Bab 2

Ethan mendengar sebagian pembicaraan Opanya dengan wanita matrealistis itu, mengapa opa-nya sampai memohon seperti itu, seakan-akan dia bujangan lapuk? Aku ini Ethan Daniel, wanita mengantri untuk kencan bersamaku?

Dan yang lebih menyebalkannya, perempuan itu sok jual mahal sekali, sampai menikah dengannya perlu berpikir? Sekarang dia sudah mendengar masalah warisan pasti wanita itu akan menempel seperti lintah.

Ethan masuk segera agar kakeknya itu menghentikan bujukannya.

"Opa sudah masuk jadwal dioperasi, jangan lupa nanti harus puasa. Kamarnya nyaman kan? Aku harus pulang, nanti jam 10 ada meeting dengan New York," jelasnya mendekati kakeknya sambil melihat jam, sekarang sudah hampir jam 9 malam.

"Ethan…," panggil opa Jacob dengan suara serak.

"Kita ngobrol dulu sebentar," ujarnya menatap cucu laki satu-satunya itu, dia hanya memikirkan pekerjaan. Umurnya sudah 29 tahun ini, sudah layak dia untuk menikah, pikir opa dengan penuh harap.

Tapi pandangan Ethan malah tertuju pada wanita itu. Dia memiliki rambut yang panjang tergerai indah di sebelah kiri di atas pundaknya sehingga memperlihatkan lehernya yang putih jenjang.

Ethan menghela nafas agar kembali konsentrasi, menghindari pandangan Anna yang mencela.

"Aku harus melihat berkasnya dulu opa, nanti nggak keburu lihat berkas, meeting jadi percuma," jawab Ethan mencari alasan karena sesungguhnya dia tidak mau membicarakan perjodohan ini, setelah melihatnya langsung, dia langsung tahu, wanita di hadapannya ini hanya wanita penggoda matrealistis.

"Meeting itu bisa ditunda, ayolah kita dah lama ga ngo,-" dia terbatuk lagi sebelum menyelesaikan kata-katanya. Wajah opa terlihat lelah namun dia masih memaksakan dirinya untuk berbicara.

"Udah, opa istirahat ya?" Ethan menatap opanya sungguh-sungguh, tapi opa tidak menggubrisnya. Ethan menatapnya dengan prihatin.

"Opa sungguh berharap kalian akan bahagia, sebahagia yang direncanakan oleh kakek-kakekmu," ucap opa Jacob sambil menatap mereka berdua, kata-katanya terasa janggal mengambang di udara.

"Opa ngomong apa sih, kaya mau ada apa aja," protes Anna yang merasakan hal yang sama seperti yang Ethan rasakan.

"Ethan, kamu antar Anna pulang ya? sudah malam nggak mungkin dia pulang sendirian," pinta opa Jacob langsung kepada cucunya, Ethan menghela napas panjang ingin protes. Tapi entah kenapa pandangan mata kakek tua itu malam ini sungguh membuatnya menjadi iba.

"Tidak apa-apa, aku bisa pulang sendiri kok, aku pulang ya Opa!" seru Anna tiba-tiba meraih opa Jacob dalam pelukannya.

Opa Jacob terkejut atas pelukannya, Ethan apalagi, keluarga mereka adalah keluarga yang kaku, bahkan bersalaman saja jarang.

"Baik, hati-hati sayang," ucap Opa Jacob setelah pulih dari keterkejutannya. Anna segera melambaikan tangannya dan berjalan keluar begitu saja dari kamar rawat opa, dia tidak mau diantar Ethan.

Tapi Ethan kini merasa tersinggung karena Anna malah melarikan diri, dia segera mengejarnya.

"Hai!" teria Ethan memanggilnya di lorong rumah sakit. Suara sepatungnya bergaung tiap kali dia melangkah menjauh, tapi Anna tidak mau berhenti, dia malah mempercepat langkahnya, dia tak sudi dipanggil 'hei'.

"Hei, hei! Aku tau kamu mendengarku!" teriak Ethan kesal.

Anna yang menahan amarah berhenti berjalan, gaun kuningnya mengayun ketika dia berputar dan malah menghampiri Ethan sambil memandang tajam seakan mau memakan Ethan. Tanpa Ethan sadari dia berhenti mendekati Anna.

"Kenapa... kenapa kamu yang malah melihatku seperti itu?" tanya Ethan tiba-tiba kehilangan keberaniannya, bingung entah kenapa dia menjadi terintimidasi oleh Anna.

"Eh eh... hei hei, jangan seenaknya anda memanggil saya ya!" bentaknya. Ethan tertegun menatap wajahnya yang mungil marah itu.

