Disebuah kamar hotel, Zayn berbaring dengan seorang gadis muda. Usia mereka tak jauh berbeda.
"Alice, selamat ulang tahun!" tiba-tiba saja ia membawa sebuah goodie bag yang sebelumnya sudah diletakkan di nakas.
"Kamu masih ingat hari ultahku?" Gadis itu bersemangat.
Alice membuka isi dari goodie bag. Ia terbelalak tak percaya.
"Eh, ini kan tas yang kulihat pas kencan kita waktu itu," ucapnya sungguh senang.
"Kamu bilang tasnya manis kan? Jadi aku membeli hadiah itu untuk ultahmu," sahut Zayn tersenyum melihat pacar tersayangnya.
"Tapi kan harganya mahal, gak apa-apa nih? Kalau gak salah lihat harganya hampir lima juta," Alice mengingat.
"Kalau cuma segini sih kecil," Zayn tertawa lebar.
"Zayn, terimakasih banyak ya!" Alice tak sanggup berkata-kata.
"Oh iya ada lagi kejutan untukmu," Zayn mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya.
"Tadaaaa....aku sudah berhasil mendapatkan SIM lho. Lain kali kita bisa naik mobil," ucapnya bersemangat.
"Wah... Zayn. Aku makin menyukaimu," sahut Alice memeluk erat tubuh pria didepannya.
"Sebenarnya sudah dua Minggu ini aku bekerja sambilan mati-matian untuk ngedapetin semua ini," batin Zayn bangga telah membuat pacarnya senang.
Zayn dan Alice adalah murid dari sekolah yang sama. Mereka masih belajar di bangku SMA. Tahun ini merupakan tahun terakhir mereka di sekolahnya. Alice dan Zayn berpacaran dalam waktu sebulanan ini.
*****
"Oi Zayn, kamu gak lupa sesuatu kan?" Tanya teman satu genknya.
"Apa sih kalian ini," gerutu Zayn.
"Itu lho kencan massal sama cewek-cewek dari sekolah sebelah," ucap temannya.
"Pilih yang manis-manis aja Zayn!" seru teman satunya.
"Rendi, Tommy. Kalian ini cewek mulu isi kepalanya." Zayn mulai malas meladeni mereka.
Saat itu masih jam istirahat. Jadi mereka asyik mengobrol.
"Sepertinya aku tidak bisa ikutan kencan massal itu deh," cengir Zayn.
"Hah... serius? kalau begitu percuma aja dong," sahut Rendi.
"Aku gak mungkin ikut bersama kalian kan?" tanya Zayn.
"Ah iya, sekarang kamu sudah punya Alice. Hebat juga kamu bisa berkencan dengan cewek tercantik di sekolah kita ini. Kalian lagi mesra-mesranya kan?" tanya Tommy.
"Mesra-mesranya apaan?" Zayn bersemu merah.
"Tapi emang iya sih, kayaknya ia beda dari cewek-cewekku yang dulu," Zayn menerawang jauh.
Ia ingat kalau Alice selalu menemaninya makan siang. "Ya, walaupun sering terlambat setidaknya Alice berusaha untuk menemani aku," batinnya.
Tiba-tiba Zayn berdiri dan meninggalkan teman satu genknya.
Tommy yang melihatnya seolah malas dan tersenyum kecut. Ada raut wajah yang tak bisa diartikan oleh orang lain.
"Dasar tuh anak, kita malah di tinggal," kesal Rendi.
"Sudahlah, biarkan saja dia! Paling mau ke kelasnya Alice," tebak Tommy.
"Alice, aku percaya padamu. Aku yakin dengan hubungan kita ini," batinnya.
Bel berbunyi, mereka semua berhamburan masuk kedalam kelas masing-masing.
Zayn masih memikirkan Alice. Ia tak bisa fokus pada pelajarannya di depan.
Bel pulang sekolah berbunyi nyaring. Murid-murid berceloteh riang. Mereka berhamburan keluar kelas.
Seperti biasa, Zayn menyusul ke kelas Alice. Tapi ia lupa kalau pelajaran terakhir Alice adalah olahraga. Jadi, ia pergi ke ruang ganti perempuan.
"Ruang ganti ceweknya berisik sekali sih," gerutunya.
Zayn tidak jadi mengetuk pintu itu. Ia mendengar mereka menyebut namanya.
"Beneran kamu cuma main-main dengan Zayn? dasar cewek iblis," suara gadis lain yang tidak Zayn kenal.
"Hei, aku kan gak minta dibeliin tas itu. Dia yang beliin sendiri lho," sahut Alice.
Zayn masih menguping pembicaraan mereka.
"Benarkan itu suara Alice?" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Tapi kamu tidur dengannya kan?" tanya suara gadis lainnya.
"Iya juga sih, abisnya enak. Jadi ketagihan deh," Alice tersenyum lebar.
Zayn mengintip lewat celah pintu. Ia melihat mereka. Dan benar saja, Alice dan kawan-kawan satu genknya masih disana.
"Kasian juga sih si Zayn. Padahal kamu kan udah punya pacar beneran." Ucap gadis satunya.
"Zayn Abidzar, sungguh malang nasibmu!" sahut gadis lainnya.
Alice hanya tersenyum meremehkan. Zayn yang melihat itu semua jadi muak dengan kelakuan Alice. Dalam hati muncul keraguan.
"Benarkah itu? kamu pasti bohong kan Al," batin Zayn masih meragukannya.
Ia mengambil smartphone miliknya dan melihat sebuah nama.
Dengan satu kali klik, nama Alice sudah dihapus.
Zayn menerawang, mengingat kenangan indahnya bersama Alice selama sebulan ini. Ia berjalan sempoyongan seperti orang yang kehilangan keseimbangan.
Seminggu kemudian
Disebuah kelas.
Seorang guru muda membagikan hasil ujian uji coba muridnya. Ia memanggil nama-nama murid dikelas itu.
"Zayn, Zayn Abidzar!" pekik wanita muda itu.
Ada beberapa muridnya yang menahan tawanya ketika ia memanggil Zayn. Sementara yang ia panggil tertidur pulas di bangkunya.
"Astaga ini anak ternyata tidur. Hey Zayn bangun!" guru itu memukul meja Zayn.
Zayn terperanjat karena gurunya sudah berada di depannya dengan kondisi tangan yang bersedekap dan raut wajah yang garang.
"Kamu ini, mesti Ibu panggil berapa kali baru kamu mau dengar?" gerutunya.
Zayn mengambil kertas hasil ujiannya. Ia mengacuhkan gurunya.
"Anak jaman sekarang memang kurang ajar," batin Evelyn kesal.
Bel istirahat berbunyi. Semua murid keluar dari dalam kelas. Zayn yang mengantuk keluar paling akhir.
"Zayn Abidzar," panggil Elyn.
"Ada apa lagi sih Bu? sekarang waktu saya untuk beristirahat," keluhnya.
"Akhir-akhir ini kamu kenapa sih? sering bengong pas pelajaran.
Kalau mau diterima di Universitas, kamu harus lebih giat belajarnya!" Evelyn menasehati Zayn.
"Nih! perbaiki ya! hari Jumat harus sudah Ibu terima, mengerti?" Ia menyerahkan lembaran soal tambahan untuk Zayn.
"Berisik," lirih Zayn.
"Eh, apa yang kamu bilang?" Evelyn mulai meradang.
"Kubilang berisik! siapa yang mau masuk Universitas?" Zayn mengambil kertas itu dan mengepalnya. Ia berjalan pergi meninggalkan gurunya.
"Huh, aku tak menyangka murid disekolah ini tabiatnya aneh-aneh," keluhnya.
Tommy mengikuti Zayn yang menjauh dari ruang kelasnya. Ia melihat Zayn dan gurunya telah meributkan sesuatu.
"Zayn, tunggu aku!" ia setengah berlari.
"Tommy," Zayn menoleh kearahnya.
Mereka berdua pergi ke atap sekolah. Mereka menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam. Begitulah kelakuan mereka di sekolah.
"Sebentar lagi liburan tengah semester terakhir kita di sekolah nih," Tommy memulai pembicaraan.
"Iya, memangnya kenapa?" Zayn seakan tak peduli.
Tiba-tiba saja Tommy berbicara diluar topiknya tadi.
"Kenapa? kamu nyesel ya udah mutusin Alice?" Tommy mengungkit.
"Bukan begitu," Zayn tak melanjutkan ucapannya.
"Ceritain saja sama aku! kita kan teman," ucap Tommy.
"Oh iya, hari ini kita ke Pub Brown yuk! Ada segunung cewek yang nungguin kamu disana!" Tommy mengedipkan matanya.
"Kamu bisanya hanya mengajakku ke tempat seperti itu," Zayn tersenyum kecut.
"Ayolah Zayn! mumpung kita masih muda," Tommy tertawa renyah.
Zayn hanya mengangguk saja. Ia membuang puntung rokok ke sembarang arah dan menginjaknya.
Mereka berdua kembali kedalam kelas karena bel sudah berbunyi.
Zayn memang pemuda yang selalu berhura-hura. Kedua orang tuanya tidak pernah menghiraukan sedikit pun. Itulah sebabnya mengapa ia melampiaskan kekesalannya pada rokok, minuman keras dan gadis seumurannya.
****
"Hey...itu ada Zayn," seru seorang gadis cantik.
Pakaian yang mereka kenakan serba mini dan membuat mata para pria betah memandang mereka lama-lama.
Musik terdengar kencang didalam ruangan ini. Banyak gadis-gadis meliukkan tubuh mereka di lantai dansa.
"Ini Pub apa club sih? kenapa kalian membawaku kemari?" Zayn mengernyit.
"Tidak penting pub atau club, yang penting cewek-cewek itu merindukanmu Zayn. Lihatlah mereka berteriak memanggil namamu," Tommy menepuk pundak Zayn dan mulai menari dengan random.
"Astaga Zayn udah datang. Kemarilah Zayn!" panggil gadis-gadis muda itu.
"Zayn... nikmatilah mereka Bro! Kalau bukan sekarang kapan lagi kan?" Tommy mengedipkan matanya seolah menggoda sahabatnya.
Ada seorang gadis cantik seumuran dengannya datang dan langsung menggandeng lengannya dengan penuh kemesraan.
"Gimana kalau kita menginap di hotel?" bisiknya pada Zayn.
Tommy yang melihatnya hanya bisa tersenyum lebar.
"Boleh aja! Setelah kesana kita akan ngapain?" Zayn sepertinya mulai tertarik dengan tawaran gadis cantik itu.
"Baiklah, kita pergi sekarang!" Mereka bergandengan dan keluar dari club malam.
Tommy yang melihatnya hanya tersenyum smirk.
"Aku yakin kamu butuh pelampiasan," gumamnya lirih.
Musik di ruangan itu masih berbunyi dengan kencang.
Zayn dan gadis di sampingnya sudah tiba disebuah hotel. Mereka dengan santainya masuk.
"Kenapa kamu bisa masuk kemari?" tanya Zayn.
"Tenanglah, aku punya koneksi di hotel ini. Jadi mereka tidak akan pernah curiga padaku," Ia menggandeng lengan Zayn dengan mesra.
Kamar yang sudah mereka pesan ternyata lebih luas dari perkiraan. Gadis itu langsung saja membuka bajunya dan menggoda Zayn dengan lincah. Mereka tenggelam dengan kehidupan yang penuh dengan dosa.
***
"Pagi Zayn!" sapa teman seangkatannya.
Zayn sudah berada disekolah dan ia melangkah menuju kelasnya.
"Yeah," jawabnya singkat.
Zayn masih saja melangkahkan kakinya.
"Tunggu dulu...!" Ia memegang pundak Zayn.
"Kemarin pagi aku meneleponmu, tapi kenapa kamu gak menjawabnya?" tanyanya.
"Sorry, aku lagi bekerja sambilan." Sahutnya malas.
"Kalau nanti malam kamu punya waktu luang gak? Kamu udah putus sama Alice kan?" Gadis itu berharap.
"Aku ingat sekarang, dia pernah menginap denganku sekali," Batinnya. Dia menatap gadis di depan.
"Entahlah," jawaban Zayn sepertinya bimbang.
"Kalau ada waktu nanti kutelepon deh, tunggu aja ya!" ucapnya lagi.
"Ah iya, oke deh kalau begitu." Zayn mendekat dan tersenyum lebar seakan menyukai gadis itu.
Ia melakukannya karena tiba-tiba ada Alice dan teman-temannya yang melintas. Setelah itu barulah ia melangkah kembali dan senyum aneh terkembang sempurna.
"Tunggu dulu deh, yang barusan itu Erika dari kelas C kan? Apa jangan-jangan mereka berpacaran?" seru teman Alice.
"Eh, gak mungkin lah! teman satu malam aja kali tuh," sahut yang lainnya.
"Alice, apa kamu gak curiga dengan Zayn yang sekarang? dia tiba-tiba memutuskan kamu," ucap teman lainnya.
"Apa-apaan cewek jelek itu, emangnya dia pikir bisa menguasai Zayn untuknya sendiri apa?" Alice menggerutu. Mukanya terlihat kesal dan marah.
Mereka berjalan beriringan dan kembali menuju kelasnya. Alice masih memikirkan kejadian tadi dan memiliki sebuah rencana.
Atap sekolah ketika waktu istirahat.
Zayn melangkah dengan santai. Ia tak bisa menghindari ajakan Alice yang ingin menemuinya di atap gedung.
"Tumben manggil aku! Emangnya kamu mau ngomongin apa?" tanyanya acuh.
Pandangan mata Zayn begitu dingin dan cuek.
"Zayn, aku..." Alice berhenti berbicara.
"Si*l kenapa jantungku mendadak berdebar kencang?" batin Alice.
Mereka saling menatap dengan intens.
Dengan tampang imutnya, Alice seakan menggoda Zayn.
"Eum begini Zayn, apa kamu sekarang udah punya pacar atau lagi deket sama cewek?" tanyanya.
"Pasti ada kan?!" Ia menambahkan.
"Nggak juga," jawab Zayn enteng.
"Oh..begitu ya," sahut gadis itu.
Setelah putus mereka seperti kaku dan susah mau berbicara satu sama lain. Apalagi Zayn yang sudah mendengar penjelasan dari mulut gadis itu ketika bersama teman-temannya.
"Hei, kenapa mendadak kamu gak nelpon aku lagi sih? Apa kamu benci sama aku?" tanyanya. Ia menyilangkan kedua kakinya.
"Bukan gitu..." sahut Zayn.
Ia melihat tingkah gadis di depannya itu.
"Astaga Alice memang manis banget," batinnya.
Mereka masih saling memandang lama. Akhirnya Alice mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya.
Ia memberikan itu pada tangan Zayn. Zayn hanya menerima tanpa tahu apa barang itu. Gadis itu masih menggenggam tangannya.
"Zayn, hari ini bisa ketemuan gak? aku tunggu hari ini jam 4 sore di stasiun ya! Ada yang ingin aku bicarakan. Tapi...kalau memang gak mau, gak dateng juga gak pa-pa kok." Ia melepaskan genggaman tangannya.
"Tapi aku serius lho, udah ya!" ia bergegas meninggalkan pemuda itu seorang diri.
"Apaan sih ini?" Ia membuka tangannya dan terbelalak tak percaya.
"Ini kan penga*an? kenapa dia memberikannya padaku? Apa dia mau mempermainkan aku lagi?" gumamnya lirih sambil menimbang-nimbang.
"Tapi aku juga belum punya bukti sih siapa sebenarnya pacar Alice." Ia menghela napasnya dengan cepat.
"Ah.... baiklah, aku akan menemuinya nanti sore." Tekad Zayn bulat.
Ia kemudian kembali melangkah ke kelasnya dan mengikuti pelajaran hari ini dengan perasaan bimbang. Pelajaran yang ia terima pun hanya melintas begitu saja.
***
"Zayn...aku pikir kamu gak akan datang! syukurlah kalau kamu datang," Alice tersenyum riang.
Zayn menampakkan wajah dinginnya. Mereka segera masuk kedalam kereta api dan menuju tempat yang ingin Alice datangi.
Mereka berdua makan malam bersama setelah sampai ditempat tujuan. Alice berceloteh panjang lebar, sehingga Zayn mulai memperhatikannya lagi. Zayn menatap wajah gadis di depannya dengan perasaan bimbang.
"Senyumanmu sungguh manis Alice," batinnya.
"Tapi kamu hanya bersandiwara kan?" batinnya ragu.
"Zayn...kita pulang besok pagi saja ya! bagaimana kalau malam ini kita pergi ke hotel?" gadis itu bergelayut manja.
"Baiklah," Zayn menurutinya.
Mereka berdua memanggil taksi dan segera pergi ke hotel yang dimaksud Alice.
Sampai dikamar hotel mereka terbuai dengan hasrat menggebu. Setengah jam berlalu, Alice yang mengajak Zayn menginap ternyata mendadak tidak disetujui olehnya. Jadi, mereka bersiap-siap kembali untuk pulang malam ini juga.
Dengan perasaan kalut, Zayn berani mengucapkan uneg-unegnya.
"El, mau jadi pacarku lagi gak?" tanyanya.
Alice yang tengah bercermin dan menggunakan lipstiknya terpaku mendengar pertanyaan dari pemuda itu. Ia tak jadi merapikan rambutnya yang berantakan.
"Kalau begitu setidaknya kasih tahu aku siapa pacar aslimu?" tanya Zayn lagi sambil mengepalkan tangannya.
Wajahnya muram bercampur marah.
"Ka-mmu ta-ta-hu?" gadis itu tergagap.
Matanya terbelalak tak percaya.
"Siapa? apa aku kenal orangnya?" tanyanya lagi.
tetap tak ada jawaban dari Alice.
Ia menatap mata Zayn dengan dalam.
"Siapa sih orangnya?" desak pemuda itu.
Alice ragu, dia bingung dan khawatir kalau mengatakan siapa pacarnya yang sebenarnya.
"Dia...dia adalah....
Dengan penuh keraguan Alice menatap mata Zayn. Bibirnya kelu tak mampu berkata-kata.
"Dia adalah....Tommy..." Alice tak melanjutkan ucapannya.
"Tommy? maksud kamu Tommy teman sekelas aku?" tanyanya tak percaya.
Reaksi Zayn membuat badannya bergetar hebat. Ia tak menyangka bahwa Tommy sahabat karibnya adalah pacar Alice yang sebenarnya.
"Maafkan aku Zayn! aku juga merahasiakannya pada yang lain. Kami sudah setengah tahun ini berpacaran," jelasnya.
Alice meneteskan air mata. Ia tak bisa membendungnya lagi. Selama ini ia berbohong pada Zayn, akan tetapi jauh di lubuk hatinya ia mempunyai sebuah rasa pada pemuda itu.
Zayn terpaku ditempatnya berdiri. Mereka tidak jadi pulang karena ia ingin tahu semuanya tanpa terkecuali.
"Kamu selalu ngomong ke Tommy kalau aku ini manis dan menggemaskan kan? makanya Tommy menyuruhku untuk mengerjaimu sedikit," jelasnya menyesali perbuatannya.
"Jangan bohong kamu!" ia menarik tangan Alice dengan kasar.
"Tidak, aku tidak bohong Zayn! Tommy dan Rendi selalu meremehkanmu dan menjelekkanmu." Jelasnya lagi.
Zayn mulai berlari meninggalkan Alice yang masih menangis dikamar hotel. Ia mengingat kembali perkataan Tommy beberapa hari yang lalu.
"Kalau ada apa-apa ceritakan saja semuanya! kita kan temen," ucap Tommy dahulu padanya.
"Apa maksudnya itu Tommy?" geramnya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Tak terasa ia berlari ke arah rumahnya. Hari sudah sangat malam. Ia langsung masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu karena ia punya kunci cadangan.
Klak...pintu ia buka dengan cepat.
"Zayn...kemana saja kamu? kerjaanmu tiap malam hanya keluyuran aja bisanya," tegur papanya kesal.
"Selamat datang Zayn. Sayang...kamu jangan emosi begitu!" ia mendekati suaminya.
Zayn hanya melirik mereka sekilas saja. Ia sama sekali tak peduli pada kedua orangtuanya.
"Gara-gara kamu gak bisa ngajarin anak, dia jadi sampah kayak gini!" Pria itu mencaci istrinya.
"Kemana aja kamu sampai malam begini baru pulang?" Ia marah pada anak satu-satunya.
Zayn tak menggubris pertanyaan papanya. Ia melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Dia pasti main ke rumah tetangga sayang! jangan marahin dia dong!" Mamanya berusaha membela.
"Nggak usah banyak alasan!" Ia menepis tangan istrinya.
Zayn yang berada di dalam kamar mengambil tasnya dan membawa beberapa pasang pakaian. Ia sudah malas berada di rumah yang seperti neraka baginya. Tak lupa ia membawa perlengkapan penting lainnya.
Ia sudah keluar kamar dengan tas di punggungnya. Ia tak memperdulikan kedua orang tuanya yang berdebat.
"Zayn...mau kemana kamu? beraninya mengacuhkanku!" Papanya sungguh berang.
"Zayn, kemarilah nak!" Mamanya hanya mampu memanggil tanpa bisa berbuat apapun.
Klak, pintu sudah dia tutup dengan kencang. Ia melangkah keluar rumah ditengah malam tanpa memperdulikan situasi di sekitarnya.
"Lihat itu anakmu! selalu saja berulah!" Ia kesal dan masuk ke kamarnya disertai membanting pintu keras-keras.
Istrinya hanya bisa mengelus dada melihat tingkah anak dan suaminya.
Zayn yang masih berada di balik pintu hanya bisa tersenyum palsu ketika ia mendengar suara mereka.
Ia menengadah melihat langit malam yang gelap. Ia teringat kehidupan lalu ketika ia masih kecil.
Zayn POV.
Aku berusia sekitar 8 tahun dan masih bersekolah di bangku sekolah dasar. Semua temanku bercerita tentang orangtua mereka yang selalu mengajaknya pergi ke pasar malam dan taman bermain. Berbeda sekali denganku yang mendapatkan perlakuan dingin dari Papa. Papa selalu mengacuhkan aku.
"Pa...hari ini ujianku dan hasilnya sudah keluar!" Ku tunjukkan kertas ujian yang bernilai sempurna.
Papa menepis tanganku dan berjalan menjauh sambil berkata,"Papa capek jangan ganggu kalau hanya buat melihat hal kecil seperti itu."
Aku yang mendengar perkataan Papa merasakan sakit di dada sebelah kiri. Rasanya keberadaanku tidak dianggap lagi olehnya.
Berulang kali aku diacuhkan oleh Papa. Aku pun sering melihat mereka bertengkar mulut dikamarnya.
Waktu aku SMP, aku tak sengaja terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Aku keluar dari kamar dan mendengar pertengkaran kedua orang tuaku. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mama ditampar dan dipukuli oleh papa.
Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan papa membuatku kembali menderita sendirian. Aku yang masih berada diluar kamar hanya bisa mendengar suara mereka.
"Kamu belum putus hubungan sama pria itu juga ya?! ternyata Zayn memang bukan anak kita kan??" nada bicara papa sungguh kejam.
Sambil berkata ia langsung menampar pipi Mama. Aku terbelalak tak percaya dengan pendengaranku barusan.
"Kenapa Mama diam saja? benarkah kalau aku ini..?" batinku seketika terluka begitu dalam.
Zayn POV end.
Sejak Zayn SD sampai sekarang, keluarganya masih saja berantakan.
Pengkhianatan, saling benci, tak pernah ada rasa percaya, ia sudah muak dengan semua itu.
Tes...tes...tes
Langit malam yang semula cerah berhiaskan bintang-bintang, tiba-tiba saja mendung dan menurunkan hujannya. Akan tetapi hujan tidak membuat langkah Zayn terhenti.
Ia masih berjalan dalam hujan dan menaiki tangga jembatan layang.
Tiba-tiba saja ia terbersit keinginan yang tidak masuk akal.
"Kalau jatuh dari sini bakalan langsung mati gak ya?" Ia melihat ke arah bawah jembatan.
Disaat yang sama di sebuah restoran Jepang.
Ada beberapa orang berkumpul di satu meja makan.
Suara bantingan gelas di meja kayu.
"Aah...dasar! masa aku dibilang berisik sama muridku sendiri sih? anak kayak gitu ada juga ya, nyebelin banget!!" Evelyn menceritakan pengalamannya pada teman sejawat.
"Lagian kayaknya kamu juga nggak bisa marahin mereka kan?" Pria disampingnya tersenyum menanggapi ocehan Evelyn.
"Bener banget deh, lagian kayaknya kamu gak cocok jadi guru deh," teman wanitanya merespon.
"Hah... nggak cocok? apa menurut Fino aku juga gitu?" Ia memandang wajah pria didepannya dengan sangat lama dan tak mengindahkan perkataan Lily.
"Waktu di sekolah, kamu emang sedikit cengeng sih. Tapi kan kamu udah 2 tahun lebih jadi Guru. Menurutku usahamu sudah lumayan keras," ia tersenyum pada Evelyn yang meminta pendapatnya.
"Jadi begitu ya!? senior Fino aja yang gantiin aku gimana?" Ia meminum sodanya lagi.
"Apaan sih kamu ini malah melantur!" sanggahnya.
Mereka memutuskan untuk menyudahi makan malamnya. Kelima orang itu keluar dari restoran setelah membayar semuanya.
"Yah, hujan deh," Lily mengeluh.
"Kamu aku antar pulang ya!" ajak Fino pada Evelyn.
"Gak pa-pa kok, aku bawa payung dan saatnya aku membakar lemak dengan berjalan kaki." Ia tersenyum lebar.
Mereka berpisah, Fino mengambil payung wanita itu. Mereka berdua berjalan dan menaiki jembatan didepannya.
"Tapi aku kaget juga lho...gak nyangka kamu bakalan terus jadi guru. Kalau Andrew tahu dia pasti juga kaget," Ia berjalan disebelah Evelyn.
"Iya... " Wanita itu menyahut singkat.
"Sejak saat itu sudah dua tahun ya!" Fino menerawang.
"Benar... sudah dua tahun," Evelyn tersenyum sendu.
"Sudah dua tahun sejak pacarku meninggal, Andrew kamu pasti bisa melihatku sekarang kan?" batinnya sedih.
"Woi Lyn, dia itu lagi ngapain ya?" Fino melihat ke sisi kiri jembatan.
"Eh dia kan...
IG @Swan_princess1904