Liam ingin menikahi Raline begitu saja.
Jantung Raline seakan hampir meledak saat Liam kembali menatap ke arahnya dengan dingin. Rahang pria itu terlihat tajam dan mengintimidasi. Menunjukkan sosoknya yang tidak mudah dibaca pikirannya.
“Baik,” ujar Liam dengan suara baritone yang mampu menaklukan siapa pun. “Aku akan menikahimu.”
Bahu Raline menurun dengan putus asa. Dan, dunia wanita itu seakan runtuh seketika.
***
Haiii, selamat datang di karya terbaru dan perdana author di platform ini ^^ Semoga kalian suka dan terus dukung author dengan meninggalkan komentar atau tap tombol love yaa.. Jangan lupa masukkan buku ini ke rak kalian, supaya kalian dapat notif saat aku update nanti ^^
Seluruh rencana masa depan Raline seakan sirna setelah mendengar jawaban Liam. Raline sangat yakin jika pria itu akan menolak gadis sepertinya, tetapi Liam justru berkata lain. Membuat Raline tercengang heran hingga tidak dapat menahan diri untuk melakukan tindakan nekat tidak sayang nyawa: menarik tangan pria itu dan membawanya ke ruangan yang lebih sepi.
Liam tidak memprotes. Hanya mengikuti gadis itu dengan wajah datar.
Baru ketika mereka mendapatkan ruang yang lebih pribadi, Raline berhenti dan menghadap ke arahnya.
“Mengapa Anda menyetujui ide ini, Tuan?” tanyanya, lembut, tetapi terdengar heran.
Liam tidak menjawab. Alih-alih, pandangannya justru jatuh pada pergelangan tangannya yang masih digenggam Raline. Gerak-gerik itu membuat Raline tersadar dan melepaskan pria itu secepatnya.
“Memang kenapa?” Liam balik bertanya.
“Bukankah yang Tuan cintai adalah Kak Bora?” tanya Raline. “Kita tidak bisa menikahi orang yang tidak kita cintai. Tuan dan aku tidak bisa—”
“Kau tidak mau menikah denganku.” Liam menyela dengan sengit.
“Bukan seperti itu, Tuan!” Gadis itu cepat-cepat menyanggah. “Hanya saja, bagaimana nasib pernikahan kita nanti? Bagaimana bisa kita akan hidup bahagia jika menikah dengan orang asing?”
Liam mendengarkan, dan tidak setuju. Sejak awal, ia tidak peduli akan dijodohkan dengan siapapun. Meski Bora yang akan maju hari ini, ia juga tidak mengenalnya. Sehingga bagi pria itu, Raline maupun Bora tidak akan ada yang berbeda.
Ia hanya menikah karena desakan dari kedua orang tuanya, dan ia tidak peduli apakah mereka akan bahagia kelak. Apa yang ia lihat, gadis itu hanya mencoba mengada-adakan alasan untuk kabur dari tanggung jawab ini.
Sudut bibir Liam terangkat naik membentuk seringai kecil. Ia terlihat marah.
“Aku mengerti,” ujarnya. “Kau tidak bisa menikah denganku karena tidak mencintaiku.”
“Apa—”
“Kau tidak mencintaiku, karena itu kau tidak peduli dengan kehormatanku yang tercoreng akibat ulah keluargamu.” Pria itu melanjutkan dengan sengit.
Raline sontak membelalakkan mata. Liam benar-benar salah paham dengan perkataannya. Pria itu tidak mau mendengarkan Raline.
“Bukan begitu maksudku, Tuan.” Raline berkata santun. “Aku hanya ingin—”
“Dengar, Nona.” Pria itu kembali menyela dan mengambil langkah mendekati Raline. Sepatunya yang terantuk-antuk di lantai terdengar seperti ancaman bagi Raline.
“Apakah kau tahu siapa aku?” tanyanya, memandang ke arah Raline dengan dingin.
Gadis itu menelan saliva dengan ketakutan, kemudian menggeleng. “Tidak—”
“Tentu saja,” jawab Liam, masih mengikis jarak di antara keduanya. “Jika kau tahu, kau tidak akan berani mengatakan ini di depanku.”
Kini, pria berjas biru gelap itu hanya terpaut jarak beberapa inci di hadapan Raline. Ujung sepatu mereka bahkan telah bersentuhan dan Raline dapat mencium aroma parfum maskulin Liam.
“Aku, adalah seseorang yang bisa menghancurkan keluarga kecilmu,” bisik pria itu dengan nada mengancam. “Dan itu akan terjadi jika kau menolak pernikahan ini.”
Iris Raline terbelalak. Jantungnya seakan bergetar saking cepatnya berdetak dan nyaris meledak mendengar suara dalam Liam.
“Usaha furniture ayahmu bisa aku buat bangkrut seketika, dan aku dengar ibumu baru merintis usaha katering, ya? Menurutmu, bagaimana reaksinya jika dia mendapat reputasi buruk di mata para pemesan? Dan pacarmu yang mahasiswa itu—”
“Oh, kumohon jangan lakukan itu, Tuan!” sergah Raline, tidak kuasa mendengar seluruh ancaman menyakitkan itu.
“Maka, ikuti perintahku dan jangan buat malu keluargaku!” pungkas Liam.
Raline mengangguk cepat karena ketakutan. “Aku mengerti. Aku telah berbuat lancang dan aku bersedia menikahimu. Mohon maafkan aku, Tuan!” ujarnya sambil menahan Isak tangis yang nyaris keluar.
“Bagus! Aku tunggu kamu di ruang depan,” pungkas Liam, kemudian pergi meninggalkan Raline dengan langkah kesal.
Gadis itu langsung jatuh tersungkur di lantai. Kakinya seakan berubah menjadi agar-agar. Tangannya tidak berhenti gemetar dan napasnya tidak terkendali saat ia menatap ke arah perginya Liam.
Pria itu belum pernah berkumpul dengan keluarganya, bagaimana dia tahu seluruh seluk-beluk keluarga Raline?
Raline masih belum mengenal pria itu, tetapi dia tahu jika Liam bukan pria sembarangan. Salah sedikit, dan Raline akan jatuh ke dalam kuasa pria itu.
***
Seperapat jam kemudian, Raline datang memasuki ruangan ditemani Pandu dan Sabrina. Semua orang terkejut dan berpandang-pandangan dengan heran.
Liam Bernardus Nelson dan Bora Adine Gabriel adalah nama yang tercetak saat Pandu dan Sabrina mengundang mereka, tetapi yang duduk di sisi pria tampan itu justru Raline.
Bahkan Chelsea, sahabat Raline, membelalakkan mata melihatnya, tetapi Raline berusaha tidak peduli. Begitupun Liam yang hanya menatap lurus pada penghulu seakan mengabaikan semua orang.
Proses ijab kabul mulai dilakukan dan anehnya, pria itu tidak melakukan kesalahan ucap apapun saat menyebutkan nama gadis itu yang jelas-jelas tidak mengandung nama keluarga Gabriel. Raline Haqq, bukan Raline Gabriel.
Bagaimana mungkin pria itu mengetahuinya?
Liam tidak sedikit pun menatapnya, terkecuali saat Raline menyentuhkan punggung tangan pria itu di dahinya--dengan amat terpaksa. Menunjukkan bukti mutlak bahwa ia akan selamanya mengabdi kepada pria itu. Ia hampir menangis putus asa saat melakukannya.
Semua orang menggumamkan 'sah' pada proses ijab kabul itu dengan khidmat dan memberi selamat, kecuali Ayah dan Ibu Liam yang langsung bergegas pergi seakan tidak terima.
Raline ingin menanyakan sesuatu kepada Liam, tetapi tidak berani mengatakan apa-apa pada suaminya yang berwajah tegas. Hingga mereka tidak saling bicara sampai acara itu selesai.
