Bab 1

"Udah di depan."

Pesan singkat yang Orlyn terima dari Cein itu hanya di respon dengan helaan napas oleh Orlyn. Perempuan 25 tahun iu lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang dia bawa.

"Udah dijemput?" tanya Sania teman sekolah Orlyn dulu.

"Iya, Cein udah di depan," terang Orlyn yang kemudian memakai tasnya dan tersenyum pada Sania.

"Next time kita kumpul lagi ya. Maaf, hari ini gak bisa lama."

"Itupun kalau lo dibolehin sama Cein kumpul sama kita lagi," celetuk Diandra yang juga ada di kamar kos Sania itu.

Orlyn melihat ke arah Diandra lalu tersenyum kecut.

"Sorry, aku juga kesulitan selama 5 bulan ini. Rasanya kayak ada di jeruji besi."

"Udah deh, jangan mikir kayak gitu! Bagaimanapun Cein kayak gitu juga bentuk tanggung jawabnya sama kamu, 'kan kamu istrinya," tukas Sania yang mencoba memahami posisi Orlyn yang sekarang sudah menjadi istri Cein.

Orlyn hanya bisa menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Sania. Walaupun apa yang Orlyn katakan tadi juga tidak mengada-ada, memang dia merasa terkekang semenjak menikah dengan Cein.

Sepanjang perjalanan pulang Orlyn hanya diam dan Cein sendiri juga sibuk mengemudi. Mereka berdua itu menikah karena sedikit ada perjodohan. Kenapa sedikit? Karena yang terpaksa menikah itu Orlyn, tidak dengan Cein. Laki-laki berkulit putih pale dan berambut warna coklat tua itu, sejak pertama melihat Orlyn di pernikahan sepupunya sangat yakin kalau Orlyn itu jodohnya. Terlebih lagi saat meminta restu pada kedua orang tua Orlyn, dengan mudahnya Cein mendapat restu itu.

Orlyn sendiri sebenarnya baru saja lulus kuliah dan masih ingin bebas. Hanya saja dia tidak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya karena menurut mereka Cein laki-laki tepat yang bisa membimbing Orlyn yang sedikit liar.

"Kamu sudah makan?" tanya Cein akhirnya memecah keheningan di dalam mobil.

"Belum," singkat Orlyn menjawab.

"Dari tadi pasti sibuk ngobrol sampai lupa makan. Mau mampir ke rumah makan padang atau kita makan fast food aja?" tanya Cein lagi.

"Apa aja, aku ngikut."

Orlyn masih menjawab dengan datar dan sedikit ketus. Cein menghela napas menyadari kalau Orlyn agaknya marah karena dijemput paksa saat berkumpul dengan temannya.

"Kamu marah sama aku?"

Cein memang tipe manusia yang tidak memendam pertanyaan di hati dan pikirannya berlama-lama.

Orlyn melihat ke arah Cein lalu kemudian mendengus kesal.

"Menurut, Kakak gimana? Aku, lagi kumpul sama teman sekolahku dulu yang udah hampir 5 bulan ini gak ketemu. Baru juga 2 jam, tiba-tiba aja udah dijemput."

Orlyn mengeluarkan unek-unek di dalam hatinya yang sejak tadi dia simpan. Cein melihat sekilas pada Orlyn lalu kemudian membelokkan mobilnya ke sebuah rumah makan padang untuk cari makan.

"Maaf, aku pikir 2 jam untuk main itu sudah cukup sekarang buat kamu main. Kamu, sudah bukan gadis lagi, Orlyn. Kamu istri aku dan punya tanggung jawab atas kebutuhan aku."

Cein bicara lembut dengan menatap Orlyn yang sekarang juga sedang melihat ke arahnya. Entah kenapa Orlyn justru yang sekarang jadi merasa bersalah pada Cein.

"Ayo turun! Kamu belum makan, aku gak mau nanti kamu sakit."

Cein lalu turun lebih dulu meninggalkan Orlyn yang sudah meneteskan air matanya.

"Gini gimana aku bisa gak suka sama orang itu," ujar Orlyn yang kemudian menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.

***

Seperti hari-hari biasanya Orlyn dan Cein sarapan bersama. Sesekali bahkan mereka pergi keluar saat malam minggu. Itu Cein lakukan supaya Orlyn bisa mulai menyukainya, walaupun Cein sendiri sudah bisa merasakan kalau Orlyn sebenarnya sudah mulai suka sama dirinya.

"Orlyn," panggil Cein.

"Iya." Orlyn menjawab singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari makanan yang disantap.

"Kamu, mau kerja?" tanya Cein tiba-tiba.

Jelas itu tiba-tiba karena dulu Cein dengan tegas melarang Orlyn untuk bekerja apapun alasannya. Cein dengan pdnya melarang Orlyn bekerja karena memang finansial Cein yang masih berumur 30 tahun memang sudah sangat matang. Cein seorang manajer keuangan, asetnya juga cukup banyak dan satu lagi Cein memiliki tempat usaha yang diwariskan oleh kedua orang tua Cein.

Mendengar pertanyaan Cein reflek membuat Orlyn mengangkat kepalanya dan melihat ke arah sang suami dengan kening mengkerut heran.

"Emang boleh?" tanyanya penasaran.

"Boleh, setelah aku pikir-pikir kamu juga butuh pengalaman kerja," jawab Cein.

"Kenapa tiba-tiba?"

Orlyn mulai curiga pada suaminya yang bukan seperti suaminya pagi ini.

Cein terdiam dan menatap Orlyn sejenak. Sejurus kemudian bibir Cein tersenyum tipis dan itu sumpah manis banget.

"Gak juga tiba-tiba kok, ini udah aku pikirkan matang-matang sejak sebulan lalu. Kamu lulusan arsitek dan pasti pengen menerapkan ilmu yang kamu dapat. Aku, yang egois kalau justru memutus langkahmu untuk maju."

Lagi-lagi ucapan lembut ala Cein itu sukses membuat Orlyn meleleh. Nampaknya Orlyn memang sudah benar-benar menyukai suami yang tidak dia inginkan ini.

***

"Jadi gitu ceritanya, Ma."

Orlyn menutup sesi curhatnya dengan mamanya. Dia yang mendapat kabar baik dari Cein tidak menunggu lama untuk menceritakannya pada sang mama. Dengan senyum yang selalu terkembang saat Orlyn menceritakan semua tentang Cein, mama Orlyn mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bagus itu, berarti dia sudah mulai terbuka dan percaya 100% sama kamu," ucap mama Orlyn.

"Percaya?"

"Iya, kalau kamu masih terus dilarang bekerja dengan alasan finansial kalian aman. Itu sih bukan karena finansial, tapi karena Cein takut kamunya lari ke laki-laki lain."

Ucapan sang mama justru membuat Orlyn bingung. Walaupun menikah secara terpaksa dengan Cein, tidak sekalipun Orlyn berpikir untuk lari dan menyukai laki-laki lain.

"Orlyn gak pernah mikir gitu kok, Ma."

"Mama tahu."

"Lah, kok bisa nebak kalau Cein bakalan mikir gitu?"

Orlyn makin bingung aja dan seakan tidak bisa memahami ucapan sang mama.

Mama Orlyn sendiri tersenyum dan kemudian menutup kotak tupperware yang sudah di isi donat buatannya untuk Cein.

"Karena Cein sadar kalau menikah dengan kamu itu suatu hal yang dipaksakan. Cein sering mampir dan cerita sama mama kalau kamu sepertinya belum menyukai Cein sampai sekarang, tapi sepertinya sekarang Cein sudah berdamai dengan hatinya yang takut sendiri. Maka dari itu dia sudah bisa mulai bebasin kamu melakukan hal yang kamu mau. Dia sepertinya udah lihat kalau kamu sebenarnya bisa menyukai dia sekarang."

Penjelasan dari mamanya sukses membuat Orlyn terpana. Sepertinya Cein suaminya justru lebih dekat dengan kedua orang tuanya daripada dirinya sendiri. Orlyn aja gak bisa terbuka seperti itu, lalu kenapa Cein bisa?

***

Bab 2

Orlyn membuka pintu kamarnya perlahan, setiap kali ditinggal Cein untuk kerja ke luar kota Orlyn selalu mengunci pintu kamarnya saat tidur.

"Lho, Kakak gak nginep?" tanya Orlyn dengan suara paraunya dan sibuk mengucek matanya.

"Enggak, aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu disampingku," jawab Cein yang sukses membuat Orlyn blushing saat nyawanya saja baru terkumpul.

"Boleh ya gombalin orang bangun tidur?" protes Orlyn yang mencoba menutupi rasa berbunga-bunga di hatinya.

"Aku gak lagi gombalin kamu, Orlyn. Nyatanya memang aku gak bisa tidur kalau gak denger dengkuran halus kamu," ujar Cein yang terdengar sangat yakin dan mantap dengan ucapannya.

Orlyn menatap Cein yang sekarang juga sedang menatap dirinya.

"Ayo masuk! Kita tidur, ini masih jam 2 malam," ajak Cein yang kemudian menuntun Orlyn untuk menuju ranjang.

Orlyn menuruti ucapan Cein, keduanya lalu sama-sama naik ke atas ranjang.

"Kakak gak mandi dulu?" tanya Orlyn yang melihat Cein sudah akan menarik selimut untuk mereka berdua.

Cein melihat ke arah Orlyn lalu kemudian menggeleng sembari tersenyum tipis.

"Mandinya nanti dulu aja, aku butuh kamu malam ini."

Jantung Orlyn mendadak berdetak 2 kali lebih cepat. Ini tanda-tanda kalau Cein minta jatahnya lagi malam ini.

***

Tidak seperti biasanya pagi ini Cein telat bangun. Orlyn sudah selesai mandi dan bahkan sarapan juga sudah siap 10 menit lalu. Memang gak banyak yang Orlyn masak, cuma bubur ayam seadanya yang dia buat. Orlyn ingat kalau Cein suka banget sarapan bubur ayam buatannya. Cein bilang meskipun rasa kuahnya gak medok kayak penjual bubur di luaran, tapi karena Orlyn yang masak Cein jadi sangat suka kuah yang sedikit bening buatan Orlyn itu.

"Kak, kenapa belum bangun?" panggil Orlyn sedikit ragu-ragu sambil duduk di tepi ranjang.

Tidak ada respon apapun dari Cein. Sepertinya Cein tidur pulas dan membuatnya tidak mendengar panggilan Orlyn. Dengan memberanikan diri Orlyn lalu mengulurkan tangannya dan mengguncang badan Cein pelan.

"Kak, ini udah siang. Memangnya hari ini Kakak gak ke kantor?" tanya Orlyn sembari terus mencoba membangunkan Cein.

Beberapa detik berlalu tetap tidak ada respon apapun dari Cein. Sekarang ragu-ragu yang Orlyn alami tadi berubah jadi rasa takut. Tidak biasanya Cein seperti sekarang. Cein itu tipe orang siaga, jangankan di bangunkan sampai di goyang seperti ini. Mendengar Orlyn tidur dengan gelisah saja Cein langsung terbangun dan tidak bisa tidur lagi sebelum Orlyn tidur dengan nyenyak.

"Kak, bangun! Jangan buat aku takut bisa? Kak!"

Orlyn terus mencoba membangunkan Cein. Orlyn merasakan suhu tubuh Cein yang masih hangat, Orlyn dengan panik juga memegang dada Cein yang masih menunjukkan detak jantung walaupun pelan.

"Kak! Kak Cein!" panggil Orlyn lagi panik dan semakin meninggikan suaranya supaya Cein segera bangun.

"Itu serangan jantung saat tidur, sepertinya Pak Cein kelelahan dan mandi saat suhu tubuhnya masih tinggi. Sekarang Pak Cein sudah baik-baik saja, beruntung Ibu cepat bawa Pak Cein ke rumah sakit."

Mendengar penjelasan dari Dokter yang menangani Cein di IGD tadi sukses membuat Orlyn jatuh terduduk dengan lemas. Orlyn seperti tidak punya tenaga mendengar sang suami baru saja terbebas dari ancaman kematian mendadak.

"Terima kasih, Dok. Apa Cein sudah bisa dijenguk?" tanya mama Orlyn yang menggantikan Orlyn untuk menanyakan hal itu.

"Oh,,,sudah, Pak Cein juga sudah sadar. Tadi sempat tanya tentang Mbak Orlyn," terang Dokter itu lagi.

Mendengar itu Orlyn reflek berdiri dan tidak lagi menunggu penjelasan dari Dokter iu. Orlyn masuk ke dalam IGD dan menghampiri ranjang rawat dimana Cein berbaring dengan banyak kabel di dadanya yang dibiarkan telanjang.

Melihat Orlyn datang, Cein tersenyum tipis lalu kemudian melambaikan tangannya supaya Orlyn mendekat. Orlyn sendiri sudah mulai meneteskan air matanya cukup deras.

"Jangan menangis! Aku, gak apa-apa," ujar Cein dengan suara lembutnya seperti biasa.

Orlyn tidak mengindahkan ucapan Cein. Mengingat kalau suaminya itu tadi terkena serangan jantung membuat Orlyn tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Orlyn berdiri mematung dengan wajah banjir air mata, Orlyn bahkan tidak memperdulikan dirinya sekarang ada dimana.

"Hei! Kenapa jadi makin kenceng nangisnya?" ujar Cein yang kemudian mencoba untuk bangun untuk menenangkan Orlyn.

"Kakak udah gak sayang sama aku ya? Kakak ngebebasin aku supaya bisa pergi dengan tenang gitu? Jahat banget si, Kak!"

Orlyn bicara di sela-sela tangisannya dengan suara putus-putus. Cein sendiri tersenyum tipis lalu kemudian menarik tangan Orlyn pelan untuk lebih mendekat. Cein mendudukkan Orlyn di tepi ranjang lalu kemudian dia peluk hangat.

"Sudah jangan nangis! Malu didengar orang, kita lagi di IGD ini."

"Gak urusan! Aku, mau nangis juga aku yang habisin air mataku sendiri kok."

Orlyn masih terus menangis, Cein terkekeh pelan dan mengusap pelan punggung Orlyn.

"Kamu juga, 'kan gak sesayang itu sama aku. Jadi kenapa harus menangis sampai kayak gini? Bukannya kamu seharusnya senang jadi gak ada yang mengekang kamu lagi."

Ucapan Cein sukses membuat Orlyn berhenti menangis. Orlyn melepas pelukan Cein lalu kemudian keduanya saling memandang satu sama lain. Cein kembali tersenyum dan membantu Orlyn menghapus air matanya.

"Aku benar, 'kan? Udah ah jangan nangis lagi! Aku, masih hidup dan sekarang udah mendingan. Aku, masih bisa melarangmu ini itu nanti," ujar Cein kembali berseloroh.

Diluar dugaan Orlyn bukannya berhenti menangis justru semakin keras menangis. Cein jadi bingung harus bagaimana sekarang. Mama dan Papa Orlyn yang baru masuk juga terdiam melihat putri mereka menangis sampai hampir meraung dan sibuk di tenangkan oleh sang suami.

***

"Terima kasih ya, Ma, Pa. Maaf jadi ngerepotin pagi-pagi," ucap Cein yang sekarang sudah turun dari mobil kedua mertuanya dan sedang di gandeng Orlyn yang sejak tadi cemberut dan melakukan gerakan tutup mulut.

"Kamu itu ngomong apa? Papa gak merasa di repotin, udah cepet masuk sana! Jangan lupa obatnya diminum! Orlyn buatkan suamimu makanan yang hangat dan berkuah ya! Jangan dibelikan fast food dulu," titah papa Orlyn sembari melihat ke arah Orlyn yang masih menggandeng suaminya dengan wajah ditekuk.

"Iya, papa bener, Orlyn," timpal mama Orlyn juga.

Orlyn melihat kedua orang tuanya bergantian. Kepalanya mengangguk samar mengiyakan, Cein sendiri melirik Orlyn dan kemudian menghela napas dalam.

"Sepertinya Orlyn masih marah," batin Cein.

Sepeninggal kedua orang tua Orlyn. Mereka berdua lalu masuk ke dalam rumah milik Cein yang dibeli khusus sesaat setelah menikah dengan Orlyn. Cein duduk di ruang tengah sedangkan Orlyn sibuk memasak makan malam. Karena terus di diamkan oleh Orlyn sejak siang tadi, Cein lalu berjalan perlahan menuju dapur. Dia memperhatikan punggung Orlyn yang sibuk memotong-motong sayur sekarang.

"Orlyn," panggil Cein.

Orlyn menoleh sekilas dan menghentikan pekerjaannya.

"Apa? Ada yang kakak butuhin?" tanya Orlyn masih datar dan terdengar ketus.

"Tidak ada."

"Terus kenapa kesini? Duduk aja di ruang tengah! Nonton tv kek, apa kek."

Orlyn lalu sibuk memotong sayuran lagi. Orlyn tidak lagi melihat ke arah Cein yang sekarang berjalan mendekat ke arahnya.

"Kamu masih marah?" tanya Cein yang tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Orlyn dengan lembut.

"Jangan kayak gini bisa gak? Aku, lagi masak, Kak."

"Jawab dulu! Kamu marah?"

"Enggak."

"Lalu, kenapa kayaknya kamu nyuekin aku ya?"

Orlyn menghela napas dalam lalu meletakkan pisau yang dia pegang. Orlyn membalikkan badannya dan melihat ke arah Cein sekarang.

"Sadar gak kalau tadi di rumah sakit, Kakak nyakitin aku?" tanya Orlyn.

Cein menggeleng sembari menautkan alisnya bingung.

"Bagian mana?" tanya Cein polos.

"Semuanya! Dari pagi saat Kakak gak bangun saat aku bangunin, saat Kakak dibilang Dokter kena serangan jantung, puncaknya saat bilang aku gak sesayang itu hingga harus menangis tidak tahu tempat."

Orlyn menjelaskan dengan detail bagian-bagian dimana Cein menyakiti dirinya hingga membuat Orlyn sedikit marah.

"Bukannya yang terakhir bener?" ujar Cein lagi masih menatap Orlyn.

"Kakak! Kalau aku gak sayang gak mungkin aku panik saat kamu di rumah sakit tadi. Kalau aku gak sayang kamu buat apa aku nangis?"

Lagi-lagi Orlyn justru menangis sekarang, Cein sendiri tertawa kecil lalu kemudian merengkuh Orlyn erat.

"Aku, pikir kalau tiba-tiba aku gak ada kamu bakalan bahagia."

Ucapan itu masih Orlyn dengan jelas, tapi gadis itu masih sibuk menangis dan tidak menanggapi ucapan Cein.

***

Bab 3

"Lagi dimana?" tanya Cein di seberang sana.

"Lagi di cafe baru punya temen, Kak. Maaf, tadi gak ijin dulu soalnya buru-buru," jawab Orlyn yang kemudian melihat ke arah Sania dan memberikan kode kalau Cein yang meneleponnya.

"Masih lama?" terdengar pertanyaan lagi dari Cein.

"Kayaknya si iya, soalnya baru dimulai juga acaranya. Kenapa, Kak?"

"Gak apa-apa cuma tanya aja, nanti share lok ya. Aku, jemput kamu sekarang."

"Lho, Kak, 'kan aku udah bilang acaranya masih lama."

"Iya, tapi aku sekarang butuh kamu."

Ucapan terakhir Cein juga menjadi penutup telepon antara mereka berdua. Orlyn menghela napas kesal dengan sikap Cein. Lagi-lagi suaminya itu seenaknya aja mau jemput.

Orlyn lalu membuka aplikasi chatting yang biasa dia gunakan.

"Aku, gak mau share lok. Acaranya baru mulai, aku gak enak sama anak-anak kalau langsung cabut sekarang. Aku, pasti pulang."

Orlyn mengirim pesan singkat itu pada Cein, lalu dengan sengaja Orlyn mematikan ponselnya. Dia paham betul Cein itu cerdas, banyak cara bagi Cein untuk menemukan Orlyn kalau ponsel Orlyn masih menyala.

***

Orlyn memang pulang, tapi tidak sesuai pikiran Cein. Orlyn masuk rumah sudah hampir jam 10 malam. Orlyn melihat Cein sudah mengenakan jaket tebal hitam miliknya, sepertinya Cein mau keluar.

"Mau kemana, Kak?" tanya Orlyn tanpa rasa bersalah.

Melihat Orlyn sudah pulang Cein menghela napas lega dan kembali membuka jaketnya. Cein tidak menjawab pertanyaan Orlyn lalu kemudian pergi begitu saja menuju kamarnya. Orlyn menautkan alisnya bingung, gak biasanya Cein secuek itu? Sejurus kemudian bukannya peka dengan situasi, Orlyn justru mengedikkan bahunya dan berjalan menuju dapur. Dia haus dan harus minum sekarang.

Sebelum masuk ke kamarnya dan Cein, Orlyn memilih masak mie instan dia sedikit lapar. Di cafe temannya tadi dia memang makan, tapi sepertinya perjalanan yang tidak dekat membuatnya kembali lapar. Orlyn baru sadar kalau Cein tidak keluar-keluar kamar lagi.

"Apa iya udah tidur?" tanya Orlyn sembari melihat ke arah pintu kamarnya.

Orlyn kembali mengedikkan bahunya masa bodoh. Setelah selesai makan mie instan, Orlyn pergi mandi dan kemudian masuk ke dalam kamar. Dugaan Orlyn salah, Cein belum tidur dan sedang sibuk dengan laptopnya sekarang.

"Kak, udah malam lho. Gak tidur?" tanya Orlyn yang kemudian berjalan menghampiri Cein.

"Sudah tahu kalau ini sudah malam," jawab Cein tanpa sedikitpun melihat ke arah Orlyn.

Orlyn mengerutkan keningnya lalu kemudian memilih duduk bersila di karpet yang sengaja di gelar di bawah sofa. Cein mengalihkan pandanganya dari laptop dan melihat sekilas ke arah Orlyn.

"Tidur! Kamu pasti capek habis main seharian," ujar Cein yang kembali sibuk dengan laptopnya.

"Kakak sendiri kenapa gak tidur? Nanti kakak sakit lagi," ujar Orlyn menanggapi.

Cein tidak segera menjawab, tangannya masih sibuk mengetik sesuatu lalu kemudian terdengar helaan napas berat dari Cein. Laki-laki yang tidak pernah bisa menyembunyikan perasaan ataupun ekspresinya itu melihat ke arah Orlyn. Sedangkan Orlyn sendiri justru berkedip-kedip random ditatap oleh Cein sedemikian rupa.

"Aku lagi marah sama kamu, kayaknya malam ini aku tidur di kamar tamu aja."

Setelah bicara seperti itu Cein beranjak dan berjalan keluar kamar dengan membawa laptopnya juga. Orlyn tertegun dan hanya bisa memandangi Cein yang keluar dari kamar mereka.

***

Suara hujan begitu deras terdengar di luar. Orlyn yang memang takut hujan dimalam hari meringkuk di dalam selimut. Orlyn menutupi telinganya dengan headset supaya tidak bisa mendengar suara hujan deras yang bercampur dengan angin kencang juga.

"Kak Cein jahat banget sih sama aku. Kenapa gak pindah ke kamar kita lagi, padahal, 'kan dia tahu aku takut sama hujan di malam hari," ucap Orlyn yang masih terus berusaha untuk tidak takut.

Orlyn mulai menangis karena tidak bisa menahan rasa ketakutannya. Tidak lama menangis, Orlyn merasakan seseorang naik ke atas ranjangnya. Orlyn membuka selimut yang menutupi semua tubuhnya cepat. Orlyn lalu melihat ke belakang dimana Cein sudah berbaring dan sedang sibuk membetulkan letak selimutnya.

"Kak," lirih Orlyn dengan suara parau karena menangis.

Cein melihat ke arah Orlyn dan dalam remang-remang dia bisa melihat wajah sang istri basah karena menangis.

"Kamu nangis?" tanya Cein mengurungkan niat untuk membetulkan selimutnya dan menatap Orlyn sekarang.

"Iya. Kakak, 'kan tahu aku takut hujan malam-malam begini."

Orlyn mengiyakan pertanyaan Cein.

Cein menghela napas frustasi lalu merengkuh Orlyn cepat.

"Sama hujan aja takut, sok sokan pulang malam karena sibuk main," ujar Cein.

Orlyn menyadari kesalahannya, Cein marah pasti karena dirinya yang pulang terlambat. Orlyn lalu melepaskan dirinya dari pelukan Cein. Orlyn mendongak dan menatap Cein.

"Kak," panggilnya.

"Apa?" jawan Cein singkat.

"Aku salah ya? Kakak masih marah?" tanya Orlyn lagi.

Cein yang tadinya memejamkan matanya sekarang kembali membuka matanya dan melihat ke arah Orlyn.

"Em, kamu salah dan aku masih marah sekarang."

Cein membenarkan pertanyaan Orlyn.

"Maaf, aku salah. Ya udah kalau marah gak usah peluk-peluk! Aku, bisa tidur sendiri tanpa di peluk kamu," ujar Orlyn yang kemudian melepas pelukan Cein paksa.

Cein berdecak lalu kemudian kembali menarik Orlyn dalam pelukannya.

"Suka-suka aku! Mau, kamu aku tidurin pun itu sah buat aku."

Cein mendekap erat Orlyn yang kembali menyembunyikan wajahnya ke dada bidang Cein. Orlyn tersenyum tipis dan melingkarkan tangannya ke badan Cein.

"Selamat malam, Kak," ucap Orlyn.

"Iya, selamat malam," sahut Cein yang kemudian memejamkan matanya lagi dan pergi tidur bersamaan dengan Orlyn yang membuat dirinya senyaman mungkin di pelukan Cein.

***

Pagi harinya Orlyn bangun dan mendapati Cein sudah lebih dulu bangun.

"Lagi-lagi aku kesiangan," ucap Orlyn lalu mengucek matanya dan mengumpulkan semua nyawanya.

Beberapa menit berlalu Orlyn lalu turun dari ranjang dan langsung berjalan keluar kamar. Orlyn mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak menemukan Cein dimanapun.

"Kak," panggil Orlyn yang sedikit takut karena sepagi ini pun diluar masih hujan dan beberapa kali terdengar petir menyambar.

"Kak Cein," panggil Orlyn lagi semakin takut karena sadar saat ini sendirian di rumah.

"Kemana sih perginya pagi-pagi gini? Kenapa gak bangunin aku dulu?"

Orlyn duduk berjongkok dan menangis lagi. Entah kenapa Orlyn itu memang cengeng banget. Belum lama menangis Orlyn mendengar suara pintu rumah terbuka dari luar. Orlyn cepat berdiri dan berlari keluar, sesampainya di ruang tamu Orlyn melihat Cein melepas tudung hoodie nya dan membawa kantong plastik berwarna hitam di tangannya.

"Dari mana?" tanya Orlyn dengan suaranya yang putus-putus karena masih menangis.

Cein melihat ke arah Orlyn lalu kemudian menautkan alisnya bingung.

"Kok nangis? Ini masih pagi, Orlyn."

"Kakak sih ninggalin aku pagi-pagi sendirian, hujan lagi di luar," rengek Orlyn.

Cein membulatkan matanya tidak percaya, kenapa juga Orlyn jadi sepenakut ini. Cein menghela napasnya dalam lalu kemudian berjalan mendekat pada Orlyn.

"Udah diem! Mandi sana, aku udah beli sarapan."

Cein menuntun Orlyn untuk masuk ke dalam lagi. Orlyn menurut saja sampai keduanya sama-sama berhenti karena bel rumah mereka berbunyi. Orlyn melihat ke arah Cein, begitu pula dengan Cein.

"Siapa ya, Kak?" tanya Orlyn yang kemudian sibuk menghapus air matanya karena malu kalau ada yang lihat selain Cein.

"Entah, kamu masuk dulu aja ya! Aku, lihat sebentar siapa yang datang pagi-pagi begini," pamit Cein.

"Em."

Orlyn menganggukkan kepalanya patuh, Cein sendiri lalu melepas tangannya dari tangan Orlyn dan kembali menuju pintu rumah.

Cein membuka pintu rumah dan kemudian melebarkan matanya tidak percaya dengan siapa yang dia lihat di hadapannya sekarang.

"Sahla?" lirih Cein.

"Cein, akhirnya rumah kamu ketemu."

Tanpa ba bi bu perempuan yang Cein panggil Sahla itu berhambur memeluk Cein tanpa permisi.

***

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab

My Home

Bab 1
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED