Tak terasa, malam telah menyapa. Khanza yang sudah mengetahui kebenaran tentang poligami yang dilakukan Bram dibelakangnya kini hanya bisa termenung pasrah, sedih saat mengingat semuanya.
Setelah berbicara empat mata tadi siang dengan Bram, kini Khanza memilih berdiam diri di kamar untuk sementara waktu. Yang biasanya di saat malam hari tiba dia selalu menyiapkan makan malam untuk Bram, kali ini sengaja tidak ia lakukan.
Hatinya masih sakit dan teramat kecewa dengan pernyataan yang tadi siang Bram ucapkan. Dia akui memang belun bisa memberikan keturunan untuk Bram. Tapi, dia juga tidak mandul.
Begitupun sebaliknya. Hanya saja, kehidupan dalam rumah tangga mereka memang belum dikaruniai seorang anak saja. Namun apalah daya, Bram tidak sabar akan hal itu.
Dan Khanza, tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Semua sudah terjadi, tak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Hanya bisa pasrah menerima takdir yang Bram lakukan saat ini.
Jika dia mampu bertahan, maka dia akan bertahan. Jika tidak bisa, jalan terakhir adalah PERPISAHAN.
***
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan di pintu terdengar. Khanza yang saat ini baru saja menyelesaikan ibadah shalat Isya' seketika diam sejenak di tempat. Sebab, dari dirinya tak ada keinginan untuk membuka pintu.
Namun setelah mendengar suara siapa dibalik pintu kamarnya, barulah Khanza bangkit dan bergegas ingin segera membukanya.
"Bibik?"sapanya setelah pintu terbuka.
"Ada apa, bibik?"sambungnya bertanya.
"Non, Khanza?"ucapnya pelan, langsung memeluk Khanza.
"Ada apa, bik? Bibik kenapa?"tanya Khanza sedikit bingung. Namun, dia tetap membalas pelukan bik Marni.
"Nona yang sabar, ya. Bibik sudah tahu semuanya. Bibik ikut prihatin, non."ucapnya.
"Maksudnya gimana, Bik?"tanya Khanza bingung.
"Bapak non, bapak. Bapak itu tidak bisa bersyukur memiliki wanita shalihah, cantik, masih muda seperti nona. Speak istri idaman, masih aja di duakan."ujarnya.
"Bapak memang kurang bersyukur, non."sambung bik Marni kesal sendiri.
Mengusap punggung wanita paruh baya itu, Khanza menjawab, "Khanza tidak apa-apa, bik. Khanza ikhlas menerimanya."jawabnya.
"Toh semua sudah terjadi, 'kan?"tanya Khanza, membuat bik Marni angguk kepala.
"Sekarang Khanza sadar, kalau mas Bram itu bukan sepenuhnya milik, Khanza."
"Tapi milik kedua orang tuanya dan pastinya milik, Allah SWT."sambung Khanza.
"Mungkin untuk sekarang ini, ujian yang kami terima adalah kesetiaan. Khanza minta do'anya, semoga Khanza tetap sehat serta diberi umur panjang."ucapnya.
"Pasti, non. Bibik selalu mendo'akan yang terbaik buat, nona."jawabnya.
"Tanpa non Khanza minta, bibik terus mendo'akan."sambungnya.
"Terimakasih bibik,"jawab Khanza tersenyum. Senyum yang hampir tak terlihat.
Melepas pelukannya, bik Marni berkata, "Dari tadi siang, nona tidak keluar kamar untuk makan. Sekarang, biar bibik ambilkan makan malam untuk nona, ya."ucapnya.
Tersenyum, Khanza berkata, "Kebetulan, Khanza sedang tidak pengen makan apa-apa, bik."jawabnya.
"Jangan menyiksa diri seperti ini, non. Nanti bisa sakit. Makan sedikit tidak apa-apa asal perut ke isi."ucap bik Marni menasehati.
"Sekarang non Khanza masuk, biar bibik bawa makanannya kemari!"sambungnya berkata.
"Eee,... Jangan!"cegah Khanza.
"Tidak apa-apa, non."
"Lagian, bapak juga sedang pergi sama selingkuhannya. Non Khanza tenang saja, rumah ini sepi gak ada orang."ungkapnya memberitahu.
"Pergi?"ulang Khanza bertanya.
"Iya. Katanya tadi si pelakor minta dibeliin roti apa gitu non, bibik lupa namanya."jawab bik Marni.
"Dia bukan pelakor, bik."ucap Khanza mengingatkan.
"Ah, orang macam itu jangan dibela, non. Nanti ngelunjak."
"Jelas-jelas dia itu pelakor. Perebut suami orang."
"Mana ada perempuan baik yang mau dijadiin istri kedua, gak ada, non. Maka dari itu, pantaslah dia disebut si pelakor."kekeh bik Marni menjelaskan.
"Katanya mas Bram, bukan dia yang merayu. Tapi mas Bram sendiri yang justru menawarkan pernikahan pada dia."ungkap Khanza.
"Astaghfirullah. Bibik gak salah dengar ini, non?"kaget bik Marni membelalakkan matanya.
"Tidak. Mas Bram sendiri yang bicara semuanya pada Khanza tadi."jawabnya.
"Bagaimana bisa ini terjadi, non? Apa sedikitpun bapak tidak memikirkan perasaan non, Khanza?"tanyanya tak habis pikir.
Tersenyum, Khanza berkata, "Semua ada ditangan mas Bram dan takdir, bik."jawabnya.
"Aneh betul bapak kali ini, non. Bisa-bisanya menawarkan pernikahan jika di rumah saja, dia sudah memiliki istri?"
"Benar-benar aneh."geram bik Marni.
"Terlepas benar atau tidaknya, beliau mengatakan sendiri kalau semua ini terjadi karena beliau ingin segera memiliki momongan, Bik."
"Alhamdulillahnya, lewat istri kedua ini, do'a mas Bram diijabah. Wanita itu sedang mengandung empat bulan anak mas, Bram."ungkap Khanza.
"Bibik gak bisa berkata, non. Tega sekali pak Bram, ini. Padahal sudah jelas, jika non Khanza maupun bapak tidak mandul."
"Tapi kenapa, kenapa, ...... Ah sudahlah, non. Gak usah diteruskan! Bikin sakit tambah hati."ujarnya.
"Tapi bibik yakin, suatu saat bapak pasti menyesal dengan perbuatannya ini."
Tersenyum tipis, Khanza berkata, "Menyesal atau tidak, semua tergantung diri masing-masing, bik. Dan itu, ada di diri mas, Bram."ucapnya.
"Kasihan sekali kamu, nona."lirihnya.
"Padahal, kalian ini pasangan sempurna. Cantik dan tampan. Cuma sayangnya, memang belum dikasih momongan saja. Dan pak Bram, lelaki yang tidak sabaran."sambungnya pelan.
"Tidak apa-apa. Semua sudah terjadi. Semoga Khanza ikhlas menerimanya."balasnya.
"Menurut bibik, emang bapak yang sangat keterlaluan kok, non. Tidak tahu bersyukur."ucapnya masih menyalahkan Bram.
"Tapi apapun yang terjadi, bibik akan terus dukung non, Khanza."
"Terimakasih ya, bik. Terimakasih untuk semua kebaikan bibik selama ini."ucap Khanza.
"Sama-sama, non."jawabnya.
Dengan tangan terbuka, Khanza dengan senang hati menganggap bik Marni seperti orang tua sendiri.
Karena sejak kecil, dia hanya hidup sebatang kara. Tinggal hanya dengan neneknya dan kini neneknya sudah meninggal setelah dua tahun pernikahannya dengan Bram.
Begitupun dengan orang tuanya, yang sudah lebih dulu pergi setelah kecelakaan saat dia masih kelas 1 SD.
"Nona yang sabar, ya. Bibik ambilkan makan untuk, nona."pamitnya.
"Kebetulan, bibik masak makanan kesukaan nona. Cumi balado."ungkapnya.
"Tidak usah repot antar kemari, bik. Biar Khanza sendiri yang ke meja makan."balasnya.
"Kebetulan, Khanza mau ke dapur buat ambil minum."
"Oh gitu? Syukurlah. Ayo, non!"jawabnya mengajak.
Sebenarnya Khanza tidak ingin makan malam. Perutnya belum terasa lapar sama sekali. Bawaannya juga malas tak berselera.
Tapi mendengar penuturan bik Marni yang sudah bersusah payah membuat lauk kesukaannya, membuatnya tak enak hati.
***
Di dalam mobil perjalanan pulang.
Luna bergelayut manja dibahu Bram yang sedang mengemudi. Dia sangat senang karena hari-harinya merasa selalu di manja oleh Bram. Walaupun, Bram sedikit kaku padanya.
Kadang baik kadang acuh dan tak jarang juga permintaannya selalu ada yang ditolak. Tapi tak membuat Luna putus asa. Dia terus mendekati Bram sampai Bram mau menerimanya dengan senang hati.
Padahal tanpa sepengetahuan Luna, Bram baik dan mengalah semua ada tujuannya. Bukan semata dia ingin dibodohi.
"Mas Bram, apa mbak Khanza masih belum nerima Luna jadi madunya?"tanyanya sok manja.
"Dia wanita baik. Saya yakin, dia bisa nerima kamu dengan senang hati."jawabnya berbohong.
"Syukurlah. Luna senang mendengarnya,"jawabnya tersenyum palsu.
"Luna sempat takut mbak Khanza tidak bisa nerima tapi justru menyerang, Luna."sambungnya.
"Itu tidak akan terjadi!"tegaskan Bram.
"Semoga aja begitu ya, mas."balasnya.
"Ya."
Kenyataannya, Luna sangat membenci istri sah Bram, Khanza. Bahkan dia emang berniat menyingkirkan Khanza dari pernikahannya.
Luna ingin jadi istri sah satu-satunya milik Bram. Dan,.... Pewaris tunggal semua harta kekayaan yang dimiliki Bram tersebut.
***
Suara bel berbunyi, menandakan seseorang datang untuk bertamu di rumah mereka. Bik Marni dan Khanza saling berpandangan.
Kemudian, "Biar bibik lihat dulu ya, non."pamitnya pergi.
Setelah dibuka, nampaklah wajah-wajah orang yang membuatnya kesal hari ini. Dialah Bram dan Luna. Namun karena tuntutan pekerjaan, membuat bik Marni harus profesional.
"Silahkan masuk pak Bram, nona."ucapnya beramah-tamah.
"Terimakasih, bibik?"balas Luna sok ramah.
"Khanza, ada?"sahut Bram bertanya.
"Ada, pak. Nona sedang makan."jawabnya.
Tidak berkata apapun, Bram langsung melangkah masuk menuju dapur. Bahkan, Luna hampir saja ia abaikan.
*
"Khanza?"panggil Bram lembut.
Tak menjawab, Khanza hanya menoleh sedikit untuk melihatnya. Tapi setelah dia merasakan kedatangan Luna, Khanza langsung menghadap lurus ke depan.
"Aku bawakan martabak telur untukmu,"ucap Bram meletakkan kantong kresek putih yang dibawanya di depan piring makan Khanza.
"Aku beli di Abang langganan kita."ucapnya memberitahu.
"Terimakasih."ucap Khanza datar.
"Aku tinggal ke kamar dulu, ya. Nanti agak malaman, aku pergi menemui mu."pungkasnya.
"Ya."
Setelah mendengar jawaban Khanza, Bram langsung mengajak Luna pergi ke kamar mereka.
Membuat Khanza semakin sakit hati dibuatnya. Apalagi, melihat Luna yang terus menempel di lengan Bram, membuatnya muak.
Kepergian keduanya, Khanza berkata, "Bibik, bawa pergi makanan ini!"perintahnya.
"Non Khanza tidak ingin memakannya?"
"Tidak!"
"Baik, non."jawab bik Marni patuh.
Meletakkan garpu dan sendoknya, Khanza, "Aku tidak sudi memakan makanan yang kau beli dengan wanita itu, mas. Aku tidak sudi!"gumamnya marah.
***
Bersambung,....
"Aku tidak sudi memakan makanan pemberianmu dengan wanita itu, mas."
"Aku benci!"ujarnya penuh amarah saat mengatakannya.
Dia benci, dan dia belum bisa menerima poligami ini. Dia teramat kecewa dengan suaminya yang berkhianat.
Dan sesaat setelah Bik Marni pergi membuang makanan pemberian Bram, kini Khanza memilih pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung menutup rapat pintunya dan menguncinya dari dalam.
Tidak ingin diganggu. Dia ingin sendiri menenangkan perasaannya.
***
Malam semakin larut....
Sesuai janjinya tadi, Bram pergi ke kamar Khanza setelah melihat Luna tertidur pulas di kasurnya.
Tak ingin membangunkan siapapun, Bram langsung mendorong pintu kamar Khanza. Namun yang terjadi, pintu kamar tersebut justru dalam keadaan terkunci dari dalam.
Mengetuknya pelan, berharap Khanza mendengar dan belum tidur. Satu kali ketukan, tak ada reaksi apapun dari dalam. Bahkan sampai ke empat kalinya, semua masih sama tak ada sahutan apapun.
Capek berdiri di sana dan merasa Khanza tak akan membukakan pintu untuknya, Bram berinisiatif untuk membobol pintu kamar tersebut.
Mencongkelnya dengan obeng, alat seadanya yang ia dapatkan di laci dekat kamar Khanza.
Seperempat jam mengotak-atik pintu kamar tersebut, akhirnya Bram berhasil juga. Perasaan lega ia rasakan sekarang.
Mengembalikan kembali obeng pada tempatnya, Bram dibuat terkejut saat akan mendorong pintunya. Ternyata, sama sekali belum bisa dibuka.
Sepertinya, Khanza emang sengaja menautkan paku atas pintu dan bawah. Hingga pintu susah untuk dibuka. Dan Bram yakin itu.
Marah dan kesal yang Bram rasakan sekarang. Wajahnya bahkan memerah karena menahan kesal.
Tak ingin berlarut dalam amarah, Bram memutuskan untuk pergi. Tak juga ke kamar Luna, Bram justru pergi ke kamar kosong yang tak dipakai. Tapi masih bersih dan layak. Tidur di sana, dengan perasaan menahan kesal.
***
Pagi telah menyapa.....
Bram kaget saat menuruni anak tangga terakhir tak melihat Khanza ada di meja makan. Hanya Luna yang sudah stanby di sana.
Bram kira, Khanza sudah ada di dapur menyiapkan sarapan untuknya. Ternyata tidak. Karena sebelum ia ke sana, Bram menyempatkan diri melihat kamar Khanza yang kosong dan sudah tertata rapi.
Melihat ke sana kemari, dia tak melihat Khanza maupun bik Marni di sana. Tak ingin bertanya pada Luna, Bram memilih diam. Walau rasa penasarannya, sudah sampai di ubun-ubun.
"Hai, mas?"sapa manja Luna dengan manja.
"Hai? Gimana semalam? Tidak ada masalah 'kan?"tanya Bram basa-basi berjalan mendekat.
"Sama sekali tidak ada, mas. Semua aman,"jawab Luna tersenyum lebar.
"Syukurlah."lega Bram.
Duduk di kursi samping Luna, Bram melihat sajian makanan di depannya. Kembali di amati satu persatu, ternyata tidak ada masakan Khanza satupun di sana.
Fix! Khanza benar-benar marah padanya. Menghela napasnya berat, Bram berusaha tetap tenang. Walaupun dalam pikirannya sudah dipenuhi dengan nama Khanza serta keberadaannya yang entah dimana.
Melihat Bram, Luna berkata, "Mas Bram, kenapa?"tanyanya saat melihat kegelisahan suaminya.
"Tidak."
"Saya hanya khawatir dengan masakan ini. Takut kamu tidak menerimanya."jawabnya berbohong.
"Makanan di meja ini enak semua, mas. Luna pasti akan menyukainya,"balas Luna tersenyum tipis.
"Kamu serius?"tanya Bram pura-pura terkejut.
"Iya,"jawab Luna mengangguk.
"Ayo kita makan!"ajak Bram.
"Em... Mas?"
"Iya?"tanya Bram.
"Mbak Khanza pergi lhoh, sama Bik Marni barusan."ungkapnya.
"Pergi?"
"Iya. Tapi Luna tidak tahu perginya kemana."ucapnya cari perhatian.
Bram terdiam sedikit berpikir. 'Pergi pagi-pagi. Apa dia pergi ke makam?' ucap Bram bertanya-tanya dalam hati.
"Kenapa, mas? Mbak Khanza tidak izin sama mas, Bram?"tanya Luna ingin jadi kompor.
"Dia izin semalam. Saya yang lupa. Katanya pergi ke pasar cari bubur ayam kesukaannya."jawab Bram berbohong.
"Oh."
"Udah ayo makan! Keburu saya terlambat."titah Bram mengalihkan pembicaraan.
Luna mengangguk mengikuti maunya Bram. Walaupun terkadang, keinginan Bram bertolak belakang dengan keinginan dan sifat kepribadiannya.
Tapi semua itu dia lakukan hanya ingin terlihat baik di depan Bram. Demi kelancaran rencana dan tercapainya tujuan utama mereka.
Sementara Bram, tidak bisa makan enak dan tenang pagi ini. Dia terus kepikiran Khanza. Apalagi sejak semalam, dia tak bertemu Khanza sama sekali. Membuatnya kangen dengan istri pertamanya.
Walaupun dia sekarang berstatus memiliki dua istri, tetap Khanza yang ia cintai. Bukan siapapun termasuk Luna. Hanya Khanza yang setiap saat ingin dilihatnya, bukan yang lain.
"Apakah dia salah mengambil keputusan ini? Tapi kalau tidak, .... Ah semua gara-gara tua bangka itu!" geram Bram berkata di dalam hati.
*
"Mas tidak sedang marahan sama mbak Khanza, 'kan?"tanya Luna disela-sela makanannya.
"Tidak."
"Luna pikir, kalian sedang marahan. Mbak Khanza pergi, mas Bram tidak tahu."ucapnya.
"Kami baik-baik saja. Bahkan semalam, kami tidur bersama."jawab Bram terpaksa berbohong.
"Oh gitu? Syukurlah, jika semuanya baik-baik saja,"balas Luna terpaksa tersenyum.
"Ya."
"Oh ya? Siang nanti, saya tidak bisa pulang begitupun dengan malam."ujar Bram.
"Kenapa emangnya, mas?"tanyanya.
"Hari ini banyak pertemuan dengan para klien. Begitupun dengan malam nanti."jawab Bram.
"Jangan menungguku! Makanlah saat jam makan tiba."ucap Bram berpesan.
"Baik, mas."jawab Luna dengan perasaan kecewa.
"Tidak apa-apa, 'kan?"tanya Bram pura-pura perhatian.
"Tidak apa-apa, mas. Semoga kerjanya hari ini lancar."jawab Luna.
"Amin. Terimakasih."balas Bram.
Meletakkan sendok makannya, Bram berkata, "Saya berangkat dulu, ya. Hati-hati di rumah."
"Jika ada apa-apa, hubungi saja."sambung Bram berpesan.
"Dan, jaga calon anak kita baik-baik."lanjutnya memaksakan tersenyum.
"Pasti, mas. Hati-hati di jalan, ya."
"Siap."jawabnya Bram bangkit dari duduknya.
Mencium kening Luna sebentar, agar sandiwaranya tidak ketahuan. Pura-pura baik, agar Luna tidak curiga padanya.
Pergi dari rumah, Bram mengendarai kencang mobilnya ke tempat tujuan. Berharap, semoga aja Khanza masih ada di sana.
***
Di pemakaman. Ketegangan terjadi,......
"Apa karena ini kamu menghindar dan bahkan tidak memasak untukku?"
Suara serak nan dalam seorang pria yang sangat dikenali Khanza terdengar dibelakangnya. Masih diam, Khanza ingin mendengar kata-kata apalagi yang akan diucapkan.
"Apa kamu masih marah?"
"Apa penjelasanku kemarin tidak kamu dengar dengan baik?"tanya Bram bertubi.
"Jawab, dan jelaskan padaku?!"perintah Bram tegas sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Pandangan lurus ke depan dengan rahang yang sedikit mengeras, membuat Khanza takut setelah tadi sempat melirik Bram sekilas.
"Khanza?"panggil Bram.
"Mas?"balas Khanza menoleh.
"Bicaralah padaku!"perintah Bram sedikit dingin.
"Jujur, Khanza masih kecewa."
"Khanza gak terima dengan perbuatan poligami ini, mas."jawabnya sedikit bergetar.
"Khanza,- ?"
"Tolong jangan paksa Khanza untuk bisa langsung menerima kenyataan ini, mas. Khanza gak bisa!"ucap Khanza memotong ucapan Bram.
Mata elang Bram seketika mengarah pada Khanza yang masih bersimpuh di depan makam ibunya.
"Khanza!"
***
Bersambung,....