***
“Gila kamu, Raline!” ujar Chelsea, seraya membanting pintu kamar Raline hingga terbuka.
“Kenapa malah kamu yang muncul dan jadi pengantin?!” sergahnya. Merasa terkejut sekaligus kesal.
Namun, sahabatnya itu tidak menjawab apa-apa. Hanya duduk dan menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan pedih.
“Pasti ada sesuatu yang terjadi, 'kan? Terus, Satyadikara bagaimana, Lin?” kejar Chelsea, tidak tahan dengan kebisuan sahabatnya.
Mendengar itu, Raline hanya memejamkan mata dan menggeleng. Nasibnya sudah menjadi sebegitu buruk dengan pernikahan tiba-tiba ini. Dia tidak kuasa memikirkan kekasihnya yang sudah menjadi mantan itu. Raline tidak ingin air matanya jatuh lagi.
“Raline!” seruan lainnya kembali terdengar. Pandu tengah berdiri di ambang pintu, seketika membungkam Raline dan Chelsea.
“Kenapa kamu masih di sini? Liam sudah menunggu kamu di mobilnya. Cepat, samperi dia!”
Tanpa membantah, gadis itu buru-buru mengambil ponsel dan dompetnya, kemudian bergegas keluar ruangan. Meninggalkan Chelsea yang penuh dengan tanda tanya. Namun, sedetik setelah Raline menghilang di pintu, ponsel Chelsea bergetar.
“Aku akan menjelaskannya nanti.”
Pandu benar. Tepat di depan pintu masuk rumahnya, sebuah mobil hitam mengkilap telah menunggu.
“Maafkan aku karena terlambat,” ujar Raline setelah bergegas masuk. Suaminya sudah menunggu di dalam, masih dalam balutan jas biru gelap. Wajah tegasnya tidak berubah saat melihat Raline tiba.
“Jalan.” Dia memerintah, dan mobil anggun itu bergerak maju.
Raline menatap ke sekitar dengan bingung. “Kita mau ke mana?”
“Hotel,” jawab Liam, singkat.
Mata gadis itu menegang. Ia menelan saliva dengan gugup.
Hotel. Mereka… tidak akan melakukan 'itu', bukan?
***
Pernikahannya aja dipaksain, gimana malam pertamanya coba? Yuk, jangan lupa tinggalkan komentar di sini, ya!
Raline gelisah.
Gadis berambut panjang bergelombang itu duduk cemas di sisi ranjang. Sebentar-sebentar ia menoleh ke arah kamar mandi, tempat Liam sedang membersihkan diri. Setiap gemericik air yang menyentuh lantai menambah kengerian dalam benak Raline. Jantungnya berdegup cepat hingga rasanya dapat meledak kapan saja.
Ia tidak siap. Belum pernah ada pria yang menyentuhnya selama ia hidup, dan Raline tidak siap untuk itu. Terlebih, lawan mainnya kali ini adalah Liam, pria arogan yang terlihat tidak memiliki belas kasihan.
Apa lebih baik dia berdalih sedang sakit?
Raline segera menggeleng terhadap ide itu. Liam akan lebih murka jika tahu ia berbohong. Situasinya justru akan bertambah rumit dan tidak menguntungkan.
Namun, Raline juga tidak ingin berhubungan badan dengannya.
Raline sekali lagi menatap ke arah kamar mandi. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gugup. Seakan singa yang lapar bisa keluar dari sana kapan saja.
Bahunya terlonjak kaget saat notifikasi pesan terdengar. Itu dari Chelsea. Pesan yang dikirim sahabatnya masuk bertubi-tubi.
“Kamu serius pergi ke hotel?”
“Raline?”
“Kamu tidak sedang melakukan 'itu' sama dia, ‘kan?”
“Please, Lin. Jawab pesan aku. Kamu benaran baik-baik saja, ‘kan? Aku khawatir.”
“Suami baru kamu kayaknya bukan orang baik-baik, Lin. Kamu tidak apa-apa, ‘kan?”
Gadis itu bergidik ngeri membaca pesan yang terakhir. Untuk sekarang, ia mungkin baik-baik saja, tetapi ia tidak tahu akan jadi apa ia saat pria itu keluar.
Detik berikutnya, ponsel itu berdering. Tertulis nama Satyadikara yang dibubuhi emotikon cinta. Pria itu meneleponnya.
Wajah Raline berubah pucat seketika. Mengapa harus sekarang?
Ragu hendak menolak atau menjawabnya, Raline terus menatap layar ponsel dengan sorot cemas. Tidak menyadari derap langkah kaki yang sedang mendekatinya.
“Siapa dia?”
Raline menjerit, kaget bukan main saat melihat Liam telah berdiri di belakangnya. Tangannya sontak melempar ponselnya ke sembarang arah, tetapi dering itu terus terdengar hingga mengundang kerutan dalam di dahi Liam.
Tanpa mengatakan apa-apa, pria yang terbalut mantel mandi itu berjalan menjauh dan memungut ponselnya. Membaca nama yang tertera di layar menyala itu.
Raline memejamkan mata ketakutan. Habislah dia. Liam tidak akan segan melempar ponsel itu jika tahu pacar Raline mengganggu mereka.
Namun, bunyi itu kemudian berhenti.
Raline membuka mata dan kaget melihat baterai ponselnya telah dibongkar lepas.
“Apa yang Tuan lakukan?!” tanyanya dengan nada sedikit protes.
“Kau lebih suka melihat aku membantingnya?” Liam bertanya dengan tajam, kemudian menaruh kasar baterai dan ponsel Raline di meja.
“Mulai sekarang, jangan ada telepon apapun saat kita bersama,” titahnya.
Raline hanya bisa menatap iba pada nasib ponselnya. Biasanya, dia selalu menjawab setiap kali mendapat telepon dari Satyadikara. Kini, ia jadi tidak bisa dihubungi total. Pria itu pasti akan mencurigainya.
Tunggu, mengapa ia justru memikirkan masalah tidak penting? pikir Raline. Jantungnya seakan jatuh ke lambung saat menoleh dan mendapati Liam tengah menelisik dirinya. Menatap Raline dengan tatapan buas.
“Kau tidak memiliki baju lain?” tanyanya, merasa aneh dengan Raline yang masih mengenakan kebaya.
Gadis itu menggeleng. Napasnya seakan tercekat di tenggorokan.
“Aku tidak sempat menyiapkan pakaian apapun,” jawabnya, berusaha terlihat tegar meski telapak tangannya tidak berhenti berkeringat.
“Tidak masalah,” jawab Liam, “Toh malam ini kau tidak membutuhkan pakaian apapun untuk menutupi tubuhmu.”
Wajah kaku Liam terlihat ganas saat bibirnya tersenyum miring seakan menikmati kecanggungan Raline.
Dalam satu serangan, pria itu merangkul tubuh Raline dan menjatuhkannya di ranjang. Tepat di bawah tubuhnya.
“Tunggu–!” Raline berseru panik. “So–soal ini, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”
Liam terdiam. Bola matanya berputar acuh tak acuh sementara ia menahan diri di atas tubuh gadis itu.
“Katakan.”
“Se–sebenarnya, kau tahu, seharusnya Kak Bora yang pergi ke hotel hari ini. Karena itu, aku sebenarnya, kau tahu, sebenarnya aku–”
“Langsung ke intinya!” damprat Liam.
“Aku belum siap!” ujar Raline. Dia mengatakannya dengan mata tertutup karena takut.
“Aku belum siap melakukan ini, dan aku belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun, jadi tolong beri aku waktu.” Raline melanjutkan dengan intonasi memohon.
Rahang Liam bertambah kaku dan mata cerdas pria itu menatapnya dengan sorot tajam. Tidak mungkin gadis seusia Raline belum pernah melakukan ini.
“Kau bukan hanya beralasan karena tidak ingin tidur denganku?” tembaknya.
Raline membelalakkan mata dan menggeleng. “Tidak, bukan. Aku ummh–”
Ucapan gadis itu terhenti saat Liam tiba-tiba menyerang bibirnya. Mengisap dan melumat kasar bibir mungil Raline.
Napas Liam terdengar memburu, sementara Raline tersentak beberapa kali oleh desakan pria itu.
“Kumohon… Tuan…. Jangan… sentuh aku–ummh!”
Liam kembali meraup bibirnya, kali ini menggigit dan mengisapnya dengan buas seakan tidak peduli dengan Raline yang mulai gemetar ketakutan.
Sementara Liam melahap bibirnya, tangan besar dan dingin pria itu bergerak untuk melepaskan kebaya Raline. Menjadi tidak sabar dan justru merobek lepas kebaya itu. Membuat Raline semakin ketakuan.
“Jangan, Tuan,” isaknya saat berhasil meloloskan diri dari lumatan kasar Liam. Akan tetapi, pria itu lebih berkuasa.
“Hmmh!” Geraman jengkel terdengar saat Liam mengangkat dan menahan kedua tangan Raline di atas kepala. Membuat gadis itu semakin takluk di bawah penguasaannya.
Lidah buas dan basahnya mulai turun ke arah leher Raline dan bergerak terus menuju puncak dada gadis itu.
“Akh! Tuan… Jangan sentuh aku…. Kumohon….” Raline terisak. Napasnya tercekat di tenggorokan dan air mata panas mulai meleleh di wajahnya.
Gadis itu terus bergeliat, berusaha melepaskan diri dari kungkungan Liam meski sia-sia sebab penguasaan pria itu jauh lebih dominan.
Liam terus mendesak bermain di dadanya. Membuat Raline menangis sambil sesekali tersentak oleh sensasi.
“Tuan….” Suara gadis itu terdengar lirih.
Pandangan Raline mulai buram akibat air mata yang memenuhi kelopaknya dan Raline pikir dia akan tamat malam itu juga, tetapi Liam tiba-tiba berhenti.
Pria itu beringsut bangkit dan melepaskan genggamannya dari tangan Raline.
“Membosankan,” katanya dengan suara tajam dan sorot mata yang terlihat lebih gelap. “Turun dari ranjangku!”
Sambil terisak, Raline bangkit, merapikan kebaya yang sudah tidak berbentuk dan mengekspos bagian tubuhnya, kemudian beringsut turun. Kakinya gemetaran bahkan hanya untuk sekedar berjalan beberapa langkah.
“Tidur di sofa dan jangan sekali-kali mencoba mengganggu waktu tidurku!” kecam Liam sebelum pria itu menjatuhkan diri dan mematikan lampu.
Sisa-sisa keberanian Raline menyusut seketika. Ruangan telah menjadi gelap dan gadis itu terduduk lemas di lantai.
Ia berusaha berhenti menangis, tetapi air mata justru terjatuh lebih banyak. Tangannya terangkat untuk menutupi mulut, menahan isak tangis yang tidak dapat dihentikan. Puncak dadanya terasa membengkak dan berdenyut-denyut.
Raline sudah sekacau ini, tetapi Liam justru tertidur tenang di ranjang. Seakan tidak peduli dengan kondisi mental dan fisik Raline yang sudah ia acak-acak.
‘Apa salahku?’ pikir Raline. Mengapa orang tuanya memaksa ia untuk menikah dengan pria seperti Liam? Akan jadi apa hidupnya jika terus-menerus berada di sisi pria kejam itu?
Raline terus terisak dan matanya mulai terasa berat hingga tanpa sadar ia tertidur di lantai. Sepanjang malam.
***
Liam, kamu ngga kasihan sama Raline apa? :")