“Kalian tidak boleh menikah. Kalian adik kakak!”
Susan memutuskan memberitahu fakta mengerikan itu. Ia tak boleh menyimpan rahasia itu lebih lama. Dengan perasaan campur aduk dan wajah tegang, ia menatap putrinya dengan gelisah. Susan tahu ucapannya sangat menyakiti, tapi ia tak punya pilihan.
Nesa dan Raga tak boleh menikah. Ia tak boleh memberi mereka restu. Tak akan pernah.
Jika tak segera dicegah, langit dan bumi akan murka. Alam mengutuk dirinya. Setan akan berpesta pora menyaksikan dua anak manusia sedarah melakukan hubungan terlarang.
Itu tidak boleh terjadi!
Semua salahnya. Ini hukuman akibat dosa masa lalunya. Jika saja ia bisa memutar waktu dan boleh memilih takdir sendiri, ia ingin menjalani hidup normal seperti orang kebanyakan.
Namun takdir yang memilihnya. Takdir yang terus menyisakan kepedihan dan luka yang seolah tak kunjung usai.
Bahkan setelah meninggalkan lembah hitam, dosa itu terus mengikuti. Tak cukup menghukum dirinya, kini sang putri ikut menanggung akibatnya.
Susan menyeka keringat yang jatuh di pelipisnya.
“Hubungan kalian aib. Kamu harus putus dengan Raga. Tak peduli sebesar apa cintamu pada dia, sudahi semua!”
Nesa menatap Susan dengan mata tak berkedip. Mulutnya bergetar, tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Ibu pasti bercanda. Ia anak tunggal. Ia tidak memiliki saudara. Ia berusia dua puluh tujuh tahun, dan tak pernah mengenal Raga sebelumnya. Ia bertemu laki-laki itu enam bulan lalu. Mereka saling jatuh cinta dan tengah merencanakan pernikahan.
“Ibu becanda kan?” Ia mendekat dan meraih tangan Susan. Berharap semua cuma guyonan.
Susan tampak gelisah. Ia berkali-kali menyeka keringat. Padahal mereka berada di ruang berpendingin di kamar Nesa yang nyaman.
“Maaf Nes. Kamu tidak boleh menikah dengan Raga.”
Nesa berharap Susan salah. Ya. Ibu pasti salah. Tak mungkin Raga kakaknya.
“Bagaimana mungkin, Bu? Tolong jangan begini. Raga satu-satunya laki-laki yang pernah aku cintai. Jangan becanda, Bu. Lagipula sebelumnya Ibu tidak pernah mempermasalahkan. Kenapa tiba-tiba bicara begini? Apa maksud Ibu?” Nesa menatap Susan dengan nanar. “Ibu sudah ketemu kedua orang tua Raga. Mereka juga sudah merestui. Kenapa sekarang Ibu bicara sesuatu yang tidak masuk akal?”
Susan menatap putrinya. Ada rasa iba. Namun ia harus tegas. Pernikahan mereka tetap harus dicegah.
“Raga kakak kamu!”
“Kakak? Kakak dari mana? Kenapa tiba-tiba ia jadi kakakku? Lelucon apa ini, Bu? Ibu harus menjelaskan semuanya!”
“Aku tidak harus menjelaskan apa pun pada kamu. Pokoknya batalkan pernikahan kalian!”
Wajah Nesa membara. “Aku pikir Ibu benar ingin aku bahagia. Tapi ternyata aku salah. Ibu tidak pernah berubah. Sejak kecil aku diperlakukan semena-mena. Aku dibuang, dicampakkan dan dibiarkan menderita, sementara Ibu bersenang-senang. Kini Ibu masih belum puas juga. Masih ingin menghalangi kebahagiaanku satu-satunya. Apa sebenarnya maumu, Bu?” Napas Nesa tersengal-sengal menahan amarah yang menggelegak di dalam dada. “Aku tidak pernah mengusik kehidupan dan masa lalu Ibu, tapi kenapa Ibu melakukan ini padaku?”
Nesa meremas telapak tangannya yang basah oleh keringat. Meskipun sangat ingin menahan diri, namun kemarahan itu meledak juga. Kemarahan yang telah ia pendam sejak sekian lama.
“Aku tidak pernah melawan Ibu, tidak pernah menyusahkan Ibu. Tapi aku juga tidak terima Ibu semena-mena begini. Sudah cukup penderitaanku, Bu. Jangan Ibu tambah lagi dengan sikap egois yang sangat menyakiti hati.”
Seketika kamar itu berubah menjadi sempit dan sesak. Hembusan pendingin ruangan pada suhu delapan belas derajat tak mampu membuat hati anak beranak yang sedang panas itu menjadi dingin.
Keduanya saling tatap dengan wajah memerah.
“Setidaknya tolong jelaskan mengapa ibu bilang Raga kakakku?”
“Tidak ada yang perlu aku jelaskan. Pokoknya dia kakak kamu. Kamu tidak boleh menikah dengan dia!”
“Terus Ibu berharap aku percaya begitu saja? Memutuskan hubungan dengan laki-laki yang aku cintai hanya karena Ibu bilang kami bersaudara? Tanpa tahu faktanya? Bodohkah aku di mata Ibu?”
Nesa semakin geram dengan keegoisan Susan.
“Aku tidak bilang kamu bodoh. Aku tahu kamu pintar. Cerdas. Makanya kamu jadi pengacara. Tapi dalam hal ini kamu tidak berhak mencintai Raga!”
“Aku tidak percaya. Aku tidak punya kakak. Aku bahkan tidak punya ayah.”
Mendengar kata-kata terakhir, Susan mendadak berdiri dan hendak berjalan keluar. Ia tak mau melanjutkan pembicaraan yang semakin memanas.
Nesa mendahului berdiri di depan pintu, menghadang Susan agar tidak keluar kamar.
“Jelaskan, Bu!”
“Tidak! Yang jelas kamu harus memutuskan hubungan dengan Raga. Secepatnya!”
Susan menepis tubuh Nesa dan berlalu meninggalkan ruangan.
Pertemuan tiga hari lalu tak pernah ia bayangkan akan berakhir rumit. Ayah calon suami Nesa ternyata Pram. Laki-laki yang pernah sangat ia cintai. Hatinya sakit setiap kali ingat laki-laki itu. Di dunianya yang gelap, Pram pernah membawa setitik cahaya terang dan segenggam harapan. Namun pada akhirnya, ia harus sadar diri. Pram terlalu jauh dari jangkauan. Dunia mereka sangat berbeda.
Orang-orang seperti dirinya, harus rela menerima sepahit apapun kenyataan yang menimpa. Wanita sepertinya tak lebih dari sekedar pelepas dahaga di saat haus melanda. Bak seonggok sampah, setelah tak berguna, dicampakkan begitu saja. Rasa sakit itu bahkan masih terasa hingga kini.
Susan sudah mengubur masa lalunya. Namun rencana pernikahan Nesa dan Raga membuat ia kembali bertemu Pram. Bagai disambar petir, ia terpana menatap ayah calon menantunya, calon besannya.
“Takdir memang senang bermain-main dengan nasibku dan nasib anak gadisku,” batinnya nelangsa.
Sementara itu, Nesa yang shock dengan pernyataan Susan, bergelung di tempat tidur. Hatinya sakit. Jiwanya terluka. Semua terlalu berat untuk ia terima. Kata-kata Susan bagai godam yang menghantam tepat di ulu hatinya. Seketika ia merasa limbung. Ia mencengkram seprei tempat tidur dengan kuat.
Tubuhnya terasa ringan, namun kepalanya sangat berat.
Nesa tahu masa lalu ibunya tidak bersih. Susan pernah bergelimang dosa di dunia yang teramat kotor dan menjijikkan. Namun mengatakan Raga kakaknya sungguh tak masuk akal. Laki-laki itu satu-satunya pria yang pernah singgah di hatinya. Ia bahkan nyaris memilih hidup melajang karena tak mampu merasakan getar cinta kepada setiap laki-laki yang coba mendekatinya.
Masa kecil yang menyakitkan telah menorehkan trauma yang teramat mencekam dalam hidup Nesa. Ia tumbuh dalam keluarga tidak normal. Ia tak pernah mengenal ayah. Ia hanya tahu begitu banyak om-om teman ibu yang datang ke rumah. Mereka bergantian datang dan keluar masuk kamar Susan. Terkadang hanya beberapa jam, namun tak sedikit yang tinggal hingga keesokan harinya.
Nesa bahkan pernah mengalami saat-saat sangat menakutkan ketika om-om itu merangsek ke kamarnya saat mabuk. Ia harus berjuang keras membela diri saat teman Susan mendobrak pintu kamarnya yang tertutup rapat. Tubuhnya selalu merinding jika ingat semua yang pernah dialaminya di masa lalu. Semua itu masih terbayang dengan jelas, dan membuat kepalanya terasa kian berat.
Sekarang, saat ia mulai melupakan masa-masa gelap itu, dan mencoba membuka hati untuk seorang pria, tiba-tiba ibu mengatakan mereka adik kakak.
“Drama apa yang sedang kau mainkan, Bu?” lirihnya.
***
“Ibu sungguh pandai mempermainkan hidupku. Tak cukup menghadiahiku dengan masa lalu yang kelam, perempuan itu masih juga mengobrak-abrik masa depan yang tengah aku rancang.” Nesa bergumam sambil memijat kepalanya yang terasa berputar. Ia mual karena barang-barang di kamar tak henti bergerak. Ruangan kamar terasa terus bergoyang.
“Aku tak percaya Raga kakakku! Itu pernyataan paling konyol yang pernah kudengar!”
Di tengah rasa pusing yang menyiksa, ia bertekad mencari tahu siapa Raga sebenarnya dan siapa ayah kandungnya. Ia tak akan kalah hanya karena pernyataan Susan. Raga tak mungkin ada hubungan darah dengannya.
Raga ditakdirkan menjadi miliknya, kekasihnya, suaminya. Bukan kakaknya!
“Kamu salah, Bu. Aku tetap akan menikah dengan Raga. Kamu tidak berhak mengatur hidupku.” Ia terus bergumam.
Sementara itu, Susan yang biasanya tinggal cukup lama saat mengunjungi Nesa, kini bergegas hendak pulang. Situasi tegang di antara mereka membuat ia ingin cepat-cepat keluar dari tempat itu.
“Ibu pulang, Nes. Ingat apa yang Ibu katakan. Kamu tidak boleh menikah dengan Raga!”
Nesa tak ingin menahan kepergian Susan. Ia bahkan tak mau membukakan pintu kamar untuknya.
“Aku tetap akan menikahi dia!” teriaknya membalas Susan dengan suara kencang.
Marah dan benci memenuhi rongga dadanya. Sudah lama ia ingin memaafkan dan melupakan masa lalu mereka yang kelam. Namun pernyataan Susan kali ini, benar-benar membuat luka hatinya kembali berdarah.
Nesa menutup kepala dengan bantal dan tidak mengindahkan kepergian perempuan setengah baya itu.
“Aku tidak akan memaafkanmu, Bu,” bisiknya sambil menekan bantal lebih dalam.
Pikirannya melayang-layang. Kata-kata Susan memenuhi benaknya. Ucapan itu tak sedikit pun dapat ia terima dengan akal sehat.
“Bagaimana mungkin Raga tiba-tiba berubah menjadi kakak?” geramnya.
Di tengah suasana hati yang tak menentu, tiba-tiba ponsel Nesa berdering. Nama Raga tertera di layar. Sejenak ia bimbang. Namun akhirnya ia putuskan menerima panggilan itu.
“Sayang, kamu lagi di mana?” Suara Raga terdengar khawatir.
“Aku di apartemen, Mas. Sedang kurang enak badan.”
“Kamu kenapa? Dari tadi Mas telpon tidak diangkat. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Nada cemas tak bisa ia sembunyikan.
“Aku tidak apa-apa.” Nesa membalas dengan suara berat.
“Syukurlah. Aku ke sana ya. Kamu mau dibawakan apa?”
“Tidak usah, Mas. Aku sedang tidak pengen makan.” Nesa menjawab lemas.
“Ya sudah. Tunggu aku. Paling dua puluh menit. Baik-baik ya. I Love you.” Raga menutup pembicaraan.
Nesa menghela napas panjang. Lalu kembali menarik bantal untuk menutupi kepalanya.
“Semua pasti tidak benar. Aku tidak percaya pada Ibu yang hidupnya sendiri tidak karuan sejak dulu. Mana mungkin Raga kakakku. Jika pun iya, seharusnya Ibu memberi tahu kebenarannya. Bukannya membuatku menderita tanpa tahu apa-apa. Perempuan itu pasti hanya ingin menghancurkan kebahagiaanku." Nesa tak bisa menyembunyikan kegeraman atas perlakuan Susan padanya.
Sejak kecil, Susan selalu semena-mena dan tidak memikirkan perasaannya. Sesaat ia teringat betapa berat hidup yang telah dijalani hingga akhirnya mampu berdiri di atas kaki sendiri. Tak perlu bergantung pada siapa pun lagi. Ia harus membayar biaya sekolah dengan penderitaan yang tak akan pernah perempuan itu bisa bayangkan. Tetapi ia menutupi semua. Ia tak ingin Susan ikut campur di dalam hidupnya setelah ia dicampakkan begitu saja.
Semenjak diserahkan pada om Beno di usia delapan tahun, Nesa memendam rasa marah dan benci pada Susan.
“Dia membuangku karena ingin bebas.” Pikiran itu selalu menghantuinya. “Akibat keegoisannya, aku hidup seperti di neraka.”
Tiba-tiba air mata tak mampu ia bendung. Nesa menangis sesegukan menumpahkan kekecewaan yang membebani. Setelah puas, ia bersiap merapikan diri dan membereskan apartemennya yang berantakan.
“Aku tak mau tampak kusut di depan Raga. Bagaimanapun aku tak ingin ia merasa tak nyaman saat bersamaku.” Nesa kemudian mematut diri di depan kaca.
Wajahnya cantik sempurna. Dengan kulit putih bersih, hidung mancung dan sepasang mata dengan alis tebal dan bulu mata lentik alami membuat gadis itu terlihat menonjol di antara teman-teman perempuannya. Namun, kabut kesedihan seperti tak kunjung pergi dari sorot mata indah itu.
Nesa terpaku menatap bayangan wajahnya dari balik cermin di atas meja riasnya.
“Susan pasti tak pernah tahu seperti apa penderitaanku demi bertahan hingga hari ini,” lirihnya dengan surat nyaris tercekat.
“Waktu mungkin bisa sejenak menepis kepedihan yang pernah terasa sangat menyiksa, namun kenangan tak semudah itu menghilang begitu saja dari ingatan.”
Setelah menghias diri dengan sedikit pulasan make up sederhana, ia menuju ruang depan dan menghenyakkan tubuh di sofa kesayangannya.
Tak berselang lama, terdengar bunyi kode kunci pintu apartemen dibuka. Raga bergegas masuk dengan wajah cemas. Namun, seulas senyum mencuat di sudut bibirnya saat melihat sang pujaan hati tengah duduk santai menonton televisi di ruang tamu.
“Hai cinta. Kamu kenapa?” Ia menghempaskan tubuh di sebelah Nesa dan mendaratkan sebuah kecupan sayang.
“Lagi kurang sehat, Mas. Badanku pegal semua.”
Raga menatap Nesa tepat di manik mata gadis yang kali ini tampak tidak ceria seperti biasa.
“Ada masalah?” Ia menggenggam tangan Nesa.
“Gak ada. Kecapean aja kayaknya.”
Raga merengkuh Nesa dan memberikan pijatan lembut di bahunya.
“Mau aku pijatin? Mungkin kamu masuk angin.”
“Gak usah. Nanti juga hilang sendiri.” Seulas senyum tipis ia berikan pada Raga. Lalu kembali terdiam dengan mata menatap lurus ke layar televisi.
Merasa ada yang tak beres, Raga memandangi gadisnya dalam-dalam. Biasanya Nesa selalu menyambut kedatangannya dengan riang. Lalu berceloteh ini itu tentang banyak hal. Terutama mengenai kasus-kasus ringan yang tengah ia tangani di pengadilan. Tapi kali ini, ia jelas sedang tidak bersemangat.
“Sayang, kalo kamu ada masalah, cerita aja. Ada aku yang selalu siap mendengar keluh kesah kamu. Jangan disimpan sendiri. Kini kamu punya seseorang untuk berbagi. Aku ini orang yang paling dekat dengan kamu. Kamu sudah tidak sendiri lagi. Lagipula, sebentar lagi kita segera menikah. Jadi gak ada alasan menyembunyikan masalah dari aku.” Raga nyerocos panjang lebar. Ia ingin meyakinkan Nesa, tapi Nesa justru tersentak mendengar ocehannya.
Tubuh gadis itu merosot ke dalam sofa. “Menikah,” rintihnya dalam hati. “Kamu tidak tahu apa yang terjadi, Mas.”
“Hai, gadis kecil. Kok malah melorot begitu?” Raga menahan Nesa dan berusaha menegakkan kembali tubuh kekasihnya.
Nesa hanya bergumam sekilas. Lalu bersandar pada tubuh Raga yang kekar. Ia selalu merasa nyaman saat bersama Raga. Belum pernah ia merasa begitu tenang dan damai saat bersama seseorang. Laki-laki itu mampu menumbuhkan kembali kepercayaannya bahwa cinta itu memang ada. Raga berhasil membuatnya merasakan getar-getar asmara yang ia kira tak akan pernah mampir di dalam hidupnya, untuk selama-lamanya.
Tapi kini, di saat ia mulai membutuhkan Raga, Susan memaksa mereka untuk berpisah. Perkataannya bahkan sangat sulit untuk dipercaya. Nesa merasa bimbang. Ia gamang. Tak tahu bagaimana harus bersikap untuk menghadapi kenyataan yang begitu tiba-tiba dan menyakitkan.
Lama keduanya terdiam. Hingga keheningan itu dihentakkan dengan sebuah pertanyaan tak terduga dari Nesa.
“Bagaimana jika kita batalkan saja pernikahannya?”
Raga tertegun. Ia menatap Nesa sambil mengerinyit heran.
“Jangan ngomong sembarangan, Sayang. Pernikahan kan bukan perkara main-main. Kita sudah pernah bahas itu sebelumnya. Kamu sudah setuju kita menikah secepatnya. Orang tua kita juga sudah bertemu dan merestui. Lalu apa alasan kamu minta dibatalkan? Kamu kan tahu, orang tuaku bukan orang yang suka diajak main-main.” Meskipun kesal, Raga berusaha menahan diri agar kekesalannya tidak terlalu meledak.
“Iya aku tahu. Tapi bagaimana jika ternyata kita tidak boleh menikah?”
“Maksud kamu apa sih, Yank? Kamu pikir selama ini hubungan kita ini cuma main-main atau bagaimana?” Nada suara Raga mulai meninggi.
“Aku juga tidak ada maksud main-main, Mas. Tapi keadaan tidak akan mudah untuk ke depannya.” Nesa berkata dengan suara pelan seolah telah kehilangan harapan.
“Aku tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan. Baru kemarin orang tua kita bertemu untuk membicarakan rencana pernikahan, kini kamu bilang semua tidak akan berjalan mudah. Sebenarnya ada apa, Nesa?” Raga benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada gadisnya.
“Aku sama inginnya agar bisa segera menikah dengan kamu, Mas. Tapi langkah kita akan menghadang tembok besar dan tebal.” Nesa kembali bicara dengan kata-kata yang sulit dipahami Raga.
Sejenak laki-laki itu menghembuskan napas dengan berat. “tembok besar dan tebal apa sih maksud kamu, Sayang? Bagaimana mungkin kita tidak boleh menikah, padahal kemarin orang tua kita baru saja bertemu dan tidak ada persoalan. Papaku juga suka banget sama kamu. Selama ini dia sering membanggakan kamu. Mamaku juga gak ada masalah dengan kamu. Terus kenapa kita tidak boleh menikah? Siapa yang melarang?” Raga terdengar kesal karena Nesa terkesan terlalu mengada-ada.
“Aku tidak suka kamu becanda soal hubungan kita. Aku serius. Kamu tahu kan, baru kamu yang pernah aku ajak menikah. Aku belum pernah membawa orang tuaku bertemu orang tua gadis manapun di luar sana. Aku serius, dan sangat serius dengan kamu.” Ia menatap Nesa dengan sorot mata tajam.
“Iya. Aku tahu. Tapi kita bakal menghadapi masalah besar. Aku juga tidak mau kita berpisah. Tapi...”
“Masalah besar apa? Kamu kan bisa cerita. Nanti aku yang menilai masalahnya memang besar atau hanya pikiran kamu saja yang menganggapnya besar. Lagipula, jika menyangkut kita, bukannya kamu memang harus memberitahu aku semuanya?” Raga mengurangi intonasi suaranya yang tadi sempat meninggi.
“Kita tidak akan pernah bisa menikah, Mas!” sahut Nesa dengan suara parau.
***
Raga terdiam. Tak menyangka kata-kata itu bakal keluar dari mulut Nesa. Dipandangnya calon istri yang telah direstui kedua orang tuanya dengan kedua alis bertaut heran.
“Aku benar-benar tidak suka becanda soal hubungan kita, Sayang.” Ia berusaha menahan diri agar nada suaranya tidak kembali meninggi.
Nesa ikut terdiam. Ia bingung harus memulai dari mana. Meski tak ingin berpisah dengan Raga, tapi jika apa yang dikatakan Susan benar, ia pun tak mungkin memaksakan keadaan.
“Mungkin memang sudah saatnya pasrah menerima kenyataan.” Nesa bergumam getir di dalam hati. Perasaannya berkecamuk. Pikirannya campur aduk. Beban di dadanya terasa sangat berat, membuat napasnya terasa sesak.
“Kepalaku pusing, Mas.” Tiba-tiba ia memeluk Raga dengan erat. Ia menangis. Semua kepedihan dan kekecewaan tumpah bersama air mata yang melekat di baju Raga. Sejumput perasaan marah menyelinap teringat perkataan Susan.
“Ceritalah, Sayang. Aku tidak suka melihat kamu seperti ini.” Raga membelai rambut Nesa dengan perasaan sayang.
"Maafin aku jika nanti tidak seperti yang kita rencanakan, Mas. Aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Tapi kita bisa apa?" Nesa berkata dengan suara terisak.
Raga terkesiap. Tak biasanya Nesa cengeng. Selama enam bulan menjalin hubungan, baru kali ini gadisnya menangis seperti ini. Nesa yang ia kenal adalah sosok kuat, mandiri, dan tegas. Salah satu sikap yang membuat ia selama ini sangat terpesona. Dia hanya pernah menangis sekali ketika bercerita sedikit tentang masa lalunya. Saat itu pun, Nesa jauh lebih tenang. Tapi kini, gadisnya terlihat sangat menderita.
Raga memeluk erat tubuh Nesa dan membelai rambutnya dengan lembut.
“Ayolah, Sayang. Ada apa? Kalau ada persoalan harusnya kamu cerita ke aku. Bukannya disimpan sendiri. Aku jadi merasa tidak berguna kalo gak dipercaya begini.” Raga berusaha membuat suasana sedikit ceria.
“Aku takut, Mas.” Nesa menjawab dengan suara pelan.
“Takut kenapa? Memangnya ada apa? Makanya kamu cerita. Jika begini aku kan bingung. Ayolah, Sayang. Jangan main tebak-tebakan. Aku gak suka.”
“Aku takut jika ternyata kita adik kakak dan sedarah!” Akhirnya kata-kata itu meluncur juga dari mulut mungilnya.
Sejenak Raga terdiam, lalu tertawa terpingkal-pingkal, membuat tubuh Nesa yang ada dalam pelukannya ikut terguncang.
Untuk beberapa saat, Raga tak bisa berhenti tertawa mendengar pernyataan Nesa. Entah apa yang sedang dipikirkan gadisnya yang istimewa itu.
“Kamu lucu, sayang,” katanya dengan menahan perasaan geli, lalu menjawil ujung hidung Nesa dengan gemas. “Aku pikir tadi kamu serius.”
Nesa menatap Raga dengan pandangan sayu.
“Aku tidak bercanda, Mas.”
“Mimpi apa sih kamu semalam. Mana mungkin kita adik kakak. Ada-ada aja.” Raga tersenyum lebar. “Sudah ah, yuk kita makan. Aku tadi beliin ayam panggang kesukaan kamu. Aku siapin ya.” Ia berjalan menuju dapur mungil di ruangan apartemen berkamar dua itu.
Nesa memandangi punggung Raga. Laki-laki itu begitu tinggi dengan tubuh kekar indah. Wajah tampan dan sorot mata tajamnya bahkan membuat Nesa salah tingkah di saat jumpa pertama mereka.
Perkenalannya dengan Raga bermula ketika ia ditunjuk menjadi wakil dari firma hukum yang menangani kasus yang tengah melilit perusahaan ayah Raga. Sebagai pengacara dan partner di firma hukum tersebut, Nesa sering mendapat tugas membela perusahaan-perusahaan besar. Termasuk PT. Global Textile, perusahaan tekstil terbesar yang ada di kota mereka. Perusahaan itu salah satu anak perusahaan PT Global Holding Company, yang saham terbesarnya dimiliki ayah Raga.
“Raga.” Laki-laki itu mengulurkan tangan dengan tatapan tajam tanpa senyuman.
“Nesa.” Ia membalas datar, pun tanpa senyum dan basa basi.
Selanjutnya mereka tak saling bicara hingga pertemuan berakhir.
Raga duduk menyimak tak banyak bicara ketika wakil perusahaan menjelaskan persoalan hukum yang tengah mereka hadapi. Sesekali mata elangnya menatap Nesa, membuat gadis itu merasa sedikit tidak nyaman.
Dua bulan mereka lalui dengan komunikasi datar, hanya berbicara hal-hal seputar persoalan yang membelit perusahaan. Namun semakin lama mengenalnya, Nesa menemukan kelembutan pada pria usia tiga puluh tahun itu. Apalagi setelah intens berkomunikasi, semua ketidaknyaman berubah menjadi rasa yang membuat Nesa justru menunggu-nunggu waktu untuk berada di dekatnya.
Gayung bersambut. Bulan ketiga, Raga mendekat. Tetapi Nesa justru dilanda rasa panik yang luar biasa ketika Raga mengungkapkan perasaannya.
“Aku tidak bisa,” jawabnya ketika Raga menyatakan cinta.
Raga menatapnya heran. Ia dapat melihat dan merasakan, Nesa pun menginginkan dirinya, tapi reaksi Nesa saat ia menyatakan cinta benar-benar di luar dugaannya.
“Kenapa tidak bisa? Aku yakin kamu juga merasakan apa yang aku rasakan,” Raga tak menyerah dengan penolakan Nesa yang begitu tegas.
Nesa tertunduk diam. Hatinya rasa tak karuan. Ingin ia berteriak pada dunia, betapa ia pun sangat bahagia mendengar pengakuan Raga. Namun, semua itu tersendat di ujung kerongkongannya.
Ia tak tahu bagaimana harus bersikap. Ia belum pernah pacaran. Hatinya belum pernah terpanah tombak asmara. Meskipun dirinya tak lagi suci, tapi cinta belum pernah datang menghampiri. Ia hanya bisa terdiam saat Raga menggenggam kedua tangannya yang tiba-tiba dingin dan berkeringat.
Mendadak masa lalu menari-nari di pelupuk matanya. Bayangan kelam silih berganti merasuki benaknya. Lalu, dengan iba-tiba ia menarik tangannya dengan kencang. Raga terhenyak. Nesa kembali terdiam.
Nesa memandang Raga dengan perasaan hampa, takut semua hanya mimpi. Kala itu tak satu kata pun mampu ia rangkai kembali untuk menjawab pernyataan Raga. Laki-laki itu bahkan menatapnya Nesa seolah ia makhluk asing dari planet lain.
“Aku akan menunggu,” katanya tak putus asa saat menghadapi penolakan Nesa.
Butuh waktu empat bulan setelah itu, baru Nesa benar-benar bisa menerima kehadiran Raga. Dengan pendekatan yang sangat sabar, akhirnya laki-laki tampan itu berhasil memenangkan hati Nesa dan berani menerima cintanya.
“Betapa waktu sangat cepat berlalu,” gumamnya, saat menatap Raga dengan perasaan hampa. “Entah apa yang akan terjadi jika besok-besok dia tak lagi bisa bersamaku seperti ini.”
Nesa merasakan kepedihan mendera batinnya. Ia sudah terbiasa ditemani raga sejak enam bulan yang lalu dan Raga benar-benar telah mengisi hati dan hari-harinya dengan penuh warna. Kini, ia nyaris setiap hari datang untuk menemaninya.
“Alangkah sepi jika kamu tak ada,” Nesa menghela napas dengan perasaan sesak.
Sejujurnya ia merasa sangat beruntung mendapatkan cinta Raga. Ia tahu Raga sangat disukai banyak gadis di luar sana. Sebagai putra tunggal pemilik perusahaan tekstil terbesar di kota mereka, ditambah penampilan fisik yang jauh di atas rata-rata, ia menjadi incaran gadis-gadis cantik di sekitarnya. Namun Raga memilihnya.
Ia yang memiliki masa lalu suram, dengan sejarah keluarga berantakan, tapi tetap tidak menyurutkan niat Raga untuk menjadikannya calon istri yang akan mendampingi seumur hidupnya.
“Aku tidak peduli dengan masa lalu kamu. Aku ingin membangun masa depan dengan kamu, bukan mempersoalkan yang sudah berlalu.” Raga meyakinkannya kala itu dengan penuh percaya diri.
Kini masa lalunya datang kembali, menghadang cinta mereka dengan begitu kejamnya.
“Aku juga berharap semua ini hanya mimpi.” Lirih ia bergumam, lalu menyusul Raga ke dapur.
Sore itu mereka menghabiskan waktu dengan saling berdiam diri. Nesa tak berminat menanggapi humor-humor Raga yang biasa membuatnya ceria. Sang kekasih pun tampak kehilangan gairah untuk bercanda. Hampir satu jam mereka saling diam-diaman.
Keheningan itu membuat Raga bolak balik mengganti chanel tivi yang ia sendiri pun tak tahu sedang menayangkan acara apa.
“Aku bisa gila jika terus begini.” Raga membatin.
Ingin ia membawa gadis itu ke ranjang, agar Nesa bisa melupakan persoalan yang memenuhi pikirannya, walaupun hanya untuk sesaat. Namun, ia sudah berjanji tak akan melakukan hubungan itu sebelum mereka menikah. Janji yang kini sangat menyiksanya. Ia menginginkan Nesa. Ia sangat ingin gadis itu bahagia, tapi Nesa selalu gemetar jika Raga menyentuh bagian tubuh sensitifnya.
Tak ingin membuat Nesa menjauh, Raga berusaha menahan diri agar sang kekasih tetap nyaman saat bersamanya. Meski sudah enam bulan pacaran, ia masih mampu menjaga komitmen itu dan menahan diri untuk tidak berhubungan. Nesa gadis istimewa, ia ingin memperlakukannya dengan istimewa pula.
Raga sudah biasa melakukan hubungan bebas dengan perempuan-perempuan sebelumnya. Tak perlu waktu berbulan-bulan, mereka bahkan dengan sukarela bersedia ia ajak ke tempat tidur sesaat setelah berkenalan. Baginya membawa perempuan ke ranjang bukan perkara susah.
Namun, Nesa bukan untuk main-main. Nesa akan menjadi pendamping seumur hidupnya. Calon ibu bagi anak-anaknya. Ia layak diperlakukan dengan hormat. Dengan kasih sayang, bukan dengan nafsu sesaat.
***