"Ah..." Hanya itu yang dia bisa ucapkan.

"Dari tadi saya sudah cukup sabar dengan kelakuan anda ya, saya punya nama, anda tau kan nama saya, tadi kita sudah dikenalkan kan?" ucap Anna marah, dia sudah cukup sabar menghadapi kelakuan Ethan seharian.

Cih, Ethan Samuel sedang dimarahi, ada apa ini, kenapa dunia seakan-akan terbalik? Tapi herannya lidah Ethan kelu, dia tidak bisa menjawab pertanyaannya. Ethan hanya terbius dengan manik matanya yang berkilat-kilat.

"Nama saya Anna, Anna Federica," ucapnya lagi mengingatkan Ethan seakan Ethan seorang idiot. Dia segera menguasai dirinya.

"Anna, mari kita pulang," ujar Ethan menarik tangannya. Anna menurut beberapa langkah tapi segera sadar dia melepaskan genggaman tangannya.

"Eh ... mengapa anda seenaknya menyentuh saya?" teriak Anna keras sengaja sehingga lagi, suster-suster yang ada di booth ikut memperhatikan mereka. siapa tahu pria kasar ini bisa diusir duluan, pikirnya dalam hati.

"Kamu mau pulang kan, aku antar," Ethan masih mencoba meraihnya, tapi Anna kembali menyingkir menjauhi Ethan yang semakin penasaran, baru kali ini dia merasakan ditolak.

"Nggak perlu, saya bisa pulang sendiri," balasnya. Anna langsung berjalan cepat menuju lift melewati booth suster yang sedang menggosipkan mereka.

"Hei!" panggil Ethan mengulang kesalahannya lagi. Anna segera masuk ke dalam lift.

"Anna, tunggu!" teriak Ethan segera ikut masuk ke dalam lift.

"Tuh nggak susah kan panggil nama orang pakai namanya!" serunya ketus. Ethan menggertakkan giginya separuh menyesal ikut masuk ke dalam lift.

"Aku tak butuh diantar, aku bisa pulang sendiri!" seru Anna tanpa melihat Ethan yang merasa gemas sekali dengan wanita keras kepala ini. Baru kali ini Ethan bertemu dengan seseorang yang sama keras kepalanya dengan dirinya.

Anna memandang ke layar yang menunjukkan lantai yang sedang dilewati dengan tidak sabar. Mengapa pria ini terus mengikutinya? Tadi dia kesannya tak sudi bicara dengannya mengapa kini dia malah memaksa untuk mengantarnya, pikir Anna kesal.

"Opa menyuruhku untuk mengantarmu pulang," ucap Ethan keras kepala mencari alasan, karena sejak kapan dia mendengarkan kakeknya?

"Nggak butuh!" jawabnya dengan sengit, Ethan semakin tertantang, karena semakin dilarang semakin ingin dia melakukannya.

"Hari ini sudah malam, kamu nggak mungkin pulang sendiri," Ethan tidak mau kalah, emosinya kembali tersulut ketika berbicara dengan wanita itu. Pintu lift terbuka dan Anna melesat secepat sepatu hak barunya membawanya.

"Anna!" panggil Ethan tapi dia malah berjalan semakin cepat. Pegawai valet yang melihat kedatangan Ethan langsung menyiapkan mobilnya.Ethan berlari mengejarnya dan saat dia terpeleset, Ethan segera mendengus senang. Dia segera meraih tangannya, dan menariknya paksa untuk masuk ke dalam mobil.

Bola mata coklat mudanya terbelalak kaget. Ada bunyi krek tiba-tiba, tanpa Ethan sadari, dia telah merobek gaun kuning Anna. Ternyata dressnya robek, dari bagian ketiak sampai pinggang, dengan malu dia segera memegang gaunnya. Andai tidak robek dia bisa segera turun dari mobil saat Ethan memutar menuju kursi pengemudi.

Ethan mendegus sambil memakai sabuk pengaman, melihat Anna tidak turun dari mobilnya, mungkin dia kaget setelah melihat mobil mewahnya, semua perempuan sama, jika melihat mobil mewah pasti langsung mau ikut, pikirnya dalam hati sambil langsung menyetir keluar dari rumah sakit.

Bab 3

Ethan menyetir dengan cepat keluar dari rumah sakit. Anna baru pertama kali naik mobil yang seperti ini. Dia hanya bisa duduk diam sambil memegang bagian yang robek.

Telepon yang Ethan tunggu-tunggu akhirnya berdering panjang, dia segera meminggirkan mobilnya, dan mengangkat handphonenya dan memulai conference callnya.

Tanpa dia mau, Anna jadi bebas memperhatikan wajah Ethan. Wajahnya berkulit putih mulus dengan tidak wajar, pria kok memiliki kulit semulus itu, komen Anna dalam hari, lalu kembali melihat bibirnya yang tebal, seksi,... sekilas saat dia berbicara ada lesung pipi yang muncul.

Poninya hampir menutupi wajahnya. Kalau lagi berbicara seperti ini, dia terlihat tampan, Anna harus mengakuinya, tapi asal dia tak berbicara kepadanya, kelakuannya selalu membuat Anna ingin marah.

Dia berbicara cepat mengenai kenaikan harga saham, dan sebagainya yang Anna tak mau ambil pusing, tangannya mulai pegal memegangi bagian yang robek, karena gelap begini mungkin tidak akan kelihatan kalau aku lepas pegangan tanganku? pikirnya dalam hati, karena Ethan masih sibuk berbicara sambil melihat ke arah yang lain jadi aman. Dia melepaskan tangannya dengan pelan-pelan.

Lalu hujan tiba-tiba turun, Anna seketika melihat ke arah jendela. Semakin sulit dia untuk melarikan diri, dia meratap dalam hati memandangi air hujan yang turun deras.

Ethan menatap jendela yang mulai basah karena jatuhnya hujan, Pembicaraannya dengan New York berjalan lancar, kantor pusat setuju dengan keputusan yang dia ambil, iklan yang berjalan yang menyesatkan publik itu akan ditarik dan akan dibuat baru lagi, walau akan keluar biaya baru, tapi pihak pusat akhirnya tidak keberatan.

Ethan sangat suka bekerja dengan perusahaan ini yg memiliki integritas ini. Dia dengan puas mengalihkan pandangannya kepada wanita keras kepala di sebelahnya.

Tapi pemandangan yang Ethan lihat lebih menakjubkan. Gaun Anna ternyata robek jahitannya dari dada sampai ke pinggang, walaupun Ethan tak ada bermaksud mengintip tetapi naluri kelaki-lakiannya langsung muncul dan menatap tubuhnya yang terlihat sedikit itu.

Walaupun dalam sinar yang temaram, jantungnya seketika berdebar-debar ketika melihat kulitnya yang seputih susu, dadanya penuh dan pinggangnya ramping. Dia sedang menatap air hujan yang jatuh di jendela tanpa menyadari Ethan bisa melihat semua itu.

Ethan baru menyadari kalau ternyata dia diam tidak keluar lagi dari mobil karena bajunya robek, apakah karena tarikan tangannya kah bajunya ini bisa robek? Tiba-tiba Ethan merasa harus bertanggung-jawab.

"Hei, hei!" ujar Ethan setelah bisa menguasai dirinya, tapi Anna tidak mau menoleh dengan panggilan itu.

"Hei..." panggilnya lagi, Anna benar-benar kehabisan sabar dengan pria ini, dia segera menoleh dengan siap tempur

"Panggil aku dengan...-" ucapan Anna terpotong karena jari Ethan yang menunjuk robekan gaunnya yang terbuka lebar memperlihatkan BH dan sebagian Perutnya, Astagaaaa! jerit Anna dalam hati, langsung kembali menggenggam gaun yang robek itu.

Ethan segera membuka jasnya, setidaknya Anna bisa mengenakannya sepanjang jalan, daripada dia harus menggenggam gaunnya terus menerus. Lalu dia mendekatinya untuk memakaikan jas itu kepadanya, tapi Anna langsung ketakutan. Dia mundur dan Ethan semakin mendekat sampai Anna tidak bisa mundur lagi, Anna semakin panik.

"JANGAN!" jeritnya sambil mendorong Ethan.

"Apaan sih!" serunya kaget, Ethan segera menarik badannya kembali.

"Jangan dekat-dekat, kamu mau apa!" teriak Anna panik. Bola matanya coklat mudanya menatap Ethan ketakutan, Ethan tiba-tiba merasa geli,dia pasti berpikir kalau ethan akan menyerangnya, hahaha, justru karena kelakuannya seperti ini dia malah jadi kepikiran, pikir Ethan sambil menatap bibirnya yang mungil.

"Ya sudah kalau ga mau pake!" Ethan menarik jasnya yang dari tadi ternyata sudah di pangkuan Anna

"Eh, ... mau!" seru Anna sambil langsung menarik jas Ethan dan segera mengenakannya. Jas itu terasa hangat walau kebesaran untuknya.

Terlihat senyuman tipis di wajahnya yang mungil itu, Ethan mendengus, lalu menjalankan mobil kembali. Ada perasaan aneh menyusup dalam hatinya ketika melihat senyuman Anna.

Anna merasa lapar, karena panik menemani Opa, dia sama sekali tidak makan kecuali tadi makan siang bersama Opa. Tapi Anna tersadar kalau jalan ini bukan ke rumahnya, dia bahkan belum memberikan alamatnya.

"Kita mau kemana?" tanya Anna bingung memperhatikan sekitarnya, hujan masih deras dia terperangkap di mobil ini.

"Makan," jawabnya seenaknya.

Perut Ethan sudah bergetar-getar dari meeting tadi. Dia melirik jam yang ada di dasbor mobil, sudah jam 11.23, jam segini yang pasti buka hanya restoran fast food, lalu segera mengarahkan mobil menuju salah satu restoran andalan karena dia selalu makan terlambat.

Anna memegang perutnya apa tadi dia mendengar perutnya berbunyi? kok dia bisa tahu? Ethan masuk ke layanan drive through, dan membuka jendelanya, angin hujan langsung masuk ke dalam.

Ah pasti dia kecewa diajak makan disini, wanita seperti ini pasti maunya makan mewah di restoran italia, pasti dia tidak menyangka akan diajak ke restoran model begini, pikir Ethan sinis dalam hati.

"Mau makan apa?" tanyanya singkat.

"Paket double cheese minum ganti teh, makasi." Anna menjawab pasti dengan senyum senang. Restoran ini merupakan salah satu restoran kesukaan Anna.

Ethan yang terkejut karena pesanannya ternyata sama lalu maju ke konter lain untuk mengambil pesanan. Mereka segera makan dengan diam, Anna yang lapar sekali sehingga dalam sekejap langsung menghabiskan pesanannya bahkan sebelum Ethan menyelesaikan makannya.

Ethan menatap Anna dengan heran, benar-benar wanita aneh, seharusnya ada rasa malu, jika makan dengan calon suami, pikirnya ...eh kenapa dia berpikir begitu ya? dia hanya calon yang dijodohkan oleh opa Jacob, jadi dia bukan calon istrinya? pikirannya mulai aneh-aneh sepertinya dia sudah kelewat lelah, pikirannya mulai melantur kemana-mana.

"Cepet aja, laper ya?" tanyanya menyindir Anna, kata-kata itu meluncur cepat sebelum Ethan sempat menahan dirinya. Anna menghabiskan teh kemasannya dan melirik ke arah Ethan dengan sebal.

"Sudah pasti, aku nungguin Opa-mu dari siang sampai malam ini, kalau aku sih khawatir ya kalau Opa-ku kenapa-kenapa, nggak kaya seseorang yang sok sibuk, sampai nggak bisa ditelepon," jawab Anna malah menyindir balik.

Ethan mendelik ke arah Anna dan hendak membalasnya tapi tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Anna mengangkat tangannya menyuruh Ethan berhenti.

Ethan, terkejut, dia harus berhenti bicara saat dia mengangkat tangannya menyuruhnya berhenti, dan anehnya Ethan menurut. Orang dari New York tadi menunggunya untuk bisa berbicara, tapi wanita ini seenaknya memberikan telapak tangannya agar dia berhenti bicara?

"Ya, Mama aku dah jalan pulang kok, iya aku aman, aku naik taksi kok," jawab Anna malas menceritakan detail apa yang terjadi sambil melirik, ke arah Ethan.

Pria itu memandang Anna tidak percaya disamakan dengan taksi, Ethan ingin mengambil handphone-nya dan berteriak kepada siapapun yang dibalik telepon itu kalau dia yang mengantarnya, bukan taksi, jadi Anna pasti aman.

Tapi wanita menyebalkan itu meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang mungil itu, bibir yang dari tadi menggoda Ethan lalu tanpa dia sadari pikirannya kembali ke bayangan tubuh Anna yang tadi dia sempat lihat sekilas.

Ethan tersadar dari lamunannya karena pandangannya bertemu dengan Anna. Dia segera mengalihkan pikirannya, dengan emosi dia mulai menjalankan mobil.

"Rumahku di Petukangan, Akasia TV3 nomor 1." Ethan mendengus kesal karena Anna benar-benar membuatnya seperti supir taksi, tapi dia segera mengarahkan mobil ke sana.

Anna memperhatikan air hujan yang jatuh di jendela, sambil merebahkan tubuhnya ke bangku mobil yang nyaman. Jas Ethan pas sekali menutupi tubuhnya yang mungil, sehingga dia merasa hangat. Anna menguap karena tiba-tiba merasa mengantuk,

Aku tidak boleh tertidur... aku tidak boleh tertidur, ucap Anna dalam hati memperingatkan dirinya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED