Bab 1

"Baiklah Pak, saya tahu ini tidak benar. Tapi suatu saat saya akan membuktikan kemampuan saya. Saya yakin, saya pantas untuk mendapatkan promosi jabatan," kata Senja

"Lebih baik kamu buktikan saja kinerjamu. Hari ini ada bencana alam cukup besar, cari sisi terbaik berita. Saya tidak mau yang biasa-biasa saja," kata Pimpinan

Senja menghela nafas. Rasa marahnya belum padam setelah ia tahu bahwa ia gagal dipromosikan karena ulah teman kerjanya. Kini ia tetap jadi wartawan biasa.

Suasana hatinya tak baik. Namun sesuai perintah atasannya, ia akan bergabung dengan tim sar yang akan mengevakuasi korban banjir bandang di pulau sebrang.

Sesampainya dirumah ia pun berkemas. Dengan tas ransel hitam kesayangannya ia membawa beberapa kemeja, kaos, perlengakapan liputan seperti kamera, alat tulis dan lainnya. Biasanya ia menolak untuk pergi ke pulau sebrang. Namun, demi karirnya, kali ini ia tak bisa menolaknya.

Sebelum berangkat dengan tim sar. Senja menyempatkan mampir kerumah kekasihnya, Fajar. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara gadis lain di dalam kamar kos Fajar.

Sembari mengatur nafas dengan degub jantung yang tak kalah kencangnya. Senja dengan santai membuka pintu kamar yang sudah sedikit terbuka itu.

"Ehem! Aku jadi paham kenapa kita sering tak sepaham, ternyata pengkhianat memang akan hidup rukun dengan sesama pengkhianat!" Kata senja pada Fajar yang langsung berdiri seketika

"Senja, dengarkan penjelasanku dulu," kata wanita yang ternyata adalah teman sekantor Senja itu

"Cukup! Tidak ada yang perlu dijelaskan. Sudah jelas kamu memanfaatkanku agar kamu bisa naik jabatan. Lalu, kali ini Fajar? Sepertinya semua yang aku punya sangat menarik buatmu ya!"

"Senja, maafkan aku," kata fajar

"Sudahlah. Tak berarti lima tahun yang telah kita habiskan. Setidaknya kamu bisa pilih wanita lain yang lebih baik dariku, bukan pengkhianat seperti dia, Jar!" Kata Senja dengan suara bergetar dan mata nya mulai berkaca-kaca

"Maaf," kata Fajar sekali lagi pada Senja

Senja pun akhirnya memilih pergi meninggalkan dua orang itu. Teman dan kekasih yang menyakiti hatinya hari ini. Sesuatu yang takkan ia lupakan.

Sesampainya di markas SAR. Senja berkumpul dengan tim. Mereka memberitahu kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi di area bencana dan mereka diberi informasi dasar penyelamatan yang harus dilakukan.

Saat Ketua Tim menjelaskan. Pikiran Senja masih kalut. Ia tak habis pikir jika Fajar kekasihnya berkhianat bahkan dengan temannya yang juga pengkhianat.

Tengah malam semua tim berangkat menggunakan pesawat menuju area bencana. Senja hanya mengikuti arahan ketua tim. Saat pagi mereka sudah sampai di pulau sebrang. Mereka harus menggunakan truk menuju area bencana. Perjalanan panjang kurang lebih 7 jam untuk sampai di lokasi.

Senja. Dengan perasaan kalutnya. Ia hanya termenung dan menatap kosong ke berbagai arah. Kini ia kehilangan tujuan. Bahkan ia sudah tak lagi bersemangat untuk mencari berita seperti tujuan sebelumnya. Kini, ia hanya perempuan yang sedang patah hati karena dikhianati dua kali.

Sesampainya di lokasi. Anggota SAR kembali berkumpul untuk berbagi tugas. Sedangkan Senja mengambil beberapa foto disekitar. Ia menuju pos pengungsi dan sejenak merenungi dirinya. Melihat mereka yang terkena bencana, tentu patah hati bukanlah apa-apa.

Senja pun membantu menyiapkan makanan. Melayani pengobatan dan sesekali memotret mereka. Ia pun menulis berita singkat di ponselnya. Sayangnya saat hendak dikirim, tidak ada sinyal di area tersebut. Ia baru tersadar, akibat bencana banjir sarana penerangan dan komunikasi terputus sementara.

'Baiklah, aku disini hanya dua hari, maka tak perlu mengeluh,' kata Senja dalam hati

Ketua Tim SAR kemudian memanggil seluruh anggota tim nya untuk berkumpul. Mereka hendak menyisir area lokasi banjir dan mengevakuasi korban yang mungkin bisa diselamatkan. Anggota Tim menyiapkan alat-alat yang dibawa. Begitu juga Senja yang ikut berkemas dan mempersiapkan diri untuk ikut serta bersama tim itu. Ia tahu, ia sudah berkomitmen takkan pulang hanya dengan membawa berita yang dianggap pimpinannya biasa saja.

Hati nya miris. Melihat orang-orang di pengungsian yang menunggu dengan cemas sanak keluarganya yang belum ditemukan. Mereka hilang atau meninggal. Dua hal yang sama-sama menyedihkan. Senja tahu, bahwa berita korban meninggal adalah bagian dari kualitas informasi yang diberikannya pada publik. Tapi disisi lain itulah yang paling tidak diharapkan oleh orang-orang yang ada ditempat itu.

"Siap semua! Kita berangkat mengikuti sungai, karena jembatan penghubung desa terputus, kita akan melakukan penyebrangan sungai berkelompok, harap waspada dan perhatikan satu sama lain!" Kata Ketua Tim sebelum berangkat

Senja mengikuti tim. Berjalan dengab berbaris. Karena jalanan sempit dan berlumpur sehingga satu orang dan lainnya saling bantu hanya untuk menuju sungai.

Sungai terlihat sangat jernih airnya. Senja tak mengira kalau sungai itu sebelumnya membawa banjir untuk warga sekitarnya. Ia melihat sekitar, sisa-sisa batang pohon yang hanyut terbawa air, masih terlihat berserakan disekitar sungai. Pohon kelapa sawit dan pohon-pohon besar menyulitkan tim untuk berjalan menyusuri sungai.

"Maaf, kalau boleh tau, apakah sebelum bencana daerah ini daerah kelapa sawit?" Tanya Senja pada seorang di Tim SAR yang berjalan di depannya

"Iya, betul. Hati-hatilah, lihat apa yang kamu pijak, kita berharap bisa menemukan korban yang hilang dalam keadaan hidup atau mati," kata anggota Tim pada Senja

Setelah perjalanan sekitar 3 jam. Akhirnya mereka beristirahat. Beberapa membawa bekal makan. Sebagian lagi hanya minum kopi dan memakan cemilan. Senja melihat isi tas nya, mereka saling berbagi makanan.

"Kita besok akan kembali ke markas. Lalu bertukar dengan tim lain. Manfaatkan waktu kita sebaik-baiknya. Jangan lengah, hari ini sepertinya akan hujan lebat, bisa jadi akan terjadi banjir susulan," kata Ketua Tim

"Siap pak!" Kata anggota tim kompak

Senja melihat barang-barang yang dibawa oleh anggota Tim SAR. Ia melihat kantong mayat yang sedang dilipat. Hatinya sedih membayangkan apa yang akan mereka dapatkan dalam perjalanan menyisir sungai.

"Apa ini, Pak?" Tanya Senja menunjuk ke kotak kecil yang hendak dimasukan oleh salah seorang anggota tim

"Ini Survival Kit. Ambilah satu untuk berjaga-jaga," katanya

"Beritahu saya apa saja isinya dan bagaimana menggunakannya," kata Senja

"Perhatikan, ini ada kompas, pisau lipat, selimut darurat, senter, peluit dan beberapa alat serbaguna," kata seorang anggota tim sambil mencontohkan cara menggunakannya

Senja lalu memasukan beberapa korek api dan benang jahit yang ia bawa kedalam survival kit itu. Senja lalu turunke sungai, ia hendak membasuh wajahnya dengan air sungai. Tak terlihat ikan atau binatang apapun meski air sungai nya terlihat begitu jernih.

"Pak! Pak! Saya menemukan sesuatu!" Teriak senja pada tim yang kemudian bergegas mendekati Senja

"Ambil kantong plastik!" Kata orang yang lebih dulu mendekat pada Senja.

"Ini potongan jari seseorang," kata anggota lain

"Iya. Barangkali kita bisa menemukan jasadnya tak jauh dari sini," kata Ketua Tim

Senja spontan merasa bulu kudugnya berdiri. Ia membayangkan harus menemukan jazad yang mungkin tak berbentuk.

Anggota tim kembali berkumpul. Namun Senja masih terpaku dan berjongkok diatas batu sungai. Ia kemudian mengencangkan ranselnya. Memasang strap di dadanya. Lalu mengikat tali sepatunya. Tanda bahwa ia sudah siap untuk menghadapi hal lainnya.

Tiba-tiba terdengar suara semacam gemuruh. Senja melihat ke arah langit yang ia pikir akan terjadi hujan. Lalu seseorang berteriak dari jauh

"Banjir! Banjir! Banjir!" Teriaknya

Senja tak mendengarnya dia makin bingung dan suara gemuruh terdengar makin keras di dekatnya. Ia sadar saat air bah datang dengan keceapatan sangat tinggi kearahnya. Menghantam tubuhnya awalnya berdiri diatas batu. Kini ia terbawa arus banjir sungai yang membuatnya terombang ambing diatas air dan sesekali tenggelam. Kini ia tak tahu akan menjadi bagian korban atau selamat. Tubuh dan pikirannya sudah pasrah.

Setelah satu hari satu malam, Senja pun dinyatakan sebagai korban yang hilang.

Bab 2

Ntah sudah berapa lama Senja mengapung lalu ia tersangkut batang pohon yang tumbang. Tiba-tiba sesuatu seperti terdorong dari dalam perutnya dan ia pun terbatuk. Pening menekan keras di dahi nya. Matanya terpejam erat lalu perlahan membuka. Ia mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling.

"Dimana aku?" Kata Senja sembari memijat keningnya

Ia mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Ingatan saat seorang petugas SAR meneriakinya lalu ia terbawa arus masuk kedalam air lalu ia tak ingat lagi. Ia mengira, pasti keberuntungan besar yang membuatnya berada ditempat itu.

Saat hendak bangun. Ia tersadar manakala tas ranselnyya nya masih menempel di punggungnya. Strep tas nya masih terikak di dadanya.

Senja kemudian berusaha bangun. Ia tak tahu itu hari apa, pukul berapa dan dimana. Ia melihat sekeliling, hanya hutan lebat dan sungai yang bisa ia amati. Ia segera melepas tas nya, meski beberapa bagian tas koyak tersobek namun bagian dalamnya aman. Tas nya sudah ia lapisi dengan plastik besar untuk menampung segala isinya. Senja mengikatnya seperti balon besar di dalam tas. Itulah yang menjadikannya pelampung dan menyelamatkan hidupnya. Saat hendak melangkahkan kakinya

"Aduuh! Kenapa sakit sekali kakiku," kata Senja yang kemudian memeriksa kakinya

Ada luka cukup lebar menganga yang telah mengoyak celana jins panjang yang dikenakannya. Saat terbawa arus mungkin ia menghantam sesuatu atau ada sesuatu yang merobeknya sampai ke kulit kakinya. Lukanya cukup dalam.

Senja segera membuka tas nya. Ia ingat, ia membawa perlengkapan obat sederhana. Ia membersihkan lukanya. Lalu mengganti bajunya. Celana yang sobek itu ia tinggalkan begitu saja. Ada dua pilihan, menyusuri sungai atau masuk ke hutan. Dua cara yang ia pikirkan agar dapat kembali bertemu Tim SAR yang berangkat bersamanya.

'Jika aku menyusuri sungai, maka biasanya ujungnya adalah air terjun. Aku tidak selalu akan menemukan pemukiman. Jika masuk hutan, barangkali aku bisa bertemu seseorang, ataupun binatang buas' kata Senja dalam hati

Ia tahu. Bukan saatnya untuk takut. Itu adalah saatnya dia untuk bertahan hidup sampai ada orang lain yang dapat menemukannya.

Senja mulai memasuki hutan. Ia memungut ranting dan kayu sebagai kayu bakar. Langit masih mendung, ia tak tahu apakah bitu pagi, siang atau sore. Namun, ia perlu membuat makanan.

Ia juga membuat tempat berlindung. Semacam gubuk yang terbuat dari batang pohon. Senja membuatnya tak besar. Ia membuat atap dari daun-daun yang disusun. Ia pun mengalasi dengan tumpukan rumput yang ia dapat disekitarnya. Ia sering melihatnya di televisi. Senja tak menyangka, jika kini ia benar-benar melakukannya.

Hari mulai gelap. Senja mulai waspada dengan sekitarnya. Ia mulai membuat perapian. Dengan cepat ia menyerut batang pohon basah dan mengulitinya. Ia hanya mengambil bagian yang kering. Beruntung korek api yang ia bawa tidak basah sama sekali. Sadar bahwa itu adalah hutan yang sama sekali tak ia kenal. Ia bergegas membuat perapian untuk menghalau binatang buas mendekatinya.

Ia mengambil makanan yang ia bawa dari rumah. Senja tahu, makananya hanya cukup untuk sampe besok pagi saja. Setelah itu ia harus berusaha mencari bahan makanan disekitarnya.

Tiba-tiba ia melihat sesuatu bercahaya diantara semak-semak.

'Semoga itu bukan hantu atau semacamnya. Atau lebih buruk, binatang buas sedang mengintai' kata Senja dalam hati

Senja bersiaga. Ia mengambil pisau lipatnya. Spontan ia menelan saliva nya. Jantungnya berdegup kencang saat cahanya itu bergerak memutari nya. Ia tak bisa menerka apa yang sedang mendekatinya.

"Keluar! Cepat keluar dan tunjukan dirimu, aku tidak takut," kata Senja menggertak mahluk itu

Teriakan Senja tak membuat mahluk itu menampakan diri. Ia terus berputar-putar disekitar Senja. Sesekali Cahaya itu hilang dan muncul lagi. Kini tak hanya cahaya, ada suara tawa terkikik setelahnya

"Hihihihihi,"

"Apa itu tadi? Sial! Kenapa aku bertemu hantu ditempat begini," grutu Senja

"Aku bukan hantu, hihihihi," jawab mahluk itu

"Siapa kau! Keluar! Dasar pengecut!" Teriak Senja berharap teriakannya dapat membuat mahluk itu pergi dan tak mengganggunya lagi

Kemudian cahaya itu bergerak cepat dari semak-semak dan keluar. Membuat Senja mengernyitkan dahinya. Ia takjub sekaligus takut akan sesuatu yang mendekatinya saat itu. Lalu keluarlah mahluk kecil bercahaya.

Mahluk berukuran tinggi 10cm dengan sayap tipis seperti capung. Ia bercahaya seperti kunang-kunang. Terbang ringan memutari Senja yang masih terpaku dengan apa yang dilihatnya. Senja menggosok matanya, ia pikir itu adalah halusinasinya.

"Siapa kau?" Tanya Senja

"Hihihihi. Aku Ella," jawab mahluk itu

"E... tolong hentikan tawamu, kamu lebih mirip kuntilanak mini, ataaaaau tuyul? Atau capung atau kunang-kunang yang bermutasi?" Tanya Senja menerka apa mahluk kecil yang sedang ia ajak bicara

"Hihihi. Aku peri hutan, saat kau pingsan aku telah menyentuh keningmu, itu membuat kita bisa berkomunikasi," kata Ella

"Peri? Sejak kecil aku tidak pernah percaya peri, aku yakin aku hanya berhalusinasi," kata Senja

"Hihihi. Siapa namamu?" Tanya Ella

"Senja, apa untungnya kita saling kenal. Kamu mungkin hanya mahluk halus yang akan menggangguku atau mungkin memakanku?" Kata Senja

"Hihihi. Dasar bodoh! Pikiranmu sangat bodoh. Baiklah aku akan memanggilmu Sen," kata Ella sembari terbang naik turun di depan Senja

" Apa? Sen? Tidak bisakah kau panggil namaku dengan lengkap, Senja. Panggil saja Senja. Terlalu asing untuk mendengar panggilan Sen." Kata Senja pada Ella

"Hihihi. Sen. Aku akan memanggilmu begitu. Bahasa diluar sana mengajarkan nama Sen juga berarti peri," kata Ella

"Aku jelas bukan sepertimu. Aku manusia, kita berbeda kenapa aku harus memiliki nama yang memiliki arti peri sepertimu?" kata Senja

"Hihihi. Itu terserah aku, Sen." Jawab Ella

"Tidak usah sok akrab. Kita bahkan baru saling tahu nama. Kita sama sekali tidak saling kenal," kata Senja

Ella kemudian meminta Senja memejamkan matanya. Ella menggunakan kekuatannya agar Senja dapat melihat peri lain dan mahluk ghaib lain disekitarnya.

"Bukalah matamu, Sen. Kini kau bisa melihat duniaku," kata Ella

Senja membuka matanya perlahan. Ia terperangah melihat pemandangan disekitarnya. Kini ia melihat begitu banyak mahluk seperti Ella. Mereka berterbangan disekitar Senja. Ia dapat melihat pintu-pintu rumah kecil di pohon sekelilingnya.

"Apa aku sudah mati?" Gumam Senja

"Hihihi, tentu saja belum. Aku hanya mengijinkanmu melihat duniaku lebih jelas saat malam hari. Saat siang, kau hanya bisa melihatnya samar-samar," kata Ella

Senja masih takjub melihat pemandangan ghaib itu. Ia melihat beberapa mahluk lain penunggu hutan selain peri.

"Siapa itu? Bukankah dia lebih mirip manusia?" Tanya Senja

"Dia, adalah pendaki gunung yang tersesat di hutan ini. Akhirnya meninggal. Jasadnya masih ada dihutan ini, ia kesepian. Sehingga ia terlihat terus memandang langit saat malam," jelas Ella.

Bulukudug berdiri dirasakan Senja. Ia yakin, tak pernah melihat hantu sebelumnya. Kini ia justru seperti berada di dunia mereka.

"Babbaiklah, cukup. Bagaimana aku mengendalikan penglihatanku ini, Ella?" Tanya Senja

'Jujur aku lebih suka penglihatanku terbatas, daripada aku harus melihat banyak hantu begini' kata Senja dalam hati

"Hihihi, kedipkan matamu tiga kali, Sen. Lakukan hal yang sama agar kau bisa melihatnya lagi," jawab Ella

Senja mengangguk. Lalu ia mempraktekan apa yang dicoba apa yang dikatakan Ella. Akhirnya Senja pun lega karena ia kembali hanya melihat hutan yang gelap.

"Aku akan melanjutkan makan, apakah kau mau ikut makan? Tapi tolong, jangan tertawa seperti itu. Itu membuatmu lebih terdengar seperti kuntilanak ketimbang peri," kata Senja

"Apakah kau takut hantu, Sen?" Goda Ella

Senja tak menjawab pertanyaan itu. Ia pura-pura tak mendengarnya. Sesekali Senja melihat ke arah lain. Dimana sebelumnya ia melihat arwah pendaki laki-laki yang duduk diatas batu dan selalu melihat ke arah langit. Hatinya sedih, sebelumnya ia juga terbawa arus banjir, namun bedanya ia selamat sedangkan pendaki itu tidak. Bahkan jasadnya belum ditemukan orang lain.

"Apa yang kau pikirkan, Sen?" Tanya Ella

" Tidak ada. Aku hanya sedang merasa sedih dengan apa yang aku alami. Sampai akhirnya aku terdampar disini," kata Senja

"Percayalah, Sen. Selalu ada alasan jika itu sesuatu itu terjadi. Alasan itu belum kau ketahui namun itu bisa jadi adalah baik untukmu," kata Ella

Senja merenungi apa yang dikatakan Ella. Ia kembali memakan makananya. Lalu mencoba berpikir positif bahwa esok akan lebih baik. Meski bekal makanannya akan segera habis, bukan berarti ia takkan hidup lebih lama. Seperti kata Ella, ada alasan kenapa Senja bisa sampai ditempat itu.

"Aku tidur dulu. Besok aku akan pm

. jalan keluar dari hutan ini," kata Senja

"Baiklah, Sen. Besok akan kutemani kau berkeliling," kata Ella

"Terimakasih," jawab Senja yang kemudian terlelap tidur hingga pagi sampai akhirnya ia terbangun karena mendengar suar juza isak tangis seseorang.

"Siapa yang menangis?" Kata Senja lirih memaksa matanya terbuka sembari melihat sekeliling

Bab 3

Pagi masih gelap. Namun cahaya biru sudah terlihat di langit. Senja mencari suara seseorang yang sepertinya sedang menangis.

Senja keluar dari shelter yang dibuatnya. Lalu berjalan menuju arah suara. Awalnya terdengar jauh, hingga ahirnya ia merasa suaranya begitu dekat dengannya. Kini, ia sampai di sekitar sungai. Sambil melihat dengan jeli, Senja terus mencoba mencari sumber suara itu. Ia kemudian terkejut melihat sosok perempuan ada disana.

Hari sudah pagi. Jelas itu bukan hantu atau semacamnya. Pikirannya lebih kepada korban selamat dari banjir sungai seperti dirinya. Ia memberanikan diri mendekati perempuan itu. Perlahan ia berjongkok agar tidak mengagetkannya.

"Bu, apakah ibu butuh bantuan?" Tanya Senja

Ibu itu menjawab. Namun, Senja tidak tahu apa yang dikatakan ibu itu. Ia semacam menggunakan bahasa yang tidak Senja mengerti. Tiba-tiba Ella mengejutkannya dengan berada tepat didepan wajah Senja.

"Sen, apa yang terjadi?" Tanya Ella

"Aku pikir ibu ini adalah korban banjir yang selamat. Aku bertanya padanya, apakah ia butuh bantuan? Namun, aku tidak tahu apa yang dikatakannya. Aku tidak tahu maksud perkataanya," kata Senja

"Hihihihi. Sulitkah bagimu, Sen? Itu sangat mudah untukku," kata Ella dengan nada bangga

"Apa yang bisa kau lakukan untuk membantu?" Tanya Senja

"Itu sama seperti yang kulakukan padamu," jawabnya singkat

kemudian Ella mengetuk kaki ringannya diatas kening ibu itu. Kini ibu itu dapat berbicara dengan Ella dan dapat melihatnya dengan jelas. Ia tahu apa yang dikatakannya.

"Ibu ini sedang hamil. Ia khawatir ia akan melahirkan, sedangkan tempat ini sangat jauh dari tempat tinggalnya," kata Ella mengartikan apa yang dikatakan ibu itu

"Apa! Hamil?" Senja terkejut dengan apa yang dikatakan Ella.

Senja kemudian memeriksa dan memperhatikan perut ibu itu. Tapi ia tak tahu apa yang harus dilakukannya jika ibu itu melahirkan bersamanya. Ia kemudian membawa ibu itu menuju ke perkemahannya. Ia kemudian memberikan makanan yang ia miliki. Persediaan makan terakhir yang ia punya.

"Ella, kini aku tak punya makanan lagi. Aku harus mencari makanan disekitar sini. Bisakah kau menjaga ibu itu?" Pinta Senja

"Baiklah, Sen. Akan kupastikan dia aman dari binatang liar." Kata Ella yakin

Senja berkeliling melihat-lihat adakah yang bisa ia jadikan makanan. Masih di dataran rendah, tak jauh dari sungai. Ada banyak selada air, ia memungutnya dan mengumpulkan lebih banyak. Karena kini ia juga harus menjaga dua nyawa lainnya.

Tiba-tiba pikirannya mengawang. Ia teringat bagaimana ia dibentak dan tidak dipercaya oleh atasanya. Hatinya mendadak sakit kala mengingat hal itu. Tentu jika dibandingan apa yang sedang dialaminya kini, ia merasa di hutan dengan mahluk aneh dan orang asing jauh lebih baik.

Senja mengambil air. Mengisi penuh botolnya dengan air lalu meletakannya diatas api. Hal itu ia pelajari saat sekolah. Ternyata hal itu kini menjadi berguna.

Ia menggunakan mangkuk alumunium sebagai panci. Ia beri lubang lalu menggantungnya diatas api. Senja merebus daun selada air yang ia dapat. Ia membawa persediaan makanan lain seperti batang Begonia. Batang yang terasa asam seperti memakan buah pencuci mulut.

Senja tak mengajak bicara ibu itu. Ia hanya menggunakan bahasa isyarat saat berkomunikasi dengannya.

"Ella, tak bisakah kau membuatku mengerti juga apa yang dikatakan ibu itu? Semacam penerjemah otomatis di otakku?" Kata Senja yang berharap ia tahu apa yang di inginkan ibu itu

"Hihihi. Maaf, Sen. Aku tak bisa melakukan hal semacam itu," kata Ella

"Sayang sekali. Aku kira kau bisa lakukan apapun sesuai permintaan seperti jin yang dimiliki aladin," kata Senja kecewa

Dari obrolannya dengan Ella. Ia tahu nama ibu itu adalah Upe. Ella banyak berbincang dengan ibu Upe, sehingga ia tahu kemana perkampungan terdekat yang bisa mereka datangi.

Sehari di hutan terasa begitu cepat. Mereka membuat satu shelter lagi untuk Ibu Upe dan bekerjasama membuat perapian. Meski sesekali Ibu Upe berhenti karena merasa kesakitan yang terasa dari dalam perutnya.

Senja mengamati ibu Upe. Rasa sakit yang berangsur hilang dan datang itu bisa jadi kontraksi. Hal itu membuat Senja makin takut saat membayangkan harus membantu kelahiran anak pertama Ibu Upe.

Sore telah berganti malam. Seperti hari sebelumnya, ia melihat mahluk-mahluk seperti Ella disekitarnya. Ia melihat ke arah batu besar lagi. Sosok arwah pendaki yang melihat ke langit masih ada disana.

"Apa dia tak lelah terus memandang langit," kata Senja yang sudah mulai tak takut melihat mahluk-mahluk aneh disekitarnya

"Hihihi. Apa rencanamu kali ini, Sen?" Tanya Ella

"Mencari perkampungan. Aku harap bisa membawa Ibu Upe ke rumahnya dalam keadaan selamat," kata Senja

"Hihihi. Aku tak bermaksud menakutimu. Kau saat ini baru berada di bibir hutan. Hutan ini masih cukup dalam dan banyak manusia yang tak bisa kembali. Seperti pendaki itu yang mati di dalam hutan," kata Ella

"Bukankah alam bekerja sesuai apa yang kita pikirkan? Aku tidak akan berpikir hal baik, jadi hal semacam itu tidak akan terjadi." Kata Senja mencoba meyakinkan diri

Senja membuka tas nya. Ia melihat barang-barang miliknya. Baru tersadar jika arlojinya hilang. Lalu, ia mengeluarkan barang yang memang tak ia perlukan. Lalu meninggalkannya di hutan. Esok ia berencana mencari perkampungan terdekat dan mengantarkan Ibu Upe kerumahnya.

Aaaaa!!

Tiba-tiba Ibu Upe Menjerit kesakitan. Sontak membuat senja bangkit dari duduk bersandarnya. Ia langsung mendekati Ibu Upe. Dia pikir itu adalah saatnya ia harus melahirkan.

'Oh tidak. Apa yang harus aku lakukan. Aku belum pernah melahirkan dan bagaimana aku harus membantu orang lain?' Kata Senja dalam hati

Panik membuatnya. Sering menggaruk kepalanya. Ella dan beberapa peri hutan mengitari Ibu Upe. Cahaya dari mereka membuatnya terlihat lebih jelas. Senja mencoba menenangkan diri, bagaimanapun ia tidak bisa lari atau memilih tidak membantunya. Pilihanya kini adalah membantu persalinan Ibu Upe.

Aaaaaa!

Teriakan Ibu Upe memecah keheningan hutan. Senja mengambil beberapa lembar baju miliknya. Lalu menaruhnya di dekat Ibu Upe. Cairan terlihat mengalir dikaki Ibu Upe.

"Tarik nafas , Bu. Gigit kainnya jangan keluarkan suara atau tenagamu bisa habis karenanya," kata Senja yang kemudian ditirukan Ella agar Ibu Upe mengerti

Kurang lebih satu jam. Kepala bayi sudah terlihat. Senja segera mengambil kain untuk diletakan didekatnya. Bu Upe mengejan kuat dan

Owaaaaaaaa!

Bayi Ibu Upe lahir. Bayi perempuan yang kemudian disambut oleh penghuni hutan. Tak hanya peri dan teman-temannya, binatang hutan yang biasanya bersuara tak terdengar seperti malam sebelumnya.

Ibu Upe memeluk Senja. Ia terharu melihat anak yang sudah ada digendongannya.

Melihat tali pusar yang panjang, membuat Senja mengambil sikap. Ia segera mencelupkan pisau lipatnya kedalam air panas. Mengikat tali pusat dengan serat pohon. Lalu mengikat bagian lain tidak terlalu kencang. Kemudian ia memotongnya dengan pisau. Tangis bayi itu memecah keheningan. Para Peri terlihat senang melihatnya.

Senja terduduk lemas setelah memutus tali pusar bayi itu. Ia teringat jika dulu ia pernah masuk sekolah perawat namun berhenti karena menurutnya tak sesuai hati nurani. Ia terkekeh sendiri mengingat apa yang dilakukannya barusan.

"Selamat, Sen. Kau seperti dokter kali ini," kata Ella

"Terimakasih, Ella. Ini keberuntungan. Bayi itu lahir karena keberuntungan dan jika aku boleh menamainya Kalyani, ia perempuan yang akan selalu beruntung," kata Senja sembari mengelus kepala bayi dengan rambut hitam yang cantik. Ibu Upe terlihat senang mendengarnya, putri cantiknya kini memiliki nama Kalyani.

Tiba- tiba sesuatu terdengar mendekat. Senja kembali waspada. Apapun bisa menyerangnya. Ia segera mengambil pisau ditangan kanannya dan mengambil kayu dengan api menyala di tangan kiri nya. Ella pun tidak tahu apa yang akan datang mendekati mereka.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED