Bab 1

Sorang anak perempuan berkisar enam tahun sedang bersembunyi sambil memeluk boneka Teddy Bearnya. Dia sedang berbisik pelan kepada boneka kesayangannya itu sesekali ia tertawa lalu mengaggukkan kepalanya tiga kali seolah mengerti apa yang dikatakan boneka tersebut.

"Syut, Beal jangan bilang yah lalu aku tadi mecahin vas bunga kesayangan Mommy, tal aku di malahin lagi yah," bisik Alika di telinga boneka itu. Lalu Alika menirukan suara lain.

"Iya Alika Beal janji kok ndak bilang-bilang," ucap Alika Menirukan suara lain. Lalu ia cekikikan merasa senang.

"ALIKA"

Seorang wanita sedang berkacak pinggang dan mata pura pura tajam sedang melihat Alika yang berjongkok di sudut sofa. Alika yang dari tadi berbicara pun terhenti karena melihat sosok mommynya. Iya mendongak dengan muka lugu.

"Kamu yah yang mecahin kesayangan Mom?" tanya Resa, Mommy Alika dengan muka pura-pura marah. Alika yang melihat mommynya marah pun mulai terisak ia takut dimarahi oleh mommynya itu.

"Maa-af mom, iya Alika yang gak sengaja mecahin." Jujur Alika sambil mengelap ingus ke arah baju merahnya. Rena yang dari tadi pura-pura marah seketika berubah menjadi tatapan lembut nya aih ia sangat senang mengerjai anaknya itu. Menggemaskan.

Rena segera berjongkok lalu membawa Alika kedalam pelukannya.

"Cup, cup, sayang mom gak marah kok. Alika 'kan udah jujur," ucap Rena kepada anaknya itu sambil mengusap rambut Alik dengan lembut.

"Ayo kita makan," ajak Rena. Alika hanya menangguk kepalanya tiga kali.

Sesampai di ruang makan sudah ada seorang laki-laki berwajah tampan tengah duduk menatap istri serta anaknya. Rena pun menduduki Alika di sebelahnya

"Ayo makan mas, nanti telat ke kantornya," ucap Rena kepada suaminya lalu ia memberikan nasi dan lauk lauk ke arah suaminya itu. Alika yang dari tadi berceloteh pun menyodorkan piringnya ke arah mommynya minta untuk di isi.

"Makasih mom," ucap Alika lalu memakan paha ayam kesukaanya itu sesekali ia berceloteh ria dengan Teddy Bearnya lalu tertawa kecil.

Brak!

Laki-laki yang bisa dibilang terlihat masih bugar bernama Alan suami Rena dan daddy Alika mengebrak meja dengan keras, hingga Rena dan Alika terkejut.

"Diam Alika!" bentak Alan dengan penuh penekanan sambil menunjukan ke arah Alika. Alika yang melihat nya pun langsung memgangi jantungnya ia pun menangis kencang karena terkejut.

"Mas udah kasihan, Alika masih kecil mas," ucap Rena sambil mendekap erat tubuh sangat anak dengan tangan bergetar. Alan yang masih emosi pun melihat istrinya bergetar segera berubah lembut ia mengusap pelan surai istrinya lalu mengecup kening setelah itu pergi keluar membawa jas kantornya.

"Jangan nangis sayang anak mommy kuat," kata Rena menenangkan sangat anak. Alika masih terisak salam dekapan Mommy nya sesekali berucap pelan dan membuat hari Rena sakit.

"Udah yah, jangan nangis lagi. Sekarang Alika mau apa, hem?" tanya Rena. Alika yang sudah tenang pun mendongak.

"Taman mom," ucap Alika pelan. Rena ingat ketika anaknya tersedih tempat yang paling di tunggunya ialah taman. Sudah seminggu Rena dan suami nya pindah dari Rusia. Ia sekalipun belum mengajak anaknya pergi keluar rumah karena sibuk merapihkan rumah baru nya ini. Alika sebenarnya tidak suka pindah dari tempat rumah nya yang dulu di Rusia ia sudah nyaman dan mempunyai banyak teman seumurannya. Ah Alika rindu dengan taman di Rusia.

"Besok yah ke tamannya. Sekarang mandi dulu, tar kita buat kue untuk sapa tetangga," ujar Rena kepada Alika. Alika hanya menganggukan kepalanya tiga kali lalu beranjak dari kursi berjalan ke arah kamarnya sambil membawa TeddyBearnya. Alila memang baru berusia enam tahun tapi dia di didik oleh mommy nya untuk tidak mengandalkan orang lain.

*******

Sekarang Alika bersama mommy sedang membagikan kue buatan mommnya itu. Sesekali mereka menyapa para tetangga baru mommy nya. Alika dengan baju kodok nya dan rambut di kepang satu memeluk boneka TeddyBearnya sesekali ia berbicara lalu tertawa sendiri. Ibu-ibu yang melihat tingkah menggemaskan Alika seketika menyiumi dengan gemas. Menggemaskan.

"Mom laper," rengek Alika sambil mengusap perut yang sedikit keliatan. Rena yang masih membawa kue pun menundukan kepalanya.

"Ini tinggal satu lagi kok sekarang kita ke rumah sana, yuk," ajak Rena membawa Alika ke arah perumahan bercat hijau. Alika hanya mengerucutkan bibirnya.

Ting tong!

Seorang wanita yang masih muda membuka gerbang tersebut lalu ia melihat seorang perempuan yang masih cantik dan seorang anak yang mengerucutkan bibir nya karena kesal. Rena yang melihat tetangga baru nya berujar dengan ramah.

"Ini bu, ada sedikit kue di terima yah," ucap Rena dengan senyum ramahnya ia meyodorkan kue kepada perempuan itu.

"Ah iya makasih, ini ini tetangga baru yah saya baru lihat," ucap Diana sambil memperkenalkan dirinya, di susul Rena. Mereka tampak asik mengobrol, hingga—

"Mom cepet Alika ndak tahan, laper, mom," ucap Alika menghentikan obrolan mereka berdua. Diana yang melihatnya pun menjadi gemas sendiri lalu mengusap rambut Alika lembut.

"Ayo Alika mau makan di rumah tante aja," ajak Diana. Rena yang mendengar meringis kecil, ah dia malu.

"Gak ngerepotin Din," ucap Rena. Diana hanya Mengeleng kan kepala pertanda tidak. Diana pun mengajak Alika dan Rena ke arah ruang makanan.

"Mas liat Alika lucu banget," ucap Diana kepada suami nya yang sendiri tadi berkutat dengan laptopnya. Alvaro suami Diana pun mengongkrak ia melihat seorang anak kecil sedang di pangkuan oleh seorang perempuan yang masih muda.

"Kapan yah kita punya anak perempuan mas," ujar Diana pelan. Varo yang Mendengar meringis kecil. Memang Diana dan Varo belum di karuni seorang anak perempuan hanya di karuniai seorang anak lakilaki saja.

Diana mengajak mereka Rena untuk duduk di sebelah Diana dan Alika di sebelah Varo. Alika yang sedari tadi diam pun seketika melihat makanan kesukaannya berbicara ke TeddyBearnya.

"Beal makanan tante Din banyak yah Alika suka," bisik Alika menganggukan kepala Teddy Bearnya lalu tertawa kecil. Varo yang melihat itu pun dengan kaku ia mengusap rambut Alika. Alika mendongak lalu dengan senang hati memperkenalkan dirinya ia menyodorkan tangan kanannya lalu berucap

"Hallo Om, pelkenalkan nama aku Alika, umul Alika baru enam tahun minggu lalu Alika ulang tahun loh, Alika dapat kado banyak banget, kalau Om mau kasih kado sekarang boleh kok sekarang, gak papah kalo kelewat," ucap Alika dengan polosnya lalu tersenyum lebar menantikan hadiah yang akan ia dapat.

Rena yang Mendengarnya 'pun meringis lalu meminta maaf. Sedangkan Diana berusaha menahan tawanya melihat ekspresi suaminya syok. Lucu sekali pikir Diana.

Bersambung...

Bab 2

"Om miskin yah, kalau ndak ada, ndak papa kok, Alika masih banyak hadiah dari tetangga. Nih liat om," ucap Alika dengan muka sombong menunjukan saku depannya perutnya lalu ingin memperlihatkan banyak premen, uang dan jepitan kecil.

Varo yang sedari tadi syok langsung syok lagi sampe memegang jantung nya. Pikirannya masih tertuju dengan ucapan om miskin yah, om miskin yah. Mana ada dia miskin liat rumahnya pun megah bak istana. Siapa yang tidak tau Alvaro Aldebara pemuda yang memiliki perusahaan Bara Crop yang sudah berkembang pesat dari luar negeri, laki-laki terkaya se-Asia. Di mana letak miskinnya? Para bawahan yang pasti mendengarnya menangis mendengar ucapan bocah enam tahun itu. Baru saja lima menit ia di depan Alika sudah membuatnya serangan jantung.

"Alika udah diam gak sopan," tegur Rena yang sedari tadi berusaha menahan malunya karena tingkah anaknya itu. 

Diana yang sedari tadi tertawa langsung menghentikan tawanya lalu berbisik pelan ke arah suaminya

"Sabar yah mas," bisik Diana pelan sesekali terkekeh kecil.

"Om mau paha."

Alika dengan lugunya sambil menunjukan paha ayam di sisi Varo. Varo yang Mendengar suara Alika menjadi kaku.

Varo memberikan Alika dua paha ayam seketika mata Alika berbinar melihat dua paha ayam besaran di hadapannya, lalu Alika mengucapkam terima kasih sambil mengecup pipi Varo, Varo yang merasakan kecupan dari Alika tertegun hatinya langsung menghangat. Rena dan Diana yang melihatnya pun tertawa lalu berbincang ria. 

Alika yang sedang memakan paha ayam sesekali berceloteh ke arah Teddy Bearnya lalu terkekeh kecil. Tiba-tiba

Brakk!

Prang!

Akhhh!!

Terdengar suara pecahan dari atas kamar mereka yang sedari tadi asik memakan pun berhenti. Varo dan Diana buru-buru berlari tergesa-gesa berlari ke arah tangga. Alika yang terkejut memegangi jantungnya Rena yang melihat Anaknya pun mencoba menenangkan. Setelah tenang Alika berkata.

"Mom di atas ada yang ribut. Alika pengen liat," rengek ke arah suara teriakan tadi.

Rena yang bingung pun terdiam lalu ia memangku Alika menuju ke arah tangga. Rena khawatir dengan teman baru nya itu. Sesampainya di atas suara teriakan dan pukulan semakin jelas terdengar.

"Don't come near Dad, El can't control yourself. Sorry Mother El hurt Daddy, Akhhh!"

"Stop Al! "

"BUANG PISAUNYA SEKARANG! "

Prang!

Rena yang mendengar pecahan merasa khawatir ia bergegas membuka pintu bercat hitam tersebut. Alika yang melihat seorang anak lakilaki dengan belumuran darah dikeningnya lalu memegang pisau kecil ditangannya. Alika bingung lalu Alika turun dari pangkuan mommy nya yang sedari dari tidak bergerak ia segera berlari kecil sambil membawa Teddy Bearnya lalu Alika berjongkok dan mengambil pisau kecil yang sedari tadi dalam gengaman anak lakilaki itu. Rena, Diana, dan Varo syok dengan Alika yang merebut pisau dengan polosnya.

"Alika buang sayang. Itu bahaya. Kemari!" teriak Rena yang syok melihat tindakan anaknya. Alika yang mendengar teriak mommy nya pun tersenyum menenangkan. Alika mengerucutkan bibirnya lalu Alika berucap.

"Kamu kenapa pegang pisau bahaya tau, kata mommy Alika, anak kecil ndak boleh pegang pisau. Itu yang merah di situ pewarna makanan yah," ucap Alika dengan wajah polosnya sambil menunjukan kening yang di lumuri oleh darah.

Laki-laki itu pun mendongak karena mendengar suara anak perempuan.

Dia Axel memandang seorang anak perempuan dengan datar

"Kamu siapa," ucap Axel dingin. Alika yang mendengar 'pun bingung lalu membisikan kearah TeddyBearnya lalu menganggukan kepala tiga kali tingkah Alika tak luput dari mereka semua yang berada di sana.

"Nama ku Alika, umulku baru enam tahun. ndah seminggu aku ulang tahun lohh, kalau mau kasih hadiah ndak usah, udah banyak Alika dapet dari tante-tante tadi. Nih liat Buanyak kan. Kamu mau," ucap Alika panjang lebar sambil memberikan premen dari saku kodok nya. Axel yang sedari tadi melihat tingkah menggemaskan Alika pun berubah tatapan yang dari tadi tajam menjadi lembut lalu mengusap surai panjang Alika dengan lembut lalu berbisik pelan.

"I Found You," ucap Axel lalu kegelapan menyelimutinya. Alika yang mendengar ucapan anak lakil-laki itu bingung lalu dengan lugunya menganggukan kepalanya tiga kali.

Diana dan Varo yang melihat anaknya pingsan segera membawa ke rumah sakit. Rena segera mengecek keadaan Alika, Alika yang melihat mommy nya berbicara kalau di baik-baik. Segera Rena membawa Alika kedalam pagkuannya lalu berlari menyusul Diana karena khawatir dengan Diana dan anak lakilaki itu.

******

Tiba di rumah sakit, Varo membawa Axel bersama Diana dan Alika yang berada di pangkuan Rena segera berlari tergesa-gesa ke arah ruang perawatan. Diana tak henti-hentinya merasa khawatir. Rena yang melihatnya dengan sigap memenangkan teman barunya itu.

"Dokter, Alex kembali," ucap Varo. Dokter yang sedari memeriska terkejut. Rena dan Alika yang mendengarkan pembicaraan mereka bingung. Sedangkan Diana langsung menangis.

"Apa tak mungkin, ini sudah dua bulan berlalu," kata Dokter Bian. 

Bian Lecus. Dokter yang bekerja di keluarga Aldebara sejak dulu. Ia sudah tahu kecelakaan yang membuat Axel koma hingga satu tahun dan ketika Axel terbangun, Bian baru sadar jika Axel mempunyai Alter Ego yang bisa membangunkan kepribadian seperti Alex seorang yang sangat mencintai aroma darah bisa di sebut pyscopat. Ah iya begitu penasaran apakah Axel berbuat sesuatu hingga Alter Ego nya terbangun kembali.

Ting!

Ponsel dari saku Rena berbunyi. Ia segera menurunkan Alika dari pangkuan nya lalu berjalan keluar untuk melihat pesan dari Allan sekaligus mengabari suaminya itu, ia lupa mengabari Allan pasti suaminya itu sedang mencemaskan nya Ditempat Alika berjalan ke arah brangke untuk melihat lebih jelas anak laki-laki yang pingsan dari tadi.

'Euhh'

Axel yang sedari tadi pingsan mulai mengerjapkan matanya. Atensinya melihat Bunda dan Papahnya dan satu orang anak perempuan yang tidak ia dikenalinya.

"Bun, kepala Axel sakit," ringis Axel mengusap kepalanya pelan. Dokter Bian dengan sigap menopang kepala Axel ke arah bantal. Lalu Bian menyuntikkan obat penghilang rasa sakit ke tangan Axel, Alika yang melihat itu pun menghentikan.

"Om Dokter, ndak boleh suntik Dia, kasihan tar nangis lagi." Alika dengan polos sambil menarik jas putih Dokter itu. Bian yang mendengar suara pun menundukan kepalanya dan melihat anak perempuan dengan mata berkaca-kaca menarik jasnya.

Bian belum sadar jika anak perempuan itu sedari tadi berada di sana. karena tubuh kecil Alika gak kelihatan.

"Gak sakit kok, malah kaya digigit semut," jawab Dokter Bian sambil menyubit pelan pipi Alika.

Alika yang melihat suntik langsung bergidik ngeri ia tak mendengarkan suara dari dokter itu fokusnya sejak tadi ke arah jarum suntik. Mengerikan pikir Alika. Ia segera menutupkan kedua matanya dengan tangan sesekali melihat melalui celah-celah jari-jarinya. Empat orang yang melihat kelakuan Alika terkekeh kecil.

Rena yang sedari tadi sudah menghubungi Allan berjalan ke arah Alika yang sedang menutupi mata.

"Pak Varo dan Ibu Diana, bisa bicara sebentar di ruangan saya?" tanya Dokter Bian. Varo dan Diana hanya menganggukan lalu menitipkan anaknya kepada Rena.

"Aku Alika. Nama kamu siapa?" tanya Alika kepada Anak Lakilaki yang sedari tadi hanya diam dengan wajah datarnya.

Rena yang mendengar kan anaknya berbicara dengan Anak Diana tidak mendengarkan ia hanya diam.

"Axel." jawab Axel dengan suara pelan. Alika hanya menangguk tiga kali.

Dalam hati Axel apakah Alika lupa dengannya? Kenapa Alika tidak mengetahuinya.

"Lain kali ndak boleh pegang pisau lagi yah, kata Mommy bahaya," nasehat Alika lalu mengerejap pelan sambil menunjukan buah-buahan yang menggoda Alika yang sedari tadi ia lihat. Axel hanya menangguk dengan wajah bingung.

"Mau buah Apel?" tanya Axel lalu ia mengambil buah Apel dari nakas yang berada dekat di sisinya.

"Telima kasih ..."

"Akutuh dali tadi mau apel tapi tanganku ndak sampe. Ketinggian," jawab Alika sambil mengerucutkan bibir nya kebawah lalu memakan Apel dengan rakus. Rena yang melihatnya meringis malu. Bukan ketinggian tapi tubuh anaknya itu yang Kependekan. 

Axel yang melihatnya pun terkekeh pelan. Sampai—

Varo dan Diana membuka pintu dengan keras lalu mendekap tubuh sangat anak lalu terisak pelan. Rena yang melihatnya pun penasaran tapi ia tidak punya hal untuk mencampuri urusan orang lain.

Rena membawa Alika berpamitan untuk pulang kepada mereka karena sudah malam. Diana yang melihatnya pun mengucapkan terimakasih pada Rena dan menawarkan suaminya untuk mengantar Rena dan Alika pulang. Tapi dengan halus Rena menolak karena suaminya sedang berada jalan untuk menjemputnya.

Bersambung...

Bab 3

Rena berjalan ke arah parkiran dengan menggandeng tangan Alika. Ia dari tadi mencari-cari mobil Alan. Lalu Rena melihat mobil hitam Alan sedang di parkiran sebelah kanan, ia bergegas ke arah mobil tersebut. Rena segera mengetok kaca jendela mobil. Setelah pintu mobil dibuka Rena memasuki Alika di kursi belakang lalu memakaikannya sabuk pengaman kepada anaknya setelah itu ia menutupi pintu mobil.

Rena membukakan pintu mobil dan duduk ke arah kursi depan sebelah kiri berada di dekat suaminya. Rena langsung menyalimi tangan suaminya itu.

"Mas, ayo jalan," perintah Rena kepada suaminya. Alan menangguk. 

Di perjalanan Alika tak henti hentinya berceloteh dengan Teddy Bearnya sambil menunjukan ke arah langit malam yang terlihat dari jendela sesekali ia menghitung jumlah bintang. Alika yang menghitung bintang 'pun berhenti ketika melihat pasar malam dari kejauhan.

"Daddy berhenti!" teriak Alika.

Tapi Alan tidak menghentikan mobilnya itu. Rena tidak mendengar ucapan Alika karena Dia tertidur. Alika yang melihat mobil masih berjalan pun berteriak panik karena pasar malam yang di lihatnya mulai tak terlihat. Segera Alika melepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi di pasang oleh mommy nya.

"Dad Berhenti, Alika mau liat pasar malam." lagi Alika sambil mengoyangkan bahu Allan sambil terisak pelan.

"DAD BERHENTI!" teriak Alika menguncangkan bahu Alan dengan kencang.

Rena yang sedari tertidur pun terbangun mendengar teriakan Alika. Alan yang sedang menyetir 'pun hilang kendali karena bahunya di goncangkan oleh Alika.

Seketika Alan langsung menginjak rem mobil lalu menghasilkan suara nyaring dari ban mobil.

Cekittttt

Plak!

"DASAR ANAK SIALAN. BISA DIAM GAK.! HAMPIR SAJA KITA KECELAKAAN!"

*****

Mereka berempat atau bisa dikatakan bertiga karena Rey tidak ikutan. Rey sedari tadi hanya mendengarkan musik sambil bermain dengan hpnya. Bram, Atlas, dan Ellan yang tercyduk memperhatikan Ansen langsung salah tingkah. Rey yang melihat mereka bertiga hanya acuh lalu menghampiri meja Ansen. Sudah kepalang kepergok toh. Bram, Atlas, dan Ellan yang melihat Rey menghampiri Ansen segera mengikuti dari belakang Rey.

Ansen yang melihat mereka berempat menghampiri mejanya segera memandang mereka dengan tatapan tajamnya.

"Mau apa kalian kemari?" tanya Ansen dengan tatapan datarnya. Tingkah Ansen tak luput dari Rena dan Alika, tapi Rena hanya acuh itu bukan urusannya, Rena hanya mendengarkan saja. Sedangkan Alika langsung meniru gaya Ansen yang semula tatapan polos berubah dengan tatapan datar yang dibuatnya

"Mau apa kalian kemali," tiru Alika, menirukan suara Ansen. Mereka yang berada di meja pun melongo. Bram ingin menjitak gemas Alika karena bukannya takut ia malah ingin mencekik karena saking gemasnya tapi ia tahan bisa berabe berurusan dengan polisi.

"Bisa bicit juga nih anak. Tahan Bram jangan sampai lo bunuh tuh bocah," gumam Bram pelan. Tapi bisa di dengar oleh Ansen karena pendengar Ansen yang tajam. Seketika Ansen menatap Bram tajam.

"Sudah, jangan pada ribut. Kalian temannya Ansen yah. Silahkan duduk," ucap Rena yang sedari tadi hanya mendengarkan. Mereka berempat duduk di kursi yang kosong. Lalu memperkenalkan diri mereka kepada Rena.

"Tante ini siapanya Ansen?" tanya Atlas memulai pembicaraan lalu dengan tak tau malunya melahap nasi goreng yang berada di depan. Enak. Ansen yang melihat mendelik.

"Saya tetangga barunya nak Ansen." Jawab Rena.

Mereka bertiga terkejut kecuali Rey karena fokusnya sekarang sedang melihat Alika yang memakan paha ayam sesekali Rey mengusap bibir Alika yang belepotan. Uhh, mengemas. Alika yang melihatnya mengucapkan terima kasih lalu atensinya memandang benda aneh yang terpasang di telinga Rey.

"Woh, tante yang namanya Rena yah. Ansen kalau di sekolah sering bicarain tante loh." Ellan sambil menurunkan sebelas alisnya dengan tatapan menggoda kepada Ansen.

"Iya. Oh ya. Ngomongin apa aja Ansen sama kamu?" Rena penasaran. Tapi dengan cepat Ansen mengalihkan pembicaraan.

"Kak Ley, itu apaan?" tanya Alika lalu menunjukan benda yang terpasang di telinga Rey. Rey tidak menjawab i langsung mencabut satu headset yang terpasang disebelah kirinya lalu memakainya ke arah Alika.

"Woah, ada musiknya," ujar Alika dengan wajah antusias sambil membuat mereka yang berada disana gemas sendiri. Sudah Bram dari tadi tidak bisa menahanya ia langsung mencubit dengan gemas pipi Alika. Alika yang melihat pipinya dicubit memasang wajah masam. Seketika mereka, Atlas, Ellan tertawa kencang sambil memukul kencang punggung Bram.

"Bram, Alika gak sudi Lo pegang Bro. Liat wajahnya anjayy ngakak sumpah," ucap Ellan di sela-sela tawanya. Rena hanya menggeleng kepala melihat tingkah mereka.

"Mom, Alika pengen benda ini," ucap Alika memasang kembali wajah cerianya. Rena yang mendengar meringis. Tidak masalah kalau Headset masalahnya yang menghubungkan headset dari HP masa ia harus membeli HP 'kan Alika masih kecil.

Seakan mengerti pikiran Rena, Rey langsung membukakan tas yang sedari tadi Ia bawa lalu memberikan headset berukuran kecil dengan salon kecil berukuran kotak yang ada musik otomatis tidak menghubungkan HP dari musik. Rey berniat untuk memberikan kepada Alika dari tadi ketika melihat antusias Alika toh ia sudah jarang memakainya. 

Atlas yang melihat pun melongo Ia dari kemarin berusaha membujuk Rey untuk memberikan Headset itu kepadanya tapi Rey tidak mau malah ia dengan nekad mencurinya dan berakhir babak belur di tangan Rey. Sedangkan Ansen melihat nya hanya tersenyum kecil. Ia tau bahwa Rey sangat menyayangi anak kecil dari dulu sejak adik kecil Rey meninggal bersama kedua orang tuanya akibat kecelakaan beruntun tiga tahun lalu.

Rey segera membluetoothkan lagu anak-anak ke arah kotak yang berukuran kecil itu lalu menghapus lagu-lagu lamanya.

Rena yang melihat pemberian Rey kepada Alika mengucapkan terimakasih tak lupa Alika pun ikut berucap.

"Terima kasih kak Rey," ucap Alika seraya menyerahkan premen yang berada di saku depan perutnya. Rey hanya menangguk sambil mengambil tiga premen susu dari Alika.

"Ini namanya apaan kak?" tanya Alika sambil memasang kembali benda itu.

"Headset." Bukan Rey yang menjawab tapi Bram.

"Ohh, Hedet," ucap Alika dengan mengangguka kepala tanda mengerti.

"Bukan Hedet, H e a d s e t, Headset." Koreksi Bram dengan sabar.

"Heaset," ucap Alika lagi

"Bukan Alika bukan Heaset," gemas Bram dengan wajah putus asa

"He" Eja Bram lalu Alika meniruka ejaan Bram

"He"

"Ad"

"Add"

"Set"

"Sett"

"Headset"

"Hedeaset"

"Anjing!" umpat Bram kelepasan karena kesel

"Anjing," tiru Alika sambil menunjukan wajah Bram dengan wajah lugu.

Seketika mereka yang dari tadi menyasikan tingkah laku Bram langsung tertawa kencang.

"Hahhah anjing. Muka Lo Bram kaya Anjing, hahaha." Kompak Ellan dengan Atlas menunjukan wajah Bram yang masam.

"Sial."

Bersambung..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED