Bab 1

TIGA TAHUN YANG LALU

"Brak" terdengar tendangan pintu di salah satu kamar rumah sakit. Li Jancent berdiri di sisi ranjang Li Mayleen. Baginya sudah menyelamatkan nyawa adiknya ini, maka dia sudah tidak kekhawatiran terbesarnya lagi. Li Jancent sudah siap menerima resiko terbesar, namun itu sepadan asalkan Li Mayleen selamat.

Gu William langsung saja memberikan pukulan keras ke perut Li Jancent. Gu William memandangi Mayleen yang masih terpucat.

"Bawa dan pindahkan dia!" perintah William kepada beberapa staff dokter.

"Apa yang mau kau lakukan kepadanya? lepaskan dia!" pekik Li Jancent seraya mencoba berdiri menahan sakit.

Namun Gu William sekali lagi memukul Li Jancent, "aku akan menikahi adikmu, dan akan memastikan dia hidup seperti di neraka!" ancam William.

"Dan kau, aku akan memastikan kau akan tinggal membusuk di penjara untuk waktu yang lama," tukas William lagi.

Bagi William, Li Jancent dan Mayleen adalah orang yang bertanggung jawab atas kematian Lisa, karena Li Jancent mentranspalasi jantung Lisa kepada Li Mayleen tanpa persetujuan, meskipun secara medis Lisa memang sudah tidak dapat diselamatkan.

Li Jancent mengambil keputusan tersebut, karena melihat jantung Lisa masih dalam kondisi baik, dan harus segera dipindahkan kepada Mayleen, agar nyawa Mayleen terselamatkan. Tiga tahun berlalu, dan Mayleen harus menerima pil Pahit menikah dengan pria yang tidak pernah menganggapnya ada.

Li Mayleen, terlelap diranjang besarnya itu. Tiba-tiba matanya terbuka ketika merasakan ada sesuatu yang menindihnya, "William," gumam Mayleen terkejut.

"Kau mabuk," ujarnya.

Dengan kasar William melucuti piyama yang Mayleem kenakan, "Eii…. ini kau mau apa?"

"Kau istriku, jadi sudah seharusnya. melayaniku," jawab Gu William.

William benar-benar menghabisi Mayleen diatas ranjang tanpa ampun, meninggalkan jejak merah di sana sini pada tubuh Mayleen.

Bercinta dengan suami sendiri adalah hal yang menyenangkan, namun Mayleen ingin itu terjadi dalam keadaan sadar, bukan ketika william dalam keadaan mabuk.

Karena jika dalam keadaan sadar maka William tidak akan pernah mau menyentuh istri sah nya ini.

Di pagi hari, dengan masih di bawah selimut. Mayleen memperhatikan sosok pria berbadan tinggi tegap yang menggunakan setelah hitam. Wajah tampannya terlihat tegas dan memiliki sudut-sudut tajam. Terlihat dewasa, ningrat dan acuh tak acuh dan sulit untuk di dekati, begitulah Gu William.

Mayleen masih mengembalikan kesadarannya tahu-tahu Gu William sudah mengangkat kaki panjangya yang dibalut celana panjang dan pergi meninggalkan kamar mereka. Mayleen pun bangun duduk dan mematung memandangi kepergian suaminya itu, suami yang dingin seperti dinginnya es di kutub utara.

Dunia Mayleen tak lama kemudian terasa bergetar, pria yang dia nikahi ini adalah pria terkaya di Tiongkok, namun Mayleen merasa tidak pernah menjadi istrinya karena Gu William memperlakukannya bak boneka kayu yang tidak memiliki hati. Yang bisa dia lukai kapan saja jika dia mau.

Gu William adalah tipe orang yang bisa membuat orang lain merasa ketagihan, dia beracun seperti opium. Pria ini sangat berbahaya sekali terbius olehnya maka kau tidak akan pernah bisa lepas darinya. Ini pun berlaku bagi Mayleen, yang sudah menjalani pernikahan selama tiga tahun, meski William memberinya neraka, namun Mayleen tidak bisa melepaskan diri darinya.

Mayleen bangun dan membersihkan dirinya, lalu berpakaian rapih. Hari ini departemen marketing hotel akan sangat sibuk karena akan ada acara promosi resort baru yang akan dibuka oleh Gu Corporation ini.

Salah satu tugas utama marketing hotel adalah bagaimana membuat konsumen atau pelanggan loyal terhadap hotel mereka dan mau datang kembali. Meski demikian, marketing juga sering berfungsi sebagai humas , yaitu menerima komplain dari para tamu.

Mayleen dan William, selama tiga tahun di pernikahan mereka tetap memilih tidur di kamar terpisah. Mayleen menuruni tangga rumahnya yang besar itu dengan cepat. Mayleen nampak terlihat manis dengan setelan pakaian yang berwarna pink dan putih itu. Rambut panjang yang di kuncir tinggi, kulit putih halus dan alis yang yang terlihat seperti pohon willow.

Kuncir Mayleen bergerak ke kanan dan ke kiri begitu Maylen berlari-lari di koridor hotel, "bagaimana?" tanyanya kepada salah satu panitia.

"Semua sudah siap," jawabnya dengan yakin.

"Kerja bagus," jawab Mayleen seraya membolak-balikan berkas yang sedang dia pegang.

"Satu jam lagi kita berangkat!" ujar Mayleen seraya memberikan tanda tangan di berkas yang tadi diberikan oleh salah satu panitia. Mayleen adalah Manajer marketing yang ditugaskan untuk mengisi materi acara yang akan menpromosikan Resort yang baru saja dibuat oleh Gu Corporation.

William menempatkan Mayleen di departemen marketing, karena departemen ini memiliki ritme kerja yang sangat sibuk. Jadi melihatnya tersiksa sungguh menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi william.

William baru saja sampai di Gu Corporation, ketika Mayleen dan tim nya akan berangkat ke resort baru yang akan dibuka. Mayleen membawa setumpuk berkas di kedua tangannya, Gu Hansen datang dari belakang dan segera membantu membawakan setumpuk berkas tersebut.

"Kau akan menjadi pendek, jika selalu membawa benda-benda berat," ujar Gu Hansen menggodai Mayleen.

"Haish kau ini..." jawwb Mayleen dengan tersenyum.

Mayleen pun berlari kecil untuk mengejar langkah Gu Hansen. Hari ini selain dirinya, maka Gu Hansen selaku Direktur marketing juga memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pembukaan perdana Resort ini.

Gu William, tersenyum menyeringai melihat istrinya itu begitu akrab dengan pria lain di depan matanya. Sebenarnya berkas yang Mayleen bawa adalah berkas-berkas data yang berisi identitas para klien.

Gu William meminta Mayleen untuk mengupdate data-data informasi tersebut, dan paling lambst diberikan kepadanya esok hari. Karena hari ini akan tersita banyak waktu, maka Mayleen memutuskan membawa pekerjaan tersebut ke acara hari ini.

Gu Hansen mengetahui bahwa kakak sepupunya itu sedang memberi kesusahan kepada Mayleen, namun juga tidak bisa berbuat banyak. Hanya bisa membantu meringankan saja.

Di malam hari saatnya acara digelar, tamu-tamu pun berdatangan. Nampak Gu William datang dengan Reina, salah satu wanita yang dekat dengan Gu William. Melihat hal ini bagi Mayleen sudah terbiasa seperti memakan nasi yang dia makan di setiap hari, jadi tidak membuatnya terkejut sama sekali.

"Kakak kau harus baik-baik tinggal di sana," gumam Mayleen dalam hati.

Acara pembukaan perdana Resort Gu pun selesai, Mayleen benar-benar menahan lelah. Mayleen hanya ingin segera pulang dan merebahkan dirinya di ranjang besarnya yang bergaya eropa. Mayleen masuk ke dalam ruangan VIP, untuk mengambil tas yang berisi baju seragamnya.

"Aah....ah..." langkah Mayleen terhenti ketika mendengar lenguhan suara antar pria dan wanita.

Tak ingin menggangu, Mayleen segera saja mengambil tas dan bergegas terburu-buru pergi meninggalkan ruang VIP tersebut. Namun tanpa sengaja menyenggol sebuah Vas bunga.

"Prang" mayleen memandangi vas yang telah terpecah belah tersebut.

"Sregh" Mayleen menoleh pada pintu yang baru saja terbuka, itu adalah Gu William yang sedang merangkul pinggul ramping Reina.

Bab 2

Tubuh Mayleen seakan membeku tidak bisa bergerak, selama ini hatinya sudah mengijinkan suaminya ini memiliki banyak selir, selama dia tidak melihat langsung apa yang sedang mereka lakukan. Tapi kali ini tepat di depan matanya Mayleen melihat rambut William yang berantakan, dasi yang sudah terlepas dan juga beberapa kancing kemeja yang terbuka.

"Maaf Direktur Gu, jika aku menggangu," ujar Mayleen seraya membalikan badannya dan bergegas pergi.

Namun baru beberapa langkah menjauh, William malah telah menangkap tubuh Mayleen, "kata siapa kau boleh pergi," ujar William.

"Bukankah kau dan Nona Reina…" ujar Mayleen terbata.

"K-kalian teruskan saja, anggap saja aku tidak ada," tukas Mayleen.

"Sudah mengganggu kesenanganku, dan sekarang mau pergi," bisik William seraya menggigit telinga Mayleen.

William malah menarik Mayleen masuk ke dalam kamar utama, lalu menutup pintu dan melupakan jika ada Reina disana. William melemparkan tubuh Mayleen di ranjang besar di kamar itu.

Mayleen meronta keras, dirinya mana rela ditiduri di ranjang yang bekas dipakai oleh wanita lain, berpikir ketika tadi Reina baru saja melayani suaminya ini. Namun semakin Mayleen meronta semakin keras pula kungkungan William terhadap tubuh Mayleen.

Sementara itu di luar pintu, Reina mengepalkan tangannya erat-erat ketika mendengar pergumulan William dan Mayleen dari balik pintu kamar yang dikunci oleh William tadi.

Sebenarnya tadi William segera menarik Reina ketika mengetahui jika Mayleen akan datang ke Ruang VIP tersebut. Membiarkan Mayleen melihatnya ketika dia sedang mencumbu wanita lain, begitu mendengar Mayleen masuk, William langsung saja menarik tubuh Reina.

Hati William meradang ketika melihat sikap Mayleen yang malah mempersilahkan dia bercinta dengan wanita lain, karena itulah kemarahan di hatinya terpatik dengan keras. William merobek baju Mayleen yang bergaya model kerah sabrina tersebut. William mulai menguasai tubuh Mayleen dengan serakah.

Setelah puas melampiaskan, William berdiri dan mengenakan bajunya kembali. Sementara baju Mayleen sudah robek di sana sini karena hasil perbuatan tangan William.

William keluar dari kamar, lalu melihat Reina masih ada di sana menunggunya. Reina melihat rupa Mayleen yang berantakan sedang menangis di atas ranjang. Sedikit iri karena selama ini dirinya ingin bisa naik katas ranjang William, namun itu tidak pernah terjadi.

Melihat William sudah pergi jauh, maka Reina pun berlari mengejarnya. Sementara itu Mayleen masih menangis dengan tubuh yang gemetaran. Mayleen mengambil gaunnya yang tergeletak di lantai. Melihat itu sudah rusak di sana sini, maka Mayleen mengambil seragam yang tadi dia simpan di tas-nya lalu memakainya kembali dan meninggalkan Resort. Mayleen pun segera bergegas melajukan mobilnya. Namun bukan pulang ke rumah utama, melainkan pergi ke tepi pantai dan berteriak menangis sampai puas.

"Kakak kau harus baik-baik disana," gumam Msyleen sambil menangis terduduk.

Puas menangis barulah Mayleen pulang ke rumah utama, tengah malam Mayleen tiba lalu segera saja membersihkan diri, berganti piyama lalu menarik selimut dan bersiap menuju ke alam mimpi.

Esok Mayleen akan berkunjung menjenguk Kakaknya itu. Karena esok adalah hari ulang tahun kakaknya itu. Keesokan paginya Mayleen pagi-pagi sekali berangkat ke Gu Corporation. Mayleen harus menyelesaikan tugas dari William. Sebelum jam makan siang Mayleen sudah meletakan berkas tersebut di atas meja William.

"Ingatkan Direktur Gu, untuk melihat berkas laporan yang kuletakan diatas mejanya!" tukas Mayleen kepada sekretaris Lin.

"Ei, kau mau kemana?" tanya Sekretaris Lin.

"Hari ini adalah ulang tahun kakak aku, jadi aku ingin merayakan bersama," jawab Mayleen.

Tak berapa lama Mayleen pergi, William baru saja datang, sekretaris Lin langsung saja memberi tahu jika berkas laporan yang dipintanya telah diletakan di meja kerjanya oleh Mayleen.

"Dimana orangnya?" tanya William.

"Sedang ijin pergi, untuk menemui Kakak-nya yang sedang berulang tahun di hari ini," jawab sekretatis Lin.

Mendengarnya jelas membuat William marah, "jemput dia segera!" perintahnya kepada asisten He.

"Tanpa seijinku, dilarang bertemu," gumam William dalam hati.

William membuka laci meja kerjanya, dan mengambil sebuah figura kecil, itu adalah foto dirinya dengan Lisa sedang tersenyum bahagia. Kebencian terhadap dua kakak beradik tersebut semakin membesar, satu-satunya hal yang membuat dia mempertahankan Mayleen di sisinya hanyalah karena jantung Lisa sekarang menjadi milik Mayleen. Dan William tidak ingin kehilangan jantung wanita yang dia cintai itu.

Di Penjara nampak Mayleen sebentar-sebentar menghapus air matanya karena melihat Kakaknya yang dulu tampan dan memilili karir cemerlang sekarang nampak tirus, meski tetap terlihat tampan.

"Apa dia memperlakukanmu dengan baik?" tanya Li Jancent.

"Tenanglah Kak, bukankan aku sekarang masih hidup, jadi aku baik-baik saja" jawab Mayleen ringan.

"Lalu mengapa kau menangis?" tanya Li Jancent.

"I-ini.... karena aku sangat merindukanmu," jawab Mayleen.

Ketika mereka sedang berbicara tiba-tiba sipir penjara menyudahi kunjungan Mayleen dan menarik paksa Li Jancent. Mayleen yang melihatnya menyadari jika ini pasti adalah perbuatan William. Tanpa seijin suaminya maka Mayleen dilarang bertemu dengan Li Jancent, tapi ini adalah ulang tahun kakak-nya, jadi mana bisa dia tidak datang. Selama tiga tahun ini, sekali pun William tidak mengijinkan Mayleen menemui Li Jancent.

Mayleen pergi meninggalkan penjara dengan hati marah dan mata yang memerah, baru saja melangkah keluar asisten He sudah berdiri di depan pintu keluar.

"Nyonya!" sapanya.

Mayleen menatapi asisten He dengan tatapan marah bercampur sedih, lalu berjalan dengan terpaksa masuk ke dalam mobil. Sungguh hidup menjadi terasa lebih berat meski dalam keadaan sehat, jantung yang ada di tubuhnya ini benaran menjadi beban terberat dalam hidup Mayleen, meski jantung ini hanya memiliki berat setara dengan berat satu buah apel. Jantung Lisa seperti sebuah rantai belenggu yang mengikat tangan dan kaki Mayleen seumur hidup untuk bersama Gu William.

Begitu sampai di rumah utama, William telah menunggu Mayleen, William duduk dengan elegannya di sofa. Mayleen seperti melihat pahatan patung yang sempurna, pria ini begitu tampan sekaligus begitu kejam.

William meletakan tabletnya diatas meja, sementara Mayleen berdiri di depannya dengan sedikit takut. pria itu menyilangkan kakinya, "Apa aku memberikanmu ijin?" tanya William.

"Tidak bisakah kau bersikap tidak kejam sehari saja," imbuh Mayleen.

Mendengar label yang disematkan kepadanya, William pun langsung berdiri dan menapuk dagu Mayleen.

"Kejam!" ulang kata WIlliam dengan nada geram.

"Kalian kakak beradik yang begitu kejam telah mengambil jantung Lisa-ku," tukas William.

Telinga Mayleen terasa terbakar ketika mendengar William menyebut nama Lisa dengan lembut, sementara kepadanya selalu saja kasar. William mendorong tubuh Mayleen ke dinding. "Sekali lagi kau melakukan ini! maka bersiap mengucapkan selamat tinggal kepadanya," ancam William dengan nada dingin acuh tak acuh.

"Brengsek!" gumam Mayleen dalam hati merutuki William.

Bab 3

William melepaskan kungkungannya dari tubuh Mayleen, dan pergi meninggalkannya begitu saja. Mayleen terduduk simpuh di lantai. Mayleen memegangi dadanya seraya berpikir jika jantung ini tidak ada di tubuhnya, maka saat ini dia pasti sedang bersenang-senang dengan kakak-nya menikmati hidup meski harus berjuang untuk sehat.

Mayleen, menutup mulutnya dengan kedua tangannya agar suara tangisannya tidak terdengar. Hatinya begitu sakit menjalani hari-hari bersama William dan bahkan terkadang harus berbagi ranjang dengannya, itu terasa seperti sedang berbagi ranjang dengan iblis.

Mayleen mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam tas-nya lalu langsung saja pergi melajukan mobilnya menuju ke rumah keluarga Li dulu. Jika sedang merindu maka terkadang Mayleen berkendara jauh-jauh ke rumah lamanya, hanya untuk memandangi dan mengenang masa-masa manis bersama keluarganya.

Rumah itu, semenjak Li Jancent di penjara sudah bukan milik mereka lagi. Setelah puas menatapi, barulah Mayleen kembali ke rumah utama, lebih tepatnya rumah rasa penjara. Hati dan tubuh Mayleen benar-benar merasa sudah lelah, sehingga begitu sampai di rumah utama hal yang ingin dia lakukan adalah merebahkan diri di ranjangnya dan juga terpulas dengan nyenyak.

Namun sepertinya bukan itu yang diinginkan Gu William, ketika Mayleen tiba kepala pelayan memberi tahu jika Tuannya sedang menunggu Mayleen di dalam kamarnya.

Mayleen, Dengan langkah malas Mayleen pergi ke kamar William. Ketika Mayleen masuk nampak William sedang memangku Reina. Melihatnya Mayleen hanya bersedekap sambil tertawa dengan mimik wajah menyindir.

Melihat Mayleen hanya berdiri dan menatapinya acuh tak acuh, William pun berdiri lalu berjalan ke arah Mayleen, "Mulai hari ini Reina akan tinggal bersama kita," jelas William.

"Baiklah," jawab Maylen seraya berbalik memunggungi William dan bergegas melangkah ke pintu keluar.

Merasa tak puas dengan sikap Mayleen, William menarik lengan Mayleen. Namun, itu malah membuatnya tersentak karena Mayleen menatapnya dengan tatapan penuh kebencian, "Dengar Tuan, kau yang paling tahu aku bisa menikah denganmu karena hal apa," tukas Mayleen.

"Karena jantung yang ada di sini," tukas Mayleen lagi dengan suara parau seraya memukul-mukul pelan dadanya

"Jadi silahkan berlaku sesukamu, dan tenang saja aku tidak akan perduli jika nanti kau ingin menambah satu selir lagi untuk kau bawa pulang!" tukas Mayleen dengan menekan nada marahnya seraya menghempaskan tangan William yang sedang memeganginya.

Mayleen pergi dengan menyimpan amarah dihatinya, masuk ke kamarnya. Bersandar di pintu, lalu terduduk dan menangis dalam diam. "Sungguh ini adalah sebuah jantung yang terkutuk," gumam Mayleen dalam hati.

Keesokan paginya mereka bertiga sarapan bersama, terlihat Reina sedang sibuk menuang juice jeruk, dan memotong-motong roti sandwich untuk William. Sebenarnya Mayleen tadi sudah akan berangkat ke kantor, namun Kepala pelayan memanggilnya dan mengatakan bahwa mulai hari ini mereka harus mulai sarapan pagi bersama. Namun, Mayleen tak mengira jika mereka yang dimaksud adalah ada Reina di dalamnya.

Mayleen menghabiskan sandwichnya dengan cepat sehingga pipinya menggembung, lalu menuang susu dan menyesapnya dalam beberapa teguk. Setelahnya Mayleen langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan.

"Aku pergi!" ujar Mayleen.

"Kami belum selesai makan," ujar Reina sambil bergelayut di bahu William.

"Maafkan aku tidak bisa menemani kalian lebih lama lagi, Direktur Gu tidak suka jika ada karyawan yang bekerja asal dan malas-malasan," jawab sindir Mayleen.

Suara hentakan sepatu Mayleen pergi meninggalkan rumah pun terdengar menggema. Mayleen menutup pintu mobilnya dengan sangat kesal lalu melajukan mobilnya dengan kencang sampai decitan roda mobilnya terdengar jelas.

Setelah Mayleen pergi, William menghempaskan tubuh Reina dan juga pergi meninggalkan ruang makan. Beberapa saat kemudian, di Gu Corporation, Mayleen tengah duduk di ruanngannya seraya memijit-mijit kepalanya. William memberi tekanan besar untuk pekerjaannya, target yang diberikan begitu tinggi. Sementara di rumah, William juga memberikan tekanan yang tak kalah membuat kepalanya bertambah berdenyut tegang.

Gu Hansen masuk ke ruangan Mayleen, seraya membawakan Kopi caramel machiato kesukaan Mayleen, "untukmu, agar wajah manismu tidak hilang," ujar Gu Hansen.

"Hissh kau ini," ujar Mayleen.

Gu Hansen, melihat berkas-berkas yang ada diatas meja Mayleen. Lalu matanya menyipit melihat target yang diberikan oleh William. Meski Gu Hansen adalah Direktur Marketing, namun untuk soal pekerjaan Msyleen maka itu adalah dibawah perintah Gu William, karena itulah Gu Hansen tidak bisa ikut campur tangan untuk target yang diberikan kepada Mayleen.

"Sudah-sudah tak usah dibaca, itu malah akan membuat alismu mengkerut keras," ujar Mayleen seraya tertawa dan menyesap kopinya itu.

"Emm…. ini enak sekali," ujar Mayleen lagi

"Kau memang yang terbaik," Tukas Mayleen seraya menepuk-nepuk bahu Gu Hansen dan dengan tersenyum.

Gu William datang mencari Gu Hansen namun dia tidak ada di ruangan. Melihat yang dicari tidak ada diruangan, William langsung tahu jika Gu Hansen ada di ruangan Mayleen.

Begitu masuk William langsung di suguhi pandangan Mayleen yang sedang tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Gu Hansen. Hati William seperti tergelitik oleh pisau.

"Apakah Departemen Marketing kekurangan pekerjaan?" tanya William seraya duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Mayleen.

Gu Hansen melirik ke jam tangannya, ini masih jam satu siang kurang. Masih dalam waktu istirahat, "Apakah kau adalah seorang tirani, ini masih jam istirahat," jawabnya sambil melirik sarkas kepada William.

"Tentang laporan Resort baru, kutunggu dalam waktu 10 menit," ujar William seraya berdiri lalu meninggalkan ruangan Mayleen.

"Apa otaknya baru saja kemasukan air," gumam kesal Mayleen.

Dengan segera Mayleen memainkan mouse komputernya, lalu segera membuat laporan yang William pinta. Melihat Mayleen yang sedang serius itu, Gu Hansen pun tersenyum getir. Wanita secantik Mayleen harus menikah dengan seorang tirani seperti William. Gu Hansen pun tak ingin mengganggu, lalu pergi meninggalkan ruangan Mayleen.

Beruntung Mayleen memang sudah membuat laporan itu lebih dulu, jadi sekarang hanya tinggal melakukan penyesuaian sedikit saja. Mayleen mengirimkan laporan tersebut melalui e-mail, lalu mengprint lapora tersebut dan membawanya kepada William.

William tidak benar-benar membacanya, "aku ingin Resort ini ramai dalam waktu singkat!"perintahnya.

Bagi William angka yang tertera di laporan Mayleen masih terbilang kecil, $20.000 dalam dua hari bagi Mayleen itu adalah pencapaian terbesarnya. Namun dimata William yang ketika terlahir sudah dengan sendok garpu dan emas, melihat angka yang tertera di data laporan Mayleen bukanlah hal yang besar.

William mentargetkan kepada Mayleen harus bisa mencapai $350.000 dalam setahun, karena inilah terkadang Mayleen harus semakin bekerja keras. Kehidupannya dan juga kakaknya sedang dalam genggaman Gu William.

Mayleen keluar dari ruangan William sambil membawa berkas laporan ditangannya, "apakah dia buta, menganggap $20.000 ini adalah angka yang kecil," gumam Mayleen merutuki William.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED