Suara langkah kaki yang terdengar semakin jelas membuat semua orang yang tengah berlutut di dalam ruangan menunduk dalam-dalam. Jubah putih bersulam emas menyapu lantai kayu yang ditutupi permadani hijau ketika sang empunya berjalan memasuki ruangan.
"Bagaimana?" Suara berat penuh wibawa pria itu memecah keheningan, membuat beberapa wanita berpakaian khas tabib istana yang berlutut di dekat tirai penyekat menunduk semakin dalam.
"Seorang putri, Yang Mulia." Wanita paruh baya yang berlutut di bagian terdepan menjawab dengan tubuh bergetar, takut jika jawaban yang ia berikan akan membuat marah sang penguasa Kekaisaran Jin.
Kaisar Li Qiang menarik napas panjang. Ia sangat bahagia ketika mengetahui salah seorang selirnya akhirnya mengandung. Namun, pada akhirnya ia harus kembali menelan kekecewaan karena jenis kelamin bayi yang dilahirkan selirnya. Kaisar Li Qiang bukannya tak bahagia dengan anugerah yang telah diberikan Sang Kuasa, hanya saja ia dan kekaisaran ini membutuhkan seorang pangeran. Putra mahkota yang kelak akan meneruskan kejayaan leluhurnya.
Sudah delapan tahun sejak Kaisar Li Qiang diangkat menjadi penguasa Kekaisaran Jin, namun sampai hari ini ia belum juga memiliki seorang pewaris. Hal itu tentu saja membuat rakyat dan para petinggi Kekaisaran Jin cemas. Ditambah lagi Kaisar Li Qiang adalah putra tunggal dari mendiang kaisar terdahulu, yang artinya jika garis keluarga terputus pada Kaisar Li Qiang, maka Kekaisaran Jin akan menemui keruntuhannya.
Awalnya Kaisar Li Qiang berencana untuk memberikan gelar permaisuri pada Selir Yihua jika selirnya itu melahirkan seorang pangeran. Bukan tanpa alasan, Kaisar Li Qiang sudah mencoba mendapatkan keturunan dari keenam selirnya. Namun, hanya di rahim Selir Yihua benihnya dapat berkembang. Sehingga ia berpikir sudah sepantasnya ia memberikan penghargaan pada sang selir. Akan tetapi, sepertinya rencana itu tak akan terwujud.
"Yang Mulia ...." Suara yang sangat familier membuat Kaisar Li Qiang mengalihkan atensi pada pemiliknya yang baru saja memasuki ruangan.
"Ibunda," sapa sang kaisar dengan senyum datarnya. Ibu Suri Juan hanya menghela napas. Ia tahu putranya tengah dilanda rasa kecewa saat ini setelah mengetahui jenis kelamin bayi yang baru saja dilahirkan Selir Yihua dan karena itu juga ia datang.
"Saya ingin meminta waktu untuk berbicara dengan Yang Mulia. Ini mengenai pangeran pewaris," ucap Ibu Suri Juan tanpa mau berbasa-basi.
Kaisar Li Qiang sama sekali tidak terkejut dengan sikap sang ibu. Sejak masih menjadi seorang ratu, Qie Juan Ying mamang terkenal tegas dan cekatan. Ia banyak membantu mendiang kaisar terdahulu dalam mengambil keputusan yang bersangkutan dengan pemerintahan. Alasan itu juga yang membuat kaisar Li Qiang menyerahkan kekuasaan istana dalam pada sang ibunda setelah kematian Permaisuri Jia, istrinya.
"Mari kita lihat Yihua terlebih dahulu, Ibunda. Setelah itu baru kita berbicara di Istana Yang." Kaisar Li Qiang mendahului ibundanya yang hanya mengangguk setuju setelah mendengar jawaban darinya. Ia menyibak sekat sutra putih yang menjadi batas ruang tidur Selir Yihua.
"Yang Mulia!" Selir Yihua hendak bangkit ketika menyadari kehadiran Kaisar Li Qiang, tapi sang kaisar segera mencegahnya.
"Berbaringlah, Fang-hua! Aku hanya ingin melihat putri kita," ucap Kaisar Li Qiang dengan wajah tanpa ekspresi. Nada bicaranya tetap dingin seperti biasa, sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan atas kehadiran sang putri.
Selir Yihua mencengkeram selimut sutra yang menutupi sebagian tubuhnya. Selama dia hamil, Kaisar sangat bahagia dan selalu memanggilnya dengan namanya dengan lembut. Mendengar Kaisar menyebut gelarnya sebagai Fang-hua saat ini, jelas bahwa dia telah gagal memenuhi harapan Kaisar.
Bukan lagi rahasia bahwa Kaisar Li Qiang mengharapkan kelahiran seorang putra, bukannya seorang putri yang tidak dapat mewarisi takhta.
"Maafkan hamba, Yang Mulia." Selir Yihua meneteskan air mata palsunya, mencoba mendapatkan simpati dari sang kaisar.
Kaisar Li Qiang hanya tersenyum tipis. Ia mengambil alih putri kecilnya dari gendongan seorang dayang yang merupakan dayang pribadi Selir Yihua.
"Jangan meminta maaf. Melahirkan putri yang cantik dan manis bukanlah sebuah kesalahan dan aku tidak akan senang jika orang lain menganggap kelahiran putriku sebagai sebuah kesalahan." Kaisar Li Qiang berucap dengan ekspresi datarnya. Meski begitu, Selir Yihua tahu betul sang kaisar tengah memberinya peringatan saat ini.
"Yang mulia benar, Fang-hua. Anakmu adalah anugerah yang diberikan untuk Kekaisaran Jin. Jangan menganggapnya tidak berharga hanya karena ia seorang perempuan." Ibu Suri yang baru memasuki ruang tidur Selir Yihua segera menimpali.
Selir Yihua menggigit bibir bagian bawahnya. Sejak dulu ia tak pernah menyukai ibu dari suaminya itu. Ia selalu merasa Ibu Suri Juan tidak pernah menyukainya. Setiap ada kesempatan, Ibu Suri pasti akan selalu menyudutkannya. Seperti sekarang ini.
"Kepala Kasim Lim! Sampaikan perintah ke balai penyimpanan harta istana untuk mengirim perhiasan baru dan gulung kain sutra kualitas terbaik. Bagikan juga hadiah untuk seluruh dayang dan pelayan istana!" Kaisar Li Qiang memberi perintah pada Kepala Kasim Lim yang sejak tadi setia mengikutinya. Bagaimanapun kelahiran sang putri adalah kabar yang membahagiakan dan patut untuk dirayakan.
Kepala Kasim Lim segera mengiyakan titah sang kaisar dan meminta ijin untuk melaksanakannya.
"Nama apa yang akan Anda berikan pada Putri, Yang Mulia?" Ibu Suri Juan bertanya dengan senyum terkembang ketika melihat bayi mungil yang tengah tertidur di gendongan Kaisar Li Qiang.
Kaisar Li Qiang tersenyum sembari memandangi wajah cantik putrinya. "Mei Xiu, namanya adalah Wu Mei Xiu."
Selir Yihua akhirnya bisa tersenyum setelah mendengar nama yang diberikan sang kaisar. Nama itu memiliki makna yang indah, yang menunjukkan kasih sayang Kaisar untuk putri merekam.
Meski dia tidak melahirkan pangeran yang dia impikan. Selama Kaisar masih menyayangi putri kecil ini, Selir Yihua percaya dia akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk menguasai posisi selir kesayangan Kaisar di masa depan.
***
"Aku memang berniat menjalin hubungan dengan kerajaan itu, Ibunda. Akan tetapi, tujuanku bukanlah untuk mendapatkan apa yang Ibunda maksudkan. Aku hanya ingin mengambil keuntungan dari tanah mereka yang kaya akan rempah-rempah dan hasil alam." Kaisar Li Qiang kembali menegaskan.
Akan tetapi, Ibu Suri Juan tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Apa pun tujuan Anda, ini adalah kesempatan emas, Yang Mulia. Kerajaan Guangshu berada di Timur dan bunga yang mereka miliki sudah tersohor akan kecantikan dan keharumannya. Apa salahnya jika kita mencoba membuktikan ucapan peramal itu." Ibu Suri Juan berkata panjang lebar. Bagaimanapun juga ia harus bisa meyakinkan putranya kali ini.
Kaisar Li Qiang terdiam sejenak. Ia kembali mengingat ucapan para menterinya yang memintanya untuk segera memperluas harem. Mungkin memang tidak ada salahnya jika ia menuruti mereka kali ini.
"Baikla, kali ini aku akan melakukannya demi Ibunda." Kaisar Li Qiang akhirnya luluh.
"Lakukanlah demi Kekaisaran Jin, Putraku. Bagaimana pun juga kekaisaran ini membutuhkan seorang penerus."
***
Seorang gadis belia berlari dengan tergesa-gesa di lorong Istana Kerajaan Guangshu. Ia mengangkat rok biru pucat yang ia kenakan guna mempermudah langkanya. Napasnya sudah mulai terengah, tapi gadis itu sama sekali tak terlihat ingin berhenti untuk sekedar mengambil napas.
"Ada apa, Zhilin? Kenapa kau begitu terburu-buru? Kepala Pelayan akan menghukummu jika ia sampai tahu kau mengangkat gaunmu dan berlari seperti itu." Seorang gadis yang tampak lebih dewasa menghentikan langkah Zhilin ketika dia sampai di sebuah taman yang ada di istana dalam. Dia tampak kebingungan melihat tingkah gadis bernama Zhilin yang tidak seperti biasanya.
Zhilin yang biasanya selalu ceria itu kini terlihat cemas dan ketakutan. Seolah-olah sesuatu yang buruk telah terjadi.
"Itu tidak penting lagi, Putri. Yang Mulia Ratu telah memerintahkan saya untuk segera membawa Anda ke Aula Faguang," jawab Zhilin dengan napas yang masih tersengal-sengal.
Gadis yang dipanggil 'putri' itu menaikkan alisnya. "Hal penting apa sampai Ibunda memanggilku ke Aula Faguang?"
Zhilin menunduk, meremas ujung lengan gaunnya dengan gugup. Suaranya hampir tidak terdengar saat ia menjawab. "Itu ... sebenarnya, Putri baru saja mendapatkan sebuah lamaran."
•••
Fang-Hua : Bunga yang harum.
Nama khusus yang diberikan Kaisar Li Qiang pada Selir Yihua. Dianggap sebagai anugerah dari Sang Kaisar.
*Kaisar hanya akan memberikan nama khusus pada selir-selir tertentu-biasanya selir yang berhasil menarik perhatian kaisar-dimana kedudukan para selir akan dinilai berdasarkan arti dari nama tersebut karena tidak adanya rangking/tingkatan bagi mereka di istana. Selir yang tidak mendapat anugerah ini secara formal akan dipanggil dengan nama keluarga mereka dan kebanyakan dari mereka sama sekali tidak memiliki pengaruh di istana.
Mingxing : bintang - Sebutan untuk selir-selir Kekaisaran Jin.
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan menyetujuinya, Ayahanda." Suara lantang itu menggema memenuhi Aula Faguang. Membuat siapa saja yang mendengarnya menunduk takut. Pasalnya tak biasanya mereka mendengar riuh teriakan di istana, terutama di Aula Faguang yang merupakan kediaman pribadi Raja Guangshu.
"Kita tidak punya pilihan lain, Xiaoli. Kekaisaran Jin sangat kuat dan berkuasa. Hampir mustahil bagi kita meraih kemenangan jika perang sampai pecah." Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun menyentuh pundak putranya.
Putra Mahkota Xiaoli yang terkenal ramah dan dermawan itu memang jarang menunjukkan kemarahan dikarenakan sifat lembut sang adik yang selalu menenangkannya setiap ada masalah yang datang. Bahkan jika ia sampai menunjukkan amarah, biasanya ia akan langsung melunak jika sang ibunda sudah turun tangan untuk meredakan amarahnya. Akan tetapi, sepertinya kali ini amarah sang putra mahkota tidak akan mampu diredam oleh siapa pun.
"Aku tidak peduli, Ibunda. Lebih baik aku mati di medan perang daripada harus menyerahkan Xiara-ku pada kaisar kejam seperti Li Qiang," geram Putra Mahkota Xiaoli dengan tangan mengepal. Rahangnya mengeras seolah menunjukkan bahwa ia sudah benar-benar marah saat ini.
Sudah menjadi rahasia umum jika putra mahkota Kerajaan Guangshu itu teramat menyayangi Putri Xiara yang merupakan satu-satunya adik perempuannya. Tidak heran ia menjadi marah setelah mendengar permintaan sang ayah yang terdengar sangat tidak masuk akal baginya. Bagaimana mungkin Xiaoli bisa mengorbankan adik yang begitu ia sayangi dan menyerahkannya pada Kaisar Jin hanya untuk mencegah terjadinya perang.
"Hati-hati dengan ucapanmu, Putra Mahkota. Kaisar Li Qiang tidaklah seburuk yang kau pikirkan." Raja Gui mengingatkan putranya. Ia bukan tidak menyayangi sang Putri. Bagi Raja Gui kedua anaknya bahkan lebih berharga dari kekuasaan dan takhta. Raja Gui sendiri sebenarnya tak rela mengorbankan putrinya. Namun, sebagai seorang raja, ia harus mengutamakan kepentingan rakyat di atas apa pun. Termasuk masa depan putrinya sendiri.
"Yang Mulia, utusan dari Kaisar Li Qiang telah menunggu di istana Shanming." Perdana Menteri Cong yang baru saja memasuki Aula Faguang berlutut di hadapan Raja Gui. Membuat semua anggota keluarga kerajaan yang berada di dekat sang Raja mengalihkan atensi padanya. Tak terkecuali Putri Xiara yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perdebatan kakak dan kedua orang tuanya.
"Pergilah, Perdana Menteri. Temui dia dan sampaikan bahwa Guangshu telah menerima pinangan dari Kekaisaran Jin!"
Ucapan lembut namun penuh ketegasan dari sang Putri membuat perdana menteri tanpa sadar mengangkat kepalanya. Ia menatap tuan putrinya dengan tak percaya. Putri Xiara hanya tersenyum tipis. Ia memutar pandangannya pada ketiga pasang mata yang kini tengah menatapnya dengan tatapan serupa.
"Xiara, kau-" Putra Mahkota Xiaoli menggantungkan ucapannya. Masih tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan sang adik.
"Kakak, sekarang ini pasukan Kekaisaran Jin yang jumlahnya puluhan kali lebih besar dari pasukan kita telah menunggu di perbatasan dan siap untuk menyerang." Putri Xiara kembali mengingatkan sang Kakak tentang kabar yang baru saja mereka terima Panglima Kerajaan Guangshu. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Putra Mahkota Xiaoli yang tengah berdiri di samping Ratu Xian, ibundanya.
"Jika perang sampai terjadi maka rakyat Guangshu-lah yang akan menderita," ucap putri Xiara lagi ketika tak didapatinya tanggapan dari sang kakak. Ia meraih tangan Putra Mahkota Xiaoli dan menggenggamnya dengan penuh kasih sayang.
"... dan sebagai Putri dari Kerajaan Guangshu, aku tidak bisa membiarkan hal itu sampai terjadi. Bahkan kau pun tak akan membiarkannya, bukan?" lanjutnya.
Putra Mahkota Xiaoli tetap diam, tampak tenang. Namun, tangan yang terkepal erat di samping tubuhnya dengan jelas menunjukkan bahwa suasana hati sang pewaris Kerajaan Guangshu itu sama sekali tidak tenang.
"Lagi pula usiaku sudahlah cukup untuk menikah." Putri Xiara kembali berucap. Memotong jeda dari pertanyaannya yang tak disambut dengan jawaban dari Putra Mahkota Xiaoli. Bibirnya mengukir senyum manis yang sama sekali tidak terlihat dipaksakan.
"Kalau pun kau harus menikah, maka aku sendiri yang akan menikahkanmu dengan pangeran terbaik di timur. Bagaimana mungkin aku bisa merelakan adikku yang berharga menjadi seorang selir." Putra Mahkota Xiaoli masih keras kepala. Ia menatap wajah cantik adiknya dengan tatapan sayu.
"Apa gunanya menikah dengan seorang pangeran, Kakak? Sebagai seorang putri yang terpenting bagiku adalah rakyatku. Aku akan lebih bahagia menjadi selir demi kesejahteraan rakyat dibanding harus menjadi ratu tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk rakyat Guangshu yang telah begitu menyanjung Tuan Putri mereka ini."
Putra Mahkota Xiaoli tertegun mendengar ucapan sang Adik. Jika sudah begini ia tidak akan bisa membantah lagi. Adiknya memang terlalu baik. Rakyat Guangshu haruslah bersyukur karena memiliki seorang putri seperti Xiara. Tuan Putri Kerajaan Guangshu itu bukan hanya berparas ayu dan berperangai baik. Ia juga cerdas dan berbudi luhur.
Raja Gui menghela napas berat. Ia sungguh terenyuh melihat ketulusan hati putrinya. Ia tamu sang Putri memang memiliki hati bak emas yang membentang seluas lautan. Namun ia sama sekali tak menyangka Putri Xiara akan menerima begitu saja dirinya dikorbankan demi kesejahteraan rakyat Guangshu.
Terlintas di pikiran Raja Gui untuk bersikap egois dan menolak lamaran itu saat ini juga, tanpa peduli apa pun risikonya. Namun, naluri pemimpinnya kembali menyadarkannya. Ia tidak mungkin menghianati kepercayaan rakyat yang telah begitu mengagungkan namanya selama ini.
"Putriku, kau harus tahu Ayah dan Ibumu ini sangat menyayangimu, tapi kami sungguh tidak bisa berbuat banyak kali ini. Andai saja kau menerima pinangan Pangeran Weimin dari Kerajaan Hu musim semi lalu, tentu engkau tidaklah harus berada dalam situasi ini," ucap Raja Gui dengan penuh penyesalan. Putri Xiara kembali mengembangkan senyumnya. Ia melepaskan tangan Putra Mahkota Xiaoli dan beralih memeluk sang Ayah.
"Ayahanda, takdir telah menuntun jalanku. Mungkin Yang Kuasa memang menginginkanku untuk menjadi selir dari Kaisar Jin."
***
Semburat merah muda yang bercampur warna oranye telah menghiasi langit, pertanda bahwa matahari akan segera kembali ke peraduannya. Ibu Suri Juan bangkit dari duduknya dan menatap cemas ke arah gerbang utama istana yang tertutup rapat.
"Tenanglah, Ibunda! Matahari bisa terbenam lebih cepat jika Ibunda terus menunjukkan ekspresi seperti itu."
Ibu Suri Juan berbalik dan mengalihkan atensinya pada putra semata wayangnya yang masih saja duduk tenang di atas singgasana berlapis emas miliknya. Ia menghela napas kasar dan menjauh dari jendela, menghampiri Kaisar Li Qiang.
"Bagaimana wanita tua ini bisa tenang jika Anda turut menyertakan sembilan ribu pasukan siap perang bersama dengan lamaran Anda, Yang Mulia?" Ibu suri Juan menghela napas kesal. Kaisar Li Qiang hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. Ia kembali menyesap teh bunga teratai dengan tenang.
"Yang Mulia, Panglima Huang meminta izin untuk menghadap." Seorang prajurit istana yang memang bertugas untuk menjaga pintu kediaman Kaisar menunduk hormat setelah memberi laporan.
"Biarkan masuk!" perintah Kaisar Li Qiang tanpa mengalihkan pandangannya dari cangkir porselen yang ada di tangannya.
Belum sampai memberi hormat, Panglima Huang yang baru memasuki ruang utama Istana Yang sudah disambut oleh pertanyaan dari Ibu Suri Juan yang tampak begitu penasaran.
"Katakan, Panglima Huang! Apa mereka menerima atau menolaknya?"
Panglima Huang tak melupakan sopan santunnya dan memilih membungkuk hormat pada kedua junjungannya sebelum menjawab pertanyaan Ibu Suri dengan kepala tertunduk.
"Putri Kerajaan Guangshu telah menerima pinangan Yang Mulia Kaisar Li Qiang."
Kaisar Li Qiang tersenyum angkuh sementara Ibu Suri Juan hanya bisa menggelengkan kepala menghadapi sikap putra yang sudah sangat dikenalnya.
"Segera tarik mundur pasukan kita, Liang!" Kaisar Li Qiang berkata lantang. Ia lalu melirik ibundanya dengan senyum kemenangan. "Nah Ibunda, bukankah sekarang waktunya menyiapkan pesta penyambutan untuk menantu barumu?”
Xiara melangkahkan kaki dengan penuh keanggunan menuju kediaman barunya. Gaun merah pernikahan bersulam benang emas yang dikenakannya melambai karena tiupan angin. Rambutnya yang disanggul sedemikian rupa dihias dengan jepit rambut emas yang ditaburi batu mulia. Wajahnya ditutupi riasan yang tidak berlebihan-bahkan bisa dibilang sangat pas. Membuatnya terlihat bak dewi yang turun dari langit.
Menghentikan langkahnya, Xiara mengamati papan yang ada di atas pintu sebuah paviliun yang akan menjadi tempat tinggalnya, tempat di mana ia akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai selir kaisar Jin.
"Salam kepada Wen Mingxing. Semoga Mingxing selalu diberkati dengan kebahagiaan yang tidak terbatas." Seorang dayang istana yang usianya tak lagi muda memberi hormat bersama dengan dayang-dayang lain yang semula menunggu di depan paviliun.
Ada perasaan yang tidak dapat dijelaskan saat Xiara mendengar gelar yang mereka sebutkan untuknya. Di Kekaisaran Jin ini, Kaisar mewakili matahari dan permaisuri mewakili bulan. Oleh karena itu, Selir Kaisar Jin dipanggil dengan gelar Mingxing yang mewakili bintang. Sesuai dengan nama keluarganya, semua orang di istana akan menyapa Xiara sebagai Wen Mingxing mulai sekarang.
Tidak ada lagi Putri Xiara dari Kerajaan Guangshu.
"Berdirilah!" perintah Xiara.
Mengikuti perintah Xiara, para dayang yang berjumlah delapan orang itu segera berdiri, namun kepala mereka masih menunduk untuk menunjukkan rasa hormat.
"Hamba, Kepala Pelayan Paviliun An, Yuan Jiaying akan selalu mengabdi dengan setulus hati pada Mingxing. Harap Mingxing mau menerima wanita tua ini." Dayang Yuan maju selangkah dan memberi hormat kepada Xiara sembari memperkenalkan diri. Xiara kembali mengukir sebuah senyuman di wajah cantiknya.
"Aku akan sangat senang memiliki dirimu di sisiku, Lao Yuan. Istana ini sangat luas, aku harap kau tidak keberatan mengenalkannya pada orang baru yang tak berpengalaman ini." Xiara menjawab dengan lembut.
Sikap yang murah hati dan sama sekali tak terlihat angkuh sebagaimana wanita bangsawan pada umumnya membuat Dayang Yuan memiliki kesan yang sangat baik pada junjungan barunya.
Selain itu, Xiara dengan terampil memanggil Dayang Yuan dengan sebutan Lao, yang merupakan sapaan untuk pelayan senior di istana. Ini membuat para pelayan yang awalnya berpikir Xiara tidak tahu banyak tentang kebiasaan dan aturan Istana Kekaisaran Jin menjadi kagum.
Sebelum kedatangan Xiara—sang selir baru, telah banyak rumor yang tersebar di istana. Rumor-rumor itu terutama terkait dengan keengganan Putri Guangshu untuk menikahi Kaisar dari Kekaisaran Jin. Kebanyakan rumor juga menyebutkan bahwa Xiara adalah putri dari kerajaan wilayah timur yang angkuh.
Dayang Yuan, yang sebelumnya juga memiliki beberapa prasangka akhirnya menghela napas lega. Diam-diam dia berpikir untuk tidak lagi percaya pada rumor buruk yang menyinggung Junjungan barunya itu. Karena jelas-jelas yang tengah berdiri di hadapannya sekarang adalah seorang gadis anggun yang lembut dan santun. Bahkan sikap Xiara sangat baik pada para pelayan seperti mereka. Itu membuktikan bahwa rumor yang beredar tidaklah benar.
"Hamba akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Mingxing." Dayang Yuan menjawab dengan mantap. Ia menunduk semakin dalam, menunjukkan rasa hormatnya yang kian bertambah.
Xiara lagi-lagi tersenyum. Melihat ekspresi para pelayan barunya tadi, ia tahu sebelumnya mereka pasti mengira dirinya adalah Putri dari Timur yang memiliki seluruh sifat buruk yang ada di bumi.
Sejujurnya Xiara sendiri tidak begitu memahami mengapa orang-orang selatan memiliki pandangan yang buruk terhadap orang timur dan begitu pula sebaliknya orang timur yang selalu menganggap orang-orang selatan buruk. Padahal setiap orang memiliki sifat baik dan buruk dalam diri mereka.
"Apa air mandiku sudah siap?"
"Sudah, Mingxing. Air mandi dengan aroma bunga anggrek kegemaran Kaisar sudah disiapkan untuk Anda menyegarkan diri."
***
Sebagai seorang selir, Xiara tidak perlu melakukan ritual pernikahan secara penuh. Ia hanya perlu melakukan ritual pengambilan sumpah seorang istri dan ritual pengangkatan selir kerajaan yang keduanya dilakukan secara sederhana di aula Istana Timur-bagian istana di mana para wanita kaisar tinggal.
Selain ritual yang tidak lengkap, ada banyak perbedaan antara pernikahan seorang selir dan pernikahan resmi kerajaan-pernikahan kaisar dan calon permaisuri. Misalnya, selir memakai gaun pengantin merah muda alih-alih merah cerah. Selain itu, hiasan kepala yang dikenakan juga lebih sederhana tanpa kain merah penutup kepala.
Akan tetapi, perbedaan yang paling mencolok ada pada peran sang kaisar. Pada upacara pernikahan seorang selir, kaisar tidak akan ambil bagian dan hanya akan mengamati jalannya upacara dari atas singgasana bersama keluarga inti kekaisaran. Sedangkan, dalam upacara pernikahan resmi kerajaan, kaisar akan mengambil peran penuh sebagai mempelai pria.
Menarik diri dari lamunannya, Xiara memandang ke luar jendela. Langit telah berubah warna menjadi kehitaman dengan hiasan cahaya putih dari bintang-bintang. Sekarang ia tahu ucapan Zhilin tentang negeri barat memang benar. Langit malam di sini tidak seindah langit selatan. Ia bahkan sudah merindukan rumah sekarang. Xiara bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan orang tuanya.
Apa kakaknya masih marah?
Lalu Zhilin, apa pelayan kecilnya itu masih menangisi kepergiannya?
"Mingxing, udara di sini terlalu dingin. Akan lebih baik jika Anda menunggu di dalam ruang tidur." Dayang Yuan berkata dengan sopan. Xiara menjauhkan dirinya dari jendela dan berbalik menatap Dayang Yuan yang tengah berlutut di atas permadani merah yang menutupi lantai ruang utama kediamannya.
"Lao Yuan, apa menurutmu Yang Mulia akan datang?" Pertanyaan itu keluar begitu saja tanpa bisa dicegah oleh Xiara. Meski ia tak begitu mengetahui tradisi masyarakat Jin, Xiara tahu seorang selir tidaklah memiliki hak untuk ritual malam pertama.
Menurut peraturan istana, kaisar bebas memiliki selir sebanyak mungkin dan tidak ada keharusan bagi sang kaisar untuk mengunjungi selir-selirnya, bahkan di malam pertama mereka sekalipun . Oleh karena itu, tak jarang seorang selir hanya menjadi bunga-bunga istana yang tak tersentuh sampai akhir hidup mereka.
Dayang Yuan menunduk dalam-dalam, tak berani memberi jawaban kepada Xiara. Ia tahu junjungannya itu berbeda. Xiara tidak seperti selir-selir lain yang dikuasai ambisi untuk menguasai istana dengan mendapatkan hati sang kaisar. Ia memiliki kelembutan dan kasih sayang dalam dirinya. Sesuatu yang akan membuat istana ini menjadi tempat yang teramat kejam baginya.
"Mingxing, seorang dayang dari Istana Yang meminta izin untuk menghadap."
Suara lantang dari luar kediaman Xiara mengakhiri keheningan yang terasa begitu menyiksa. Dayang Yuan segera bangkit dan berjalan ke dekat Xiara ketika junjungannya itu memberi perintah pada dayang istana itu untuk masuk.
"Ada apa?" tanya Xiara tanpa basa-basi setelah dayang istana selesai memberi hormat. Melihat raut cemas dan takut dari dayang barunya itu, Xiara tahu sesuatu yang tidak baik telah atau mungkin akan terjadi.
Dayang istana itu membenturkan kepalanya ke lantai dan menjawab dengan suara bergetar menahan tangis. "Awan hitam telah menyelimuti istana, Mingxing. Tu... tuan Putri Mei Xiu baru saja naik ke surga."
Xiara bisa merasakan sesuatu mengambil alih dunianya saat itu juga. Pekikan terkejut dari Dayang Yuan serta tangis dayang istana yang akhirnya pecah hanya mampu didengarnya samar-samar. Pandangannya menerawang ke tempat yang tak bisa dijangkaunya.
Xiara tahu betapa penting arti sang putri bagi Kaisar. Putri Mei Xiu bagaikan angin sejuk di musim panas yang membangkitkan keyakinan Kaisar Li Qiang untuk mendapatkan seorang penerus. Kepergian sang putri pasti menjadi pukulan tersendiri bagi Kaisar. Hantaman yang memberinya lebih dari sekedar rasa sakit.
"Buat persiapan! Aku akan ke paviliun Putri Mei Xiu."
Dayang istana itu kembali membenturkan kepala ke lantai. Dengan sisa suaranya yang mulai serak ia menjawab. "Mohon maafkan pelayan ini, tetapi Kaisar memerintahkan agar semua selir tetap berada di kediamannya."
***
Ritual pemakaman dilakukan esok harinya. Diiringi dengan tangis histeris Selir Yihua juga air mata dari hampir seluruh penghuni istana, Putri Mei Xiu menjalani ritual terakhirnya.
Seluruh penghuni istana mengenakan pakaian berwarna putih sebagai tanda berduka. Terkecuali sang kaisar yang tetap mengenakan jubah kebesarannya. Memimpin ritual bersama para pemuka agama, Kaisar Li Qiang terus menunjukkan ekspresi datarnya. Tidak ada yang tahu bagaimana tepatnya perasaan Kaisar saat ini. Bahkan Ibu Suri Juan yang kini tengah memeluk Selir Yihua sekalipun.
Berlutut di barisan para selir membuat Xiara bisa mendengar dengan jelas tangisan wanita-wanita Kaisar, istri-istri suaminya. Anehnya, ia sama sekali tak merasakan ketulusan dari air mata mereka. Semuanya palsu. Istana ini menyimpan terlalu banyak kepalsuan.
Menguatkan hatinya, Xiara beralih menatap punggung Kaisar Li Qiang yang tengah berdiri di hadapan peti mati Putri Mei Xiu. Ia tak bisa membayangkan bagaimana hancur suaminya itu saat ini. Bahkan untuk sekedar menangisi kepergian putrinya saja ia tidak bisa. Statusnya sebagai seorang kaisar tidak mengizinkan dia menunjukkan sisi lemah di hadapan orang lain. Xiara tahu betul itu karena ayahnya pun dulu harus mengalami hal serupa ketika adik bungsunya meninggal dua tahun silam.
Air mata kembali mengalir membasahi pipi Xiara yang seputih porselen. Ia hanya bisa menunduk dan menatap jubah Kaisar Li Qiang ketika pria itu berjalan melewatinya dengan membawa peti mati sang Putri yang akan segera dibawa ke bukit keabadian. Ingin rasanya ia berlari dan memeluk sang Kaisar, menguatkannya, menjadi sandaran baginya. Akan tetapi, Xiara sadar Kaisar terlalu jauh dari jangkauannya. Terlalu jauh.
•••
Lao : panggilan resmi untuk dayang dengan posisi tinggi